14,383 research outputs found

    Peran KH. Mohammad Hasan dalam mengembangkan tarekat Naqsyabandiyah di pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Probolinggo

    No full text
    Skripsi ini meneliti beberapa masalah yaitu : (1). Biografi KH. Mohammad Hasan. (2). Sejarah Tarekat Naqsyabandiyah Di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong (3). Peran KH. Mohammad Hasan Dalam Mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah Di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Untuk bisa menjawab permasalahan tersebut, penulis menggunakan metode historis untuk mendeskripsikan Peran KH. Mohammad Hasan dalam mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Probolinggo yaitu melalui tahap Heuristik, Kritik Sumber, Interpretasi, dan Historiografi. Dalam skripsi ini menggunakan pendekatan historis untuk mengungkapkan kronologis bagaimana peristiwa masa lampau terjadi. Adapun teori yang digunakan dalam skripsi ini adalah challenge (tantangan) dan response (jawaban) milik Arnold J. Toynbee yang menguraikan tentang Peran KH. Mohammad Hasan dalam mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Probolinggo. Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa: Pertama, KH. Mohammad Hasan bin Syamsuddin bin Qoiduddin dilahirkan pada tanggal 27 Rajab 1259 H / 1840 M, di Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo. Ayahnya bernama Syamsuddin bin Qoiduddin, ibunya bernama Khadijah. Beliau wafat pada tanggal 11 Syawal 1374 H / 11 Juni 1955 M. Kedua, Tarekat Naqsyabandiyah adalah suatu tarekat yang diambil dari nama pendiri yaitu Syaikh Muhammad Baha’uddin Naqsyaband yang hidup pada tahun (717-791 H). KH. Mohammad Hasan mendapatkan ajaran ini dan dibaiat langsung oleh Kiai Achmad Jazuli Utsman Ploso Kediri. Ketiga, Setelah tarekat naqsyabandiyah diterapkan di lingkungan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, KH. Mohammad Hasan tiada henti-hentinya memberikan arahan serta membimbing jamaah Tarekat untuk selalu berdzikir pada Allah SWT. oleh karena itu masyarakat merespon dengan baik dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan oleh Mursyid

    Atefeh Khazeni, Peter H. Adler, Zakieh Telmadareiiy, Mohammad Ali Oshaghi1,*, Hasan Vatandoost, Seyed Mohammad Abtahi & Abolfazl Lotfi

    No full text
    Khazeni, Atefeh, Adler, Peter H., Telmadareiiy, Zakieh, Oshaghi, Mohammad Ali, Vatandoost, Hasan, Abtahi, Seyed Mohammad, Lotfi, Abolfazl (2013): Atefeh Khazeni, Peter H. Adler, Zakieh Telmadareiiy, Mohammad Ali Oshaghi1,*, Hasan Vatandoost, Seyed Mohammad Abtahi & Abolfazl Lotfi. Zootaxa 3718 (6): 600-600, DOI: 10.11646/zootaxa.3718.6.

    KEPEMIMPINAN K.H. MOHAMMAD HASAN ABDEL BAR DI PONDOK ZAINUL HASANAIN DAN MASYARAKAT DI GENGGONG PAJARAKAN KABUPATEN PROBOLINGGO 1997-2020

    No full text
    K.H Mohammad Hasan Abdel Bar merupakan seorang ulama besar dan Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo-Jawa Timur. Dalam perjalanan hidupnya ia berperan besar bagi perkembangan Pesantren Zainul Hasan Genggong. Pada tahun 1997 K.H Mohammad Hasan Abdel Bar mendirikan Pondok Zainul Hasanain, sebagai cabang dari Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Ia merupakan seorang Mursyid Thariqot Naqsabandiah Ali-Ba’alawi di Pesantren Zainul Hasan Genggong. Dalam penelitian ini, untuk memahami kepemimpinan K.H Mohammad Abdel Bar menggunakan teori kepemimpinan Max Weber. Kepemimpinan ini ada tiga macam, yakni: Kepemimpinan Kharismatik, Kepemimpinan Tradisional, dan Kepemimpinan Legal Rasional. Berdasarkan teori dan pendekatan yang dipakai, penulis menganalisis bagaimana kepemimpinan K.H Mohammad Hasan Abdel Bar dimulai dari perilaku hingga menetapkan kebijakan. Sehingga bisa diketahui bagaimana kepemimpinan K.H Mohammad Hasan Abdel Bar. Untuk memudahkan penelitian ini, peneliti memberikan batasan dan rumusan masalah. Tujuan adanya rumusan masalah agar penelitian tetap fokus pada kajian yang ingin dibahas. Adapun rumusan masalah penelitian ini, ialah 1. Bagaimana Kepemimpinan K.H Mohammad Hasan Abdel Bar di Pondok Zainul Hasanain Genggong? 2. Bagaimana Dampak dari Pola Kepemimpinan Kharismatik K.H. Mohammad Hasan Abdel Bar? Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa KH. Mohammad Hasan Abdel Bar mendirikan Pondok Zainul Hasanain Genggong berbasis salaf dengan penerapakan Bahasa Asing. Pola kepemimpina menurut Max Weber tersebut dapat ditelusuri pada sosok K.H. Mohammad Hasan Abdel Bar. Ia merupakan Mursyid Thareqat Naqsabandiyah wa ‘Ali Ba’alawi dan aktif berdakwah di masyarakat. Berkenaan dengan dampaknya KH. Mohammad Hasan Abdel Bar yaitu menjadi suri tauladan bagi santri dan masyarakat untuk mendapatkan petunjuk dan ketenangan hidup

    Mahmudul Hasan, Mitsuru Kuramoto, Mohammed Mafizul Islam, Mohammad Shafiqul Alam, Md Mukhlesur Rahman Khan & Masayuki Sumida (2012) A new species of genus Hoplobatrachus (Anura, Dicroglossidae) from the coastal belt of Bangladesh. Zootaxa, 3312, 45-48.

    No full text
    HASAN, MAHMUDUL, KURAMOTO, MITSURU, ISLAM, MOHAMMED MAFIZUL, ALAM, MOHAMMAD SHAFIQUL, KHAN, MD. MUKHLESUR RAHMAN, SUMIDA, MASAYUKI (2012): Mahmudul Hasan, Mitsuru Kuramoto, Mohammed Mafizul Islam, Mohammad Shafiqul Alam, Md Mukhlesur Rahman Khan & Masayuki Sumida (2012) A new species of genus Hoplobatrachus (Anura, Dicroglossidae) from the coastal belt of Bangladesh. Zootaxa, 3312, 45-48. Zootaxa 3354 (1): 88, DOI: 10.11646/zootaxa.3544.1.8, URL: http://dx.doi.org/10.11646/zootaxa.3544.1.

    Neanthes deplanata Mohammad 1971

    No full text
    Neanthes deplanata Mohammad, 1971 Neanthes deplanata Mohammad, 1971: 290, fig. 2. Material examined. Iran, Gulf of Oman, Djod, 1 specimen (ZUTC Ann. 1116). Description. Material examined here is incomplete with 36 chaetigers, 8 mm long, 0.8 mm wide at chaetiger 10. Tentacular cirri are short, longest extending back to chaetiger 3. Paragnaths on maxillary ring arranged as follows: I = 1 conical paragnath, II = 4, III = 15 in three transverse rows, IV = cluster of small paragnaths. Paragnaths on oral ring arranged as follows: V = 2 conical paragnaths, one of them is small, VI = 1 large conical paragnath, VII–VIII = 28 paragnaths in two irregular rows. Anterior notopodia have two equal ligules, dorsal cirrus longer than dorsal ligule. Anterior neuropodia have two equal ligules, ventral cirrus shorter than ventral ligule. Posterior notopodia are similar to anterior notopodia, however dorsal cirrus is relatively longer. Posterior neuropodia are similar in size to anterior neuropodia. Notochaetae all homogomph spinigers. Neurochaetae all homogomph spinigers and heterogomph falcigers. Remarks. Mohammad (1971) described Neanthes deplanata from Kuwait Bay, Persian Gulf. The material examined in the present study fits the type description. Regional distribution and habitat. Rocky shores of Djod (Gulf of Oman). Also Kuwait Bay, Persian Gulf (type locality) (Table 2).Published as part of Yousefi, Shetav, Rahimian, Hasan, Nabavi, Seid Mohammad Bagher & Glasby, Christopher, 2011, Nereididae (Annelida: Polychaeta) from intertidal habitats in the Gulf of Oman, Iran, pp. 48-64 in Zootaxa 3013 on pages 51-52, DOI: 10.5281/zenodo.20177

    MENGUNGKAP SEJARAH MOHAMMAD HASAN SEBAGAI BUPATI MILITER KABUPATEN MUSI ULU RAWAS PADA MASA AGRESI BELANDA II

    No full text
    Selama berlangsungnya Agresi Militer II Belanda, pemerintah RI memberlakukan pemerintahan militer, yakni pemerintahan yang secara taktis membawahi pemerintahan sipil dan dan merupakan alat negara di bawah pemerintahan militer, termasuk Kabupaten Musi Ulu Rawas dengan Bupati Militer Mohammad Hasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana sejarah Mohammad Hasan sebagai Bupati Militer di Kabupaten Musi Ulu Rawas pada periode Agustus hingga Desember Tahun 1949. Metode penelitian yang digunakan ialah metode sejarah, dengan tahapan: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan Mohammad Hasan dengan watak keras, cakap, dan disiplin tinggi menghantarkannya menjadi bupati Musi Ulu Rawas, apalagi setelah kekosongan pemerintahan setelah bupati sebelumnya, A. Aziz memilih bergabung dengan militer Sub Teritorium Palembang (STP) yang dipimpin Letkol Bambang Utoyo dan sipil Karesidenan Palembang dipimpin Residen Abdul Rozak yang mundur ke arah Pagaralam. Maka sosok Mohammad Hasan yang tegas dan bijaksana diperlukan dalam membuat keputusan darurat ketika masa perang gerilya akibat agresi militer Belanda II ini

    Pengaruh pemikiran Hasan al-Banna dan Mohammad Natsir terhadap politik Islam di Indonesia: kajian perbandingan

    No full text
    This study was about The Influence of thought of Hasan Al-Banna and Mohammad Natsir towards Islamic politic in Indonesia, the research methodology was qualitative research with three approaches; political approach, historical approach and the Islamic worldview approach. The aim of this study was to study and research the influence of thought of Hasan Al-Banna (1906-1949) and Mohammad Natsir (1908-1993) towards Islamic politics in Indonesia, afterwards conducted the analytical comparison as method of investigation. The author chose the two leading figures as the object of the study simply because they were among the foremost leaders in the twenty centuries. Hasan Al-Banna with his organization of Ikhwanul Muslimin often carried out the change in Egypt especially and giving the influence in many other Muslim countries including Indonesia. Likewise Mohammad Natsir with his political party well known as Partai Masyumi and the Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), gave newly revival of the Islamic development & teaching in Indonesia. In comparing of the two leading figures, the author considered had several equalities that covered of vision and the mission about Islamic politics, the concept of democracy in Islam and concerning political education. Generally both of them had the similarity of the concept of Islamic politics, that nation must be uphold on the basic of Islamic principle. There was no way for both that there is separation between the religion and politics, between Islam and the government's system. Further the author revealed their differences which were due to technical aspects or different political situation on the concept of khilafah, the political experience, the implementation of Islamic legal systems, political education and the Islamic system towards political party. At the end of this study, the author made the conclusion and some input to be taken into consideration to the academician, the Islamic leader, the scholars and all Moslems

    PROBLEMATIKA MANAJEMEN KELAS DI INTERNATIONAL CLASS PROGRAMME MTS. HASAN JUFRI KEBUNAGUNG LEBAK SANGKAPURA GRESIK

    No full text
    The problems of classroom management are all kinds of problems that occur during the process of classroom management, both issues that arise from the material element (educational facilities) or problems arising from the human element (students and teachers). To deal with the problems that occur when managing a classroom, there are two treatment that can be done, which is preventive handling (preventing) and curative handling (treatment). The research location is excellent class of International Class Programme (ICP) of MTs. Hasan Jufri Sangkapura-Bawean-Gresik. The authors found (1). 10 kinds of classroom management problems in ICP MTs. Hasan Jufri. The problem sometimes comes from the students, for example, students in violation of the established rules, and sometimes come from the teacher, for example, teachers go to class late, and sometimes originates from a facility, such as air vents that make the classroom atmosphere uncomfortable. (2). efforts made to address the problem, using the preventive and curative handling. Preventive handling to prevent and minimize the problems that will occur, for example, set the rules, giving the appeal and so on. While curative handling is done to resolve the problems that have occurred that are not sustainable, for example, impose penalties teacher cleaning offices, or pay fines and other matters that are considered useful and can solve the problem

    S. S. Samatar, Oral Poetry and Somali Nationalism. The Case of Sayyid Mohammad 'Abdille Hasan

    No full text
    Smith Pierre. S. S. Samatar, Oral Poetry and Somali Nationalism. The Case of Sayyid Mohammad 'Abdille Hasan. In: L'Homme, 1987, tome 27 n°101. Du bon usage des dieux en Chine. p. 171

    Biografi pemikiran mohammad natsir (1929-1992)

    No full text
    Latar belakang penelitian dalam penelitian ini penulis melihat sosok Mohammad Natsir yang banyak menerohkan prestasi dalam dunia sejarah Indonesia, terutama dalam sejarah Politik, Pendidikan Islam dan Agama, prestasi ini terlihat dari seorang Mohammad Natsir yang banyak menulis karya-karya yang berbentuk buku atau artikel yang banyak dimuat diberbagai majalah kala itu. Melihat dari banyaknya karya-karyanya seperti buku Capita selecta, Fiqhu Da’wah, Islam Sebagai Dasar Negara, Dunia Islam Dari Masa ke Masa. Dari tulisan inilah membuat seorang Mohammad Natsir banyak dikenal oleh berbagai belahan masyarakat yang nampak dalam pemikirannya yang meliputi pemikran Mohammad Natsir mengenai Politik, Pendidikan Islam, dan Agma. Kiprah Mohammad Natsir dalam sejarah Indonesia ini terjadi pada periode (1929-1992). Adapun untuk rumusan masalah dalam penelitian ini berbicara tentang 1. Bagimana Riwayat Hidup Mohammad Natsir? 2. Bagaimana Perkembangan Pemikiran Mohammad Natsir dalam Politik, Pendidikan Islam, dan Agama (1929-1992)?. Adapun untuk Tujuan penelitian ini adalah 1. untuk mengetahui riwayat hidup Mohammad Natsir, dan 2. perkembangan pemikiran Mohammad Natsir pada (1929-1993)?. Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode penulisan sejarah yang meliputi empat tahapan kerja yaitu: Heuristik (tahapan pengumpulan sumber), Kritik (tahapan ini sering disebut dengan tahapan pengujian data yang meliputi tahapan kritik ekstren dan Kritik Interen), Interpretasi (penafsiran akan makna fakta dan hubungan antara satu fakta dengan fakta lainnya), dan Historiografi (penyusunan dan penuangan seluruh hasil penelitian menjadi satu kisah sejarah dalam bentuk karya ilmiah). Hasil dari penelitia menunjukan bahwa Mohammad Natsir adalah salah seorang tokoh politik, pencetus pendidikan Islam, selain itu juga seorang pendakwah yang lahir dan berkembang pada masa kolonialisme yang melanda Indonesia, pada saat itu Mohammad Natsir mendapatkan pendidikan dari pihak barat dan pihak tradisonal Islam yaitu sekolah di HIS yang didirikan oleh Belanda dan belajar kepada tokoh-tokoh Islam pada masa itu yaitu Ahmad Hasan, H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, Ahamad Syurkati, sehingga menghasilkan corak pemikiran yang mempunyai semangat barat tapi tidak melupakan asas-asas yang ada dalam pedoman Islam. Adapun untuk Perkembangan pemikiran Mohammad Natsir dimulai pada tahun 1930-1959, periode ini Mohammad Natsir berbicara tentang perpolitikan Indonesia, pemikiran Mohammad Natsir selanjutnya yaitu pada periode 1930-1945, periode ini Mohammad Natsir banyak membicarakan tentang pendidikan Islam, periode selanjutnya yaitu pada 1930-1992, periode ini yaitu berbicara tentang pemikiran Mohammad Natsir mengenai agama
    corecore