238 research outputs found
STUDI KORELASI PRESTASI KERJA DAN LOYALITAS KERJA DENGAN PROMOSI JABATAN PADA KARYAWAN PT . PABELAN SURAKARTA TAHUN 2006
ABSTRAK
Ariefianto Ismawan. STUDI KORELASI PRESTASI KERJA DAN LOYALITAS
KERJA DENGAN PROMOSI JABATAN PADA KARYAWAN PT. PABELAN
SURAKARTA TAHUN 2006. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, Desember 2006.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan positif
antara: (1) Prestasi kerja dengan promosi jabatan pada karyawan PT. PABELAN
Surakarta tahun 2006. (2) loyalitas kerja dengan promosi jabatan pada karyawan
PT. PABELAN Surakarta tahun 2006. (3) prestasi kerja dan loyalitas kerja secara
bersama-sama dengan promosi jabatan pada karyawan PT. PABELAN Surakarta
tahun 2006.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi
penelitian adalah seluruh karyawan PT. PABELAN Surakarta pada tahun 2006
yang berjumlah 241orang karyawan dengan sampel berjumlah 44 karyawan.
Teknik sampling yang digunakan adalah random sampling dengan cara undian.
Teknik pengumpulan data utama untuk prestasi kerja, loyalitas karyawan dan
promosi jabatan menggunakan angket dan didukung dengan dokumentasi. Teknik
analisis data menggunakan teknik analisis statistik dengan teknik korelasi regresi
ganda. Uji persyaratan analisis menggunakan uji normalitas, uji linieritas dan
keberartian serta uji independensi.
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang dilakukan dengan
menggunakan taraf signifikansi 5% dapat disimpulkan : (1) Ada hubungan positif
antara prestasi kerja dengan promosi jabatan pada karyawan PT. PABELAN
Surakarta tahun 2006. Hal ini ditunjukkan dari hasil perhitungan yang diperoleh
rHitung > rTabel yaitu 0,403 > 0,297, (2) Ada hubungan positif antara loyalitas kerja
dengan promosi jabatan pada karyawan PT. PABELAN Surakarta tahun 2006.
Hal ini ditunjukkan dari hasil perhitungan rHitung > rTabel yaitu 0,414 > 0,297, (3)
Ada hubungan yang positif antara prestasi kerja dan loyalitas kerja secara
bersama-sama dengan promosi jabatan pada karyawan PT. PABELAN Surakarta
tahun 2006, dengan koefisien korelasi 0,3544. Untuk uji keberartian korelasi
ganda dilakukan uji F dengan db = 2 dan dk = 41 dan diperoleh FHitung > FTabel
yaitu 11,253 > 3,22. Persamaan garis regresinya yaitu: Y = 9,1056 + 0,2970X1 +
0,3529X2
KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN BURUNG DI PREVAB TAMAN NASIONAL KUTAI KALIMANTAN TIMUR
ABSTRAK Ismawan, Asa. 2015. Kelimpahan dan Keanekaragaman Burung di Prevab Taman Nasional Kutai Kalimantan Timur. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sofia EryRahayu, S.Pd.,M.Si., (II) Drs. H. AgusDharmawan, M.Si. Kata Kunci: Kelimpahan, Keanekaragaman, Burung, Prevab, Taman Nasional Kutai. Burung merupakan salah satu kekayaan hayati yang hidup spesifik di habitat tertentu. Prevab yang tersusun atas hutan sekunder merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan berbagai jenis burung dan memiliki nilai konservasi tinggi serta dijadikan objek wisata alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan keanekaragaman burung di Prevab Taman Nasional Kutai Kalimantan Timur. Penelitian ini dengan pendekatan deskriptif eksploratif menggunakan Metode Titik atau point count method. Penelitian dilakukan pada tanggal 21-30 Januari 2015 di Prevab Taman Nasional Kutai. Pengamatan pada pagi hari (06.00-09.00 WITA) dan sore hari (15.00-18.00 WITA). Pengamatan dilakukan melalui perjumpaan langsung dan suara. Pengukuran suhu dan kelembaban menggunakan alat termohigrometer. Pencatatan vegetasi habitat berupa jenis-jenis pohon. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebanyak 22 jenis burung dari 15 famili.Spesies burung yang ditemukan terdiri dari 6 ordo;Bucerotiformes, Columbiformes, Cuculiformes, Coraciiformes, Piciformes, dan Passeriformes.Indeks keanekaragaman jenis burung (H’) termasuk kategori sedang. Nilai indeks kemerataan jenis burung (E) termasuk kategori sedang sampai tinggi. Sedangkan Nilai indeks kekayaan jenis burung (R) termasuk kategori tinggi.Spesies burung kangkareng perut putih (Anthracocerosalbirostris) memiliki total indeks kelimpahan relatif dan frekuensi perjumpaan tertinggi dibandingkan dengan spesies burung lainnya
Analisis Stabilitas Dan Perencanaan Perkuatan Pada Lereng Kritis Di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang Akibat Pengaruh Infiltrasi Air Hujan
"RINGKASAN
Nindia Rizky Ismawan, Jurusan Teknik Sipil Universitas Brawijaya, Juli 2021, Analisis Stabilitas Dan Perencanaan Perkuatan Pada Lereng Kritis Di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang Akibat Pengaruh Infiltrasi Air Hujan, Dosen Pembimbing: Eko Andy Suryo dan Arief Rachamsyah
Bencana merupakan suatu peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang termasuk kabupaten yang memiliki beberapa wilayah rawan longsor dan cukup berbahaya. Kecamatan yang memiliki tingkat kerawanan bencana longsor cukup tinggi adalah di Kecamatan Pujon, Desa Bendosari. Banyak sekali daerah perbukitan di wilayah itu yang kemiringannya hingga 40%. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui stabilitas lereng kritis pada Desa Bendosari, Kecamatan Pujon akibat infiltrasi air hujan. Pada penelitian ini dilakukan pengujian laboratoriu, tanah untuk mengetahui jenis dan karakteristik tanah, selanjutnya pengujian geolistrik dan topografi untuk mengetahui kondisi eksisting dan muka air tanah pada lereng kritis dan analisis safety factor (SF) menggunakaan SLOPE/W untuk lereng dengan pengaruh infiltrasi air hujan. Diketahui dari hasil pengujian tanah didapatkan kondisi tanah adalah dominan tanah lempung. Setelah itu dilanjutkan pengolahan data geolistrik untuk mengetahui kondisi eksisting lereng dan kedalaman muka air tanah, sebagai dasar untuk analisis menggunakan SLOPE/W. Dari hasil analisis didapatkan bahwa nilai SF dalam kondisi hujan adalah 0,167. Beberapa alternatif perbaikan tanah yang harus dilakukan yaitu melakukan perkuatan pada kaki lereng, dan melakukan penanaman tumbuhan penguat lereng pada tubuh lereng.
PERANCANGAN INTELLECTUAL PROPERTY 'VASUDARAKTA' GUIDELINE DALAM BENTUK ARTBOOK
ABSTRAK Nova, Ismawan. 2017. Perancangan Intellectual property ‘Vasudarakta’ guideline dalam bentuk artbook. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Moch. Abdul Rohman S.Sn., M.Sn (II) Dimas Rifqi Novica S.Sn, M.Ds Kata kunci : Concept art, Intellectual property, artbookIndonesia kaya akan sejarahnya, mulai dari cerita rakyat maupun cerita legenda dari sebuah kerajaan. Bukti - bukti sejarah kerajaan ini dibuktikan dengan adanya candi - candi di beberapa wilayah indonesia. Sejarah kerajaan di indonesia sangat kental dengan pertumpahan darah dan perebutan tahta. Sebagai contoh adalah Kerajaan Singosari, kerajaan yang didirikan oleh Ken Arok mengalami pertumpahan darah dalam perebutan kekuasaan. Hal ini Disebutkan dalam buku peradaban jawa karya Supratikno raharjo. Tujuan penciptaan karya ini bertujuan untuk beberapa pengembangan. Penciptaan animasi ini dimulai dengan mengembangkan guideline sebagai referensi awal untuk menciptakan sebuah animasi, yakni merancang semua aset dan kemudian disusun disebuah buku. Dalam dunia animasi saat ini rancangan tentang cerita, ide, karakter adalah sebuah Intellectual property. Penggunaan rancangan Intellectual property saat ini sebuah keharusan, karena penggunaan Intellectual property inilah yang nantinya bisa bersaing di era modern. Intellectual Property yang artinya adalah Kekayaan Intelektual atau Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau Hak Milik Intelektual berupa kreasi dari pikiran berupa literatur, karya artistik,simbol maupun nama yang dikomersilkan.Metode perancangan yang digunakan adalah model perancangan dari yongky safanayong. Data yang dianalis tentunya adalah data yang berhubungan dengan industri kreatif. Variabel yang digunakan untuk analisis ini adalah variabel sasaran geografis, yakni memikirkan tentang keadaan lokasi referensi yang dipilih, analisis perilaku yang terdapat dalam cerita juga diperhatikan supaya tidak menjadi bumerang yang menyampaikan pesan lain. Hasil dari kumpulan data yang telah dibahas diatas adalah perancangan Intellectual property ini nantinya akan membahas lima poin penting tentang yakni konsep dunia, konsep desain karakter, desain lingkungan, konsep pakaian dan konsep penceritaan. Konsep utama dari Intellectual property dari sejarah kerajaan di jawa dan nusantara yang penuh dengan pertumpahan darah. Dari konsep Cerita cerita sejarah ini maka dihasilkan sebuah Intellectual property yang menjadikan cerita sejarah sebagai referensinya. Kesimpulan dari perancangan intellectual property ini adalah menjadikan kekayaan sejarah seperti candi maupun cerit sejarah untuk dibuat untuk dijadikan ide utama
Analisis Determinan Sosial Terhadap Kejadian Stunting di Puskesmas Pantoloan Kota Palu.
ANALISIS DETERMINAN SOSIAL TERHADAP KEJADIAN STUNTING DI PUSKESMAS PANTOLOAN KOTA PALU
Ketut Suarayasa*., Sumarni**.,Zainul Ramadhan***., Rifky Mulya Ismawan****
*Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
**Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Latar Belakang : Stunting merupakan kegagalan pertumbuhan anak, dimana dalam hal ini mengacu terhadap pertumbuhan linear dan juga kekurangan gizi anak. Dampak dari stunting dapat menyebabkan peningkatan risiko morbiditas dan mobilitas serta mengalami keterlambatan perkembangan motorik dan mental anak. Puskesmas Pantoloan merupakan salah satu puskesmas dengan prevalensi kejadian stunting tertinggi di Kota Palu.
Tujuan : Mengetahui hubungan antara determinan sosial terhadap kejadian stunting di Puskesmas Pantoloan Kota Palu
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik observasional dengan melakukan pendekatan retrospective dengan metode case control. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengisian kuesioner oleh orangtua balita stunting dan tidak stunting. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian adalah 144 balita, dengan jumlah 72 balita stunting dan 72 balita tidak stunting.
Hasil : Penelitian yang dilakukan didapatkan hasil tidak adanya hubungan antara determinan sosial dengan kejadian stunting. Pendidikan kepala keluarga memberikan hasil (p=0.172) dan pendidikan ibu (p=0.696), pekerjaan kepala keluarga memberikan hasil (p=0.222) dan pekerjaan ibu memberikan hasil (p=0.731), dan pendapatan kepala keluarga memberikan hasil (p=0.111) dan pendapatan ibu memberikan hasil (p=1.000).
Kesimpulan : Pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, dan pendapatan orangtua tidak memiliki hubungan dengan kejadian stunting di Puskesmas Pantoloan Kota Palu.
Kata Kunci : Stunting, pendidikan, pekerjaan, pendapata
PEMBENTUKAN PENGATURAN BATAS MAKSIMUM RESIDU ZAT ETHYLENE OXIDE PADA BAHAN TAMBAHAN PANGAN SEBAGAI BENTUK PERLINDUNGAN KONSUMEN (STUDI PERBANDINGAN KETENTUAN BATAS MAKSIMUM RESIDU ZAT ETILEN OKSIDA PADA BAHAN TAMBAHAN PANGAN DI INDONESIA DENGAN KOREA SELATAN DAN UNI EROPA)
Almira Thalysa Ismawan, Djumikasih, Diah Pawestri Maharani
Fakultas Hukum Universitas Brawijaya
Jl. MT. Haryono No. 169 Malang
e-mail: [email protected]
Abstrak
Dengan ditemukannya pangan olahan mengandung etilen oksida berlebihan yang dapat membahayakan kesehatan konsumen maka dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hak konsumen sebagaimana diatur dalam Pasal 4 huruf a Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Hal tersebut dikarenakan adanya ketidaklengkapan norma dalam Pasal 9 Ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2019 Tentang Keamanan Pangan. Berdasarkan permasalahan tersebut, (1) Bagaimana perlindungan hukum bagi konsumen atas ketidaklengkapan norma di Indonesia terhadap beredarnya pangan yang mengandung zat etilen oksida sebagai zat tambahan pangan yang berlebihan? (2) Bagaimana konsep transplantasi hukum dari Regulation (EC) No 1333/2008 of The European Parliament And of The Council on Food Additives dan South Korean Positive List System ke peraturan Indonesia sebagai pembentukan peraturan mengenai batas maksimum penggunaan zat etilen oksida pada pangan?. Berdasarkan hasil analisis penulis, (1) Perlindungan hukum secara preventif dapat menambahkan zat etilen oksida beserta batas maksimum penggunaannya sebagai bahan tambahan pangan dalam lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan. Sedangkan, perlindungan hukum represif diberikan sanksi administratif bagi pelaku usaha yang menggunakan etilen oksida berlebihan berupa denda, penghentian sementara produksi, penarikan pangan dari peredaran, ganti rugi dan/atau pencabutan izin. (2) Untuk mengisi ketidaklengkapan norma dapat mengadopsi South Korean Positive List System dengan pertimbangan sistem hukum yang sama serta berdasarkan prinsip As Low As Reasonably Achievable (ALARA).
Kata Kunci: etilen oksida, perlindungan konsumen
Abstract
Processed food containing excessive ethylene oxide can be harmful to the human body, and this issue is considered a violation of consumer rights as governed in Article 4 letter a of Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection simply because the norm concerned is incomplete, especially in Article 9 paragraph (2) of Government Regulation Number 86 of 2019 concerning Food Safety. Departing from this issue, this research aims to investigate (1) the legal protection for consumers concerning this incompleteness of the norm in Indonesia over the distribution of food products containing ethylene oxide as an excessive food additive and (2) the transplantation of the law of the Regulation (EC) No 1333/2008 of the European Parliament and of the Council on Food Additives and South Korean Positive List System into the regulation in Indonesia to help set the regulation concerning the maximum limit of the use of ethylene oxide in food. The research analysis shows that (1) preventive legal protection can be given by including ethylene oxide and the maximum limit of the use of food additives in the Government Regulation Number 86 of 2019 concerning Food Safety. The repressive legal protection, on the other hand, involves a fine imposed as an administrative sanction, temporary discontinuation of the products concerned, product recall from the market, compensation and/or license revocation; (2) to fill the legal loophole in the norm, it is essential to adopt South Korean Positive List System by considering similar legal systems pertaining to the ALARA principle.
Keywords: ethylene oxide, consumer protectio
- …
