15 research outputs found

    Desain Kapal Penumpang Katamaran untuk Rute Dermaga Boom Marina, Banyuwangi – Pelabuhan Benoa

    No full text
    Akhir tahun 2015, PT. Pelindo III (Persero) membangun Dermaga Boom Marina di Banyuwangi dan membuka rute pelayaran kapal Boom Marina Banyuwangi – Pelabuhan Benoa Bali. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mendesain sebuah kapal katamaran yang digunakan sebagai sarana penyeberangan dari Dermaga Boom Marina, Banyuwangi menuju Pelabuhan Benoa, Bali. Katamaran memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan kapal monohull. Luas geladak dari katamaran lebih luas dibandingkan kapal monohull. Stabilitas kapal katamaran lebih baik dibandingkan kapal monohull. Sudut oleng pada kapal katamaran relative rendah sehingga meningkatkan rasa nyaman dan tidak mudah terkena mabuk laut. Dalam prosesnya desain kapal ini menggunakan parent design approach dengan mengacu pada suatu desain kapal pembanding yang sudah berlayar dengan baik. Proses desain ini mengacu pada kapal “Austal 48” sebagai kapal pembanding. Desain kapal ini juga turut diperhitungkan secara teknis maupun ekonomis. Ukuran utama kapal yang didapat adalah Lwl = 44 m, B = 11.8 m, T = 1.4 m, H = 3.8 m, B1 = 3 m, CB = 0.491, dan Vs = 28 knots. Dari ukuran utama tersebut kemudian dibuat gambar rencana garis dan gambar rencana umum dan safety plan. Biaya pembangunan kapal sebesar Rp 24.422.508.434,58.</p

    Aplikasi Formal Safety Assessment untuk Penilaian Risiko Kecelekaan pada Helipad FSO: Studi Kasus FSO Kakap Natuna

    Get PDF
    Floating Storage and Offloading Unit (FSO) adalah sebuah kapal yang digunakan dalam industri minyak untuk menampung minyak pada lepas pantai. Tetapi pada FSO Kakap Natuna tidak hanya bertujuan sebagai penyimpanan minyak tetapi juga berfungsi sebagai tempat tinggal untuk menampung 300 orang yang bekerja di sekitar offshore platforms. Dibutuhkan suatu platform khusus sebagai tempat mendaratnya helikopter yang disebut helipad untuk mengakomodir kegiatan transportasi dari FSO-Offshore-Darat. Karena sifat helikopter yang bisa mendarat dan terbang secara vertical, helipad tidak membutuhkan tempat yang terlalu luas dan bisa berada di mana saja selama tersedia cukup ruang bagi rotor/baling-baling helikopter. Untuk memastikan bahwa Helipad dapat digunakan dengan aman dan berfungsi sebagaimana mestinya, maka perlu diadakan penelitian sebagai upaya dalam mengidentifikasi segala bahaya yang mungkin mengancam dengan menggunakan metode Formal Safety Assessment (FSA) sesuai standar IMO. Penelitian menggunakan teknik expert judgment dengan bantuan kuisioner dalam penentuan probabilitas. Analisa risiko menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Even Tree Analysis (ETA). Kegagalan struktur pada boatlanding dan lambung FSO digunakan sebagai top event. Perhitungan minimal cut set pada FTA dilakukan dengan menggunakan software RAM Commander 8.1 Demo Version. Pada penelitian ini teridentifikasi 16 macam pilihan kontrol risiko yang akan digunakan dalam upaya mengurangi risiko kegagalan pada helipad. Setelah itu biaya dari tiap Risk Control Option (RCO) dihitung untuk membandingkan keuntungan dalam pengurangan risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korosi menjadi risiko tertinggi penyebab kegagalan struktur pada helipad. RCO3 dan RCO2 menjadi solusi penangannya yaitu melakukan inspeksi rutin terhadap daerah yang rawan terjadi korosi atau pemilihan material yang sesuai

    Perancangan Self Propelled Container Barge (SPCB) Sebagai Alternatif Angkutan Container Pelayaran Pantura untuk Daerah Jawa Timur

    Get PDF
    Pengangkutan kontainer melalui media transportasi darat pada jalur utara pada dewasa ini sudah sangat padat. Dengan kondisi insfrastruktur transportasi darat yang ada, beban yang diberikan oleh moda transportasi kontainer  melebihi kekuatan yang dimiliki oleh insfrastuktur. Hal ini menyebabkan kerusakan dari insfrastruktur transportasi darat tersebut. Dampak yang paling terlihat dari kerusakan insfrastruktur transportasi darat ini adalah terjadi banyak kemacetan yang merugikan semua pengguna dari transportasi darat, termasuk pengangkutan kontainer. Pemindahan moda transportasi container darat ke laut adalah salah satu alternatif yang sangat baik mengingat jalur laut sepanjang pantura masih sepi. Jalur laut sangat minim akan terjadi kerusakan sehingga kemungkinan terjadi kemacetan kecil. Dalam tugas akhir ini dilakukan perancangan moda transportasi container lewat laut yang efektif yaitu Self Container Barge atau disingkat SPCB untuk beberapa daerah tujuan yang sudah ditentukan berdasar permintaan transportasi container ini

    Perancangan Self Propelled Container Barge (SPCB) Sebagai Alternatif Angkutan Container Pelayaran Pantura untuk Daerah Jawa Timur

    Get PDF
    Pengangkutan kontainer melalui media transportasi darat pada jalur utara pada dewasa ini sudah sangat padat. Dengan kondisi insfrastruktur transportasi darat yang ada, beban yang diberikan oleh moda transportasi kontainer  melebihi kekuatan yang dimiliki oleh insfrastuktur. Hal ini menyebabkan kerusakan dari insfrastruktur transportasi darat tersebut. Dampak yang paling terlihat dari kerusakan insfrastruktur transportasi darat ini adalah terjadi banyak kemacetan yang merugikan semua pengguna dari transportasi darat, termasuk pengangkutan kontainer. Pemindahan moda transportasi container darat ke laut adalah salah satu alternatif yang sangat baik mengingat jalur laut sepanjang pantura masih sepi. Jalur laut sangat minim akan terjadi kerusakan sehingga kemungkinan terjadi kemacetan kecil. Dalam tugas akhir ini dilakukan perancangan moda transportasi container lewat laut yang efektif yaitu Self Container Barge atau disingkat SPCB untuk beberapa daerah tujuan yang sudah ditentukan berdasar permintaan transportasi container ini.</p

    PENGUKURAN TINGKAT KESIAPAN KOMPONEN TEKNOLOGI DI GALANGAN KAPAL KELAS MENENGAH BERDASARKAN METODE TEKNOMETRIK

    No full text
    Galangan kapal untuk dapat bersaing dan meningkatkan produktivitasnya, membutuhkan evaluasi dan perencanaan yang terarah. Teknologi sebagai salah satu penentu peningkatan produktivitas, kesiapan ini harus ditentukan. Pada paper ini akan dibahas tentang pengukuran kesiapan teknologi yang ada di galangan kapal PT. Dumas Tanjung Perak Shipyard dengan metode teknometrik yang mengukur nilai Technology Contribution Coefficient (TCC) berdasarkan komponen technoware, humanware, inforware dan orgaware. Kontribusi nilai yang diperoleh yaitu technoware 0.350, humanware 0.684, inforware 0.375 dan orgaware adalah 0.527, sehingga nilai TCC yang diperoleh dari hasil perhitungan yaitu 0.543 dimana hal ini menjelaskan bahwa klasifikasinya sudah dalam tingkatan baik dan dikatakan pada level semi moderen. Berdasarkan nilai ini, pengembangan galangan kapal bisa dilakukan dengan lebih terarah

    PEMILIHAN PERUSAHAAN OUTSOURCING UNTUK PEMBANGUNAN KAPAL BARU DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DI WILAYAH GRESIK, SURABAYA, SIDOARJO DAN MOJOKERTO

    No full text
    Galangan kapal berlokasi di tepi pantai, padahal harga lahan di wilayah ini relatif mahal. Pada prakteknya, lahan galangan ini diperuntukkan proses produksi mulai dari fabrikasi, sub assembly, assembly hingga erection. PT. Adiluhung Sarana Segara Indonesia merupakan galangan kapal kelas menengah, namun memiliki lahan yang terbatas. Galangan ini sedang mendapatkan banyak order pada 2 (dua) tahun terakhir, sehingga melakukan perluasan lahan untuk memperlancar jalannya proses produksi. Hal ini perlu mempertimbangkan investasi biaya yang dibutuhkan. Sehingga dirumuskan salah satu metode untuk mengoptimalkan lahan galangan kapal agar dapat fokus pada inti bisnisnya, yaitu metode outsourcing yang menjadi trend industri saat ini. Metode cut material order memiliki alur proses fabrikasi dilakukan di perusahaan outsourcing, sehingga material yang tiba di galangan dalam kondisi siap assembly. Galangan hanya perlu menghitung dan mendesain bagian – bagian konstruksi yang dibutuhkan untuk dikirim ke perusahaan outsourcing. Metode pemilihan perusahaan outsourcing ini adalah dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk pemilihan alternatif perusahaan yang sesuai untuk diterapkannya cut material order. Kriteria dan subkriteria pada struktur AHP diperoleh dari identifikasi penelitian penelitian sebelumnya terkait perusahaan outsourcing. Antar kriteria dan subkriteria dilakukan perbandingan berpasangan untuk mendapatkan alternatif yang sesuai, sehingga didapatkan perusahaan outsourcing yang dipilih pertama adalah PT. Gunawan Dianjaya Steel di Surabaya dengan nilai 0.519, PT. Ispatindo di Sidoarjo dengan nilai 0.260, PT. Indobaja Prima Murni di Gresik dengan nilai 0.136 dan PT. Peroni Karya Sentra di Mojokerto dengan nilai 0.085

    IMPROVEMENT OF THE PROCESS OF NEW BUSINESS OF SHIP BUILDING INDUSTRY

    No full text
    Shipbuilding industry is an industry group which has high risk. For that reason, the managementshould include risk assessment. The production process of new buildings in theshipbuilding industry is grouped into three major parts, namely the work of design, materialprocurement and production processes. Each stage of the production process will bring therisk and will accumulate on the overall risk. If the risk is not anticipated, the possibility ofdelays in the production process will be even greater. Risk assessment performed on eachproduction process by using a probabilistic approach to the principle of multiplication in thetheory of opportunity. Risk analysis performed on the construction of fast patrol boats was inthe construction number 268, 269 and 270 on the PT. PAL Indonesia. From the analysis, itwas obtained the greatest probability of occurrence of sequential delay which is in the processof the material, the production, and design group. The potential for loss is due to the riskof unanticipated costs due to factors affected by delays in production processes. Performancefactors are still required for further study
    corecore