1,725,041 research outputs found
KARAKTERISTIK GURU HALIMAH DALAM NOVEL GURU HALIMAH KARYA WANDRA ILYAS
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik Guru Halimah dalam
novel Guru Halimah karya Wandra Ilyas melalui analisis unsur-unsur novel yang
meliputi, tema, alur , dan penokohan. Metode penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif. Pendekatan dalam Penelitian ini
yaitu menggunakan pendekatan psikologi sastra. Teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini yaitu dengan menggunakan studi kepustakaan. Teknik analisis data
yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah dengan membuat sinopsis,
mengidentifikasi unsur-unsur novel yang mendukung pembentukan karakteristik
Guru Halimah , mengidentifikasi karakteristik Guru Halimah, mengklasifikasikan
karakteristik Guru Halimah, menganalisis karakteristik Guru Halimah dan
menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini yaitu karakteristik Guru Halimah
tersebut diantaranya mempunyai hati nurani, mempunyai harga diri, mempunyai
rasa empati, religius, rendah hati dan jiwa gotong royong yang sangat tinggi
terhadap sesama. Karakteristik Guru Halimah dapat mencerminkannya sebagai
pendidik yang berintegritas sempurna di mata masyarakat.
Kata Kunci: Psikologi Sastra, Tokoh Guru Halimah, Novel Guru Halima
KARAKTERISTIK GURU HALIMAH DALAM NOVEL GURU HALIMAH KARYA WANDRA ILYAS
ABSTRAK
Emmia Agita Br Sembiring. Karakteristik Guru Halimah Dalam Novel Guru
Halimah Karya Wandra Ilyas. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Bengkulu.
Pembimbing Utama Drs. Amrizal, M.Hum. Pembimbing Pendamping Drs.
Amril Canrhas, M.S.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik Guru Halimah dalam
novel Guru Halimah karya Wandra Ilyas melalui analisis unsur-unsur novel yang
meliputi, tema, alur , dan penokohan. Metode penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif. Pendekatan dalam Penelitian ini
yaitu menggunakan pendekatan psikologi sastra. Teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini yaitu dengan menggunakan studi kepustakaan. Teknik analisis data
yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah dengan membuat sinopsis,
mengidentifikasi unsur-unsur novel yang mendukung pembentukan karakteristik
Guru Halimah , mengidentifikasi karakteristik Guru Halimah, mengklasifikasikan
karakteristik Guru Halimah, menganalisis karakteristik Guru Halimah dan
menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini yaitu karakteristik Guru Halimah
tersebut diantaranya mempunyai hati nurani, mempunyai harga diri, mempunyai
rasa empati, religius, rendah hati dan jiwa gotong royong yang sangat tinggi
terhadap sesama. Karakteristik Guru Halimah dapat mencerminkannya sebagai
pendidik yang berintegritas sempurna di mata masyarakat.
Kata Kunci: Psikologi Sastra, Tokoh Guru Halimah, Novel Guru Halima
Syarifah Halimah Alaydrus
Soal komunikasi, Syarifah Halimah Alaydrus memang jago menjalin pembicaraan yang enak disimak telinga tanpa merisak sukma. Apalagi beliau juga aktif menulis untuk menyebarluaskan ilmu dan dakwahnya. Hingga kini, Syarifah Halimah Alaydrus telah menulis empat buku: Bidadari Bumi (2010), Tutur Hati Syarifah Halimah Alaydrus Alaydrus (2014), Pilar Cahaya (2014), dan Muhasabah Cinta (2015). Belum lagi tulisan pendek yang beliau unggah melalui media sosial: Facebook, Twitter, dan Instagram; sempat aktif menulis di Blogger dan al-Kisah; sekaligus merawat akun YouTube pribadi beliau
Retorika dakwah ustadzah halimah alaydrus melalui media sosial youtube (analisis pada tema "rumah tangga” dalam channel ustadzah Halimah Alaydrus)
Preaching is a noble activity in which a da'i broadcasts the teachings of Islam to mad'u. Therefore, before preaching the da'i should know the strategies to support the success of his da'wah, such as the Science of Rhetoric. Rhetoric is the art or science of the style of language used in conveying a message when speaking in public such as da'wah, speech and others. Ustadzah Halimah Alaydrus is a preacher whose da'wah is currently being heard by Muslimah congregations both offline and online. Ustadzah Halimah when preaching on social media apart from never meeting the congregation directly, she also never showed her face to the congregation online. However, this does not stop the congregation from listening to the da'wah he conveys. This is what makes the writer interested in making it a subject in research. From the background above, the question arises, how is Ustadzah Halimah Alaydrus rhetoric applied? And in this research the author focuses on using the theory of five rhetorical methods written by Zainul Ma'arif in his book Retorika Metode Komunikasi Publik which consists of finding da'wah material (inventio), arranging da'wah texts (dispositio), style of language (elucitio), remembering da'wah material (memoria), and the delivery of da'wah (pronontio). In this research, the author uses a library research method or approach, and based on the results of the rhetorical analysis of Ustadzah Halimah Alaydrus da'wah, the author obtained five rhetorical methods that were applied by Ustadzah Halimah when preaching on youtube social media. The five rhetorical methods of da'wah that she conveys are quite complete, packaged in an attractive manner so that the da'wah material is conveyed correctly, although there are still many shortcomings and these will be described in this research.AbstrakBerdakwah adalah kegiatan yang mulia dimana seorang da'i menyiarkan ajaran agama Islam kepada mad'u. Maka dari itu, sebelum berdakwah da'i hendaknya mengetahui strategi-strategi pendukung keberhasilan dakwahnya, seperti Ilmu Retorika. Retorika merupakan seni atau ilmu tentang gaya bahasa yang digunakan dalam menyampaikan suatu pesan ketika berbicara di depan publik seperti dakwah, pidato dan lainnya. Ustadzah Halimah Alaydrus seorang mubaligh yang saat ini dakwahnya sering didengar oleh jama'ah muslimah baik offline maupun online. Ustadzah Halimah ketika berdakwah di media sosial selain tidak pernah bertatapan langsung dengan para jama'ah, ia juga tidak pernah menampakan wajahnya kepada jama'ah secara online. Tetapi, hal tersebut tidak menutup jama'ah untuk tidak mendengarkan dakwah yang ia sampaikan. Hal tersebut yang membuat penulis tertarik untuk menjadikannya sebagai subjek dalam penilitian. Dari latar belakang di atas timbul pertanyaan, bagaimana penerapan retorika Ustadzah Halimah Alaydrus? Dan dalam penilitian ini penulis fokuskan menggunakan teori lima metode retorika yang ditulis Zainul Ma'arif dalam bukunya Retorika Metode Komunikasi Publik yang terdiri dari menemukan materi dakwah (inventio), mengatur teks dakwah (dispositio), gaya bahasa (elucitio), mengingat materi dakwah (memoria), dan penyampaian dakwah (pronontio). Penilitian ini penulis menggunakan metode atau pendekatan studi analisis isi, dan berdasarkan hasil analisis retorika dakwah Ustadzah Halimah Alaydrus penulis memperoleh lima metode retorika yang diaplikasikan Ustadzah Halimah ketika berdakwah di media sosial yootube. Lima metode retorika dalah dakwah yang ia sampaikan terbilang lengkap, dikemas dengan menarik sehingga materi dakwah tersampaikan dengan benar, walaupun masih banyak kekurangan dan hal tersebut akan penulis jabarkan dalam penilitian ini
Teknik komunikasi persuasif Ustadzah Halimah Alaydrus dalam Youtube Ustadzah Halimah Alaydrus Channel
Pada masa sekarang, penyampaian dakwah bisa dilakukan dengan lebih kreatif dan inovatif, yaitu dengan menggunakan media yang tepat, serta menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Di era yang sudah serba canggih ini, berdakwah tidak lagi hanya bertumpu pada majelis-majelis yang diadakan di Masjid sekitar saja, melainkan dapat disebarluaskan melalui media sosial yang sudah sangat familiar bagi semua kalangan. Ustadzah Halimah Alaydrus juga menggunakan berbagai media sosial untuk menyebarkan pesan dakwahnya. Ustadzah Halimah Alaydrus yang namanya cukup familiar sebagai pendakwah kajian khusus perempuan. Ustadzah Halimah Alaydrus cukup terkenal di khalayak umum. Selain terkenal karena ilmu agama yang disebarkannya, beliau dikenal sebagai pendakwah yang cukup aktif dengan akun media sosial yang dibuatnya, salah satu akun media sosialnya yaitu pada media sosial Youtube.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui teknik komunikasi persuasif Ustadzah Halimah Alaydrus dalam berdakwah melalui Youtube. Untuk menganalisis persoalan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi (content analysis). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi dengan cara kerja pengunitan, penyederhanaan data, pengambilan simpulan dengan menentukan kategori-kategori yang sudah diklasifikasikan, kemudian analisis data. Penelitian ini mengambil tiga video dakwah Ustadzah Halimah Alaydrus, dipilih sesuai rating jumlah viewers.
Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik komunikasi persuasif yang digunakan Ustadzah Halimah Alaydrus dalam berdakwah di Youtube ada lima, yaitu teknik asosiasi, teknik integrasi, teknik ganjaran (pay-off-technique), teknik tataan, dan teknik red-herring. Pertama teknik asosiasi yaitu bagamana Ustadzah Halimah Alaydrus menarik perhatian mad’u dengan membahas peristiwa yang sering terjadi, kedua teknik integrasi atau cara yang digunakan Ustadzah Halimah Alaydrus dengan mendekatkan diri secara komunikatif kepada mad’u, ketiga teknik ganjaran yaitu cara dimana Ustadzah Halimah Alaydrus mempengaruhi orang lain dengan mengiming-imingi atau memberikan harapan, keempat teknik tataan yaitu bagaimana Ustadzah Halimah Alaydrus mengolah kata menjadi suatu kalimat yang baik hingga tercapailah suatu maksud dari pesan tersebut, terakhir teknik red-herring atau cara berkomunikasi melalui perdebatan dengan mematahkan argumentasi dari lawan bicara, dan menggiring kepada argumentasi yang dipunyai
Respon warganet terhadap gaya khitobah Halimah Alaydrus: Studi deskriptif terhadap akun youtube @Ustadzah Halimah Alaydrus channel
Halimah Alaydrus merupakan seorang pendakwah yang menjadi sorotan belakangan ini karena berdakwah di berbagai media sosial tanpa memperlihatkan wajahnya. Gaya khitobahnya yang khas dan menyentuh hati membuat warganet memberikan berbagai respon seperti respon pemahaman, penerimaan, dan respon keinginan terhadap dakwah yang disampaikan.
Tujuan pada penelitian ini yakni untuk mengetahui: (1) Bagaimana pemahaman warganet terhadap ceramah Ustadzah Halimah Alaydrus; (2) Bagaimana penerimaan warganet terhadap ceramah Ustadzah Halimah Alaydrus; dan (3) Adakah keinginan warganet untuk melaksanakan pesan dari ceramah Ustadzah Halimah Alaydrus.
Penelitian ini menggunakan teori S-O-R dari Hovland yang berasumsi bahwa respon atau perubahan perilaku seseorang tergantung dari kualitas stimulus yang diberikan pada organism. Teori pada penelitian ini memiliki tiga unsur yakni: (1) Pesan (stimulus) pada penelitian ini adalah 12 video ceramah Ustadzah Halimah Alaydrus yang diupload selama bulan Desember 2022; (2) Komunikan (organism) pada penelitian ini adalah warganet yang berkomentar pada video ceramah tersebut; dan (3) Efek (Response) pada penelitian ini adalah isi komentar pada video ceramah tersebut.
Metode pada penelitian ini yakni metode analisis deskriptif kualitatif dengan observasi, studi literatur dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Observasi dilakukan pada isi komentar dari 12 video ceramah Ustadzah Halimah Alaydrus yang diunggah selama bulan Desember 2022 yakni sebanyak 847 komentar. Studi literatur dan dokumentasi dilakukan pada berbagai buku, dan jurnal yang dapat menunjang topik penelitian.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa stimulus yang diberikan Ustadzah Halimah Alaydrus berupa video ceramah memiliki kualitas yang sangat bagus sehingga bisa membuat warganet sebagai organism memberikan response berupa komentar sebanyak 8,50% menunjukkan bertambahnya pemahaman, sebanyak 77,33% menunjukkan adanya penerimaan terhadap pesan yang disampaikan, sebanyak 14,05% menunjukkan adanya keinginan warganet untuk melaksanakan pesan yang disampaikan, dan sebanyak 0,12% menunjukkan adanya penolakan dari dakwah beliau.
Berdasarkan hasil komentar yang telah menunjukkan respon pemahaman, penerimaan, dan respon keinginan yang bagus, maka gaya khitobah Ustadzah Halimah Alaydrus dapat dikatakan sebagai gaya khitobah masa kini yang patut dicontoh dan dikembangkan oleh para da’i dan da’iyah lainnya
Sharifah Halimah Alaydrus
Sharifah Halimah Alaydrus was born in Indramayu, West Java on 2 April 1979 as 5th of 6 children of Usman Alaydrus and Nur Assegaf. She acquired her religious knowledge from some well-known NU (Nahdlatul ‘Ulama) pondok pesantren (Islamic boarding schools or Islamic seminary): Darullughagh Wadda’wah in Bangil-Pasuruan, East Java; Pondok Pesantren at-Tauhidiyah in Tegal, Central Java; and Pondok Pesantren al-Anwar in Rembang, Central Java; then continued her study in Daruz Zahro, Tarim, Ḥaḍramawt. After graduating from Daruz Zahro Sharifah Halimah Alaydrus went back to Indonesia in 2002 and married in the same year. After her marriage, she start her da’wa to some pondok pesantren in East Java. Since then, she has become very active in da’wa not only in Jakarta, but also in other parts of Indonesia and abroad. Sharifah Halimah Alaydrus developing Ahbabuzzahro, that was opened in 2004, to share the expertise with the younger generation, which she and her juniors in Daruz Zahro are mentors, as part of her responsibility to equip young muslimāt with religious knowledge and to bring them closer to their religion. Her talent and achievement in becoming students of Habib Umar bin Hafiz have made them authoritative voices both locally and transnationally. The case of Sharifah Halimah Alaydrus demonstrates not only the new visibility of such women in Indonesian public Islam, but also illuminates the significant role played by female Indonesian preachers in the global Muslim world
Beyond Visuals: Komunikasi Dakwah Ustazah Halimah Alaydrus di Instagram
This article discusses the da’wah communication carried out by Ustazah Halimah Alaydrus on the social media platform Instagram. Although actively engaging in da’wah on the @halimahalaydrus account, Ustazah Halimah Alaydrus intriguingly chooses not to share any pictures or photos of herself. This raises questions regarding the da’wah communication that focuses on social interactions, considering that facial expression is a significant factor in shaping perceptions during communication. The article employs a qualitative descriptive approach. The findings of this study demonstrate that Ustazah Halimah Alaydrus adeptly performs social interactions, successfully establishing closeness with her followers on Instagram. She utilizes various available features such as live broadcasts, highlights, stories, and comment sections to interact with her mad'u (target audience for dakwah). This study concludes that not showing her face in da’wah communication on Instagram does not hinder the process of social interaction. Ustazah Halimah Alaydrus remains capable of fostering effective communication with her followers and achieving her da’wah objectives despite not sharing her pictures.
Abstrak
Artikel ini membahas mengenai komunikasi dakwah yang dilakukan oleh Ustazah Halimah Alaydrus di media sosial Instagram. Ustazah Halimah Alaydrus aktif berdakwah di akun @halimahalaydrus namun menariknya, dia memilih untuk tidak membagikan gambar atau foto dirinya. Hal ini menimbulkan pertanyaan seputar bagaimana komunikasi dakwahnya yang berfokus pada interaksi sosial, mengingat wajah merupakan faktor penting dalam pembentukan persepsi saat berkomunikasi. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif model deskriptif. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa Ustazah Halimah Alaydrus mampu melakukan interaksi sosial dengan baik dan berhasil menciptakan kedekatan dengan para pengikutnya di Instagram. Dia memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia, seperti siaran langsung, sorotan, cerita, dan kolom komentar, untuk berinteraksi dengan mad'u (target dakwah). Kajian ini menyimpulkan bahwa tidak menampilkan wajahnya dalam berkomunikasi dakwah di Instagram tidak menghambat terjadinya proses interaksi sosial. Ustazah Halimah Alaydrus tetap mampu membina komunikasi yang efektif dengan pengikutnya dan mencapai tujuan dakwahnya meskipun tidak membagikan gambar dirinya.
The Roles of Person Deixis in Halimah Yacob’s Speeches
Person deixis is a type of deixis that exemplified the encoding of participants’ role in the speech event where the utterance in question is given. In other words, the expression of person deixis is described as referring to the person who the speaker intends to refer. In political speech, person deixis plays a very important role. It can be used to represent the speaker’s identity through his way the speaker refers to himself, his opponent, and his audience. In this study, the writer examines person deixis used by the Eighth President of Singapore, Halimah Yacob in her speeches. This study aims to find out the type of person deixis and to explain the roles of personal pronoun (I, we, you, they) used by Halimah Yacob in her speeches. This study uses a qualitative method, documentation technique in collecting data. The result shows the types of person deixis that are first person, second person, and third person deixis appeared in Halimah’s speeches. The most types of person deixis that used by Halimah Yacob is first person deixis. Another, there are some roles of personal pronoun (I, you, we, they) that used by Halimah Yacob. The most personal pronouns in three speeches used by Halimah Yacob is I then following by pronoun we. Halimah becomes a president is not only there is no candidate who passed a Certificate of Eligibility but she wants to show her positive qualities through her personal experiences before becoming a president by using the pronoun I. She also wants to show her commitment seriously to solves the problems that existed in Singapore by using the pronoun I. However, Halimah used the pronoun I to refers herself rather than used pronoun we as represents herself and her administrations. Halimah becomes the only one to be blamed if there is something happen. Even though Halimah used the pronoun I which is distancing herself with her administrations but she still can get responsibility from the audiences. In this case, the second place is the use of personal pronoun we which is referred to Halimah and the audiences. Halimah used the personal pronoun we is to shares responsibility and creates involvement with the audiences. So, Halimah used mostly first person deixis (I and we) above to manipulate the use of pronouns which is to create good effects on the audience, such as highlighting her achievements, shortening the distance from the audience, denying or distancing themselves from the responsibility for specific political action, and encouraging solidarit
RETORIKA DAKWAH USTADZAH HALIMAH ALAYDRUS (STUDI PADA CHANNEL YOUTUBE “USTADZAH HALIMAH ALAYDRUS”)
Dakwah merupakan mengajak orang lain untuk meyakini dan mengamalkan aqidah dan syari’at islam. Seiring berkembangnya zaman dan melihat kebutuhan masyarakat akan teknologi, media dakwah tumbuh seiring dengan pesatnya teknologi. Kini Youtube menjadi salah satu media yang efektif untuk berdakwah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yaitu penulis menggambarkan dan menganalisis mengenai permasalahan yang diteliti yaitu menganalisis retorika dakwah Ustadzah Halimah Alaydrus. Adapun kaidah retorika yang menjadi fokus yaitu gaya bahasa, gaya suara, dan langgam. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dokumentasi.
Hasil penelitian ini yaitu bahwasanya Ustadzah Halimah Alaydrus menggunakan hampir seluruh gaya bahasa, yaitu yaitu Ta’lim dan Tarbiyah, Tadzkir dan Tanbih, Targhib dan Tabsyir, Tarhib dan Inzar, Qashash dan Riwayat, serta Amar dan Nahi. Sedangkan dalam penggunaan gaya suara, ustadzah halimah alaydrus menggunakan pitch sebagai penekanan akan materi yang disampaikan serta ditambah dengan pause atau jeda untuk memberika ruang kepada mad’u memberikan umpan balik akan materi yang telah disampaikan. Pada penggunaan langgam, ustadzah halimah alaydrus menggunakan langgam agama, langgam sentimentil, langgam conversatie, dan langgam didaktik
- …
