30,772 research outputs found

    SUONO / Muhammad Nur Amirul Mohd Ruslan

    No full text
    Music and humans can't be tear apart . On this semester, i learnded about reversed engineeeng IDT 260. I have fo rede-sign an existing portabel speaker Into a new form of minimalism pattial style . On this subject also i have learnd a pragmatic and sy ntho tic analysis. The concept of minimalist arch,cture ism strip everythhing down to its essential quality and thieve simplicity. The design concept that i apply on my project is designing a new design of PO. ble speaker for designer wi. simple and Nogg...dn. My design criteria is to designing a that looks with simple form , small and easy to bring anywhere, My design objectives are to improve the new form of portablg opseInteta:d to ensure the' illitrfUlatax Splbglier d user friendly. Why OIRTV to redesign an exishirtErkbecause of problem agenggicIligri: that i have seen., 18Asliifig product rnay be loolgliller§g„ogicl old also the calogkial.ltykisling Product is sit 040acessary. The target malice{ iTkr rny speaker is designer . Design influence and target user I lake-from the currently nowdays lifestyle . I named my new portable speaker 'SUONO" it is sound from halloo word

    Pioneers of Library Movement in Pakistan

    No full text
    The paper aims to describe in brief the contribution of seven leaders of Pakistan librarianship, viz. K.B. Khalifa M. Asadullah, Prof. Dr. Abdul Moid, Dr. Abdus Subuh Qasimi, Muhammad Shafi, Fazal Elahi, Khawaja Nur Elahi and S. V. Hussain. The early library developments are given for better understanding of the role of these leaders

    Konsep Nur Muhammad Studi Penafsiran Surat An-Nur Ayat 35

    No full text
    “Nur Muhammad” merupakan konsep yang tidak asing dalam wacana tasawuf, demikian pula halnya dalam kajian ilmu tafsir, teks-teks “Nur Muhammad” juga dikenal luas. Teks-teks tersebut, sabahagian penulis temukan terkumpul di sebuah koleksi naskah dengan tema “Isra’ Mi’raj). Mungkin ini dikarenakan naskah tentang “Nur Muhammad” dibacakan setiap bulan, biasanya tanggal 27 bulan Rajab, yakni acara peringatan Isra’ dan Mi’raj. Artikel ini menunjukkan bahwa naskah “Nur Muhammad” dalam kajian tafsir surat an-nur ayat 35. Asumsi ini didasarkan pada analisa teks, perbadingan dengan naskah-naskah lainnya, serta analisa kehidupan social-budaya komnitas Muslim yang mentradisikan membaca naskah-naskah sesuai hari besar Islam. Pendekatan intertekstual pemahaman konsep Nur Muhammad semakin luas dan utuh berkat bantuan dari teks-teks terkait. Perbedaan pengungkapan konsep Nur Muhammad di berbagai teks tersebut memperlihatkan fungsi sendiri. Konsep Nur Muhammad berfungsi untuk menegaskan silsilah Nabi sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw, menegaskan tentang keutamaan dan kemuliaan Nabi Muhammad yang nurnya menjadi asal seluruh manusia

    NUR MUHAMMAD MENURUT TAREKAT TIJANIYAH

    No full text
    Nur Muhammad merupakan salah satu topik penting dalam bidang tasawuf. Sebab konsep ini adalah sebuah teori sufistik tentang awal penciptaan makhluk di alam semesta. Konsep ini banyak muncul di kalangan para sufi falsafi, misal Ibn Arabi, Al-Hallaj, Al-Jilli, dan lain-lain. Mereka bersepakat bahwa Nur Muhammad mengandung pengertian “sempurna”. Sebab ia merupakan bentuk tajalli (penampakan diri) Tuhan. Kesempurnaan tajalli Tuhan hanya ada pada Insan Kamil (manusia sempurna). Namun, dalam hal ini terdapat keraguan dalam memahami konsep tersebut. Salah satunya adalah dalam pemakaian hadist dhoif dan hadist shahih yang mereka pakai dalam menjelaskan tentang Nur Muhammad. Dari permasalahan tersebut akan berakibat kurangnya pengetahuan tentang bagaimana wujud Tuhan yang bersifat transenden atau misteri yang sering dikutip para sufi falsafi kanzan mahfiyun dalam penciptaan makhluk yang bersifat imanen (baharu). Oleh karena itu, penelitian ini menarik untuk dibahas, dikarenakan adanya beberapa keraguan dalam pemahaman konsep tersebut. Adapun kajian yang memiliki kesamaan dari para sufi tersebut adalah Tarekat Tijaniyah, institusi tasawuf kenamaan yang memfokuskan pemikirannya pada konsep Nur Muhammad dengan berdasarkan ajarannya, berupa shalawat al-Fatih dan shalawat Jauhariyah al-Kamal. Agar lebih spesifik dalam kajian ini, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap konsep Nur Muhammad menurut Tarekat Tijaniyah. Penelitian ini termasuk penelitian tasawuf falsafi dan jenis penelitiannya adalah “library research”. Adapun metode yang digunakan, pertama, Metode Deskriptif, peneliti menggambarkan konsep Nur Muhammad beserta dasar-dasarnya secara ringkas, yang mengacu pada pemahaman para ulama Sufi, kemudian sekilas tentang sejarah Tarekat Tijaniyah dan penyebarannya, biografi Syeikh Ahmad Tijani, unsur-unsur penting yang ada di dalamnya, serta ta’lim dan ‘amaliyah-nya. Kedua, Metode Analisis, peneliti menganalisa tentang Nur Muhammad, kemudian dijelaskan serta dibandingkan sampai mendapat hasil yang maksimal. Setelah menyelesaikan penelitian ini, penulis menyimpulkan, bahwa yang disebut Nur Muhammad menurut Tarekat Tijaniyah yaitu awal dari segala ciptakan Allah dari hadhrah al-ghaib (eksistensi kegaiban). Adapun dasar-dasar dari konsep ini, terletak pada ajarannya, berupa shalawat al-Fatih dan shalawat Jauhariyah al-Kamal. Menurut Syaikh Ahmad Tijani, shalawat al-Fatih merupakan shalawat yang terdiri dari lafadz al-Fatih lima ughliq dan al-Khatim lima sabaq. Al-fatih lima ughliq yang berarti wujud Nabi Muhammad sebagai pembuka hati dari keterbelengguan al-rahmah al-ilahiyah, syirik, dan jahl bagi para makhluk di alam semesta. Sedang al-khatim lima sabaqa artinya bahwa wujud Nabi Muhammad sebagai pembuka dan penutup kenabian dan kerasulan. Sedangkan shalawat Jauhariyah al-Kamal merupakan kelanjutan dari pemikiran Syaikh Ahmad Tijani dalam shalawat al-Fatih, tentang Nur Muhammad. Hal ini dapat terlihat dari sembilan hakikat rahmat dari sifat-sifat Tuhan. ,(عين الرحمة الربانية) , bagian, yaitu: pertama, bagian pertama نور) , Nabi Muhammad sebagai pemilik al-haq (al-haqiqah). Bagian ketiga عين الحق , ( ) Bagian kedua الكنز) , rahmat Nabi Muhammad seperti nur bagi seluruh makhluk alam. Bagian keempat ,(الأكوان الجوهر bermakna (الياقوتة) , Nabi Muhammad sebagai pusat ilmu pengetahuan. Bagian kelima ,(الأعظم Nur Muhammad bagaikan kilat yang berisi rahmat Tuhan ,(البرق) , yakni permata. Bagian keenam Nabi Muhammad ,(صاحب الحق الرباني) , kepada setiap orang yang menghadap-Nya. Bagian ketujuh Nur Muhammad memancarkan al- ,(طلعة الحق , ( sebagai pembawa agama Allah. Bagian kedelapan cahaya yang tersimpan oleh Allah. ,(النور المطلسم) , haq dari dzat al-haq, Allah. Bagian kesembilan ,(عرض) tidak butuh tempat (dinisbatkan kepada Allah) dan ,(جوهر) Dikatakan lain, nur Muhammad itu butuh tempat (makhluk), yang selalu butuh terhadap dzat-Nya. Akhirnya, seraya mengakui segala kekurangan dalam kajian ini, penulis menyarankan untuk penelitian selanjutnya tentang Nur Muhammad menurut tarekat tijaniyah, dengan merelasikan terhadap pemikiran kontemporer, dengan analisis worldview Islam. Usaha ini tentunya tidak boleh menjadikan sebuah kajian terlepas dari kritik, yang diharuskan disetiap kajian akademis

    NUR MUHAMMAD CONCEPT IN HIKAYAT NUR MUHAMMAD KONSEP NUR MUHAMMAD DALAM HIKAYAT NUR MUHAMMAD Iffah Fauziah Rahardy

    No full text
     Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan hasil analisis suntingan teks litografi Hikayat Nur Muhammad dalam penelitian filologi. Selama ini teks litografi masih jarang digunakan dalam penelitian filologi. Oleh karena itu, peneliti memilih teks ini. Dalam hal ini, peneliti membandingkan dua teks litografi yang berada di British Library dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Berhubung teks yang digunakan merupakan teks jamak, peneliti menggunakan metode landasan (legger) yaitu memilih satu naskah yang dianggap memiliki kualitas yang lebih unggul, yaitu tes litografi koleksi Universiti Kebangsaan Malaysia. Dalam analisis resepsi sastra, peneliti mengungkap konsep Nur Muhammad secara lebih sederhana. Hikayat Nur Muhammad selama ini hanya ditanggapi secara umum, yaitu sesuai dengan konsep tasawuf sehingga cukup sulit dipahami oleh orang awam. Oleh karena itu, pada penelitian ini, peneliti memformulasikan kembali Nur Muhammad secara lebih mudah agar dapat dipahami oleh pembaca awam.Dalam memformulasikan konsep Nur Muhammad, peneliti berpandangan bahwa konsep ini dapat dipahami melalui tiga hal, yaitu proses penciptaan manusia, tujuan diciptakannya manusia, serta ‘kembali’nya manusia kepada Sang Pencipta. Allah menciptakan alam sebagai makrokosmos yang nantinya akan dihuni oleh manusia sebagai mikrokosmos. Dalam menghuni alam ini manusia memiliki tugas utama, yaitu beribadah kepada Allah. Penghambaan manusia diwujudkan dalam lima aspek, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji. Setelah tugas sebagai manusia terselesaikan, manusia akan ‘kembali’ kepada Allah dan akan menempati ‘tempat terakhir’ sesuai dengan amal perbuatannya.Kata kunci: Hikayat Nur Muhammad, litografi, resepsi sastra, Nur Muhamma

    Nur Muhammad Dan Nur Panjtan: Satu Perbandingan

    No full text
    Pemahaman tentang hakikat Nur Muhammad ini berkaitan dengan makhluk yang pertama diciptakan oleh Allah SWT. Isu kejadian awal makhluk ini juga menjadi perbincangan dalam aliran tarekat tasawuf dan dalam aliran Syiah Namun begitu dalam isu hakikat Nur Muhammad ini sebahagian para sarjana hadis menolak kejadian pertama makhluk adalah Nur Muhammad. Malah ada yang mengaitkan kejadian hakikat Nur Muhammad ini telah terpengaruh dengan konsep Nur Panjtan yang wujud dalam aliran Syiah. Kajian ini bertujuan membandingkan antara Nur Muhammad dengan Nur Panjtan melalui dari tiga aspek utama iaitu (1) dari sudut dalil yang dikemukakan oleh kedua-dua aliran, (2) aspek persamaan yang wujud antara keduanya dan seterusnya (3) kajian ini akan melihat perbezaan konsep Nur Muhammad dengan Nur panjtan. Kajian kualitatif ini menggunakan metode dokumentasi dan temu bual bagi memperoleh data. Kajian mendapati kedua-dua aliran Syiah dan tasawuf merujuk kepada dalil yang sama sebagai hujah bahawa cahaya Nabi Muhammad SAW adalah makhluk terawal dicipta. Namun, konsep Nur Panjtan yang difahami oleh Syiah mempunyai perbezaan ketara berbanding konsep hakikat Nur Muhammad yang difahami oleh tasawuf. Implikasi dari kajian ini dapat menjelaskan kekeliruan yang timbul dalam kalangan masyarakat hari ini. Selain itu juga, dapat memberi sumbangan kepada pihak berwajib untuk menjawab tuduhan yang dikeluarkan oleh sesetengah golongan yang mengatakan tasawuf terpengaruh dengan aliran Syiah yang sesat

    Tuan Guru H. Muhammad Nur dan Pengajian Rabuan Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut

    No full text
    Penelitian ini dilandasi keingintahuan yang besar mengenai riwayat hidup Tuan Guru H. Muhammad Nur beserta Pengajian Rabuan di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut yang beliau pimpin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui riwayat hidup Tuan Guru H. Muhammad Nur serta untuk mengetahui hal-hal yang bersangkutan dengan kegiatan di pelaksanaan pengajian rabuan asuhan Tuan Guru H. Muhammad Nur di kecamatan takisung kabupaten tanah laut. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di kediaman anak dari Tuan Guru H. Muhammad Nur beserta di tempat kediaman murid-murid beliau. Subjek penelitian ini adalah salah satu anak dan 3 murid Tuan Guru H. Muhammad Nur dan Adapun yang dijadikan objek dalam penelitian ini adalah peran Guru H. Muhammad Nur dan Pengajian Rabuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), yakni penulis mencari buku serta jurnal yang berkaitan dengan Tuan Guru H. Muhammad Nur dan terjun langsung kelapangan untuk menggali data yang diperlukan sesuai dengan masalah yang diteliti . Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara, sedangkan teknik analisis data menggunakan metode analisis isi (Content Analysis) tentang Riwayat hidup serta Pengajian Rabuan Tuan Guru H. Muhammad Nur. Hasil penelitian ini adalah Tuan Guru H. Muhammad Nur dilahirkan dalam perantauan di pulan Jawa pada tahun 1918 tepatnya daerah Kediri dan Tuan Guru H. Muhammad Nur wafat pada usia 75 tahun yaitu pada tanggal 10 November 1993 atau bertepatan dengan 25 Jumadil Awal 1414 H serta pengajian Rabuan yang dilaksanakan setiap hari Rabu pada siang hari dan dihadiri oleh bapak-bapak serta ibu-ibu

    Tafsir sufistik tentang Nur Muhammad : studi hermeneutis terhadap penafsiran Ibnu ‘Arabi

    No full text
    Pembahasan Nur Muhammad telah ada sejak abad kedua Hijriyah. Tidak hanya oleh madzhab keagamaan tertentu dan para sufi, tetapi juga para mufassir. Hal ini tidak terlepas dari tafsir sufistik yang pada saat itu mulai bermunculan, karena melihat pentingnya sisi esoterik dan eksoterik dalam penafsiran al-Qur’an, sehingga hasilnya dapat menyentul wilayah hakikat sekaligus syariah. Ibnu ‘Arabi sebagai sufi sekaligus mufassir, mampu menghasilkan penafsiran tentang Nur Muhammad secara komprehensif. Penelitian ini secara spesifik akan menjawab rumusan masalah yang penulis kemukakan, di antaranya: Bagaimana penafsiran Ibnu ‘Arabi tentang Nur Muhammad dalam Tafsirnya? Dan Bagaimana implementasi penafsiran Ibnu ‘Arabi tentang Nur Muhammad dalam konteks kekinian? Oleh karena itu, penulis menggunakan content analisis sebagai metode penelitian, serta alat bantu analisis berupa hermeneutika untuk menjawab kontekstualisasi penafsiran Ibnu ‘Arabi tentang Nur Muhammad dalam konteks kekinian. Adapun hasil penelitiannya adalah sebagai berikut: Pertama, Ibnu ‘Arabi berpendapat bahwa kata nūr di dalam al-Qur’an ada beberapa pengertian, yaitu pemberi hidayah, pemberi cahaya, penghias, yang dzahir atau tampak jelas, pemilik cahaya, dan cahaya tetapi bukan cahaya yang biasa dikenal. Di samping itu, ada pengertian lain menurut Ibnu ‘Arabi bahwa nūr di dalam al-Qur’an dalam ayat-ayat tertentu dengan istilah Nur Muhammad. Ibnu ‘Arabi juga menyebut Nur Muhammad dengan istilah rūh al-‘alam. Menurut Ibnu ‘Arabi, konsep Nur Muhammad merupakan tajalli (penampakan) Allah yang menjelma dalam Nur Muhammad, dan dari sanalah awal mula segala penciptaan di dalam semesta. Penafsiran Ibnu ‘Arabi tentang Nur Muhammad dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya faktor historis, sosiologis, dan filosofis. Dari sisi historis, Ibnu ‘Arabi dipengaruhi oleh para guru sufinya serta ilham yang beliau dapatkan dari mimpi-mimpinya. Dari sisi sosiologis, karena Ibnu ‘Arabi ingin memadukan penafsiran secara esoterik dan eksoterik, sehingga mampu menjawab problem sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Dari sisi filosofis, Ibnu ‘Arabi ingin memadukan trilogi ajaran Islam, yakni iman, Islam, dan ihsan. Sebab menurutnya, tasawuf tidak hanya ada di dalam al-Qur’an, tetapi seluruh ayat al-Qur’an mengandung tasawuf, aqidah, dan sekaligus syari’ah. Kedua, dalam konteks kekinian seharusnya Nur Muhammad juga memiliki andil penting dalam kehidupan, tidak hanya menjadi pemikiran yang hanya terbukukan dalam tumpukan sejarah. Setiap manusia perlu melakukan segala daya dan upaya untuk mengimplementasikan makna Nur Muhammad, yaitu menjadi Insan Kamil, dalam pengertian yang sebaik-baiknya. Bagi orang yang menempuh jalan sufi, mereka dapat mengikuti jalan tarekat (thariqah). Tarekat diartikan sebagai sebuah metode, cara, atau jalan yang ditempuh sufi menuju pencapaian spiritual tertinggi, pensucian diri, pensucian jiwa, dalam bentuk dzikir kepada Allah. Sedangkan bagi manusia secara umum, yang harus dilakukan untuk memaksimalkan potensi Nur Muhammad adalah dengan menyembah Allah dengan sebenar-benarnya serta tidak berbuat syirik. Setiap manusia harus mampu mengontrol diri untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Sebab, menyembah atau sujud kepada Allah juga harus dibarengi dengan perbuatan yang adil dan ihsan. Hal ini berkaitan erat dengan kehidupan sosial bermasyarakat, baik itu dalam hal ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Setiap hamba harus mengontrol diri untuk tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang menimbulkan kerugian bagi sesamanya.   ABSTRACT: Nur Muhammad's discussion has been around since the second century Hijriyah. Not only by certain religious madzhab and Sufis, but also interpretators. This is inseparable from the sufistic interpretation that at that time began to emerge, because it saw the importance of esoteric and exotic sides in the interpretation of the Qur'an, so that the results can reflect the area of nature as well as sharia. Ibn 'Arabi as a Sufi as well as interpretator, was able to produce a comprehensive interpretation of Nur Muhammad. This research will specifically answer the formulation of problems that the author put forward, including: How is ibn 'Arabi's interpretation of Nur Muhammad in his interpretary? And how is the implementation of Ibn 'Arabi's interpretation of Nur Muhammad in the current context? Therefore, the author uses analytical content as a research method, as well as analytical tools in the form of hermeneutics to answer the contextualization of Ibn 'Arabi's interpretation of Nur Muhammad in the current context. The results of his research are as follows: First, Ibn 'Arabi argued that the word nūr in the Qur'an there are several meanings, namely the giver of guidance, light giver, decorator, who dzahir or clearly visible, the owner of light, and light but not the light commonly known. In addition, there is another sense according to Ibn 'Arabi that nūr in the Qur'anin certain verses with the term Nur Muhammad. Ibn 'Arabi also mentions Nur Muhammad with the term rūh al-'alam. According to Ibn 'Arabi, the concept of Nur Muhammad is the tajalli (appearance) of God incarnated in Nur Muhammad, and from there the beginning of all creation in the universe. Ibn 'Arabi's interpretation of Nur Muhammad was influenced by several factors, including historical, sociological, and philosophical factors. Historically, Ibn 'Arabi was influenced by his Sufi teachers and the inspiration he got from his dreams. From the sociological side, because Ibn 'Arabi wanted to combine esoteric and exotic interpretations, so as to be able to answer social problems that occurred in society. Philosophically, Ibn 'Arabi wanted to combine a trilogy of Islamic teachings, namely faith, Islam, and ihsan. For according to him, Sufism is not only in the Qur'an, but all verses of the Qur'an contain Sufism, aqidah, and at the same time shari'ah. Second, in the current context Nur Muhammad should also have an important role in life, not only be a thoughtthat is onlyburiedin the pileof history. Every human being needs to do all the power and effort to implement the meaning of Nur Muhammad, namely to be Insan Kamil, in the best sense possible. For people who follow the Sufi path, they can follow the path of order(thariqah). Tarekat is defined as a method, way, or path taken by Sufis to the highest spiritual achievement, self-purification, sanctification of the soul, in the form of dzikr to God. While bagi man in general, what must be done to maximize the potential of Nur Muhammad is to worship God in real time and notto associate. Every human being must be able to control himself not to do corruption in the earth. And who is more unjust than he who worships Allah, and is a witness against you, and turns back on you, and turns your backs on you, and turns your backs on you, and has no helper over It is closely related to social life in society, be it in economic, political, and so forth. Every servant must control himself not to fall into deeds that cause harm to others

    NUR MUHAMMAD DALAM TRADISI SUFISME

    No full text
    Nur Muhammad merupakan salah satu ajaran dalam tradisi sufisme yang dikembangkan pada mulanya oleh al-Hallaj; Ibn Arabi, al Jilli, al-Burhanpuri dan akhirnya al-Nabhani. Menurut Hallaj Nur Muhammad memiliki dua hakikat: 'qadimah' sebagai 'nur al-azali' yang menjadi sumber ilmu dan irfan serta sebagai titik tolak munculnya para nabi dan aulia Allah dan 'haditsah' merupakan eksistensi sebagai ibn Abdullah yang menjadi Nabi dan Rasul. Selanjutnya al­Nabhani juga berpendapat senada. Baginya Nur Muhamad bersumber dari Allah dan oleh karenanyaa ia bersifat 'qadim' sedangkan Nur Muhammad adalah sumber segala makhluk dan oleh karenanya bersifat 'huduts'. Melalui huduts inilah Nur Muhammad bisa bersentuhan langsung dengan makhluk. la juga menjadi penghubung antara Allah dengan hamba-Nya. Selanjutnya, hamba bisa berdialog langsung dengan TuhanNya melalui shalat. Shalat adalah identik dengan bacaan dan dialog antara hamba denganTuhanNya melalui rukun kauli, fi'li dan qalbi. Untuk bisa mengungkap esensi bacaan dan dialog tersebut hanya mungkin bisa diperoleh melalui Nur. Nur tersebut berasal dari Nur Muhammad. Dengan demikian ada persamaan antara Nur Muhammad dengan fungsi shalat, yakni penghubung hamba dengan Allah SWT.Kata Kunci: Syekh Yusuf al-Nabhani, Nur Muhammad, Tasawuf, Wasithah

    Nur Muhammad dari sudut hadis

    No full text
    Salah satu perkara yang biasa disebut oleh kitab-kitab agama ialah mengenai Nur Muhammad. Sesetengah pengarang menganggap bahawa hadis mengenai Nur Muhammad ini hadis sahih. Oleh itu mereka berhujah dengan hadis ini dan menjadikan hadis ini sebagai asas bahawa asal kejadian manusia dan juga semua makhluk-makhluk yang lain adalah dari Nur Muhammad. (Disalin daripada artikel)
    corecore