35 research outputs found

    SURVEI KARAKTERISTIK TEMPAT PERKEMBANGBIAKAN Anopheles spp DI DESA SELONG BELANAK KECAMATAN PRAYA BARAT KABUPATEN LOMBOK TENGAH NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2010

    Get PDF
    Malaria merupakan masalah kesehatan di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Desa Selong Belanak mempunyai AMI tertinggi di Kecematan Praya Barat tahun 2009 yaitu sebesar 7,59 o/oo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan penyebaran dan karakteristik tempat perkembangbiakan, kepadatan jentik dan spesies Anopheles spp di Desa Selong Belanak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dan sampel penelitian ini adalah tempat perkembangbiakan, kepadatan jentik dan spesies Anopheles spp yang terdapat di Desa Selong Belanak. Hasil penelitian menunjukan jenis tempat perkembangbiakan Anopheles spp berupa sawah, selokan, parit sawah, genangan air di lahan kosong dan di sekitar perumahan, bekas ban kendaraan, lagun dan saluran irigasi. Luas tempat perkembangbiakan Anopheles spp keseluruhan 1857,7 m2, suhu udara 23oC-25oC dan kelembaban 78%-84%, pH air 7-9 dan kadar garam 0-14 per mil. Tempat perkembangbiakan (breeding place) mendukung perkembangan nyamuk vektor malaria di Desa Selong Belanak. Kepadatan jentik tertinggi di lagun sebesar 9,6 per ciduk dan terendah di sawah sebesar 0,1 per ciduk. Biota air yang ditemukan adalah rumput, lumut, ikan dan berudu/anak katak. Spesies Anopheles yang ditemukan adalah An. vagus, An. aconitus, An, subpictus, An, maculatus, An. sundaicus, An. anullaris dan An. tesselatus. disarankan menutup genangan iar dengan tanah atru mengalirkan air yang tergenang di sekitar rumah, menbarkan ikan pemakan jentik di sawah, selokan, lagun dan saluran irigasi dan perlu survei lebih lanjut untuk mengetahui jenis Anopheles lainnya dan bionomi vektor yang lebih lengkap. Kata Kunci: Tempat perkembangbiakan, jentik, Anopheles sp

    PERUBAHAN HISTOPATOLOGI MIDGUT LARVA An. vagus (DIPTERA : CULICIDAE) AKIBAT PAPARAN EKSTRAK BIJI PINANG (Areca catechu L).

    No full text
    Anopheles mosquitoes is main vector of malaria and filariasis. The use of bioinsecticide is an alternative way to reduce the negative impacts of synthetic insecticide. Areca catechu L. seeds contain secondary metabolites that have bioinsectisidal effects. The aim of this study was to analyze the effects of A.catechu L. seed extract on An. vagus larvae midgut. This study was a laboratory experimental research that designed as post test only control group design. A.catechu L. seed from Southwest Sumba Regency was extracted using ultrasonic methods. Larvae used in this study were Anopheles vagus instar III or early IV that devided into seven groups of the extract concetration (500; 1250; 2000; 2750; 3500; 4250 and 5000 ppm) and control group to find out the toxicity of the extract. Each group consists of twenty five larvae. The histopathology of larval midgut was stained with Hematoxyllin-Eosin and observed using light microscopy 24 hours after exposure. Histopathological examination of larval midgut showed the mild, moderate and severe damages on larval midgut after 24 hours exposure. Areca catechu L. seed extract can lead to changes in damage larval midgut. Areca catechu L. seed extract can be recommended to be used effectively as a natural larvicidal mosquito control program

    Kontrasepsi, dukungan Sosial, tubektomi, kontrasepsi jangka panjang

    Get PDF
    Penggunaan bioinsektisida salah satu alternatif untuk mengatasi dampak negatif dari insectisida sintetis. Biji pinang mengandung metabolit sekunder yang dapat membunuh serangga. Penelitian ini bertujuan menganalisis efek ekstrak biji pinang terhadap mortalitas dan kerusakan midgut larva An. vagus. Jenis penelitian eksperimental laboratorium Post test only control group design. Pembuatan ekstrak biji pinang dengan metode ultasonik. Larva yang digunakan adalah larva An. vagus instar IIIl. Uji toksisitas dilakukan pada 1 kelompok kontrol dan 7 kelompok dengan perlakuan ekstrak biji pinang konsentrasi 500; 1250; 2000; 2750; 3500; 4250 dan 5000 ppm. Sebanyak 25 ekor larva digunakan dalam tiap kelompok uji. Kelompok kontrol adalah larva tanpa pemberian ektrak. Pengamatan dilakukan pada jam ke 6, 12, 18 dan 24 jam dengan 6 kali replikasi. Pemeriksaan histopatologi midgut larva dilakukan pada jaringan midgut yang diwarnai dengan Hematoxylin-Eosin. Data dianalisis dengan analisis probit dan analisis One Way Anova. Hasil analisis probit menunjukkan nilai LC50 pada paparan 6, 12, 18 dan 24 jam adalah 4654,374; 3717,286; 3201,473; dan 2650,236 ppm, sedangkan nilai LC90 adalah 6320, 732; 5127,489; 4775,206; dan 4162,762 ppm. Hasil Uji One Way Anova diperoleh p = 0,000 (p < 0,05) menunjukkan terdapat perbedaan yang segnifikan jumlah mortalitas larva akibat paparan ekstrak biji pinang. Pengamatan histopatologi midgut larva menggunakan mikroskop cahaya menunjukkan kerusakan ringan, sedang dan berat setelah 24 jam setelah pamaparan. Semakin tinggi konsentrasi maka semakin cepat waktu yang diperlukan untuk membunuh larva dan semakin rendah konsentrasi maka semakin lama waktu yang diperlukan untuk membunuh larva. Penelitian lanjutan dianjurkan untuk mengkaji efektifitasnya di kondisi lapanga

    Ekologi Anopheles Spp. Di Kabupaten Lombok Tengah

    Get PDF
    Malaria remains a public health problem in West Nusa Tenggara Province. Central Lombok District is one of the areas with high case of malaria. Annual Malaria Incidence (AMI) was increased from 5.9 ‰ in 2006, 6.7‰ up to 8.1‰ in 2008. The objective of the study is to describe the ecological condition of Anopheles spp. through observation, measurement of environmental variables, larvae and adult collection. This research was an observational research with cross-sectional study. The population of this study is all mosquitos and breeding habitats of Anopheles spp. that exist in the research location. Ecological observations carried out on anopheles breeding habitats including acidity, salinity, shaded places and aquatic biota. Air temperature and humidity measured at the adult mosquitoes trapping sites. The result showed that pH values of water is around 9.00, salinity in the breeding habitats around 14 ppm, and water biota (i.e. moss, grass, shrimps, fishes, tadpoles and crabs) surrounded by bushes with larvae density 0,1-28,8 each dipping. The air measurement at the time was between 23°-27° Celsius and 65%-84% humidity. This research concludes that ecology and environmental conditions were supporting the development of larvae and adult mosquito of Anopheles spp

    Respon Imun terhadap Infeksi Parasit Malaria

    No full text
    Malaria is found scattered throughout the islands, especially in eastern Indonesia.Each year about 2.5 million people died, mostly children under five years old. Recently,malaria remains a cause of death of infants, toddlers and pregnant women. It alsodecreases productivity of infected person and tend to increase over the year. Theplasmodium infection causes immune response of host which can be seen as thepresence of inflammatory. immune protection may occur in malaria. There are twotypes of immune response against malaria parasites, innate immunity and acquiredimmunity. Acquired immunity occurs actively through host defense against infection;and passively from mothers to the baby. The immune response mechanism activate theability immune complements to suppress the ocurence of clinical symptoms andparasitemia

    PERILAKU Anopheles spp. KAITANNYA DENGAN UPAYA PENCEGAHAN MALARIA PADA IBU HAMIL DI DESA WAILABUBUR DAN BILA CENGE KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA

    No full text
    Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan daerah endemis malaria dengan Annual Parasite Incidence (API) pada tahun 2008 s/d 2010 berturut-turut sebesar 30,37 0/00, 24,89 0/00 dan 31,41 0/00, terdapat 407 orang penderita diantaranya ibu hamil.Penelitian dilakukan di Desa Wailabubur dan Desa Bila Cenge selama bulanMaret s/d September 2012. Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectionalyang menggambarkan perilaku Anopheles spp.sebagai dasar upaya pengendalian malaria pada ibu hamil. Populasi dan sampel penelitian adalah semua ibu hamil tinggal di lokasi penelitiansebanyak 125 orang.Pengambilan sampel stratifikasi dengan teknik purposive sampling. Hasil menunjukkan di Wilayah Puskesmas Kori terdapat 6 spesies Anophelesyaitu An. vagus, An. annularis, An. barbirostris, An. aconitus dan An. kochi. Aktifitas menggigit Anopheles spp. ditemukan paling banyak di luar rumah puncaknya pada jam 01.00-02.00 dan perilaku istirahat lebih tinggi disekitar kandang puncaknya pada jam 19.00-22.00 dan jam 04.00-05.00.jumlah responden 59,2% melakukan pembersihan semak-semak/rumput disekitar rumah, membakar obat nyamuk (2,4%),menggunakan repelent sebesar 1,6%, tidur menggunakan kelambu sebesar 32,8%,dan keluar rumah pada malam hari 52,8%. Disimpulkan bahwa perilaku Anopeles spp. cenderung bersifat eksofagik (mencari darah di luar rumah).Upaya ibu hamil dalam pencegahan malaria belum dilakukan dengan benar seperti kebiasaan keluar malam, tidur tidak menggunakan kelambu dan tidak menggunakan obat anti nyamuk

    SITUASI MALARIA DI KABUPATEN SUMBA BARAT

    No full text
    Malaria merupakan penyakit menular yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles spp. malaria sampai saat ini masih bersifat endemis di Kabupaten Sumba Barat. Annual Malaria Insidence (AMI) tahun 2007 sebesar 187‰, tahun 2008 197,5‰ tahun 2009 149,8‰ dan tahun 2010 105‰ per 1000 penduduk. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan malaria dan dampak budaya terhadap malaria di Kabupaten Sumba Barat. Tulisan ini merupakan hasil kajian pustaka, terhadap laporan penelitian, artikel penelitian dan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat. Hasil menunjukkan bahwa berdasarkan Annual Malaria Insidence Kabupaten Sumba Barat merupakan daerah High Insidence Area dimana AMI masih lebih dari 50 per 1000 penduduk. Plasmodium yang ditemukan sebagian besar adalah falsifarum, dan vivax. Habitat perkembangbiakan vektor terdiri dari sungai, kali, mata air, kubangan kerbau, saluran irigasi dan bekas kolam ikan dengan kepadatan jentik antara 0,36 sampai dengan 3,4 per cidukan. Spesies Anopheles yang ditemukan antara lain An.subpictus, An.theselatus, An.anularis, An.idenfinitus, An.barbirorstis.An.subpictus, An.vagus dan An.aconitus. 3 spesies diataranya merupakan vektor utama malaria di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu An.barbirostris, An, subpictus dan An.sundaicus sedangkan An.vagus telah dikonfirmasi menjadi vektor melalui ELISA test. Kesimpulannya adalah Kabupaten Sumba Barat merupakan daerah dengan kasus malaria masuk pada strata High Insidece Area dengan vektor utama adalah An.barbirostris, An, subpictus dan An.sundaicus dan An.vagus

    Persepsi Beban Kerja Tenaga Kesehatan Puskesmas di Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2019

    No full text
    Abstract Human resources in the health sector are an important factor in quality and comprehensive health services that play a role in the implementation of the health system. The limited number of health personnel and their competency is a particular obstacle in the implementation of the health system. The purpose of this article is to provide an overview of the availability and perceptions of workload felt by health center staff in Nagekeo District. This type of research is a qualitative method applying interviews with informants who are program holders at seven health centers in 2019. The results showed that the types of personnel in the health centers include general practitioners, dentists, pharmacists, pharmacist assistants, nurses, dental nurses, public health, nutrition workers, midwives, analysts and sanitarians.. Health personnel types in the health centers are still limited and there are 3 health centers that do not yet have dentists and pharmacist assistants, health workers are given basic tasks inside and outside the building and additional tasks as administrative staff. Health workers must perform simultaneously to complete technical and administrative tasks. The study conclude that the types of health personnel is still limited compared to their workload including core and additional tasks. Keywords: Perception of workload, health workers, Nagekeo. Abstrak Sumber daya manusia dalam bidang kesehatan merupakan faktor penting dalam pelayanan kesehatan yang bermutu dan komprehensif yang berperan dalam implementasi sistem kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan yang terbatas dan rendahnya kompetensi menjadi hambatan tersendiri dalam pelaksanaan sistem kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah memberi gambaran tentang ketersediaan dan persepsi beban kerja yang dirasakan oleh tenaga kesehatan puskesmas di Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jenis penelitian adalah kualitatif yang melakukan wawancara dengan informan petugas pemegang program di tujuh puskesmas tahun 2019. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis tenaga yang ada di puskesmas meliputi dokter umum, dokter gigi, apoteker, asisten apoteker, perawat, perawat gigi, kesehatan masyarakat, tenaga gizi, bidan, analis dan sanitarian. Tenaga kesehatan di puskesmas masih terbatas dan terdapat 3 puskesmas yang belum memiliki dokter gigi dan asisten apoteker. Tenaga kesehatan diberi tugas pokok di dalam dan di luar gedung dan tugas tambahan sebagai tenaga administrasi. Tenaga kesehatan harus bekerja ekstra dengan mengatur waktu kerja dengan sebaik-baiknya antara waktu melayani pasien dan menyelesaikan tugas administrasi lainnya. Kesimpulan jumlah tenaga kesehatan di puskesmas di Kabupaten Nagekeo masih sangat terbatas dengan beban kerja yang cukup berat antara tugas pokok dan tugas tambahan. Kata kunci: Persepsi beban kerja, tenaga kesehatan, Nagekeo

    Maternal and Child Health Determinants in West Manggarai District East Nusa Tenggara Province

    Get PDF
    Background: West Manggarai district in period January until July 2012. Infant mortality rate were 34 cases, stillbirths were 33 cases and maternal mortality rate was 9 cases. Methods:This research is qualitative study using Focus Group Discussion (FGD) desain, cooperation with head of public health center, midwife, nutrition program manager, and public health at health department. Results:Maternal and infant mortality in Labuan Bajo public health center caused by maternal nutritional deficiency, infectious diseases such as malaria and typhoid fever, mother less attention to the baby when the baby's ill and difficult access to health services. The problem solution is pregnant women should be regularly having antenathal care, using of mosquito nets. Need to be provided cheaper sea transport. Causes of malnutrition and undernourishment is knowledge, parenting skill and infectious diseases such as diarrhea and malaria. To overcome this problem midwife should be proactive giving counseling to families with malnutrition children under five. Maternal and infant mortality in Winekang public health center caused by not availability of hospital at district, pregnant women still seeking treatment to traditional healers, the implementation of government regulations are less strict and families often late in taking decision to be referred. The solution is health officers must always giving counseling to pregnant women and cross-sector approach to monitoring. Whereas the main cause nutritional problems is parenting behavior, infectious diseases, and not enough healthy food. Conclusion:Maternal and infant mortality caused by difficult access to health services, there are pregnant womens who go to traditional healers, not availability of hospitals in the district, also infectious diseases likes malaria and diarrhea. The solution is the midwife must active involving the village and subdistrict heads in monitoring pregnant women, need to provide a boat and build district hospita

    KAJIAN ASPEK EPIDEMIOLOGI SKABIES PADA MANUSIA

    No full text
    Tahun 2013 penyakit kulit infeksi menduduki posisi keempat dari sepuluh besar penyakit dengan jumlah 136.035 kasus di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Skabies atau kudis merupakan salah satu jenis penyakit kulit infeksi,disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabie.Kejadian skabies sering di jumpai di daerah tropis pada masyarakat yang tinggal di daerah dengan tingkat higiene, sanitasi dan ekonomi rendah. Tulisan ini merupakan kajian pustaka yang tersusun berdasarkan studi kepustakaan dan browsing internet berupa artikel ilmiah hasil penelitian dan artikel ilmiah populer yang ditulis dalam majalah/jurnal ilmiah atau ilmiah populer, laporan hasil penelitian dan survei dan buku teks yang terkait dengan skabies (epidemiologi dan pengendaliannya). Di Indonesia prevalensi skabies tiap daerah bervariasi. Di Pulau Jawa skabies di temukan pada daerah kumuh dan pondok pesantren sedangkan di Nusa Tenggara di temukan di keluarga miskin dan lembaga permasyarakatan.Penularan terjadi melalui kontak langsung dan tidak langung melalui alas tempat tidur dan pakaian penderita dan juga dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Pencegahan dapat dilakukan dengan penyuluhan tentang skabies, penemuan dan pengobatan penderita serta menjaga sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat
    corecore