1,720,964 research outputs found
Pembelajaran Tari Rasjati Karya Edi Mulyana dan Lalan Ramlan Di sanggar Tari Dapur Pangbarep Bandung
Pembelajaran ialah proses pemberian informasi dan interaksi dua arah dari peserta didik dan pendidik yang dilakukan di ruangan atau di lingkungan sekitar. Sistem pembelajaran nasional dalam pelaksanaan Pembelajaran dikategorikan menjadi 3 yaitu formal, informal, dan non formal. Pembelajaran non formal seperti bimbingan belajar, sanggar dan lain lain. Pembelajaran Tari Rasjati yang dilakukan di Sanggar Tari Dapur Pangbarep memiliki tujuan, metode/Teknik, media, beserta evaluasi yang cocok, Tari Rasjati ialah salah satu repertoar Tari Jaipong yang berisi sebuah perenungan terhadap kesadaran diri, bahwa hidup tak sekedar hidup tetapi harus menghidupkan hidup itu sendiri. Jadi hidup dan kehidupan adalah dua sisi yang saling mengisi dan melengkapi satu kesatuan, Jati Diri. Tari Rasjati ini diciptakan oleh Edi Mulyana dan Lalan Ramlan dan dijadikan salah satu mata kuliah di Institut Seni Budaya Indonesia pada semester tujuh. Tujuan penelitian ini untuk memahami pembelajaran tari rasjati kepada anak didik, dan mengetahui bagaimana proses pembelajaran Tari Rasjati di Sanggar Tari Dapur Pangbarep. Koreografi yang terdapat dalam Tari Rasjati umumnya diambil dari gerak penca karena gerak penca bersifat unisex yang berarti bisa ditarikan oleh perempuan dan laki-laki. Metode deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan penelitian ini ialah observasi, wawancara, studi dokumentasi dan studi pustaka.
Kata kunci : Pembelajaran Tari, Tari Rasjati, Pembelajaran Tari Rasjati.
Learning is the process of providing information and two-way interaction from learners and educators conducted in the room or in the surrounding environment. The national learning system in the implementation of learning is categorized into 3, namely formal, informal, and non-formal. Non-formal learning such as tutoring, sanggar and others. Rasjati Dance Learning conducted in Sanggar Tari Dapur Pangbarep has a purpose, methods / techniques, media, along with suitable evaluation, Rasjati Dance is one of the jaipong dance repertoire that contains a reflection on self-awareness, that life is not just alive but must live life itself. So life and life are two sides that fill each other and complete one unity, Identity. Rasjati dance was created by Edi Mulyana and Lalan Ramlan and made one of the courses at the Indonesian Institute of Cultural Arts in the seventh semester. The purpose of this research is to understand the learning of rasjati dance to students, and find out how the learning process of Rasjati Dance in Sanggar Tari Dapur Pangbarep. The choreography contained in Rasjati Dance is generally taken from the penca movement because the penca movement is unisex which means it can be drawn by women and men. Descriptive methods of analysis with qualitative approaches used in this study. These research collection techniques are observation, interview, documentation studies and library studies.
Keywords: Dance Learning, Rasjati Dance, Rasjati Dance Learning
Tari Berthema"Munding laya dikusumah"
Tari Berthema"Munding laya dikusumah"
Karya: Lalan Ramlan, Yeti Haryadi, Ujian penyajian Tari, Pendapa Surakart
Tari Dewa Menurunkan Sanghiyang Sri Gamboh, Di Keraton Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
AbstrakKajian ini membahas tentang struktur dan fungsi tari Dewa Menurunkan Sanghiyang Sri Gamboh dalam upacara ritual Bapelas di Kraton Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Upacara tersebut, merupakan bagian integral dalam pelaksanaan upacara besar yang disebut “Erau”. Repertoar tari tersebut dijadikan sebagai media upacara ritual yang memiliki dimensi nilai tersendiri. Akan tetapi, upacara Erau tersebut hingga saat ini tidak banyak diketahui masyarakat luas. Keberadaannya di dalam lingkungan kraton, pada umumnya sulit untuk dapat diakses oleh masyarakat di luar kraton.Berkaitan dengan persoalan itulah, maka penulis menguak keberadaan tari Dewa Menurunkan Sanghiyang Sri Gambuh tersebut melalui kegiatan penelitian. Mengingat banyak hal penting yang memerlukan penelusuran secara mendalam, maka pertanyaan penelitian difokuskan kepada dua hal, yaitu mengenai Struktur dan fungsi. Oleh karena itu, penulis melakukan pendekatan terhadap teori struktur yang diungkapkan oleh FX.Widaryanto, dan untuk fungsinya digunakan pendekatan teori dari R. M. Soedarsono. Untuk mencapai hasil yang dimaksud, maka penulis menggunakan pendekatan metode Deskriptif Argumentatif. yang mengacu kepada pendapat Tjetje Rohendi Rohidi.Dari hasil penelitian diperoleh simpulan, bahwa: Pertama, fungsi tari Dewa Menurunkan Sanghiyang Sri Gamboh merupakan tarian dengan struktur koreografi yang sangat sederhana, monoton, dan tidak dipertunjukkan secara umum. Kedua, repertoar tersebut berfungsi sebagai media ritual yang sakral dalam upacara Bapelas di lingkungan Kraton Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.Kata Kunci (Key word): Tari Dewa Menurunkan Sanghiyang Sri Gamboh, Bapelas, Erau, Kutai Kartanegara. Abstract This study discusses the structure and function of Tari Dewa Menurunkan Sanghiyang Sri Gamboh in Bapelas ritual ceremony in the Palace of Kutai Kartanegara, East Kalimantan. The ceremony is an integral part in the implementation of a large ceremony called "Erau". The dance repertoire is used as a medium of ritual ceremony which has its own value dimension. The Erau ceremony, however, is not much known to the wider community until today. Its presence, in the palace, is difficult to be accessed by the public outside the palace.In connection with that issue, the author reveals the existence of Tari Dewa Menurunkan Sanghiyang Sri Gamboh through the research activity. Considering that there are many important issues which require deeply searching, so the research questions are focused on two things, those are regarding the structure and function. Therefore, the author approaches to the theory of structure stated by F.X.Widaryanto, and the function uses the theory of R.M. Soedarsono. To achieve the intended results, the author uses Argumentative Descriptive method which refers to the opinion of Tjetje Rohendi Rohidi.The results of the research show that: First, the function of Tari Dewa Menurunkan Sanghiyang Sri Gamboh is a dance with a very simple choreography structure, monotonous, and is not generally performed. Second, the repertoire serves as a sacred ritual medium in Bapelas ceremony in the palace of Kutai Kartanegara, East Kalimantan.Key words: Tari Dewa Menurunkan Sanghiyang Sri Gamboh, Bapelas, Erau, Kutai Kartanegar
“SKAK” Sebuah Karya Tari Kontemporer Berdasarkan Perspektif Pemikiran Wallas
‘Skak’ merupakan karya penciptaan tari kontemporer yang terinspirasi dari langkah-langkah dalam permainan catur, salah satu cabang olahraga yang berskala regional, nasional, dan internasional. Permainan catur bukanlah olahraga yang hanya mengandalkan kekuatan fisik saja, melainkan kemampuan otak (indera) dalam menyusun strategi efektif untuk mengalahkan lawan dan dimainkan oleh dua orang. Oleh karena itu, olahraga catur sering dianggap sebagai pelatihan otak. Dengan kata
lain, dalam permainan catur membutuhkan strategi otak yang berfokus pada langkah-langkah strategis, sehingga membutuhkan konsentrasi tinggi dan pemikiran strategis sehingga aktivitas fisiknya cenderung statis. Sumber inspirasi ini, selanjutnya disusun ke dalam sebuah konsep garap tari kontemporer dengan pendekatan tipe tari murni dengan bentuk garap kelompok, yaitu semata-mata mengandalkan keindahan gerak, baik yang bersumber dari tradisi maupun dari gerak keseharian yang distilisasi sesuai kebutuhan. Untuk mewujudkan karya tari ini digunakan metode kreativitas dari yang meliputi; eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Hasil perwujudan garap menunjukkan, bahwa karya tari kontemporer yang diberi judul ‘Skak’ setelah melalui proses memiliki klimaks, terutama ditunjang dengan music tari dan rias dan busana tari yang sesuai dengan karakteristik tariannya.
Kata Kunci: Skak, Tipe Murni, Tari Kelompok, Kontemporer.
ABSTRACT
\u27SKAK\u27: A CONTEMPORARY DANCE CREATION BASED ON WALLAS PERSPECTIVE, DECEMBER 2024. \u27Skak\u27 is a contemporary dance creation inspired by the steps in the game of chess, a sport on a regional, national and international scale. The game of chess is not a sport which only relies on physical strength, but rather on the ability of brain (senses) to develop effective strategies to defeat the opponent and is played by two people. Therefore, chess is often considered as brain training. In other words, playing chess requires a brain strategy that focuses on strategic moves, so it requires high concentration and strategic thinking so that the physical activity tends to be static. This source of inspiration is then organized into a concept for contemporary dance work with a pure dance type approach in a form of group work, in which relying solely on the beauty of movement, both from traditional sources and from daily movements which are stylized to its needs. To create this dance work, the creative methods are used which include; exploration, improvisation, and formation. The result of the work realization shows that the contemporary
Naskahditerimapada20,Julirevisiakhir8Oktober2024 |169
dance work entitled \u27Skak\u27 after going through the process has a climax, especially supported by the dance music, make-up and costume that suits the characteristics of the dance.
Keywords: Skak, Pure Type, Group Dance, Contemporary
IBING LULUGU DALAM KESENIAN RONGGENG AMEN GRUP BARANANG SIANG, KABUPATEN PANGANDARAN
ABSTRAKRonggeng Amen, merupakan hasil bentukan baru dari kesenian Ronggeng Gunung. Struktur penyajiannya terdiri atas: (1) ibing lulugu; (2) ibing baksa; (3) ibing gaul; dan (4) ibing waled. Keempat ibingan ini memiliki daya tarik sendiri, terutama pada ibing lulugu. Salah satu daya tariknya yang paling menonjol terletak pada ragam geraknya dan bentuk penyajiannya yang dilakukan secara rampak oleh para ronggeng. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan bagaimana struktur koreografi dan sumber gerak tarinya. Untuk mengeksplanasi kedua hal tersebut, maka dalam penelitian kualitatif ini digunakan pendekatan metode deskriptif analisis. Penelitian ini menghasilkan simpulan, yaitu Ibing Lulugu menggunakan struktur koreografi yang sederhana, beberapa ragam gerak dilakukan berulang-ulang, menggunakan pola gerak Ronggeng Gunung (pola melingkar) dengan penambahan pola sejajar. Adapun sumber gerak dalam Ibing Lulugu, selain gerak lokal (Ronggeng Gunung) adalah bersumber dari tari Keurseus dan tari Rakyat.Kata Kunci: Ronggeng Gunung, Ronggeng Amen, Ibing Lulugu, Struktur Koreografi. ABSTRACTIbing Lulugu In The Art Of Ronggeng Amen Grup Baranang Siang, Pangandaran District, June 2017. Ronggeng Amen is the result of a new formation of Ronggeng Gunung art. Its presentation structure consists of: (1) ibing lulugu; (2) ibing baksa; (3) ibing gaul; and (4) ibing waled. These four moms have their own charms, especially in Ibing Lulugu. One of its most prominent attractions lies in its range of the choreography and the source of its dance movement. To explore both of these things, then in this study used qualitative reseach methods using descriptive analysis approach. This study yielded a conclusion, Ibing Lulugu using simple choreographic structure, some motion is done repeatedly, using Ronggeng Gunung (circular pattern) motion pattern with the addition of parallel pattern. The source of motion in Ibing Lulugu, in addition to local motion (Ronggeng Gunung) is sourced from Keurseus dance , and folk dance.Keyword: Ronggeng Gunung, Ronggeng Amen, Ibing Lulugu, Choreography Structure.
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Panggung - Menggali Kekayaan Bentuk dan Makna Seni : Vol. 22, No. 1, Januari - Maret 2012
1. Pemuliaan Angklung melalui Model Desa Binaan Berbasis Wisata Seni dan Budaya / Juju Masunah
2. Visualisasi Iklan Media Cetak KPK sejak Masa Berdiri hingga \u27Serangan Koruptor\u27 / Hendy Yuliansyah
3. Dampak Akulturasi Budaya pada Kesenian Rakyat / Soemaryatmi
4. Keser Bojong: Idealisasi Pencitraan Jaipongan Karya Gugum Gumbira / Edi Mulyana, Lalan Ramlan
5. Tari Wayang Karakter Satria Ladak / Lilis Sumiati
6. Pathet: ruang bunyi dalam karawitan gaya Yogyakarta / Hanggar Budi Prasetya
7. Memahami Makna dan Tanda dalam Objek Visual Arsitektur Ruang Publik / Tendi Y. Ramadin, Deddy Mulyana
8. Implementasi Konsep Langendriya Mandraswara terhadap Seniman Muda / Sutarno Haryono
9. Pergeseran Fungsi dan Bentuk Ronggeng di Jawa Barat / Anis Sujan
Jaipongan: Genre Tari Generasi Ketiga dalam Perkembangan Seni Pertunjukan Tari Sunda
ABSTRAK
Seni pertunjukan tari Sunda hingga saat ini telah diisi dengan tiga genre tari yang diciptakan oleh tiga tokoh pembaharu tari Sunda, yaitu Rd. Sambas Wirakusumah yang menciptakan genre tari Keurseus sekitar tahun 1920- an, Rd. Tjetje Somantri yang menciptakan genre tari Kreasi Baru sekitar tahun 1950-an, dan Gugum Gumbira Tirasondjaya yang menciptakan genre tari Jaipongan pada awal tahun 1980-an. Ketiga genre tari tersebut memiliki citra estetiknya sendiri-sendiri sesuai latar budaya generasinya masing-masing. Genre tari Jaipongan yang kini sudah lebih dari 30 tahun belum tergantikan di dalamnya menunjukkan nilai-nilai yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Sunda. Untuk mengekplanasi berbagai aspek penting yang melengkapi pembentukan sebuah genre tari ini digunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa genre tari Jaipongan dibentuk oleh konsep dasar etika dan estetik egaliter dengan menghasilkan struktur koreografi yang simpel dan fl eksibel yang terdiri dari empat ragam gerak, yaitu bukaan, pencugan, nibakeun, dan mincid.
Kata kunci: Gugum Gunbira, genre tari, dan Jaipongan
ABSTRACT
Jaipongan: The Genre of Third Dancing Generation in the Development of Sundanese Dance Performing Arts. Sundanese dancing performance art recently has been fi lled with three dancing genres created by three prominent reformers of Sundanese dances, namely Rd. Sambas Wirakusumah who created the dance genre of Keurseus around 1920, Rd. Tjetje Somantri who created the dance genre of Kreasi Baru (New Creation) 1950s, and Gugum Gumbira Tirasondjaya who created the dance genre of Jaipongan in the early 1980s. The three genres of the dances have their own aesthetic image based on their cultural background respectively. The Jaipongan dance genre which now has been more than 30 years and not yet been changed shows the values rooted in Sundanese community life. To explain various important aspects which complete the creation of a dance genre it applies qualitative method employing a phenomenological approach. Based on the research, it is concluded that Jaipongan dance genre is shaped by ethical and aesthetic concepts of egalitarian policies to produce a simple structure and fl exible choreography of four modes of motion, i.e. aperture, pencugan, nibakeun, and mincid.
Keywords: Gugum Gunbira, dance genres, and jaiponga
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
