1,721,520 research outputs found

    Peran k.h. machfud romli dalam pengembangan pondok pesantren minhajut thalibin pungangan, subang tahun (2000-2014)

    No full text
    Sebagai pemimpin K.H., Machfud Romli berjuang keras untuk mendirikan Pesantren meskipun kondisi ekonomi saat itu sulit. Sebagai pendiri, Kiai Machfud telah berupaya mengembangkan pesantren di bidang pendidikan, termasuk kurikulum, sarana dan prasarana. Kiai Machfud memadukan dari dua sistem pendidikan, Salafi dan khalafi. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang perkembangan Pondok Pesantren Minhajut Thalibin. Karena belum ada yang menulis tentang perkembangan Pondok Pesantren Minhajut Thalibin. Pesantren dikembangkan dengan memadukan kurikulum DIKNAS dan Depag serta mempertahankan pembelajaran Kitab Kuning. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali sejarah berdirinya Pondok Pesantren Minhajut Thalibin dan K.H. Machfud dalam perkembangan Pondok Pesantren Minhajut Thalibin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis, dan metode penelitian melalui empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Di sisi lain, teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah melalui studi pustaka dan wawancara. Hasil penelitian ini K.H. Machfud memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan Pondok Pesantren Minhajut Thalibin. Kemajuan besar telah dibuat. Salah satu perkembangan yang terlihat adalah modernisasi pendidikan di Pesantren Minhajut Thalibin dengan mendirikan sekolah formalx, 30 hlm, ilusi; 25 c

    Metode Dakwah KH. Machfud Ma’sum dalam Membentuk Leadership Santri di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Dukun Gresik

    Full text link
    Masalah yang diteliti dalam sekripsi ini adalah Bagaimana metode dakwah KH. Machfud Ma’sum dalam membentuk leadership santri di pondok pesantren Ihyaul Ulum Dukun Gresik. Untuk mengidentifikasi permasalahan tersebut penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi (pengamatan), wawancara dan dokumentasi. Kesimpulan dari penelitian adalah metode dakwah yang di gunakan oleh K.H.Mahfud Ma’shum adalah metode dakwah bil lisan dan metode dakwah bil hal. Proses dakwah KH. Macfud Ma’shum dalam membentuk leadership santri adalah untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan (leadership) dalam diri santri Ihyaul Ulum, dan supaya santri dapat menjadi panutan atau leader di kalangan masyarakat . Mengaji kitab sehabis shalat magrib yang dilaksankan seminggu 3 kali menjadi sebuah kegiatan untuk menyampaikan pesan dakwahnya. K.H. Machfud Ma’shum selaku da’i terlebih dahulu mengenal tingkat strata mad’u yang punya karakter berbeda-beda. Dikarenakan perbedaan watak, karakter, kepribadian dan umur santri yang berbeda-beda. KH. Machfud Ma’shum dalam menyampaikan dakwahnya selalu memberikan motivasi terhadap santri-santrinya untuk dapat terjun ditengah-tengah masyarakat dan menjadi seorang pemimpin (leadership) serta dapat mengamalkan ilmu yang mereka punya, KH. Machfud Ma’shum dalam dakwahnya juga menyampaikan kepada santrinya bagaimana bisa berbuat baik kepada dirinya dan juga kita kaderkan jadi pimpinan orang islam seperti doa yang sering dibaca setiap kali beliau memimpin ngaji “ya Allah jadikanlah pemimpin yang muttaqin”. Sebaik baik manusia adalah yang berbuat baik kepada orang lain. Berdasarkan masalah dan kesimpulan tersebut, maka skripsi dengan judul metode dakwah KH. Machfud Ma’shum dalam membentuk leadership santri di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Dukun Gresik masih belum mendalam, maka dari itu peneliti berharap ada keberlanjutan pembahasan lebih mendalam tentang metode dakwah KH. Machfud Ma’shum dalam membentuk leadership santri di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Dukun Gresik oleh penelitian berikutnya agar tercipta kesinambungan dakwah Isla

    Motivasi Pembentukan Koalisi Mayoritas Pengusung Pasangan Calon Machfud Arifin dan Mujiaman dalam Pilkada Kota Surabaya Tahun 2020

    Full text link
    Pembentukan koalisi partai politik dalam ajang pemilihan kepala daerah merupakan suatu fenomena yang menarik diteliti, seperti halnya pada Pilkada Kota Surabaya tahun 2020. Proses pembentukan koalisi partai politik mayoritas pendukung Machfud Arifin – Mujiaaman. Dengan demikian, penelitian ini menganalisis proses pembentukan koalisi partai politik pada Pilkada Kota Surabaya tahun 2020. Penelitian ini menggunakan teori motivasional pembentukan koalisi Geoffrey Pridham mengenai faktor-faktor yang dapat memengaruhi pembentukan koalisi partai politik dan teori pilihan rasional (rational choice) untuk melihat kepentingan dasar para aktor dalam menentukan koalisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data wawancara dan studi dokumentasi. Temuan penelitian ini menunjukan bahwa proses pembentukan koalisi pendukung Machfud Arifin – Mujiaman diawali dengan wacana strategis antara Gerindra, PKB, PAN, NasDem, PPP, Golkar, Demokrat dan PKS yang berorientasi pada orientasi taktis untuk menumbangkan dominasi kekuasaan PDIP di Surabaya. Partai-partai tersebut pada dasarnya memiliki spirit yang sama karena Surabaya pasca reformasi selalu dikuasai oleh pemimpin dari PDIP. Machfud Arifin dianggap sebagai kandidat potensial karena memiliki kekuatan finansial, jejaring politik dan lobi antar-parpol dalam membangun mitra koalisi. Machfud Arifin menjadi trigger dalam proses pembentukan koalisi tersebut. Pada prosesnya terjadi dinamika horizontal-vertikal, karena masing-masing partai mendorong kadernya untuk menjadi pendamping Machfud Arifin. Dengan demikian, secara teori proses pembentukan koalisi pendukung Machfud Arifin – Mujiaman dipengaruhi oleh tiga hal mendasar, yakni faktor ideologis yang merupakan pikiran awal partai mayoritas yang menekankan pada pembaharuan kepemimpinan, kemudian historis partai yang telah terjalin sejak sebelum pilkada 2020 digelar dan terakhir faktor pragmatis dengan ambisi untuk meraih kekuasaan dengan penggabungan delapan partai politik. Selain itu, para aktor politik mengusung Machfud Arifin dengan pilihan rasional, bahwa pertama angka survei elektabilitas, modal finansial dan jejaring politik yang dimiliki kandidat. Koalisi tersebut bersifat dinamis, sehingga diperlukan komitmen dan visi yang sama, serta mekanisme pengatur konflik dalam menjaga keutuhan koalisi Parpol

    Motivations to Form A Majority Coalition of Candidates Machfud Arifin and Mujiman in the Surabaya City Election in 2020

    No full text
    The formation of a coalition of political parties in the regional head election is an interesting phenomenon to be studied, as was the case in the 2020 Surabaya City Election. The process of forming a coalition of political parties with the majority supporters of Machfud Arifin – Mujiaaman. Thus, this study analyzes the process of forming political party coalitions in the 2020 Surabaya City Election. This study uses Geoffrey Pridham's motivational theory of coalition formation regarding the factors that can influence the formation of political party coalitions, political coalition theory by William Riker which emphasizes (minimum winning) coalition) and rational choice theory to see the basic interests of the actors in determining the coalition. This study uses a qualitative approach, with interview data collection techniques and documentation studies. The findings of this study indicate that the process of forming a coalition supporting Machfud Arifin – Mujiaman begins with a strategic discourse between Gerindra, PKB, PAN, NasDem, PPP, Golkar, Democrats, and PKS which is oriented towards a tactical orientation to subvert the dominance of PDIP power in Surabaya. These parties basically have the same spirit because post-reform Surabaya has always been dominated by leaders from the PDIP. Machfud Arifin is considered a potential candidate because he has the financial strength, political networks, and inter-party lobbying in building coalition partners. Machfud Arifin became a trigger in the process of forming the coalition. In the process, horizontal-vertical dynamics occurred, because each party encouraged its cadres to become Machfud Arifin's companion. Thus, theoretically, the process of forming a coalition supporting Machfud Arifin - Mujiaman is influenced by three basic things, namely ideological factors which are the initial thoughts of the majority party which emphasizes leadership renewal, then the historical party that has existed since before 2020 elections were held and finally pragmatic factors ambition to gain power by merging eight political parties. In addition, political actors carry Machfud Arifin with rational choices, that first is the electability survey number, financial capital, and political network owned by the candidate. The coalition is dynamic, so it requires the same commitment and vision, as well as conflict management mechanisms to maintain the integrity of the coalition of political parties

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore