56 research outputs found
Pengaruh substitusi tepung ubi jalar kuning terhadap kadar Beta Karotin dan daya terima Mie Basah.
Kajian Tentang Peran Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Melaksanakan Bimbingan dan Fasilitasi TIK di SMA Negeri Se-Kota Malang
ABSTRAK Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 68 Tahun 2014 tentang Peran Guru TIK dan KKPI dalam Implementasi Kurikulum 2013, guru TIK sudah tidak lagi mengajar seperti dalam kurikulum-kurikulum sebelumnya, tetapi guru TIK berperan sebagai penyedia layanan bimbingan dan fasilitasi berkaitan tentang TIK. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keadaan di lapangan tentang peran guru TIK dalam melaksanakan bimbingan terhadap siswa. Peran guru TIK di sekolah meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program bimbingan TIK. Selain itu mengetahui bagaimana persepsi siswa terhadap pelaksanaan bimbingan TIK serta faktor pendukung dan penghambat bimbingan TIK. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Lokasi penelitian ini yaitu SMAN 4 Malang, SMAN 8 Malang, dan SMAN 10 Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh SMA Negeri Se-Kota Malang yang berjumlah 10 sekolah. Sedangkan sampel penelitian adalah guru TIK dan siswa di tiga sekolah tersebut. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling. Untuk mengungkap variabel peran guru TIK dengan 4 sub variabel, digunakan empat instrumen penelitian, yaitu observasi, wawancara, angket, dan check list dokumen. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu teknik analisis data kuantitatif dan teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) peran guru TIK di SMAN 4, 8, dan 10 Malang dalam perencanaan bimbingan TIK belum terlaksana dengan baik. (2) Peran guru TIK dalam pelaksanaan bimbingan TIK telah terselenggara dengan baik, walaupun ada beberapa kegiatan yang belum terlaksana. (3) Peran guru TIK dalam melakukan evaluasi bimbingan TIK belum berjalan dengan baik karena tidak ada evaluasi yang dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa. (4) Persepsi siswa terhadap pelaksanaan bimbingan TIK cenderung berada dalam kategori rendah karena sebagian besar siswa tidak pernah melakukan bimbingan secara individu. Siswa hanya mengikuti bimbingan secara klasikal. (5) Faktor pendukung bimbingan TIK di SMAN Se-Kota Malang yaitu sarana dan prasarana, dukungan sekolah, dan jadwal bimbingan TIK telah masuk KBM. Sedangkan faktor penghambat dalam bimbingan TIK, diantaranya TIK bukan mata pelajaran, waktu pelaksanaan bimbingan TIK kurang maksimal, keaktifan siswa selama bimbingan TIK terbilang rendah, dan tidak ada evaluasi atau penilaian
Company Life Cycle, Merger Activities in Indonesia
This study aims to explain and analyze the influence of the company's life cycle on the probability of conducting mergers, shareholder wealth, percentage of company stock ownership and payment methods by mergers . The sample of the research is 36 companies that have merged and acquired in Indonesia which are listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI) in the period 2018-2022. Data analysis uses logistic regression and multiple linear regression methods . The results showed the company's life cycle did not significantly affect the probability of companies doing mergers . The company's life cycle has a significant effect on shareholder wealth. the company's life cycle has no significant effect on the percentage of share ownership , the company's life cycle has a positive and significant effect on payment methods for companies that have made mergers . The theoretical implications of this study provide an overview / explanation of the company's life cycle of the activities of mergers in company policy seen from the company's growth prospects. Keywords: Company life cycle, Merger Activities
ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN (FULL COSTING METHOD) DAN PERHITUNGAN PENETAPAN HARGA JUAL (Sudi Pada Pelaku UMKM Meubel di Kota Pasuruan Raya)
Dea Hesti Yuliani. 2023. “Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi Dengan Pendekatan (Full Costing Method) Dan Perhitungan Penetapan Harga Jual (Studi Pada Pelaku Umkm Meubel di Kota Pasuruan Raya).
Setiap Perusahaan pada dasarnya mempunyai tujuan untuk mencapai laba yang maksimal dan mempertahankan usaha salah satu cara yang ditempuh perusahaan adalah dengan menetapkan harga jual yang sesuai dengan pesaing.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganilis perbandingan antara perhitungan harga pokok produksi dan harga pokok penjualan perusahaan dengan menggunakan pendekatan Full Costing. Perhitungan harga pokok produksi merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan sebab semakin meningkatnya persaingan antar pengusaha dalam menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga yang sanggup bersaing.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data yang diolah adalah data primer berupa catatan harga pokok produksi seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik dari hasil wawancara dengan objek yang diteliti.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan bahwa harga pokok pada pengusaha mebel belum dapat menunjukkan harga pokok produksi yang sesuai dengan pengumpulan biaya produksinya. Terjadi perbedaan penentuan harga pokok menurut UD. Sinar Kayu Mebel sebesar Rp 1.643.000 sedangkan menurut penulis berdasarkan teori sebesar Rp. 1.727.000. Hal tersebut belum dipakai sebagai dasar penentuan harga jual karena penentuan harga jualnya kurang sesuai dengan teori yaitu perusahaan tidak memperhitungkan persentase laba yang diharapkan akan tetapi hanya berdasarkan harga pasaran.
Kunci: Harga Pokok Produksi, Full Costing, Harga Jual
ABSTRACT
Dea Hesti Yuliani. 2023. "Analysis of the Calculation of the Cost of Production with the Approach (Full Costing Method) and the Calculation of the Determination of the Selling Price (Study on Umkm Furniture Actors in the City of Pasuruan Raya).
Every company basically has a goal to achieve maximum profit and maintain business, one of the ways that the company takes is to set a selling price that is in accordance with competitors.
The purpose of this study is to analyze the comparison between the calculation of the cost of goods manufactured and the cost of goods sold by the company using the full costing approach. The calculation of the cost of production is very important to note because of the increasing competition between entrepreneurs in producing quality products at competitive prices.
The type of research used in research is research with a qualitative descriptive approach. The data processed is primary data in the form of records of production costs such as raw material costs, direct labor costs and factory overhead costs from the results of interviews with the object under study.
Based on the results of the research and data analysis, it can be concluded that the cost of goods sold by furniture entrepreneurs has not been able to show the cost of production in accordance with the collection of production costs. There is a difference in determining the basic price according to UD. Sinar Kayu Furniture is Rp. 1,643,000, while according to the author, based on the theory, it is Rp. 1,727,000. This has not been used as a basis for determining the selling price because the determination of the selling price is not in accordance with the theory, namely the company does not take into account the expected profit percentage, but only based on market prices.
Key: Cost of Production, Full Costing, Selling Pric
SIKLUS HIDUP PERUSAHAAN, AKTIVITAS MERGER DAN AKUISISI DI INDONESIA
Persaingan yang semakin pesat menjadi sebuah tantangan yang harus
dihadapi dalam pelaku bisnis di Indonesia saat ini, karena bagi pelaku bisnis yang
tidak bisa dan tidak mampu mengimbangi dinamika kompetitornya akan terlindas,
kalah dalam persaingan, dan pada akhirnya akan menjadi bangkrut. Oleh karena
itu, perusahaan memerlukan suatu strategi dalam menghadapi persaingan tersebut.
Salah satu strategi pertumbuhan eksternal yang dapat dilakukan oleh perusahaan
adalah melalui merger dan akuisisi. Salah satu strategi ekspansi perusahaan adalah
dengan penggabungan usaha untuk mendapatkan pengendalian aktiva atau
operasional perusahaa-perusahaan yang bergabung. Dengan penggabungan usaha
diharapkan dapat menimbulkan sinergi, meningkatkan pangsa pasar, dan
diversifikasi usaha. Menurut Putra (2004) dua bentuk penggabungan usaha yang
sering dilakukan oleh perusahaan untuk menjaga eksistensinya adalah dengan
melakukan merger dan akuisisi. Merger adalah kondisi dimana perusahaa�perusahaan bergabung dan membagi sumber daya yang mereka miliki untuk
mencapai tujuan bersama. Akuisisi lebih merupakan sebuah perjanjian, dimana
sebuah perusahaan membeli asset atau saham perusahaan lain dan para pemegang
saham dari perusahaan yang menjadi sasaran akuisisi berhenti menjadi pemiliki
perusahaan (Kamaludin et al., 2015).
Teori siklus hidup perusahaan mengemukakan bahwa organisasi pada
dasarnya tumbuh melalui beberapa proses atau tahapan kehidupan dan masing�masing proses atau tahapan tersebut memiliki karateristik atau ciri-ciri yang
berbeda (Tam & Gray, 2016). Secara umum ada empat tahapan kehidupan yang
biasanya dilewati oleh perusahaan dalam masa kehidupan (Lyden, 1975 ; Kazanjia
& Drazin, 1990) adapun empat tahapan tersebut terdiri dari; 1) tahap
pembentukan (start-up), dimana tahap ini perusahaan biasanya berumur muda,
berskala kecil, tidak terstruktur dengan baik, fleksibel dan bersifat informa dalam
mengelola bisnis. 2) Tahap pertumbuhan awal (growth), dalam tahap ini
perusahaan terjadi perubahan signifikan dalam alur kerja perusahaan, sehingga
ukuran biasanya meningkat lebih agresif dalam kebijakan-kebijakan
operasionalnya demi mencari keuntungan yang lebih besar. 3) Tahap
pertumbuhan akhir (maturity), dalam tahap ini system, budaya dan praktik
kesahrian perusahaan sudah menjadi norma yang rutin dilakukan perusahaan
sudah bisa mendomasi pangsa pasar sehingga prioritas mulai bergeser menjadi
mengejar efisiensi biaya perusahaan. 4) Tahap stabilitas (decline), dalam tahap ini
biasanya mulai terjadi penurunan tingkat penjual, margin keuntungan yang
semakin mengecil dan utang semakin meningkat. Tahapan ini bila tidak dikelola
vii
dengan baik bisa bertujuan pada kematian perusahaan. Siklus hidup perusahaan
dapat mempengaruhi aktivitas merger dan akuisisi yang terdiri dari kondisi
kekayaan pemegang saham, presentase pemegang saham dan metode pembayaran
perusahaan yang telah melakukan merger dan akuisisi.
Konsep siklus hidup perusahaan diaplikasikan oleh Muller (1972), yang
menjelaskan kerangka tentang Growth Hypothesis dalam kaitannya dengan
memaksimalisasi Profit dan dihubungkan dengan Stockholders. Muller
memandang perusahaan yang baru tumbuh sebagai suatu keadaan yang tidak pasti
dalam menghadapi kelangsungan perusahaan dan operasional secara total, tapi
sejalan dengan pemilik. Apabila manajer dan para pemilik masih muda dalam
mengelola perusahaan, maka umur suatu perusahaan dapat dipakai sebagai salah
satu variabel untuk menentukan tahapan siklus hidup.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis pengaruh
siklus hidup perusahaan terhadap probabilitas melakukan merger dan akuisisi,
kekayaan pemegang saham, persentase kepemilikan saham perusahaan dan
metode pembayaran yang dilakukan perusahaan merger dan akuisisi. sampel
penelitian berjumlah 36 perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi di
Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2009-2018.
Analisa data menggunakan metode regresi logistik dan regresi linier berganda.
Hasil penelitian menunjukkan siklus hidup perusahaan tidak signifikan
mempengaruhi probabilitas perusahaan melakukan merger dan akuisisi. siklus
hidup perusahaan berpengaruh signifikan pada kekayaan pemegang saham. siklus
hidup perusahaan berpengaruh tidak signifikan terhadap persentase kepemilikan
saham, siklus hidup perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap
metode pembayaran pada perusahaan yang telah melakukan merger dan akuisisi.
Implikasi teoritis dalam penelitian ini adalah menjelaskan tentang aktivitas
merger dan akuisisi, dilihat dari siklus hidup perusahaan dalam pengambilan
keputusan investasi di suatu perusahaan dengan melihat prospek pertumbuhan
perusahaan di masa depan. Hasil temuan bahwa tidak adanya pengaruh antara
siklus hidup perusahaan terhadap probabilitas perusahaan melakukan merger dan
akuisisi baik pada tahap growth, mature maupun decline sama-sama tidak
memiliki probabilitas melakukan merger dan akuisisi. Hal ini terjadi dikarenakan
tahapan siklus hidup tersebut memiliki karakteristik masing-masing yang
seharusnya memudahkan manajer atau pemilik untuk melihat dan menentukan,
misalnya dilihat dari usia perusahaan, tingkat pertumbuhan penjualan perusahaan,
nilai asset perusahaan, pangsa pasar yang dimiliki perusahaan, kekuatan
perusahaan bersaing dengan kompetitornya dan beberapa faktor lainnya
(Anthony & Ramesh, 1992). Namun berdasarkan penelitian sebelumnya
perusahaan mature yang dinyatakan berada pada kondisi tingkat inovasinya
menurun (Miller & Friesen, 1984). Perusahaan mature umumnya telah memiliki
jumlah laba yang ditahan dan aliran kas bebas yang besar sehingga cenderung
melakukan merger dan akusisi untuk menghasilkan pertumbuhan perusahaan.
Teori sinyal yang dikemukakan Ross (1977) menyatakan bahwa jika
manajer mempunyai keyakinan bahwa prospek perusahaan baik maka manajer
akan mengkomunikasikan hal tersebut ke investor. Penelitian ini telah
mendukung teori tersebut bahwa peran siklus hidup sebagai pengaruh untuk
viii
melakukan aktivitas merger dan akuisis terbuktikan. Hal ini dikarenakan
aktivitas merger dan akuisisi yang terdiri dari seberapa besar kondisi kekayaan
pemegang sahan yaitu apakah perusahaan acquirer yang berada pada tahap siklus
hidup tertentu memiliki kondisi kekayaan pemegang saham yang lebih rendah
dibandingkan perusahaan lainnya. Hasil temuan yang telah diuji menggunakan
regresi linier berganda bahwa untuk variable lifecycle memiliki koefisien yang
negative dan signifikan ini artinya bahwa pemegang saham perusahaan acquirer
menanggung biaya yang lebih rendah apabila mengakuisisi perusahaan yang
lebih kecil atau perusahaan yang sahamnya tidak diperdagangkan. Aktivitas yang
kedua yaitu siklus hidup perusahaan terhadap persentase saham yang diakuisisi.
Hasil temuan yang telah di lakukan bahwa untuk antivitas tersebut hanya pada
tahap siklus mature yang mempunyai persentase saham yang lebih tinggi
dibandingkan dengan tahapan yang lain. Memberikan keputusan investasi yang
dikaitkan dengan siklus hidup perusahaan yang didukung dengan variabel
kontrol untuk mengambarkan aktivitas merger dan akuisisi. Y a n g
d i d a s a r i teori sinyal dan teori agency untuk melihat prospek pertumbuhan
perusahaan yang memberikan sinyal kepada investor dalam mengambil
keputusan. Keempat kerangka tersebut masing-masing menggunakan variabel
kontrol. hasil olah data bahwa variabel kontrol tiap kerangka menghasilkan nilai
yang berbeda.
Kata Kunci: Siklus hidup perusahaan, Aktivitas merger dan akuisis
SIKLUS HIDUP PERUSAHAAN, AKTIVITAS MERGER DAN AKUISISI DI INDONESIA
Persaingan yang semakin pesat menjadi sebuah tantangan yang harus
dihadapi dalam pelaku bisnis di Indonesia saat ini, karena bagi pelaku bisnis yang
tidak bisa dan tidak mampu mengimbangi dinamika kompetitornya akan terlindas,
kalah dalam persaingan, dan pada akhirnya akan menjadi bangkrut. Oleh karena
itu, perusahaan memerlukan suatu strategi dalam menghadapi persaingan tersebut.
Salah satu strategi pertumbuhan eksternal yang dapat dilakukan oleh perusahaan
adalah melalui merger dan akuisisi. Salah satu strategi ekspansi perusahaan adalah
dengan penggabungan usaha untuk mendapatkan pengendalian aktiva atau
operasional perusahaa-perusahaan yang bergabung. Dengan penggabungan usaha
diharapkan dapat menimbulkan sinergi, meningkatkan pangsa pasar, dan
diversifikasi usaha. Menurut Putra (2004) dua bentuk penggabungan usaha yang
sering dilakukan oleh perusahaan untuk menjaga eksistensinya adalah dengan
melakukan merger dan akuisisi. Merger adalah kondisi dimana perusahaa�perusahaan bergabung dan membagi sumber daya yang mereka miliki untuk
mencapai tujuan bersama. Akuisisi lebih merupakan sebuah perjanjian, dimana
sebuah perusahaan membeli asset atau saham perusahaan lain dan para pemegang
saham dari perusahaan yang menjadi sasaran akuisisi berhenti menjadi pemiliki
perusahaan (Kamaludin et al., 2015).
Teori siklus hidup perusahaan mengemukakan bahwa organisasi pada
dasarnya tumbuh melalui beberapa proses atau tahapan kehidupan dan masing�masing proses atau tahapan tersebut memiliki karateristik atau ciri-ciri yang
berbeda (Tam & Gray, 2016). Secara umum ada empat tahapan kehidupan yang
biasanya dilewati oleh perusahaan dalam masa kehidupan (Lyden, 1975 ; Kazanjia
& Drazin, 1990) adapun empat tahapan tersebut terdiri dari; 1) tahap
pembentukan (start-up), dimana tahap ini perusahaan biasanya berumur muda,
berskala kecil, tidak terstruktur dengan baik, fleksibel dan bersifat informa dalam
mengelola bisnis. 2) Tahap pertumbuhan awal (growth), dalam tahap ini
perusahaan terjadi perubahan signifikan dalam alur kerja perusahaan, sehingga
ukuran biasanya meningkat lebih agresif dalam kebijakan-kebijakan
operasionalnya demi mencari keuntungan yang lebih besar. 3) Tahap
pertumbuhan akhir (maturity), dalam tahap ini system, budaya dan praktik
kesahrian perusahaan sudah menjadi norma yang rutin dilakukan perusahaan
sudah bisa mendomasi pangsa pasar sehingga prioritas mulai bergeser menjadi
mengejar efisiensi biaya perusahaan. 4) Tahap stabilitas (decline), dalam tahap ini
biasanya mulai terjadi penurunan tingkat penjual, margin keuntungan yang
semakin mengecil dan utang semakin meningkat. Tahapan ini bila tidak dikelola
vii
dengan baik bisa bertujuan pada kematian perusahaan. Siklus hidup perusahaan
dapat mempengaruhi aktivitas merger dan akuisisi yang terdiri dari kondisi
kekayaan pemegang saham, presentase pemegang saham dan metode pembayaran
perusahaan yang telah melakukan merger dan akuisisi.
Konsep siklus hidup perusahaan diaplikasikan oleh Muller (1972), yang
menjelaskan kerangka tentang Growth Hypothesis dalam kaitannya dengan
memaksimalisasi Profit dan dihubungkan dengan Stockholders. Muller
memandang perusahaan yang baru tumbuh sebagai suatu keadaan yang tidak pasti
dalam menghadapi kelangsungan perusahaan dan operasional secara total, tapi
sejalan dengan pemilik. Apabila manajer dan para pemilik masih muda dalam
mengelola perusahaan, maka umur suatu perusahaan dapat dipakai sebagai salah
satu variabel untuk menentukan tahapan siklus hidup.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis pengaruh
siklus hidup perusahaan terhadap probabilitas melakukan merger dan akuisisi,
kekayaan pemegang saham, persentase kepemilikan saham perusahaan dan
metode pembayaran yang dilakukan perusahaan merger dan akuisisi. sampel
penelitian berjumlah 36 perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi di
Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2009-2018.
Analisa data menggunakan metode regresi logistik dan regresi linier berganda.
Hasil penelitian menunjukkan siklus hidup perusahaan tidak signifikan
mempengaruhi probabilitas perusahaan melakukan merger dan akuisisi. siklus
hidup perusahaan berpengaruh signifikan pada kekayaan pemegang saham. siklus
hidup perusahaan berpengaruh tidak signifikan terhadap persentase kepemilikan
saham, siklus hidup perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap
metode pembayaran pada perusahaan yang telah melakukan merger dan akuisisi.
Implikasi teoritis dalam penelitian ini adalah menjelaskan tentang aktivitas
merger dan akuisisi, dilihat dari siklus hidup perusahaan dalam pengambilan
keputusan investasi di suatu perusahaan dengan melihat prospek pertumbuhan
perusahaan di masa depan. Hasil temuan bahwa tidak adanya pengaruh antara
siklus hidup perusahaan terhadap probabilitas perusahaan melakukan merger dan
akuisisi baik pada tahap growth, mature maupun decline sama-sama tidak
memiliki probabilitas melakukan merger dan akuisisi. Hal ini terjadi dikarenakan
tahapan siklus hidup tersebut memiliki karakteristik masing-masing yang
seharusnya memudahkan manajer atau pemilik untuk melihat dan menentukan,
misalnya dilihat dari usia perusahaan, tingkat pertumbuhan penjualan perusahaan,
nilai asset perusahaan, pangsa pasar yang dimiliki perusahaan, kekuatan
perusahaan bersaing dengan kompetitornya dan beberapa faktor lainnya
(Anthony & Ramesh, 1992). Namun berdasarkan penelitian sebelumnya
perusahaan mature yang dinyatakan berada pada kondisi tingkat inovasinya
menurun (Miller & Friesen, 1984). Perusahaan mature umumnya telah memiliki
jumlah laba yang ditahan dan aliran kas bebas yang besar sehingga cenderung
melakukan merger dan akusisi untuk menghasilkan pertumbuhan perusahaan.
Teori sinyal yang dikemukakan Ross (1977) menyatakan bahwa jika
manajer mempunyai keyakinan bahwa prospek perusahaan baik maka manajer
akan mengkomunikasikan hal tersebut ke investor. Penelitian ini telah
mendukung teori tersebut bahwa peran siklus hidup sebagai pengaruh untuk
viii
melakukan aktivitas merger dan akuisis terbuktikan. Hal ini dikarenakan
aktivitas merger dan akuisisi yang terdiri dari seberapa besar kondisi kekayaan
pemegang sahan yaitu apakah perusahaan acquirer yang berada pada tahap siklus
hidup tertentu memiliki kondisi kekayaan pemegang saham yang lebih rendah
dibandingkan perusahaan lainnya. Hasil temuan yang telah diuji menggunakan
regresi linier berganda bahwa untuk variable lifecycle memiliki koefisien yang
negative dan signifikan ini artinya bahwa pemegang saham perusahaan acquirer
menanggung biaya yang lebih rendah apabila mengakuisisi perusahaan yang
lebih kecil atau perusahaan yang sahamnya tidak diperdagangkan. Aktivitas yang
kedua yaitu siklus hidup perusahaan terhadap persentase saham yang diakuisisi.
Hasil temuan yang telah di lakukan bahwa untuk antivitas tersebut hanya pada
tahap siklus mature yang mempunyai persentase saham yang lebih tinggi
dibandingkan dengan tahapan yang lain. Memberikan keputusan investasi yang
dikaitkan dengan siklus hidup perusahaan yang didukung dengan variabel
kontrol untuk mengambarkan aktivitas merger dan akuisisi. Y a n g
d i d a s a r i teori sinyal dan teori agency untuk melihat prospek pertumbuhan
perusahaan yang memberikan sinyal kepada investor dalam mengambil
keputusan. Keempat kerangka tersebut masing-masing menggunakan variabel
kontrol. hasil olah data bahwa variabel kontrol tiap kerangka menghasilkan nilai
yang berbeda.
Kata Kunci: Siklus hidup perusahaan, Aktivitas merger dan akuisis
Cluster information of non-sampled area in small area estimation of poverty indicators using Empirical Bayes
Kekonvergenan eksp0ektrasi variabel random dalam integral labesgue
Suatu variabel random dapat dinyatakan sebagai jumlahan fungsi sederhana. Selanjutnya ekspektasinya dapat dinyatakan dalam ekspektasi Integral Lebesgue sebagai limit ekspektasi barisan variabel random .Untuk mutlak dari yang lebih besar atau sama dengan n juga konvergen ke & maka ekspektasi dari mutlak berhingga, ekspektasi tn konvergen ke ekspektasi dan konvergensi tn terhadap dalam ekspektasi konvergen ke nol.
This document is Undip. Institutional Repository Collection. The author(s) or copyright owner(s) agree that UNDIP-IR may, without changing the content, translate the submission to any medium or format for the purpose of preservation. The author(s) or copyright owner(s) also agree that UNDIP-IR may keep more than one copy of this submission for purpose of security, back-up and preservation:
http://eprints.undipiSLid
Pengaruh Motivasi Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT Hasnur Riung Sinergi Tapin
The research to determine how the nfluence of motivation and work discipline on employee performance at PTHasnur Riung Sinergi Tapin. The results of the study indicate that there are still employees who lack discipline, especially on timeliness of work attendance. Although there are some employees who still lack work discipline, the performance of employees in this company has carried out their performance well. After analyzing and discussing the problem, the author concludes that the Ef ect of Motivation and Work Discipline on Employee Performance at PT Hasnur Riung Sinergi Tapin is still not exactly work discipline on its performance, this PT Hasnur Riung Sinergi Tapin still
needs to improve its performance fromthe one so that can get better company performancePenelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh motivasi dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada PT Hasnur Riung Sinergi Tapin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih saja terdapat karyawan yang kurang disiplin terutama pada ketepatan waktu kehadiran kerja. Walaupun terdapat beberapa karyawan yang masih kurangnya disiplin kerja, namun kinerja karyawan di perusahaan ini telah menjalankan kinerjanya dengan baik. Setelah melakukan analisa dan pembahasan masalah, penulis memperoleh kesimpulan bahwa Pengaruh Motivasi dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan Pada PT Hasnur Riung Sinergi Tapin masih perlu ditingkatkan kembali kinerja dari yang sebelumnya agar dapat memperoleh kinerja perusahaan yang lebih baik lag
- …
