1,723,990 research outputs found
Sufisme dalam Perspektif K.H. Muhammad Idris Jauhari
This article explores Sufism in the perspective of K.H. Idris Muhammad Jauhari. It will also reveal the patterns of his mystical thought. In this study, the author finds that: firstly, in the view of Kiai Jauhari, Sufism is an attempt to straighten out the intention of heart and to understand the essence of deeds conducted by human beings in order to live a life to reach its final destination in accordance with the will of the Creator. Secondly, the patterns of Kiai Jauhari’s mystical thought are: a). Sufism developed by Kiai Jauhari built on a tradition of tasawuf akhlâqî (consistency to maintain Islamic orthodoxy, humanist Sufism, activist and functional, dichotomous relationship pattern between the servant and the Lord as well as the urgency of dhikr Allâh in the spiritual journey toward the Lord), b). Sufism developed and offered by Kiai Jauhari is an effort to redefine and reorient so that Sufism in both theoretical and practical aspect is no longer positioned as being elitist, mystical, and individualist. Kiai Jauhari has developed inclusive Sufism, which is easily accessible by all people. Thirdly, according to Kiai Jauhari there are six steps to become a Sufi, are: îqân al-nafs (convincing one’s self), taqwîn al-niyyah (straightening intention), al-dirâsah wa al-istitlâ‘ (learning and studying), al-tafakkur wa al-tadabbur (thinking and contemplation), al-takhallî wa al-tahallî (emptying and filling), and al-tajallî (manifestation).</p
Bicara Jauhari 1
Speech delivered at the Bicara Jauhari 1, organised by Angkatan Sasterawan
50, 19 March 1995, Perpustakaan Daerah Tampines, SingaporeUcapan ini disampaikan di majlis Bicara Jauhari 1 anjuran Asas '50. Penyampai juga membentangkan penglibatan Asas 50 seperti mengukuhkan hubungannya dengan PPJ (Persatuan Penulis Johor) terutamanya berhubung dengan urusan Dialog Selatan dan juga dialog dengan badan-badan lain untuk membicarakan hal penerbitan dan berkongsi pengetahuan dan pengalaman sastera. This speech was delivered at the event of Bicara Jauhari 1 which was organised by Asas '50. The speaker also shared on Asas 50's involvement such as strengthening its relationship with PPJ (Persatuan Penulis Johor) particularly in relation to the matters of 'Dialog Selatan' and also discussions with other organisations with regard to publication and matters pertaining to literature such as knowledge and literary experiences
Raḍā’ah Perspektif Tantawi Jauhari.
ABSTRAK
Novi Salbiyah. NIM: 1415304042. Raḍā’ah Perspektif Tantawi Jauhari.
Penelitian skripsi ini membahas tentang Raḍā’ah Perspektif Tantawi Jauhari. Dewasa ini pada kenyataannya, banyak kita saksikan orang-orang yang telah menyepelekan masalah menyusui anak-anak dan masalah-masalah yang berkaitan dengan kemaslahatan mereka. Banyak para ibu dari kalangan ekonomi atas yang enggan menyusui anak-anak mereka hanya karena mereka disibukkan oleh pekerjaan atau yang biasa kita kenal dengan istilah “wanita karir”. Selain itu, sebagian dari mereka nampaknya juga terpengaruh oleh keinginan yang begitu besar untuk memelihara kecantikan dan menjaga kesehatan mereka. Bahkan lebih parah lagi sebagian dari ibu-ibu tersebut belum begitu paham dan mengerti tentang informasi dalam menyusui dan besarnya manfaat menyusui. Di dalam denyut kehidupan kota besar, kita lebih sering melihat bayi diberi susu botol dari pada disusui oleh ibunya. Sementara di pedesaan, kita melihat bayi yang baru berusia satu bulan sudah diberi pisang atau nasi lembut sebagai tambahan ASI.
Al-Qur‟an menguraikan tentang Raḍā’ah dalam 5 kategori: pertama Raḍā’ah bertema batas waktu menyusui,kedua Raḍā’ah berbicara kewajiban memberikan air susu bagi kedua orang tua,ketiga legitimasi al-Qur‟an terhadap status hukum sepersusuan, keempat situasi menyusui di hari kiamat, kelima kondisi persusuan bayi Musa a.s ketika baru lahir, sekaligus situasi persusuan bayi musa a.s pasca ditemukan oleh Saidatina Asiyah istri Fir‟aun, dan keenam nafkah suami bagi istri yang sedang menyusui bayinya. Adapun objek kajian ayat-ayat Raḍā’ah akan terfokus pada Al-Jawahir Fi Tafsir Al-Qur‟an Al Karim karya Syekh Tantawi Jauhari, hal tersebut salah satunya karena bercorak sains, sehingga mampu menguraikan urgensi dari susuan terhadap bayi dengan dalil-dalil ilmu kesehatan. Selain itu Syekh Tantawi jauhari juga mengupas dalam perspektif ilmu kesehatan, terlihat ketika menguraikan pentingnya menjaga kesehatan bayi dengan membahagiakan hati ibunya, sehingga produksi ASI akan meningkat. Kedalaman penafsiran dari berbagai rumpun ilmu inilah yang membuat tafsir tersebut menarik untuk diteliti. Dan belum ada tafsir-tafsir bercorak ilmi yang mengupas ayat-ayat Raḍā’ah dalam satu tafsir dengan berbagai pendekatan ilmu modern.
Tantawi Jauhari ketika membahas Raḍā’ah pertama dari aspek pendidikan menitik beratkan kewajiban syariat Islam dalam hal mempersiapakan pendidikan tentang tata cara menyusui yang baik dan benar sebelum menikah, dan prinsip-prinsip ilmu kesehatan dan Pendidikan bagi anak, kedua dari aspek kesehatan syekh Tantowi Jauhari menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan makanan, pakaian, serta lingkungan sekitar anak, ketiga dari aspek Psikologi menganjurkan ayah menjaga kondisi mental ibu menyusui
dengan tidak memberikan masalahnya atau membuat masalah dengannya karena berpengaruh pada proses menyusui, dan dapat membahayakan bayi, keempat kontekstualisasi dimasa kini dengan memberikan contoh kemajuan peradaban perempuan di Turki.
Kata Kunci: Raḍā’ah, Perspektif, Tantawi Jauhar
LAKTASI DALAM AL-QUR’AN PRESPEKTIF TANTHAWI JAUHARI
Islam telah mengajarkan kepada setiap ibu-ibu untuk memenuhi kebutuhan bayinya dengan memberikan ASI kepada anak-anaknya selama dua tahun penuh. Hal ini dikarenakan ASI merupakan sumber nutrisi yang penting bagi anak. Selain itu memang sudah menjadi hak seorang anak untuk mendapatkan penyusuan dari ibunya. Pertumbuhan dan perkembangan bayi sangat dipengaruhi oleh nutrisi yang diberikan ibu kepada anak yaitu berupa ASI. Dalam ASI banyak kandungan zat-zat yang sangat bermanfaat bagi bayi yang mana kandungan ini tidak bisa digantikan dengan susu formula. Akan tetapi pada saat ini banyak para ibu yang sudah menyepelekan masalah menyusui anak-anaknya. mereka memiliki berbagai macam alasan. Salah satunya yaitu mereka takut bentuk tubuh mereka akan berubah.. Kemudian penulis tertarik melihat laktasi dari segi tafsir dan juga sains, sehingga penulis menggunakan tafsir ilmi. Maka dari itu penelitian ini menggunakan prespektif Tanthawi Jauhari. Karena Tanthawi Jauhari merupakan ulama tafsir kontemporer. Selain itu, Tantahwi Jauhari ketika menafsirkan ayat-ayat laktasi menghubungkannya dengan ilmu sains. Berbeda dengan ulama tafsir pada umumnya. Adapun karya beliau adalah Tafsir al-Jawahir Fi Tafsir al-Qur’an al-Karim. Dari latar belakang tersebut penulis tertarik membahas mengenai ayat-ayat laktasi lebih dalam dan menghubungkannya dengan sains dan ilmu kesehatan, dengan mengajukan tiga rumusan masalah yaitu: (1) Bagaimana penafsiran Tanthawi Jauhari terhadap laktasi dalam tafsir al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim? (2) Bagaimana relevansi penafsiran Tantawi Jauhari dalam konteks kekinian di bidang ilmu kesehatan? (3) Bagaimana kontekstualisasi penafsiran Tanthawi Jauhari dengan Indonesia ?
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan bentuk penelitian pustaka (library research). Adapun langkah pertama yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang berhubungan dengan laktasi. Kemudian mendeskripsikan penafsiran Tanthawi Jauhari. Setelah itu dilakukan analisis terhadap penafsiran Tantahwi dan merelevansikannya dengan sains dan ilmu kesehatan pada saat ini. Kemudian, dari penafsiran tersebut dikontekstualisasikan dengan keadaan Indonesia sekarang.
Dari hasil penelitian ini, mempunyai temuan sebagai berikut: (1) Tantahwi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa seorang ibu diperintahkan untuk menyusui anaknya. Beliau juga menjelaskan mengenai waktu yang sempurna untuk penyusuan anak adalah dua tahun. Kemudian ketika seorang ibu menyusui anaknya maka akan terjalin rasa kasih sayang, serta pada saat inilah anak dan ibu memiliki hubungan emosional atau ikatan batin. (2) Ketika membahas mengenai relevansi penafsiran Thantawi apabila di terapkan di zaman ini masih relevan. Hal ini dibuktikan, ketika Tanthawi menjelaskan mengenai waktu sempurna untuk menyusui anak adalah dua tahun maka dalam ilmu kesehatan pun menjelaskan hal yang sama. (3) Ketika penafsiran Tanthawi dikontekstualisasikan dengan Indonesia, maka akhir-akhir ini banyak sekali ibu-ibu yang tidak mau menyusui anak-anaknya. Alasan yang paling banyak adalah karena mereka bekerja. Padahal ketika seorang ibu bekerja pun masih tetap bisa untuk menyusui anaknya. Dengan cara sebelum berangkat kerja ASI diperah terlebih dahulu
TAFSIR SAINTIFIK THANTHAWI JAUHARI ATAS SURAH AL-FATIHAH
Abstract
Understanding to al-Fatihah surah-as an overview of Qur’an (Qur’anniyah verses) will find the whole of meaning when combined with reading about phenomena of the universe (kauniyyah verses). Because, the truth of Qur’an is stronger when confronted with the signs of Allah that spread in universe, similarly the affirmation of God in (Fusilat Surah: 53).
Among the mufassir who are pretty good figure combines between Qur’anniyah Verses and kauniyyah verses are Thanthawi Jauhari on his interpretation book titled al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim. This reason is the main reason to writer to do research deeply to Thanthawi Jauhari’s interpretation about al-Fatihah Surah on his interpretation book titled al-Jawahir fi tafsir al- Quran al-Karim.
To focus on the research above, there are some essential problems which need to be found the answer on this research, namely; how interpretation of Thanthawi Jauhari about al-Fatihah Surah on his interpretation book titled al-jawahir fi Tafsir al-Quran al-Karim? and how the methodology of Thanthawi Jauhari on interpreting al-fatihah Surah.
To answer that 2 questions, the writer uses descriptive- analytical approach, that try to give information and description clearly, systematically, objectively, and analytically about the
interpretation of Thanthawi Jauhari of al-Fatihah surah on his interpretation book al-jawahir fi Tafsir al-Quran al-Karim included the methodology used.
Kata Kunci: Tafsir, scientific, Surah al-fatihah
Abstrak
Pemahaman terhadap surat al-Fatihah – sebagai sebuah ikhtisar al-Qur’an (ayat-ayat Qur’āniyyah) – akan menemukan keutuhan maknanya apabila dipadukan dengan pembacaan terhadap fenomena alam semesta (ayat-ayat kauniyyah). Sebab, kebenaran al-Qur’an semakin terkukuhkan ketika dihadapkan kepada tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di alam semesta. Demikian penegasan Allah dalam Q.S. Fuṣṣilat: 53.
Diantarasosokmufasiryangcukupbagusmemadukanantaraayat- ayat Qur’āniyyah dengan ayat-ayat kauniyyah adalah Thanthawi Jauhari dalam kitab tafsirnya yang berjudul al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm. Alasan inilah yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan kajian lebih mendalam terhadap penafsiran Thanthawi Jauhari tentang surat al-Fatihah dalam kitab tafsirnya yang berjudul al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm.
Untuk menfokuskan kajian di atas, maka ada beberapa masalah pokok yang perlu ditemukan jawabannya dalam penelitian ini, yaitu: Bagaimanapenafsiran Thanthawi Jauhari tentang surat al- Fatihah dalam kitab tafsirnya yang berjudul al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm ? Dan bagaimana metodologi Thanthawi Jauhari dalam menafsirkan surat al-Fatihah?
Untuk menjawab dua pertanyaan tersebut, penulis menggunakan pendekatan deskriptif-analitis, yaitu berupaya memberikan keterangandangambaranyangsejelas-jelasnyasecarasistematis, obyektif, dan analitis tentang penafsiran Thanthawi Jauhari terhadap surat al-Fatihah dalam kitabnya al-Jawāhir fī Tafsīr al- Qur’ān al-Karīm beserta metodologi yang digunakannya.
Kata Kunci: Tafsir, saintifik, Surah al-fatiha
Penafsiran ayat-ayat gempa menurut Thanthawi Jauhari dalam tafsir Al-Jawahir
Semua kejadian yang terjadi dimuka bumi ini, pada dasarnya merupakan kehendak Allah Swt, baik itu gempa bumi ataupun bencana yang lainya. Namun sebagian menganggapnya alam semata.Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam bagaimana Thanthawi Jauhari sebagai mufassir dengan corak ilmi menafsirkan ayat-ayat yang mengisyaratkan tentang gempa bumi.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui penafsiran Thanthawi Jauhari tentang ayat-ayat yang mengisyaratkan gempa bumi. Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan penafsiran ayat-ayat yang mengisyaratkan gempa bumi, mencakup tentang pengertian gempa bumi, dampak gempa bumi, dan faktor gempa bumi. Penulis memilih Thanthawi Jauhari karena dianggap sebagai mufassir yang menafsirkan Alquran dengan pendekatan pengetahuan alam.
Penelitian ini menggunakan teori tentang gempa bumi dari beberapa ilmuan yang digunakan sebagai alat analisa ayat-ayat tentang gempa bumi. Sedangkan pada paparan analisa digunakan metode tafsir maudhu’i tentang gempa bumi menganalisa isi tafsir Al-Jawahir. Jenis penelitian ini adalah studi pustaka (library research) jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode descriptive analysis, yaitu upaya mendeskripsikan dan menganalisis penafsiran Thanthawi Jauhari dalam Tafsir al-jawahir tentang ayat-ayat yang mengisyaratkan gempa bumi. Dengan menggunakan metode Tafsir maudhu’i dan Tafsir al-jawahir karya Thanthawi Jauhari sebagai rujukan utama dan di buku-buku terkait penelitian.
Hasil penelitian ini, ditemukan penafsiran Thanthawi Jauhari tentang Gempa Bumi terdapat di 5 ayat yaitu Q.s Al-‘Araf (7): 78, Q.s Al’Araf (7): 91, Q.s Al-‘Araf (7): 155, , Q.s Al-Ankabut(29): 37, Q.s Al-Waqiah (56): 4., Thanthawi Jauhari menjelaskan bahwa gempa bumi merupakan kejadian yang sangat menggetarkan manusia, ketika menjelaskan kata al-Rajfah Thanthawi menafsirkannya dengan al-zalzala al-syadidah yaitu goncangan yang sangat kuat. Thanthawi Jauhari menjelaskan tentang faktor dan penyebab terjadinya gempa bumi mutlak kehendak Allah SWT sebagai bukti kekuasaan Allah SWT yang hendak ditunjukan untuk makhluk-Nya. menurutnya faktor terjadinya gempa bumi dapat dilihat di kata amtara dalam surat Alfurqon ayat 40 yang bermakna hujan batu. Proses letusan gunung berapi, kemudian meyemburkan kandunganya (lava) ke udara dan jatuh dengan kecepatan tinggi
A Mucoadhesives in Situ Gel Delivery System for Paclitaxel.
MUC1 gene encodes a transmembrane mucin glycoprotein that is over expressed in human breast cancer and colon cancer. The underlying hypothesis of this investigation was that a mucoadhesive in situ gel delivery system containing paclitaxel (PTX) can be targeted to the cancer cells where MUC 1 gene is over expressed as compared to normal cells. The objective of this study was to develop an in situ gel delivery system containing PTX and mucoadhesives for sustained and targeted delivery of anticancer drugs. The delivery system consisted of chitosan and glyceryl monooleate (GMO) in 0.33M citric acid containing PTX.
A sensitive LC method was developed and validated for the analysis of the drug. The chromatographic separation was achieved using a ZORBAX SB C-18 column (150x4.6 mm, 5p). Mobile phase consisted of acetonitrile:methanol:0.1M ammonium acetate (48.5:16.5:35, v/v/v). The within day and day-to-day precision, relative standard deviation (RSD) for this assay range from 0.66 to 8.04% and 4.14 to 10.6%, respectively. The critical level, the detection level and the determination level for this method were, 0.02±0.01 pg/mL (mean±S.D, n=6), 0.04±0.02 pg/mL (mean±S.D, n=6), and 0.11±0.05 pg/mL. (mean±S.D, n=6), respectively. This method was successfully used in the evaluation of the in vitro release characteristics, homogeneity of PTX in gel formulation, and in the quantitation of PTX during transport studies.
The in vitro release of PTX from the gel was performed in presence and absence of Tween 80 at drug loads of 0.18, 0 30, and 0.54% (w/w), in Sorensen’s phosphate buffer (pH=7.4) at 37°C. The in vitro release studies were carried out under sink condition. For determining the drug load, one mL of the delivery system was added to 50 mL of Sorensen’s phosphate buffer, or appropriate solvent, and sonicated over a period of 10-15 minutes. The solution was filtered through a Nylon syringe filter (0.45 jam) and the concentration of drug in the solution was measured by HPLC. In vitro release studies revealed that within four hours, only 7.61 ±0.19, 12.0±0.98, 31.7±0.40% of PTX were released from 0.18, 0.30, and 0.54% PTX loaded gel formulation, respectively in absence of Tween 80. However, in the presence of the surfactant (0.05% w/v) in the dissolution medium, PTX release were 28.1±4.35, 44.2± 6.35, and 97.1±1.22%, respectively.
Different mucin producing cell lines (Calu-3>Caco-2) were selected for the PTX transport studies. Transport of PTX from solution and gel delivery system was carried out in side-by-side diffusion chambers from apical to basal (a-b) and basal to apical (b-a) directions. PTX showed a polarized transport in all of the cell monolayers with b-a transport being 2-4 times higher than a-b direction. The highest mucin producing cell line (Calu-3) has shown the least PTX transport from gels as compared to Caco-2 cells. Transport of PTX from mucoadhesive gels was shown to be influenced by mucin producing capability of cell.
The future goals of this investigation will be to compare the effectiveness of targeted local in situ gel delivery system versus the systemic delivery and to evaluate the local tissue and organ toxicity of the delivery system. This will include in vitro and in vivo evaluation of taxoi delivery system using a murine breast cancer model (Clone-66) consisting of immunocompetent host and human breast cancer model (MDA-231 and MDA-453) consisting of immunodeficient mice.ProQuest Traditional Publishing Optionxxi, 151 page
Adaptasi Belajar Baca Kitab Kuning Model Sidogiri di Ponpes As-Sunniyyah Al-Jauhari Jember
The ability of reading yellow book is a necessary requirement for students at Ponpes As-Sunniyyah Al-Jauhari Kencong Jember. Al-Miftāḥ li al-ʻUlūm method as the Sidogiri model is adapted to improve the ability of the students of Ponpes As-Sunniyyah Al-Jauhari Kencong Jember in reading the yellow book. This article pointed to describe the implementation of the Al-Miftāḥ li al-ʻUlūm method as a Sidogiri model at Ponpes As-Sunniyyah Al-Jauhari Kencong Jember. This article uses a qualitative method to analyze the data descriptively. The results exposed that the Sidogiri model could be coherent with the learning climate at Ponpes As-Sunniyyah Al-Jauhari Kencong Jember and in accordance with the expectations of Ponpes As-Sunniyyah Al-Jauhari Kencong Jember to make reading the yellow book effective. The Al-Miftāḥ li al-ʻUlūm method as the Sidogiri model can be an alternative model for the acceleration of reading the yellow book in the pesantren environment
LEBAH DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN: Kajian atas Pemikiran Thantawi Jauhari
Dalam menafsirkan kata auwha, Thanthawi mengartikan sebagai ilham atau naluri yang diberikan Allah kepada lebah, kata auwha mengandung dua pengertian. Pertama; wahyu yang kita pahami yaitu wahyu Kedua; wahyu di sini memiliki pengertian ilham. Lebah juga banyak mengandung manfaat bagi manusia dan lebah juga dapat diumpamakan seperti kehidupan orang mukmin karakteristik penafsiran Thantawi Jauhari yaitu bercorak tafsirilmi dan memperlihatkan ma’na mufradat, kemudian berpindah ke arti ijmal (global) dan akhirnya penafsiran tafshili (uraian terperinci). Thanthawi Jauhari meletakan tiga pokok kebutuhan umat Islam dalam tafsirnya, yaitu: hukum, ahlak dan ilmu keajaiban alam dengan menitik beratkan kepada ilmu pengetahuan modern dan keajaiban-keajaiban seluruh ciptaan Allah swt, termasuk manusia. penafsiran Thantawi Jauhari dipengaruhi oleh rasio keilmuan sehingga dapat disimpulkan bahwa tafsir ini bercorak ilmiah (al-laun al-ilmy)
SYAIR MAMBANG JAUHARI: TELAAH STRUKRURAL-SEMIOTIK
Syair Mambang Jauhari (Mambang Jauhari verse) is one of the traditional Malay Literacy works. The components built in SMJ indicate closed and functional relationship. The components of rhythm, rhyme, line, and couplet function to struggle narrative structure and total meaning of the text for the society. The components of plot, background, point of view, form, theme, message, and integration have capacity to organize, form and maintain the relationships among the components inducing integration, strong structure, and meaning in the SMJ. The most dominant meaning of SMJ is that in creating the harmony in life, it is better to start from creating the micro-cosmos harmony among individuals and continue to macro-cosmos involving harmony in the social life, cultural life, political life, harmony in economic life, and in defense
- …
