42 research outputs found

    Optimalisasi Pendidikan dengan Konsep Tadabur: Telaah Tafsir Tarbawi atas QS. Muhammad [47]: 24

    No full text
    Al-Qur’an sebagai sumber hukum utama dalam Islam, menjelaskan berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Pendidikan memiliki peran krusial dalam membentuk kehidupan manusia dan harus terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan pendidikan melalui penerapan konsep tadabur atas QS. Muhammad [47]: 24 dengan pendekatan tafsir tarbawi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, dengan menggunakan metode studi kepustakaan berdasarkan tafsir klasik, pertengahan, kontemporer, dan berbagai referensi lain dari buku-buku dan artikel jurnal yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep tadabur dalam QS. Muhammad [47]: 24 menekankan pentingnya perenungan dengan hati yang terbuka, sehingga memudahkan manusia dalam menerima kebenaran, meskipun harus menghadapi berbagai tekanan dan konsekuensi. Pendekatan ini membantu peserta didik memahami pelajaran secara mendalam dan mengoptimalkan proses pembelajaran melalui kesiapan hati. Hati yang bersih dan terbuka dapat menumbuhkan sikap positif terhadap proses pembelajaran, seperti semangat, rasa ingin tahu, dan keterbukaan terhadap informasi baru. Dengan demikian, kesiapan hati menjadi fondasi penting untuk menciptakan proses pendidikan yang lebih efektif, menyeluruh, dan adaptif.Al-Qur’an sebagai sumber hukum utama dalam Islam, menjelaskan berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Pendidikan memiliki peran krusial dalam membentuk kehidupan manusia dan harus terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan pendidikan melalui penerapan konsep tadabur atas QS. Muhammad [47]: 24 dengan pendekatan tafsir tarbawi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, dengan menggunakan metode studi kepustakaan berdasarkan tafsir klasik, pertengahan, kontemporer, dan berbagai referensi lain dari buku-buku dan artikel jurnal yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep tadabur dalam QS. Muhammad [47]: 24 menekankan pentingnya perenungan dengan hati yang terbuka, sehingga memudahkan manusia dalam menerima kebenaran, meskipun harus menghadapi berbagai tekanan dan konsekuensi. Pendekatan ini membantu peserta didik memahami pelajaran secara mendalam dan mengoptimalkan proses pembelajaran melalui kesiapan hati. Hati yang bersih dan terbuka dapat menumbuhkan sikap positif terhadap proses pembelajaran, seperti semangat, rasa ingin tahu, dan keterbukaan terhadap informasi baru. Dengan demikian, kesiapan hati menjadi fondasi penting untuk menciptakan proses pendidikan yang lebih efektif, menyeluruh, dan adaptif

    Analisa Perhitungan Harga Pokok Produksi Sebagai Dasar Penentuan Harga Jual Produk pada CV AULIA

    No full text
    Analysis of Production Cost Calculation as the Basis for Determining the Selling Price of Products at CV AULIA Raden Muhammad LazuardiAlamIlmi, 2017 (xvi+59page) Email: [email protected] This final report aims to determine the accuracy, classification of costs in the calculation cost of production and the determination of selling price banner products, envelopes, letterhead and yasin on CV AULIA. The author collects data by interview. From the data obtained, author found several problems, such as the company has not done the classification between the cost of raw materials and raw materials indirectly. The Company has not included the cost of electricity and fixed asset depreciation costs in the cost of production and the calculation of the cost of production applied to the company. The authors suggest that companies should classify elements of cost of goods manufactured appropriately primarily for direct material costs and indirect material costs (factory overhead).Companies should also include factory overhead costs such aselectricity costs and fixed asset depreciation costs so that the cost of production is in accordance with cost accounting standards because it can provide benefits for the company in preparing the company's operating budget and can set the price of the right product because it involves the profits to be received by company

    Perkembangan kognitif Nabi Muhammad perspektif Jean Piaget

    No full text
    ABSTRAK Mencerdaskan anak bangsa merupakan semangat pendidikan nasional yang telah diamanahkan dalam pembukaan Undang-Undang 45. Makna kecerdasan dalam pendidikan ini menyentuh beberapa ranah kecerdasan. Benjamin S Bloom (1956) mencoba merumuskan tujuan pendidikan dalam tiga ranah yaitu, ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Pada dasarnya ketiga ranah kecerdasan itu adalah saling mempengaruhi satu sama lain. Kecerdasan kognitif seseorang akan sangat besar implikasinya dalam pengambilan sikap yang menjadi wilayah kecerdasan afektif, yang kemudian mendorong individu untuk berani menciptakan sesuatu (ranah psikomotor). Pentingnya kecerdasan kognitif dalam wujudnya juga telah disampaikan dalam setiap ayat-ayat Al-qur’an sebagai kitab panduan umat muslim sedunia, yang disampaikan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad. Ayat-ayat al-Qur’an yang sarat akan pesan-pesan bermakna bagi manusia sedunia, bahkan dianggap wahyu terbesar sepanjang masa tidaklah mungkin diamanahkan oleh Allah kepada manusia biasa. Maka penunjukan Allah atas Nabi Muhammad menjadi satu misteri tersendiri tentang seberapa tingginya kecerdasan Kognitif Nabi Muhammad, sehingga mampu menerima ribuan ayat lalu menyampaikannya kepada orang lain dan berujung dengan pengaplikasian sempurna atas tiap ayat yang diterimanya. Disisi lain berbagai kesulitan dan keadaan menyedihkan telah dirasakannya sejak dilahirkan. Seorang tokoh Perkembangan Kognitif dari Swiss Jean Piaget, memberi sumbangan yang luar biasa terhadap dunia pendidikan, melalui teori perkembangan kognitif yang ditemukannya, dunia pendidikan akhirnya memperoleh cara yang tepat untuk mencerdaskan setiap generasi bangsa, dengan melakukan telaah dari tiap perkembangan usia tiap individu. Seperti yang disampaikan Jean Piaget dalam teorinya. Berangkat dari latar belakang itulah, penulis ingin meneliti lebih lanjut tentang “kecerdasan kognitif Nabi Muhammad menurut perspektif Jean Piaget”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecerdasan kognitif Nabi Muhammad menurut teori perkembangan kognitif Jean Piaget sehingga mampu menjadi Rasulullah atau manusia pilihan. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah fase perkembangan kognitif Nabi Muhammad menurut teori Jean Piaget, mencakup: Dasar awal kognitif; penginderaan, persepsi dan belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif Nabi Muhammad.” Fokus masalah dalam penelitian ini adalah menganalisis perkembangan kognitif Nabi Muhammad pada usia 6-20 tahun (usia sebelum kenabian), serta menggali informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Nabi Muhammad jauh sebelum risalah kenabian diterimanya. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, hal ini dilakukan karena penelitian ini dekat hubungannya dengan nilai-nilai sejarah. Maka tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan pengumpulan dokumen-dokumen yang menunjang dalam penulisan karya ilmiah ini. Kemudian dari dokumentasi tersebut dilakukan analisis dengan menggunakan content analysis. Dengan kerangka itu, dapat diketahui bahwa perkembangan kognitif Nabi Muhammad dalam teori Jean Piaget tetap melalui fase-fase sesuai usia perkembangannya. Mengingat fokus penelitian ini adalah perkembangan kognitif Nabi Muhammad di usia 6-20 tahun, maka dalam perspektif Jean Piaget, ada dua fase yang akan berlaku yaitu fase operasional konkrit dan fase operasional formal. Sama halnya dalam perspektif Islam, dalam hal ini penulis meminjam pemikiran dari Ibnu Jauzi, menurut penuturannya berdasarkan tafsir dari berbagai ayat al-qur’an seperti diantaranya surat Al-Baqarah 132-133, QS al-An’am ayat 73 dan beberapa ayat lainnya, juga menyebutkan beberapa fase perkembangan yang mutlak dilalui tiap anak manusia termasuk Nabi Muhammad sesuai usia perkembangannya. Tingginya kecerdasan kognitif Nabi Muhammad, pasti dipengaruhi oleh beberapa faktor, dan dari hasil analisis yang dilakukan menyatakan bahwa ada 3 faktor yang mempengaruhi perkembangan Nabi Muhammad yaitu faktor hereditas (genetik), faktor lingkungan (meliputi keadaan geografis, dan nilai adat dan budaya yang berlaku di masyarakat tempat tinggal Nabi Muhammad), faktor ketentuan Allah SWT. Penulis berharap ada penelitian lanjutan sebagai respon positif atas penelitian ini, mengingat masih banyaknya permasalahan seputar pendidikan yang menyentuh berbagai wilayah penting pembangunan pendidikan. Kecerdasan kognitif tiap individu menjadi berbeda-beda tingkatannya mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi perkembangannya, maka tidak boleh ada penyetaraan sikap ataupun pendiskriminasian sikap yang akhirnya berdampak pada kemandekan atau lebih parah lagi trauma berkepanjangan terhadap kegiatan belajar bagi diri individu-individu generasi bangsa. ABSTRACT Educational nation’s children is a spirit of national education has been mandated in preamble of constitution 45. The meaning of intelligence is an effort to improve education authentic touches on some aspects of intelligence. Benjamin S Bloom (1956) formulate objectives educational in three domains there are, cognitive, affective domain and psychomotor domains. Basically, the third aspects of intelligence that is mutually influence each other. Cognitive intelligence of a person will be huge implications in taking the attitude that became the affective intelligence, which then encourages the individual to dare to create something (psychomotor domain). The importance of cognitive intelligence in his form has also been submitted in each verses the Qur’an as a guidance book of Muslims worldwide, Allah revealed through the Angel Gabriel to the Prophet Muhammad. Verses of the Qur’an are meaningful messages to the human world, even considered the greatest revelation of all time, that it is impossible to Allah’s mandate to a human ordinary. Allah appointed the Prophet Muhammad is a separate mystery about how the high level of his cognitive intelligence. Then he was able to receive thousands of verses and then pass it on to others and apply it perfectly on every verse he had received. besides, he has felt the difficulties and the plight since birth. A prominent Cognitive Development Swiss Jean Piaget, contributes to the extraordinary world of education, he through the discovery of the theory of cognitive development, finally, education obtain appropriate methods and treatment to educate every generation of the nation, by doing a review of each developmental age of each individual. As stated Jean Piaget in his theory. Based on the above reasons, the authors examined more about “cognitive intelligence of learners according to Islamic perspective in the case of Prophet Muhammad (analytical studies of Jean Piaget)”. This study aims to determine the cognitive intelligence of the Prophet Muhammad according to Jean Piaget’s cognitive developmental theory so as to be a Prophet or chosen human. The problem formulation in this study is “how cognitive developmental phase of the Prophet Muhammad according to Jean Piaget’s theory, which includes: Basic start cognitive; sensing, perception and learning? What are the factors that influence cognitive development of the Prophet Muhammad?. The problem focus in this study is to analyze the cognitive development of the Prophet Muhammad at the age of 6-20 years (age before prophethood), as well as collect information on factors that influence the development of the Prophet Muhammad a long time before receipt of the treatise of prophecy. This type of research is the literature research, this approach because the research is related to the values of history. Then the techniques of data collection in this study using the collection of documents that support the writing of this scientific work. Later analysis of the documentation is done by using Conten analysis and interpretation of sources and interpretation of data obtained from several mufassir. Based on the framework above, it is known that the Prophet Muhammad's cognitive development in Piaget’s theory remains through the phases of age-appropriate development. Given the focus of this study is the cognitive development of the Prophet Muhammad at the age of 6-20 years, then in Jean Piaget’s perspective, there are two phases that will effect the operational phase of concrete and formal operational phase. Similarly, in the perspective of Islam, in this case the author borrows the thought of Ibn Jawzi, according his statement based on interpretations of various verses such as the Qur’an surah Al-Baqarah 132-133, Surah al-An‘am paragraphs 73 and several other verses, also mentions some of the absolute phase of development that children go through each person, including the Prophet Muhammad’s age-appropriate development. The high cognitive intelligence of the Prophet Muhammad, definitely influenced by several factors, and the results of analysis carried out stating that there are three factors that influence the development of the Prophet Muhammad are the factors of heredity (genetic), environmental factors (including geographical, and cultural values and customs applicable in the residence of the Prophet Muhammad), Allah provision factors. The author hopes that this study, continued by the next research as. Considering the many issues around education that touches many important areas of education development. Cognitive intelligence of each individual into a different level, considering the many factors that influence its development, then there should be no discrimination or affirmative attitude of the attitude which ultimately affects the stagnation or worse prolonged trauma on learning activities for self-generation individuals of the nation. ABSTRAK ARABI

    PENGARUH BUDAYA ORGANISASI, KOMPETENSI DAN REWARD TERHADAP KEPUASAN KERJA DAN DAMPAKNYA PADA KINERJA PEGAWAI DINAS PERHUBUNGAN ACEH

    No full text
    PENGARUH BUDAYA ORGANISASI, KOMPETENSI DAN REWARD TERHADAP KEPUASAN KERJA DAN DAMPAKNYA PADA KINERJA PEGAWAI DINAS PERHUBUNGAN ACEH* Angga Rianda Aulia, Muhammad Adam, Mukhlis Magister Manajemen, Universitas Syiah Kuala, Indonesia*Corresponding Author : [email protected] ini dilakukan untuk mengetahui dan menguji pengaruh budaya organisasi, kompetensi dan reward terhadap kepuasan kerja dan dampaknya pada kinerja pegawai Dinas Perhubungan Aceh. Populasinya adalah pegawai Dinas Perhubungan Aceh yang berjumlah 204 orang. Penarikan sampel dilakukan dengan metode sensus dimana keseluruhan populasi akan dijadikan sebagai sampel penelitian. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert. Model penelitian dianalisis menggunakan bantuan peralatan statistic SEM AMOS. Hasil pengujian membuktikan Kinerja Pegawai, Kepuasan Kerja, Budaya Organisasi, Kompetensi, dan Reward pada Dinas Perhubungan Aceh sudah baik, Budaya Organisasi mempengaruhi Kepuasan Kerja, Kompetensi mempengaruhi Kepuasan Kerja, Reward mempengaruhi Kepuasan Kerja, Budaya Organisasi tidak mempengaruhi Kinerja Pegawai, Kompetensi mempengaruhi Kinerja Pegawai, Reward mempengaruhi Kinerja Pegawai, Kepuasan Kerja mempengaruhi Kinerja Pegawai, Kepuasan Kerja memediasi secara penuh pengaruh Budaya Organisasi terhadap Kinerja Pegawai, Kepuasan Kerja memediasi secara parsial pengaruh Kompetensi terhadap Kinerja Pegawai, Kepuasan Kerja memediasi secara parsial pengaruh Reward terhadap Kinerja Pegawai. Temuan ini bisa menjadi model peningkatan kinerja pegawai secara akademis yang bisa digunakan sebagai referensi pengembangan model penelitian selanjutnya.Keyword : Budaya Organisasi, Kompetensi, reward, kepuasan kerja, kinerja pegawaiPENGARUH BUDAYA ORGANISASI, KOMPETENSI DAN REWARD TERHADAP KEPUASAN KERJA DAN DAMPAKNYA PADA KINERJA PEGAWAI DINAS PERHUBUNGAN ACEH* Angga Rianda Aulia, Muhammad Adam, Mukhlis Magister Manajemen, Universitas Syiah Kuala, Indonesia*Corresponding Author : [email protected] ini dilakukan untuk mengetahui dan menguji pengaruh budaya organisasi, kompetensi dan reward terhadap kepuasan kerja dan dampaknya pada kinerja pegawai Dinas Perhubungan Aceh. Populasinya adalah pegawai Dinas Perhubungan Aceh yang berjumlah 204 orang. Penarikan sampel dilakukan dengan metode sensus dimana keseluruhan populasi akan dijadikan sebagai sampel penelitian. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert. Model penelitian dianalisis menggunakan bantuan peralatan statistic SEM AMOS. Hasil pengujian membuktikan Kinerja Pegawai, Kepuasan Kerja, Budaya Organisasi, Kompetensi, dan Reward pada Dinas Perhubungan Aceh sudah baik, Budaya Organisasi mempengaruhi Kepuasan Kerja, Kompetensi mempengaruhi Kepuasan Kerja, Reward mempengaruhi Kepuasan Kerja, Budaya Organisasi tidak mempengaruhi Kinerja Pegawai, Kompetensi mempengaruhi Kinerja Pegawai, Reward mempengaruhi Kinerja Pegawai, Kepuasan Kerja mempengaruhi Kinerja Pegawai, Kepuasan Kerja memediasi secara penuh pengaruh Budaya Organisasi terhadap Kinerja Pegawai, Kepuasan Kerja memediasi secara parsial pengaruh Kompetensi terhadap Kinerja Pegawai, Kepuasan Kerja memediasi secara parsial pengaruh Reward terhadap Kinerja Pegawai. Temuan ini bisa menjadi model peningkatan kinerja pegawai secara akademis yang bisa digunakan sebagai referensi pengembangan model penelitian selanjutnya.Keyword : Budaya Organisasi, Kompetensi, reward, kepuasan kerja, kinerja pegawa

    Kontribusi Aksiologi dalam Filsafat dan Ilmu Pengetahuan terhadap Solusi Masalah Etis di Era Modern

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap peran aksiologi dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam mengatasi masalah kehidupan di era modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, mengumpulkan data dari berbagai literatur, termasuk buku, artikel jurnal, dan publikasi lainnya yang relevan dengan topik penelitian. Data kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis konten untuk memahami kontribusi aksiologi dalam konteks sosial dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai aksiologi memberikan wawasan yang mendalam dan solusi praktis terhadap tantangan kehidupan di era modern. Dengan demikian, penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan interdisipliner, terutama filsafat dan ilmu pengetahuan dalam merumuskan solusi yang menghargai dan mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Aksiologi dalam filsafat dan ilmu pengetahuan sebagai solusi terhadap masalah etis di era modern. Aksiologi membantu mengarahkan ilmu pengetahuan tidak untuk menemukan kebenaran faktual, tidak mempertimbangkan dampaknya terhadap kesejahteraan manusia, lingkungan, dan tatanan sosial. Kata Kunci: Aksiologi, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan, Solusi Etis

    PEMETAAN CAPAIAN PEMBELAJARAN DAN MATERI AJAR PAI DAN BUDI PEKERTI ELEMEN Al-QURAN DALAM KURIKULUM MERDEKA

    No full text
    Al-Quran as an element of PAI and Budi Pekerti in the Merdeka Curriculum has continuous learning outcomes and teaching materials from primary to secondary education levels. However, the reality on the ground shows that the level of Quran literacy among students in Indonesia is still low. To overcome this, it is necessary to map based on Quran literacy components such as reading according to tajweed, writing, memorizing and interpreting. This is the purpose of this study to ensure that the Learning Outcomes and Teaching Materials for PAI and Budi Pekerti in the Merdeka Curriculum are in accordance with the development of students and the concept of Islamic teachings about the Quran. This research is a qualitative research with content analysis method. The data sources are curriculum documents and PAI and Budi Pekerti textbooks for the Merdeka Curriculum version, which are analyzed through a document study approach. The results of the study provide findings in the form of mapping learning outcomes and teaching materials for PAI and Budi Pekerti elements of the Al-Quran in the Merdeka Curriculum on the Al-Quran literacy component from primary to secondary education levels

    Interaksi Sosial dan Praktik Keagamaan dalam Program Tahsin Daring: Studi Sosiologis atas Majelis Fathimah Karimah

    No full text
    This study examines the social dynamics of online tahsin learning, with a primary focus on patterns of social interaction and the formation of participants’ religious habits at Majelis Fathimah Karimah as a non-formal religious institution adopting a digital learning model. The main concern of this study is how social interaction and religious habits are formed and transformed within an online learning environment. Employing a qualitative descriptive approach, data were collected through semi-structured and in-depth interviews, questionnaires, digital documentation and participatory observation of online learning interactions. The findings indicate that the online tahsin program successfully fosters strong social bonds, encourages active participation and facilitates participants’ religious transformation. Online platforms such as Zoom and WhatsApp enable direct recitation feedback, emotional connection and peer support. Social interaction occurs not only explicitly through dialogue but also implicitly through shared learning experiences. The program also cultivates new religious habits, including consistent Qur’anic recitation, group-based motivation and personal development. Nevertheless, challenges such as unstable internet connectivity and the absence of a formal attendance system remain obstacles to program implementation. Overall, this study concludes that online tahsin programs can serve as transformative spaces for religious education, in which technology supports cognitive achievement alongside the strengthening of social and spiritual dimensions

    The Concept of Useful Knowledge in Hadith and its Implications for Contemporary Islamic Education

    No full text
    Islamic education aims to instil helpful knowledge, with the obligation to convey knowledge as a primary indicator. In today's digital era, while the dissemination of knowledge has become more widespread, its intensity and the quality of the knowledge shared often do not compare to that of the past. This study examines how the principle of knowledge dissemination, as emphasized in Islamic teachings, can be effectively applied in contemporary Islamic education to address these challenges. Employing a qualitative approach with content analysis, the study analyzes primary sources, including the hadith text Sahih Bukhari No. 65 and secondary sources, such as Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari, journal articles, and other relevant literature. The data were analyzed by identifying the values within the hadith and linking them to modern educational practices, including learning technologies and teaching methods. The findings indicate that education emphasizing the dissemination of beneficial knowledge can enrich the learning experience and enhance teaching quality. The application of methods such as recitation, active learning, and the use of digital technology supports this principle. In conclusion, Islamic education must integrate these values to create an environment that focuses on mastery of knowledge and applying moral values in daily life

    Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Masa Rasulullah dan Masa Modern

    No full text
    Abstract: The purpose of this study is to identify how to analyze Islamic learning management during the time of the Prophet Muhammad, to identify how to analyze Islamic learning management in the modern era, and to identify comparative analysis of Islamic learning management at the time of the Prophet Muhammad. SAW as well as in this modern era. Based on the results of the research, it can be seen that from the author\u27s analysis of the management of Islamic learning at the time of the Prophet Muhammad, it can be concluded from planning that has a fundamental character for the learning objectives of these friends and the people only. It is a moral medicine, and it is a learning vision. inside it. Organizing, at the time of the Prophet Muhammad SAW, the organization that became Dicala\u27s strength was the mandate and enthusiasm in carrying out the mandate given to his friends (application), at the time of Rasulullah SAW, the application was tried in the learning process was a reliable effort and effort without neighing supervision (supervision) during the supervision of the Messenger of Allah. Keywords: management, Islamic learning, Rasulullah SAW era, modern era. Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana menganalisis manajemen pembelajaran Islam pada masa Nabi Muhammad, untuk mengidentifikasi bagaimana menganalisis manajemen pembelajaran Islam di era modern, dan untuk mengidentifikasi analisis komparatif manajemen pembelajaran Islam pada masa Nabi. Muhammad. SAW maupun di era modern ini. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari analisis penulis tentang pengelolaan pembelajaran Islam pada masa Nabi Muhammad SAW, dapat disimpulkan dari perencanaan yang bersifat fundamental untuk tujuan pembelajaran para sahabat ini dan orang-orangnya saja. Ini adalah obat moral, dan itu adalah visi pembelajaran. di dalamnya. Berorganisasi Pada masa Nabi Muhammad SAW, organisasi yang menjadi kekuatan Dicala adalah amanah dan semangat dalam menjalankan amanah yang diberikan kepada para sahabat (aplikasi), pada masa Rasulullah SAW aplikasi dicoba dalam proses pembelajaran. merupakan ikhtiar dan ikhtiar yang dapat diandalkan tanpa harus melingkupi pengawasan (pengawasan) selama pengawasan Rasulullah. Kata Kunci: pengelolaan, pembelajaran PAI, masa Rasulullah, masa moder

    Gagasan Muhammad Arkoun Tentang Humanisasi Ilmu Agama dan Relevansinya Bagi Pengembangan Ilmu Falak

    No full text
    Muhammad Arkoun, as one of the contemporary Islamic thinkers, is the subject of examination in this writing, where the author seeks to explore Arkoun's ideas on the humanization of religious knowledge and its relevance to the development of astronomy in the present era. To achieve this objective, the author employs the library research method, which is literature-based. Arkoun's notions of deconstruction and rethinking Islam constitute key concepts presented in his critique of Islamic societies that tend to sanctify the views of past scholars without considering their relevance to the current context. According to Arkoun, this tendency often results in Islamic thought becoming stagnant, hindering the ability to address contemporary issues due to a fixation on the perspectives of earlier scholars. This problem extends to the realm of knowledge development, as seen in cases such as the rejection of reorienting the qibla direction in certain mosques. The argument is based on the belief that the qibla direction in these mosques is a legacy from past scholars of the region and, therefore, should not be altered. However, Arkoun contends that, in the field of astronomy, calculations reveal that the qibla direction in these mosques deviates, necessitating a correction in their positioning.Muhammad Arkoun, sebagai salah satu pemikir Islam kontemporer, menjadi subjek kajian dalam tulisan ini, dimana penulis berusaha menggali gagasan Arkoun tentang humanisasi pengetahuan agama dan relevansinya dengan perkembangan astronomi di era sekarang. Untuk mencapai tujuan ini, penulis menggunakan metode penelitian perpustakaan, yang berbasis literatur. Gagasan Arkoun tentang dekonstruksi dan pemikiran ulang Islam merupakan konsep-konsep kunci yang disajikan dalam kritiknya terhadap masyarakat Islam yang cenderung menyucikan pandangan para ulama' masa lalu tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan konteks saat ini. Menurut Arkoun, kecenderungan ini sering mengakibatkan pemikiran Islam menjadi stagnan, menghambat kemampuan untuk mengatasi isu-isu kontemporer karena fiksasi pada perspektif para ulama' sebelumnya. Masalah ini meluas ke ranah pengembangan pengetahuan, seperti yang terlihat dalam kasus-kasus seperti penolakan reorientasi arah kiblat di masjid-masjid tertentu. Argumen ini didasarkan pada keyakinan bahwa arah kiblat di masjid-masjid ini adalah warisan dari ulama masa lalu di wilayah tersebut, oleh karena itu, tidak boleh diubah. Namun, Arkoun berpendapat bahwa, di bidang astronomi, perhitungan mengungkapkan bahwa arah kiblat di masjid-masjid ini menyimpang, memerlukan koreksi dalam posisi mereka
    corecore