Hikmah Journal of Islamic Studies
Not a member yet
148 research outputs found
Sort by
ANALISIS KADERISASI DA’I MELALUI PRINSIP MANAJEMEN DAKWAH DI FORUM DA’I DAN USTADZ MUDA (FODIUM) KOTA MEDAN
AbstractThis study examines the application of da'wah management principles in the cadre program of the Young Da'i and Ustadz Forum (Fodium) in Medan City. Utilizing a descriptive qualitative approach, data were gathered through observation, interviews, and documentation to analyze the cadre process comprehensively. The findings indicate that Fodium’s cadre system is structured under organizational bylaws and consists of two main stages: 1) training, focusing on technical and ideological development, and 2) delivery of da'wah concepts, emphasizing practical application. Four core principles guide the program: Consolidation (strengthening organizational unity), Coordination (ensuring systematic teamwork), Tajdid (encouraging innovation in da'wah methods), and Ijtihad (promoting contextual interpretation of Islamic teachings). This research underscores the importance of integrating community-based regeneration with robust management standards to enhance the effectiveness of da'wah activities. Future studies are encouraged to explore the integration of digital tools and technology to further expand the reach and impact of da'wah efforts.AbstrakPenelitian ini mengkaji penerapan prinsip manajemen dakwah dalam program pengkaderan Forum Da’i dan Ustadz Muda (Fodium) Kota Medan. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk menganalisis proses kaderisasi secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kaderisasi Fodium berlandaskan AD/ART organisasi dan terdiri dari dua tahap utama: 1) pelatihan, yang fokus pada pengembangan teknis dan ideologis, dan 2) penyampaian konsep dakwah, yang menekankan aplikasi praktis. Empat prinsip inti menjadi panduan program: Konsolidasi (memperkuat kesatuan organisasi), Koordinasi (memastikan kerjasama yang sistematis), Tajdid (mendorong inovasi metode dakwah), dan Ijtihad (mendorong interpretasi kontekstual ajaran Islam). Penelitian ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan sistem kaderisasi berbasis komunitas dengan standar manajemen yang kuat untuk meningkatkan efektivitas kegiatan dakwah. Studi lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi integrasi teknologi guna memperluas jangkauan dan dampak dakwah.
ISBAT NIKAH DALAM PERSPEKTIF MAQASID SYARIAH: STUDI KASUS PENGADILAN AGAMA PANGKALAN BUN
AbstractThe government has made efforts to prevent nikah siri, but the government also provides a solution to legalize nikah siri through isbat nikah. This causes some marriage isbat applications to be granted and some to be rejected, including applications submitted to the Pangkalan Bun Religious Court. This research aims to analyze the maqasid sharia perspective on case number: 107/Pdt.P/2023/PA.PBun which was granted and case number: 102/Pdt.P/2023/PA.PBun which was rejected. These two cases have similarities where the marriage is religiously valid and has a child. This literature study normative research uses case and conceptual approaches by applying descriptive analysis techniques. The results of the study suggest that the granting of the application for isbat nikah case number: 107/Pdt.P/2023/PA.PBun is relevant to the concept of maqasid sharia. With the legalization of the marriage, the aspects of protecting religion, soul, children, property and reason which are included in the daruriyat category can be realized. The decision of case number: 102/Pdt.P/2023/PA.PBun was rejected for the benefit of the community to reduce the number of siri polygamy but could ignore the rights of wives and children which is contrary to maqasid sharia. Thus, judges are expected not only to focus on formal rules, but need to consider all the benefits. This is because the law is not limited to providing certainty, but also justice and benefits for society. AbstrakPemerintah telah berupaya untuk mencegah terjadinya nikah siri, namun pemerintah pula memberi solusi untuk mengesahkan nikah siri melalui jalan isbat nikah. Hal ini menyebabkan permohonan isbat nikah ada yang dikabulkan dan ada yang ditolak, termasuk permohonan yang diajukan ke Pengadilan Agama Pangkalan Bun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perspektif maqasid syariah pada kasus nomor: 107/Pdt.P/2023/PA.PBun yang dikabulkan dan kasus nomor: 102/Pdt.P/2023/PA.PBun yang ditolak. Kedua kasus ini memiliki kemiripan dimana pernikahannya sah secara agama dan telah memiliki anak. Penelitian normatif studi pustaka ini menggunakan pendekatan kasus dan konseptual dengan menerapkan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian mengemukakan bahwa pengabulan permohonan isbat nikah perkara nomor: 107/Pdt.P/2023/PA.PBun relevan dengan konsep maqasid syariah. Dengan disahkannya perkawinan tersebut, aspek perlindungan agama, jiwa, anak, harta serta akal yang masuk pada kategori daruriyat dapat terwujudkan. Adapun putusan perkara nomor: 102/Pdt.P/2023/PA.PBun ditolak demi kemaslahatan masyarakat untuk menekan angka poligami siri namun dapat mengabaikan hak-hak istri dan anak yang bertentangan dengan maqasid syariah. Dengan demikian, hakim diharapkan tidak hanya berfokus pada aturan formal, namun perlu mempertimbangkan segala kemaslahatan, sebab hukum tidak sebatas memberikan kepastian, namun juga keadilan serta manfaat bagi masyarakat
PERILAKU LESBIAN, GAY, BISEKSUAL, DAN TRANSGENDER (LGBT) PERSPEKTIF USHUL FIKIH MUʿTAZILAH: TELAAH KITAB AL-MUʿTAMĀD FI UṢŪL AL-FIQH
AbstractThis study aims to examine how the concepts within Muʿtazilite uṣūl al-fiqh, particularly as formulated in Kitāb al-Muʿtamad fī Uṣūl al-Fiqh by Abū al-Ḥusain al-Baṣrī, can offer a theoretical response to contemporary issues concerning LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender) behavior. The study employs a qualitative method based on library research, using a thematic analysis approach to explore normative ideas in the aforementioned text. The primary focus is directed toward the exploration of two foundational uṣūl principles in Muʿtazilite thought: the classification of human acts (al-Afʿāl) and the method of legal analogy (al-Qiyās al-Sharʿī), both of which are grounded in the principles of rationality and justice. The findings suggest that LGBT behavior, within the framework of al-Muʿtamad, can be categorized under the spectrum of qabīḥ (morally reprehensible) actions. Nevertheless, the rationalist nature of the Muʿtazilite approach opens up possibilities for a contextual re-evaluation of this legal classification, taking into account modern developments in social norms and human rights discourse. This study does not intend to render a rigid legal verdict but rather proposes a reflective space for developing a more inclusive and adaptive fiqh. Accordingly, the main contribution of this research lies in strengthening the discourse of uṣūl al-fiqh based on reason and universal values, thereby creating a bridge between classical texts and contemporary socio-religious challenges. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana konsep-konsep dalam ushul fikih Muʿtazilah, khususnya sebagaimana dirumuskan dalam Kitab al-Muʿtamad fī Uṣūl al-Fiqh karya Abu al-Husain al-Bashri, dapat memberikan respons teoretis terhadap problematika kontemporer mengenai perilaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Studi ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan analisis tematik terhadap gagasan normatif dalam kitab tersebut. Fokus utama diarahkan pada eksplorasi dua perangkat ushul utama dalam pemikiran Muʿtazilah, yaitu klasifikasi tindakan (al-Af‘āl) dan metode analogi hukum (al-Qiyās al-Syarʿī), yang keduanya dibangun di atas asas rasionalitas dan keadilan. Hasil kajian menunjukkan bahwa perilaku LGBT dalam kerangka al-Muʿtamad dapat dikategorikan ke dalam spektrum perbuatan qabīḥ (tercela). Namun demikian, sifat rasionalistik dari pendekatan Muʿtazilah membuka peluang untuk mempertimbangkan ulang kategori hukum tersebut secara lebih kontekstual, dengan memperhatikan perkembangan sosial dan wacana hak asasi manusia masa kini. Penelitian ini tidak bertujuan untuk memberikan vonis hukum yang kaku, melainkan mengusulkan ruang reflektif bagi pengembangan fikih yang lebih inklusif dan adaptif. Dengan demikian, kontribusi utama studi ini terletak pada penguatan diskursus ushul fikih berbasis nalar dan nilai-nilai universal, yang dapat menjembatani teks klasik dengan tantangan sosial keagamaan modern
GANGGUAN NARCISSISTIC PERSONALITY DISORDER (NPD) DAN SOLUSINYA DALAM AL-QUR’AN
AbstractNarcissistic Personality Disorder (NPD) is a personality disorder marked by feelings of superiority, a strong desire for admiration, and a lack of empathy. This condition has become an interesting topic in psychology and social studies, especially regarding how narcissistic behavior affects individuals and society. This study aims to analyze the concept of NPD from an Islamic perspective, using Tafsir Al-Munir by Wahbah az-Zuhaili as the main reference. The research employs a qualitative approach with a thematic interpretation (tafsir maudhu'i) to explore Qur'anic verses relevant to narcissistic traits. The study concludes that Wahbah az-Zuhaili’s approach to treating Narcissistic Personality Disorder emphasizes drawing closer to Allah, improving one’s mindset, creating a positive environment, and adopting healthier, positive behavior. Narcissistic traits are similar to arrogance and pride, which are discouraged in Islam. The Qur’an offers psychological and spiritual solutions to counter these behaviors through principles of humility and empathy toward others. AbstrakNarcissistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh rasa superioritas, keinginan kuat akan pujian, dan kurangnya empati. Penyakit ini telah menjadi topik menarik dalam kajian psikologi dan sosial, terutama terkait dengan dampak perilaku narsistik pada kehidupan individu dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep NPD dalam perspektif Al-Qur’an dengan menggunakan kitab Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili sebagai rujukan utama. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik tafsir maudhu’i untuk memahami ayat-ayat Al-Qur'an yang relevan dengan karakteristik narsistik. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa psikoterapi Narcissictic Personality Disorder yang ditawarkan oleh Wahbah Az-Zuhaili sebagai solusi yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki pola pikir, mengubah lingkungan ke arah yang lebih positif, serta perilaku menjadi lebih sehat dan baik. Sifat narsistik serupa dengan perilaku sombong, angkuh, dan membanggakan diri yang dilarang dalam agama Islam. Al-Qur’an menawarkan solusi psikologis dan spiritual untuk mengatasi perilaku ini melalui prinsip-prinsip rendah hati dan empati terhadap sesama.
ADAPTASI BUDAYA DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN PADA KONSEP EKOLOGI DALAM AL-QIRÂ’AH AL-RASYÎDAH
AbstractThis study aims to reveal the ecology in the book of Al-Qiraah Al-Rashidah contained in the topic of flaura and fauna. The relationship between flora and fauna seems to be discussed in order to introduce ecology and the relationship between humans and nature and vice versa. Kitab Al-Qiraah al-Rasyidah is an Arabic learning module in some Islamic boarding schools in Indonesia so that this becomes important in order to strengthen ecological education to the younger generation. This research is a descriptive qualitative research with an ecological approach. Kitab Al-Qirâ'ah Al-Rashîdah juz 1 and 2 by Abdul Fattah is the primary source. This article finds that adaptation can be used in literary works considering that many terms contain cultural elements such as the word Al-Khasyab which is translated as ‘anjang-anjang bamboo’ which is adapted into Indonesian in the form of bamboo sticks stuck into the ground as a support for the vine. Adjusting the dialogue to the local cultural context can also instill moral values and enrich children's understanding of the role of fauna and fauna in the natural ecosystem. The design of website-based educational media can provide an understanding of texts that contain ecological knowledge according to technological developments.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap pemaknaan adaptasi budaya dalam tema flora dan fauna dalam kitab Al-Qiraah Al-Rasyidah yang menjadi salah satu bahan ajar di Pesantren Indonesia. Materi flora dan fauna potensial menjadi matari Pendidikan ekologi bagi pelajar untuk mempelajari kembali hubungan manusia dengan alam dan sebaliknya. Riset ini juga bertujuan untuk mengembangan Pendidikan ekologi dalam Al-Qiraah al-Rasyidah melalui Website sehingga semakin banyak pelajar non Pesantren dapat mengakses dan memanfaatkannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan ekologi. Kitab Al-Qirâ’ah Al-Rasyîdah juz 1 dan 2 karya Abdul Fattah adalah sumber primer. Artikel ini menemukan bahwa adaptasi bisa digunakan dalam kitab Al-Qiraah Al-Rasyidah yang dialogis dan dramatis. Ada beberapa istilah yang memuat unsur budaya seperti kata Al-Khasyab yang dimaknai dengan ‘anjang-anjang bambu’ yang diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia berupa batang bambu yang ditancapkan ke tanah sebagai penopang pohon anggur. Penyesuaian dialog dengan konteks budaya lokal juga dapat menanamkan nilai moral dan memperkaya pemahaman anak-anak tentang peran fauna fauna dalam ekosistem alam. Pendidikan ekologi yang diajarkan dalam Al-Qiraah Al-Rasyidah di antaranya pendidikan pelestarian alam baik tumbuhan dan hewan; merawat tanaman, proses pertumbuhan pohon; penopangan tanaman dengan anjang-anjang; sistem irigasi tradisional; keselamatan bertani; melestarikan gajah dan menjaga gajah dari kepunahan; simbiosis mutualisme alam, proses produksi madu oleh lebah,; dan Pendidikan menjaga ekosistem bunga. Perancangan media pendidikan berbasis website dapat memberikan akses luas terhadap para pelajar di luar pesantren karena Al-Qiraah al-Rasyidah merupakan modul belajar Bahasa Arab para pelajar di beberapa pesantren di Indonesia.
PERENCANAAN DAKWAH NAHDLATUL ULAMA (NU) DALAM MENANGKAL RADIKALISME DI KABUPATEN DELI SERDANG
AbstractRadicalism poses a significant threat to diversity and social stability, necessitating well-structured da'wah planning to mitigate its spread. This study aims to analyze the da'wah planning conducted by Nahdlatul Ulama (NU) in combating radicalism in Deli Serdang Regency. Employing a qualitative field research approach, data collection was conducted through observation, interviews, and document analysis. Primary data were gathered from interviews with key informants, including the Deputy Secretary and the Head of Religious Affairs of PCNU Deli Serdang Regency. Secondary data were sourced from relevant academic journals and books. The findings revealed NU's structured da'wah planning involves: (1) implementing PKPNU (Education for NU Cadres), (2) strengthening Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) values, (3) promoting Harokah Nahdiyah (NU movements), (4) conducting Aswaja-based da'wah, (5) organizing the Ramadan Safari team with Aswaja-oriented clerics, (6) facilitating Friday sermons with Aswaja scholars, and (7) adopting educational approaches to disseminate NU teachings. This research highlights the importance of comprehensive da'wah planning that integrates religious teachings with social and educational aspects, providing practical recommendations for religious organizations to foster inclusive community harmony against radicalism.AbstrakRadikalisme merupakan ancaman nyata terhadap keberagaman dan stabilitas sosial sehingga diperlukan perencanaan dakwah yang terstruktur untuk menanggulanginya. Penelitian ini bertujuan menganalisis perencanaan dakwah Nahdlatul Ulama (NU) dalam menangkal radikalisme di Kabupaten Deli Serdang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Data primer diperoleh dari wawancara informan kunci yaitu Wakil Sekretaris dan Ketua Bidang Keagamaan PCNU Kabupaten Deli Serdang, sementara data sekunder didapatkan dari jurnal dan buku relevan. Hasil penelitian menunjukkan perencanaan dakwah NU meliputi: (1) pelaksanaan Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU), (2) penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), (3) Harokah Nahdiyah, (4) penerapan dakwah berbasis Aswaja, (5) Tim Safari Ramadhan dengan ustadz berfaham Aswaja, (6) pengajian khatib Jumat oleh ulama Aswaja, dan (7) pendekatan pendidikan dalam penyebaran ajaran NU. Penelitian ini menegaskan bahwa perencanaan dakwah yang efektif tidak hanya terfokus pada aspek keagamaan semata, tetapi juga memperkuat dimensi sosial dan pendidikan untuk menjaga keharmonisan masyarakat secara berkelanjutan dalam menghadapi radikalisme
SIMBOLISME IMAJINATIF DAN NUANSA SUFISTIK DALAM TASYBIH QASHIDAH AL-BURDAH
AbstractQasidah Al-Burdah by Imam Al-Busiri is a masterpiece of classical Arabic literature, renowned for its spiritual values and aesthetic linguistic qualities. This study aims to describe the forms of tashbih (simile) found in Qasidah Al-Burdah, analyze their symbolic meanings, and explore the function of tashbih as an imaginative medium for conveying religious and Sufi messages. The research employs a descriptive qualitative method with stylistic and literary symbolism approaches. Data were analyzed through identification, classification, and interpretation of the verses containing tashbih. The results reveal that tashbih in Qasidah Al-Burdah plays a significant role not only as a rhetorical device, but also as a poetic symbol that enriches spiritual values, prophetic love, and Sufi experiences. These findings highlight the contribution of tashbih as a bridge between language, imagination, and spiritual messages within the aesthetic framework of classical Arabic poetry.AbstrakQashidah Al-Burdah karya Imam Al-Busiri merupakan salah satu mahakarya dalam sastra Arab klasik yang memadukan nilai spiritual dan keindahan estetika bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk tasybih yang terdapat dalam Qashidah Al-Burdah, menganalisis makna simbolik yang dikandungnya, serta mengeksplorasi fungsi tasybih sebagai sarana ekspresi imajinatif dalam menyampaikan pesan religius dan sufistik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika dan simbolisme sastra. Data dianalisis melalui identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi bait-bait qashidah yang mengandung unsur tasybih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tasybih dalam Qashidah Al-Burdah berperan penting tidak hanya sebagai ornamen retoris, tetapi juga sebagai simbol puitis yang memperkuat nilai-nilai spiritual, cinta profetik, dan pengalaman sufistik. Temuan ini menegaskan kontribusi tasybih sebagai jembatan antara bahasa, imajinasi, dan pesan spiritual dalam kerangka estetika sastra Arab klasik.
ANALYSIS OF ISLAMIC EDUCATIONAL VALUES AND THEIR INTERNALIZATION IN THE NOVEL ‘TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK’ BY BUYA HAMKA
AbstractIn the modern era, literature has the potential to serve as an effective medium for education, including Islamic teachings. One such literary work is Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck by Buya Hamka. This study aims to contribute to the field of Islamic education by illustrating how novels can facilitate the internalization of Islamic values. The research objectives include (1) identifying the values of Islamic religious education, (2) analyzing how these values are depicted in Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, and (3) examining how the novel’s narrative incorporates and conveys Islamic educational principles. This study adopts a qualitative approach with thematic analysis to explore the educational values embedded within the novel. The findings reveal that Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck integrates Islamic values through character development and narrative conflicts. These values fall into three categories: (1) faith-based education, which encompasses religious devotion and repentance, (2) sharia-related education, including obedience, inheritance laws, marriage, and acts of charity, and (3) moral education, which involves ethical and behavioral aspects such as honesty, patience, humility, arrogance, forgiveness, and trustworthiness. This study underscores the novel’s role in imparting Islamic teachings, reinforcing its significance as a literary source for moral and religious instruction. AbstrakDi era modern ini, karya sastra memiliki potensi sebagai media pendidikan yang efektif, termasuk dalam penyampaian ajaran Islam. Salah satu karya sastra yang mencerminkan hal ini adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi dalam bidang pendidikan Islam dengan menunjukkan bagaimana novel dapat menjadi sarana internalisasi nilai-nilai Islam. Adapun tujuan penelitian ini meliputi (1) mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan agama Islam, (2) menganalisis bagaimana nilai-nilai tersebut digambarkan dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan (3) mengkaji bagaimana narasi dalam novel ini menginternalisasikan serta menyampaikan prinsip-prinsip pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis tematik untuk menggali nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menginternalisasikan nilai-nilai Islam melalui perkembangan karakter dan konflik dalam alur ceritanya. Nilai-nilai tersebut dikategorikan ke dalam tiga aspek utama: (1) pendidikan keimanan, yang mencakup pengabdian kepada agama dan tobat, (2) pendidikan syariah, meliputi ketaatan, hukum waris, pernikahan, dan amal, serta (3) pendidikan akhlak, yang mencakup aspek etika dan perilaku seperti kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, kesombongan, pengampunan, dan sikap amanah. Penelitian ini menegaskan peran novel dalam menyampaikan ajaran Islam, sehingga memperkuat signifikansinya sebagai sumber literasi moral dan keagamaan
FENOMENA PERCERAIAN DI KALANGAN GENERASI MUDA MUSLIM: PERSPEKTIF HUKUM KELUARGA ISLAM
AbstractThe incidence of divorce among young Muslim couples in Indonesia has seen a significant rise in recent years, influenced by various factors such as economic instability, shifts in social values, and the impact of social media. This study aims to analyze the underlying causes of divorce among young Muslims and to examine the role of Islamic family law as a preventive measure. Employing a qualitative approach with a juridical-sociological design, the research utilizes in-depth interviews and document analysis involving divorced young couples, religious courts, and religious institutions. The findings reveal that economic pressures, changes in social values, emotional instability, and the influence of social media significantly contribute to the increasing divorce rates. While Islamic family law, emphasizing mediation and reconciliation, serves as a preventive tool, challenges arise from the limited understanding of Islamic legal principles among young couples. Consequently, this study recommends the enhancement of premarital education based on Islamic principles and the strengthening of mediation efforts within religious courts to reduce divorce rates. The research is expected to contribute to the development of more effective policies aimed at strengthening the institution of marriage among young Muslim couples.AbstrakFenomena perceraian di kalangan generasi muda Muslim di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, budaya, dan pengaruh media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab perceraian dan memahami peran hukum keluarga Islam sebagai upaya pencegahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain yuridis-sosiologis, melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi dengan pasangan muda yang bercerai, pengadilan agama, dan lembaga keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi, perubahan nilai sosial, ketidakstabilan emosional, dan media sosial berkontribusi besar terhadap meningkatnya angka perceraian. Meskipun hukum keluarga Islam yang menekankan pada mediasi dan rekonsiliasi berfungsi sebagai upaya pencegahan, tantangan besar muncul dari kurangnya pemahaman pasangan muda terhadap hukum Islam. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan peningkatan pendidikan pranikah berbasis syariah dan penguatan mediasi di pengadilan agama sebagai langkah strategis untuk mengurangi angka perceraian. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi dalam pengembangan kebijakan yang lebih efektif untuk memperkuat institusi perkawinan di kalangan generasi muda Muslim
INTEGRASI TEORI ORGANISASI STRUKTURAL MODERN DAN PEMIKIRAN ISLAM KLASIK DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
AbstractThis research examines the relationship between modern structural organization theory and classical Islamic thought, with a focus on the integration of efficient management principles. Modern organizational theory, including Max Weber's bureaucratic theory, Henri Fayol's administrative management, Frederick Taylor's scientific management, and systems and network theory, has been widely applied to improve organizational efficiency and effectiveness in various sectors. This research aims to combine these principles with Islamic values contained in the thoughts of classical Muslim scholars such as Al-Mawardi, Al-Farabi, Ibn Khaldun, and Al-Ghazali, in order to produce a more holistic and applicable Islamic education management model. The method used is a literature study with a descriptive-analytic qualitative approach, which identifies similarities and synergies between the two perspectives. The research results show that the integration of modern organizational theory and Islamic values can create more inclusive, responsive and just management of Islamic educational institutions, as well as strengthen the sustainability and effectiveness of educational organizations in the future. This research provides practical implications for Islamic educational institutions in efforts to improve the quality of education and create a more meaningful learning environment. AbstrakPenelitian ini mengkaji hubungan antara teori organisasi struktural modern dan pemikiran klasik Islam, dengan fokus pada integrasi prinsip-prinsip manajemen yang efisien. Teori organisasi modern, termasuk teori birokrasi Max Weber, manajemen administratif Henri Fayol, manajemen ilmiah Frederick Taylor, serta teori sistem dan jaringan, telah diterapkan secara luas untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas organisasi di berbagai sektor. Penelitian ini bertujuan untuk menggabungkan prinsip-prinsip tersebut dengan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam pemikiran cendekiawan Muslim klasik seperti Al-Mawardi, Al-Farabi, Ibn Khaldun, dan Al-Ghazali, guna menghasilkan model manajemen pendidikan Islam yang lebih holistik dan aplikatif. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitik, yang mengidentifikasi kesamaan dan sinergi antara kedua perspektif tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi teori organisasi modern dan nilai-nilai Islam dapat menciptakan pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang lebih inklusif, responsif, dan berkeadilan, serta memperkuat keberlanjutan dan efektivitas organisasi pendidikan di masa depan. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi lembaga pendidikan Islam dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih bermakna.