68 research outputs found

    Tinjauan karakteristik kimia dan sensoris selai buah Belimbing manis (Averrhoa carambola L.) dengan penambahan natrium alginat

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh natrium alginat terhadap karakteristik kimia dan sensoris selai belimbing manis. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dengan tujuh taraf perlakuan perlakuan, yaitu konsentrasi natrium alginat 0%, 0,25%, 0,50%, 0,75%, 1,00%, 1,25%, dan 1,50%, masing-masing dengan tiga kali pengulangan. Data karakteristik kimia dianalisis menggunakan ANOVA, dilanjutkan dengan uji Tukey, sedangkan data yang terdistribusi tidak normal, diuji dengan Kruskal Wallis. Data karakteristik sensoris dianalisis menggunakan uji Friedman, dilanjutkan dengan uji Dunn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi natrium alginat berpengaruh nyata terhadap pH dan total padatan terlarut, namun berpengaruh tidak nyata terhadap kadar air, dan kadar vitamin C. Dilain pihak, konsentrasi natrium alginat berpengaruh nyata terhadap karakteristik sensoris hedonik dan mutu hedonik untuk semua atribut (aroma, rasa, dan tekstur), kecuali warna. Penambahan natrium alginat sampai dengan 0,25% lebih disukai panelis (mendapat respons suka) dari segi aroma, warna, rasa, tekstur, dan daya oles. Selai buah Belimbing manis tersebut mempunyai karakteritik kimia: kadar air 2,99-27,54%, total padatan terlarut 5,7-7,0ºBrix, vitamin C 13,79-23,76 mg/100 g, dan pH 3,2-3,5

    Uji Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Etanol Biji Mangga Golek, Madu, dan Arum Manis (Mangifera indica L.) terhadap Sel Kanker Payudara T47D

    No full text
    Breast cancer is a disease that mostly affects women. People tend to used natural products due to adverse drug reactions during chemotherapy. Seed kernel of mango (Mangifera indica L.) had been reported to have anticancer activity against T47D and MDA-MB-231 cell. The purpose of this research are to investigate the cytotoxic activity of seed kernel extract of mango golek, madu, and arum manis against breast cancer cells T47D and to identify the compounds in the extracts. The extraction was conducted by maceration method using 96% ethanol. The cytotoxic activity test was conducted by MTT assay method, with concentration series of extract of 400, 200,100, 50, and 25 μg / mL. Absorbance, obtained from MTT assay was read using ELISA reader at a wavelength 550 nm. Identification of compounds was conducted by Thin Layer Chromatography. The results showed that seed kernel of ethanol extract of mango golek, madu, and arum manis had no cytotoxic activity against breast cancer cells T47D. Percentage of living cells at concentration of 400 μg / mL of seed kernel extract of manggo golek, madu, and arum manis were 108,95 %; 112,16 %; 102,20 % respectively. The extracts contained tanin, phenolic, and flavonoid compounds

    Analisis daya dukung lahan pertanian Indonesia pada bonus demografi tahun 2025

    No full text
    Currently, Indonesia is striving to achieve the Sustainable Development Goals (SDGs), one of which is to eradicate hunger. Indonesia faces significant challenges in meeting the food needs of its population. Food needs are influenced by population growth rates and the composition of the population during the demographic bonus expected to occur between 2020-2030 (Casmudi, 2016). The population of Indonesia continues to increase from year to year. Based on projection data from the Central Statistics Agency (BPS) for the period 2010-2025, Indonesia's population continues to increase at a growth rate of 1.7% per year. In 2018, the population of Indonesia was 265,015,300 (BPS, 2018). During the demographic bonus, the proportion of the working-age population is larger than that of children and the elderly. The increasing number of productive age individuals will increase the demand for rice as the staple food of the Indonesian people to fulfill nutritional needs. It is estimated that the population at the peak of the demographic bonus will be 284,829,000 (BPS, 2018) with a working-age composition of 70% (Casmudi, 2016). The increase in population and the composition of the working-age population drive the increased demand for rice. In order to support the success of the 2025 demographic bonus, adequate support is needed. The carrying capacity of agriculture, especially rice cultivation, is analyzed to determine the position of Indonesia's rice agricultural land carrying capacity so that it can be considered in formulating appropriate policies to meet food needs independently. The objective of this research is to analyze the carrying capacity of agricultural land during the demographic bonus, especially in 2025 as the peak demographic period, to determine the status of the carrying capacity of rice agricultural land. Based on the analysis of land carrying capacity in 2025 during the peak demographic bonus, the value of harvested rice land carrying capacity is 2.418, which means that Indonesia is a country that is already self-sufficient in food but has not yet been able to provide decent livelihoods for its population. Efforts that can be made to increase carrying capacity to improve the standard of living include increasing productivity and controlling the conversion of agricultural land to non-agricultural land

    Analisis daya dukung lahan pertanian Indonesia pada bonus demografi tahun 2025

    No full text
    Currently, Indonesia is striving to achieve the Sustainable Development Goals (SDGs), one of which is to eradicate hunger. Indonesia faces significant challenges in meeting the food needs of its population. Food needs are influenced by population growth rates and the composition of the population during the demographic bonus expected to occur between 2020-2030 (Casmudi, 2016). The population of Indonesia continues to increase from year to year. Based on projection data from the Central Statistics Agency (BPS) for the period 2010-2025, Indonesia's population continues to increase at a growth rate of 1.7% per year. In 2018, the population of Indonesia was 265,015,300 (BPS, 2018). During the demographic bonus, the proportion of the working-age population is larger than that of children and the elderly. The increasing number of productive age individuals will increase the demand for rice as the staple food of the Indonesian people to fulfill nutritional needs. It is estimated that the population at the peak of the demographic bonus will be 284,829,000 (BPS, 2018) with a working-age composition of 70% (Casmudi, 2016). The increase in population and the composition of the working-age population drive the increased demand for rice. In order to support the success of the 2025 demographic bonus, adequate support is needed. The carrying capacity of agriculture, especially rice cultivation, is analyzed to determine the position of Indonesia's rice agricultural land carrying capacity so that it can be considered in formulating appropriate policies to meet food needs independently. The objective of this research is to analyze the carrying capacity of agricultural land during the demographic bonus, especially in 2025 as the peak demographic period, to determine the status of the carrying capacity of rice agricultural land. Based on the analysis of land carrying capacity in 2025 during the peak demographic bonus, the value of harvested rice land carrying capacity is 2.418, which means that Indonesia is a country that is already self-sufficient in food but has not yet been able to provide decent livelihoods for its population. Efforts that can be made to increase carrying capacity to improve the standard of living include increasing productivity and controlling the conversion of agricultural land to non-agricultural land

    Pembuatan kecap manis "instant" : pengaruh proporsi tempe-kaldu ayam dan konsentrasi garam pada tahap fermentasi "moromi"

    No full text
    Tempe merupakan sumber protein yang relatif murah yang mempunyai ciri-ciri berwarna putih, tekstur kompak dan flavor yang spesifik dan termasuk golongan bahan pangan yang mudah rusak. Untuk menghindari kerugian yang diakibatkan oleh kerusakan tersebut perlu diupayakan alternatif pengolahan lain yang dapat memanfaatkan tempe. Salah satu cara pengolahan tempe yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis serta dapat memperbanyak manfaat tempe yaitu diolah lebih lanjut menjadi kecap tempe. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembuatan kecap adalah lama fermentasi, konsentrasi garam dan ratio tempe : air. Dengan semakin berkembangnya teknologi-teknologi baru maka diupayakan suatu alternatif baru dalam proses pengolahan kecap tempe yaitu dengan cara menguapkan cairan kecap sehingga didapatkan produk kecap dalam bentuk butiran yang disebut kecap ‘instant”. Diharapkan produk kecap “instant” ini lebih luas penggunaannya, karena bentuknya yang kering memudahkan pengemasan dan distribusi. Adapun proses pembuatan tempe “instant” dari tempe kedelai adalah sebagai berikut: pemotongan dengan 1 cm2, perendaman dalam larutan garam, ekstraksi, pemasakan, penyaringan, pemekatan, pemanasan. Keberhasilan fermentasi garam sangat berpengaruh terhadap kualitas kecap yang dihasilkan. Perendaman dalam larutan garam dengan konsentrasi tinggi dapat mematikan bakteri halophilik sedang perendaman dalam larutan garam pada konsentrasi rendah dapat menstimulir pertumbuhan bakteri pembusuk. Kaldu ayam yang ditambahkan pada tahap fermentasi “moromi” dalam proses pembuatan kecap “instant” terutama bertujuan untuk meningkatkan kadar protein dan juga bertujuan untuk menambah flavor pada kecap “instant”. Proporsi tempe-kaldu ayam juga akan berpengaruh terhadap sifat-sifat kecap ‘instant” yang dihasilkan. Oleh karena itu perlu diteliti lebih lanjut pengaruh penambahan kaldu ayam dan konsentrasi garam terhadap sifat, fisis dan khemis kecap “instant” yang dihasilkan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara faktorial, yang terdiri dari dua faktor. Faktor I adalah proporsi kaldu ayam – tempe yang terdiri dari tiga level dan faktor II adalah konsentrasi garam yang terdiri dari tiga level dan dilakukan tiga kali ulangan. Pengamatan yang akan dilakukan pada bahan baku meliputi kadar protein. Sedangkan pengamatan yang akan dilakukan pada produk akhir meliputi kadar protein kadar garam, uji warna dan uji organoleptik (rasa, warna dan bau). Berdasarkan hasil pengamatan maka dapat disimpulkan bahwa proporsi tempe-kaldu ayam dan konsentrasi garam memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar protein, kadar garam dan rasa pada kecap ‘instant” dan tidak berpengaruh terhadap uji warna dan uji organoleptik (warna dan bau) kecap “instant” dari tempe. Kombinasi perlakuan antara proporsi tempe-kaldu ayam (1:3) dan konsentrasi garam 25% menghasilkan kecap “instant” dengankualitas terbaik. Kecap “instant” dari kombinasi perlakuan tersebut mempunyai kadar protein 4,04% dan kadar 6,127%

    ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN (FULL COSTING METHOD) DAN PERHITUNGAN PENETAPAN HARGA JUAL (Sudi Pada Pelaku UMKM Meubel di Kota Pasuruan Raya)

    No full text
    Dea Hesti Yuliani. 2023. “Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi Dengan Pendekatan (Full Costing Method) Dan Perhitungan Penetapan Harga Jual (Studi Pada Pelaku Umkm Meubel di Kota Pasuruan Raya). Setiap Perusahaan pada dasarnya mempunyai tujuan untuk mencapai laba yang maksimal dan mempertahankan usaha salah satu cara yang ditempuh perusahaan adalah dengan menetapkan harga jual yang sesuai dengan pesaing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganilis perbandingan antara perhitungan harga pokok produksi dan harga pokok penjualan perusahaan dengan menggunakan pendekatan Full Costing. Perhitungan harga pokok produksi merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan sebab semakin meningkatnya persaingan antar pengusaha dalam menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga yang sanggup bersaing. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data yang diolah adalah data primer berupa catatan harga pokok produksi seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik dari hasil wawancara dengan objek yang diteliti. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan bahwa harga pokok pada pengusaha mebel belum dapat menunjukkan harga pokok produksi yang sesuai dengan pengumpulan biaya produksinya. Terjadi perbedaan penentuan harga pokok menurut UD. Sinar Kayu Mebel sebesar Rp 1.643.000 sedangkan menurut penulis berdasarkan teori sebesar Rp. 1.727.000. Hal tersebut belum dipakai sebagai dasar penentuan harga jual karena penentuan harga jualnya kurang sesuai dengan teori yaitu perusahaan tidak memperhitungkan persentase laba yang diharapkan akan tetapi hanya berdasarkan harga pasaran. Kunci: Harga Pokok Produksi, Full Costing, Harga Jual ABSTRACT Dea Hesti Yuliani. 2023. "Analysis of the Calculation of the Cost of Production with the Approach (Full Costing Method) and the Calculation of the Determination of the Selling Price (Study on Umkm Furniture Actors in the City of Pasuruan Raya). Every company basically has a goal to achieve maximum profit and maintain business, one of the ways that the company takes is to set a selling price that is in accordance with competitors. The purpose of this study is to analyze the comparison between the calculation of the cost of goods manufactured and the cost of goods sold by the company using the full costing approach. The calculation of the cost of production is very important to note because of the increasing competition between entrepreneurs in producing quality products at competitive prices. The type of research used in research is research with a qualitative descriptive approach. The data processed is primary data in the form of records of production costs such as raw material costs, direct labor costs and factory overhead costs from the results of interviews with the object under study. Based on the results of the research and data analysis, it can be concluded that the cost of goods sold by furniture entrepreneurs has not been able to show the cost of production in accordance with the collection of production costs. There is a difference in determining the basic price according to UD. Sinar Kayu Furniture is Rp. 1,643,000, while according to the author, based on the theory, it is Rp. 1,727,000. This has not been used as a basis for determining the selling price because the determination of the selling price is not in accordance with the theory, namely the company does not take into account the expected profit percentage, but only based on market prices. Key: Cost of Production, Full Costing, Selling Pric

    Pengaruh substitusi mocaf terhadap sifat kimia dan sensoris boba

    No full text
    Boba adalah bahan tambahan pada makanan berbahan dasar tepung tapioka yang dimasak bersama dengan cairan gula jawa atau madu dengan proses perebusan untuk menghasilkan bola berbentuk bundar dan memiliki tekstur kenyal. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktor tunggal dengan enam perlakuan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah substitusi tepung mocaf adalah 0, 20, 40, 60, 80 dan 100%, masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati meliputi sifat kimia (kadar air, protein, dan karbohidrat terhitung sebagai pati, gula total), sifat fisik (warna sebagai L*, a* dan b*, dan struktur permukaan), serta sifat sensoris (hedonik dan mutu hedonik). Data dianalisis menggunakan sidik ragam dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil. Hasil penelitian menunjukan bahwa substitusi mocaf terhadap tepung tapioka memberikan pengaruh nyata terhadap sifat kimia dan sensoris boba. Substitusi mocaf sebesar 40% terhadap tepung tapioka menghasilkan boba dengan respons sensoris paling disukai dengan mutu hedonik berwarma coklat muda, berasa manis, tidak beraroma tepung mocaf dan bertekstur lembek

    Karakterisasi dan Formulasi Flakes Berbahan Dasar Pati Lambat Cerna Ubi Jalar Ungu dan Kajian Sifat Fungsional secara in vitro

    No full text
    Pemanfaatan ubi jalar ungu sebagai bahan pangan masih terbatas dalam bentuk olahan tradisional. Proses pengolahan pascapanen berupa pengolahan pati merupakan bentuk yang banyak dilakukan masyarakat. Modifikasi pati alami melalui proses hidrotermal akan meningkatkan fraksi pati lambat cerna yang sudah diketahui memiliki pengaruh positif terhadap kesehatan. Peningkatan pemanfaatan pati lambat cerna dari ubi jalar ungu dalam bentuk flakes atau makanan sarapan siap santap yang memiliki kandungan protein tinggi melalui penambahan tepung kacang hijau dan penggunaan tapioka adalah upaya diversifikasi pangan fungsional untuk mencegah kadar gula tinggi dan sekaligus merupakan makanan sehat bagi penderita diabetes. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk optimalisasi produksi fraksi pati lambat cerna dari pati ubi jalar ungu melalui proses hidrotermal, karakterisasi fisikokimia dan fungsional pati alami dan pati hidrotermal ubi jalar ungu, mendapatkan formula dasar terbaik produk flakes dari pati lambat cerna ubi jalar ungu dengan menambahkan kacang hijau dan tapioka, menentukan formula citarasa rempah melalui penambahan ekstrak rempah pada formula dasar terpilih berdasarkan uji organoleptik dan mengkaji sifat fungsional flakes secara in vitro. Secara rinci penelitian dilakukan dalam lima tahap yaitu (1) Pengolahan pati ubi jalar ungu, (2) Peningkatan kadar fraksi pati lambat cerna, (3) Pemilihan pati sebagai bahan utama flakes, (4) Pembuatan dan karakterisasi flakes formula dasar dari pati hidrotermal ubi jalar ungu, dan (5) Pengembangan dan penentuan formula flakes bercitarasa rempah serta karakterisasi formula terpilih. Peningkatan kadar pati lambat cerna tertinggi sebesar 21.70% diperoleh dari hasil perlakuan hidrotermal dengan kadar air 50% dan suhu pemanasan 75°C. Perlakuan hidrotermal dengan suhu 75����� pada pati ubi jalar ungu varietas antin-3 mampu mengubah sifat fisik dan fungsional pati secara nyata, yaitu sifat birefringence, swelling power, kelarutan, profil gelatinisasi pati, sifat termal, fraksi pati lambat cerna dan kapasitas antioksidan, sedangkan perlakuan hidrotermal pada suhu inkubasi yang lebih rendah (55�����) tidak mengubah sifat fisik dan fungsional. Perlakuan hidrotermal dengan suhu inkubasi 55 dan 75����� dapat meningkatkan kadar air dan abu, sedangkan pada suhu inkubasi yang lebih rendah (55�����) mampu menurunkan kadar pati, amilosa dan amilopektin. Flakes yang secara fisik mendekati karakteristik flakes komersial adalah flakes dengan substitusi tepung kacang hijau sebesar 40%. Flakes F2 yaitu flakes tanpa penambahan citarasa serta F6 yaitu flakes dengan penambahan rempah kayu manis dan jahe adalah flakes yang paling diterima oleh panelis. Flakes pati hidrotermal dengan penambahan rempah memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi yaitu 5.04 ± 0.12% dan daya cerna pati yang lebih rendah yaitu 37.71 ± 0.20%, sedangkan flakes komersial memiliki aktivitas antioksidan sebesar 1.87 ± 0.06% dan daya cerna pati sebesar 54.24 ± 0.80%. Adanya aktivitas antioksidan dan rendahnya daya cerna pati pada produk flakes bercitarasa rempah memungkinkan produk flakes bernilai fungsional yaitu mampu memenuhi zat gizi serta sekaligus berpotensi sebagai antidiabetes dengan cara memperbaiki kerusakan sel akibat radikal bebas dan mencegah kenaikan gula darah secara cepat

    Kualitas Mikrobiologi Sari Tebu yang Dijual di Kota Malang Berdasarkan Angka Lempeng Total Koloni Bakteri

    No full text
    ABSTRACT   Kualitas Mikrobiologi Sari Tebu yang Dijual di Kota Malang Berdasarkan Angka Lempeng Total Koloni Bakteri Sari tebu merupakan salah satu minuman yang disukai oleh masyarakat untuk dikonsumsi sebagai penghilang dahaga. Selain manis dan lezat, ternyata sari tebu memiliki khasiat yaitu untuk mengobati sakit panas, meredakan batuk, mengobati kanker, dan juga membantu ginjal untuk melakukan fungsinya dengan baik. Sari tebu dapat terkontaminasi bakteri apabila pedagang kurang memperhatikan sanitasi dan higiene dalam proses pembuatan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menentukan ALT koloni bakteri dalam sari tebu yang dijual oleh beberapa PKL di lima kecamatan Kota Malang; 2)  menentukan kelayakan konsumsi  sari tebu yang dijual oleh beberapa PKL di Kota Malang berdasarkan ALT koloni bakteri; 3) membahas secara deskriptif faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas mikrobiologi sari tebu yang diteliti berdasarkan hasil observas

    STRATEGI BERSAING DAN STRATEGI BERTAHAN PADA INDUSTRI MIKRO DAN KECIL BAKPIA PATHOK DI KECAMATAN NGAMPILAN YOGYAKARTA TAHUN 2015

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis strategi bersaing dan strategi bertahan pada usaha mikro dan kecil bakpia Pathok di Kecamatan Ngampilan, Yogyakarta tahun 2015. Data yang digunakan merupakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil survei lapangan dan wawancara, sedangkan data sekunder dari lembaga atau instansi terkait seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Badan Pusat Statistik serta Paguyuban Laris Manis yang berada di sentra industri bakpia pathok. Alat analisis yang digunakan untuk strategi bersaing adalah dengan Teori Lima Kekuatan Persaingan dari Porter (1980). Sedangkan untuk analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis strategi bertahan pada usaha mikro dan kecil produsen bakpia Pathok. Berdasarkan pendekatan metode Lima Kekuatan Persaingan dari Porter (1980), produsen bakpia mampu bersaing dengan harga, pengembangan produk, promosi, dan distribusi produk. Strategi Bertahan produsen bakpia pathok adalah dengan adanya model dari porter dari strategi bersaing, produsen mampu bertahan dari persaingan antar produsen bakpia yang lebih besar karena strategi bertahan yang digunakan oleh produsen yaitu harga yang terjangkau bagi para konsumen
    corecore