Hikmah Journal of Islamic Studies
Not a member yet
148 research outputs found
Sort by
KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM HIKAYAT PUTI BALQIS : TELAAH FILOLOGI DAN ANALISIS NILAI
AbstractLeadership is a factual theme that is always interesting to discuss throughout the history of mankind. This research uses Hikayat Puti Balqis, a manuscript originating from Surau Simaung, Sijunjung Regency, West Sumatra Province, as the object and primary source. The focus of this research is to explore the leadership values possessed by the main character in the Hikayat Puti Balqis. This research aims to describe the physical condition of the manuscript codicologically, present text edits through the critical edition method, and reveal the content of the text related to women's leadership that is still relevant today. The philological approach is used to ensure the authenticity and accuracy of the text presentation, while content analysis is applied to interpret leadership values in cultural and religious contexts. The results show that the Hikayat Puti Balqis contains four main leadership characteristics - a leader with great influence and charisma, a leader who is democratic and inclusive, a leader who is concerned about the safety of his people, and a leader who is intelligent and conscientious - and two key leadership values: wise, and diplomatic and peace-loving. This research offers a new perspective in understanding women's leadership values in the context of Islam and Malay culture. The findings not only enrich philological studies but also make a significant contribution to contemporary discussions on gender and leadership, particularly in the Islamic world and Southeast Asia. AbstrakKepemimpinan merupakan tema faktual yang selalu menarik untuk dibahas sepanjang sejarah umat manusia. Penelitian ini menggunakan Hikayat Puti Balqis, naskah yang berasal dari Surau Simaung, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat, sebagai objek dan sumber primer. Fokus penelitian ini adalah menggali nilai-nilai kepemimpinan yang dimiliki oleh tokoh utama dalam Hikayat Puti Balqis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi fisik naskah secara kodikologis, menyajikan suntingan teks melalui metode edisi kritis, serta mengungkap isi teks terkait kepemimpinan perempuan yang masih relevan hingga saat ini. Pendekatan filologi digunakan untuk memastikan otentisitas dan akurasi penyajian teks, sementara analisis isi diterapkan untuk menginterpretasikan nilai-nilai kepemimpinan dalam konteks budaya dan agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hikayat Puti Balqis memuat empat karakteristik kepemimpinan utama - yaitu pemimpin yang memiliki pengaruh besar dan kharisma, pemimpin yang demokratis dan inklusif, pemimpin yang memperhatikan keselamatan rakyatnya, serta pemimpin yang cerdas dan teliti - dan dua nilai kepemimpinan kunci: arif bijaksana, serta diplomatis dan cinta damai. Penelitian ini menawarkan perspektif baru dalam memahami nilai-nilai kepemimpinan perempuan dalam konteks Islam dan budaya Melayu. Temuan ini tidak hanya memperkaya kajian filologi tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap diskusi kontemporer tentang gender dan kepemimpinan, khususnya di dunia Islam dan Asia Tenggara
ISLAMIC BOARDING SCHOOLS AND THE THEORY OF SOCIAL CHANGE IN SOUTHEAST ASIA
AbstractThis article wants to analyze the relationship between social change theory and Islamic boarding schools in Southeast Asia. With a qualitative analysis method, in this article it is revealed that the pattern of Islamic Boarding School Education is adopted in several countries in Southeast Asia, especially in Malaysia, Southern Thailand and the Southern Philippines. Some scholars in Southeast Asia studied a lot in Islamic boarding schools in Indonesia, and developed a similar pattern after graduating from Indonesia. Islamic boarding schools in Southern Thailand still maintain the tradition of reciting with pegon or Jawi letters in Pondok and Madrasah. They form Muslim leaders in Southern Thailand, Malaysia and the Philippines as well as Muslim communities in other Southeast Asian communities. In the case of changes in Islamic boarding schools in Southeast Asia, both changes due to elements from within and from outside, the role of kyai as an actor of change occupies a very central position.AbstrakArtikel ini ingin menganalisis keterkaitan teori perubahan sosial dengan pesantren di asia Tenggara. Dengan metode analisis kualitatif, dalam artikel ini terungkap bahwa pola Pendidikan Pesantren diadopsi di beberapa negara di Asia Tenggara, khususnya di Malaysia, Thailand Selatan dan Filipina Selatan. Beberapa Ulama di Asia Tenggara banyak belajar di pesantren-pesantren di Indonesia, dan membangun pola yang mirip setelah lulus dari Indonesia. Pesantren di Thailand Selatan hingga saat ini masih menjaga tradisi mengaji dengan huruf pegon atau huruf jawi di Pondok dan Madrasah. Mereka membentuk pemimpin Muslim di Thailand Selatan, Malaysia dan Filipina serta komunitas Muslim di Asia Tenggara lainnya. Dalam kasus perubahan di pondok pesantren di Asia Tenggara, baik perubahan karena unsur dari dalam maupun dari luar, peran kyai sebagai aktor perubahan menempati posisi yang sangat sentral.
PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DISTRIBUTIF, BUDAYA SEKOLAH KOLABORATIF TERHADAP KINERJA GURU
AbstractThis study aims to conduct a systematic review the impact of distributive leadership styles and collaborative school cultures on teacher performance. The leadership style of school principals and school culture are important factors influencing teacher performance. This review uses the Systematic Literature Review (SLR) method to collect, evaluate, and synthesize relevant research from 2019 to 2024. Results from 964 articles found show that 20 articles meet the inclusion and exclusion criteria. Data analysis was conducted through literature searches in the Google Scholar database, assisted by the Publish or Perish (PoP) software. This study finds that the articles overall use various methods, including regression analysis, path analysis, correlation analysis, t-tests, and qualitative phenomenological analysis. Distributive leadership involving the delegation of responsibilities and teamwork, as well as a collaborative school culture with open communication and peer support, positively impacts teacher performance. In conclusion, adopting a distributive leadership style and building a collaborative school culture are effective ways to improve teacher performance and the quality of education in schools. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk melakukan tinjauan sistematis terhadap pengaruh gaya kepemimpinan distributif dan budaya sekolah kolaboratif terhadap kinerja guru. Gaya kepemimpinan kepala sekolah dan budaya sekolah merupakan faktor penting yang mempengaruhi kinerja guru. Tinjauan ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) untuk mengumpulkan, mengevaluasi, dan menggabungkan penelitian yang relevan dari tahun 2019 hingga 2024. Hasil dari 964 artikel yang ditemukan menunjukkan bahwa 20 artikel memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan dengan penelusuran literatur di basis data google scholar yang dibantu oleh software Publish or Perish (PoP). Penelitian ini menemukan bahwa, keseluruhan artikel menggunakan metode yang beragam; analisis regresi, analisis jalur path, analisis korelasi, uji t dan analisis kualitatif fenomenologi. Gaya kepemimpinan distributif yang melibatkan pembagian tanggung jawab dan kerja sama tim serta budaya sekolah yang kolaboratif dengan komunikasi terbuka dan dukungan antar rekan kerja berdampak positif pada kinerja guru. Kesimpulannya, mengadopsi gaya kepemimpinan distributif dan membangun budaya sekolah kolaboratif adalah cara yang efektif untuk meningkatkan kinerja guru dan kualitas pendidikan di sekolah.
PETA PENCEGAHAN BULLYING PADA KEGIATAN MATSAMA DI MADRASAH IBTIDAIYAH
AbstractBullying behavior has a great impact on Madrasah Ibtidaiyah (MI) students. The government has made various efforts to prevent bullying. But in fact, there are still bullying behaviors in schools. This study aims to map efforts to prevent bullying behavior in Matsama (Masa Taaruf Siswa Madrasah) activities at MI Sananul Ula. This type of research is qualitative. Data were obtained from observations and interviews. The subjects of this study were the head of the madrasah, teachers and students of the madrasah. After research, the development of a Matsama program oriented towards bullying prevention carried out at MI Sananul Ula Daraman Bantul Yogyakarta can be mapped into three parts. 1) doctrination, 2) rationalization and 3) evaluation. In the process, there is a process of selecting class leaders who also act as agents of change. AbstrakPerilaku bullying memiliki dampak yang besar bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI). Pemerintah telah melakukan berbagai upaya pencegahan bullying. Namun nyatanya masih saja terdapat perilaku bullying di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan upaya pencegahan perilaku bullying pada kegiatan Matsama (Masa Taaruf Siswa Madrasah) di MI Sananul Ula. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Data diperoleh dari observasi dan wawancara. Subjek penelitian ini adalah kepala madrasah, guru dan siswa madrasah. Setelah dilakukan penelitian, pengembangan program Matsama yang berorientasi pada pencegahan bullying yang dilakukan di MI Sananul Ula Daraman Bantul Yogyakarta dapat dipetakan menjadi tiga bagian. 1) doktrinasi, 2) rasionalisasi dan 3) evaluasi. Dalam prosesnya, terdapat proses pemilihan ketua kelas yang juga bertindak sebagai agen perubahan
PERAN PROGRAM 'NGAJI ON THE STREET' DALAM MENINGKATKAN NILAI MORAL KEAGAMAAN DI MASYARAKAT PERKOTAAN
AbstractThis article aims to analyze the strategy of the KQS organization in reproducing habitus and social capital through the NGAOS program in the context of revitalizing religious moral values in Sudimoro Malang City. This research uses descriptive qualitative methods, data collection techniques through participant observation, in-depth interviews, documentation and study of relevant literature. The data analysis used miles and huberman interactive analysis. The results showed that the NGAOS program itself had an impact on the habits of the Sudimoro community which changed in a positive direction because it was closer to God Almighty. moral cultivation like this is very important to do in order to keep up with the development of a very pluralistic era. the implementation of the NGAOS program itself also formed a habitus or new habit for the people of Kampung Quran Sudimoro. The study indicates that the NGAOS program significantly enhances religious practices and moral values within the Sudimoro community.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menganalisis strategi organisasi KQS dalam mereproduksi habitus dan modal sosial melalui program NGAOS dalam rangka revitalisasi nilai moral keagamaan di Sudimoro Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, teknik pengumpulan data melalui Observasi Partisipasi, wawancara mendalam, dokumentasi dan studi literatur yang relevan. Analisis datanya menggunakan analisis interaktif miles and huberman. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya program NGAOS sendiri berdampak pada kebiasaan masyarakat Sudimoro yang merubah ke arah positif karena lebih mendekatkan diri pada tuhan yang maha esa. penanaman moral seperti ini sangat penting dilakukan demi mengimbangi perkembangan zaman yang sangat majemuk. pelaksanaan program NGAOS sendiri juga membentuk habitus atau kebiasaan baru bagi masyarakat Kampung Quran Sudimoro. Studi ini menunjukkan bahwa program NGAOS secara signifikan meningkatkan praktik keagamaan dan nilai moral dalam komunitas Sudimoro
ANALISIS TERMINOLOGI PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK DALAM AL-QUR’AN
AbstractThis article aims to analyze the terms in the Qur'an related to educators and students. With the literature study method used in this study, it was revealed that educational and learning activities are essentially an interaction between educators and students; educators are the party that conveys knowledge, experience and values, while students are the party who seeks and receives that knowledge, experience and values. A number of signs must be maintained in the interaction process, so that education and learning activities are well created. Students in this context are not only as objects, but subjects of education. The Qur'an as a guide for human life regulates life from various aspects ranging from social, economic, worship, educational aspects and so on. In the aspect of education, the Qur'an emphasizes the importance of studying and the degree of knowledgeable people, educational objectives, teaching methods, to the importance of students in the world of education. Education is guidance carried out by an adult to the educated in growth so that he has personality which is Islamic. Students formally are people who are in the phase of growth and development both physically and psychologically, growth and development are characteristics of students who need guidance from an educator. In this case, educators have an important role for the continuity of education, whether or not educators have a major influence on educational outcomes for students who are the most important objects in education. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menganalisis istilah-istilah dalam al-Qur’an yang terkait dengan pendidik dan peserta didik. Dengan metode studi pustaka yang digunakan dalam penelitian ini terungkap bahwa aktivitas pendidikan dan pembelajaran hakikatnya merupakan interaksi antara pendidik dan peserta didik; pendidik sebagai pihak yang menyampaikan pengetahuan, pengalaman dan nilai, sedangkan peserta didik pihak yang mencari dan menerima pengetahuan, pengalaman dan nilai itu. Sejumlah rambu-rambu harus dipelihara dalam proses interaksi tersebut, sehingga aktivitas pendidikan dan pembelajaran tercipta dengan baik. Peserta didik dalam konteks ini bukan hanya sebagai objek, tetapi subjek pendidikan. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia mengatur kehidupan dari berbagai aspek mulai dari aspek sosial, ekonomi, ibadah, pendidikan dan lain sebagainya. Dalam aspek pendidikan, al-Qur’an menegaskan tentang pentingnya menuntut ilmu, Tingginya derajat orang yang berilmu, tujuan pendidikan, metode pengajaran, sampai dengan pentingnya peserta didik dalam dunia pendidikan.Pendidikan merupakan bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian yang Islami. Peserta didik secara formal adalah orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Dalam hal ini pendidik mempunyai peranan penting untuk berlangsungnya pendidikan, baik atau tidaknya pendidik berpengaruh besar terhadap hasil pendidikan bagi peserta didik yang merupakan obyek terpenting dalam pendidikan.
STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF BERBASIS KONSTRUKTIVISME UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PKN DI SEKOLAH DASAR
AbstractThis article aims to determine the learning outcomes of class II students at SD IX Pengasinan, Bekasi City, in civic education on mutual cooperation. The study employs a constructivism-based cooperative learning approach to evaluate its effectiveness in enhancing student knowledge. Conducted as classroom action research (PTK) with 26 students, the methodology includes planning, action, observation, and reflection stages. The results indicate a significant improvement in student scores, classified as "Very Good," across each cycle. It concludes that this learning model effectively enhances student outcomes and provides valuable insights for teachers to foster independent learning. The implication is that adopting this approach can significantly boost student engagement and academic performance. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas II SD IX Pengasinan Kota Bekasi pada mata pelajaran PKn materi gotong royong. Pendekatan yang digunakan adalah pembelajaran kooperatif berbasis konstruktivisme untuk mengevaluasi efektivitasnya dalam meningkatkan pengetahuan siswa. Penelitian ini dilaksanakan sebagai penelitian tindakan kelas (PTK) dengan melibatkan 26 siswa, melalui tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai siswa yang signifikan, berada pada kategori "Sangat Baik" di setiap siklus. Disimpulkan bahwa model pembelajaran ini efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan memberikan wawasan berharga bagi guru untuk mendukung pembelajaran mandiri. Implikasinya, penerapan pendekatan ini dapat secara signifikan meningkatkan keterlibatan dan prestasi akademik siswa.
UNLOCKING TEACHERS’ MOTIVATION: The Influence of Compensation and Work Environment in Boosting Teachers’ Teaching Skills
AbstractThis study aims to examine the influence of compensation and work environment on teachers’ motivation to improve their teaching skills. The study focuses on three variables: compensation, work environment, and teacher motivation to enhance teaching skills. This research adopts a mixed-methods approach. Data were collected through observations, interviews, and questionnaires. Quantitative data were obtained from 40 teachers at Sultan Hasanuddin Jakarta Foundation. The result of the quantitative analysis indicates that both compensation and work environment do not have a significant effect on teacher motivation to teach and innovate (with a significance value of 0.304). However, observational data and interview results demonstrate that teachers are motivated to innovate when provided with certain compensation and tailored with good and solid work environment. The findings suggest that compensation and work environment can be employed to foster teacher motivation and enhance teaching skills.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kompensasi dan lingkungan kerja terhadap motivasi guru untuk meningkatkan keterampilan mengajar mereka. Penelitian ini berfokus pada tiga variabel: kompensasi, lingkungan kerja, dan motivasi guru untuk meningkatkan keterampilan mengajar. Penelitian ini menggunakan metode campuran. Data dikumpulkan melalui observasi, interview dan kuesioner. Data kuantitatif diperoleh dari 40 orang guru di Yayasan Sultan Hasanuddin Jakarta. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa baik kompensasi maupun lingkungan kerja tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi guru untuk mengajar dan berinovasi (dengan nilai signifikansi sebesar 0,304). Namun, data observasi dan hasil wawancara menunjukkan bahwa guru termotivasi untuk berinovasi ketika diberikan kompensasi tertentu dan didukung dengan lingkungan kerja yang kondusif. Temuan ini menunjukkan bahwa kompensasi dan lingkungan kerja dapat digunakan untuk memupuk motivasi guru dan meningkatkan keterampilan mengajar.
INSIGHT INTO FOUR MAJOR LEADERSHIP CONTINGENCY THEORIES: CONSIDERING THE MODELS FOR INDONESIAN ISLAMIC EDUCATIONAL CONTEXT
Abstract This study sought to investigate different features of contingency leadership theories to find a suitable model that can adapt to the changing context. This research is a qualitative study employing qualitative meta-analysis to achieve the aim of the study, which is discovering a suitable leadership model for volatile environment as well as situating the model into Indonesian Islamic educational context. Data were gathered from journal articles and books. The result shows that among the contingency leadership theory in the literature, the leadership model proposed by Vroom-Yetton-Jago can be considered more applicable to Indonesian Islamic educational context. However, some adjustment toward the model is needed, such as considering the concept of leadership substitute or leadership neutralizer introduced by Steven Kerr and John Jermier.AbstrakPenelitian ini berusaha untuk menelaah fitur-fitur dari empat teori kepemimpinan kontingensi untuk menemukan gaya kepemimpinan yang cocok digunakan pada konteks organisasi yang berubah-ubah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik kualitatif meta-analisis untuk mencapai tujuan penelitian, yaitu menemukan model kepemimpinan yang cocok untuk lingkungan organisasi yang berubah-ubah serta mengkontekstualisasikan model tersebut pada konteks pendidikan Islam di Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari berbagai literatur seperti artikel jurnal dan buku. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di antara empat teori kepemimpinan kontingensi yang dianalisa, model kepemimpinan yang dikemukakan oleh Vroom-Yetton-Jago dapat dianggap lebih aplikatif dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia. Namun, diperlukan beberapa penyesuaian terhadap model tersebut, seperti mempertimbangkan konsep leadership substitute (pengganti kepemimpinan) atau leadership neutralizer (penetral kepemimpinan) yang diperkenalkan oleh Steven Kerr dan John Jermier
PENDIDIKAN MODERAT: PENDEKATAN ISLAM WASATHIYAH DALAM MENANGKAL INTOLERANSI DAN RADIKALISME
AbstractThis article aims to strengthen the educational discourse on counter-radicalization and intolerance that are threats to the world of education today. This phenomenon requires systematic efforts to inculcate the values of religious moderation or wasathiyah Islam through education. Using a critical discourse analysis approach, this study further explores how fundamentalism, radical, and intolerance ideas can be countered through the foundation of wasathiyah Islam and counter-radical education in the educational environment. The findings in this study suggest that Islamic wasathiyah values such as moderation (tawassuth), tolerance (tasamuh) and brotherhood (ukhuwah) need to be applied in education and included in the educational curriculum in conjunction with various subjects.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk memperkuat wacana pendidikan mengenai kontra radikalisasi dan intoleransi yang menjadi ancaman dunia pendidikan saat ini. Fenomena ini memerlukan upaya yang sistematis untuk menanamkan nilai-nilai moderasi beragama atau Islam wasathiyah melalui pendidikan. Dengan menggunakan pendekatan analisis wacana kritis, penelitian ini mengeksplorasi lebih jauh bagaimana ide-ide fundamentalisme, radikal, dan intoleransi dapat dilawan melalui landasan Islam wasathiyah dan pendidikan kontra-radikal dalam lingkungan pendidikan. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai wasatiyah Islam seperti moderasi (tawassuth), toleransi (tasamuh) dan persaudaraan (ukhuwah) perlu diterapkan dalam pendidikan dan dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dalam hubungannya dengan berbagai mata pelajaran