75,355 research outputs found

    Perilaku Pencarian Informasi Generasi Z Dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Lowongan Pekerjaan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perilaku pencarian informasi generasi Z dalam memenuhi kebutuhan informasi lowongan kerja. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, dengan pendekatan penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh generasi Z yang bertempat tinggal di wilayah Kelurahan Lenteng Agung dengan total sebanyak 11.294 orang, kemudian menggunakan rumus Slovin untuk menentukan jumlah sampel dan diperoleh sebanyak 100 sampel. Teknik sampel yang digunakan dengan menggunakan teknik purposive sampling, dimana menetapkan responden untuk dijadikan sampel berdasarkan pada kriteria-kriteria tertentu. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuisioner dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan teori pencarian informasi Berrypicking yang dicetuskan oleh Marcia J. Bates dengan model perilaku pencarian informasi dari David Ellis yang terdiri dari starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, extracting, verifying, dan ending. Melalui penelitian ini juga diharapkan agar generasi Z memiliki gambaran tentang bagaimana melakukan pencarian informasi lowongan pekerjaan, dengan melihat perolehan skor rata-rata tertinggi pada tahapan verifying dan skor rata-rata terendah pada tahapan monitoring. Hal ini dapat dijadikan bahan evaluasi generasi Z yang sedang mencari informasi lowongan pekerjaan. Pada tahapan starting, diperoleh skor rata-rata 3,47 yang bermakna sangat tinggi. Tahapan chaining memperoleh skor rata-rata 3,61 yang bermakna sangat tinggi. Perolehan skor rata-rata 3,62 pada tahapan browsing yang bermakna sangat tinggi. Tahapan differentiating memperoleh skor rata-rata 3,48 yang bermakna sangat tinggi. Tahapan monitoring memperoleh skor rata-rata 3,07 yang bermakna tinggi. Perolehan skor rata-rata 3,56 pada tahapan extracting yang bermakna sangat tinggi. Tahapan verifying memperoleh skor rata-rata 3,72 yangbermakna sangat tinggi. Dan tahapan akhir atau ending memperoleh skor rata-rata 3,71 yang bermakna sangat tinggi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diketahui bahwa skor rata-rata akhir sebesar 3,53 yang bermakna sangat tinggi, maka dapat dikatakan bahwa generasi Z di wilayah Kelurahan Lenteng Agung sudah sesuai atau sudah menjalankan tiap tahapan dari model David Ellisiii, 120 hlm, 30 c

    Perilaku Pencarian Informasi Generasi Z Dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Lowongan Pekerjaan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perilaku pencarian informasi generasi Z dalam memenuhi kebutuhan informasi lowongan kerja. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, dengan pendekatan penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh generasi Z yang bertempat tinggal di wilayah Kelurahan Lenteng Agung dengan total sebanyak 11.294 orang, kemudian menggunakan rumus Slovin untuk menentukan jumlah sampel dan diperoleh sebanyak 100 sampel. Teknik sampel yang digunakan dengan menggunakan teknik purposive sampling, dimana menetapkan responden untuk dijadikan sampel berdasarkan pada kriteria-kriteria tertentu. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuisioner dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan teori pencarian informasi Berrypicking yang dicetuskan oleh Marcia J. Bates dengan model perilaku pencarian informasi dari David Ellis yang terdiri dari starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, extracting, verifying, dan ending. Melalui penelitian ini juga diharapkan agar generasi Z memiliki gambaran tentang bagaimana melakukan pencarian informasi lowongan pekerjaan, dengan melihat perolehan skor rata-rata tertinggi pada tahapan verifying dan skor rata-rata terendah pada tahapan monitoring. Hal ini dapat dijadikan bahan evaluasi generasi Z yang sedang mencari informasi lowongan pekerjaan. Pada tahapan starting, diperoleh skor rata-rata 3,47 yang bermakna sangat tinggi. Tahapan chaining memperoleh skor rata-rata 3,61 yang bermakna sangat tinggi. Perolehan skor rata-rata 3,62 pada tahapan browsing yang bermakna sangat tinggi. Tahapan differentiating memperoleh skor rata-rata 3,48 yang bermakna sangat tinggi. Tahapan monitoring memperoleh skor rata-rata 3,07 yang bermakna tinggi. Perolehan skor rata-rata 3,56 pada tahapan extracting yang bermakna sangat tinggi. Tahapan verifying memperoleh skor rata-rata 3,72 yangbermakna sangat tinggi. Dan tahapan akhir atau ending memperoleh skor rata-rata 3,71 yang bermakna sangat tinggi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diketahui bahwa skor rata-rata akhir sebesar 3,53 yang bermakna sangat tinggi, maka dapat dikatakan bahwa generasi Z di wilayah Kelurahan Lenteng Agung sudah sesuai atau sudah menjalankan tiap tahapan dari model David Ellisiii, 120 hlm, 30 c

    The Benefits of Being Economics Professor A (and not Z)

    Get PDF
    Alphabetic name ordering on multi-authored academic papers, which is the convention in the economics discipline and various other disciplines, is to the advantage of people whose last name initials are placed early in the alphabet. As it turns out, Professor A, who has been a first author more often than Professor Z, will have published more articles and experienced afaster growth rate over the course of her career as a result of reputation and visibility. Moreover, authors know that name ordering matters and indeed take ordering seriously: Several characteristics of an author group composition determine the decision to deviate from the default alphabetic name order to a significant extent.performance measurement, incentives, economists, name ordering

    Final word on Jersey Dutch

    No full text
    In this article, William Z. Shetter compares and contrasts the dialects that developed between different Dutch colonies in the New World. He explores in-depth the nuances of Jersey Dutch, and provides theories to explain how Dutch and colonial languages blended. The article is reprinted from American Speech, December 1958, Volum XXXIII, No. 4

    EDUKASI TENTANG PEMBENTUKAN PERSONAL BRANDING MELALUI PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL BAGI GEN Z

    Get PDF
    Perkembangan internet dan media sosial telah membawa generasi Z atau biasa disebut gen Z ke babak baru dalam berkomunikasi. Kedekatan gen Z dengan media sosial mempermudah mereka berkomunikasi dengan sesamanya karena mereka memang tumbuh di era teknologi. Kondisi tersebut disayangkan karena media sosial dapat memberikan manfaat lebih besar seperti membentuk personal branding.Membentuk personal branding sendiri berguna bagi siswa/i untuk mengembangkan diri sesuai bidang yang ingin digeluti terutama ketika sudah lulus. Lebih jauh, hal tersebut dapat menjadi portofolio yang membantu mereka dalam bidangnya. Sehingga, edukasi ini diperlukan siswa/i agar meningkatkan pengetahuan tentang personal branding. Lokasi pelakasanaan kegiatan berada di SMAN 34 Jakarta. Metode penyelenggaraan kegiatan adalah ceramah yang dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Hasil dan pembahasan adalah terjadinya komunikasi digital sebagai bentuk baru dalam berkomunikasi pada Gen Z. Hal ini turut memberi corak dalam membentuk personal branding melalui pemanfaatan media sosial. Terdapat tiga poin yang dapat diterapkan ketika membentuk personal branding: (1) menentukan niche; (2) sikap konsisten; (3) optimalisasi fitur yang ada di media sosial seperti feeds dan hashtag. Saran untuk kegiatan selanjutnya adalah adanya keberlanjutan dari pengetahuan yang sudah disampaikan dengan melakukan praktik membentuk personal branding dalam media sosial

    Tropobracon hayati Haider, sp. nov.

    No full text
    Tropobracon hayati Haider sp. nov. (Figs. 1–6) Female. Dark brown; head, mesoscutum, legs and ovipositor brown; first and median area of second tergite light brown; stemmaticum and tips of mandible black; eyes greyish; ocelli transparent; wings hyaline, venations brown. Head. Antenna 54 segmented (Fig. 6) (range 51–54 segmented), length of third antennal segment 1.6 times of fourth segment, third and fourth segments 3.3 and 2.0 times their widths respectively, apical segment 2.5 times their width; length of maxillary palpi as long as height of head; face smooth medio­ventrally and somewhat finely punctulate behind antennal sockets; frons finely punctulate and vertex superficially punctulate; temple smooth and roundly narrowed posteriorly (Fig. 3); length of eye 2.5 times temple in dorsal view; AOL: POL: OD: OOL = 3: 3: 3: 10; length of malar space 1.25 times basal width of mandible. Mesosoma. Length of mesosoma 1.75 times its heights; episternal scrobe linear and distinct; mesoscutum smooth, only medio­posteriorly with a short crenulate carina; scutellar sulcus wide with 8 longitudinal carina; scutellum with distinct pit medio­anteriorly; mesopleuron smooth medially and superficially coriaceous anteriorly; metapleuron granulate with long whitish setae; propodeum granulate, without median carina. Wings. Fore wing (Fig. 1) vein r: 3 ­SR: SR 1 = 7: 9: 41; cu­a antefurcal; 2 ­SR: 3 ­SR: r­m = 12: 9: 9; hind wing (Fig. 2) vein 1 r­m straight, free from 1 ­SC+R and about as long as 2 ­SC+R; 1 ­SC+R distinctly narrower than 1 r­m. Legs. Hind coxae granulate; length of femur, tibia and basitarsus of hind leg 2.8, 9.5 and 4.3 times their widths respectively; length of spurs of hind tibia both 0.4 times hind basitarsus (Fig. 5). Metasoma (Fig. 4). Length of first tergite as long as its apical width, its surface distinctly rugose, no distinct dorsal carina, its lateral areas rather wide and crenulate; first tergite convex medio­posteriorly; pair of grooves of second tergite narrow, coarsely crenulate and meeting each other at the second metasomal suture, resulting with a large triangular area; second and third tergites reticulate coriaceous; four­six tergites finely coriaceous; length of ovipositor sheaths 0.41 times of fore wing. Type material. Holotype, females, INDIA: Uttar Pradesh, Aligarh, 8.xi. 1999, A.A. Haider (ZDAMU); paratypes: 3 females, 1 male with same data as holotype (ZDAMU). Etymology. T. hayati is named after Prof. Mohammad Hayat from Aligarh Muslim University, Aligarh (India). Distribution. India (Uttar Pradesh). Remarks. The new species Tropobracon hayati Haider sp. nov. is closely related to T. comorensis Achterberg. However, it differs from T. comorensis in having (i) vein cu­a of fore wing antefurcal (in T. comoresnsis vein cu­a of fore wing post­furcal), (ii) lateral grooves of median area of second metasomal tergite narrow, coarsely crenulate and meeting each other at the second metasomal suture, resulting in a large triangular area (in T. comoresnsis lateral grooves of median area of second tergite wide, widely crenulate and united in basal half of tergite, resulting in a comparatively small triangular area), (iii) face smooth medio­ventrally and somewhat finely punctulate behind antennal socket (in T. comoresnsis face finely granulate), (iv) frons punctulate, vertex superficially punctulate and temple smooth (in T. comoresnsis frons finely granulate, vertex and temples superficially granulate, rather shiny), (v) mesopleuron smooth medially and superficially coriaceous anteriorly (in T. comoresnsis mesopleuron largely smooth), and (vi) second and third metasomal tergites reticulate coriaceous (in T. comoresnsis second and third tergites distinctly and rather finely rugose).Published as part of Haider, A. A., Ahmad, Z. & Shujauddin, 2004, Taxonomic studies on Indian Tropobracon Cameron (Hymenoptera: Braconidae: Braconinae), with descriptions of two new species, pp. 1-8 in Zootaxa 663 on pages 3-5, DOI: 10.5281/zenodo.15868

    TINGKAT KEBERHASILAN PENGGUNAAN PUPUK HAYATI BIOBOOST DAN INTERVAL PEMBERIAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.)

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan di Desa Timoro Kecamatan Tabulahan Kabupaten Mamasa yang dilaksanakan pada bulan April sampai Juli 2019. Bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan penggunaan pupuk hayati Bioboost dan interval pemberian terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun. Metode rancangan yang digunakan pada pelaksanaan penelitian ini dalam bentuk Rancangan Acak Kelompok dengan pola Rancangan Petak Terpisah (RPT). Petak Utama perlakuan interval waktu pemberian pupuk hayati Bioboost (W)  meliputi  dua  taraf yaitu : W1  =  Pemberian Pupuk hayati Bioboost dua minggu sekali W2  =  Pemberian Pupuk hayati Bioboost tiga minggu sekali Sedangkan Anak Petak (AP) adalah dosis pupuk hayati Bioboost  (F) terdiri dari tiga taraf yaitu : F0  =  tanpa pemberian  Pupuk hayati Bioboost  F1  =  dosis Pupuk hayati Bioboost 20 ml + 1000 ml air. F2  =  dosis Pupuk hayati Bioboost 40 ml + 1000 ml air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Interaksi interval waktu pemberian dengan dosis pupuk hayati bioboost (Z x F) tidak memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun pada semua parameter

    Assessment of Genetic Diversity Using Morphological and Molecular Characteristics of Indonesian Zoysiagrass Genotypes

    Get PDF
    Zoysiagrass is warm-season turfgrass thriving in tropical regions. Despite the adaptive nature, the existence of Indonesian zoysiagrass as well as morphological and genetic characteristics are not available. Therefore, this study aimed to explore Indonesian zoysiagrass from western and eastern parts of the country, as well as its morphological and molecular characteristics. Morphological characteristics was conducted to measure vegetative and reproductive characters while genotyping was performed using 15 simple sequence repeat markers. Morphological characteristics cluster three major groups, namely Group 1 corresponded to short, shorter, and fine leaves. Group 2 corresponded to tall, longer, and fine leaves, fewer seeds, and short spikelet, while Group 3 corresponded to tall, long, and wider leaves, more seeds, and longer spikelet. The results showed that the expected heterozygosity (He = 0.256) was lower than homozygosity (Ho = 0.341). The high level of discriminating capacity, polymorphism, and informativeness of SSR marker was observed (Effective Multiplex Ratio = 4.20, Marker Index = 2.394, and Resolving Power = 1.574). Additionally, population structure generated two subpopulations. Group 1 corresponded to Z. japonica from Sumatera Island and mixed province while Group 2 corresponded to Z. japonica from Central Java and Bali with Z. japonica and Z. matrella from mixed province. In conclusion, the exploration of morphological and genetic diversity from Indonesian zoysiagrass provided useful insight for conservation and future breeding improvement

    Uji Hayati Lima Jenis Minuman Kemasan Gelas dengan Hewan Uji Daphnia Magna dan Mencit Jantan (Mus musculus)

    Get PDF
    Lima jenis minuman yang terpilih yaitu panther, meico, teh zeggar, degan, dan teh bukit sudah dilakukan uji hayati. Salah satu untuk pengujian kualitas minuman tersebut, yaitu uji hayati dengan menggunakan neonate Daphnia magna  (berumur <24 jam) dan mencit jantan (Mus musculus). Pengujian menggunakan D. magna, dilakukan dalam dua tahap yaitu Range Finding test (RFT) dan Range Definitive Test (RDT), sementara uji hayati mencit jantan galur Deutschland Denken Yoken (DDY) dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap, dua faktorial dengan 18 kelompok perlakuan. Pengambilan sampel darah mencit jantan diambil pada bagian ekor hewan dan diperiksa dengan menggunakan metode strip dan glucometer autocheck. Hasil RFT menunjukan 50% kematian neonate D. magna terdapat pada pengenceran 10-100%. Hasil analisis menunjukkan nilai LC50-24h untuk minuman Panther (P), Meico (M), Teh Bukit (B), Teh Zegar (Z) dan Degan (D). berturut-turut adalah 39,99; 51,5; 40,9; 40,93; dan 49,74%. Hasil uji hayati menggunakan mencit jantan, terjadi kenaikan berat badan yang signifikan pada saat diberi Z, D dan B. Kenaikan kadar gula darah mencit jantan signifikan pada waktu perlakuan selama dua dan tiga minggu dengan P, M, B, Z dan D. Hal ini disebabkan kadar gula minuman dapat meningkatkan kadar gula darah. Dapat disimpulkan bahwa kelima sampel minuman tersebut bersifat toksik, karena nilai LC50 kurang dari 50% (hasil uji D. magna) dan dapat meningkatkan kadar gula darah pada mencit jantan

    Uji Hayati Lima Jenis Minuman Kemasan Gelas dengan Hewan Uji Daphnia Magna dan Mencit Jantan (Mus musculus)

    Get PDF
    Lima jenis minuman yang terpilih yaitu panther, meico, teh zeggar, degan, dan teh bukit sudah dilakukan uji hayati. Salah satu untuk pengujian kualitas minuman tersebut, yaitu uji hayati dengan menggunakan neonate Daphnia magna  (berumur <24 jam) dan mencit jantan (Mus musculus). Pengujian menggunakan D. magna, dilakukan dalam dua tahap yaitu Range Finding test (RFT) dan Range Definitive Test (RDT), sementara uji hayati mencit jantan galur Deutschland Denken Yoken (DDY) dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap, dua faktorial dengan 18 kelompok perlakuan. Pengambilan sampel darah mencit jantan diambil pada bagian ekor hewan dan diperiksa dengan menggunakan metode strip dan glucometer autocheck. Hasil RFT menunjukan 50% kematian neonate D. magna terdapat pada pengenceran 10-100%. Hasil analisis menunjukkan nilai LC50-24h untuk minuman Panther (P), Meico (M), Teh Bukit (B), Teh Zegar (Z) dan Degan (D). berturut-turut adalah 39,99; 51,5; 40,9; 40,93; dan 49,74%. Hasil uji hayati menggunakan mencit jantan, terjadi kenaikan berat badan yang signifikan pada saat diberi Z, D dan B. Kenaikan kadar gula darah mencit jantan signifikan pada waktu perlakuan selama dua dan tiga minggu dengan P, M, B, Z dan D. Hal ini disebabkan kadar gula minuman dapat meningkatkan kadar gula darah. Dapat disimpulkan bahwa kelima sampel minuman tersebut bersifat toksik, karena nilai LC50 kurang dari 50% (hasil uji D. magna) dan dapat meningkatkan kadar gula darah pada mencit jantan
    corecore