1,722,604 research outputs found
Pemikiran Murtadha Muthahhari Tentang Kesetaraan Perempuan
Murtadha Motahhari is a prominent figure in Iran. He was born on February 2, 1920. He is the son of a prominent Iranian cleric, Muhammad Husein Mutahhari. Murtadha loves kalam and philosophy. While in Qum, Murtadha met Imam Khomeini and studied with him on ethics and philosophy. In 1950, Murtadha moved from Qum to Tehran. He began teaching philosophy at the University of Tehran. Murtadha became a great thought figure for Iran. One of her most important thoughts is about women's equality against the western version of equality. Murtadha explains that the west is late and hasty regarding equality. Western equality also leads to uniformity. Islam has judged that men and women are both human beings who have differences from nature and innate. It is this difference that produces the beauty and happiness between the two
ANALISIS PEMIKIRAN EPISTEMOLOGI MURTADHA MUTHAHHARI
ABSTRAK
[email protected]
Penelitian ini mengkaji tentang pemikiran epistemologi Murtadha Muthahhari. Persoalan yang sangat penting menurut Murtadha Muthahhari adalah persoalan ideologi dan isme. Pandangan ideologi berlandaskan pada pandangan dunia. Memiliki hasil kajian yang berhubungan dengan alam, manusia, masyarakat, dan sejarah semua tidak terlepas dari pada masalah pengetahuan. Maka Epistemologi dalam pemikiran Murtadha Muthahari menghadirkan pandangan guna menemukan sumber pengetahuan secara luas dan benar. Murtadha Muthahhari adalah salah satu tokoh yang begitu kritis terhadap persoalan marxisme di Iran dengan mengkritik dari berbagai pemahaman epistemologi Barat dan menghadirkan pemahaman epistemologi Islam dengan pendekatan Al-Qur’an. Meskipun terlihat secara umum epistemologi yang dihadirkan Barat sudah cukup terkenal di kalangan masyarakat. Akan tetapi, epistemologi Islam sebenarnya mampu untuk memberikan pemahaman yang sangat dalam sebagaimana yang dihadirkan Murtadha Muthahari dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: sumber pengetahuan yaitu alam, akal, hati, dan sejarah. Adapun instrumen pengetahuan yaitu indra, rasio, dan hati (penyucian jiwa), tahapan dan tingkatan pengetahuan, pengetahuan alam bawah sadar dan melalui tanda, pengetahuan indrawi yang bersifat partikular, bersifat lahiriah, umum, dan pengetahuan yang hakiki. Skripsi ini mengkaji epistemologi menurut Murtadha Muthahhari, dengan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami secara sistematis pemikiran Murtadha Muthahhari. Secara umum, epistemologi yang dihadirkan adalah sikap kritisnya terhadap pemahaan Marxisme. Metode yang peneliti gunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Library Research.
Kata Kunci: Epistemologi, Murtadha Muthahhari
MORAL DALAM PANDANGAN MURTADHA MUTHAHHARI
Moral merupakan elemen dasar bagi eksistensi manusia. Perbincangan
moral sejak zaman Yunani Kuno hingga zaman Modern terus berlangsung dan
menduduki posisi yang sangat krusial. Secara konseptual, moral merupakan nilai
luhur yang harus menjadi pedoman bagi hidup manusia karena pada dasarnya
sebagaimana yang dikatakan oleh Thomas Hobbes bahwa “Manusia merupakan
serigala bagi manusia lainnya” (homo homoni lupus). Namun demikian, konsepsi
moral sangat beragam. Perspektif Barat (Modern), moral lebih condong pada
paradigma antroposentris atau terpusat pada kemanusiaan-kebudayaan sehingga
bercorak rasional-ateistik sedangkan perspektif Timur (Klasik-Modern), moral
lebih condong pada paradigma teosentris atau terpusat pada Tuhan-Agama dan
corak moral yang diproduksi berbasis religius-teistik. Salah seorang tokoh yang
berpengaruh pada abad ke-20 adalah Murtadha Muthahhari. Beliau merupakan
seorang filsuf, teolog, sosiolog, fuqaha, mutakalimun, sekaligus seorang politikus
dan negarawan yang memiliki pandangan yang komprehensif serta transendental
tentang konsep moral karena beliau mencoba menghubungkan dimensi spiritual
dan dimensi maternal. Dengan konsep moral yang ditawarkan oleh Murtadha
Muthahhari diharapkan bisa menghadirkan nuansa moral integratif-interkonektif
sehingga secara prinsiptual moral bisa dikonstruksi secara teoritis dan secara
praksis serta moral bisa menjadi standar pedoman kehidupan manusia.
Menyoroti pentingnya konsep moral yang ideal untuk diterapkan dalam
kehidupan manusia yang semakin penuh dengan kompleksivitas, serta berawal
dari permasalahn akademik yang ingin diselesaikan maka ada dua rumusan
masalah yang akan dimunculkan dalam skripsi ini: Pertama, apa latar belakang
pemikiran moral Murtadha Muthahhari? Kedua, bagaimana konsep moral dalam
pandangan Murtadha Muthahhari?
Penelitian ini adalah library research sehingga hasil yang ditemukan
bersifat kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah
dokumentasi. Objek material penelitian ini adalah pemikiran Murtadha
Muthahhari dan objek formalnya adalah moral perspektif filsafat Islam. Adapun
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah philosophycal approach dengan
descriptive analysis sebagai metode analisis data. Teori yang digunakan dalam
penelitian ini adalah teori Etika Islam Ibn Miskawaih (Bapak Etika Islam) karena
secara konseptual teori yang beliau kemukakan sangat berhubungan dengan
pemikiran moral Murtadha Muthahhari.
Ada dua sumbangan keilmuan yang dihasilkan dalam skripsi ini: Pertama,
konsep moral yang digagas oleh Murtadha Muthahhari dilatarbelakangi oleh
ketidakmampuan Barat sekaligus Timur dalam mengkombinasikan dimensi
kemanusiaan (antropos), lingkungan atau alam (kosmos), dan Tuhan (teos).
Kedua, moral Murtadha Muthahhari berparadigma Spiritualis-Teistik. Moral
berasal dari Tuhan yang diturunkan ke dalam hati manusia. Menurut Murtadha
Muthahari, secara fungsional moral harus digunakan untuk keseimbangan alam
semesta dan keteraturan serta keharmonisan hidup manusia
PENDIDIKAN REVOLUSIONER: Studi atas Pemikiran Murtadha Muthahhari
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumber ideologis-epistemologis gagasan pendidikan tokoh revolusioner Murtadha Muthahhari, implikasi ideologis-epistemologis gagasan pendidikan tokoh revolusioner Murtadha Muthahhari dalam pengembangan pendidikan dan gagasan inspiratif tokoh revolusioner Murtadha Muthahhari. Hasil penelitian tesis ini menunjukan bahwa, idealnya pendidikan Islam secara teoritik, praksis, maupun filosofis harus mampu menjadi sebuah instrumen bagi upaya pengembangan nalar yang kritis dan kreatif.Menurut Murtadha Muthahhari pendidikan harus mempunyai peran dalam membentuk peserta didik yang mampu mengembangkan potensi dalam dirinya. Adapun persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya pada temuan konsep-konsep pendidikan Murtadha Muthahhari yang sangat memprioritaskan peran akal dalam pengembangan pendidikan, sedangkan perbedaannya adalah, penelitian sebelumnya hanya menemukan pandangan Murtadha Muthahhari tentang pendidikan dan tidak mengungkap akar sejarah dari timbulnya gagasan tersebut. Sedangkan, tulisan ini menemukan gagasan pendidikan secara komprehensif mulai dari kurikulum, metode pembelajaran, serta potensi apa yang harus dikembangkan oleh guru pada peserta didik
Imamah dalam Al-Qur'an Menurut Murtadha Muthahari
Imamah adalah kepemimpinan dalam Islam yang tidak hanya mengurusi masalah politik, tetapi meliputi masalah agama. Seorang pemimpin dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, hal inilah yang dijadikan pedoman Syiah bahwa setiap zaman memerlukan seorang pemimpin yang mampu mengurusi masalah kemasyarakatan dan keagamaan.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan antara Sunni dan Syiah dalam memahami imamah. Menurut Syiah imamah adalah termasuk kedalam pokok agama seperti layaknya rukun Islam, akan tetapi menurut Sunni imamah hanya masalah biasa bukan termasuk masalah pokok agama. oleh karena itu penulis meneliti ayat-ayat imamah dalam alquran menurut Murtadha Muthahari, yang bertujuan untuk memahami imamah dalam perspektif Murtadha Muthahari.
Penelitian mengenai imamah bukan kali pertama diteliti, sebelumnya telah ada yang meneliti dari beragam perspektif. Akan tetapi imamah menurut Murtadha Muthahari belum ada yang meneliti. Jadi penelitian imamah menurut Murtadha Muthahari dalam bukunya yang berjudul Man and universe tergolong baru.
Metode penelitian yang digunakan adalah Library Research dengan sumber primer buku Man and Universe karya Murtadha Muthahari. Sumber sekunder penelitian ini adalah jurnal, skrispsi, buku, dan literatur lain yang berkaitan dengan imamah.
Temuan penelitian ini adalah menurut Muthahari bahwa imamah merupakan perjanjian ilahiah dengan Allah Swt. yang memimpin manusia dalam hal duniawi maupun ukhrawi. Muthahari menilai bahwa kedudukan imamah dalam Islam sangat sentral karena imamah merupakan dasar pokok agama. Tidak sempurna agama Islam bila tidak ada imamah
Pemikiran Teologi Murtadha Muthahhari
Islam terlahir sebagai sebuah agama yang membawa risalah yang salah satunya pengesaan Allah sebagai Tuhan satu-satunya, al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik atau mengakui keberadaan Tuhan selain Dia. Di zaman modern muncul fenomena bahwa secara argumentasi saja mereka percaya kepada Tuhan sedangkan dalam kehidupan dan perilaku sehari-hari mereka tunduk kepada berhala dan setan. Adapun yang menjadi masalah dalam skripsi ini adalah bagaimana konsep teologi menurut Murtadha Muthahhari dan pengaruh pemikiran teologinya terhadap masyarakat Islam modern. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pemikiran teologi menurut Murtadha Muthahhari dan pengaruh pemikiran teologinya terhadap masyarakat Islam modern. Pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, sedangkan metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini ialah metode deskriptif, historis, analisis interpretative, content analisys, serta menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Pengumpulan data diperoleh dari data primer dan sekunder seperti karya Murtadha Muthahhari maupun karya-karya ilmiah lainnya yang berhubungan dengan masalah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi menurut Murtadha Muthahhari yaitu sesuatu perilaku yang tercermin dan terefleksi dalam kehidupan praktis manusia, adanya kesatuan dan keharmonisan antara teori dan prakteknya, karena kebanyakan manusia hanya mampu berargumen dalam mempertahankan wujud Tuhan tetapi pembuktiannya hanya terbatas pada konsepsi saja. Adapun pengaruh teologi Murtadha Muthahhari terhadap masyarakat modern terlihat dalam aliran yang dianutnya yaitu Syi’ah, di sini Muthahhari selalu mengajarkan rahasia-rahasia batin dalam proses jalan menuju kesempurnaan. Hal ini bisa tercapai jika penganut Syi’ah tidak pernah terlepas dari ajaran-ajaran para imam maksum, karena secara pengetahuan ajaran Syi’ah mampu mengkolaborasikan antara akal, teks dan hati. Dapat disimpulkan bahwa pemikiran teologi Murtadha Muthahhari relevan dengan perkembangan masyarakat terutama di kalangan Syi’ah
MANUSIA MENURUT ALI SYARI’ATI DAN MURTADHA MUTHAHHARI
ABSTRAK
Penelitian skripsi ini membahas tentang manusia menurut pemikiran Ali Syari'ati dan Murtadha Muthahhari. Manusia dalam ilmu filsafat Barat adalah materialisme (fisik) dan idealisme (non-fisik/jiwa). Berbeda dengan tradisi Barat, basis epistemologi humanisme Islam bersandar pada al-Qur'an, sehingga terminologi dan konsepsi mengenai manusia harus ditilik di dalamnya. Dalam konteks pemikiran tentang manusia ini, ada dua tokoh besar Muslim Islam yang penting dikaji yaitu Ali Syari'ati dan Murtadha Muthahhari. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan yang menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini difokuskan pada dua permasalahan, yakni bagaimana manusia menurut Ali Syari'ati dan Murtadha Muthahhari kemudian perbandingan manusia menurut kedua tokoh tersebut. Pengkajian dilakukan terhadap sumber-sumber yang tersedia, baik berasal dari karya-karya Ali Syari'ati dan Murtadha Muthahhari maupun dari para kritikus maupun tulisan-tulisan yang telah mengkaji pemikiran mereka. Adapun hasilnya, manusia menurut Ali Syari'ati adalah makhluk bidimensi yang di dalamnya terdapat unsur lumpur (kehinaan), sekaligus unsur kemuliaan (ketuhanan). Sementara menurut Murtadha Muthahhari, pada dasarnya manusia itu adalah hewan, namun perbedaan manusia dengan hewan lainnya adalah akal budi dan iman. Ali Syari'ati cenderung modern sekuler dan lebih dekat dengan cendekiawan-cendekiawan asing, sedangkan Murtadha Muthahhari lebih kepada tradisional yang lebih dekat dengan kitab-kitab klasik ataupun ulama.
Kata Kunci: Manusia, Kemanusiaan, Ali Syari’ati, Murtadha Muthahhar
Pendidikan Perempuan dalam Pandangan Murtadha Muthahhari
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Murtadha Muthahhari merupakan seorang tokoh terkenal asal Negara Iran yang karya-karyanya banyak dijadikan sebagai bahan referensi dikalangan pemikir lainnya. Murtadha Muthahhari juga banyak membahas Persoalan perempuan dan hak-haknya sesuai dengan ajaran Islam, Pendidikan perempuan dalam pandangan Murtadha Muthahhari ialah berangkat pada penciptaan manusia sejak kelahirannya telah memiliki fitrah kebaikan salah satunya
adalah fitrah keinginan untuk belajar dan mencari kebenaran. Murtadha Muthahhari menekankan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kewajiban yang sama dalam memperoleh pendidikan. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya terbatas pada satu jenis pendidikan saja. Menurutnya, perempuan yang berpendidikan dan memahami tetang dirinya adalah perempuan yang mampu membawa dirinya ke dalam situasi apapun. Lebih lanjut, Murtadha Muthahhari menegaskan bahwa perempuan yang berpendidikan tidak hanya bermanfaat untuk dirinya tetapi juga akan terus tersalurkan
pada generasi-generasi selanjutnya baik pada saat mereka menjadi seorang pendidik dalam sebuah lembaga pendidikan maupun ketika mereka berada dalam ranah keluarga
Konsep Masyarakat Menurut Murtadha Muthahhari
Hasil penelitian dalam tesis ini menunjukkan bahwa ada hal yang mendasar dari pemikiran Murtadha Muthahhari yang belum dibahas oleh para filosof-filosof klasik dan kontemporer mengenai konsep masyarakat. Menurut Murtadha Muthahhari bahwa keragaman dalam masyarakat pada akhirnya akan menuju pada kesatuan yakni masyarakat akhir zaman dan implikasi pemikiran Muthahhari mengenai masyarakat dalam konteks Indonesia yakni terwujudnya masyarakat yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradap, terwujudnya hubungan harmonis antar manusia Indonesia tanpa membedakan latar belakang budaya, suku, ras, dan agama, berkembangnya dinamika kehidupan bermasyarakat, ke arah peningkatan harkat dan martabat manusia, dan terwujudnya keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam perilaku kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
Pemikiran Murtadha Muthahhari tentang agama
INDONESIA
Penelitian ini dilatar belakangi bahwa formalisme beragama makin menjadi permasalahan yang mendasar. Hal ini ditandai dengan pola dan tingkah laku manusia yang mengaku beragama akan tetapi tidak ada implementasi kongkrit dalam kehidupan sehari-harinya, bagaimana misalnya dia berinteraksi, bagaimana dia bisa memelihara dan menjaga perasaan sesama, baik yang satu keyakinan atau yang berbeda. Hal ini pula yang menjadi pembahasan pemikir muslim Murtadha Muthahhari, karena itulah penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsep agama sebagai Fitrah bagi manusia serta bagaimana keyakinan keagamaan sampai bagaimana tingkat hubungan agama dengan ilmu pengetahuan menurut Murtadha Muthahhari.
Metode yang digunakan adalah metode hermeneutik yaitu Interpretasi makna atas suatu teks dengan teknik penelitian analisis isi atau content analysis yaitu dengan pembahasan yang bersifat mendalam tentang suatu teks di sini karya-karya Murtadha Muthahhari dan sumber rujukan pendukung lainnya meliputi semua analisis suatu teks dengan ikut serta menggambarkan secara sistematis konsep yang dikemukakan oleh Murtadha Muthahhari khususnya konsep tentang agama dan manusia. Manusia menurut Murtadha Muthahhari bisa dianggap sempurna atau insan kamil ketika dia mampu menyeimbangkan dan menstabilkan serangkaian potensi insaninya termasuk hubungannya dengan pengetahuan kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani yang sudah tertanam dalam dirinya sejak ia dilahirkan bahkan ketika masih di rahim ibunya. Dengan demikian hubungan manusia dan ketuhanan yang dia yakini bisa menjadi penuntun hidupnya sehingga agama sebagai fitrah, kaitan antara agama dan ilmu pengetahuan, agama sebagai progresivitas, dinamisitas, dan kreativitas yang diyakininya akan tercermin dalam pola dan tingkah laku keberagamaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Agama bukan berarti tidak ada hambatan cara pandang yang ditawarkan sebelum memahami konsep yang ada pada diri manusia itu sendiri filsafat serta peran ideologis, tentang Tuhan, tentang manusia, keistimewaan manusia, manusia multi dimensi. Dari semuanya itu, maka bangsa Barat lebih menitik beratkan pada konsep moralitas Barat, konsep hak asasi manusia, konsep etika seksual Barat dan konsep manusia itu sendiri menurut Barat. Kesemua konsep atau aspek kehidupan pada perkembangan sains dan teknologi secara tidak langsung telah meniggalkan agama, dan kesemuanya ini menjadi bahan kritikan pemikiran Murtadha Mutahhari atas praktek keagamaan.
Berdasarkan penelitian ini didapatkan beberapa kesimpulan, yaitu: dalam pemikiran Murtadha Muthahhari, tidak bisa dipungkiri bahwa agama adalah merupakan fitrah bagi setiap manusia,tingkat keyakinan keagamaan, sampai manusia mengetahui akan Tuhan, kritik-kritik Murtadha muthahhari yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan tokoh di atas untuk mempraktekan nilai agama yang sesungguhnya. Agama sebagai fitrah manusia melahirkan keyakinan bahwa agama adalah satu-satunya cara pemenuhan semua kebutuhan, sehingga agama tidak hanya menjadi label atau formalitas sosial saja tetapi mampu menjadi penuntun dalam hidup dan kehidupan. Semua agama itu mengajarkan kebaikan dan perdamaian, dan tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Tetapi terkadang terjadi kekerasan yang mengatasnamakan agama karena kurangnya pemahaman atau penyimpangan terhadap sejarah, al-Qur’an, Muhammad masa kini dalam penjelasan tersebut. Maka disitulah muncul permasalahan keagamaan yang muncul masa kini. Sehingga agama terkadang diperalat, dan seakan-akan agama dengan praktek keagamaan bertolak belakang. Maka yang di salahkan konsep agama itu sendiri sesungguhnya yang salah pelaku agama.
ENGLISH
This research is based on the fact that religious formalism is increasingly becoming a fundamental issue. It is characterized by the pattern and behavior of a human who professes religion but there is no concrete implementation in his daily life, for example he interacts, how he can nurture and maintain good neighborly feelings of one belief or different. This is also the discussion of the Muslim philosopher Murtadha Motahhari, because that's the research is done to know the concept of religion as Fitrah and how the relation of religious action of Man with faith according to Murtadha Motahhari.
The method used is the method of hermeneutics Interpretation of the meaning of a text with content analysis research techniques or content analysis that is with an in-depth discussion of a text here works Murtadha Motahhari and other supporting sources of reference include all the analysis of a text by participating describe Systematically the concept proposed by Murtadha Motahhari especially the concept of human and fitrah. Man according to Murtadha Motahhari can be considered perfect (man kamil) when he is able to balance and stabilize a series of human potential including his relationship with knowledge of physical needs and spiritual needs that have been embedded in him since he was born even when still in his mother's womb. Thus the relationship of man and belief which he believed could be the guide of his life so that religion as fitrah, the link between science and faith, Islam as a universal and comprehensive ideology which is believed will be reflected in the pattern and behavior of religious in everyday life.
Religion does not mean that there are no obstacles to the perspective offered by perennialism, the problem of crime, the plurality of religions and other streams related to the roots of doubt or the occurrence of doubt on religion. Of these, the West put more emphasis on the concept of Western morality, the concept of human rights, the concept of Western sexual ethics and the concept of man himself according to the West. All the concepts or aspects of life on the development of science and technology have indirectly left the religion, and all of this is a material criticism Murtadha Mutahhari thoughts on religious practice.
Based on this research, there are some conclusions, namely: in Murtadha Mutahhari's thought, it is undeniable that religion is a fundamental need of every human, human and fitrah, human and faith, criticism of Murtadha Motahhari which is an integral part in the life of the figure above To practice the true value of religion. Religion as human nature gives birth to the belief that religion is the only means of fulfilling all needs, so that religion is not only a label or social formality but can be a guide in life and life. All religions teach goodness and peace, and no religion teaches violence. But sometimes there is violence in the name of religion because of lack of understanding of religion, and the wrong clerical and umaro explanations. Then there are the religious issues that arise today. So religion is sometimes used, and as if religion with the practice of violence is between there and none
- …
