1,721,038 research outputs found
Memorandum akhir masa jabatan direktur jenderal kebudayan prof dr ida bagus mantra 1968-1978
Buku ini berisi Memorandum akhir masa jabatan direktur jenderal kebudayan prof dr ida bagus mantra periode tahun 1968-1978
PERENCANAAN JEMBATAN JALAN “BY PASS” PROF. Dr. Ir. IDA BAGUS MANTRA, GIANYAR, BALI
Jalan By Pass Prof. Dr. Ir. Ida Bagus Mantra sepanjang 23 km dari Kota
Denpasar yang menghubungkan Gianyar-Klungkung, memiliki arus lalulintas
kendaraan yang cukup ramai, terutama jenis kendaraan berat berupa truk
pengangkut pasir dan batu yang mau mengambil pasir atau batu di wilayah
Klungkung dan Karang Asem untuk dibawa menuju ke wilayah Gianyar,
Denpasar atau wilayah Bali bagian Selatan lainnya. Ini membuat di sepanjang
Jalan By Pass Prof. Dr. Ir. Ida Bagus Mantra banyak terjadi kerusakan dan
memberikan beban yang cukup berat pada bangunan jembatan. Sehingga dalam
perencanaan jembatan ini harus direncanakan mampu menahan beban maksimum
kendaraan yang melewati ruas Jalan By Pass Prof. Dr. Ir. Ida Bagus Mantra.
Dalam mendesain suatu struktur tidak hanya menuntut kemampuan dalam
menghitung, namun juga memperhatikan aspek kekuatan dan keamanannya.
Peraturan Perencanaan Struktur Beton Untuk Jembatan (Final RSNI4 2004) dan
Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Jembatan Jalan Raya SNI 03-
2833-1992, digunakan sebagai acuan perencanaan dalam menyusun Tugas Akhir
ini. Jembatan yang dirancang merupakan jembatan beton prategang (prestressed
concrete bridge). Jembatan yang dirancang memiliki panjang bentang total
sepanjang 62 meter, yang terletak pada wilayah gempa 4. Perencanaan struktur
jembatan tersebut meliputi perencanaan pelat, tiang sandaran, gelagar, abutment,
pilar, dan fondasi. Sedang beban yang dianalisis sesuai dengan Pedoman
perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya.
Dari perencanaan diperoleh berbagai variasi dimensi dan penulangan
untuk masing – masing elemen struktur yang dalam analisis telah memenuhi
syarat kekuatan dan keamanan struktur. Untuk pelat lantai kendaraan digunakan
pelat dengan tebal 200 mm. Untuk gelagar balok beton prategang digunakan 38
buah strands tujuh kawat yang dibagi dalam 2 tendon, jenis kabel prategang seven
wire strand, ASTM A-416 grade 270, relaksasi rendah (low relaxation) dengan
diameter nominal 12,70 mm. Untuk dimensi tiang sandaran digunakan ukuran
panjang 20 cm, lebar 15 cm dan tinggi diatas trotoar 90 cm dengan jarak 2 m.
Pada bagian struktur bawah, untuk struktur abutment dan pilar digunakan 2 buah
fondasi sumuran berdiameter 2 m dengan kedalaman 3
PERBEDAAN KANDUNGAN TIMBAL (Pb) PADA DAUN TREMBISI (Samanea saman (Jacq.) Merr) DI SEBELAH UTARA DAN SELATAN JALAN BY PASS Prof. Dr. IDA BAGUS MANTRA
Logam timbal (Pb) sebagai sisa hasil pembakaran bahan bakar fosil kendaraan bermotor merupakan penyebab utama pencemaran lingkungan udara. Daun trembesi sebagai tanaman peneduh jalan berfungsi sebagai bioindicator pencemaran udara oleh logam Pb. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan kandungan logam Pb dan perbedaan kandungannya pada daun trembesi yang berada disebelah Utara dan Selatan Jalan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel daun trembesi di lima wilayah (klaster) yang masing-masing berjarak 4 km baik di sebelah Utara maupun Selatan Jalan Prof. Dr Ida Bagus Mantra. Penentuan kandungan logam Pb pada daun trembesi dilakukan dengan metode AAS. Data kandungan logam Pb pada daun trembesi dianalisis secara statistk dengan dengan uji beda Mann Whitney µ pada taraf signifikansi ? = 0,05. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kandungan rata-rata logam Pb pada daun trembesi yang berada disebelah Utara dan Selatan Jalan Prof. Dr. Ida bagus Mantra secara berturut-turut adalah 0,8254 ± 0,05463 mg/kg dan 1,0395 ± 0,03630 mg/kg. Ada perbedaan kandungan logam logam Pb yang signifikan (p<0,05) pada daun trembesi yang berada di sebelah Utara dan Selatan Jalan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra
Population Mobility And The Links Between Migrants And The Family Back Home In Ngawis Village, Gunung Kidul Regency, Yogyakarta Special Region
ABSTRACT
The total population of Yogyakarta Special Region was 2,966,549 persons in 1985, while the population density was 931 persons/sq.km. The Yogyakarta Special Region is one of the poor areas of Java in an economic sense.
The annual rate of its population growth is much lower than those of other provinces in Java. The region experienced a net loss of population through migration. The losses were greater in the poor areas of Gunung Kidul, one of its regencies.
This study aims at developing the knowledge on the nature and incidence Of population mobility from the rural to the urban areas, and investigating the extent and nature of the links established and maintained between the area of origin and the area of destination, by temporarily returning migrants in Ngawis Village of Gunung Kidul.
The main reason for migrating out of the village is an economic one. Although the greater part of returning migrants stated that their economic conditions improved after moving out the income they receive monthly is still low. The link between migrants and their relatives back home is very intensive. They maintain contact by visiting, sending letters, money and goods, and exchange views and ideas on developmental issues.
Kata Kunci.: population - mobility - migratio
Population mobility and the links between migrants and the family back home in Ngawis Village, Gunung Kidul Regency, Yogyakarta Special Region
The total population of Yogyakarta Special Region was 2,966,549 persons in 1985, while the population density was 931 persons/sq.km. The Yogyakarta Special Region is one of the poor areas of Java in an economic sense.
The annual rate of its population growth is much lower than those of other provinces in Java. The region experienced a net loss of population through migration. The losses were greater in the poor areas of Gunung Kidul, one of its regencies.
This study aims at developing the knowledge on the nature and incidence of population mobility from the rural to the urban areas, and investigating the extent and nature of the links established and maintained between the area of origin and the area of destination, by temporarily returning migrants in Ngawis Village of Gunung Kidul.
The main reason for migrating out of the village is an economic one. Although the greater part of returning migrants stated that their economic conditions improved after moving out, the income they receive monthly is still low. The link between migrants and their relatives back home is very intensive. They maintain contact by visiting, sending letters, money and goods, and exchange views and ideas on developmental issues
Population distribution and population growth in Yogyakarta special region
ABSTRACT
The Sultanate of Yogyakarta which, during the struggle for independence and subsequently has been known as the Special Region of Yogyakarta, is located in the southern part of Central Java. It constitutes much of the heartland of Javanese culture, for Yogyakarta was the center of the pre-colonial Kingdom of Mataram.
Within Yogyakarta Special Region, there is a marked contrast in the population density between Bantu! and Sleman regencies on one hand, and Gunung Kidul and Kulon Progo on the other hand. The basic reason for this difference is the fact that the soil of Bantul and Sleman regencies is primarily young and vulcanic, while there is also a good water supply and intensive irrigation network.
The annual rate of population growth in Yogyakarta Special Region is much lower compared with other provinces in Java. During 1961 and 1971 the rate of population growth was 1.1 percent, for the period 1971â 1980 became 1.09 percent. This region experienced a net loss of population through migration, and that the losses were greater in the poor areas of Gunung Kidul and Kulon Progo
Key word: vulcani
- …
