131,108 research outputs found
EDUKASI PEMILAHAN SAMPAH UNTUK MENJADIKAN MASYARAKAT MANDIRI KELOLA SAMPAH DI DESA KABA-KABA
Pemilahan sampah berbasis sumber yaitu di tingkat rumah tangga sangat penting untuk mengurangi volume sampah yang terbuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Saat ini, sampah adalah permasalahan yang kompleks di Bali . Bagi masyarakat kota, pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga secara garis besar masih dengan pola lama yaitu ambil – angkut – buang. Untuk masyarakat di tingkat desa, pengelolaan sampah masih sangatlah kurang, karena kebanyakan masih dibuang di lahan dekat rumah tanpa dibuang ke TPA. Pada masa KKN ini kami mendapat kesempatan untuk membenahi permasalahan sampah yang terdapat di Desa Kaba-Kaba. Dalam melaksanakan kegiatan ini, kami mengunakan metode sosialisasi terpusat dan menjadikan satu wilayah kedinasan atau banjar sebagai pilot project bagi Desa Kaba-Kaba. Sosialisasi ini menghadirkan tiga narasumber berkompeten yang bertugas untuk memicu kesadaran masyarakat akan sampah. Apabila sampah tidak dikelola dengan baik, akan menimbulkan masalah yang sangat serius di kemudian hari. Dengan adanya sosialisasi, diharapkan pola lama berubah dengan adanya pemilahan sebelum pengangkutan ke TPA.
Kata kunci: Pengelolaan sampah, volume sampah, Tempat Pembuangan Akhir
ABSTRACT
Source-based waste segregation is very important at the household level to reduce the volume of waste that is dumped into landfills. Today, waste is a complex problem in Bali. For the urban community, solid waste management at the household level is still in the old pattern, namely take - transport – dispose. For villagers level, waste management is still lacking, because most are still disposed to the land near homes without being disposed to the landfills. During this Community Service Program we had the opportunity to fix the waste problem in Kaba-Kaba village. In carrying out this activity, we use a centralized method of socialization and make an agency area or banjar to be pilot project for Kaba-Kaba village. This socialization presented three competent speakers whose task was to trigger public awareness of waste. If the waste is not managed properly, it will cause very serious problems later on. With the socialization, it is expected that the old pattern will change with the sorting before being transported to the landfill.
Keywords: Waste management, Waste volume, Landfill
KAJIAN PENGEMBANGAN EKOWISATA DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM BUKIT KABA BERDASARKAN POTENSI DAN PRIORITAS PENGEMBANGANNYA
Besarnya potensi wisata alam yang dimiliki kawasan TWA Bukit Kaba, akan
tetapi sampai saat sekarang belum adanya upaya optimal bagaimana perencanaan dan
pengolahan kawasan TWA Bukit Kaba karena itulah dalam mewujudkan sasaran yang
hendak dicapai berupa pengembangan ekowisata TWA Bukit Kaba yang lestari,
menguntungkan dan optimal dalam pemberdayaan masyarakatnya maka perlu
dilakukan suatu kajian yang lebih mendalam tentang potensi (kekuatan) yang dimiliki
TWA Bukit Kaba, kelemahan, peluang dan ancaman yang dihadapi kawasan tersebut
serta langkah prioritas apa yang perlu dilakukan dalam meningkatkan dan
mengembangkan ekowisata di kawasan hutan konservasi tersebut.
Penelitian ini dilaksanakan di objek-objek wisata Bukit Kaba, masyarakat
sekitar Bukit Kaba (Desa Air Meles Atas dan Desa Sumber Urip Kecamatan Selupu
Rejang Kabupaten Rejang Lebong), para pengelola Bukit Kaba, yang mana penelitian
ini telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2011 s/d Januari 2012. Responden yang
dijadikan obyek penelitian adalah para pengunung Bukit Kaba dengan metode
purposive sampling, masyarakat sekitar (kepala keluarga) dengan jumlah sampel 10%
dari total kepala, pengelola Bukit Kaba dengan jumlah sampel 50 %.
Kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki TWA Bukit Kaba
diperoleh berdasarkan metode Analisis SWOT yang mana didukung dengan analisis
Kualitatif dan Kuantitatif yang mengumpulkan semua informasi bagi dari Obervasi,
Wawancara, persepsi pihak-pihak terkait.
Hasil Analisis SWOT menunjukkan bahwa Ekowisata Bukit Kaba memiliki
kekuatan berupa potensi sumber daya alam yang yang menarik, program wisata yang
menjanjikan, aksebilitasi yang memadai, status hukum dan peraturan kehutanan yang
mendukung, peran aktif dan dukungan penuh masyarakat, kondisi lingkungan sekitar
yang mendukung, letak geografis yang strategis. Ini semua menjadi modal dalam
pengembang ekowisata kedepan. Adapun Kelemahan Ekowisata Bukit Kaba berupa
masih kurangnya promosi wisata Bukit Kaba ke tingkat nasional, masih kurangnya
pemberdayaan masyarakat, terbatasnya sumber dana dan petugas pengelola Bukit
Kaba, fasilitas yang masih perlu di optimalkan. Ini semua akan menghambat
perkembangan ekowisata jika tidak cepat diatasi.
Adanya peluang terhadap pengembangan ekowisata Bukit Kaba berupa pameran
pariwisata tingkat regional dan nasional dalam memperkenalkan ekowisata Bukit
Kaba, kebijakan pemerintah propinsi dalm menjadikan Bengkulu sebagai tujuan wisata
nacional. Adapun ancaman ekowisata Bukit Kaba berupa kondisi kawasan TWA Bukit
Kaba yang rawan perambahan hutan, masih kurangnya koordinasi dengan pihak-pihak
terkait serta pasar wisata yang masih bersifat lokal.
Strategi pengembangan ekowisata Bukit Kaba diantaranya melakukan upaya
promosi secara intensif dan terprogram, melakuan upaya koordinasi dan kerja sama
yang lebih terencana dan tertulis dengan pihak instansi terkait, swasta dan masyarakat.
Keberhasilan pengembangan ekowisata Bukit Kaba dapat dicapai atau diraih jika terdapat
keterpaduan antara kekuatan masyarakat, pemerintah, media masa, dan pihak swasta
MeSH term explosion and author rank improve expert recommendations
Information overload is an often-cited phenomenon that reduces the productivity, efficiency and efficacy of scientists. One challenge for scientists is to find appropriate collaborators in their research. The literature describes various solutions to the problem of expertise location, but most current approaches do not appear to be very suitable for expert recommendations in biomedical research. In this study, we present the development and initial evaluation of a vector space model-based algorithm to calculate researcher similarity using four inputs: 1) MeSH terms of publications; 2) MeSH terms and author rank; 3) exploded MeSH terms; and 4) exploded MeSH terms and author rank. We developed and evaluated the algorithm using a data set of 17,525 authors and their 22,542 papers. On average, our algorithms correctly predicted 2.5 of the top 5/10 coauthors of individual scientists. Exploded MeSH and author rank outperformed all other algorithms in accuracy, followed closely by MeSH and author rank. Our results show that the accuracy of MeSH term-based matching can be enhanced with other metadata such as author rank
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
"Closing the R&D Gap, Evaluating the Sources of R&D Spending"
Both spending and tax policies have been implemented in the United States with the goal of stimulating private sector research and development (R&D). Karier questions whether current R&D policy, especially the research and experimentation tax credit, can contribute to closing the gap between nondefense expenditures on R&D in the United States and such expenditures in other countries, such as Japan and Germany. He also explores possible changes to our current R&D policy to make it more effective.
Morfofonemik Pada Imbuhan Prefiks Bahasa Minang Kabau Dalam Kaba Sabai Nan Aluih Karya M.Rasyid DT.R.Penghulu
Penelitian ini berjudul “Morfofonemik Pada Imbuhan Prefiks Bahasa Minangkabau dalam Kaba “Sabai Nan Aluih” yang disusun oleh M.Rasyid Dt.R.Pengulu. Kaba klasik Minangkabau merupakan hasil karya sastra yang sudah dikenal lama oleh masyarakat Minangkabau. Bahasa Minangkabau adalah salah satu bahasa lisan yang dipakai sebagai alat komunikasi sehari-hari dalam masyarakat Minangkabau. Morfofonemik mempelajari perubahan-perubahan fonem yang timbul akibat pertemuan morfem dengan morfem yang lain.
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses morfofonemik pada kaba Sabai Nan Aluih dan mendeskripsikan kaidah-kaidah yang ada di dalam kaba “Sabai Nan Aluih”. Metode dan teknik dalam penelitian ini di bagi menjadi beberapa tahap, yaitu 1) metode dan teknik penyediaan data; 2) metode dan teknik analisis data; dan 3) metode dan teknik penyajian hasil analisis data. Pada tahap penyediaan data, metode yang digunakan adalah metode simak artinya dengan menyimak dan membaca peneliti dapat mengetahui proses-proses morfofonemik yang terjadi pada kata yang ada dalam kaba Sabai Nan Aluih. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik sadap kemudian teknik lanjut yaitu teknik catat. Pada tahap analisis data, metode yang digunakan adalah metode agih, teknik dasar yang digunakan adalah teknik BUL (bagi unsur langsung) dan teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik ganti. Pada tahap hasil analisis data, metode yang digunakan adalah metode penyajian informal dan formal.
Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan tiga proses morfofonemik yang digunakan dalam morfofonemik bahasa Minangkabau dalam kaba “Sabai Nan Aluih”, yaitu 1) pemunculan fonem 2) pengekalan fonem 3) peluluhan fonem. Ada 3 kaidah morfofonemik yang dapat dirumuskan dalam kaba “Sabai Nan Aluih yaitu: 1) kaidah morfofonemik {ma(N)-} 2) kaidah morfofonemik {pa(N)-} 3) kaidah morfofonemik {bar-}. Dari beberapa kaidah, ditemukan beberapa kaidah turunan yaitu 1) Kaidah morfofonemik {ma(N)-} menjadi a) mam- b) man- c) many- d) mang- e) mang- 2) Kaidah morfofonemik {pa(N)-} menjadi a) pam- b) pa- c) pang- 3) Kaidah morfofonemik ba- menjadi bar
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
Scholarly Communication and Publishing Lunch and Learn Talk #11: The ULS Open Access Author Fee Fund
At the May 2014 talk, you will learn about the ULS Open Access Author Fee Fund--what it is, why we do it, how it works, and how the program is going so far
- …
