1,720,963 research outputs found
Penanaman Karakter Moderat Santri Melalui Program Pendidikan Diniyah Formal Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin
The importance of cultivating moderate character in santri as a result of efforts to prevent radicalism and terrorism in Indonesia as well as instilling moderate character in santri so that they can live in harmony in Indonesia within Indonesia's diversity. The formal diniyah education program was designed by the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia to produce a moderate cadre of ulama with the characteristics of the six moderate characteristics of the students of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia, implemented at the Nurul Jannah Islamic Boarding School in Banjarmasin and capable of producing a cadre of ulama who are broad-minded and have a moderate character. The focus of the problem in this research is the form of cultivating the moderate character of santri which includes six moderate characters of santri of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia through the formal diniyah education program at the Nurul Jannah Islamic Boarding School, Banjarmasin, as well as the factors that support and hinder its implementation. Data collection techniques for this research include using interviews, observation and documentation. cultivating moderate character for santri which includes six moderate character traits for santri. The Ministry of Religion of the Republic of Indonesia uses character cultivation methods such as example, habituation, giving advice, targhib wa tahzib, and the takzir method which is in accordance with the principles of cultivating moderate character of the Republic of Indonesia Ministry of Religion. Supporting factors include cooperation from all parties involved, intensive character cultivation, and strong determination and motivation from the students. Meanwhile, inhibiting factors are the lack of quantity and quality of teachers, excessive use of devices outside school hours, and lack of cooperation from parents.Latar belakang dalam penelitian ini adalah pentingnya penanaman karakter moderat santri sebagai akibat dari upaya penangkalan radikalisme dan terorisme di Indonesia serta menanamkan santri karakter moderat agar dapat hidup rukun di Indonesia dalam keberagaman Indonesia. Program pendidikan diniyah formal dirancang oleh Kementerian Agama RI untuk mencetak kader ulama yang moderat dengan ciri enam karakter moderat santri Kementerian Agama RI, diterapkan di Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin dan mampu mencetak kader ulama yang berwawasan luas dan berkarakter moderat.Fokus masalah dalam penelitian ini adalah bentuk penanaman karakter moderat santri yang meliputi enam karakter moderat santri Kementerian Agama RI melalui program pendidikan diniyah formal di Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam pelaksanaannya.Teknik pengumpulan data penelitian ini diantaranya melalui wawancara, observasi dan dokumentasi, semua data yang dikumpulkan diproses secara sistematis melalui proses editing, koleksi, dan mengklasifikasikan data. Setelah itu, semua data di analisis secara deskriptif kualitatif. Lalu, disimpulkan dengan menggunakan metode induktif.Hasil penelitian menyebutkan bentuk penanaman karakter moderat santri yang meliputi enam karakter moderat santri Kementerian Agama RI menggunakan metode-metode penanaman karakter seperti keteladanan, pembiasaan, pemberian nasihat, targhib wa tahzib, dan metode takzir yang sesuai dengan prinsip-prinsip penanaman karakter moderat Kementerian Agama RI. Faktor yang mendukung diantaranya adalah kerjasama dari seluruh pihak yang terlibat, penanaman karakter yang intensif, serta tekad dan motivasi kuat dari santri. Sedangkan faktor yang menghambat adalah kurangnya kuantitas dan kualitas guru pengajar, penggunaan gawai yang berlebihan di luar jam sekolah, serta kurangnya kerjasama dari orang tua
Development of The Indonesian Islamic Education Curriculum In The Era of Globalization Challanges: Study of The Thoughts of Indonesian Islamic Education Figures
The challenges of modern progress in the era of globalization require various changes, especially in the field of Islamic education. Islamic education as the main forum for producing the nation\u27s generation is expected to be able to adapt to changing times in the era of globalization. Including in terms of curriculum development, which is the main basis for the success of Islamic education, it must be able to continue to innovate in facing the challenges of the times as well as maintaining its identity as part of instilling Islamic values in the era of globalization. This is the focus of research in this study in revealing the thoughts of contemporary Islamic education figures in the context of developing the Islamic education curriculum in the era of globalization. This research uses a qualitative approach to literature study in several scientific journals and books related to research. The results of this research explain that contemporary Islamic education figures such as Abdurrahman Wahid, Azyumardi Azra, Hasan Langgulung, and Amin Abdullah have attempted to express their thoughts in developing an Islamic education curriculum in Indonesia in facing the challenges of globalization, using a cultural, skills and human nature approach. It is hoped that it can become a basis for developing the Indonesian Islamic education curriculum in facing the challenges of globalizatio
Implementasi Pendidikan Enam Dimensi Karakter Profil Pelajar Pancasila dalam Pembelajaran PAI di SMA Kota Pangkalan Bun
Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya pendidikan
karakter di tengah tantangan globalisasi, arus informasi digital, dan kemerosotan
nilai-nilai moral generasi muda. Kurikulum Merdeka hadir sebagai solusi
pendidikan yang berorientasi pada penguatan karakter pelajar, terutama melalui
implementasi pendidikan enam dimensi karakter profil pelajar Pancasila dalam
setiap aspek pembelajaran PAI. Enam dimensi tersebut meliputi: (1) beriman,
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; (2) berkebhinekaan
global; (3) bergotong royong; (4) bernalar kritis; (5) mandiri; dan (6) kreatif. Tujuan
penelitian ini untuk mendeskripsikan perencanaan, mengeksplorasi pelaksanaan,
serta mengidentifikasi evaluasi pendidikan enam dimensi karakter Profil Pelajar
Pancasila dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Kota
Pangkalan Bun.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (field research)
dengan pendekatan kualitatif metode deskriptif di tiga SMA, yakni SMAN 1
sebagai sekolah unggulan, SMAN 3 Pangkalan Bun sebagai sekolah penggerak, dan
SMAS Islam Al-Hasyimiyyah Pangkalan Bun sebagai sekolah swasta berbasis
Islam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek perencanaan, guru PAI
merumuskan tujuan, materi, metode, dan evaluasi yang terintegrasi dengan enam
dimensi karakter. Tujuan pembelajaran diarahkan tidak hanya pada capaian
kognitif, tetapi juga pembiasaan sikap dan akhlak. Materi disusun integratif, metode
dipilih variatif (pembiasaan, diskusi, studi kasus, proyek), dan evaluasi dirancang
autentik melalui rubrik, jurnal refleksi, serta portofolio. Pada aspek pelaksanaan,
pembelajaran PAI berjalan aktif dan kontekstual. Dimensi religius ditekankan
melalui pembiasaan ibadah dan teladan guru, dimensi kebhinekaan melalui dialog
toleransi dan khilafiyah, dimensi gotong royong lewat kerja kelompok dan proyek
sosial, dimensi kritis melalui diskusi dan analisis isu aktual, dimensi mandiri
melalui penugasan individu dan refleksi, serta dimensi kreatif melalui karya digital
maupun seni Islami. Media pembelajaran bervariasi dari kitab suci, literatur klasik,
hingga media digital. Pada aspek evaluasi, guru menggunakan instrumen yang
beragam seperti jurnal ibadah, portofolio, rubrik kolaborasi, hingga karya kreatif
siswa. Bentuk penilaian bersifat autentik, reflektif, dan menyentuh kognitif, afektif,
serta psikomotor. Sekolah negeri cenderung menekankan evaluasi akademik
kontekstual, sedangkan sekolah Islam berbasis pondok menambahkan evaluasi
holistik yang mencakup kehidupan asrama dan pembiasaan spiritual
Penanaman Karakter Moderat Santri Melalui Program Pendidikan Diniyah Formal Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin
Latar belakang dalam penelitian ini adalah pentingnya penanaman karakter
moderat santri sebagai akibat dari upaya penangkalan radikalisme dan terorisme di
Indonesia serta menanamkan santri karakter moderat agar dapat hidup rukun di
Indonesia dalam keberagaman Indonesia. Program pendidikan diniyah formal
dirancang oleh Kementerian Agama RI untuk mencetak kader ulama yang moderat
dengan ciri enam karakter moderat santri Kementerian Agama RI, diterapkan di
Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin dan mampu mencetak kader ulama
yang berwawasan luas dan berkarakter moderat.
Fokus masalah dalam penelitian ini adalah bentuk penanaman karakter
moderat santri yang meliputi enam karakter moderat santri Kementerian Agama RI
melalui program pendidikan diniyah formal di Pondok Pesantren Nurul Jannah
Banjarmasin, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam
pelaksanaannya.
Teknik pengumpulan data penelitian ini diantaranya melalui wawancara,
observasi dan dokumentasi, semua data yang dikumpulkan diproses secara
sistematis melalui proses editing, koleksi, dan mengklasifikasikan data. Setelah itu,
semua data di analisis secara deskriptif kualitatif. Lalu, disimpulkan dengan
menggunakan metode induktif.
Hasil penelitian menyebutkan bentuk penanaman karakter moderat santri yang
meliputi enam karakter moderat santri Kementerian Agama RI menggunakan
metode-metode penanaman karakter seperti keteladanan, pembiasaan, pemberian
nasihat, targhib wa tahzib, dan metode takzir yang sesuai dengan prinsip-prinsip
penanaman karakter moderat Kementerian Agama RI. Faktor yang mendukung
diantaranya adalah kerjasama dari seluruh pihak yang terlibat, penanaman karakter
yang intensif, serta tekad dan motivasi kuat dari santri. Sedangkan faktor yang
menghambat adalah kurangnya kuantitas dan kualitas guru pengajar, penggunaan
gawai yang berlebihan di luar jam sekolah, serta kurangnya kerjasama dari orang
tua
Penanaman Karakter Moderat Santri Melalui Program Pendidikan Diniyah Formal Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin
The importance of cultivating moderate character in santri as a result of efforts to prevent radicalism and terrorism in Indonesia as well as instilling moderate character in santri so that they can live in harmony in Indonesia within Indonesia's diversity. The formal diniyah education program was designed by the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia to produce a moderate cadre of ulama with the characteristics of the six moderate characteristics of the students of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia, implemented at the Nurul Jannah Islamic Boarding School in Banjarmasin and capable of producing a cadre of ulama who are broad-minded and have a moderate character. The focus of the problem in this research is the form of cultivating the moderate character of santri which includes six moderate characters of santri of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia through the formal diniyah education program at the Nurul Jannah Islamic Boarding School, Banjarmasin, as well as the factors that support and hinder its implementation. Data collection techniques for this research include using interviews, observation and documentation. cultivating moderate character for santri which includes six moderate character traits for santri. The Ministry of Religion of the Republic of Indonesia uses character cultivation methods such as example, habituation, giving advice, targhib wa tahzib, and the takzir method which is in accordance with the principles of cultivating moderate character of the Republic of Indonesia Ministry of Religion. Supporting factors include cooperation from all parties involved, intensive character cultivation, and strong determination and motivation from the students. Meanwhile, inhibiting factors are the lack of quantity and quality of teachers, excessive use of devices outside school hours, and lack of cooperation from parents.Latar belakang dalam penelitian ini adalah pentingnya penanaman karakter moderat santri sebagai akibat dari upaya penangkalan radikalisme dan terorisme di Indonesia serta menanamkan santri karakter moderat agar dapat hidup rukun di Indonesia dalam keberagaman Indonesia. Program pendidikan diniyah formal dirancang oleh Kementerian Agama RI untuk mencetak kader ulama yang moderat dengan ciri enam karakter moderat santri Kementerian Agama RI, diterapkan di Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin dan mampu mencetak kader ulama yang berwawasan luas dan berkarakter moderat.Fokus masalah dalam penelitian ini adalah bentuk penanaman karakter moderat santri yang meliputi enam karakter moderat santri Kementerian Agama RI melalui program pendidikan diniyah formal di Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam pelaksanaannya.Teknik pengumpulan data penelitian ini diantaranya melalui wawancara, observasi dan dokumentasi, semua data yang dikumpulkan diproses secara sistematis melalui proses editing, koleksi, dan mengklasifikasikan data. Setelah itu, semua data di analisis secara deskriptif kualitatif. Lalu, disimpulkan dengan menggunakan metode induktif.Hasil penelitian menyebutkan bentuk penanaman karakter moderat santri yang meliputi enam karakter moderat santri Kementerian Agama RI menggunakan metode-metode penanaman karakter seperti keteladanan, pembiasaan, pemberian nasihat, targhib wa tahzib, dan metode takzir yang sesuai dengan prinsip-prinsip penanaman karakter moderat Kementerian Agama RI. Faktor yang mendukung diantaranya adalah kerjasama dari seluruh pihak yang terlibat, penanaman karakter yang intensif, serta tekad dan motivasi kuat dari santri. Sedangkan faktor yang menghambat adalah kurangnya kuantitas dan kualitas guru pengajar, penggunaan gawai yang berlebihan di luar jam sekolah, serta kurangnya kerjasama dari orang tua
Implementasi Pendidikan Enam Dimensi Karakter Profil Pelajar Pancasila dalam Pembelajaran PAI di SMA Kota Pangkalan Bun
Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya pendidikan
karakter di tengah tantangan globalisasi, arus informasi digital, dan kemerosotan
nilai-nilai moral generasi muda. Kurikulum Merdeka hadir sebagai solusi
pendidikan yang berorientasi pada penguatan karakter pelajar, terutama melalui
implementasi pendidikan enam dimensi karakter profil pelajar Pancasila dalam
setiap aspek pembelajaran PAI. Enam dimensi tersebut meliputi: (1) beriman,
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; (2) berkebhinekaan
global; (3) bergotong royong; (4) bernalar kritis; (5) mandiri; dan (6) kreatif. Tujuan
penelitian ini untuk mendeskripsikan perencanaan, mengeksplorasi pelaksanaan,
serta mengidentifikasi evaluasi pendidikan enam dimensi karakter Profil Pelajar
Pancasila dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Kota
Pangkalan Bun.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (field research)
dengan pendekatan kualitatif metode deskriptif di tiga SMA, yakni SMAN 1
sebagai sekolah unggulan, SMAN 3 Pangkalan Bun sebagai sekolah penggerak, dan
SMAS Islam Al-Hasyimiyyah Pangkalan Bun sebagai sekolah swasta berbasis
Islam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek perencanaan, guru PAI
merumuskan tujuan, materi, metode, dan evaluasi yang terintegrasi dengan enam
dimensi karakter. Tujuan pembelajaran diarahkan tidak hanya pada capaian
kognitif, tetapi juga pembiasaan sikap dan akhlak. Materi disusun integratif, metode
dipilih variatif (pembiasaan, diskusi, studi kasus, proyek), dan evaluasi dirancang
autentik melalui rubrik, jurnal refleksi, serta portofolio. Pada aspek pelaksanaan,
pembelajaran PAI berjalan aktif dan kontekstual. Dimensi religius ditekankan
melalui pembiasaan ibadah dan teladan guru, dimensi kebhinekaan melalui dialog
toleransi dan khilafiyah, dimensi gotong royong lewat kerja kelompok dan proyek
sosial, dimensi kritis melalui diskusi dan analisis isu aktual, dimensi mandiri
melalui penugasan individu dan refleksi, serta dimensi kreatif melalui karya digital
maupun seni Islami. Media pembelajaran bervariasi dari kitab suci, literatur klasik,
hingga media digital. Pada aspek evaluasi, guru menggunakan instrumen yang
beragam seperti jurnal ibadah, portofolio, rubrik kolaborasi, hingga karya kreatif
siswa. Bentuk penilaian bersifat autentik, reflektif, dan menyentuh kognitif, afektif,
serta psikomotor. Sekolah negeri cenderung menekankan evaluasi akademik
kontekstual, sedangkan sekolah Islam berbasis pondok menambahkan evaluasi
holistik yang mencakup kehidupan asrama dan pembiasaan spiritual
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
