1,720,957 research outputs found
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS VII1 SMP NEGERI 2 BUA PONRANG
ABSTRAK
MARWIS. 2012. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Melalui
Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Pada Siswa Kelas VII1 SMP
Negeri 2 Bua Ponrang. Skripsi. Program Studi Pendidikan
Matematika Jurusan Tarbiyah, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
Palopo. Pembimbing I Drs.Nasaruddin, M.Si., Pembimbing II
Nursupiamin M.Si.
Kata Kunci : Hasil Belajar Matematika, Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
Skripsi ini membahas tentang pendekatan pembelajaran kontekstual dalam
meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII1 SMP Negeri 2 Bua Ponrang.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action
research) dengan objek penelitian adalah siswa kelas VII1 SMP Negeri 2 Bua
Ponrang pada semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013 dengan jumlah siswa 28
orang. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus, masing-masing siklus
dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan. Pengambilan data dilakukan dengan
menggunakan tes hasil belajar, lembar observasi, dan tanggapan siswa . Data hasil
belajar yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif dan data
hasil observasi dianalisis dengan analisis kualitatif.
Berdasarkan analisis deskriptif menunjukkan bahwa hasil belajar siswa
setelah penerapan pembelajaran kontekstual menunjukkan bahwa skor rata-rata siswa
pada siklus I sebesar 65,18 atau sebesar 32,14%. Sedangkan pada Siklus II diperoleh
skor rata-rata sebesar 79,18 atau sebesar 89,29%. Hal ini menunjukkan telah tercapai
hasil belajar siswa, dimana nilai KKM yang diterapkan di sekolah jika mencapai nilai
ketuntasan minimal 70 dan 70% yang mencapai nilai 70 tuntas secara klasikal.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan diterapkannya
pembelajaran kontekstual pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bua Ponrang dalam
proses pembelajaran, maka hasil belajar matematika siswa dapat meningkat
Analisis Sistem Rujukan Kelainan Refraksi dari Puskesmas ke Rumah Sakit di Kota Pariaman Tahun 2018
Pelayanan kesehatan mata adalah salah satu di antara berbagai jenis pelayanan kesehatan. Salah satu upaya yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan mata adalah kelainan refraksi. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2014, kelainan refraksi masuk dalam 144 diagnosis yang harus diselesaikan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Data Dinas Kesehatan Kota Pariaman Tahun 2015–2017 memperlihatkan bahwa semua kelainan refraksi dirujuk ke rumah sakit yang jumlahnya setiap tahun menunjukan peningkatan. Hal ini berakibat pada tingginya angka rujukan dari puskesmas ke rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penanganan kelainan refraksi dan faktor penyebab dirujuknya kelainan refraksi ke rumah sakit. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif terhadap responden yang terdiri dari pimpinan, petugas pengelola program mata puskesmas, petugas poli mata RSU Kota Pariaman dan pejabat di BPJS Kesehatan cabang Padang. Data karakteristik responden didapatkan melalui wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi tentang pelayanan kelainan refraksi pada Puskesmas-Puskesmas di Kota Pariaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari segi input SDM untuk pelayanan refraksi di puskesmas Kota Pariaman sudah memadai dari segi kompetensi dan jumlah dokter, dan dari segi refraksionis hanya ada pada dua puskesmas. Sarana prasarana untuk pemeriksaan refraksi sudah lengkap pada semua puskesmas, SOP untuk pemeriksaan refraksi hanya dimiliki oleh puskesmas yang memiliki tenaga refraksionis. Dari segi proses, pelayanan sudah dimulai dari anamnesa, pemeriksaan mata dasar dan pemeriksaan refraksi dilakukan pada dua puskesmas yang memiliki tenaga refraksionis saja. Dari segi output semua kelainan refraksi dirujuk ke rumah sakit karena ada kebijakan dari BPJS Kesehatan bahwa untuk mendapatkan kacamata bagi peserta JKN harus dengan resep dokter spesialis mata. Dari segi dampak terjadinya in-efisiensi anggaran dan ketidakpuasan pasien karena pelayanan yang panjang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dirujuknya semua kelainan refraksi ke rumah sakit adalah aturan BPJS Kesehatan yang tidak sesuai dengan kebijakan yang sudah ada dan berakibat pada tingginya angka rujukan dari puskesmas ke rumah sakit serta terjadinya in-efisiensi anggaran.
Kata Kunci : kelainan refraksi, sistim rujukan, pasien JK
ANALISIS KAMPANYE POLITIK TERHADAP SIKAP PEMILIH PNS KANTOR SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN SOPPENG PADA PILKADA TAHUN 2005
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui bentuk kampanye politik yang dilakukan calon kepala daerah, dan menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi sikap pemilih pegawai negeri sipil kantor sekretariat daerah Kabupaten Soppeng untuk selanjutnya dapat menentukan sikap sebagai warga negara yang memiliki hak pilih pada pilkada Tahun 2005. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif. Karena besarnya jumlah populasi Pegawai Negeri Sipil, sehingga populasi sasaran hanya yang berkantor di Sekretariat Daerah Kabupaten Soppeng. Hal ini sekaligus menjadi sampel keseluruhan responden dengan teknik penarikan sampling purposif, yaitu sampel dipilih berdasarkan kriteria dan pertimbangan-pertimbangan tertentu dari penulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Sikap pemilih pegawai negeri sipil kantor sekretariat daerah Kab. Soppeng lebih tertarik kepada bentuk komunikasi interpersonal dibandingkan komunikasi massa yang dilakukan para calon kepala daerah bersama tim suksesnya. (2) Faktor-faktor yang dominan memengaruhi dalam menentukan sikap pada pilkada Kabupaten Soppeng, yakni, aspek kepentingan karir, kredibilitas /pencitraan kandidat, program yang ditawarkan kandidat, efektifitas informasi/kampanye, pengaruh keluarga, tetangga,teman sejawat dan terakhir faktor lainnya seperti keinginan sendiri tanpa target tertentu. (3) Terkait sikap dalam memilih pada pelaksanaan pilkada Tahun 2005 lalu, sebanyak 32% menyalurkan hak suaranya kepada pasangan calon A. Soetomo dan A. Sarimin Saransi, disusul 30,0% responden memberikan sikap politiknya ke A.Harta Sanjaya dan Syarifuddin Rauf. Ketiga 12,9% responden ke pasangan A.Munarfah Mappu dan A.Rizal Mappatunru, dan keempat 2,9% untuk pasangan Bismirkin dan Burhanuddin Tajang. ABSTRACT This research aimed to knowing the form of the political campaign that was carried out by the prospective district head with the team of the success, and explained factors that influence the attitude politics the voter of the area of the Soppeng Regency of the civil servant of the secretariat\u27s office henceforth could determine his attitude as the citizen who had the right to vote in Pilkada in 2005. The method used in this research is descriptive-qualitative method. Population of respondents are taken by using quota sampling that is a technical sample collection based on the certain quantity to each levels and then to analyze whotever till to fulfill the quantity. Results of the research showed that 1. Attitudes the voter of the area of the regency of the civil servant of the secretariat\u27s office soppeng more was interested to the form of communication interpersonal was compared by mass communication that was carried out by the prospective district heads with the team of the success. 2. Dominant factors influenced in distributing his attitude in pilkada: the interests carier, the credibility/branding candidate, the program that was offered candidate, the effectiveness of information/campaign, the influence family, neighboards, friends the colleague and finally the other factor like the wish personally without the certain goal. 3. It was related that his attitude in the implementation pilkada last 2005, as many as 32% distributed his voting rights to the couple A.Soetomo and A.Sarimin Saransi, was followed 30.0% the respondent stated his attitude to A.Harta Sanjaya and Syarifuddin Rauf. Thirdly, 12.9% the respondent to the couple A.Munarfah Mappu and A.Rizal Mappatunru now the last level of the choice of the respondent totalling 2.9% for the couple Bismirkin and Burhanuddin Tajang
Analisis Sistem Rujukan Kelainan Refraksi dari Puskesmas ke Rumah Sakit di Kota Pariaman Tahun 2018
Salah satu upaya pelayanan kesehatan mata adalah pelayanan kelainan refraksi. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2014, kelainan refraksi masuk dalam 144 diagnosis yang harus diselesaikan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Data Dinas Kesehatan Kota Pariaman Tahun 2015–2017 menunjukkan bahwa semua kelainan refraksi dirujuk ke rumah sakit yang jumlahnya setiap tahun menunjukan peningkatan yang berakibat pada tingginya angka rujukan dari puskesmas ke rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan bagaimana penanganan kelainan refraksi dan faktor penyebab dirujuknya kelainan refraksi ke rumah sakit. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data karakteristik responden didapatkan melalui wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi tentang pelayanan kelainan refraksi pada Puskesmas-Puskesmas di Kota Pariaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa SDM untuk pelayanan refraksi di puskesmas Kota Pariaman sudah memadai dari segi kompetensi. Sarana prasarana untuk pemeriksaan refraksi sudah lengkap pada semua puskesmas. SOP untuk pemeriksaan refraksi hanya dimiliki oleh puskesmas yang memiliki tenaga refraksionis. Pelayanan sudah dimulai dari anamnesa, pemeriksaan mata dasar dan pemeriksaan refraksi. Semua kelainan refraksi dirujuk ke rumah sakit karena adanya panduan pelayanan alat kesehatan dari BPJS Kesehatan bahwa untuk mendapatkan kacamata bagi peserta JKN harus dengan rekomendasi dokter spesialis mata. Hasil penelitian dapat disimpulkan merujuk semua kelainan refraksi ke rumah sakit adalah karena panduan pelayanan alat kesehatan dari BPJS Kesehatan yang berakibat pada tingginya angka rujukan dari puskesmas ke rumah sakit serta terjadinya in-efisiensi anggaran
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
