31 research outputs found

    Pengaruh Ukuran Dan Perlakuan Bibit Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Iles-iles

    No full text
    Effect of seed size and seed treatment on the growth and yield of Amorphophallus oncophyllusEfect of seed size and seed treatment on the growth and yield of Amorphophallus oncophyllus was studied in Bogor and Cikampek from 1993 to 1995, in two expeiments. The irst experiment studied the efect of the size of sound seed, and the second studied the efect of size and splitting seed on die growth and yield of tuber. In the first experiment the sound seed used were the true tuber with the size of 200 and lOOg and bulbil with the size of 5 and 2.5g. In the second expeiment, the tuber of 200g were splined into 2 parts (a lOOg), 4 parts (a 50g) and 8 parts (a 25g). The seeds were irstly planted in sand boxes in die glass house and evaluated for their sprouting at I -2 month ater planting. For the irst expeiment the normal sprouted seeds were planted in the ield in Bogor and Cikampek, while for the second expeiment, the normal sprouted seeds were planted in Bogor The two experiments were designed as a randomized block in 5 replicates. The parameters used for evaluating the effect of treatments were plant height, stem (pseudo-stem) diameter, leaf length and yield of tuber at 6 and 18 months ater planting for the irst and 6 months for the second expeiment. Results of the studies are summarized as follows. From the irst expeiment (sound seed) it was sevealed that seed size neither afected spronting percentage nor plant stand in the ield. The growth components and tuber yield were afected by planting location and size of seed. The growth components, except stem diameter, and tuber yield in Bogor significantly higher than those in Cikampek. From the second experiment it was shown that splitting seed rom 100 to 25g neither afected the sprouting percentage in the glass house nor plant stand in the ield. Plant height signiicantly decreased at the size of 25g, stem diameter al 50g and tuber yield at lOOg. Based on the data, for mass production of seed tuber, the tuber could be splined into 25g. Within 6 months the seed may produced a tuber of 300g and the tuber could produced 1 kg tuber within 6 months

    Waris keluarga beda agama

    Get PDF
    Dalam hukum waris sudah dijelaskan secara rinci tentang tata cara pembagian dan peralihan harta warisan kepada ahli waris, serta hal-hal yang menghalangi ahli waris mendapatkan harta warisan dari si pewaris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pembagian harta warisan dalam sebuah keluarga beda agama baik menurut Kitab Undang–Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) , menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan menurut para pakar hukum yang berkompeten dibidangnya. Dalam Kitab Undang - Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) terkait status hak waris beda agama terletak pada Pasal 838 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) dimana dalam pasal tersebut menyatakan bahwa yang tidak patut menjadi ahli waris adalah mereka yang dipersalahkan telah membunuh, memfitnah pewaris telah melakukan suatu kejahatan dengan hukuman lima tahun penjara, melakuan kekerasan, dan juga telah menggelapkan, merusak atau memalsukan surat wasiat. Karena, menurut Pasal 832 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) yang berhak menjadi ahli waris ialah, para keluarga sedarah, baik sah maupun luar kawin dan si suami atau istri yang hidup terlama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam Kitab Undang Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) tidak ada mengenal perbedaan agama sebagai penghalang mewarisi, dengan kata lain sah sah saja orang yang berbeda agama menjadi pewaris atau mewarisi. Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam perbedaan agama adalah menjadi penghalang seseorang untuk mendapatkan warisan dari si pewaris. Konsep Kompilasi Hukum Islam ( KHI ) mengenai status hak waris beda agama terletak dalam Pasal 171 Huruf C Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berbunyi, ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam, dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris. Serta diperkuat dengan Hadits Rasulullah, yang artinya “Orang muslim tidak mewarisi orang kafir (begitu juga sebaliknya) orang kafir tidak mewarisi orang muslim. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif

    Pengaruh Sufisme Al-Ghazālī terhadap pendidikan Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Gading Kota Malang

    Get PDF
    ABSTRAK Kaitan antara sufisme al-Ghazali dan pendidikan pesantren masih tetap hidup dan dinamis. Ajaran al-Ghazali, merupakan ajaran yang bersifat baku di dalam kajian-kajian di pesantren. Begitu juga dengan pesantren Miftahul Huda Gading, pesantren ini masih kental dengan ajaran sufisme al-Ghazali. Penelitian ini dilakukan karena ajaran tasawuf tersebut dijadikan sebuah pijakan utama dalam pendidikan di pesantren ini serta menjadi makna korektif terhadap ideologisasi dan formalisasi pendidikan yang dilakukan di PPMH. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh sufisme al-Ghazali terhadap pendidikan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading, dengan sub fokus mencakup: (1) implementasi pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading; (2) pengaruh sufisme al-Ghazali terhadap pendidikan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability). Informan penelitian yaitu Pengasuh, pengurus/ustadz, santri dan beberapa alumni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) implementasi pendidikan pesantren Miftahul Huda Gading Malang terbagi menjadi dua: yaitu yang pendidikan bersifat wajib dan pendidikan bersifat sunnah.Adapun yang bersifat wajib yaitu Madrasah Diniyah, Pengajian ba’da shubuh dan Kegiatan Malam Jum’at. Pendidikan yang bersifat sunnah yaitu: Pengajian ba’da shubuh; pengajian ba’da sholat ashar dan pengajian ba’da sholat magrib; Pembacaan tahlil; Pembacaan manaqib; Istighosah; Pembacaan surat yasin; Khususiah pada hari jum’at sesudah sholat ashar; baiat dan dzikir thoriqoh. Metode yang digunakan di antaranya metode wetonan; metode sorogan; metode bandongan; metode musyawarah. Kurikulum yang digunakan tidak memakai bentuk silabus, tetapi berupa jenjang level kitab-kitab dalam berbagai disiplin ilmu, yang pembelajarannya dilaksanakan dengan pendekatan tradisional, dan muatan kurikulumnya hanya terkonsentrasi pada ilmu-ilmu agama. (2) pengaruh sufisme al-Ghazali terhadap pendidikan pesantren Miftahul Huda Gading diantaranya: (a) Falsafah berdimensi tasawuf,(b) kurikulum berbasis tasawuf, (c) jenjang pendidikan pesantren, (d) metode pengajaran agama dan (e) pola hubungan santri kepada kyai; (f) pendidikan tasawuf akhlāq ABSTRACT The connection between sufism al-Ghazālī and education islamic boarding school along life dynamic. The studying al-Ghazālī, as standart studying in the learnes in Islamic Boarding School. So that way by PPMH, this Islamic Boarding School inclined with sufisme al-Ghazālī. This research doing because the Sufism learning maked a principal center in education in this Islamic Boarding School with be the corrective meaning for ideology and formalization education doing in PPMH. This research purpose for give expression the influence al-Ghazālī for PPMH education with focus between (1) the implemtation of education in PPMH; (2) the influence of Sufism al-Ghazālī for PPMH education. This research used qualitative approach. The collection data doing with indept interview, participant observation and documentation. The analysis data are the reduction data, display data, and conclusion. The validitas founding doing with credibility, transferability, dependability and confirmability. The informan this research is manager, teacher, student and some alumnus. The result research between: (1) the implementation of PPMH education devided be two are obligatory education and sunnah education. The obligatory are the elementary Islamic school, the learning after shubuh, and activity in the jum’at night. The sunnah are the learning after shubuh; the learning after prayer ashar and maghrib; the reading tahlil; the reading manaqib; istighatsah; the lerning surah yasin; khususiyah in the jum’at after ashar; oath and dzikir thoriqoh. The methode between wetonan method; sorogan method; bandongan method; discussion method. The curriculum use not make silabus shape, but organize as level kitab in the some science diciplines, that the learning doing with traditional approach, and that curriculum just concentread for relegius sciences. (2) the influence of Sufism al-Ghazālī for PPMH education between: (a) Sufism dimension falsafah; (b) Sufism based curriculum; (c) Islamic boarding school education level; (d) religious learning method; (e) pola interaction student with kyai; and (f) akhlāqī Sufism education

    Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam menanggulangi kenakalan siswa di SMP Negeri 2 Turen Kabupaten Malang

    Get PDF
    ABSTRAK Kenakalan siswa merupakan masalah yang sangat penting dan menarik untuk dibahas dan diteliti karena seseorang yang namanya siswa merupakan bagian dari generasi muda dan merupakan tumpuan harapan bagi masa depan bangsa dan Negara serta agama. Untuk mewujudkan semuanya dan demi kejayaan bangsa dan Negara serta agama, maka sudah barang tentu menjadi kewajiban dan tugas kita semua baik orang tua, pendidik (guru) dan pemerintah untuk mempersiapkan generasi muda menjadi generasi yang tangguh, berwawasan atau berpengetahuan yang luas dan mempunyai keagungan akhlak serta kedalaman spiritual dengan jalan membimbing, mendidik, mengajar, melatih dan mengarahkan sehingga menjadi warga Negara yang baik dan bertanggung jawab secara moral. Dengan proses pembimbingan dan mengarahkan generasi muda yang tangguh dan memiliki wawasan atau pengetahuan yang luas saja tidaklah cukup rasanya, akan tetapi semuanya haruslah dilengkapi dengan adanya penanaman jiwa keberagamaan dan pengalaman keberagamaan yang tinggi sehingga akhirnya menjadi sebuah kepribadian utama. Namun kenyataan telah menunjukkan bahwa perubahan zaman yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi selalu mengakibatkan perubahan sosial. Dalam menghadapi situasi yang demikian siswa sering kali memiliki jiwa yang sensitif, yang pada akhirnya tidak sedikit para siswa yang terjerumus terhadap hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai moral, norma agama, norma sosial dan norma hidup di masyarakat yang akhirnya siswa cenderung melakukan tindakan yang tidak pantas. Bertitik tolak dari permasalahan tersebut diatas, mendorong penulis untuk mengadakan penelitian tentang kenakalan siswa di SMP Negeri 2 Turen, mengingat betapa pentingnya peran siswa sebagai generasi muda bagi masa depan bangsa. Oleh karena itu penulis ingin mengetahui penyebab terjadinya kenakalan siswa; bentuk-bentuk kenakalan siswa dan upaya guru pendidikan agama Islam dalam menanggulangi kenakalan siswa tersebut. Dalam pembahasan skripsi ini, jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sedangkan dalam pengumpulan data diperlukan metode observasi, interview dan dokumentasi. Dan dalam menganalisa data yang terkumpul penulis menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian secara ringkas menunjukkan bahwa hal-hal yang menjadi penyebab kenakalan siswa disebabkan karena adanya pengaruh lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat. Dan bentuk kenakalan siswa SMP Negeri 2 Turen tergolong kenakalan ringan yang tidak sampai melanggar hukum. Sedangkan upaya yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam menggunakan upaya preventif, represif, kuratif dan rehabilitasi. Adapun untuk saran, penulis menyarankan kepada guru pendidikan agama Islam untuk meningkatkan kerja sama dengan sesama guru maupun pihak terkait dalam mengelolah pendidikan, pihak sekolah lebih meningkatkan pengawasan terhadap siswanya, adanya kerja sama antara guru, orang tua dan masyarakat. Untuk para siswa agar benar-benar menyiapkan mentalnya dalam mengahadapi arus globalisasi dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa

    Pernikahan anak dibawah umur tanpa dispensasi pengadilan : Studi kasus pernikahan anak dibawah umur di Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut

    Get PDF
    Pernikahan merupakan hal penting dalam tatanan kehidupan bernegara, sebagai bukti, negara telah menerbitkan Undang – Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 untuk dipedomani oleh seluruh lapisan masyarakat. Terkait dengan pembatasan usia pernikahan, negara juga telah mengamandemen Undang-Undang tersebut melalui Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019 yang menjelaskan bahwa usia minimal menikah baik laki-laki maupun perempuan adalah 19 tahun. Untuk menempuh proses pencatatan pernikahan kedua pasangan calon pengantin harus memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku sesuai dengan bunyi pasal 7 ayat 2 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 yaitu : “Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita.” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang melatar belakangi keputusan menikah dibawah umur, dampak - dampak yang di rasakan sebagai akibat dari keputusan mereka untuk menikah dibawah umur tanpa izin pengadilan dan upaya pemerintah dalam hal ini Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai miniatur Kementerian Agama dalam membatasi kasus pernikahan anak di bawah umur tanpa izin pengadilan. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif melalui pendekatan yuridis empiris yang bersandar pada kaidah maslahah mursalah. Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi dan wawancara terhadap para pelaku perkawinan dibawah umur. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif yang menggambarkan faktor penyebab dan dampak yang ditimbulkan. Hasil penelitian menyatakan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya pernikahan anak dibawah umur adalah; karena lemahnya kondisi ekonomi keluarga, lemahnya tingkat pendidikan, mengakarnya budaya dan adat istiadat setempat, paksaan keluarga dan orang tua, karena hamil sebelum menikah. Sedangkan dampak dari keputusan menikah dibawah umur tidak hanya dampak negatif saja seperti; hilangnya harapan untuk melanjutkan sekolah, terbatasnya pergaulan dengan teman-teman, susah cari kerja, pernikahannya tidak terdaftar di KUA, masalah kesehatan, masalah psikologis, dan terakhir berujung pada perceraian. Tetapi juga ada dampak positif sebagai akibat dari pernikahan di bawah umur tersebut, misalnya; belajar bertanggung jawab, usia anak dan orang tuanya tidak jauh, memiliki banyak kesempatan dalam melatih diri meraih sukses, terbebas dari perbuatan zina, menemukan pasangan hidup lebih cepat. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya beberapa pasangan keluarga yang menikah dibawah umur pada tahun 1990 - 1992 dengan beragam alasan sekarang mereka hidup harmonis, berkecukupan, dan memiliki usaha sendiri

    Penetapan Media Tumbuhan dan Lamanya Pengujian Viabilitas Benih Jambu Mente

    No full text
    Determination of germination substrate and testing period for the seed of cashewExperiment was conducted in 2 stages, determination of germination substrate and testing period. To get a suitable media for germination, 3 kind of media were assessed, i.e.: sand, soil and mixture of sand and soil (1 : 1). Seeds were collected from Yogja Merah population in Asembagus and Muktiharjo and were grouped in 4 lots differ in quality. The experimental design was a split-plot design with 4 replications, 200 seeds each. Seed lots were main plots and germination substrates were sub plots.Testing period was determined by taking 10 different seed quality lots and using the best medium from the first phase experiment. One hundred and fifty seeds from each lot were tested and each replication consisted of 50 seeds. Results showed that sand was the best medium and the testing period was 23 days

    TINGKAT AKSESIBILITAS PEJALAN KAKI

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat aksesibilitas pejalan kaki Stasiun Depok Baru dari segi waktu. Data primer yang digunakan diperoleh dari hasil observasi langsung pejalan kaki pengguna Stasiun Depok Baru. Untuk data sekunder yang digunakan diperoleh dari dokumen melalui badan survei terkait. Metode penelitian ini menggunakan metode observasi. Penelitian ini akan memantau berapa lama pejalan kaki berjalan kaki dalam proses perpindahan moda transportasi dan menunggu moda lanjutan. Jumlah pejalan kaki yang diambil dari penelitian ini sebanyak 100 pejalan kaki dari 3 titik jalur jalan kaki yang tersedia yaitu Jl. Raya Margonda, Jl. Baru dan area pasar. Hasil penelitian ini menghasilkan nilai indeks aksesibilitas yang dihitung dengan metode Public Transportation Accessibility Levels (PTAL) berdasarkan jam dan moda lanjutan yang digunakan yaitu Kereta Rel Listrik (KRL) dan mobil angkutan kota (angkot). Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks aksesibilitas pejalan kaki pengguna moda KRL pukul 06.00 – 09.00 yaitu sebesar 8,36 dari Jl. Raya Margonda, dan 9,37 dari area pasar dan Jl. St. Depok Baru. Sedangkan indeks aksesibilitas pejalan kaki pengguna moda KRL pukul 09.00 – 12.00 yaitu sebesar 8,35 dari Jl. Raya Margonda, dan 5,14 dari Jl. Baru serta 5,00 dari area pasar. Untuk indeks aksesibilitas pejalan kaki pengguna moda mobil angkutan kota pukul 12.00 – 15.00 yaitu sebesar 36,45 menuju Jl. Raya Margonda, 36,46 menuju Jl. St. Depok Baru dan 84,29 menuju area pasar. Sedangkan indeks aksesibilitas pejalan kaki pengguna moda mobil angkutan kota pukul 15.00 – 18.00 yaitu sebesar 27,35 menuju Jl. Raya Margonda, 45,36 menuju Jl. Baru dan 36,72 menuju area pasar. Secara keseluruhan tingkat aksesibilitas pejalan kaki Stasiun Depok Baru masuk dalam kategori buruk untuk moda KRL dan masuk dalam kategori sempurna untuk moda mobil angkot. This research aims to find out the accessibility levels for pedestrian in Depok Baru Stastion based on time. The primary data is taken from direct observation for pedestrian on Depok Baru Station. The secondary data is taken from related data documents from the survey organization. The method used is observation include with the desk approach. The research is to find out walking distance the pedestrian walking along transfer process for transportation mode. Number of pedestrians that will be taken as many as 100 pedestrians from 3 points. The result of this research will accessibility index (AI) score with Public Transportation Accessibility Levels (PTAL) which based on time and transportation mode (railway as commuter line and car public transport). The result showed accessibility index levels for commuter line at 06.00 – 09.00 is 8,36 (poor) from Raya Margonda, and 9,37 (poor) from market area and Jl. Baru. Accessibility indeks levels for commuter line at 09.00 – 12.00 is 8,35 (poor) from Jl. Raya Margonda, 5,14 from Jl. Baru, and 5,00 from market area (very poor). Accessibility indeks levels for car public transport at 12.00 – 15.00 is 36,45 (excellent) to Jl. Raya Margonda, 36,46 (excellent) to Jl. Baru, and 84,29 (excellent) to market area. Accessibility index levels for car public transport at 15.00 – 18.00 is 27,35 (excellent) to Jl. Raya Margonda, 45,36 (excellent) to Jl. Baru, and 36,72 (excellent) to market area. Overall, accessibility index levels at Depok Baru Station is poor for commuter line and excellent for car public transport

    TRANSFORMASI SUPERVISI PENDIDIKAN DI INDONESIA: Kajian Sejarah, Prinsip, dan Tantangan

    Get PDF
    Educational supervision is an important component of the education system that functions not only as supervision, but also professional coaching and guidance for educators. This article discusses the development of educational supervision from the past which tended to be administrative and controlling, to a modern paradigm that is more humanistic, collaborative, and participatory. Through literature studies and related regulatory studies, the definition, objectives, functions, roles, and principles of educational supervision were explained, as well as the differences in characteristics between traditional supervision and current supervision. Modern supervision places teachers as partners in professional development, with a focus on improving the quality of learning and educational innovation, including the use of technology in e-supervision. The results of the study show that the effectiveness of supervision is highly dependent on the application of scientific, democratic, cooperative, constructive, and creative principles, as well as the active involvement of principals and supervisors. By understanding the development of supervision concepts and practices, it is hoped that educational institutions will be able to improve the quality of the teaching and learning process in a sustainable manner.Supervisi pendidikan merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan yang berfungsi tidak hanya sebagai pengawasan, tetapi juga pembinaan dan bimbingan profesional bagi tenaga pendidik. Artikel ini membahas perkembangan supervisi pendidikan dari masa lampau yang cenderung bersifat administratif dan kontrol, menuju paradigma modern yang lebih humanistik, kolaboratif, dan partisipatif. Melalui studi literatur dan telaah regulasi terkait, dipaparkan pengertian, tujuan, fungsi, peran, dan prinsip supervisi pendidikan, serta perbedaan karakteristik antara supervisi tradisional dan supervisi masa kini. Supervisi modern menempatkan guru sebagai mitra dalam pengembangan profesional, dengan fokus pada peningkatan mutu pembelajaran dan inovasi pendidikan, termasuk pemanfaatan teknologi dalam e-supervision. Hasil kajian menunjukkan bahwa efektivitas supervisi sangat bergantung pada penerapan prinsip ilmiah, demokratis, kooperatif, konstruktif, dan kreatif, serta keterlibatan aktif kepala sekolah dan pengawas. Dengan memahami perkembangan konsep dan praktik supervisi, diharapkan lembaga pendidikan mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar secara berkelanjutan
    corecore