104 research outputs found

    Electron-transfer-induced metallic electronic states in a H/Fe3O4(001) film subsurface

    Get PDF
    We investigate the local electronic properties of Fe atoms in a H/Fe3O4(001) film subsurface using scanning tunneling microscopy/spectroscopy (STS). Local barrier height measurements show a H-adsorption-induced reduction of the local work function, indicating electron transfer from H to surface atoms. The STS results and high-resolution spatial mapping of the occupied density of states near the Fermi level reveal that subsurface Fe atoms located beneath a OH group exhibit a metallic electronic state, different from the semiconducting state for intrinsic subsurface Fe atoms. These results can be explained by considering the extension of electron transfer to the subsurface layer. (c) 2019 The Japan Society of Applied Physic

    Implementasi Peran Prinsip-prinsip Pelayanan Islami dalam Membangun Kepuasan Muzakki Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Jember

    No full text
    Memajukan kesejahteraan umum merupakan salah satu tujuan nasional Negara Republik Indonesia yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Di Indonesia sesuai dengan Undang-undang Nomor 23 tahun 2011 menyebutkan bahwa kolektor zakat yang diakui keabsahan keberadaannya terdiri dari 2 macam, yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) yang dibentuk Pemerintah dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi peran Shidiq, Rasa Percaya Diri, Amanah, Tabgih, dan Istiqomah terhadap kepuasan Muzakki LAZISMU Jember. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang sesuai dengan fokus penelitian yaitu untuk mengetahui peran lembaga amil infaq shadaqah Muhammadiyah (Lazimu) Jember dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip islami dalam pelayanannya kepada muzakki, karena dengan penelitian studi deskriptif kualitatif ini pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat. Adapun metode penelitian meliputi metode penentuan lokasi, metode penentuan informa, informan pokok (primery informa), informan tambahan (secondari informan). Hasil dari penelitian ini adalah Lazismu sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional sudah semestinya mengimplementasikan prinsip pelayanan islami kepada Muzakki maupun calon Muzakki dengan tidak pilih kasih. Upaya Lazismu Jember dalam melandasi kejujuran sebagai dasar untuk meningkatkan Kepuasan Muzakki, ada beberapa indikator yang disampaikan oleh beberapa Muzakki terkait dengan kejujuran yang diterapkan oleh Amil maupun Lembaganya, Upaya Lazismu Jember dalam melandasi Rasa Percaya Diri sebagai dasar untuk meningkatkan Kepuasan Muzakki, berangkat dari kebutuhan untuk melaksanakan program-program yang sudah disusun oleh Lazismu, seorang Amil sudah cukup percaya diri dalam mensosialisasikan apa yang harus dilakukan oleh Muzakki untuk dirinya pribadi dan untuk umat, Upaya Lazismu Jember dalam melandasi Tabligh sebagai dasar untuk meningkatkan Kepuasan Muzakki, upaya Lazismu Jember dalam melandasi Istiqomah sebagai dasar untuk meningkatkan Kepuasan Muzakki, komitmen yang selama ini dibangun oleh para Amil Lazismu sudah baik

    KEMATANGAN INTIMASI DEWASA AWAL MENURUT IMAM NAWAWI

    No full text
    ABSTRAK   Subagyo, Achmad Arroizy. 2016. Kematangan Intimasi Masa Dewasa Awal Menurut Imam Nawawi. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Moh. Irtadji, M.Si., (II) Drs. H. Mohammad Bisri, M.Si.   Kata Kunci: intimasi, masa dewasa awal, Imam Nawawi.   Intimasi adalah kemampuan seseorang untuk meleburkan identitas dirinya dengan identitas orang lain tanpa takut kehilangan identitas dirinya sendiri. Penelitian ini dilaksanakan untuk menelusuri makna kematangan intimasi yang meliputi pengorbanan, komitmen, kompromi, dan hubungan sederajat dalam kitab Riyadushshalihin karya Imam Nawawi. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan apa dan bagaimana konsep kematangan intimasi dewasa awal menurut perspektif Imam Nawawi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis hermeneutik Gadamerian. Hermeneutik Gadamerian merupakan metode menafsirkan makna teks dengan cara part dan whole. Sumber data utama penelitian ini adalah kitab Riyadushshalihin karya Imam Nawawi. Teknik mengumpulkan data dilakukan melalui dokumentasi pemaknaan teks. Analisis data menggunakan teknik part-whole. Pengecekan keabsahan data penelitian ini dilakukan melalui triangulasi kepada sumber ahli dan kitab syarah (ulasan mendalam suatu kitab). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematangan intimasi menurut Imam Nawawi adalah kesadaran secara terus-menerus dalam diri seseorang bahwa dirinya dan seluruh alam adalah hamba Allah yang saling berhubungan satu sama lain dengan perilaku yang seluruhnya didasarkan kepada hukum-hukum yang telah Allah tetapkan atas mereka. Kematangan intimasi menurut beliau meliputi nilai-nilai pengorbanan, kompromi, komitmen, hubungan sederajat, dan keikhlasan. Setiap terma terbagi dalam beberapa aspek 1) pengorbanan: berdedikasi hingga akhir hayat, memberikan sesuatu yang baik kepada orang lain, mendahulukan kepentingan orang lain di atas diri sendiri, berdedikasi dengan sungguh-sungguh, memberikan sesuatu yang dicintai kepada yang membutuhkan, dan menanggung derita orang lain; 2) kompromi: menerima alasan orang lain, memiliki sifat pemaaf, memaklumi perbedaan budaya orang lain, menyelesaikan masalah dengan bermusyawarah, mengalah kepada orang lain, dan bersifat idealis; 3) komitmen: kejelasan perjanjian dalam komitmen, memiliki sifat amanah, membuat perjanjian dalam komitmen secara proporsional, berbaik sangka kepada orang lain, dan isi komitmen bersifat fleksibel; 4) hubungan sederajat: kesetaraan tanggung jawab bagi setiap orang, kesetaraan hak bagi setiap orang, dan kesetaraan hukum bagi setiap orang; 5) keikhlasan: hadir di hadirat Allah SWT, takut kepada Allah SWT, berharap kepada Allah SWT, dan ridho terhadap semua keputusan Allah SWT. Sedangkan implikasi dalam bidang keilmuan psikologi dikomparasikan dengan teori psikososial Ericson. Saran yang diajukan adalah ilmuan psikologi dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan identifikasi kematangan intimasi. Peneliti yang berminat melanjutkan penelitian ini hendaknya menggunakan sumber teks yang lebih banyak dan menggunakan varian metode hermeneutik yang lebih variatif

    Survei Sero Epidemiologik Infeksi Helicobacter pylori pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Jebres Surakarta dengan Metoda PHA

    No full text
    Latar belakang. Infeksi H. pylori ditandai dengan ditemukan IgG anti H. pylori. Sebagian infeksi H. pylori tidak memberikan gejala klinik dan merupakan penyebab gastritis kronik dan karsinogenik lambung. Sampai saat ini kemampuan untuk mendiagnosis infeksi H. pylori masih terbatas. Tujuan. Untuk mengetahui prevalensi infeksi H. pylori pada siswa Sekolah Dasar Negeri Jebres, umur 6-14 tahun di Surakarta. Metoda. Penelitian ini dilakukan secara studi potong lintang, analitik. Infeksi H. pylori berdasarkan hasil pemeriksaan serologi PHA yang dibuat dari antigen lokal. Populasi pada penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar Negeri di Jebres Surakarta, dengan kondisi sosial ekonomi yang rendah. Sampel adalah siswa sekolah yang diijinkan orangtuanya mengikuti penelitian ini, dengan menandatangani informed consent. Hasil. Prevalensi infeksi H. pylori didapatkan 107 PHA positip pada 532 siswa (20,1%); siswa perempuan 27.3% dari 205 siswa sedangkan pada laki-laki 12.0% dari 220 siswa. Kelompok umur 6-9 tahun dijumpai PHA positip 13.0% dari 241 siswa. Kelompok umur 10-14 tahun PHA positif 28.0% dari 184 siswa. Kesimpulan. Prevalensi pada siswa perempuan lebih tinggi dari pada siswa laki-laki Prevalensi kelompok umur 10-14 tahun lebih tinggi dari kelompok siswa umur 6-9 tahun. Tingginya prevalensi infeksi H. pylori mungkin sebagai akibat higiene dan sanitasi lingkungan yang buruk. Pemeriksaan serologi poliklonal metoda PHA, dibuat dari antigen lokal dan perlu dikembangkan lebih baik dari sisi harga, produksi maupun pendistribusiannya.

    Analisis Kelayakan Agribisnis Nanas di Daerah Transmigrasi (Studi Kasus Pada Petani Nanas di Desa Tangkit B m Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Batang Hari, Propinsi Jambi).

    Get PDF
    Handoyo Subagyo, 2000. Analisis Kelayakan Agribisnis Nanas di Daerah Transmigrasi (Studi Kasus Pada Petani Nanas di Desa Tangkit B m Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Batang Hari, Propinsi Jambi). di bawah bimbingan Djoni Tanopruwito dan Aji Hermawan). Buah nanas mempunyai peluang yang sangat cerah untuk dipasarkan di dalam negeri maupun luar negeri, baik sebagai buah segar maupun kalengan. Permintaan pasar dalam negeri (domestik) terhadap buah nanas terutama untuk konsumsi buah segar mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan makin tingginya kesadaran penduduk akan nilai gizi dari buah-buahan, sedangkan permintaan pasar dunia terhadap buah nanas juga terus meningkat cukup besar, ha1 ini dapat diliit dari data BPS, bahwa permintaan nanas menempati peringkat ke dua setelah pisang, terutama dalam bentuk kalengan (canning), disamping buah segar. Berdasarkan ha1 tersebut, daerah transmigrasi mempunyai potensi untuk pengembangan sistem agribisnis komoditi nanas terutama pada daerah lahan kering, mengingat di daerah transmigrasi sumberdaya alamnya masih terbuka luas, yakni menurut data Pusdatin Departemen Transmigrasi dan PPH dari luas lahan 182.416,20 hektar yang dibagikan kepada transmigran, lahan yang diusahakan sekitar 116.787,44 hektar, sedangkan sisanya sekitar 65.628,76 hektar belum diusahakan. Studi ini rnengambil kasus petani nanas di Desa Tangkit Baru, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Batang Haxi, Propinsi Jambi. Permasalahan yang sering dihadapi para petani pada umumnya adalah teknologi pertanian h a n g dikuasai, harga faktor-faktor produksi masih tinggi, sering terjadi pemborosan biaya terutarna untuk tenaga ke ja, modal ke j a masih minim, fasilitas produksi dan unit pengolahan di wilayah produksi masih terbatas, lahan garapan h a n g subur, tenaga kerja kurang professional untuk menangani manajemen usaha tani, pemasaran dan biaya angkut pada rnasa panen masih terlalu tinggi, kontinuitas produksi belum dapat memenuhi permintaan pasar. Akibat dari hal tersebut para petani nanas h a n g bergairah dalam mengembangkan tanaman nanas untuk memenuhi permhtaan pasar dan cenderung membiarkan tanaman nanasnya tidak terawat sehingga buahnya kecil-kecil serta kurang produktif. Sehubungan dengan ha1 tersebut, perlu dikaji kemungkinan pengembangan tanaman nanas yang dapat meningkatkan pendapatan para petani. Untuk itu dalam penelitian ini bertujuan. 1. Mengkaji biaya-biaya produksi nanas untuk menentukan kelayakan agribisnis nanas. 2. Menganalisa kelayakan usaha tani nanas dan industri pengolahan dodol nanas. 3. Memberikan alternatif strategi dalam menentukan kelangsungan produksi nanas berdasarkan analisis finansial dan SWOT. Untuk mengkaji biaya-biiya produksi digunakan analisis harga pokok produksi yaitu dengan mengelompokan biaya-biaya yang berpengaruh langsung terhadap penentuan harga pokok. Dernikian juga dalam mengkaji faktor yang mempengaruhi hasil produksi digunakan analisa keuangan yang berupa analisa rugi laba, rentabilitas, titik impas (break even point) dan analisa sensitivitas, sedangkan dalam menentukan strategi untuk klangsungan produksi nanas digunakan analisis SWOT. ari analisis yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pada agribisnis on arm, buah nanas yang dapat dihasikan para petani nanas selama tahun 1998 adalah 21.553 buah, harga jual nanas rata-rata Rp. 250,-lbuah, dengan keuntungan sekitar Rp. 5.454.042,- per tahun atau per bulan Rp. 454.035,-. Marjin keuntungan 56,23 %, sedangkan BEP nya adalah pada tingkat produksi 8.490 buah dengan harga Rp. 250,-. Industri pengolahan dodol nanas keuntungan yang diperoleh lebih baik dari para petani yaitu Perusahaan Tulimario Rp. 13.143.660,- dengan marjin keuntungan sebesar 34,01 % dan rentabilitas ekonomis 28,17 %, BEP pada tingkat penjualan Rp. 20.437.151,-. Perusahaan Mamaseh dengan keuntungan Rp. 21.412.181,- marjin keuntungan 27,47 % dan rentabilitas ekonomis 34,19 % serta BEP pada tingkat penjualan Rp. 5.432.836,-. Sedangkan Perusahaan Sifu Rennue mempunyai keuntungan Rp. 13.246.474,-, marjin keuntungan 36,37 %, rentabilitas ekonomis 50,59 %, BEP pada tingkat penjualan Rp. 7.192.548,-. Dari kesimpulan hasil penelitian disarankan beberapa hal sebagai berikut. 1. Perbaikan lahan usaha tani nanas harus segera dilakukan, dengan teknik budidaya tanaman nanas yang dianjurkan pemerintah agar hasil produksi meningkat dan kualitas buah dapat dipertahankan. 2. Pola tanaman harus diperbaiki, untuk menjaga kontinuitas produksi, misalnya dengan cara setiap petani tidak bersamaan pada waktu menanam nanas. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat kelompok-kelompok tani untuk mengatur waktu tanam nanas. 3. Untuk mengantisipasi kerusakan buah, perlu diatur cara dan waktu pemanenan buah dan perlakuan pada pasca panen yakni dengan melakukan pembersihan, sortasi clan pengemasan buah yang akan dijual jauh dari lokasi. 4. Perlu dihidupkannya lembaga keuangan yang menyediakan fasilitas kredit petani dengan bunga rendah serta birokrasi yang tidak terlalu menyulitkan para petani. 5. Untuk para petani dan industri rumah tangga dodo1 nanas, diperlukan pelatihan-pelatihan yang menyangkut teknologi usaha tani dan manajemen keuangan, pemasaran maupun produksi, sehingga para pengusaha dapat meningkatkan produksi dan pendapatan yang diperoleh. 6. Penyebarluasan agribisnis nanas perlu dilakukan, terutama untuk daerah transmigrasi yang mempunyai lahan seperti di desa Tangkit Baru, kecamatan Kurnpeh Ulu, kabupaten Batang Hari, propinsi Jambi, karena potensi permintaan pasar baik &lam negeri maupun luar negeri masih terbuka lebar

    Jalaluddin Rumi (604-672H/1207-1273M)

    Get PDF
    Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair sufi terbesar dari Persia. Ia dilahirkan di kola Balkh pada tahun 604 H/l207 M. Menurut pengakuan keluarganya, nenek moyangnya berasal dari keturunan Arab; nasabnya bersambung hingga Abu Bakar al-Shiddiq Khalifah Islam yang pertama. Berkat tali perkawinan, keluarganya mempunya ikatan hubungan yang kuat dengan keluarga kerajaan Kwarizm. Faktor-faktor inilah yang menjadikan keluarganya mendapatkan kehormatan yang tinggi dari masyarakat pada waktu itu. Pada usianya yang ketiga tahun (607 H/1210 M), ayahnya Bahauddin Walad membawanya meninggalkan Balkh karena konfliknya dengan raja Muhammad Qutb al-Din Kwarizm shah menuju ke Nishabur. Di kota inilah keluarganya bertemu dengan Fariduddin Atthar dan ia diserahkan kepadanya. Konon, berdasarkan legenda, Atthar pada pertemuannya dengan. Jalaluddin yang petama kali itu meramalkannya, bahwa ia kelak akan menjadi scoring yang masyhur yang akan menyalakan api gairah ketuhanan di seluruh dunia, karena ia terpesona melihat sorot matanya dan benih kejeniusannya dan pada akhimya Atthar memberinya sebuah kitab tasawwuf Asrar Nama.  Di balik kisah legenda ilu, dapatlah diambil benang sarinya; yakni bahwa Jalaluddin secara faktual pernah menjadi anak angkatnya Faridduddin Atthar, berada dalam lingkungan kehidupannya. Pengalaman yang demikian, tentunya ikut membekali persepsi hidupnya dan membekali khazanah pengalaman kesufiannya di masa mendatang kehidupannya. Sebab bagaimanapun, pengalaman di masa kanak-kanak akan mermpunyai titik persambungannya di masa remaja dan orang tua

    Pemungutan Pektin dari Kulit dan Amapas Apel Secara Ekstraksi

    Get PDF
    Apel dikonsumsi sebagai buah segar maupun produk olahan. Sebagai produk olahan (buah kaleng, jus, sari buah),a pelm enyisakanli mbah berupak ulit dan amp.rsy, ang kebanyakand igunakans ubsituspi upuk dan pakan ternak atau dibuang. Kandungan pektin dalam buangan tersebut belum termanfaatkan. Penelitian ini memanfaatkalinm baht ersebutu ntuk dipungutk andunganp ektinnya.A pel dikupas,s edangd agingb uahd iperas, dipisahkansa ri buahnyad an diambil ampasnyaK. ulit dan ampasd ikeringkan,k emudiand iekstraksdi alaml abu lehert iga dengans olvena ir padas uasana sam( dipakai,H CI). Ekstraksid ilakukand enganv ariasis uhu( 60, 70, 80,90d an 1000 C),p H(2;2,5;3:3,5 dan4 ), waktu( 30,60, 90,120d an 150)m enit.E kstrakd isaringd alam keadaanp anas,k emudiand itambahkanA ceton hingga terbentuke ndapan.E ndapand icuci denganA lkohol hinggan ehal dan dikeringkand alam o^vens ampaib eratnyak anstan,s ebagaip ektin kering. Kondisi operasi optimald icapaip adas uhue ketraks9i 0 uC,d enganp H larutanu ntuk ampas( 3,5), untuk larutank ulit pH 3, dan waktu operasi 90 menit. Pektin kering yang terpungut (rerata) pada kondisi operasi tersebut adalah 13,940 yo (berat)u ntuka mpasd an 12,897% (berat)u ntukk ulit apel.Perlud ilakukanu ji kelayakanh asilj ika pektint ersebut akand imanfaatkasne bagasi ubsitusbi ahanp anganb, ahanp engobatand an industrif armasi. Katak unci:a mpasa pel,buanga(lnim bah),e kstraksik,u lit apel, pektin

    Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Karang Pendegradasi Senyawa Herbisida Glyphosate di Perairan Teluk Awur, Jepara

    Get PDF
    Coastal pollution caused by river run off of agriculture area have dangerous impact for coral reef ecosistem. The use of glyphosate¬degrading bacteria isolated from coral biofilm is alternative solution of the problem. The purposes of this research were to isolate, select and know study the kinetic of growth and substrate disposal of bacteria associated with corals which have ability to degrade glyphosate herbicide compounds at Jepara Sea. This research was conducted from August - September 2002. Sampling was carried out at Teluk Awur and Panjang island, Jepara on different coral life forms, namely massive, submassive, foliose and branching at two different stations. Isolation studies were performed at Microbiogenetics laboratory of Faculty Mathematics and Natural Sciences Diponegoro University Semarang and kinetic studies was done at Biotechnology Laboratory and Center of Phisic and Chemical Laboratory Gajah Mada University Yogyakarta. Experimental method was used in this research by location and coral life-form as source of variation. The prosedure of this research are isolation, purification, sensitivity, turbidity, degradation and kinetic tests. The result were obtained that among 233 isolates, 84 isolates (36.05%) are capable of degradating gliphosate herbicide. Kinetic studiy of growth and substrate of F.T1.27 isolat (% degradation 42.44% and sensitivity values 8 mm) showed Lineweaver - Burk linearisation of Michaelis-Menten equation Y= 0.0067 X + 4.1232 and showed that maximum growth rate (p .m maks ) was 0.2425 h saturated concentration (KO was 14.7 ppm, while the maximum effect of glyphosate concentration on the substrate removal rate (rs) was 0.0296 g/L at 50 ppm and generation time (tg) was 2.86 11-1.. Pencemaran wilayah pesisir akibat run off sungai dari daerah pertanian oleh senyawa herbisida glifosat memiliki dampak yang sangat berbahaya bagi ekosistem terumbu karang. Pemanfaatan keberadaan bakteri pendegradasi senyawa herbisida glifosat pada lapisan biofilm terumbu karang merupakan alternatif pemecahannya. Tujuan penelitian ini untuk mengisolasi, menyeleksi dan mengetahui kinetika pertumbuhan dan penggunaan senyawa glifosat bakteri yang berasosiasi dengan karang yang mampu mendegradasi senyawa herbisida glifosat di perairan Jepara. Pengambilan sampel dilakukan di Teluk Awur dan Pulau Panjang, Jepara. Sampel yang diambil terdiri atas empat jenis life-form karang pada masing - masing stasiun. Tahap isolasi dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiogenetika MIPA, Universitas Diponegoro dan Uji kinetika dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian dan Laboratorium Kimia Fisika Pusat, Universitas Gajah Mada. Metoda penelitian yang digunakan adalah metoda eksplorasi dengan faktor lokasi dan life-form karang sebagai sumber keragaman. Prosedur penelitian meliputi isolasi, pemurnian, sensitivitas, turbiditas, degradasi dan uji kinetika. Hasil penelitian diperoleh 84 isolat atau sekitar 36,05% dari seluruh isolat (233 isolat) menunjukan kemampuan mendegradasi senyawa herbisida glifosat. Penelitian kinetika pada isolat F.T1.27 (% degradasi 42,44% dan derajat sensitivitas 8mm) menunjukan linearisasi Lineweaver - Burk tehadap persamaan Michaelis-Menten Y= 0,0067 X + 4,1232 dengan laju pertumbuhan maksimum (p maks sebesar 0,2425 jam-' dan nilai tetapan kejenuhan (Ks) sebesar 14,7 ppm. Sedangkan laju penggunaan substrat (rs) pada konsentrasi 50 ppm yaitu sebesar 0,0296 g/L glifosat dan waktu generasi sebesar (tg) 2,86 jam"'

    Quality management practices in the south east Asian airlines' operations function

    Get PDF
    Despite the recent Asian economics crisis (1997-1998), air traffic volumes in Asia- Pacific will continue to grow over the next decade. As the market is becoming more and more attractive, the competition amongst the airlines operating in the region has challenged the Southeast Asian carriers. The demanded quality of product/service by the customer has become a crucial issue. The ability to provide quality products and services is increasingly becoming a key determinant of an airline's business success. The quality of any organisation's products and services is determined by the core business or operational processes that create them. If the chain of processes is made effective and efficient, then the resulting products and services will also be effective and efficient. Airline business activities consist of sales and marketing, engineering and maintenance, flight operations, and ground services. For the purpose of this study the operations function, which consists of aircraft maintenance, flight operations and ground services, becomes a focus, as it is the core activity of operational processes that causes the success or failure of delivering quality products and services to the customer. The study was aimed at developing a model of quality management practices for the operations function of the `developing' airlines of Southeast Asia. It was conducted through extensive literature and field studies, based on the quality management practices of certain airlines in Southeast Asia and Western Europe. The study found that there were twelve critical success factors of quality practices in the operations function, which should be managed differently depending on the airlines' organisational contexts, in order to keep their operational effectiveness and efficiency at the required level. The findings configured a model that provides airlines' executives or managers with guidelines, which they can consult in their decision-making process when conducting quality improvement for their organisation. They may well be used by other airlines as well. The findings from the study also contribute to the knowledge of process quality, and the applicability of the quality concept developed in the social and business disciplines of airlines' operational organisation
    corecore