1,720,997 research outputs found
Fithrah Manusia dalam Persepektif Al-Qur’an
Kalau kita selidiki brbagai kata yang digunakan dalam Al-Qur’an ternyata sangat bervariasi, baik jenis maupun bentuknya. Dalam Al-Qur’an sering ditampilkan suatu kata yang memiliki arti Bahasa sama dalam bentuk yang bermacam-macam. Demikian pula sering digunakan kata muradif diberbagai surat dan ayat tentang suatu hal yang secara lafdiyah dapat diartikan “sama”. Misalnya, kata yang menunjukkan penciptaan manusia dalam Al-Qur’an dapat dijumpai dalam berbagai jenis dan bentuk, yaitu; “khala”(Q.s 95:4, 76: 2, 64: 2, 21:37, dan lain-lainnya), “ja’ala” (Q.S 16: 78, 2: 30, 43: 28), “ansya’a”(Q.S 23: 14, 11:61,6:98,67:23),”shawwara” (Q.S 64:3, 40:64, 7: 20, 3: 6), dan “fathara” (Q.S 30:30,11:51,17:51,36:22, 20:72). Berbagai kata tentang penciptaan itu dalam Al-Qur’an diungkapakan dalam bermacam-macam bentuk. Dari segi bilangannya, adakalanya dalam bentuk mufrad dan kadang-kadang dalam bentuk jamak. Sedang dari segi shighatnya, kadang-kadang diungkapkan dengan fi’il, dan kadang-kadang dengan mashdar maupun isim fa’il.perbedan penggunaan kata dalam Al-Qur’an itu pasti mengandung makna tertentu yang berbeda-beda pula, sekalipun dalam arti secara Bahasa sama, sebagai sinonim (muradif). Diantara berbagai kata yang menunjukkan penciptaan manusia adalah “fathara” yang bentuk masdarnya adalah “fithrah”. Dalam Al-Qur’an terdapat 20 bentuk kata yang berakar dari “fathara” yang diungkapkan dalam berbagai bentuk. Sedang kata firthrah itu sendiri hanya diungkap sekali, yaitu surat al-Rum : 30. Istilah fithrah tersebut pasti mempunyai makna tertentu
Eksistensi dan Pranan Sekolah Dalam Pengembangan Kehidupan Sosial-Politik
Beberapa orang tokoh seperti Ivan Illich dengan karyanya Deschooling Society maupun Paulo Freire sudah meragukan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan dalam mempersiapkan generasi masa depan. Tetapi sebagian besar masyarakat, nampaknya tetap menaruh harapan besar dan mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap sistem persekolahan sebagai pusat pendidikan. Bahkan ada: semacam kecenderungan bahwa sekolah sebagai taruhan, sementara di sisi lain, seperti sistem pondok pesantren relatif kurang diminati masyarakat jika dibandingkan dengan sekolah. Sikap dan pandangan seperti itu muncul sebagai konsekuensi dari tuntutan perubahan masyarakat yang terjadi. Sebagai masyarakat yang sedang bergerak ke arah kehidupan moderen dihadapkan pada peningkatan tuntutan kebutuhan dasar manusia, seperti sandang, pangan, papan, dan juga kesehatan. Dalam kenyataannya, "orang-orang sekolahan" lebih banyak mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan tersebut. Akibatnya, fenomena itu yang juga merupakan fenomena masyarakat moderen telah memusatkan perhatian masyarakat terhadap peranan sekolah. Bahkan kecenderungan seperti itu telah menempatkan harapan masyarakat yang terlalu besar terhadap persekolahan, mereka mengira bahwa sekolah mampu membereskan segala persoalan. Memperhatikan kecenderungan tersebut, tulisan ini dimaksudkan untuk menelaah persoalannya, terutama berkaitan dengan eksistensi dan pranan sekolah dalam prkembangan kehidupan social dan politik.
Organization and Design of Development of Islamic Religious Education in Indonesia
This article discusses the organization and design of curriculum development in Indonesia. It discusses the elements of education concerning the development of character in Indonesia. So in developing an educational curriculum in Indonesia it is necessary to evaluate a targeted education curriculum in line with the learning methods of students. Such as the boredom experienced by students while learning in the class. And the lack of teacher preparation in teaching makes the curriculum function role not run optimally. Special theories are required and has been needed for developing the method and learning out come in the Islamic Education curriculum design. The purpose of this study, to find out firsthand the process of implementing the curriculum in Indonesia, especially about the Islamic education curriculum. Then from the aim of this research, it is hoped that it can help in developing the organization and curriculum design of PAI in Indonesia. For this reason, the curriculum in Indonesia needs to be designed with development and direction in the challenges of the globalization era. To achieve this, students, teachers, and students need to appreciate by creating a curriculum that can facilitate the course of Islamic education in Indonesia. This research method, using library research. The author thoroughly discusses the organizational problems and design of the development of the curriculum Islamic education in Indonesia. The author also approaches by referring to various scientific studies of journal sources. The results of this study, that the organization and design of the Education curriculum are very influential in student development. Also, in developing the design organization Islamic education  curriculum development in Indonesia is expected to be able to compete nationally and internationally
PENGEMBANGAN KURIKULUM MENGHADAPI TUNTUTAN KOMPETENSI ABAD KE 21 DI INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan kurikulum dalam menghadapi tuntutan kompetensi abad 21 di Indonesia, pada dasarnya kurikulum bertujuan untuk mengatur kemajuan pembelajaran. Perkembangan kurikulum selalu bergerak mengikuti perkembangan zaman, ditandai dengan perkembangan teknologi. Itulah penunjang dalam proses belajar mengajar. Perkembangan kurikulum selalu bergerak mengikuti perkembangan zaman, ditandai dengan perkembangan teknologi. Itulah penunjang dalam proses belajar mengajar. Permasalahan terkait pengembangan kurikulum dalam menghadapi kompetensi abad 21 di Indonesia adalah: Perkembangan kurikulum di era global, peran guru abad 21 dan tuntutan kompetensi dalam pengembangan kurikulum. Fokus penelitian ini adalah pengembangan kurikulum untuk menghadapi tuntutan kompetensi abad 21 di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode pustaka (review research) dan studi analisis untuk membangun tatanan teoritis atas materi ini. Setelah menyelesaikan penelitian ini, diketahui bahwa kurikulum yang diberikan kepada siswa diharapkan dapat menjadi bekal bagi kehidupan masyarakat dan bukan untuk kepentingan individu, dan guru diharapkan mampu melakukan segala sesuatu yang dapat mengoptimalkan pembelajaran siswa. Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa paradigma mengajar yang menjadi paradigma pembelajaran merupakan tuntutan kompetensi dalam pengembangan kurikulum khususnya pada abad 21
Pengembangan Organisasi Keagamaan Islam
Selama ini terdapat permasalahan dengan kurikulum pendidikan Agama Islam Islam di sekolah, karena hingga kini kurikulum tersebut belum berfungsi efektif. Di antara problem kurikulum tersebut adalah adanya kesenjangan antara pemahaman kognitif anak didik tentang pendidikan agama Islam dengan tingkah laku dan sikap mereka dalam kehidupan dan kegiatan sehari-hari. Masalah ini tidak terlepas dari model organisasi pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan menelaah model pengembangan organisasi kurikulum pendidikan agama Islam. Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif dengan analisis reflektif. Penelitian ini mengidentifikasi model-model pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam dan mengungkapkan bahwa pengembangan kurikulum terintegrasi (Integrated Curriculum) dan model kurikulum aktifitas (Activity Curriculum) merupakan alternatif model pengembangan kurikulum yang dapat menghasilkan lulusan kemampuan peserta didik secara utuh.Â
PENDEKATAN REKONSTRUKSI SOSIAL DALAM PENGEMBANAGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
The curriculum serves as both a tool for achieving educational objectives and a manual for implementing instruction at all levels and types of education. There are a number of approaches to curriculum development that are meant to follow these systematic development processes to get a better curriculum by approaching the proper tactics and methods. The social rebuilding technique is one of the strategies the creator came up with. This study intends to investigate how social reconstruction methodology was used to create an Islamic religious education curriculum. This study's foundation is a review of the literature that uses data from library sources, including books, research journals, and other documents pertinent to the study's topic. The findings of this study show that the Social Reconstruction Approach to developing a curriculum or skills education program begins with the societal issues that need to be solved before applying science and technology while collaborating to find those answers
The Urgency Of Philosophy As The Basis For 2013 Curriculum Development
This article is discussing about the urgency of the role of philosophy as a foundation for curriculum development in 2013, in which the 2013 of curriculum was based on several views of the educational philosophy and philosophy of Pancasila as Indonesia's ideology. This article is a literature review study that seeks to show the meaning of the role of philosophy as a foundation for 2013 of curriculum development, based on the results of research studies, the existence of a scientific method that results from philosophical thinking, will increasingly lead to curriculum development goals, the aim of curriculum development is based on the foundation of the flow of educational philosophy, the views of educational philosophy is idealism, perennialism, essentialism, and the foundation of the ideology of Pancasila, which increasingly shows the urgency of philosophy for curriculum development, so that the philosophy and philosophy of education adopted will affect social life, family life, and in the sphere of education. If there is no philosophy in everylife there will be many misconceptions
Kedudukan Wanita Dalam Syariát Islam
Wanita adalah makhluk yang penuh "misteri". Kehadirannya dalam kehidupan umat manusia mutlak diperlukan. Tetapi realita menunjukkan bahwa "nasib" kaum wanita dalam sejarahnya selalu tidak menggembirakan, bahkan menyedihkan. Pada masa-masa sebelum Islam, kaum wanita selalu ditempatkan pada posisi sebagai "obyek". Wanita dianggap kurang berharga, sehingga seringkali dieksploitasi melebihi batas-batas perikemanusiaan. Penempatan wanita dalam posisi yang rendah itu meliputi; kawasan pemikiran maupun kawasan sikap dan perlakuan dalam realitas kehidupan. Filosof Yunani yang ternama dalam sepanjang sejarah umat manusia, Aristoteles, beranggapan bahwa wanita merupakan laki-laki yang tidak sempuma, dan oleh karena itu laki-laki menguasai jiwa wanita. Ide yang menganggap wanita lemah terus dipertahankan dan disebarkan oleh para filosof ternama semisal Kant, Schopenhauer, dan Fichte, (Arief Budiman; 1985; pp. 6-7). Kant tidak percaya bahwa wanita memiliki kesanggupan mengerti tentang prinsip-prinsip. Menurut Schopenhauer, wanita terbelakang dalam segala hal, tidak memiliki kesanggupan untuk berpikir dan berefleksi. Lebih jauh dia mengatakan bahwa wanita diciptakan hanya untuk mengembangkan keturunan. Bahkan menurut Fichte penguasaan laki-laki atas wanita merupakan keinginan wanita itu sendiri
REVITALIZATION OF MADRASAH CURRICULUM IN INCREASING COMPETITIVENESS IN THE ERA OF GLOBALIZATION: Opportunities and Challenges
Globalisasi telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam dituntut untuk melakukan revitalisasi kurikulum agar tetap relevan dan kompetitif dalam menjawab kebutuhan zaman. Kurikulum yang tidak hanya menanamkan nilai-nilai keislaman, tetapi juga mengembangkan kompetensi global, menjadi kebutuhan mendesak dalam membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan mampu bersaing di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peluang dan tantangan dalam proses revitalisasi kurikulum madrasah guna meningkatkan daya saing lulusan di tengah dinamika global. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui studi literatur dan dokumentasi yang relevan, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi kurikulum membuka peluang strategis dalam penguatan pendidikan karakter, integrasi literasi digital, dan kolaborasi multipihak. Namun demikian, sejumlah tantangan juga muncul, seperti resistensi terhadap perubahan, keterbatasan infrastruktur teknologi, dan dilema antara nilai lokal dan tuntutan global (glokalisasi). Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya penyusunan kebijakan kurikulum yang partisipatif dan kontekstual, melibatkan seluruh pemangku kepentingan—mulai dari pemerintah, pengelola madrasah, guru, hingga masyarakat. Diperlukan strategi sinergis agar revitalisasi kurikulum tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi mampu mengaktualisasikan visi pendidikan Islam yang unggul, adaptif, dan berdaya saing globalGlobalization has brought great changes in various aspects of life, including in the field of education. Madrasah as an Islamic educational institution is required to revitalize the curriculum so that it remains relevant and competitive in answering the needs of the times. A curriculum that not only instills Islamic values, but also develops global competence, is an urgent need in forming a generation that is faithful, knowledgeable, and able to compete in the digital era. This research aims to analyze opportunities and challenges in the process of revitalizing the madrasah curriculum to increase the competitiveness of graduates in the midst of global dynamics. The approach used is qualitative with a descriptive method. Data were obtained through literature studies and relevant documentation, then analyzed thematically. The results of the study show that curriculum revitalization opens up strategic opportunities in strengthening character education, digital literacy integration, and multi-stakeholder collaboration. However, a number of challenges also arise, such as resistance to change, limitations of technological infrastructure, and the dilemma between local values and global demands (globalization). The implications of this study emphasize the importance of participatory and contextual curriculum policy formulation, involving all stakeholders—ranging from the government, madrasah managers, teachers, to the community. A synergistic strategy is needed so that curriculum revitalization is not only an administrative document, but is able to actualize the vision of Islamic education that is superior, adaptive, and globally competitive
- …
