15 research outputs found

    Keberhasilan Secession Kurdi di Irak dan Peningkatan Upaya Secession Kurdi di Suriah Selama Krisis Politik Tahun 2011-2016

    Get PDF
    This research explaining about the Iraq Kurd’s success in raising Kurds secessionism effort in Syria during political crisis in 2011-2016. This research use ethnic alliances by Moore and Davis, contagion by Stephen M. Saideman and Ted R. Gurr, diffusion and escalation by David A.Lake and Donald S.Rothchild to explain the contagion, diffusion and escalation process of secessionism from Iraq to Syria. In this case, political crisis in Syria also give chance for Syrian Kurds to fight for their autonomy. Political crisis weakens the Syrian government because of mass mobilization and opposition group’s pressure that also make them feel insecure. Syrian government does violence action as counterattack which contributes to the delegitimation of the leader and political institutions. It also raises the tendency of Syrian Kurds secession. In the end, natural resources also trigger the secession of Syrian Kurds

    Trends of Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) Acts of Terrorism Targeting the Shia Community

    Get PDF
    The Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) has consistently attacked Shia communities, and buildings belonging to these communities, both in the Middle East and outside the region. This paper tries to explain the logic and justification used by ISIS in making the Shia community a target of terrorism. To answer this question, this paper uses the concept of religious terrorism and framing through the phenomenon of terrorism. By analyzing various ISIS documents related to Shia issues, this paper describes the framing developed by ISIS for attacking Shia groups. This paper finds that ISIS creates anti-Shia framing by combining theological problems, Middle East socio-political conditions, and end-time eschatological beliefs. From a theological point of view, ISIS believes that the Shia are an ‘apostate’ group that deserves to be fought. In the socio-political context, ISIS considers that Shia groups work with foreign countries to fight Islam. In terms of eschatological beliefs, ISIS considers Shiites to support the Dajjal in the end times that must be fought. On the other hand, ISIS claims that its group is a legitimate caliphate and defender of Islamic teachings. These things shape ISIS’ hostile attitude towards Shia groups. Keywords: Shia, ISIS, terrorism, framin

    Penanganan Perdagangan Narkoba di Indonesia oleh UNODC Tahun 2017-2020

    Get PDF
    The high population in Indonesia makes it a potential market for transnational criminal groups to use Indonesia as a transit and distribution hub for drug trafficking. Given the current issues, UNODC, as an international organization specializing in addressing transnational crimes, assists Indonesia in dealing with the issue of drug trafficking. This research aims to understand the role of UNODC in tackling the problem of drug trafficking in Indonesia. The study employed a descriptive research design, and research data is obtained through library research by searching for data sources through available literature. This research is based on the theory of international organization roles according to Kelly Kate Pease, which explains that international organizations have several roles, including being problem solvers and capacity builders. The research findings show that UNODC plays a role in addressing the issue of drug trafficking in Indonesia through its role as a problem solver by formulating the Indonesia country program and alternative development programs. Meanwhile, through its role as a capacity builder, UNODC enhances the capacity of government officials, staff, and the community by treatnet family programme.     Jumlah penduduk yang tinggi di Indonesia menjadikannya pasar potensial bagi kelompok kejahatan lintas negara untuk menggunakan Indonesia sebagai pusat transit dan distribusi perdagangan narkoba. Mengingat masalah saat ini, UNODC, sebagai organisasi internasional yang mengkhususkan diri dalam mengatasi kejahatan lintas negara, membantu Indonesia dalam menghadapi masalah perdagangan narkoba. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran UNODC dalam mengatasi masalah perdagangan narkoba di Indonesia. Studi ini menggunakan desain penelitian deskriptif, dan data penelitian diperoleh melalui penelitian perpustakaan dengan mencari sumber data melalui literatur yang tersedia. Penelitian ini didasarkan pada teori peran organisasi internasional menurut Kelly Kate Pease, yang menjelaskan bahwa organisasi internasional memiliki beberapa peran, termasuk sebagai penyelesaian masalah (problem solver) dan pembangun kapasitas (capacity builder). Temuan penelitian menunjukkan bahwa UNODC berperan dalam mengatasi masalah perdagangan narkoba di Indonesia melalui peran sebagai penyelesaian masalah dengan merumuskan program negara Indonesia dan program pengembangan alternatif. Sementara itu, melalui perannya sebagai pembangun kapasitas, UNODC meningkatkan kapasitas pejabat pemerintah, staf, dan masyarakat melalui program keluarga treatnet

    Upaya Kampanye Save The Children dalam Menangani Masalah Pernikahan Anak di Bangladesh Tahun 2020-2023

    Get PDF
    The issue of child marriage is a socio-economic problem that has existed for a long time in Bangladesh. Due to factors such as the economic crisis and prolonged school closures, the number of child marriage cases in Bangladesh has increased during the pandemic. The existing legal framework also cannot slow down the child marriage rates in Bangladesh. So this research tries to explain the efforts of Save The Children as an international non-governmental organization in dealing with the problem of child marriage in Bangladesh. This research explains how the Save The Children campaign is trying to deal with the problem of child marriage in Bangladesh in 2020-2023. The theory explained in this research is Brown's theory of international organizational campaign efforts. The research method uses qualitative data analysis techniques with descriptive research type. Primary data collection techniques from interviews with Rahamat Ullah from Save The Children in Bangladesh regarding the research topic. Research findings show that the Save The Children campaign's efforts to address the problem of child marriage are realized in the form of online campaigns via social media and offline campaigns. Apart from that, Save The Children also emphasizes children's participation in campaign efforts to address child marriage in Bangladesh

    Faktor Penghambat Kerjasama Indonesia-Norwegia dalam Implementasi Redd+ Tahun 2011-2016

    Get PDF
    ABSTRACTEnvironmental issues are currently receiving a lot of attention worldwide, so they are widely discussed on international agendas. Many countries are starting to care about the sustainability of their country along with the sustainability of the environment in their territory. Some of these countries are Indonesia and Norway. Cooperation between Norway and Indonesia was carried out in the REDD+ program, which was built to significantly reduce greenhouse gas emissions due to deforestation and forest degradation. This research is qualitative with a descriptive method, with data collection techniques using literature, and the data used is secondary data. The result of this research is that there are social, environmental, and economic obstacles to implementing REDD+ in Indonesia, which has caused REDD+, which should have been completed in 2016, to continue to this day.Keywords: Environmental Issues, Collaboration, Deforestation, Degradation, Obstacle

    ANCAMAN TERORISME ISLAMIC STATE OF IRAQ AND SYRIA (ISIS) PASCA FASE “KHILAFAH”

    Get PDF
    Tulisan ini bertujuan mengelaborasi eksistensi dan strategi terorisme ISIS pasca perang Baghouz. Sejak Perang Baghouz pada Maret 2019, beberapa pemimpin negara mengumumkan kemenangan atas ISIS sekaligus mengumumkan berakhirnya “khilafah” ISIS yang pernah dideklarasikan tahun 2014. Namun  pasca fase tersebut, ISIS mengklaim kelompoknya masih eksis dan mampu melakukan operasi serangan lintas negara. ISIS justru menggencarkan operasi gerilya maupun terorisme di berbagai negara lintas benua. Hal ini menggambarkan bahwa potensi ancaman terorisme kelompok tersebut masih menjadi persoalan serius bagi keamanan dunia internasional. Oleh karena itu, eksistensi ISIS pasca fase “khilafah” dan trend potensi ancaman terorisme kelompok tersebut signifikan untuk dikaji, baik dalam dunia akademis maupun bagi pengambil kebijakan dalam bidang keamanan. Terdapat temuan menarik dalam tulisan ini. Pertama, ISIS masih eksis dan mendapat dukungan dari “mujahidin” lintas negara. ISIS bertransformasi dari “quasi-state” menjadi kelompok “teroris.” Kedua, penggunaan strategi franchise dan lone wolf terrorism oleh ISIS menonjol pasca kelompok tersebut kehilangan penguasaan teritori. Ketiga, ISIS masih dominan menggunakan media sosial dan internet untuk kepentingan konstruksi propaganda dan komunikasi. Hasil tersebut didasarkan atas triangulasi data, yaitu data yang berasal dari dokumen yang disirkulasikan oleh ISIS dan afiliasinya pasca Perang Baghouz,  hasil wawancara, serta konfirmasi dengan data independen.Kata-kata Kunci : “khilafah” ISIS, kombinasi strategi, ancaman terorism

    PERBANDINGAN RESPONS ANTARA ASEAN DAN EU TERHADAP PENYEBARAN PENYAKIT EBOLA 2014

    Get PDF
    Di tahun 2014, Ebola menjadi epidemi yang menjadi fokus perhatian dunia, setelah korban meninggal mulai berjatuhan terus meningkat di Afrika Barat. Semakin meningkatnya jumlah kasus infeksi dan jumlah penderita yang meninggal ini, telah mengundang perhatian pihak internasional, termasuk negara-negara Eropa dan Asia Tenggara. Kedua kawasan tersebut memiliki pendekatan dan respon yang berbeda dalam menghadapi epidemi tersebut. Penelitian ini berupaya menjelaskan perbedaan respon antara Uni Eropa dan ASEAN sebagai organisasi regional dalam menghadapi tantangan kesehatan global. Penelitian ini menggunakan metode komparasi dalam menjelaskan respon kedua organisasi regional. Dalam hal ini, Uni Eropa berkoordinasi dengan WHO dan NGOs berupaya membantu menangani penyebaran ebola, melalui bantuan dana, penelitian, pengembangan vaksin serta mendukung sistem kesehatan nasional negara terdampak. Berbeda dengan Uni Eropa, ASEAN berupaya mengatasi penyebaran dengan memberikan bantuan investasi sistem kesehatan yang tangguh, serta pengiriman tenaga medis di negara terdampak. Di sisi lain, penyebaran penyakit ebola juga menjadi pelajaran berharga bagi kedua organisasi regional tersebut, agar meningkatkan sistem dan mekanisme regional dalam menanggapi ancaman kesehatan global

    Aliansi Etnis Kurdi di Perbatasan Selama Krisis Politik Suriah Tahun 2011-2016

    Get PDF
    Ethnic Kurds live in the border area of several countries. They formed ethnic alliances based on ethnic kin. In 2011, when the political crisis occurred in Syria, Syrian Kurds became one of the opposition group, which opposed the government. John W. Crow and R. Noel stated that authoritarian governments generally respond to insecurity by implementing aggressive or militaristic approach. In this case, the Syrian Government uses violence and militaristic actions to suppress the power of opposition groups. Based on Tikhomirov, the response could increase the tendency for separatist groups - territorial and ethnic nationalism. The political crisis also weakens the power and capability of the government, along with the increasing pressure from opposition groups and mass mobilization. This is an opportunity for the Kurdish secessionist movement in Syria. As Peter Ferdinand stated that when strife increases and causes insecurity within the country, the nationalism that can survive is ethnic nationalism. The author also used Suhrke and Noble who stated that the support provided by blood brothers has a significant impact on ethnic groups who facing conflict, both with the state or other ethnic groups. Keywords: Ethnic alliances, political crisis, secessionist movement DOI : https://doi.org/10.33005/jgp.v7i01.181

    PERAN SRSG/CAAC UNITED NATIONS DALAM MENANGANI PEREKRUTAN TENTARA ANAK DI SOMALIA TAHUN 2012–2015

    Get PDF
    Terbentuknya Pemerintah Federal Transisi Somalia pada tahun 2012 merupakan pencapaian besar bagi proses resolusi konflik, namun perjuangan saja tidak cukup. Somalia masih harus menghadapi segala tantangan dalam menghadapi pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata Al-Shabaab. Konflik yang terjadi menempatkan anak pada situasi yang berbahaya. Dua pihak yang tidak bertanggung jawab, yaitu Tentara Nasional Somalia dan pasukan Al-Shabaab, terus menerus melibatkan anak-anak yang direkrut sebagai tentara dalam konflik bersenjata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Special Representative of the Secretary-General for Children and Armed Conflict (SRSG/CAAC) dalam menangani kasus perekrutan tentara anak di Somalia tahun 2012–2015. Penelitian ini menggunakan teori peran organisasi internasional oleh Biddle. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SRSG/CAAC sebagai organisasi internasional dalam menangani isu perekrutan tentara anak di Somalia berperan sebagai motivator, komunikator, dan perantara. Peran SRSG/CAAC sebagai motivator dilakukan dengan membantu mendorong Pemerintah Federal Transisi Somalia untuk berkomitmen meratifikasi Konvensi SRSG/CAAC tentang Hak Anak. Kemudian menjalankan perannya sebagai komunikator dengan mengumpulkan data laporan tahunan dari tahun 2012 hingga 2015 dan kampanye. Terakhir, perannya sebagai perantara dilakukan dengan memberikan bantuan keuangan dari ECHO dan USAID

    Diplomasi Kesehatan di Era Pandemik Global: Analisa Bantuan Penanganan Covid-19 dari Negara Jepang dan Korea Selatan ke Indonesia

    Get PDF
    Currently, the world is experiencing a threat against human security due to the spread of Covid-19. The WHO have initiated global health diplomacy since 2007 to tackle the global health crisis. This often takes form of a multilateral cooperation seeking to construct a collective action. Actors working together to promote a global policy recommendation. This paper seeks to argue that we can observe a duality of health diplomacy using the case of Covid-19. On one side, a collective action is a crucial element to tackle a global issue. However, on the other hand, a collective action a form of diplomacy of one country aiming to pursue specific economic interest. In the case of health diplomacy from Japan and South Korea to Indonesia, the longevity of global value chain becomes the prominent economic interest. Keywords: human security, global value chain, health diplomacy Saat ini, dunia sedang mengalami ancaman keamanan akibat penyebaran virus Covid-19, yang menjadi pandemi global. Pada dasarnya, guna mengatasi masalah kesehatan secara global, sejak tahun 2007 WHO menginisiasi global health diplomacy yang merupakan bentuk komitmen dan kerja sama multilateral yang dilakukan oleh negara-negara di dunia. Konsep global health diplomacy merujuk pada proses negosiasi multilevel dan multiaktor yang dilakukan guna membentuk dan mengatur kebijakan global untuk kesehatan. Tulisan ini hendak menggarisbawahi bahwa ada dualitas yang dapat kita observasi. Di satu sisi, terdapat pentingnya sebuah aksi kolektif dalam mengatasi isu pandemik yang mengancam keamanan seluruh manusia secara global. Di sisi lain, tulisan ini mengajukan argumen bahwa aksi kolektif dalam menangani COVID-19 juga memiliki nilai lebih sebagai suatu bentuk diplomasi yang dilandasi kepentingan ekonomi yang tangible. Keberlangsungan sistem produksi global sangat dipengaruhi oleh hubungan bilateral yang kondusif dan sekaligus bebas dari ancaman terhadap keselamatan manusia. Kata Kunci: keamanan manusia, sistem produksi global, diplomasi kesehatan DOI : https://doi.org/10.33005/jgp.v8i01.216
    corecore