1,721,185 research outputs found
ANALISIS PENGELOLAAN STADION DR H MOCH SOEBROTO KOTA MAGELANG JAWA TENGAH
Stadion dr. H. Moch. Soebroto Kota Magelang merupakan home base klub PPSM Magelang yang menjadi kebanggaan warga Kota Magelang. Stadion Soebroto stadion yang belum diketahui manajamen pengelolaannya yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengarahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen pengelolaan yang ada di stadion.
Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif kualitatif. Sampel yang dijadikan informan diambil dengan teknik purposive sampling. Sampel yang diperolah adalah kepala UPT dan karyawan Stadion dr. H. Moch. Soebroto. Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi yang dilakukan peneliti sendiri. Analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, sajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan seluruh fungsi manajemen dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengarahan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Sumber daya manusia dan fasilitas adalah modal manajemen dalam mencapai tujuan organisasi. Sesuatu yang menjadi kekhususan dalam fungsi manajemen pada Stadion dr. H. Moch. Soebroto adalah fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengarahan
Analisa kinerja instalasi pengolahan air limbah RSUD Dr. H. Moch. Anasori Saleh Banjarmasin.
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin dibangun pada tahun 2001 untuk menjaga keseimbangan lingkungan sekitar dari bahaya limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit. Salah satu program pengembangan RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin untuk mengantisipasi kenaikan jumlah penduduk adalah dengan penambahan kapasitas rawat inap pasien. Tujuan dari studi ini untuk mengetahui efisiensi kinerja instalasi pengolahan air limbah serta untuk mengetahui kemampuan bangunan instalasi pengolahan air limbah yang telah ada untuk mengolah debit limbah bila terjadi peningkatan kapasitas rumah sakit sehingga dapat diketahui perlu diadakan penambahan kapasitas IPAL atau tidak.
Analisis IPAL dilakukan dengan cara membandingkan kualitas air hasil olahan IPAL dengan baku mutu yang berlaku (KEPMENLH no. 58 tahun 1995). Perhitungan prediksi debit air bersih dilakukan dengan ketentuan jumlah tempat tidur dan jumlah karyawan, dengan adanya peningkatan kapasitas rumah sakit pada tahun 2014 dari 215 tempat tidur menjadi 450 tempat tidur dan untuk karyawan dari 510 karyawan menjadi 620 karyawan. Sedangkan untuk prediksi debit air limbah adalah 70% dari debit air bersih. Untuk masing-masing parameter yang diukur kemudian ditentukan nilainya berdasarkan prediksi tersebut. Analisa terhadap kinerja RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin dalam menurunkan parameter BOD, COD, NH 3 , TSS, PO 4 , bakteri Escherichia Coli, Minyak-Lemak dan Deterjen dilakukan dengan pengambilan sampel air limbah untuk dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku dan dihitung efisiensi pengurangannya, sedangkan evaluasi kapasitas IPAL sampai tahun 2014 dilakukan dengan melakukan perbandingan antara kapasitas IPAL saat ini dan kapasitas prediksi tahun 2014.
Berdasarkan analisis yang dilakukan diketahui IPAL RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin tidak dapat menampung prediksi debit air limbah tahun 2014. Debit air limbah tahun 2010 adalah 95,51 m³/hari dan prediksi debit air limbah tahun 2014 adalah 162,33 m³/hari. Selain itu, hasil analisa juga menunjukkan bahwa IPAL juga tidak dapat menurunkan kadar beberapa nilai BOD, COD, TSS, dan kadar NH 3 dibawah baku mutu yang ditetapkan pemerintah. Dengan kata lain, efisiensi kinerja IPAL RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin masih rendah sehingga dapat dikatakan bahwa IPALnya masih belum bekerja secara optimal. Untuk itu direncanakan IPAL baru dengan kapasitas yang dapat menampung debit tahun 2014 dan perlu ditambahkan beberapa bangunan pengolah air limbah seperti bak aerasi (53,55 m³) , bak penampung lumpur (49 m³), bak klorinasi (13,21 m³) , dan unit RBC (50 m³) hingga kapasitas IPAL-nya 264,84 m 3 sehingga memenuhi kebutuhan maksimal debit air limbah pada tahun 2014
Hubungan antara Safety Climate dengan Safety Behavior Tenaga Keperawatan Rawat Inap di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh
Rumah sakit termasuk dalam salah satu standar tempat kerja dengan berbagai risiko yang dapat menimbulkan dampak kesehatan bagi pegawainya. Potensi bahaya di rumah sakit selain penyakit menular yaitu ledakan, kebakaran, radiasi, material kimia berbahaya dan gas anestesi. Maka dari itu penting bagi rumah sakit menerapkan sistem K3RS. Meskipun RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh sudah membuat peraturan untuk berperilaku aman (safety behavior), namun masih ada pegawai yang belum memiliki persepsi untuk berperilaku aman saat bekerja. Safety behavior merupakan perilaku karyawan yang mementingkan keselamatan dan diterapkan dalam pekerjaannya sehari-hari, seperti menggunakan APD saat bekerja, mematuhi prosedur K3RS dan mengikuti pelatihan K3. Tujuan dari penelitian ini sendiri adalah untuk menjelaskan hubungan antara safety climate dengan safety behavior tenaga keperawatan rawat inap di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh. Teknik pengambilan sampel yaitu dengan menggunakan accidental sampling, subjek dalam penelitian ini adalah tenaga keperawatan rawat inap, responden yang didapatkan sebanyak 157, alat ukur yang digunakan yaitu safety behavior scale dan Nordic Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50), dan metode analisis data yang digunakan yaitu non parametrik menggunakan korelasi spearman. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa safety climate memiliki hubungan dengan safety behavior (r 0.673, sig 0.05), yang artinya safety climate pada tenaga keperawatan rawat inap di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh berhubungan dengan perilaku aman saat bekerja. Sehingga RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh diharapkan tetap mampu membuat para tenaga keperawatan rawat inap selalu memiliki persepsi terhadap perilaku aman saat bekerj
Dakwah H. Moch If’an Jaelani BSc: studi kualitatif metode dakwah pemimpin formal dalam pembinaan mental spiritual di Desa Damarsi Kecamatan Buduran Sidoarjo
H. Moch. If'an Jaelani Bsc. adalah kepala desa yang juga bertindak sebagai seorang da'i. Artinya dia melaksanakan tugasnya sebagai kepala desa dan juqa berdakwah yang menurutnya suatu kewajiban. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimana kiprah dakwah H. Moch. If'an Jaelani Bsc. bersamaan dengan jabatannya sebagai Kepala desa? Bagaimana metode dakwah yang dilaksankan oleh H. Moch. If'an Jael ani Bsc. selaku pemimpin formal di Desa Damarsih? Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan hasil akhir menyimpulkan diantaranya bahwa Kharisma dari H. Moch If'an Jaelani sebagai subyek dakwah yang sangat arif dan bijaksana dalam memimpin desa Damarsi dan juga dengan syiar agamanya yang mampu diterima dan dipahami. Hal yang semacam ini merupakan pendorong yang tidak kecil artinya dalam upaya pembinaan mental spiritual masyarakat desa Damarsi. Keihlasan yang dicontohkan H. Moch If'an Jaelani Bsc dalam setiap kegiatan dakwahnya, menjadikan beliau lebih Tampak dimata masyarakat dibanding dengan ulama-ulama lain yang ada di desa tersebut. Seringkali H.Moch If'an Jaelani ini menolak jika diberi "Uang saku" setelah ceramah, lebih-lebih shohibul hajjah adalah orang yang kurang mampu
Kebijakan Pembakaran Limbah Medis Padat dengan Insenerator di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin
Background: Hospital activities produce waste that can be the medium of transmission of diseases and environmental pollution. The waste should be destroyed. RSUD Dr. H. Moch. Saleh Ansari Banjarmasin have solid medical waste destruction policy use incinerator. Many things qualify for solid medical waste management is good and does not cause adverse effects to workers, patients, the public and environment. Objective: To determine how the use of an incinerator, waste management procedures, the efforts made to minimize the risk arising from operational incinerator at RSUD Dr. H. Moch. Saleh Ansari Banjarmasin. Methods: This study is a qualitative using case study design. Result: RSUD Dr. H. Moch. Saleh Ansari Banjarmasin established the policy implementation as refers to the government regulations. Although the separation of medical and non-medical wastes has been done, but building an incinerator close to several building. This can cause negative effects, especially for staff working close to incinerator building. Ash disposal using open dumping system. Separation of medical and non medical waste has been done. Transportation using special trolley. Transporting and burning activities are recorded and reported. Utilization of solid medical waste is carried out by former utilization infusion bottles. Officer of the incinerator only one person, sometimes not fuel available, the capacity of the incinerator and sometimes less damage. Disturbance of operational incinerator fumes and odors, especially in the mental ward. Conclusion: Some things should be included in the planning of the hospital incinerator repositioning away from the room, routine monitoring and inspection of the quality of incinerator ash and gas, manufacturing waste incinerator ash landfills are safe and supervision is supported by the decisive and obvious regulations. Latar Belakang: Kegiatan rumah sakit menghasilkan berbagai limbah yang dapat menjadi media penularan penyakit dan sumber pencemaran lingkungan. Limbah tersebut harus dimusnahkan, salah satu caranya adalah dengan insenerator. RSUD. Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin menetapkan kebijakan pemusnahan limbah medis padat melalui pembakaran dengan insenerator. Banyak hal dipersyaratakan untuk pengelolaan limbah medis padat yang baik sehingga tidak menimbulkan dampak buruk bagi petugas, pasien, masyarakat dan lingkungan. Tujuan: Mengetahui bagaimana pemanfaatan insenerator, prosedur pengelolaan limbah, dampak serta upaya yang dilakukan untuk memperkecil resiko yang ditimbulkan dari operasional insenerator di RSUD. Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Metode: Merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Hasil: RSUD Dr. H. Moch. Saleh Ansari Banjarmasin menetapkan kebijakan pelaksanaan pengelolaan limbah yang mengacu kepa- da peraturan pemerintah. Walaupun pemisahan limbah medis dan non medis telah dilakukan, tetapi bangunan insenerator berdekatan dengan beberapa ruangan. Hal ini dapat menimbul- kan dampak buruk terutama bagi petugas yang bekerja dekat dengan bangunan insenerator apalagi pembuangan abu hasil pembakaran menggunakan sistem open dumping. Pengang- kutan menggunakan troli khusus, kegiatan pengangkutan dan pembakaran dicatat dan dilaporkan. Pemanfaatan limbah medis padat yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan bekas botol infus. Kendala dalam pengelolaan limbah adalah jumlah operator insenerator hanya satu orang, bahan bakar kadang tidak tersedia serta kondisi insenerator yang mempunyai kapa- sitas pembakaran kurang dan kadang mengalami kerusakan. Gangguan yang ditimbulkan dari operasional insenerator berupa asap dan bau terutama di ruang perawatan jiwa Kesimpulan : Beberapa hal sebaiknya dimasukkan dalam perencanaan rumah sakit yaitu penempatkan insenerator yang jauh dari ruangan, pemantauan dan pemeriksaan rutin kualitas abu dan gas buangan insenerator, pembuatan tempat pembuangan abu yang aman serta pengawasan yang di dukung dengan peraturan pengelolaan limbah medis padat yang tegas dan jelas
KEBIJAKAN PEMBAKARAN LIMBAH MEDIS PADAT DENGAN INSENERATOR DI RSUD Dr. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN
Background : Hospital activities produce waste that can be the medium of
transmission of diseases and environmental pollution. The waste should be
destroyed. RSUD Dr. H. Moch. Saleh Ansari Banjarmasin have solid medical
waste destruction policy use incinerator. Many things qualify for solid medical
waste management is good and does not cause adverse effects to workers,
patients, the public and environment.
Objective: To determine how the use of an incinerator, waste management
procedures, the efforts made to minimize the risk arising from operational
incinerator at RSUD Dr. H. Moch. Saleh Ansari Banjarmasin.
Methods : This studi is a qualitative using case study design.
Result : RSUD Dr. H. Moch. Saleh Ansari Banjarmasin established the policy
implementation as refereds to the government regulations. Although the
separation of medical and non-medical wastes has been done, but building an
incinerator close ti several buliding. This can cause negative effects, especially for
staff working close to insenerator building. Ash disposal using open dumping
system. Separation of medical and non medical waste has been done.
Transportation using special trolley. Transporting and burning activities are
recorded and reported. Utilization of solid medical waste is carried out by former
utilization infusion bottles. Officer of incenerator only one person, sometimes not
fuel available, the capacity of incinerator and sometimes less damage. Disturbance
of operasional incinerator fumes and odors, especially in the mental ward.
Conclusion : Some things should be included in the planning of the hospital
incinerator repositioning away from the room, routine monitoring and inspection
of the quality of incenerator ash and gas, manufacturing waste incinerator ash
landfills are safe and supervision is supported by the decisive and obvious
regulations
Medical solid waste burning policy with incenerator at RSUD. Dr H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin
Background: Hospital activities produce waste that can be
the medium of transmission of diseases and environmental
pollution. The waste should be destroyed. RSUD Dr. H. Moch.
Saleh Ansari Banjarmasin have solid medical waste destruction
policy use incinerator. Many things qualify for solid medical
waste management is good and does not cause adverse
effects to workers, patients, the public and environment.
Objective: To determine how the use of an incinerator, waste
management procedures, the efforts made to minimize the risk
arising from operational incinerator at RSUD Dr. H. Moch. Saleh
Ansari Banjarmasin.
Methods: This studi is a qualitative using case study design.
Result: RSUD Dr. H. Moch. Saleh Ansari Banjarmasin
established the policy implementation as refereds to the
government regulations. Although the separation of medical
and non-medical wastes has been done, but building an
incinerator close ti several buliding. This can cause negative
effects, especially for staff working close to insenerator
building. Ash disposal using open dumping system. Separation
of medical and non medical waste has been done.
Transportation using special trolley. Transporting and burning
activities are recorded and reported. Utilization of solid medical
waste is carried out by former utilization infusion bottles. Officer
of incenerator only one person, sometimes not fuel available,
the capacity of incinerator and sometimes less damage.
Disturbance of operasional incinerator fumes and odors,
especially in the mental ward.
Conclusion: Some things should be included in the planning
of the hospital incinerator repositioning away from the room,
routine monitoring and inspection of the quality of incenerator
ash and gas, manufacturing waste incinerator ash landfills
are safe and supervision is supported by the decisive and
obvious regulations
Korelasi Jenis Persalinan dengan Ikterus Neonatorum di RSUd dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin: Correlation of Type of Labor with Neonatorum Jaundice at dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin
Angka kematian bayi di indonesia cukup tinggi yaitu sebanyak 6.700 bayi meninggal dalam minggu pertama kehidupan. Salah satu penyebabnya karena ikterus, ikterus terjadi pada 3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi baru lahir. Faktor tersering terjadinya ikterus adalah BBLR dan prematuritas. Faktor selanjutnya jenis persalinan pada bayi baru lahir. Pada jenis persalinan tindakan seperti sectio caeserea, vakum ekstraksi dan forcep ektraksi mengalami Ikterus sebesar 68,4% dan pervaginam sebesar 46,3%. Menganalisa hubungan antara jenis persalinan dengan Ikterus Neonatorum di RSUD Dr. H. Moch Ansari saleh Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan jenis penelitian cross sectional. Data diambil adalah data sekunder dari rekam medik dengan populasi 320 bayi menggunakan teknik total sampling serta dianalisis dengan uji Chi-square. Pada ibu yang melahirkan dengan persalinan tindakan mengalami ikterus neonatorum sebanyak 143 bayi (44,7%) sedangkan pada ibu yang melahirkan dengan persalinan pervaginam mengalami ikterus neonatorum sebanyak 102 bayi (31,8%). Berdasarkan analisa uji hipotesis secara bivariat menunjukkan nilai p = 0,000 yang berarti ada hubungan jenis persalinan dengan kejadian ikterus neonatorum. Ada hubungan jenis persalinan dengan ikterus neonatorum di RSUD Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin
An Overview of Pre-Operative and Post-Operative Antibiotic Use in Inpatients in Orthopedic Surgery at Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin
Preoperative and postoperative antibiotics are included in prophylactic antibiotics, which aim to reduce the risk of surgical wound infection. Surgical Site Infection (SSI) is one of the problems of healthcare-associated infections (HAIs). Dr. Hospital H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin is a government hospital that provides many orthopedic surgical procedures and has data related to antibiotic use. This study aims to determine the description of the use of antibiotics as preoperative and postoperative prophylaxis. The research method included a descriptive observational study with a cross-sectional design on medical record data of surgical patients at Dr. RSUD. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin in August–December 2023, which was taken using a purposive sampling technique with a retrospective approach. Results: 133 samples met the inclusion criteria. The majority of patients were aged 17–25 years (25.6%), the gender was predominantly male (62%), the length of stay was at most 2 days (40.6%), the type of surgery was clean (82%), and they did not have comorbidities (83%). Research shows that cefazolin is most widely used as preoperative prophylaxis by 123 people (92%) and postoperatively by 79 people (59.4%). The study concluded that the most widely used antibiotic for patients undergoing orthopedic surgery at RSUD, Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin, is cefazolin
STUDI FARMAKOVIGILANS OBAT ANTIDIABETES PADA PASIEN RAWAT JALAN DIABETES MELITUS TIPE II DI RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN
Diabetes melitus (DM) tipe II merupakan diabetes melitus yang paling banyak di Indonesia. Penyakit DM tipe II disebabkan resistensi insulin. Penggunaan obat DM menyebabkan terjadinya adverse drug reaction (ADR) sehingga perlu dilakukan pemantauan penggunaan obat melalui studi farmakovigilans. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik dan mengetahui persentase angka kejadian ADR pada pasien rawat jalan DM tipe II di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan dengan desain observasional deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif. Subyek penelitian adalah pasien rawat jalan DM tipe II di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin yang telah menderita DM tipe II selama ≥ 6 bulan dan mendapat obat antidiabetes tunggal maupun kombinasi. Sampel yang digunakan sebanyak 95 sampel. Pengumpulan data melalui rekam medis pasien dan algaroritma naranjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia 51 – 60 tahun paling banyak menderita DM yaitu 42,1%, jenis kelamin perempuan sebesar 55,6%. Angka kejadian ADR dengan total skor 1 – 4 kategori “cukup mungkin†memiliki nilai persentase yang paling besar yaitu 31,57% dan penggunaan obat kombinasi yang paling banyak menghasilkan ADR yaitu sebesar 22,1% untuk kategori cukup mungkin
- …
