14 research outputs found
Pengembangan Senyawa-senyawa Heterosiklik Nitrogen sebagai Antituberkulosis dan Antikanker
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pirazinamida merupakan senyawa heterosiklik nitrogen yang termasuk salah satu obat tuberkulosis lini pertama. Kasus resistensi terhadap obat tuberkulosis dan belum ditemukannya obat baru menjadikan tuberkulosis sebagai ancaman global. Senyawa-senyawa analog pirazinamida menunjukkan potensi sebagai lead compounds dalam pengembangan senyawa-senyawa antituberkulosis baru. Sintesis analog pirazinamida pada umumnya melibatkan pereaksi tionil klorida yang termasuk dalam daftar bahan kimia untuk produksi senjata kimia dan melepaskan gas beracun sulfur dioksida sebagai hasil samping, sehingga perlu dikembangkan metoda sintesis baru. Penelitian yang dilakukan berhasil mengembangkan metoda sintesis baru tanpa melibatkan pereaksi tionil klorida, yang diterapkan pada sintesis dua puluh senyawa analog pirazinamida dengan struktur yang bervariatif. Uji bioaktivitas dua puluh senyawa tersebut terhadap M. tuberculosis H37Rv mendapatkan bahwa N-(2-etil-heksil)pirazina-2-karboksamida dan N-(4-florobenzil)pirazina-2-karboksamida mempunyai aktivitas antituberculosis dengan konsentrasi hambat minimum (MIC) <6,25 μg/mL; yang lebih baik dari pada pirazinamida dengan MIC 100 μg/mL.
Kanker merupakan penyakit yang menyebabkan kematian nomor dua di seluruh dunia setelah jantung. Kanker paru-paru dan kanker prostat merupakan jenis kanker yang sering diderita dengan masing-masing presentase kejadian sebesar 11,4% dan 7,3% dan presentase kematian sebesar 18% dan 3,8%. Kemoterapi merupakan metode pengobatan untuk menghambat dan mematikan sel kanker yang telah menjalar ke berbagai organ tubuh yang lain. Pengobatan tersebut tidak hanya berdampak pada sel-sel kanker, tetapi juga pada sel-sel normal. Senyawa-senyawa 3,3-di(indolil)indolin-2-on (trisindolina) merupakan senyawa heterosiklik nitrogen bahan alam yang diketahui mempunyai bioaktivitas sebagai antikanker. Selain menghambat proliferasi sel kanker, sebagian trisindolina dilaporkan tidak toksik terhadap sel normal paru-paru manusia. Senyawa-senyawa ini juga mempunyai bioaktivitas antikanker, antituberkulosis, antibakteri, spermisidal dan inhibitor enzim α-glukosidase. Penelitian yang dilakukan berhasil mendapatkan enam senyawa trisindolina dengan struktur yang bervariatif. Uji bioaktivitas enam senyawa tersebut terhadap sel kanker paru-paru A549 dan sel kanker prostat DU-145 mendapatkan bahwa tiga trisindolina dengan gugus ester memiliki aktivitas antiproliferasi lebih baik daripada trisindolina dengan gugus hidroksi. 5-Kloro-3,3-di((metil indol-5-karboksilat)-3-il)-2-indolon menunjukkan aktivitas terhadap terhadap sel kanker A549 dan sel kanker DU-145 masing-masing dengan IC50 11,02 dan 9,2 μg/mL yang lebih baik daripada cisplatin dengan IC50 491,25 dan 25,05 μg/mL.
====================================================================================================
Tuberculosis is an infectious disease caused by the Mycobacterium tuberculosis. Pyrazinamide is a nitrogen heterocyclic compound which is one of the first-line tuberculosis drugs. Cases of resistance to tuberculosis drugs and the discovery of new drugs have made tuberculosis a global threat. Pyrazinamide analogue compounds show potential as lead compounds in the development of new antituberculosis compounds. Synthesis of pyrazinamide analogues generally involves the reagent of thionyl chloride which is included in the list of chemicals for the productions of chemical weapons. Additionally, it can release toxic gas sulfur dioxide as a byproduct, so it is necessary to develop new synthesis methods. The research carried out succeeded in developing a new synthesis method without involving thionyl chloride reagent, which was applied to the synthesis of seventeen pyrazinamide analogues with varied structures. The bioactivity assay of these seventeen synthesized compounds against M. tuberculosis H37Rv found that N-(2-ethylhexyl)pyrazine-2-carboxamide and N-(4-florobenzyl)pyrazine-2-carboxymide have antituberculosis activity with minimum inhibitory concentration (MIC) of <6.25 µg/mL which is better than pyrazinamide with a MIC of 100 µg/mL.
Cancer is the second leading cause of death worldwide after heart disease. Lung cancer and prostate cancer are the most common types of cancer with incidence rates of 11.4% and 7.3%, respectively, and mortality rates of 18% and 3.8%. Chemotherapy is a method of treatment to inhibit and kill cancer cells that have spread to various other organs of the body. The treatment not only affects cancer cells, but also normal cells. 3,3-di(indolyl)indoline-2-ones, known as trisindolines, are nitrogen heterocyclic natural products which are known to have bioactivity as anticancer. In addition to inhibiting the proliferation of cancer cells, some trisindolines are reported to be non-toxic to normal human lung cells. These compounds also have anticancer, antitubercular, antibacterial, spermicidal, and α-glucosidase enzyme bioactivity. The research carried out succeeded in obtaining six trisindolines with varied structures. The bioactivity test of these six compounds against lung cancer cells A549 and prostate cancer cells DU-145 found that three trisindolines with ester groups have better antiproliferative activity than trisindolines with hydroxy groups. 5-Chloro-3,3-di((methyl indole-5-carboxylate)-3-yl)-2-indolone showed activity against cancer cells A549 and cancer cells DU-145 with IC50 of 11.02 and 9.2 µg/mL in repectively, which is better than cisplatin with IC50 491.25 dan 25.05 µg/mL
Sintesis N-(3-bromofenil)pirazina-2-karboksamida dan N-(4-bromofenil)pirazina-2-karboksamida dengan Metoda Yamaguchi
Pirazina-2-karboksamida merupakan salah satu obat anti tuberkulosis lini pertama. Beberapa senyawa analog pirazina-2-karboksamida memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghambat perkembangan Mycobacterium tuberculosis, salah satunya adalah N-fenilpirazina-2-karboksamida. MDR-TB (Multi-drag Resistant Tuberculosis) atau resistensi ganda terhadap obat anti tuberkulosis merupakan salah satu masalah yang mengakibatkan penderita kebal terhadap obat anti tuberkulosis lini pertama. Sintesis N-fenilpirazina-2-karboksamida umumnya dilakukan melalui dua tahap, yakni pembentukan asil klorida dan karboksamida. Pereaksi Yamaguchi umumnya digunakan untuk sintesis ester dan tioester. Penelitian yang dilakukan berhasil mensintesis dua turunan N-fenilpirazina-2-karboksamida yakni N-(3-bromofenil)pirazina-2-karboksamida dan N-(4-bromofenil)pirazina-2-karboksamida dengan metoda Yamaguchi yang memiliki satu tahap reaksi. Senyawa hasil reaksi diduga memiliki aktivitas antimikobakteria dengan rendemen masing-masing 64% dan 93%
STUDI IN SILICO SENYAWA HIBRID GABUNGAN PIRAZINAMIDA DENGAN ASAM 4-(2-AMINOTIAZOL-4-IL)BENZOAT
Saat ini, kasus TB terus menjadi tantangan global dengan lebih dari 10 juta kasus baru setiap tahun, dan lebih dari 500.000 di antaranya resisten terhadap obat TB. Indonesia menyumbang sekitar 10% dari total kasus TB global dan menempati peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah kasus TB tertinggi di dunia. Peningkatan kasus TB kambuh dipicu oleh resistensi terhadap obat TB sehingga memerlukan pengembangan obat baru yang efektif, singkat dalam pengobatan, dan tidak rentan terhadap Mycobacterium tuberculosis. Pirazinamida merupakan salah satu obat komersial untuk menangani tuberkulosis. Cincin pirazin memiliki peran penting dalam aktivitas bakterisidal. Senyawa yang mengalami N-substitusi dengan 4-feniltiazol-2-amin dan perpanjangan fenil dengan subtitusi gugus asam karboksilat telah terbukti memiliki aktivitas yang efektif. Dalam penelitian ini, dilakukan analisis in silico terhadap senyawa hibrid yang mengombinasikan pirazinamida dengan Asam 4-(2-aminotiazol-4-il)benzoat. Studi in silico melibatkan penelitian studi penambatan, sifat fisikokimia, dan sifat farmakokinetik. Hasil analisis menunjukkan bahwa senyawa hibrid (5) dan (6) memiliki potensi sebagai penghambat protein InhA dan dapat dianggap sebagai kandidat obat oral
PENGARUH EKSTRAKSI SILIKA DARI ABU SEKAM PADI TERHADAP LAJU RAMBAT API
Sekam padi merupakan produk samping dari hasil industri penggilingan padi.
Hingga saat ini hasil samping pengolahan padi serta limbahnya belum
dimanfaatkan secara maksimal. Peningkatan nilai ekonomis dari sekam padi dapat
dilakukan dengan memanfaatkan kandungan silika dari sekam padi. Silika dari
sekam padi sendiri dapat diperoleh dengan mudah dan sederhana yaitu dengan cara
pengabuan dan ekstraksi padat-cair. Beberapa studi memperlihatkan bahwa
proporsi silika berkorelasi negatif dengan kemudahan terbakar. Atas dasar inilah
peneliti melakukan penelitian tentang korelasi silika terhadap ketahanan api.
Tulisan ini membahas mengenai hasil percobaan dari penambahan ekstraksi
silika pada karton yang ditambahkan silika. Pembuatan ektraksi silika dilakukan
dengan perlakuan perbedaan waktu pemanasan campuran KOH 0,5 M dengan abu
sekam padi. Waktu pemanasan yang digunakan adalah 15 menit, 30 menit, dan 45
menit. Pembuatan sampel karton dilakukan dengan perlakuan perbedaan sampel
silika hasil ektraksi dan lama waktu perendaman karton dengan sampel gel silika.
Waktu perendaman yang digunakan adalah 15 menit, 30 menit, dan 45 menit.
Ukuran karton yang digunakan sebesar 210x70 mm. Beberapa pengujian dilakukan
untuk mengetahui karakteristik dari sampel silika yang dihasilkan dengan waktu
pemanasan yang berbeda. Pengujian tersebut meliputi pengujian SEM untuk
mengetahui kadar silika yang dihasilkan dari proses ekstraksi, dan pengujian TGA
untuk mengetahui perubahan massa silika terhadap temperatur, serta penguian DSC
untuk mengetahui titik leleh dari sampel silika. Sedangkan pengujian terhadap
karton dilakukan dengan menggunakan alat flammability test, pengujian ini
dilakukan untuk mengetahui ketahanan sampel karton terhadap panas. Hasil
menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara karakteristik silika dengan waktu
pemanasan. Selain itu terdapat hubungan yang positif antara penambahan silika
pada karton terhadap ketahanan panasnya. Karton yang memiliki perambatan
terendah adalah sampel karton yang direndam selama 45 menit dengan gel silika
yang dihasilkan dari proses ekstraksi selama 15 menit.
Rice husk is a byproduct from rice milling home industry. Until these days,
byproducts and its waste haven't yet processed maximally into benefit. The silica
contained in the rice husk can help to raise the rice husk's economic value. The
silica can be obtained through simple and easy way such as ashing and solidliquid extraction. Few studies have reported that silica proportion has negative
correlation with flammable trait. Based upon those prior research, author make a
research about a correlation between silica and fire resistance.
This passage discuss about an experiment which silica extraction is adds to
silica-based carton. Silica extraction is made from different time heating
experiment group between KOH 0,5 M and ash husk divided into three groups; 15
minutes, 30 minutes, and 45 minutes. Carton sample is done with experimenting
the difference in extraction silica sample and soaking wet divided in three groups;
15 minutes, 30 minutes, 45 minutes. The carton used size is 210x70mm.
Experimental group is done to determine characteristic of silica sample from
different time heating process. The tests are SEM test to determine silica level
from extraction process; TGA test to determine the silica mass to temperature; and
DSC test is to determine the melting from silica sample. A test is also done to
determine the resistance of sample to heat by using flammability test. The result is
shown that there is correlation between characteristic silica in with time heating
process. Moreover, there is a positive correlation between silica addition to the
carton with the heat resistance. The lowest propagation carton is the longest
soaking time, which is 45 minutes with silica gel, resulted by process extraction in
15 minutes
STRATEGI KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI SD NEGERI SLEMAN 1
This research is motivated by the principal's strategy in improving teacher performance both through programmed and non-programmed supervision. The principal makes the plans and programs needed to improve the quality of teachers, including: procurement of workshops, increasing teacher motivation, participating in the KKG (teacher working group) program, participating in webinars, visits to places where they can learn such as PPGP (Teacher Driving Education Program) and others.
The method in this study is a qualitative descriptive research. The researcher used data collection techniques in the form of interviews, observations and documentation. The technique of selecting responses in interviews, observations, and documentation is determined by the 3M criteria, namely understanding, experiencing, and knowing related to the research topic. The subjects of this study include: Principal, Vice President for Student Affairs, Vice President for Curriculum, Teachers and TU. Data analysis uses trancscipt, coding, grouping, comparing and contrasting techniques. Furthermore, in the data validity technique, the researcher uses the source triangulation technique and the triangulation technique.
The results of the research at SD Negeri Sleman 1 can be concluded that: First, the principal's strategy in improving teacher performance has 5 stages, namely (1) teacher performance development by including teachers in training activities held by the government and various agencies, (2) supervision of teacher performance in mastery and classroom management by supervising teachers in teaching and learning in the classroom, (3) coaching discipline of education personnel by monitoring the attendance of teachers every day, (4) providing motivation, (5) giving awards for dedication and achievements. Second, supporting factors are a good work environment, completeness of school facilities, level of education or teacher experience, teaching supervision and education and training. Meanwhile, the inhibiting factors are the lack of awareness and motivation of teachers about the importance of good teacher performance for educational success, difficulties in adjusting the curriculum and syllabus in learning and lack of understanding of the abilities of each student.
Keywords: Strategy, Principal, Teacher, Teacher Performanc
A STUDI IN SILICO: POTENSI SENYAWA KATEKIN DAN TURUNANNYA DARI TEH HIJAU SEBAGAI INHIBITOR HGF SERTA PROFIL TOKSISITASNYA
Green tea is a plant with a high content of catechins. Catechins are a secondary metabolites that possess many benefits and potencies, one of which is as an antitumor. This study aims to describe the potential of catechin and its derivatives as antitumor inhibitor of HGF and their toxicity profiles through in silico analysis. The ligands used in this study were catechin, gallocatechin, epicatechin, and epigallocatechin. The results showed that epicatechin has better potency (-6.6 kcal/mol) than other catechin derivatives. The toxicity characteristics of the four catechins indicate that they do not exhibit hepatotoxicity, mutagenicity, or carcinogenicity, and possess a safe LD50 value. Further studies, such as in vitro and in vivo, must reveal its potential as an antitumor HGF inhibitor.Teh hijau merupakan salah satu tumbuhan dengan kandungan katekin yang tinggi. Katekin merupakan salah satu metabolit sekunder yang memiliki banyak manfaat dan potensi. Salah satunya sebagai antitumor. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan potensi katekin dan turunan sebagai antitumor inhibitor HGF serta profil toksisitasnya melalui analisis in silico. Ligan yang digunakan dalam penelitian ini adalah katekin, galokatekin, epikatekin, dan epigalokatekin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa epikatekin memiliki potensi lebih baik (-6,6 kkal/mol) dibandingkan turunan katekin lainnya. Profil toksisitas keempat katekin tersebut menunjukkan bahwa keempatnya tidak hepatotoksik, tidak mutagentik, tidak karsinogenik, dan memiliki nilai LD50 yang aman. Penelitian lebih lanjut seperti in vitro dan in vivo diperlukan untuk menguak potensinya sebagai antitumor inhibitor HGF
POTENSI SENYAWA EUGENOL DARI CENGKEH (Syzygium aromaticum) SEBAGAI INHIBITOR PROTEASE HIV-1 (PR)
Syzygium aromaticum is a medicinal plant that is well known for its uses in the medical world. This plant contains essential oil that has a lot of bioactivitis, namely eugenol. This study aims to determine the potency of the compound eugenol and its derivatives as an inhibitor of HIV-1 protease (PR), an HIV-1 antiviral candidate. The ligands used in this study were eugenol, methyl eugenol, acetyl eugenol, and isoeugenol. The results showed that the compound acetyl eugenol has the potential to act as an HIV-1 protease inhibitor better than other eugenol derivatives because it has a lower binding affinity value (-6.2 kcal/mol) of the other compounds. Further studies such as in vitro and in vivo tests are needed to prove its activity as an HIV-1 protease.Syzygium aromaticum merupakan tanaman obat yang terkenal akan kegunaannya di dunia medis. Tanaman ini mengandung minyak esensial yang memiliki banyak bioaktivitas yakni eugenol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi senyawa eugenol dan turunannya sebagai inhibitor HIV-1 Protease (PR) kandidat antivirus HIV-1. Ligan yang digunakan dalam penelitian ini adalah eugenol, metil eugenol, asetil eugenol, dan isoeugenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa asetil eugenol memiliki potensi sebagai inhibitor HIV-1 Protease lebih baik dibandingkan turunan eugenol yang lainnya karena memiliki nilai binding affinity (-6,2 kkal/mol) lebih rendah senyawa lain. Penelitian lebih lanjut seperti uji in vitro dan in vivo diperlukan untuk membuktikan aktivitasnya sebagai HIV-1 Protease
The Effect of Prenatal Yoga on Emesis Gravidarum in the First Trimester Pregnant Women
Background: Increased levels of progesterone, estrogen, and HCG (chorionic gonadotropin hormone) during the first trimester of pregnancy can produce morning sickness, also known as emesis gravidarum (nausea and vomiting). To lessen the release of hormones that induce anxiety, severe nausea, and vomiting, prenatal yoga practitioners can block the stimulation of sympathetic nerves by practicing muscle relaxation. This study aims to ascertain how prenatal yoga affects first-trimester emesis gravidarum. Method: This study used a pre-experimental design with a pretest-posttest design in one group, involving 16 mothers who had emesis gravidarum at PMB Fatimah Bandung Rejosari, Sukun, Malang. Data collection was done using the questionnaire. Results: The result was that two prenatal yoga sessions over two weeks demonstrated significant benefits. Prenatal yoga affects emesis gravidarum in the first trimester of pregnancy, as indicated by the independent t-test technique (2-tailed) of 0.000 <0.005. Discussion: Steroid hormones can slow down stomach emptying, which causes emesis gravidarum. Excessive or low cortisol levels can be brought back to normal with yoga. Yoga offers numerous mental and physical health advantages. Conclusion We can conclude that the course of treatment impacts the severity of emesis gravidarum, or nausea and vomiting, during the first trimester of pregnancy
Pertanggungjawaban Pidana Bagi Terdakwa Pengidap Gangguan Mental Organik Pada Putusan Pengadilan Nomor : 1811K/Pid.Sus/2010
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertanggungjawaban pidana bagi terdakwa yang mengidap gangguan mental organik dalam kasus tindak pidana penganiayaan, dengan fokus pada studi kasus Putusan Nomor: 1811K/Pid.Sus/2010. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana sistem hukum pidana Indonesia memperlakukan terdakwa dengan gangguan mental organik, khususnya dalam konteks pemidanaan, dan apakah terdapat pertimbangan medis dalam proses peradilan. Analisis difokuskan pada prinsip keadilan, ketepatan pertanggungjawaban pidana, dan perlindungan hak asasi manusia bagi terdakwa yang mengalami gangguan mental. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi peran psikiater dan ahli hukum dalam memberikan pendapat terkait kondisi mental terdakwa dan dampaknya terhadap kemampuan bertanggung jawab. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan Penerapan Pasal 44 KUHP dalam kasus Putusan Nomor 1811K/Pid.Sus/2010 adalah pertimbangan hakim untuk memberikan hukuman yang lebih ringan terhadap terdakwa yang mengidap gangguan mental organik dapat dianggap sebagai langkah yang sesuai dengan prinsip keadilan yang berfokus pada kondisi mental terdakwa atau pembebasan dari hukuman bagi mereka yang tidak mampu memahami atau mengendalikan tindakannya, upaya ini menunjukkan bahwa sistem peradilan dalam memperlakukan terdakwa lebih manusiawi dan adil. Jenis Penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum normatif yang bersifat analitis deskriptif. Data yang dikumpulkan dari studi literatur yang berasal dari bahan hukum primer, seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Putusan Pengadilan No. 1811K/Pid.Sus/2010, serta bahan hukum sekunder dari berbagai sumber seperti buku yang ditulis oleh seseorang dalam ahli hukum berkaitan dengan isu hukum yang dibahas oleh penulis, artikel, dan jurnal ilmiah.Kata Kunci : Pertanggungjawaban Pidana,Gangguan Mental Organik, Tindak Pidana Penganiayaan, Keadilan, Hak Asasi ManusiaAbstractThis study aims to analyze criminal liability for defendants with organic mental disorders in cases of criminal assault, focusing on the case study of Decision Number: 1811K/Pid.Sus/2010. This study explores how the Indonesian criminal law system treats defendants with organic mental disorders, especially in the context of sentencing, and whether there are medical considerations in the judicial process. The analysis focuses on the principles of justice, the accuracy of criminal liability, and the protection of human rights for defendants with mental disorders. In addition, this study also evaluates the role of psychiatrists and legal experts in providing opinions regarding the defendant's mental condition and its impact on the ability to be responsible. The results of this study conclude that the Application of Article 44 of the Criminal Code in the case of Decision Number 1811K/Pid.Sus/2010 is the judge's consideration to give a lighter sentence to defendants with organic mental disorders can be considered as a step in accordance with the principle of justice that focuses on the defendant's mental condition or release from punishment for those who are unable to understand or control their actions, this effort shows that the justice system in treating defendants is more humane and fair. This type of research is a type of normative legal research that is analytical descriptive. Data collected from literature studies originating from primary legal materials, such as the Criminal Code (KUHP) and Court Decision No. 1811K/Pid.Sus/2010, as well as secondary legal materials from various sources such as books written by a legal expert related to the legal issues discussed by the author, articles, and scientific journals.Keywords : Criminal Liability, Organic Mental Disorders, Criminal Acts of Abuse, Justice, Human Right
Effect of Trisindolina-5 Compound on Cancer Stem Cell (CSC) Proliferation in-Vitro
Cancer stem cells (CSCs) are a subset of cancer cells that have the abilities of normal stem cells. CSCs are cancer cell pioneers with self-renewal abilities that can cause CSCs to differentiate into several cancer cells. Because CSCs are resistant to conventional therapies, killing CSCs necessitates the use of a compound with powerful anticancer properties. Trisindoline has been shown to have powerful anticancer properties. Trisindoline has been synthesized into several modifications, the most recent of which is Trisindoline-5. The goal of this study is to find out what the IC50 value of Trisindoline-5 is. The cytotoxicity assay using Microculture Tetrazolium Technique Assay (MTT Assay) is used to determine IC50. The IC50 value of the Trisindoline-5 compound is 24.683 μM at 24 hours incubation, which classifies it as a medium cytotoxic compound, 17.067 μM at 48 hours incubation, which classifies it as a highly toxic compound, and 6497 μM at 72 hours incubation, which classifies it as a compound with no toxicity. While the IC50 value of doxorubicin is 1.611 μM after 24 hours, 2.334 μM after 48 hours, and 5.324 μM after 72 hours, it is classified as a compound with highly toxic activity
