Hikmah Journal of Islamic Studies
Not a member yet
148 research outputs found
Sort by
MANAJEMEN PENDIDIKAN DALAM KAJIAN ULUMUL QURAN (STUDI TENTANG PROFESIONALISME PENDIDIK DALAM QS. AL-TAUBAH/09: 105)
AbstractThis study examines educational management within the framework of Ulumul Quran, focusing on the professionalism of educators as emphasized in QS. Al-Taubah/09: 105. Utilizing a qualitative research method with a literature review approach, the study aims to provide an in-depth understanding of phenomena rather than relying on numerical data. The literature review involves analyzing various written sources, including books, scientific journals, official documents, and other relevant references. Data collection is conducted through coding, a systematic process involving reading, identifying, labeling, and analyzing key patterns or themes aligned with the research topic. This process is further refined by identifying variables, defining fundamental concepts, and exploring relevant material. The analysis of QS. Al-Taubah/09: 105 highlights the centrality of Allah’s oversight in every educational activity. The verse underscores that all actions and efforts in teaching are subject to divine supervision and accountability, whether conducted openly or discreetly. Furthermore, it stresses that educators bear a significant responsibility in ensuring that their teaching aligns with the values and expectations set by Allah SWT. This accountability reinforces the importance of professionalism in every aspect of the educational process, emphasizing sincerity and dedication as core attributes of an educator AbstrakPenelitian ini mengkaji manajemen pendidikan dalam kerangka Ulumul Quran, dengan fokus pada profesionalisme pendidik sebagaimana diuraikan dalam QS. Al-Taubah/09: 105. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tinjauan pustaka, yang bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam terhadap fenomena dibandingkan data kuantitatif. Tinjauan pustaka dilakukan dengan menganalisis berbagai sumber tertulis, seperti buku, jurnal ilmiah, dokumen resmi, dan referensi terkait lainnya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui proses coding, yaitu proses sistematis yang meliputi membaca, mengidentifikasi, memberi kode, dan menganalisis pola atau tema yang relevan dengan topik penelitian. Proses ini diperkuat dengan identifikasi variabel, pendefinisian konsep dasar, dan eksplorasi materi penelitian.Analisis QS. Al-Taubah/09: 105 menekankan pentingnya pengawasan Allah dalam setiap aktivitas pendidikan. Ayat ini menunjukkan bahwa semua tindakan dan upaya dalam pembelajaran berada di bawah pengawasan dan tanggung jawab kepada Allah SWT, baik dilakukan secara terbuka maupun tersembunyi. Selain itu, ayat ini menegaskan bahwa pendidik memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan pengajaran mereka sesuai dengan nilai-nilai dan harapan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Tanggung jawab ini menekankan pentingnya profesionalisme dalam setiap aspek proses pendidikan, dengan ketulusan dan dedikasi sebagai atribut utama seorang pendidik.
PERAN RELIGIUSITAS DALAM MEMEDIASI ANTARA WAITING LIST HAJI DAN CITRA MEREK TERHADAP MINAT TABUNGAN HAJI PADA GENERASI MILENIAL
AbstractThis study aims to analyze the role of religiosity in mediating the influence of the Hajj waiting list and brand image of Sharia banks on millennials’ interest in saving through the Hajj savings product of Bank Syariah Indonesia (BSI). Primary data were collected from 100 millennial respondents in South Tangerang City using purposive sampling and analyzed with Partial Least Square (PLS) using SmartPLS 4.0. The results show that the Hajj waiting list has no significant effect on saving interest, while brand image has a significant positive effect. Religiosity also significantly influences interest and mediates the effect of brand image on saving interest, but not the effect of the Hajj waiting list. These findings highlight religiosity as a key factor in understanding the financial behavior of religiously motivated millennials in the modern era, especially in relation to Islamic banking preferences. This study contributes to the development of marketing strategies for Hajj savings products and underscores the importance of integrating religious values into financial decision-making among Muslim youth. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran religiusitas dalam memediasi pengaruh daftar tunggu haji dan citra merek bank syariah terhadap minat generasi milenial dalam menabung di produk Tabungan Haji Bank Syariah Indonesia (BSI). Penelitian ini menggunakan data primer yang dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada 100 responden milenial di Kota Tangerang Selatan dengan metode purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan teknik Partial Least Square (PLS) melalui aplikasi SmartPLS 4.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daftar tunggu haji tidak berpengaruh signifikan terhadap minat menabung, namun citra merek memiliki pengaruh signifikan. Religiusitas juga ditemukan berpengaruh secara signifikan terhadap minat, serta memediasi pengaruh citra merek terhadap minat menabung. Namun, religiusitas tidak memediasi pengaruh daftar tunggu haji terhadap minat. Temuan ini mengindikasikan bahwa religiusitas menjadi faktor penting dalam memahami perilaku keuangan generasi milenial muslim di era modern, khususnya dalam konteks literasi keuangan Islam dan preferensi terhadap layanan perbankan syariah. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi pemasaran produk tabungan haji, serta menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai religius dalam pengambilan keputusan finansial generasi muda muslim.
FATWA DYNAMICS AND DOCTRINAL CONTROVERSIES: THE AHMADIYYA CASE IN INDONESIAN ISLAMIC DISCOURSE
AbstractThis article examines the fatwas issued by the Indonesian Ulema Council (MUI) regarding the Ahmadiyah movement in Indonesia. The research is motivated by the issuance of two MUI fatwas, in 1980 and 2005, stating that Ahmadiyah is heretical and outside Islam. The 1980 fatwa specifically issued a fatwa related to Qadiyani, while the 2005 fatwa covered both Qadiyani and Lahore. MUI fatwas are based on Quranic verses, hadith, and decisions of international Islamic bodies. The emergence of these two MUI fatwas illustrates the rejection and intense monitoring of the Ahmadiyah religious movement in Indonesia. Therefore, this study concludes that the factors of the emergence of two fatwas on Ahmadiyah are based on the influence of Rabithah through the Indonesian Da'wah Islamiyah Council (DDII), the recommendation of the Indonesian Ministry of Religious Affairs in 1979 to supervise Ahmadiyah and other deviant religious sects, the government's indecisiveness in dealing with the Qadiyani Ahmadiyah heresy, the emergence of unrest in the community, and the doctrine of Ahmadiyah Lahore which is in fact similar to Qadiyani. This research uses a qualitative approach and descriptive analysis method that relies on literature review.AbstrakArtikel ini mengkaji fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai gerakan Ahmadiyah di Indonesia. Adanya penelitian ini dilatarbelakangi oleh penetapan dua fatwa MUI , pada tahun 1980 dan 2005, yang menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan berada di luar Islam. Fatwa tahun 1980 secara khusus mengeluarkan fatwa terkait Qadiyani, sementara fatwa tahun 2005 mencakup paham Qadiyani dan Lahore. Fatwa-fatwa MUI didasarkan pada ayat-ayat Al-Quran, hadis, dan keputusan-keputusan dari badan-badan Islam internasional. Kemunculan dua fatwa MUI ini menggambarkan penolakan dan pengawasan yang cukup intens akan gerakan keagamaan Ahmadiyah di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor kemunculan dua fatwa tentang Ahmadiyah didasarkan pada pengaruh Rabithah melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), adanya rekomendasi dari Kementerian Agama RI pada tahun 1979 untuk mengawasi aliran Ahmadiyah dan aliran keagamaan yang menyimpang lainnya, ketidaktegasan pemerintah dalam menghadapi aliran sesat Ahmadiyah Qadiyani, munculnya keresahan di masyarakat, dan doktrin Ahmadiyah Lahore yang nyatanya serupa dengan Qadiyani. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis deskriptif yang bertumpu pada kajian pustaka.
WASATIYYAT ISLAM IN MUHAMMADIYAH’S MOVEMENT FOR STRENGTHENING CIVIL SOCIETY IN INDONESIA
AbstractThis study is the concept of wasatiyyat and its application in civil society through the lens of Muhammadiyah. The main objective of this research is to see how Muhammadiyah uses wasatiyyat principles to create social attraction, encourage interfaith conversations, and strengthen democratic principles in a pluralist society. The study used a library research approach, which evaluated various sources, including journals, scholarly articles and relevant literature. The results show that Muhammadiyah has successfully incorporated wasatiyyat principles into multiple fields, including education, health, and social advocacy. These efforts show that Islamic moderation can help social harmony and democracy and contribute to developing an inclusive civil society. The results of this study confirm that the wasatiyyat approach through Muhammadiyah has a broader impact, offering a practical framework for dealing with challenges in a multicultural society. This contribution can enrich the discourse on Islam and civil society and highlight the potential of wasatiyyat values in promoting sustainable social development and peace efforts globally.AbstrakPenelitian ini membahas konsep wasatiyyah dan penerapannya dalam masyarakat sipil melalui perspektif organisasi Muhammadiyah. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana Muhammadiyah menerapkan prinsip wasatiyyah dalam menciptakan daya tarik sosial, mendorong dialog antaragama, serta memperkuat prinsip demokrasi dalam masyarakat yang plural. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan dengan menganalisis berbagai sumber, termasuk jurnal, artikel ilmiah, dan literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muhammadiyah telah berhasil mengintegrasikan prinsip wasatiyyah ke dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, dan advokasi sosial. Upaya-upaya ini membuktikan bahwa moderasi Islam dapat mendukung harmoni sosial dan demokrasi, sekaligus berkontribusi pada pengembangan masyarakat sipil yang inklusif. Temuan penelitian ini memperkuat bukti bahwa pendekatan wasatiyyah melalui Muhammadiyah memiliki dampak yang luas, menawarkan kerangka kerja praktis untuk menghadapi tantangan di masyarakat multikultural. Kontribusi ini dapat memperkaya wacana tentang Islam dan masyarakat sipil, serta menegaskan potensi nilai-nilai wasatiyyah dalam mendorong pembangunan sosial berkelanjutan dan upaya perdamaian global.
FIQH SIYASAH PARADIGM IN THE INDICATORS OF MODERATE RELIGIOUS EDUCATION IN INDONESIA
AbstractThe mainstreaming of moderate religious indicators in Indonesia in the realm of practice is not always responded positively by all communities. Regardless of the pros and cons, it is important to realize that the mainstreaming is a government policy to build harmony between religious, cultural and state life in Indonesia. The purpose of this qualitative study in the form of a literature review is to identify the fiqh siyasah syar'iyah paradigm on the orientation of moderate religious education contained in the indicators of religious moderation in Indonesia. This study uses a content analysis approach. Explanations related to four indicators of moderate religiosity formulated by the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia became the main data of the study obtained through documentation techniques. This study concludes that there are fiqh siyasah syar'iyah values in the orientation of religious moderation indicators in Indonesia that contain the dissemination of moderate religious education values, including the value of shura on indicators that require strengthening the values of pluralist and humanist religious education. Then, the value of wasathiyah on indicators that require strengthening the values of nationalist and accommodating religious education on cultural wisdom. This study shows that the indicators of moderate religiosity in Indonesia contain various legal ethical values and Islamic social education as a basis for political policy in building harmonious relations of religious, state and cultural life.AbstrakPengarustamaan indikator keberagamaan moderat di Indonesia pada ranah praksisya tidak senantiasa direspons positif oleh semua masyarakat. Terlepas dari pro-kontra yang ada, penting untuk disadari pengarustamaan tersebut menjadi kebijakan pemerintah untuk membangun harmoni antara kehidupan beragama, berbudaya dan bernegara di Indonesia. Tujuan studi kualitatif dalam bentuk kajian pustaka ini untuk mengidentifikasi paradigma fikih siyasah syar’iyah pada orientasi pendidikan keberagamaan moderat yang termuat dalam indikator moderasi beragama di Indonesia. Studi ini menggunakan pendekatan analisis isi. Penjelasan terkait empat indikator keberagamaan moderat yang dirumuskan oleh kementrian Agama Republik Indonesia menjadi data pokok studi yang diperoleh melalui teknik dokumentasi. Studi ini menyimpulkan adanya nilai-nilai fikih siyasah syar’iyah pada orientasi indikator moderasi beragama di Indonesia yang memuat diseminasi nilai-nilai pendidikan keberagamaan moderat, antara lain nilai syura pada indikator yang menghendaki penguatan nilai-nilai pendidikan keberagamaan pluralis dan humanis. Kemudian, nilai wasathiyah pada indikator yang menghendaki penguatan nilai-nilai pendidikan keberagamaan nasionalis dan akomodatif pada kearifan budaya. Studi ini menunjukan indikator keberagamaan moderat di Indonesia memuat berbagai nilai legal etik dan pendidikan sosial keberagamaan Islam sebagai basis kebijakan politik dalam membangun relasi harmoni kehidupan beragama, bernagara, dan berbudaya.
QAWAID FIQHIYYAH SEBAGAI LANDASAN ETIKA PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
AbstractThis article discusses the application of qawaid fiqhiyyah as an ethical foundation for social media usage among Muslims, focusing on the understanding and implementation of Islamic law principles in digital contexts. The unique contribution of this research lies in emphasizing the importance of qawaid fiqhiyyah in guiding the behavior of social media users, as well as addressing the challenges and opportunities faced. The methodology employed is library research, which includes a literature analysis relevant to describing social media user behavior. The findings indicate that although there is awareness of the importance of ethics in social media use, many users still lack understanding and implementation of qawaid fiqhiyyah principles, such as tabayyun (information verification) and maslahah (general welfare). These findings highlight the need for better education regarding digital-based Islamic ethics, along with the active roles of families and communities in educating younger generations. By applying qawaid fiqhiyyah, it is hoped that social media users can contribute to creating a more positive and productive environment while strengthening their identity as Muslims in the digital age. This research provides practical implications by encouraging the development of clear ethical guidelines for social media use in accordance with Islamic values. AbstrakArtikel ini membahas penerapan qawaid fiqhiyyah sebagai landasan etika dalam penggunaan media sosial di kalangan umat Muslim, dengan fokus pada pemahaman dan implementasi prinsip-prinsip hukum Islam dalam konteks digital. Kontribusi unik penelitian ini terletak pada penekanan pentingnya qawaid fiqhiyyah dalam membimbing perilaku pengguna media sosial, serta tantangan dan peluang yang dihadapi. Metodologi yang digunakan adalah penelitian pustaka (library research) yang mencakup analisis literatur relevan untuk menggambarkan perilaku pengguna media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat kesadaran akan pentingnya etika dalam penggunaan media sosial, banyak pengguna masih kurang memahami dan menerapkan prinsip-prinsip qawaid fiqhiyyah, seperti tabayyun (verifikasi informasi) dan maslahah (manfaat umum). Temuan ini menekankan perlunya pendidikan yang lebih baik mengenai etika digital berbasis Islam serta peran aktif keluarga dan masyarakat dalam mendidik generasi muda. Dengan menerapkan qawaid fiqhiyyah, diharapkan pengguna media sosial dapat berkontribusi pada lingkungan yang lebih positif dan produktif, sekaligus memperkuat identitas Muslim di era digital. Penelitian ini memberikan dampak praktis dengan mendorong pengembangan pedoman etika yang jelas dalam penggunaan media sosial sesuai dengan nilai-nilai Islam
RELIGIOUS MODERATION AS A RESPONSE TO RADICALISM: INSIGHTS FROM THE QUR’AN, HADITH, AND THE PROPHET’S CHARACTER
AbstractReligious radicalism in Indonesia deviates from Islam’s core values of justice, mercy, and balance, often manifesting in exclusivism, intolerance, and violence. This article explores the normative principles of religious moderation (wasathiyyah) as expressed in the Qur’an, Hadith, and the Prophet Muhammad’s exemplary character, analysing their relevance in countering contemporary radicalism. Using a qualitative method, it examines primary Islamic texts and secondary scholarship, identifying key themes through socio-historical interpretation and maqāṣid al-sharī‘ah. The findings show that moderation understood as a balanced middle path between excess (ifrāṭ) and negligence (tafrīṭ) is a central Islamic tenet, affirmed in Q.S. Al-Baqarah: 143 and Q.S. Al-Hujurat: 13. The Prophet embodied moderation through gentleness, openness, and respect for diversity, providing a model for balanced thought and practice. Moderation also applies to theology, worship, ethics, and law, shaping an inclusive, peace-oriented Islamic framework. Integrating these values into education, preaching, and policy is vital to counter radicalism, strengthen tolerance, and maintain Islam’s role as rahmatan lil-‘ālamīn. Moderation thus emerges as both a normative imperative and an effective strategy for harmony in pluralistic societies.AbstrakRadikalisme agama di Indonesia menyimpang dari nilai inti Islam, yaitu keadilan, kasih sayang, dan keseimbangan, yang sering termanifestasi dalam sikap eksklusif, intoleran, dan kekerasan. Artikel ini mengkaji prinsip normatif moderasi beragama (wasathiyyah) sebagaimana tercermin dalam Al-Qur’an, Hadis, dan teladan Nabi Muhammad SAW, serta relevansinya dalam menghadapi radikalisme kontemporer. Dengan metode kualitatif, penelitian ini menelaah teks-teks Islam primer dan literatur akademik sekunder, mengidentifikasi tema utama melalui interpretasi sosio-historis dengan pertimbangan maqāṣid al-sharī‘ah. Temuan menunjukkan bahwa moderasi—jalan tengah yang seimbang antara ifrāṭ (berlebihan) dan tafrīṭ (meremehkan)—merupakan ajaran utama Islam, ditegaskan dalam Q.S. Al-Baqarah: 143 dan Q.S. Al-Hujurat: 13. Nabi meneladani moderasi melalui kelembutan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap keragaman, menjadi model bagi keseimbangan pemikiran dan praktik. Moderasi juga mencakup akidah, ibadah, etika, dan hukum, membentuk kerangka Islam yang inklusif dan damai. Integrasi nilai-nilai ini dalam pendidikan, dakwah, dan kebijakan publik penting untuk melawan radikalisme, memperkuat toleransi, dan menjaga Islam sebagai rahmatan lil-‘ālamīn. Moderasi terbukti sebagai keharusan normatif dan strategi efektif membangun harmoni dalam masyarakat plural
INTEGRASI TEKNOLOGI DAN NILAI ISLAM DALAM TRANSFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN MADRASAH
AbstractThis study aims to examine the transformation process of educational management at Madrasah Aliyah Istiqlal Jakarta in responding to the challenges of the digital era. The transformation is carried out as a response to the rapid development of information technology, which requires educational institutions to adapt swiftly and effectively. The research employs a qualitative approach using data collection techniques such as observation, interviews, and documentation. The findings reveal that Madrasah Aliyah Istiqlal has implemented various innovations in educational management, including the integration of technology in the learning process, enhancement of teachers' digital competencies, and the provision of supporting facilities such as multimedia rooms and computer laboratories. Although there are still obstacles, such as limited internet access and shared facility usage schedules, these transformation efforts demonstrate the school’s strong commitment to creating a modern, adaptive learning environment aligned with 21st-century educational needs. Therefore, the transformation of educational management at Madrasah Aliyah Istiqlal Jakarta serves as a model of best practices in developing a digital-based madrasah that upholds Islamic values.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses transformasi manajemen pendidikan Madrasah Aliyah di Madrasah Istiqlal Jakarta dalam menghadapi tantangan era digital. Transformasi dilakukan sebagai respon terhadap perkembangan teknologi informasi yang menuntut lembaga pendidikan untuk beradaptasi secara cepat dan efektif. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Madrasah Aliyah Istiqlal telah melakukan sejumlah inovasi dalam manajemen pendidikan, meliputi integrasi teknologi dalam proses pembelajaran, peningkatan kompetensi guru di bidang digital, serta penyediaan sarana pendukung seperti ruang multimedia dan laboratorium komputer. Meski masih terdapat kendala, seperti akses internet yang terbatas dan sistem penggunaan fasilitas yang bergiliran, upaya transformasi ini membuktikan komitmen madrasah dalam menciptakan lingkungan belajar yang adaptif, modern, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik di abad ke-21. Dengan demikian, transformasi manajemen pendidikan di Madrasah Aliyah Istiqlal Jakarta menjadi contoh praktik baik dalam membangun madrasah berbasis digital yang tetap menjunjung nilai-nilai keislaman.
PEMBELAJARAN NAGHAM AL-QUR’AN DENGAN METODE SIMĀ’I DI IIQ JAKARTA
AbstractThis article is intended to describe the process of learning the Koran nagham at IIQ Jakarta. In the other hand, this study wants to look further at the implementation of the Simā'i method in learning Nagham Al-Qur'an at IIQ Jakarta, forms of innovation and development as well as things that are opportunities and challenges in learning Nagham Al-Qur'an. This research uses a descriptive-analytic approach. Data collection was carried out through participant observation, documentation and in-depth interviews with informants. The results of this research show that; First, the implementation of the sima'i method in learning nagham at IIQ Jakarta is divided into two categories, namely: (1) learning nagham Al-Qur'an which is mandatory. taught in class as the IIQ Compulsory Curriculum. (2) optional learning of Al-Qur'an nagham, namely the science of nagham which is taught as one of the extracurricular programs held by the Al-Qur'an Khat and Tilawah Institute (LKTQ). Second, the development of Nagham al-Qur'an learning at IIQ Jakarta is carried out by carrying out two activities: Intracurricular and (2) Extracurricular. Third, learning Nagham Al-Qur'an at IIQ Jakarta has both opportunities and challenges. AbstrakArtikel ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan bagaimana prosesi pembelajaran nagham Al-Qur`an di IIQ Jakarta. Di sisi lain, kajian ini ingin melihat lebih jauh tentang implementasi metode Simā’i dalam pembelajaran Nagham Al-Qur`an di IIQ Jakarta, bentuk inovasi dan pengembangannya serta hal-hal yang menjadi peluang dan tantangan dalam pembelajaran nagham al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitik. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, dokumentasi dan wawancara mendalam dengan para narasumber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; Pertama, Implementasi metode sima’i dalam pembelajaran nagham di IIQ Jakarta terbagi menjadi dua, kategori yaitu: (1) pembelajaran nagham Al-Qur`an yang bersifat wajib. diajarkan di kelas sebagai Kurikulum Wajib IIQ. (2) pembelajaran nagham Al-Qur`an yang bersifat pilihan (optional) yakni ilmu nagham yang diajarkan sebagai salah satu program ekstrakurikuler yang diadakan oleh Lembaga Khat dan Tilawah Al-Qur`an (LKTQ). Kedua, Pengembangan pembelajaran Nagham al-Qur’an di IIQ Jakarta dilakukan dengan melaksanakan dua kegiatan: Intrakurikuler dan Ekstrakurikuler Ketiga, Pembelajaran nagham al-Qur’an di IIQ Jakarta memiliki peluang sekaligus tantangan.
TERAPI AMPUH MENCEGAH DAN MENGOBATI PENYAKIT BULLYING DI MEDIA SOSIAL ERA DIGITAL PERSPEKTIF AL-QUR’AN
AbstractThis article also aims to review prevention methods and strategies to stop bullying. This research method is library research. Library research is research where the data or materials needed to complete the research come from the library either in the form of books, encyclopedias, dictionaries, journals, magazines and so on. The results of this study indicate that: there are several ways to prevent bullying, according to the messages in the Al-Qur'an surah Al-Hujurat verse 11 and surah Al-Maidah verse 54. These two verses provide ethical solutions when using social media, namely: when using social media you should use good sentences, contain good messages, and don't call with bad names. Preventive actions offered: provide spiritual awareness about the importance of preventing bullying from an early age, support cooperation and break the cycle of conflict, eliminate inferior attitudes for victims of bullying and hone assertive abilities. AbstrakArtikel ini juga bertujuan untuk mengulas metode pencegahan dan strategi untuk menghentikan tindakan bullyingMetode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Penelitian kepustakaan merupakan jenis penelitian di mana data atau materi yang dibutuhkan untuk penelitian diperoleh dari sumber-sumber di perpustakaan, seperti buku, ensiklopedia, kamus, jurnal, majalah, dan lain sebagainya. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat berbagai cara untuk mencegah perundungan, sejalan dengan pesan yang terdapat dalam Al-Qur'an, seperti dalam Surah Al-Hujurat ayat 11 dan Surah Al-Maidah ayat 54. Kedua ayat tersebut memberikan solusi dalam beretika ketika menggunakan media sosial, yaitu: saat menggunakan media sosial hendaklah menggunakan kalimat yang baik, berisi pesan-pesan yang baik, dan tidak memanggil dengan panggilan yang tidak baik. Langkah-langkah pencegahan yang diajukan meliputi: menyebarkan kesadaran spiritual mengenai pentingnya mencegah bullying sejak dini, memfasilitasi kerjasama dan memutus siklus konflik, mengatasi rasa rendah diri pada korban bullying, serta mengembangkan kemampuan asertif.