1,721,000 research outputs found
Reason and revelation relationship in Abu'l Wafa İbn Aqil
Akıl-Vahiy ilişkisi, öteden beri İslam uleması içinde tartışılmış, dini epistemolojinin kaynağına yönelik geliştirilen argümanların başat konusu olmuştur. İslam düşünce ekolleri içerisinde Selefi yaklaşım, aklı bütünüyle vahye tabi kılan, dolayısıyla sadece vahyi ve rivayetleri kaynak olarak kabul eden ve fikri taassuba en çok sahip olan bir geleneği temsil etmektedir. Ebu'l-Vefa İbn Akîl, bu geleneğe mensuptur ancak onun düşüncelerinde aklın, dini anlamada ve yorumlamada işlevsel olduğuna dair mütekellimlerin söylemlerinin izleri bulunmaktadır. Dolayısıyla o, Ashabu'l Hadis geleneği içerisinde taklitten kaçınmak ve nazari akla önem vermek gibi bazı aykırı söylemlere sahiptir. Onun düşüncelerinde yer yer Eş'ari ve Mutezili yaklaşımların tesiri görülmektedir. Bunun nedeni, Selefi/Hanbeli bir âlim olmasına rağmen kelam ilmi ile ayrıca meşgul olmasıdır. Çalışmamız, İbn Akîl'in; bir yandan gelenekçi, öte yandan rasyonalist eğilimli oluşunun, akıl-vahiy ilişkisi zemininde nasıl tezahür ettiği ekseninde teşkil edilmiştir. İbn Akîl'in akıl-vahiy ilişkisine dair temel iddiası, her ikisinin de birbiriyle uyumlu olduğudur. Akıl, vahyi doğrular; vahiy ise akla mutabık olarak gelmiştir. Aralarında bir çelişki ya da çatışma söz konusu değildir. Nitekim vahyin doğru anlaşılması sadece aklın doğru işletilmesi ile mümkündür.The connection between reason and revelation having been discussed in the Islamic world for a long time has been the dominant argument for the source of religious epistemology. Within the Islamic thought associations, the Salafi approach represents a tradition that has the most intellectually bigotries of being subject to all sorts of wisdom, and therefore only to accept revelations and rumors as sources. Abu'l Wafa Ibn Aqil is a member of this tradition. However in his thoughts, there are traces of discourses of theologians that defend the reason is functional in understanding and interpreting the religion. Hence, he has some contradictory discourses such as avoiding imitation in the tradition of Ashab al-Hadith and giving importance to the reason. In his thoughts, it is possible to see the influences of approaches of Ash'ari and Mutazila in some places. The reason for this situation is that, despite being a Salafi / Hanbal scholar, he is also engaged with kalam. In our study, interesting and distinct characteristic of Ibn Aqil is analyzed in terms of how it appears regarding the reason-revelation relationship. The basic assertion of Ibn Aqil about reason-revelation relation is both terms are in a harmony with each other. The reason confirms revelation. Thus revelation gets reasonable. There is no contradiction or conflict between them. Indeed, true understanding of the revelation is only possible with true functioning of reason
Nilai-Nilai Karakter Dalam Syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil Karya Imam Al-Alamah Syeikh Jalaluddin As-Suyuthi Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Akhlak (Analisis Hermeneutik)
ABSTRAK
Khoiriyah, Miftah Sa’adatul. 2020, Nilai-Nilai Karakter Dalam Syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil Karya Imam Al-Alamah Syeikh Jalaluddin As-Suyuthi Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Akhlak (Analisis Hermeneutik). Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing: Arif Wibowo, M. Pd. I.
Kata Kunci: Hermeneutik, nilai-nilai Karakter, Alfiyyah Ibn ‘Aqil, Pendidikan Akhlak.
Sebuah karya tulis merupakan pernyataan dunia batin pengarang yang biasanya berupa gagasan, cita rasa, emosi, ide dan lain-lain. Idealnya, di dalam menciptakan karya tulis, seorang pengarang bukanlah menciptakan karya kosong yang tidak mencerminkan realitas, melainkan refleksi terhadap realita kehidupan. Syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil yang membicarakan tentang ilmu nahwu dan ilmu shorof yang tersusun dalam 1000 (seribu) bait nazam, ternyata mengandung nilai-nilai karakter yang sangat lembut dan tersembunyi sehingga dibutuhkan sebuah analisis untuk menginterpretasikannya.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui makna interpretasi dari syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil dengan menggunakan Hermeneutika dari Paul Ricouer dan analisis Linguistik dari Ferdiand De Saussure, (2) mengetahui relevansi dari nilai-nilai karakter yang terdapat dalam Syarah Alfiyyah tersebut dengan pendidikan akhlak.
Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Dengan jenis penelitian kajian kepustakaan atau library research. Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini mengambil dari Syarah kitab Alfiyyah Ibn ‘Aqil karya Imam Al-Alamah Syeikh Jalaluddin As-Suyuthi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu melalui tahap editing, dalam hal ini data yang sudah diperoleh dari kitab Syarah Alfiyyah dipilih sesuai dengan sub-sub tema dalam pembahasan. Kemudian tahap organizing, yaitu data yang diperoleh berkaitan dengan nilai-nilai karakter dalam kitab Syarah Alfiyyah direlevansikan dengan pendidikan akhlak. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu analisis kritis. Disini penulis akan menganalisis data yang berkaitan tentang nilai-nilai karakter dalam Syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil kemudian akan merelevansikannya dengan pendidikan akhlak.
Hasil dari penelitian ini adalah: Pertama, terungkapnya nilai-nilai karakter dan makna interpretasi dalam Syarah Alfiyyah yang terbagi dalam empat kategori, yaitu nilai karakter beragama yang berisikan keyakinan terhadap Allah. Nilai karakter pribadi yang berisikan ikhlas, karakter mulia, rendah diri, mencapai derajat yang tinggi, beramal baik, belajar dan sungguh-sungguh dalam tolabul ‘ilmi, istiqomah, dan kerja keras.Nilai karakter bermasyarakat yang berisikan bersosialisasi yang baik. Nilai karakter bernegara yang berisi menjadi pemimpin yang ideal, dan peduli lingkungan. Kedua, terungkapnya relevansi nilai-nilai karakter tersebut dengan pendidikan akhlak, meliputi relevan dengan pendidikan akhlak kepada Allah, relevan dengan akhlak sesama manusia, dan relevan dengan akhlak terhadap lingkungan
Nilai-Nilai Karakter dalam Syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil Karya Imam Al-Alamah Syeikh Jalaluddin As-Suyuthi dan Relevansinya dengan Pendidikan Akhlak (Analisis Hermeneutik)
ABSTRAK
Khoiriyah, Miftah Sa’adatul. 2020, Nilai-Nilai Karakter Dalam Syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil Karya Imam Al-Alamah Syeikh Jalaluddin As-Suyuthi Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Akhlak (Analisis Hermeneutik). Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing: Arif Wibowo, M. Pd. I.
Kata Kunci: Hermeneutik, nilai-nilai Karakter, Alfiyyah Ibn ‘Aqil, Pendidikan Akhlak.
Sebuah karya tulis merupakan pernyataan dunia batin pengarang yang biasanya berupa gagasan, cita rasa, emosi, ide dan lain-lain. Idealnya, di dalam menciptakan karya tulis, seorang pengarang bukanlah menciptakan karya kosong yang tidak mencerminkan realitas, melainkan refleksi terhadap realita kehidupan. Syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil yang membicarakan tentang ilmu nahwu dan ilmu shorof yang tersusun dalam 1000 (seribu) bait nazam, ternyata mengandung nilai-nilai karakter yang sangat lembut dan tersembunyi sehingga dibutuhkan sebuah analisis untuk menginterpretasikannya.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui makna interpretasi dari syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil dengan menggunakan Hermeneutika dari Paul Ricouer dan analisis Linguistik dari Ferdiand De Saussure, (2) mengetahui relevansi dari nilai-nilai karakter yang terdapat dalam Syarah Alfiyyah tersebut dengan pendidikan akhlak.
Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Dengan jenis penelitian kajian kepustakaan atau library research. Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini mengambil dari Syarah kitab Alfiyyah Ibn ‘Aqil karya Imam Al-Alamah Syeikh Jalaluddin As-Suyuthi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu melalui tahap editing, dalam hal ini data yang sudah diperoleh dari kitab Syarah Alfiyyah dipilih sesuai dengan sub-sub tema dalam pembahasan. Kemudian tahap organizing, yaitu data yang diperoleh berkaitan dengan nilai-nilai karakter dalam kitab Syarah Alfiyyah direlevansikan dengan pendidikan akhlak. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu analisis kritis. Disini penulis akan menganalisis data yang berkaitan tentang nilai-nilai karakter dalam Syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil kemudian akan merelevansikannya dengan pendidikan akhlak.
Hasil dari penelitian ini adalah: Pertama, terungkapnya nilai-nilai karakter dan makna interpretasi dalam Syarah Alfiyyah yang terbagi dalam empat kategori, yaitu nilai karakter beragama yang berisikan keyakinan terhadap Allah. Nilai karakter pribadi yang berisikan ikhlas, karakter mulia, rendah diri, mencapai derajat yang tinggi, beramal baik, belajar dan sungguh-sungguh dalam tolabul ‘ilmi, istiqomah, dan kerja keras.Nilai karakter bermasyarakat yang berisikan bersosialisasi yang baik. Nilai karakter bernegara yang berisi menjadi pemimpin yang ideal, dan peduli lingkungan. Kedua, terungkapnya relevansi nilai-nilai karakter tersebut dengan pendidikan akhlak, meliputi relevan dengan pendidikan akhlak kepada Allah, relevan dengan akhlak sesama manusia, dan relevan dengan akhlak terhadap lingkungan
al-Qawa'id al-asasiyah li al-lughah al-Arabiyyah: hasab manhaj matn al al-fiyyah li ibn Malik wa khulashah al-syurrah li ibn Hisyam wa ibn 'Aqil wa al-Asmuni
Membahas tentang gramatika bahasa Arab sesuai dengan metode matan Alfiyah oleh Ibn Malik dan keringkasan penjabarannya oleh Ibn Hisyam, Ibn Aqil dan al-Asymuni
[FILE WORD. HARUS DALAM FORMAT PDF] Nilai-Nilai Karakter Dalam Syarah Alfiyyah Ibn 'Aqil Karya Imam Al Alamah Syeikh Jalaluddin As Suyuthi Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Akhlak (Analisis Hermeneutik)
ABSTRAK
Khoiriyah, Miftah Sa’adatul. 2020, Nilai-Nilai Karakter Dalam Syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil Karya Imam Al-Alamah Syeikh Jalaluddin As-Suyuthi Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Akhlak (Analisis Hermeneutik). Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing: Arif Wibowo, M. Pd. I.
Kata Kunci: Hermeneutik, nilai-nilai Karakter, Alfiyyah Ibn ‘Aqil, Pendidikan Akhlak.
Sebuah karya tulis merupakan pernyataan dunia batin pengarang yang biasanya berupa gagasan, cita rasa, emosi, ide dan lain-lain. Idealnya, di dalam menciptakan karya tulis, seorang pengarang bukanlah menciptakan karya kosong yang tidak mencerminkan realitas, melainkan refleksi terhadap realita kehidupan. Syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil yang membicarakan tentang ilmu nahwu dan ilmu shorof yang tersusun dalam 1000 (seribu) bait nazam, ternyata mengandung nilai-nilai karakter yang sangat lembut dan tersembunyi sehingga dibutuhkan sebuah analisis untuk menginterpretasikannya.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui makna interpretasi dari syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil dengan menggunakan Hermeneutika dari Paul Ricouer dan analisis Linguistik dari Ferdiand De Saussure, (2) mengetahui relevansi dari nilai-nilai karakter yang terdapat dalam Syarah Alfiyyah tersebut dengan pendidikan akhlak.
Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Dengan jenis penelitian kajian kepustakaan atau library research. Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini mengambil dari Syarah kitab Alfiyyah Ibn ‘Aqil karya Imam Al-Alamah Syeikh Jalaluddin As-Suyuthi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu melalui tahap editing, dalam hal ini data yang sudah diperoleh dari kitab Syarah Alfiyyah dipilih sesuai dengan sub-sub tema dalam pembahasan. Kemudian tahap organizing, yaitu data yang diperoleh berkaitan dengan nilai-nilai karakter dalam kitab Syarah Alfiyyah direlevansikan dengan pendidikan akhlak. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu analisis kritis. Disini penulis akan menganalisis data yang berkaitan tentang nilai-nilai karakter dalam Syarah Alfiyyah Ibn ‘Aqil kemudian akan merelevansikannya dengan pendidikan akhlak.
Hasil dari penelitian ini adalah: Pertama, terungkapnya nilai-nilai karakter dan makna interpretasi dalam Syarah Alfiyyah yang terbagi dalam empat kategori, yaitu nilai karakter beragama yang berisikan keyakinan terhadap Allah. Nilai karakter pribadi yang berisikan ikhlas, karakter mulia, rendah diri, mencapai derajat yang tinggi, beramal baik, belajar dan sungguh-sungguh dalam tolabul ‘ilmi, istiqomah, dan kerja keras.Nilai karakter bermasyarakat yang berisikan bersosialisasi yang baik. Nilai karakter bernegara yang berisi menjadi pemimpin yang ideal, dan peduli lingkungan. Kedua, terungkapnya relevansi nilai-nilai karakter tersebut dengan pendidikan akhlak, meliputi relevan dengan pendidikan akhlak kepada Allah, relevan dengan akhlak sesama manusia, dan relevan dengan akhlak terhadap lingkungan
Teaching Grammatical Rules using The Syarh Alfiyyah Ibn Malik by Ibn 'Aqil
This study aims to find out the teaching steps of Grammatical Rules using the book of Sharh Ibn Aqil Ala Alfiyah Ibn Malik. This research is qualitative with descriptive method, this research is located in ma'had Al-Jihad West Bandung. The method of collecting and analyzing data researchers use the method presented by Mills and Huberman: data collection, data classification, presentation, and conclusion. The research sample is the teachers of qawaid nahwiyah and 1st grade high school students at ma'had Al-Jihad. the researcher concluded the results that the steps in teaching al qawaid an-nahwiyah are carried out through the following stages, 1).The preparation of qawaid nahwiyah learning materials before teaching. 2). identifying the topic to be studied. 3) setting the time of the learning process
آراء البصريين والكوفيين عن الإضافة في شرح ابن عقيل لألفية ابن مالك البحث
Salah satu karakteristik bahasa adalah bersistem. Ulama Bashrah dan dan ulama Kufah merupakan dua madzhab ulama nahwu yang paling mashur sampai saat sekarang ini. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan analisis terhadap pendapat ulama Bashrah dan ulama Kufah dengan melakukan : 1) Apa pendapat ulama Bashrah tentang idhafah didalam kitab syarah Ibn Aqil?. 2) Apa pendapat ulama Kufah tentang idhafah didalam kitab syarah Ibn Aqil?. 3) Menjelaskan bagaimana pendapat ulama Bashrah dan ulama Kufah didalam kitab syarah Ibn Aqil?.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapat ulama Bashrah dan ulama Kufah tentang idhafah didalam kitab syarah Ibn Aqil dan untuk mengetahui bagaimanakah pendapat kedua ulama tersebut. Penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriftif, dari objek jenis penelitian ini adalah library research dan content analysis. Pendapat ulama Bashrah dalam kitab Ibn Aqil tersebut terdapat 8 pendapat sedangkan pendapat ulama Kufah terdapat 4 pendapat mengenai masalah hukum idhafah. Hasil penelitian ini adalah: pendapat ulama bashrah dan ulama kufah yang didapat dalam kitab syarah ibn aqil diantaranya. Pemahaman tentang lafaz لبيك , hukum mudhaf, penggunaan kalimat أذا , Penggunaan kalimat لدن , Pengggunaan kalimat مع , membuang mudhaf, mudhaf kepada jumlah
The Effect of Ibn Aqil Al-Hanbali's Disagreement with the Hanbali Jurisprudence in the Application of the Rule of Blocking the Pretext (Sadd Al-Dhara'i): An Analytical Jurisprudential Study
الأهداف: يهدف هذا البحث إلى إبراز منهج ابن عقيل الحنبلي في أصول الفقه، والذي انفرد به عن مذهبه، وتأثيره على الفروع الفقهية، وعلى الأخص منهجه الأصولي في التعامل مع دليل سد الذرائع، وقد برزت العديد من التساؤلات حول هذه الأحكام الفقهية، وأثر هذا الخلاف، ويأتي هذا البحث لبيان منهج ابن عقيل مع دليل سد الذرائع.
المنهجية: اعتمدت في هذا البحث على المنهج الاستقرائي الاستنباطي التحليلي، القائم على استقراء الأمثلة التي خالف فيها ابن عقيل المذهب الحنبلي عند استشهادهم بسد الذرائع، ومن ثم تحليلها، واستنباط المنهج الذي سار عليه في تلك المسائل.
النتائج: توصل البحث إلى أن ابن عقيل وهو من مجتهدي المذهب الحنبلي له منهجية مميزة ومختلفة عن المذهب الذي انتسب إليه، حيث اختلف مع المذهب في دليل سد الذرائع مما أدى إلى خلافه معهم في بعض الفروع الفقهية، مع بيان المنهج الذي سار عليه ابن عقيل في المسائل التي خالف فيها المذهب، وكان دليلها سد الذرائع منها تمسك الإمام ابن عقيل -رحمه الله- بمقاصد الشريعة وبالقواعد الفقهية ودلالات الألفاظ.
الخلاصة: ضرورة إعادة استقراء آراء مجتهدي المذاهب ومناهجهم بشأن الأدلة المختلف فيها، ومعرفة مسلكهم ومنهجهم في الاستنباط والتحليل للوصول إلى الحكم الشرعي، بغرض إبراز التنوع الأصولي وما قد تؤدي إليه اجتهاداتهم من وجود منهجية مميزة لهم مختلفة عن المذاهب التي انتسبوا إليها.Objectives: This research aims to highlight the unique methodology of Ibn Aqil Al-Hanbali in the principles of Islamic jurisprudence, particularly in how he diverged from his school of thought regarding the principle of blocking the means (Sadd al-Dhara'i). This divergence has raised many questions concerning the jurisprudential rulings and the implications of these differences. The study seeks to elucidate Ibn Aqil's approach towards this principle.
Methods: The research adopts an inductive, deductive, and analytical approach by examining cases where Ibn Aqil disagreed with the Hanbali school when invoking Sadd al-Dhara'i. It then analyzes and deduces the methodology he followed in these instances.
Results: The study concludes that Ibn Aqil, a renowned jurist within the Hanbali school, had a distinctive methodology that differed from his own school. He often diverged from the Hanbali position on the principle of Sadd al-Dhara'i, which led to differing jurisprudential rulings. The study highlights that Ibn Aqil’s methodology was based on the higher objectives of Sharia (Maqasid al-Sharia), principles of jurisprudence, and linguistic implications.
Conclusions: There is a need to re-examine the views and methodologies of jurists concerning controversial evidence, to better understand their unique approaches and the potential diversity within Islamic jurisprudential schools
Study Of The Basrah And Kuffah Schools In The Book Of Syarh Ibn Aqil: A Comparative Perspective: Kajian Mazhab Basrah dan Kuffah Dalam Kitab Syarh Ibnu Aqil: Perspektif Komparatif
The Alfiyyah book is a book of naḥwu used in various institutions in Indonesia, from Islamic boarding schools to universities. This book is recommended by many scholars, one of which is the book of Syarh Ibn Aqil. This book contains an explanation of Alfiyyah\u27s naẓams in great detail. In addition to explaining the material in naẓams, Ibn Aqil also reviewed various opinions of naḥwu experts. The two significant schools of thought in the development of naḥwu science are often used as a benchmark for comparison, namely the Basrah and Kuffah schools. This study aims to discover the different opinions between these two schools in the book of Syarh Ibn Aqil and the factors that cause the differences. The method used in this research is descriptive qualitative through a literature study using documentation. The results of this study state that these two schools have different views in determining the rules of naḥwu, such as amil who recites multiday, taqdῑmul khabar, taqdῑmul fā‘il, etc. This is based on the different methods used in determining the rules. With the sima‘i method, the Basrah School is more selective in retrieving data. At the same time, Kuffah is more flexible and often uses the qiyas method to determine the rules.The purpose of learning naḥwu in the context of learning Arabic in Indonesia is as a wasῑlah (language learning tool), not as a gayah (final goal). Therefore learning naḥwu in the context of teaching Arabic needs to be done tajdid by looking at the importance of facilitating, simplifying, and reforming naḥwu material. Learning naḥwu should avoid philosophical analysis such as that developed by Basrah and accommodate all Arabic languages as developed by Kufah.
Keywords: Schools in Basrah, Kuffah, Ibn Aqil, and Arabic Learning.
AbstrakKitab Alfiyyah merupakan kitab naḥwu yang digunakan berbagai lembaga di Indonesia, mulai dari pesantren hingga perguruan tinggi. Buku ini direkomendasikan oleh banyak ulama, salah satunya adalah kitab Syarh Ibnu Aqil. Buku ini memuat penjelasan tentang nama-nama Alfiyyah dengan sangat detail. Selain menjelaskan materi naẓams, Ibnu Aqil juga mengulas berbagai pendapat dari para ahli naḥwu. Dua mazhab penting dalam perkembangan ilmu naḥwu yang sering dijadikan tolok ukur pembanding, yaitu mazhab Basrah dan Kuffah. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pendapat antara kedua mazhab tersebut dalam kitab Syarh Ibnu Aqil dan faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif melalui studi pustaka dengan menggunakan dokumentasi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa kedua mazhab ini memiliki pandangan yang berbeda dalam menentukan aturan naḥwu, seperti amil yang membaca multiday, taqdῑmul khabar, taqdῑmul fā\u27il, dll. Hal ini didasarkan pada perbedaan metode yang digunakan untuk menentukan aturan. Dengan metode sima\u27i, Mazhab Basrah lebih selektif dalam pengambilan data. Sedangkan Kuffah lebih fleksibel dan sering menggunakan metode qiyas untuk menentukan aturannya. Tujuan pembelajaran naḥwu dalam konteks pembelajaran bahasa Arab di Indonesia adalah sebagai wasῑlah (alat pembelajaran bahasa), bukan sebagai gayah (tujuan akhir). ). Oleh karena itu pembelajaran naḥwu dalam konteks pengajaran bahasa Arab perlu dilakukan secara tajdid dengan melihat pentingnya kemudahan, penyederhanaan, dan pembenahan materi naḥwu. Pembelajaran naḥwu harus menghindari analisis filosofis seperti yang dikembangkan oleh Basrah dan mengakomodasi semua bahasa Arab seperti yang dikembangkan oleh Kufah.
Kata kunci : Kajian Madzhab Basrah, Kuffah, Ibnu Aqil, Pembelajaran Bahasa Ara
- …
