163 research outputs found

    Efektifitas penerapan Hukum Acara dalam penempatan Saksi Keluarga dan Hakam di Pengadilan Agama: Studi perkara No. 548/Pdt.G/2005/PA.Bgl

    No full text
    ABSTRAK Pengadilan Agama merupakan salah satu tempat dalam menyelesaikan perkara, yaitu pemasalahan hubungan manusia dengan manusia yakni masalah perdata yang salah satu di antaranya adalah Perceraian dengan alasan syiqaq. Perceraian ini membutuhkan cara tersendiri dalam memperoleh sebuah putusan, yakni adanya saksi keluarga dan hakam sebagai juru damai. Perceraian ini timbul atas dasar adanya pertengkaran yang terus menerus sehingga perlu adanya penekananan dalam mempertimbangan hasil putusan yang yang dipengarui oleh proses beracaranya. Dari sini peneliti menganggap perlu bahwa proses persidangan dilaksanakan secara sepenuhnya guna untuk memperoleh putusan yang tidak cacat hukum. Obyek penelitian diambil di Pengadilan Agama Bangil, karena peneliti menemukan beberapa kejanggalan tentang keberadaan saksi keluarga dan hakam. Penelitian ini dilakukan untuk memperjelas tentang pentingnya saksi keluarga dan hakam dan mengetahui seberapa besar pengaruh kehadiran saksi keluarga dan hakam dalam penyelesaian perceraian alasan syiqaq. Saksi keluarga dan hakam lebih diutamakan keluarga karena keluarga adalah orang terdekat yang lebih banyak mengetahui masalah keluarga dan lebih menginginkan keutuhan dari sebuah keluarga. Identitas saksi keluarga harus jelas yaitu dengan dibuktikan melalui Kartu Tanda Penduduk, kartu keluarga dan lain-lain. Menghilangkan saksi keluarga dalam proses penyelesaian perkara syiqaq dapat mengakibatkan keputusan cacat hukum. Hakam boleh dari pihak selain keluarga, setelah ditanyakan kesediannya pihak keluarga untuk menjadi hakam. Hakam berfungsi sebagai orang yang membantu tugas Hakim dalam mendamaikan orang yang bersengketa. Hakam diperiksa setelah adanya pemeriksaan saksi dalam putusan sela. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian exploratif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yakni Hakim dan sekunder yakni data pendukung yang berkaitan dengan penelitian ini. Dalam pengumpulan data tersebut dilakukan dengan menggunakan metode interview dan dokumenter. Sedangkan untuk analisis data menggunakan deskriptif analisis. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti menghasilkan bahwa Hakim kurang begitu memperhatikan pentingnya saksi keluarga dan hakam dalam pemeriksaan dan dalam menentukan siapa saja orang-orang yang akan menjadi saksi keluarga dan hakam. Saksi keluarga dan hakam adalah perangkat yang harus ada dalam perceraian alasan syiqaq, di karenakan perceraian ini mempunyai cara beda dengan perceraian yang lainnya. Peneliti menyimpulkan bahwa saksi keluarga harus seseorang yang mengetahui masalah secara detail dan sangat besar untuk menginginkan perdamaian dari pihak yang bersengketa. Sedangkan hakam bertugas membantu Hakim dalam proses perdamaian di antara kedua belah pihak. Untuk proses pengangkatan saksi keluarga, pihak Majelis Hakim tidak terlalu adanya penekanan pihak-pihak yang dihadirkan. Sedangkan untuk pengangkatan hakam, Majelis Hakim sudah memenuhi tata cara yang tercantum dalam hukum materiil di Pengadilan Agama

    Kesusastraan Melayu dan Perannya dalam Dunia Islam Nusantara

    No full text
    Malay and Javanese literature are not separate from each other and many translate to each other. Both become very interesting research fields to be studied, studied, and discussed with greater accuracy, thoroughness and interest (Oberbeck, 1924: 38-43; 1930: 208-230). As is known, the stories of Panji are widely disseminated in Malay and even adapted into Siamese (Winstedt, 1972). Most notably, however, some of the normative, metaphysical or educative texts mentioned above and those expressing a change of mentality have been translated into Javanese. It is enough to refer to the lists in the Catalog of the Order of Th. Pigeaud to see for example that at various times has been adaptation of Tajul Salatin, some writings Hamzah Fansuri, Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Iskandar zulkarnain, even from some Bab Bustanul Salatin. (Pigeaud, Poerbatjaraka, 195

    The Interpretation of the First Verse [Ketuhanan Yang Maha Esa] of Pancasila

    No full text
    Historically, In Indonesia, there are two interpretation of the first verse of Pancasila. The first is [Pengakuan adanya Tuhan] Recognition of the Divine Omnipotence. This translation is used to use by secular group including communist and non-Muslim group especially Buddhist and Hindus. This interpretation was dominant in 1945-1965 when Sukarno as the creator of Pancasila still dominated the political power. Or, this verse was dominant when the secular-nationalist group still had strong position in Indonesia. The fact of it is during the time there was no a policy about official religions from state and the requirement of religious teaching in schools and universities. And, it must be noted that Sukarno as the creator of Pancasila in Guided Democracy era, strongly interpreted Pancasila in his speech and address as the Nasakom that is National, Religion, and Communist. Sukarno as the creator of Pancasila strongly insisted that he was truly nationalist and in his heart he was a truly Muslim. So, it can be said the Recognition of the Divine Omnipotence is the original interpretation of the first verse of Pancasila. My argumentation is originally in the early beginning of the Republic the meaning of religion was religion as a faith not as an institutio

    Ketika Suharto Mengucap Bismillah

    No full text
    Dalam dasawarsa terakhir berkuasa, 1988-1998, Soeharto menampilkan pribadi sebagai pemimpin umat Islam Indonesia. Jika dibandingkan dengan masa-masa awal ia berkuasa, maka, era ini sesungguhnya memperlihatkan keunikan dan kegigihannya dalam mempertahankan kekuasaanya. Pertama, ia menampilkan diri sebagai seorang muslim yang sejati, selalu mengawali pembacaan pidato dan amanatnya dengan kalimat Bismillah Hirrohman Nirrohim, sesuatu yang baru dan tak pernah dilakukan pada awal-awal ia berkuasa dan berjaya. Arti harfiah, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.  Kedua, ia memberikan restu pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, disingkat ICMI, yang menjadi wahana baru untuk merangkul kekuatan Islam. Ketiga, ia menunaikan ibadah haji, dan prosesi pelaksanaan ibadah haji itu dipublikasikan secara luas, mirip propaganda politik, dan meminjam istilah Geertz menampilkan sisi nyata keberlanjutan pentas agung dari negara teater. Rakyat menunggu, menikmati, dan merasakan pentas politik Ibadah Haji tersebut.    Kata Kunci :  Bismillah, Anti Komunis-China, dan Politik Isla

    DEMOCRACY, ISLAM, AND RELIGIOUS FREEDOM IN INDONESIA: A SHORT POLITICAL AND RELIGION HISTORY

    No full text
    Indonesia,  even  though  state  gives  a  concession  on  moderate  on  religious  matter,  the phenomena  shows  that  the  radical  Islamic  group  tries  to  intervene  religious  matter  in  Indonesia. Thus  it  might  dangerous  to  manage  the  diversity  that  becomes  national  emblem.  In  this  paper,  I argue  that  democratic  society  should  regulate  and  control  religious  activity.  I  have  two  reasons about  it.  My  reasons  are  based  on  Indonesian  experiences.  First,  the  democratic  society  prevents activities of a majority religion that contain radical political activities and tried to force their values to other citizens.. The Second is the democratic society has a strong idea to protect minority and their religions

    Menjadi Modern dan Religius: Perguruan NU di Blitar 1950an-1970an

    No full text
    Kajian ini merupakan kajian pustaka. Hal yang diutamakan ialah pembacaan penuh atas buku-buku yang membahas tentang sepak terjang NU di ranah agama, politik, sosial, dan ekonomi. Selain itu, penelitian ini adalah penelitian historis.. Hasil Kajian menunjukkan perguruan NU berusaha membangun umat. Perguruan NU berusaha membangun kader-kader terbaik NU dengan cara mendidik para santri menjadi modern dan memiliki pengetahuan umum yang luas dan mendapatkan ijasah negara. Beberapa dari alumni kemudian melanjutkan pendidikan sekolah menengah hingga perguruan tinggi khususnya IAIN. Setelah lulus banyak dari mereka yang kemudian duduk sebagai birokrat di Kementerian Agama di tingkat lokal, regional, maupun pusa

    Halal Bi Halal, a Festival of Idul Fitri and IT's Relation with the History of Islamization in Java

    No full text
    Dalam artikel ini saya akan membahas tiga topik: Idul Fitri, tradisi halal bi halal dan sejarah islamisasi di Jawa. Berdasarkan gagasan Robert Redfied tentang tradisi besar dan kecil, saya ingin mengatakan bahwa festival Idul Fitri di Jawa lebih menyenangkan, ceria dan menggembirakan daripada di negara asal karena di masa lalu para intelektual yang menyebarkan Islam tidak mencoba untuk mengubah secara radikal tradisi lokal, namun mereka memilih untuk melanjutkan-tradisi kuno dengan agama baru dari tradisi besar Islam. Itu adalah gerakan yang sangat halus dan pintar sebab mereka menghidupkan kembali tradisi kuno dengan memadukannya dengan Islam. In this paper I will discuss three topic: the origin of Idul Fitri, the halal bi halal tradition and the history of Islamization in Java. Based on Robert Redfied's notion of great tradition and little tradition, I want to argue that the festival of Idul Fitri in Java is more happy, cheery, and merry rather than in the origin country because in the past the intellectuals who propagated Islam did not try to change radically the local traditions, however they preferred to recontinue the ancient traditions with a new religion from great tradition, Islam. It was a very smooth and smart movement because they revive the ancient traditions by Islamizing the ancient tradition

    The Light History of Protestantism and the Emerging of Nationalism and Protestantism in South Korea

    No full text
    Artikel ini mengulas kebangkitan Kristen Protestan di Korea untuk mengukur sejauh mana hubungan antara agama dan nasionalisme di Korea, serta mencoba untuk mengkaji hubungan kuat antara agama dan nasionalismnasionalisme. Untuk mengulas hal tersebut, artikel ini memfokuskan diri pada telaah historis masa pendudukan Jepang, yakni pada rentang waktu antara tahun 1910 hingga 1945. ArikelArtikel ini berusaha untuk menjawab pertanyaan sederhana: mengapa Kristen Protestan berhasil menjadi agama yang kuat dan penting di Korea? Jawaban atas pertanyaan tersebut juga akan mengantarkan kita untuk bisa memahami nasionalisme Korea. Dengan kata lain, jelas bahwa perkembangan Protestan di Korea adalah sangat terkait dengan ketidakpuasan yang mendalam dan keputusasaan yang dirasakan oleh orang-orang Korea diakibatkan oleh masa pendudukan Jepang. Selain dikarenakan faktor nasionalisme, berkembangnya agama Protestan di Korea juga sangat terkait dengan pendidikan. Para misionaris bertindak cepat untuk melibatkan diri dalam pendidikan. Hal tersebut dikarenakan mereka memahami tentang semangat Korea dalam hal pendidikan dan juga keterbukaan mereka terhadap ide-ide Barat. Selain itu, artikel ini juga mengkaji mengenai dampak dari adanya para missionarismisionaris untuk menyebarkan agama protestanProtestan. Salah satunya adalah dalam hal ekonomi. Beberapa orang di Korea menegaskan bahwa konversi ke Protestan menyebabkan peningkatan ekonomi. Mereka percaya bahwa peningkatan ini disebabkan penolakan mereka terhadap kebiasaan merokok dan minum, judi, serta hal yang berbau kemewahan</del

    Chinese Maritime Politics in the 13th Century, Malay States and Javanese Imperium

    No full text
    This study aims to explain about the rise of the Chinese trading culture, which is considered original at first then change progressively based on the internal process, and become damaged after making contacts with the native civilizations, is completely dissatisfying, though part of the truth is explained. Based on the critical analysis approach from the historical facts written by some scholars, the result of this study shows that the political and cultural changes were absolutely a sign of remarkable shock. Mongol conquests were contributed to these changes, though indirectly. Indian civilization was accepted by the native people, which then also influenced by the native culture. While the Islamic Nuance in Indian Ocean had been colored by Islamic nuance for approximately two centuries, wherein the trades in the middle and Chinese oceans were united naturally. Meanwhile Southeast Asia had grown rapidly after being involved in the hectic trading traffic. There were new social groups with the wealth of mobile capital, with a new spirit as the trades, in which in its development, there was a new form of state which was called as sultanate. One of the most important facts of that period is the rise of Java as a great sea power.

    The Light History of Protestantism and the Emerging of Nationalism and Protestantism in South Korea

    No full text
    Artikel ini mengulas kebangkitan Kristen Protestan di Korea untuk mengukur sejauh mana hubungan antara agama dan nasionalisme di Korea, serta mencoba untuk mengkaji hubungan kuat antara agama dan nasionalismnasionalisme. Untuk mengulas hal tersebut, artikel ini memfokuskan diri pada telaah historis masa pendudukan Jepang, yakni pada rentang waktu antara tahun 1910 hingga 1945. ArikelArtikel ini berusaha untuk menjawab pertanyaan sederhana: mengapa Kristen Protestan berhasil menjadi agama yang kuat dan penting di Korea? Jawaban atas pertanyaan tersebut juga akan mengantarkan kita untuk bisa memahami nasionalisme Korea. Dengan kata lain, jelas bahwa perkembangan Protestan di Korea adalah sangat terkait dengan ketidakpuasan yang mendalam dan keputusasaan yang dirasakan oleh orang-orang Korea diakibatkan oleh masa pendudukan Jepang. Selain dikarenakan faktor nasionalisme, berkembangnya agama Protestan di Korea juga sangat terkait dengan pendidikan. Para misionaris bertindak cepat untuk melibatkan diri dalam pendidikan. Hal tersebut dikarenakan mereka memahami tentang semangat Korea dalam hal pendidikan dan juga keterbukaan mereka terhadap ide-ide Barat. Selain itu, artikel ini juga mengkaji mengenai dampak dari adanya para missionarismisionaris untuk menyebarkan agama protestanProtestan. Salah satunya adalah dalam hal ekonomi. Beberapa orang di Korea menegaskan bahwa konversi ke Protestan menyebabkan peningkatan ekonomi. Mereka percaya bahwa peningkatan ini disebabkan penolakan mereka terhadap kebiasaan merokok dan minum, judi, serta hal yang berbau kemewaha
    corecore