197,799 research outputs found
KOMUNIKASI INTERPERSONAL JANDA YANG BEKERJA DI SURABAYA
Ada dua persoalan tersebut hendak dikaji dalam skripsi ini, yaitu (1) Bagaimana proses komunikasi interpersonal janda yang bekerja di Surabaya, (2) Bagaimana hambatan-hambatan dalam proses komunikasi interpersonal janda yang bekerja.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sedangkan tipe penelitian ini menggunakan fenomenologi, Dimana fenomenologi merupakan pandangan berfikir yang lebih berfokus pada pengalaman subyektif yang dimiliki manusia, Subjek penelitian adalah janda yang bekerja berusia sekitar 27-31 tahun di Surabaya.
Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa (1) Proses komunikasi interpersonal janda yang bekerja dengan masyarakat lingkungan tempat tinggal berlangsung secara tatap muka. (2) Janda kurang bisa membagi waktu antara pekerjaan dan lingkungan sekitar sehingga komunikasi dengan masyarakat sekitar tidak berjalan dengan lancar.(3) Janda mengalami beberapa hambatan dalam proses komunikasinya dengan masyarakat sekitar.Pertama,Faktor waktu, Kedua perbedaan latar belakang, Ketiga perbedaan watak setiap individu,dan Keempat Letak tempat tinggal janda.(4) Janda memiliki cara sendiri untuk mengatasi hambatan yang terjadi dalam proses komunikasinya seperti memberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan individu lain.
Bertititik tolak dari penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi janda yang bekerja khususnya di Surabaya adalah (1) Kesadaran bahwa masyarakat itu majemuk antara satu dengan yang lainnya pasti mempunyai pandangan dan tingkah laku yang berbeda terhadap janda yang bekerja,(2) Cara berkomunikasi dan bergaul yang baik adalah terus mengasah pengalaman berkomunikasi dengan bermacam-macam orang dan terus mengutamakan prinsip saling menghormati, toleransi dan mementingkan kepentingan bersama. Untuk penelitian selanjutnya peneliti menyarankan agar dalam melakukan penelitian yang perlu dibangun adalah kedekatan peneliti dengan subyek penelitian sehingga didapat informasi yang menyeluruh dan terpercaya
JANDA DAN DUDA: GENEALOGI PENGETAHUAN DAN KULTUR MASYARAKAT TENTANG JANDA SEBAGAI PELANGGENGAN KUASA PATRIARKI
Marital status is a cultural benchmark in assuming that a person is an adult. Similarly, Janda or Duda. For Janda, the community still considers one eye when compared to Duda. Events that cause a Janda for the community (village, especially) will usually be seen by women as the guilty party. Furthermore, when the status of the Janda is officially assumed, the community will observe its activities. For example, coming home late, not working, not socializing, or anything else. The discussion will be drawn to the discourse of the body and mind of a Janda has been executed and controlled by the mind in a patriarchal culture. This condition does not occur in Duda. For any Duda, the community considers it normal. In the divorce process widowers tend not to be seen as guilty parties. This research is a qualitative study with a phenomenological method in Central Java and Yogyakarta. The results of this study indicate that from the beginning until today the condition of women (Janda) has not changed much, The rights attached to Janda are reproduced by the public which gave rise to marginalization and stereotypes; The social space for Janda has shifted to the imbalance of power relations; myths and symbolic violence experienced by Janda because culturally the behavior of Janda is a public concern; Symbolic violence is experienced by Janda due to negative assumptions about their activities; patriarchal power always shackles women into a space of injustice; A public dominated by patriarchal culture eventually forms an unequal power discourse
An Analysis of the Cost of the Supporting and Guarantee Agricultural and Forestry Fund (SGAFF) in the Czech Republic
The paper analyzes the cost to the Czech state budget of the Supporting and Guarantee Agricultural and Forestry Fund (SGAFF). In the empirical part of the paper, the author shows that the SGAFF portfolio has sufficient value to cover the expected costs of the credit guarantees and subsidies offered by the fund. The theoretical model looks at government interventions designed to decrease the credit rationing of farmers with high probability of success. The theoretical model shows that, with uniform non-targeted supports, the Czech government unambiguously prefers lump-sum guarantees to interest-rate subsidies. With support targeted wholly to disadvantaged farmers, the cost of lump-sum guarantees, proportional guarantees, and interest-rates subsidies are all equal.credit; guarantees; subsidies; transition
MAKNA STATUS JANDA PADA MASYARAKAT JAWA DI PASAMAN BARAT (Studi Perempuan Janda Di Nagari Persiapan Koto Gadang Jaya, Nagari Kinali, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat)
Setiap perempuan pada hakikatnya ingin pernikahan dan rumah tangganya bertahan lama. Namun pada kenyataannya hal tersebut tidak selamanya terjadi. Bercerai dan menyandang status sebagai seorang janda adalah hal yang tidak diinginkan oleh setiap perempuan. Status janda sering diidentikkan dengan perilaku dan penampilan yang buruk, serta status janda seringkali mendapat pandangan buruk dari masyarakat. Perempuan berstatus janda memiliki pemaknaan tersendiri atas kondisi yang terjadi pada dirinya. Penelitian ini membahas mengenai makna status janda pada masyarakat jawa di Jorong Koto Gadang Jaya, Nagari Kinali, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) Mendeskripsikan label status janda pada masyarakat jawa di Jorong Koto Gadang Jaya. 2) Menggali makna status janda dalam pandangan aktor (janda) pada masyarakat jawa di Jorong Koto Gadang Jaya.
Dalam menjelaskan makna dan label status janda pada masyarakat jawa ini, peneliti menggunakan teori Labelling Edwin M. Lemert. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tipe pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu dengan menentukan kriteria-kriteria informan yang dibutuhkan untuk mendapatkan informasi yang benar dan valid.
Hasil temuan dari penelitian ini menunjukkan adanya label yang diterima oleh janda terkait dengan statusnya juga berbeda-beda yaitu label rondo mentel, pelakor (perebut laki orang), dan rondo anyaran. Selain label negatif, ada juga label positif yang diterima oleh janda, yaitu label sebagai perempuan mandiri, perempuan terhormat, dan ramah dan tidak sombong. Sementara itu makna status janda dalam pandangan aktor (janda) pada masyarakat jawa ialah janda dimaknai sebagai kebebasan : kebebasan dari KDRT dan pernikahan yang tidak harmonis, kebebasan dalam menentukan kebahagiaanya sendiri, janda dimaknai sebagai bentuk evaluasi diri, dan janda dimaknai sebagai kemandirian. Dalam penelitian ini, informan berusaha meyakinkan masyarakat bahwa dirinya tidak seperti yang dikatakan oleh teori labeling. Penelitian ini dijelaskan menggunakan teori interaksionisme simbolik dimana mereka memaknai status jandanya dengan cara yang berbeda berdasarkan situasi dan pengalamannya ditengah masyarakat
Cherchez la femme! Cherchez Laura A. Janda!
In The Mohicans of Paris (1871), Dumas’s detective concludes at some point that a woman was necessarily involved in an investigated crime, leading him to famously exclaim: “Cherchez la femme!”, which is translated to English as “Look for the woman!” (Horn, 1991). One does not need to be an actual detective to reveal the purpose of the reviewed book Each Venture a New Beginning: Studies in Honor of Laura A. Janda. Needless to say, I do not want to imply in any way that Janda has committed a crime. Still, I find the expression rather apposite because the reader can definitely feel her presence rooted in all the selected articles of the present book. Editors Anastasia Makarova, Stephen M. Dickey, and Dagmar Divjak have compiled a volume of studies informed by and proceeding from the voluminous research contributions of Janda to cognitive linguistics, Slavic linguistics, and also general linguistics
TINGKAT KESEJAHTERAAN,POLA KEHIDUPAN DAN MEKANISME SURVIVAL WANITA JANDA (STUDI KASUS KEHIDUPAN WANlTA JANDA DI KANTONG-KANTONG KEMlSKlNAN DI KOTAMADYA SURABAYA)
Secara umum, tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menggambarkan tingkat kesejahteraan wanita Janda yang tinggal di kantong-kantong kemiskinan di perkotaan sekaligus menggambarkan tingkat kerentanan dan keterisoliran sos1al-budayanya. Penelitian ini juga bettujuan untuk menggambarkan pola kehidupan wanita janda dan strategi kelangsungan hidup (mekanisme survival) wanita Janda dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
PRESENTASI DIRI PADA JANDA PENGGUNA LAYANAN ONLINE DATING
Penelitan ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai presentasi
diri pada janda pengguna layanan online dating. Fokus penelitian ini adalah untuk
memahami seperti apa gambaran presentasi diri pada janda pengguna layanan
online dating. Presentasi diri mengacu pada usaha kita untuk mengontrol kesan
yang ingin kita sampaikan kepada orang lain. Tujuan dasar dari presentasi diri
sendiri adalah menata interaksi agar mendapat hasil yang kita inginkan (Taylor,
dkk., 2009). Selain dilakukan oleh individu presentasi diri bisa juga dilakukan
oleh kelompok individu/tim/organisasi (Boyer, dkk, 2006:4 dalam Luik, 2013).
Penelitian ini melibatkan 3 orang partisipan penelitian yang telah berstatus
janda cerai dan melakukan aktifitas online dating. Ketiga partisipan penelitian ini
kemudian diwawancarai dengan menggunakan wawancara semi terstruktur untuk
mengetahui gambaran presentasi diri janda pengguna layanan online dating.
Penelitian ini menggunakan tipe penelitian Interpretative Phenomenological
Analysis (IPA). IPA memungkinkan peneliti untuk menganalisis gambaran
presentasi diri janda pengguna layanan online dating melalui sudut pandang
partisipan penelitian dan sudut pandang peneliti.
Hasil dari penelitian ini menunjukan ketiga partisipan untuk
mempresentasikan dirinya dalam melakukan aktifitas online dating cenderung
menggunakan media sosial dan fasilitas yang digunakan untuk menunjang
presentasi dirinya tersebut adalah status dan foto/gambar yang menarik agar
lawan jenis atau pria yang disukai tertarik untuk berkomunikasi atau menjalin
hubungan lebih lanjut. Selain itu hasil penelitian ini juga menunjukan hambatan
yang dialami ketiga partisipan untuk mempresentasi diri dalam melakukan
aktifitas online dating adalah adanya gangguan mantan suami, status janda atau
single parent yang menjadi beban, penilaian negatif dari orang lain terkait status
janda atau single parent yang dimiliki, komentar negatif dari orang lain atas
postingan di media sosial, serta masalah keuangan atau ekonomi
Perbandingan Pembagian Warisan Untuk Janda Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata Dan Hukum Waris Islam
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pembagian warisan untuk janda menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Hukum Waris Islam, meliputi hak janda sebagai ahli waris, pembagian warisan untuk janda, serta persamaan dan perbedaan pembagian warisan untuk janda menurut kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan hukum Waris islam. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukan, bahwa pembagian warisan untuk janda menurut kitab Undang-Undang Hukum Perdata buku II tentang benda dan menurut Hukum Waris Islam menggunakan ketentuan dalam Al-Quran yang di tuangkan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Buku II tentang kewarisan. Pembagian warisan untuk janda menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata di persamakan dengan bagian seorang anak sah.Menurut Hukum Waris Islam bagian warisan uuntuk duda1/2 bagian harta warisan apabila pewaris tidak meninggalkan anak dan ¼ bagian harta warisan apabila pewaris m,eninggalkan anak. Bagian untuk janda ¼ bagian dari harta warisan apabila pewaris tidak meninggalkan anak dan 1/8 bagian apabila meninggalkan anak
Hak waris janda dalam tradisi masyarakat osing di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi
INDONESIA:
Hak waris janda adalah sesuatu yang menjadi hak milik seorang janda yang berasal dari harta peninggalan suaminya. Tradisi masyarakat Osing adalah suatu adat atau kebiasaan yang berasal dari nenek moyang sebuah suku Osing (salah satu suku Jawa yang ada di Kabupaten Banyuwangi). Dalam tradisi masyarakat tersebut terdapat ketentuan bahwa ada janda yang tidak bisa mendapatkan bagian warisan dari harta peninggalan suaminya dan tradisi tersebut dilestarikan oleh masyarakatnya. Padahal semestinya janda yang ditinggal mati suaminya berhak mendapatkan harta warisan dari peninggalan suaminya tersebut. Oleh karena itu pada penelitian ini, peneliti mengambil judul “Hak Waris Janda Dalam Tradisi Masyarakat Osing Di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi.
Dalam penelitian ini, peneliti membuat rumusan masalah, yaitu bagaimana kedudukan dan hak janda terhadap harta waris pada masyarakat Osing yang tinggal di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini tergolong penelitian lapangan (field research) dengan jenis penelitian sifatnya deskriptif. Dalam teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan metode interview dan dokumentasi, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif.
Berdasarkan data yang diperoleh dari para informan di daerah penelitian, diketahui bahwa ada beberapa hal yang melatar belakangi pembagian harta waris pada masyarakat Osing, di antaranya yaitu sistem pembagian warisnya yang mana proses pembagian waris di daerah penelitian bisa dilakukan tidak hanya ketika pewaris telah meninggal dunia akan tetapi ketika pewaris masih hidup pun pembagian harta waris bisa dilakukan tentunya melalui beberapa proses. Di samping itu ada pembedaan harta yang akan diwariskan yaitu yang berasal dari harta asal dari suami/istri dan harta gono-gini. Ada juga kriteria atau macam-macam janda yang nantinya bisa menerima harta waris atau tidak.
Dari data yang diperoleh kemudian dianalisis, diketahui bahwa proses pembagian waris yang dilakukan ketika pewaris masih hidup tidak sesuai dengan hukum waris Islam. Mengenai hak janda terhadap harta waris, ada beberapa faktor yang membuat janda tersebut bisa mendapat harta waris atau tidak, di antaranya faktor hubungan suami istri, faktor adanya keturunan dan faktor lamanya usia perkawinan (berumah tangga)
Sacrum Nuptiale, Das ist Treuhertziger und glückseliger Wundsch/ Dem Durchlauchtigsten/ Hochgebohrnen Fürsten und Herrn/ Herrn Friedrich Wilhelmen/ Hertzogen zu Sachsen/ Jülich/ Cleve/ und Berg ... Und Der Durchlauchtigsten/ Hochgebohrnen Fürstin und Frauen/ Frauen Magdalenen Sibillen/ zu Dennemarck ... Princessin/ gebohrner aus Churfürstlichem Stam[m] zu Sachsen/ Hertzogin zu Schleswig ... Wittwen/ Die da Ihr Fürstliches Hochzeitliches Ehren-Fest und Beylager in ... Dreßden ... den 11. Octobis ... Celebrabant
... gestllet von Matthia Janda gewesenen Pfarrern ... in der Neu Stadt PragaErscheinungsjahr nach einem ChronogrammText teilw. dt., teilw. lat
- …
