1,721,065 research outputs found

    Letter from Mr Joseph Fletcher to Mr Green, 1921

    No full text
    Letter to Mr F W Green, Head of Engineering, from Mr Joseph Fletcher, Chemist, Colonial Gas Association, regarding experiments on indigo dye at the Swinburne laboratories

    PROBLEMATIKA MORAL DRAMA A PLEDGE TO GOD DALAM PERSPEKTIF ETIKA SITUASI JOSEPH FLETCHER

    Get PDF
    Drama A Pledge to God merupakan drama series melodrama keluarga yang tayang dalam TV MBC pada tahun 2018 lalu. Cerita dalam drama ini membahas tentang pelanggaran terhadap norma moral. Sepasang suami istri yang telah bercerai melakukan tindakan inseminasi buatan untuk menyelamatkan anaknya dari penyakit yang mematikan. Permasalahan moral yang terjadi dalam drama ini penulis menganalisis dengan menggunakan perspektif etika situasi Joseph Fletcher. Penelitian ini berjudul “Problematika Moral Drama A Pledge to God dalam Perspektif Etika Situasi Joseph Fletcher”. Dengan rumusan masalah bagaimana problem moral dalam drama A Pledge to God dan bagaimana mengimplementasikan drama A Pledge to God dalam perspektif etika situasi Joseph Fletcher. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui problem moral dan implementasi drama A Pledge to God dalam perspektif etika situasi Joseph Fletcher. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat library research atau penelitian kepustakaan. Adapun sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder. Data primer yang digunakan adalah karya Joseph Fletcher, yaitu Situation Ethics: The New Morality dan drama A Pledge to God. Sedangkan data sekunder diambil dari berbagai sumber buku, artikel, jurnal dan skripsi yang masih berkaitan dengan penelitian. Teknis dalam pengolahan data menggunakan analisis deskriptif. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori etika situasi Joseph Fletcher yang memiliki tiga alternatif pengambilan keputusan moral dan cinta kasih yang memiliki empat prinsip kerja. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tindakan inseminasi buatan di luar pernikahan dalam drama A Pledge to God ini melalui perspektif etika situasi Joseph Fletcher diperbolehkan atau dapat dilakukan karena norma moral umum tidak dapat lagi diterapkan dalam kasus tersebut. Etika situasi mendukung tindakan inseminasi buatan yang dilakukan karena rasa cinta kasih. Drama ini dalam situasi konkret memiliki alasan yang khusus dan menuntut untuk melakukan suatu perbuatan yang melanggar prinsip-prinsip moral dan aturan hukum. Karena dalam situasi yang sulit itu, jalan satu-satunya cara untuk menyembuhkan anaknya dari kematian adalah inseminasi buatan. Etika situasi membenarkan tindakan inseminasi buatan yang dilakukan dalam drama A Pledge to God, karena cinta kasih orang tua yang begitu besar untuk menolong anaknya dari kematian

    Situation Ethics and Watergate

    No full text
    For some strange reason, evangelicals find curious delight in linking the “mistake” of Watergate with what they take to be situational ethics. In the June 10, 1974, issue of Time, Billy Graham (“both a stern moralist and a firm friend of Richard Nixon's”) is reported to have said: “A nation confused for years by the teaching of situational ethics now finds itself dismayed by those in Government who apparently practiced it” (p. 18). In the Sept. 13, 1974, issue of Christianity Today, Erwin W. Lutzer, a Baptist pastor and part-time professor at Moody Bible Institute, accuses Joseph Fletcher, one of the early spokesmen of contextualism, of advocating that “when love (i.e. the best for the greatest number) conflicts with the law, we ought to ‘sin bravely’ and do what is best for the majority.” So it follows that “the Watergate conspirators followed just that principle,” (p. 27). In the Sept. 18, 1974, issue of The Christian Century, Martin E. Marty struggles to contain his editorial composure over this correlation, using a naughty word to describe the Graham-Lutzerline. We asked Joseph Fletcher to comment on the implied connection, and what follows is his response. </jats:p

    TRADISI TABUT PADA MASYARAKAT KOTA BENGKULU: KAJIAN PERSPEKTIF ETIKA JOSEPH FLETCHER

    Get PDF
    Tradisi Tabut merupakan suatu tradisi yang sudah lama dilakukan di kota Bengkulu yang dibawa oleh para penganut paham Syiah, bernama Syekh Burhanuddin. Perayaan tradisi Tabut sudah menjadi suatu jenius lokal karena telah berakulturasi dengan budaya Bengkulu. Pada pelaksanaan tradisi Tabut, masih terdapat nilai-nilai moral yang masih jarang disadari oleh masyarakat, untuk itu penulis mencoba memaparkan nilai-nilai moral dan dampak positif yang terdapat di dalamnya menggunakan teori Etika Situasi Joseph Fletcher. Teori Etika Situasi ini membantu penulis dalam menganalisis nilai-nilai moral yang terdapat dalam pelaksanaan tradisi Tabut. Melalui prinsip cinta kasih dalam Etika Situasi, penulis akan menganalisis nilai-nilai moral yang terdapat pada tradisi Tabut. Penelitian ini mencoba menjawab beberapa pertanyaan, yaitu bagaimana awal mula kemunculan tradisi Tabut dan apa makna tradisi tersebut? serta apa saja nilai-nilai moral pada tradisi Tabut yang berkaitan dengan konsep Etika Situasi Joseph Fletcher? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan sumber primer penelitian ini berupa hasil wawancara dengan para ahli, atau keturunan penerus langsung dari tradisi Tabut. Selain itu, penulis menggunakan karya Joseph Fletcher yang berjudul “Situation Ethics” sebagai sumber utama. Sedangkan sumber sekunder yang digunakan adalah berbagai macam literatur seperti buku, jurnal dan skripsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, di dalam konsep Etika Situasi semua tindakan yang dilakukan berdasarkan cinta kasih terhadap sesama manusia dan semua tindakan yang dilakukan tergantung dari situasinya. Kajian ini memperlihatkan penjabaran mengenai prinsip cinta kasih yang diterapkan oleh masyarakat Bengkulu kepada keluarga Tabut juga wujud rasa cinta kasih keluarga Tabut terhadap ahlulbait. Tradisi Tabut yang selama ini dilakukan rutin oleh masyarakat Bengkulu setiap tahun ternyata sejalan dengan konsep Etika Situasi Joseph Fletcher yang dengan prinsip cinta kasihnya dapat menilai tindakan masyarakat di dalam pelaksanaan tradisi tabut di Bengkulu. Tidak hanya itu, bahkan tradisi Tabut juga mempunyai korelasi dengan enam karakteristik cinta kasih, empat penerapan prinsip kerja dan empat faktor dalam pengambilan keputusan dalam melakukan suatu tindakan yang ada di dalam Etika Situasi

    Etika situasi menurut joseph fletcher dalam buku situation ethics: the new morality

    Get PDF
    Penulis menulis skripsi ini dengan latar belakang keprihatinan pada sikaplegalis dalam penerapan peraturan sehingga mengabaikan aspek situasi konkret.Latar belakang selanjutnya adalah ketertarikan penulis akan prinsip cinta kasihdalam etika situasi. Penulis menilai bahwa prinsip cinta kasih merupakan kebaruanpemikiran dalam diskusietika dewasa ini. Sementara itu, tujuan penulisanskripsiini adalah mengangkat etika situasi sebagai bahan pertimbanganmoral yang relevan dengan dunia dewasa ini.Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah studi pustakadengan rujukan utama dari buku Situation Ethics: The New Morality yang ditulisoleh Joseph Fletcher. Penulis menggunakan metode interpretasi dalam membuatanalisis guna memahami gagasan Joseph Fletcher dalam sumber primer. Selain itu,penulis menginterpretasi maksud beberapa komentator terhadapkonsep etika situasimenurut Joseph Fletcher agar mendapat pemahaman yang lebih komprehensif.Adapun etika situasi dimaknai sebagai metode pertimbangan moral yangmemerhatikan situasi konkret. Etika situasi juga dipahami sebagai kajian etika yangbersifat situasional dan memakai cinta kasih sebagai prinsip dasar pertimbanganmoral. Etika situasi menolak dengan tegas semua bentuk sistem dalam etikanya,termasuk sikap legalis pada penerapan peraturan. Etika situasi hanya menyatakandirinya sebagai metode yang situasional atau kontekstual.Ada beberapa asumsi dasar yang berkembang dalam gagasan etika situasimenurut Fletcher, yakni pragmatisme, relativisme, positivisme dan personalisme.Letak kebaruan dalam pemikiran etika situasi nampak dalam prinsip cinta kasihsebagai satu-satunya prinsip yang memahami kebaikan dalam setiap situasi. Polakerja prinsip cinta kasih dalam etika situasi tidak digerakkan oleh sentimenpsikologis yang menunjukkan ungkapan suka atau tidak suka. Sebaliknya, prinsipcinta kasih selalu mendorong manusia untuk berbuat baik tanpa syarat kepadasemua orang. Fletcher juga meyakini bahwa prinsip cinta kasih adalah sama dengankeadilan karena tujuan keduanya adalah sama, yakni kebaikan

    PERBANDINGAN ETIKA IMMANUEL KANT DAN JOSEPH FLETCHER SERTA RELEVANSINYA TERHADAP POSITIVISME HUKUM DI INDONESIA

    Get PDF
    AbstractThis paper focuses on discussing the issue of legal positivism in Indonesia. As is known to the public, rigorous law enforcement has become a familiar phenomenon in the community. The law is applied rigidly and indiscriminately. As a consequence, many small people become victims of the "ferocity" of the law just because they make a small mistake. Departing from this phenomenon, this study uses the ethical perspective of Immanuel Immanuel Kant and Joseph Fletcher as a way to solve the problem of legal positivism in Indonesia. The research method used in this study is qualitative research. The arguments put forward means to contextualize the legal positivism problem that exists in the realm of ethics.Keywords: ethics; legal postivism; situationAbstrakTulisan ini berfokus pada pembahasan mengenai persoalan positivisme hukum di Indonesia. Sebagaimana diketahui khalayak, pelaksanaan hukum yang rigorus telah menjadi suatu fenomena yang tak asing di tengah masyarakat. Hukum diterapkan secara kaku dan tidak pandang bulu. Sebagai efek sampingnya, banyak orang-orang kecil yang justru menjadi korban “ganasnya” hukum hanya karena melakukan suatu kesalahan kecil. Berangkat dari fenomena tersebut penelitian ini menggunakan perspektif etika Imannuel Immanuel Kant dan Joseph Fletcher sebagai pisau bedah untuk menguliti tebalnya persoalan positivisme hukum di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini ialah penelitian kualitatif. Adapun gagasan-gagasan yang dimunculkan disini merupakan usaha kontekstualisasi persoalan positivisme hukum yang ada ke dalam ranah etika.Kata kunci: etika; positivisme hukum;  situas

    A life in need of “neither protection nor preservation” : Joseph Fletcher, Down’s syndrome and euthanasia

    No full text
    Joseph Fletcher claims in his Christian situation ethic developed in the nineteen sixties that there is nothing wrong with the use of euthanasia on children born with Down’s syndrome. But is it possible to use his claim of non-persons as non-moral subjects in an ethic that claims not to be legalistic? This paper affirms that Fletcher’s claims are wrong, and that questions motivated by a lack of resources should be answered with a critical discussion regarding those resources. Not with an ethic that supports euthanasia.</p

    Etik av Joseph Fletcher,och hans syn på genetisk kontroll

    No full text
    As we approach the 21st Century, our society is increasingly being faced with technological advances. One of such areas of advancement is the reasearch involving human genes. The human genome-mapping project(HGMP) started on the first of october 1990 with a group of over 350 labs. but by late 90's, many important advances had been discovered concerning how to improve the human specie. With these advances came ethical questions and concerns.Both moral and legal questions have been raised as to the effectiveness and safty of this technology. It is the contention of this paper to give a clearer meaning and understanding of the ethics of genetic control.As such I will discuss the wide spread fears and anxiety brought about by the introduction of this new technology. To make this aim more comprehensible, I will pay particular attention to Joseph Fletcher and his books on Genetic control, and Humanhood: Essays In Biomedical Ethics. Fletchers ardent support for genetic control has developed worldwide debates from both ethicists and philosophers as to the safty and efficiency of genetic engineering

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore