8 research outputs found
Analisis Konflik dan Resolusi Konflik Perebutan Lahan Hutan di Eks-Desa Sendi Kabupaten Mojokerto Tahun 2016-2018
Penelitian ini berjudul “Analisis Konflik dan Resolusi Konflik Perebutan Lahan
Hutan di Eks-Desa Sendi Kabupaten Mojokerto Tahun 2016-2018”. Adanya
konflik antara Perhutani dan warga sekitar hutan disebabkan oleh pendudukan atau
reclaiming yang dilakukan warga atas lahan yang diklaim Perhutani KPH Pasuruan
sebagai wilayah hutan produksi di wilayah Eks-Desa Sendi, Kecamatan Pacet,
Kabupaten Mojokerto. Kajian ini menganalisis terjadinya konflik antara Perhutani
dan warga pada tahun 2016-2018 melalui paradigma teori konflik Ralf Dahrendorf,
serta mengkaji upaya resolusi konflik yang telah dilakukan oleh Perhutani dan
Pemerintah Kabupaten Mojokerto pada tahun 2016-2018 sebagai upaya
mendamaikan konflik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif
dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan
pembagian wewenang yang berbeda atas hutan menjadi faktor utama penyebab
konflik. Implikasinya menghasilkan terciptanya dua kelompok konflik yang
diperankan oleh Perhutani dan warga. Untuk mencapai tujuannya dalam merebut
tanah yang diakui warga sebagai tanah milik leluhur mereka di masa lalu, kelompok
kepentingan seturut pengertian Dahrendorf telah diperankan oleh warga. Kelompok
ini tidak begitu saja muncul, sebelumnya kelompok semu telah diperankan oleh
warga, bernama kelompok KTB. Kelompok KTB ini yang nantinya berubah
menjadi FPR, yakni kelompok kepentingan yang memiliki ideologi perlawanan
merebut dan menduduki lahan. Konflik pada tahun 2016-2018 merupakan konflik
laten. Pada tahun 2016-2018 ditandai pula dengan mulai inklusifnya Perhutani
terhadap tuntutan warga. Hal ini menunjukkan perubahan struktur sosial akibat
adanya konflik. Pada perkembangannya beberapa pihak telah mengupayakan
resolusi atas konflik melalui jalur nonpengadilan (Alternative Disputes Resolution).
Pada tahun 2016 Perhutani menawarkan perjanjian kerjasama dalam program
PHBM. Pemerintah Kabupaten Mojokerto di tahun 2017-2018 juga telah
mengupayakan resolusi dengan rencana pembentukan desa adat. Upaya-upaya
resolusi itu dalam perkembangannya mengalami kebuntuan, warga menolak
tawaran program PHBM dari Perhutani dan rencana pembentukan desa adat tidak
dapat dilanjutkan karena tidak memenuhi syarat yang telah diatur dalam Undang-
Undang No.6 Tahun 2014 tentang Desa. Dengan ini lahan kawasan hutan Eks-Desa
Sendi yang diperebutkan oleh Perhutani dan warga tetap berstatus quo. Warga
hingga saat ini tetap mendiami lahan hutan tersebut
Migration Patterns and Urbanization: Driving Factors Behind the Formation of Urban Slums
Urbanization and migration are inevitable global phenomena, particularly in developing countries. This study aims to identify the key factors driving the formation of slum settlements in urban areas. Using a qualitative approach and literature review method, the research analyzes various academic sources, government reports, and case studies to understand the dynamics behind this phenomenon. The study examines the primary factors contributing to the emergence of slum settlements in developing countries
Representasi Gaya Kepemimpinan Transformasional Tokoh Naruto Uzumaki dalam Film Naruto Shippuden
ABSTRAK Kepemimpinan transformasional penting dipahami karena mampu mendorong perubahan dan memberi inspirasi bagi pengikut, namun dalam representasi fiksi seperti anime Naruto Shippuden nilai kepemimpinan ini sering dianggap sekadar hiburan, bukan refleksi nyata dari teori kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana Naruto Uzumaki menunjukkan kepemimpinan transformasional melalui dialog dan tindakannya, serta menghubungkannya dengan praktik kepemimpinan modern. Metode yang digunakan merupakan deskriptif kualitatif dengan kajian naratif pada adegan yang relevan, berfokus pada empat dimensi kepemimpinan transformasional yaitu pengaruh ideal, motivasi inspiratif, stimulasi intelektual, dan perhatian individual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Naruto mampu memengaruhi, menginspirasi, dan menumbuhkan keyakinan baik pada lawan maupun sekutunya, yang sejalan dengan teori kepemimpinan modern. Namun, kontradiksi muncul karena dalam dunia nyata penerapan kepemimpinan transformasional kerap terbentur birokrasi dan resistensi organisasi, hal yang jarang ditampilkan dalam narasi fiksi. Temuan ini menegaskan bahwa media populer dapat menjadi sumber refleksi kepemimpinan, dan penelitian selanjutnya dapat memperluas kajian pada karya fiksi lain untuk dibandingkan dengan praktik nyata. ABSTRACT Transformational leadership is important to understand because it can drive change and inspire followers; however, in fictional representations such as the anime Naruto Shippuden, this leadership value is often perceived merely as entertainment rather than a reflection of actual leadership theory. This study aims to examine how Naruto Uzumaki demonstrates transformational leadership through his dialogue and actions, and how it relates to modern leadership practices. The method employed is qualitative descriptive, with a narrative examination of relevant scenes, focusing on the four dimensions of transformational leadership: idealized influence, inspirationalmotivation, intellectual stimulation, and individualized consideration. The findings indicate that Naruto is able to influence, inspire, and foster confidence in both allies and opponents, aligning with modern leadership theory. Nevertheless, contradictions arise because in the real world, the implementation of transformational leadership often encounters bureaucratic obstacles and organizational resistance—challenges rarely depicted in fictional narratives. These findings emphasize that popular media can serve as a source of leadership reflection, and future research could expand the study to other fictional works for comparison with real-world practices
EVALUATION OF SCIENCE LEARNING IN MIDDLE SCHOOLS: LITERATURE REVIEW
Learning evaluation is an activity to collect data and information about students' learning abilities, to assess the extent to which the learning program has been running, and also as a tool to determine whether educational goals and learning processes in developing knowledge have progressed as they are. Science assessments can be carried out in the cognitive, affective and psychomotor domains. This assessment provides space for students who tend to have non-academic weaknesses in science subject skills. This research was used to obtain information regarding the scope of evaluation of junior high school students' science learning. The review method was chosen to obtain research journals with the keywords scope of evaluation of junior high school science learning on reference sources Google Scholar, Elsevier, Science Direct, research gate, and publish or parish. 25 journals were reviewed based on author (year), research design, scope of evaluation, and findings. The results of the review show that the scope of learning evaluation can be carried out based on the context that wants to be assessed, such as the scope of the cognitive domain, affective domain and psychomotor domain. The scope of learning evaluation in the cognitive domain can be in the form of observation and understanding, the affective domain can be in the form of responses given by students as long as the teacher provides knowledge and the psychomotor domain in the form of skills assessment rubrics such as doing practical work after being given theory by the teacher.Evaluasi dalam pembelajaran IPA bertujuan untuk memberikan informasi terkait perubahan kemajuan atau kemunduran keterampilan peserta didik. Penilaian IPA dapat dilakukan dalam ranah kognitif, Afektif, dan psikomotorik. Penilaian tersebut memberikan ruang bagi peserta didik yang memiliki kecenderungan kelemahan non akademis dalam keterampilan mata pelajaran IPA. Penelitian ini digunakan untuk mendapatkan informasi terkait ruang lingkup evaluasi pembelajaran IPA Siswa Sekolah Menengah Pertama: A Sistmeatic Review. Metode review dipilih untuk mendapatkan jurnal penelitian dengan kata kunci ruang lingkup evaluasi pembelajaran IPA SMP pada sumber rujukan google scholar, science direct, dan research gate. 20 jurnal telah di review berdasarkan penulis (tahun), sampel, desain penelitian, ruang lingkup evaluasi, dan hasil temuan. Hasil review menunjukkan bahwa ruang lingkup evaluasi pembelajaran dapat dilakukan berdasarkan konteks yang ingin dinilai, seperti ruang lingkup domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotorik. Ruang lingkup evaluasi pembelajaran pada domain kognitif dapat berupa pengamatan dan pemahaman, domain afektif dapat berupa respon yang diberikan oleh siswa selama guru memberikan pengetahuan dan domain psikomotorik berupa rubrik penilaian keterampilan seperti melakukan praktikum setelah diberikan teori oleh gur
Pengaruh Pembangunan Manusia terhadap Kinerja Ekonomi Regional di Kota Pematangsiantar
This analysis is meaningful in order to know the effect of people development on regional economics performance in Pematangsiantar City. The analytical method used is a qualitative method in the form of descriptive, namely by using a method where the author analyzes the data obtained and describes through the events related to the problem. The results of this study show that there has been a very significant decline in the Development of Economic Growth in the City of Pematangsiantar at 2015-2020. Where that the degree of fiscal decentralization has an impact on economic growth. This is the impact of the degree of fiscal decentralization on economic development stating that the degree of fiscal decentralization has a negative effect on economic growth
Praktek gadai emas di Bank Syariah Mandiri Madiun: Perspektif DSN-MUI no.26/DSN-MUI/III/2002 tentang rahn emas dan surat edaran Bank Indonesia no.14/7/DPbS
INDONESIA:
Muamalah merupakan bagian dari hukum Islam yang mengatur hubungan antar seseorang dengan orang lain, baik seseorang itu pribadi tertentu maupun berbentuk badan hukum. Keberadaan lembaga perbankan syariah menjadi tantangan tersendiri dalam sendi-sendi perekonomian masyarakat, dalam kegiatan ekonominya, sehingga Lembaga perbankan syariah ini menjadi pilot projek dalam menjawab tantangan zaman. Gadai menjadi fasilitas Bank yang disediakan untuk masyarakat dalam meningkatkan suatu kebutuhan transaksi yang memberikan pinjaman dengan adanya agunan. Berdasarkan ini siatif penulis dalam penelitian ini yaitu mencoba mengintegrasikan dua aspek hukum dalam praktek Gadai emas di Bank Syariah Mandiri Madiun.
Sehingga dalam penelitian ini terdapat dua rumusan masalah yaitu: Bagaimana Praktek gadai emas di Bank Syariah Mandiri Madiun? Bagaimana praktek gadai emas perspektif DSN MUI No.26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas dan Surat Edaran Bank Indonesia No.14/7/DPbS. Untuk mengetahui praktek Gadai yang terjadi di Bank Syariah Mandiri Cabang Madiun, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian Yuridis Empiris sebagai pisau analisis dalam menjawab permaalahan di atas.
Adapun hasil penelitian ini yaitu Dalam menangani pembiayaan ini dikelola dan dikerjakan khusus oleh officer gadai yang bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang berhubungan dengan produk gadai emas BSM. Dalam prakteknya, akad yang digunakan dalam pembiayaan gadai di BSM ini adalah akad Qardh dalam rangka Rahn. Qardh dalam rangka Rahn adalah akad pemberian pinjaman dari bank untuk nasabah. Perspektif DSN-MUI No.14/7/DPbs Berdasarkan isi dari fatwa yang telah disepakati oleh MUI dan dituangkan oleh Dewan Syari’ah Nasional, bahwa praktik al-rahn diperbolehkan. Dalam mekanismenya, dalam praktik gadai menggunakan akad al-rahn dan dalam penyimpanan barang gadai (marhun) menggunakannya akad ijarah. Akad ijarah disini diartikan bahwa penggadai (rahin) menyewa tempat di bank untuk menyimpan atau menitipkan barang gadainya, kemudian bank menetapkan biaya sewa tempat. Secara umum Bank syaria’ah mandiri telah menyesuaikan sistem dan prosedur gadai emas syari’ah berdasarkan Surat edaran Bank Indonesia No 14/7/DPbs.2012
ENGLISH:
Muamalah is part of Islamic law which regulate the relationship of someone with others, whether it is a person or a legal entity. The existence of sharia banking institution has become a specific challenge in the joints of society economy, within its economic activities, so this sharia banking institution has become a pilot project in answering the challenge of time. Pawn has become the bank facility provided for the community in improving a transactional need that provides loan with collateral. Based on the initiative of the author in this research namely to try to integrate the two aspects of law in the practice of gold pawn in Bank Syariah Mandiri Madiun.
Thus in this research there were two formulation of problems namely: How the Practice of gold pawn in Bank Syariah Mandiri Madiun? How the practice of gold pawn in the perspective of DSN MUI No.26/DSN-MUI/III/2002 on Gold Pawn and Circullar Letter of Bank of Indonesia No. 14/7/DPbS. To understand the practice of Pawn occuring in Bank Syariah Mandiri Madiun Branch, then in this research the author used Juridical Empirical research type as the blade analysis in answering the above problems.
As for the results of this research it is found that in handling the financing, it has been managed and carried out specially by the pawnshop officer who is in full charge of all matters related with the product of BSM gold pawn. In practice, the agreement (akad) used in financing pawn in this BSM is contract of Qardh in order of Rahn. Qardh in order of Rahn is a contract that gives loan from the bank to customers. Perspective of DSN-MUI No.14/7/DPbs Based on the content of fatwa which have been agreed upon by MUI and poured by the National Sharia Board, practice of al-rahn is allowed. In the mechanism, in practice of pawn uses contract of al-rahn and storing the collateral (marhun) uses the contract of ijarah. Contract of ijarah here is interpreted that the pawner (rahin) hires a place in the bank to save or entrust their collateral, then the bank set cost of renting the place. In general, Bank Syariah Mandiri has adjusted the system and procedure of sharia gold pawn based on the Circular Letter of Bank of Indonesia No. 14/7/DPbs.201
Asas2 tatabahasa Melayu: Tarap perwujudan [Basics of Malay grammar: Level of representation]
Paper presented at the Perwanit Course on 14 November 1965.Tulisan 'Asas-asas tatabahasa Melayu - tarap perwujudan' adalah untuk kursus Perwanit yang diadakan pada November 1965. Tujuan berchakap dan berbahasa adalah untok menyampaikan sesuatu yang terbayang dalam fikiran dan riaksi orang yang mendengar percakapan itu menjadi ukuran untok memastikan apakah perkataan itu benar-benar menggambarkan tayangan fikiran kita dengan betul. Inilah yang disebutkan nahu atau tatabahasa atau jalanbahasa atau peramasastera. Berbahasa-lisan memerlukan kita bercakap dengan seseorang dengan secara langsung maka riaksi akan timbul secara sepontan. Dengan ini, suara serta gaya pengucapan yang dapat terlihat dan terdengar itu menolong mengelakkan pengeliruan. Tetapi, pada bahasa tulisan seseorang hanya dapat melihat tulisan-tulisan yang ditulis untuknya. Alat pemahaman yang digunakan untuk memahami fikiran ialah tayangan fikiran semata-mata dan ini fikiran antara penulis dan pembaca yang kontra kerap mengelirukan; untuk mengelakkan kekeliruan maka kedua-dua penulis dan pembaca harus menggunakan ukuran pemahaman yang sama terhadap bahasa yang mereka gunakan itu. Penulis memberi contoh-contoh wacana untuk menjelaskan. Menurut Prof. Dr. Prijani, tatabahasa Melayu dan tatabahasa Indonesia itu hasil pekerjaan orang-orang asing iaitu Inggeris dan Belanda; dan semua tatabahasa Melayu dan Indonesia yang dibuat oleh orang Melayu/Indonesia hanya terjemahan atau saduran atau kutipan dari hasil pekerjaan orang-orang Inggeris/Belanda itu. Sebelum ini, kita belajar tatabahasa Melayu mengikut kaedah Arab, iaitu kaedah menghafal. Penulis mengongsikan bagaimana dia melanjutkan mengaji tatabahasa Melayu dengan mengafal pengembangan kata perbuatan melalui buku 'Julong Bachaan' dalam tahun 1932. Penulis memberi contoh-contoh wacana untuk menjelaskan. Yang dikatakan ayat ialah rangkaian perkataan-perkataan yang boleh memberikan sekurang-kurangnya satu pemikiran dan yang dikatakan pemikiran itu mestilah ada benda yang hendak diceritakan dan ada hal benda itu yang hendak diterangkan. Benda yang nak diceritakan itu disebut 'bendayat', dan hal benda yang hendak diterangkan disebut 'ceritayat'. Penulis juga memberi contoh jenis-jenis ayat. Pengetahuan asas tentang pembahagian jenis kata-kata yang disampaikan hanyalah tentang teori penjenisan dan pengelasan jenis-jenis perkataan. Teori pengajaran ilmu bahasa menurut penjenisan kata-kata ini adalah dari pendapat ahli falsafah Yunani, Aristoteles. Di Indonesia bahasanya memelayukan istilah-istilah Aristoteles menerusi pandangan Belanda, sedang kita di Malaya menurut ukoran-ukuran dan tapisan-tapisan Inggeris pula. Berdasarkan Inggeris, Tuan Haji Zaaba menyampaikan pengetahuan penjenisan perkataan itu kapada kita dengan ketetapan lima jenis sahaja iaitu: (1) nama (2) perbuatan (3) sifat (4) sendi (5) seruan. Akan lebeh peraktikal jikalau penjenisan itu dibuat langsung menurut kelas-kelasnya untuk menjadi lapan kelas saperti yang ditetapkan oleh Jawatankuasa Sukatan Pelajaran Singapura, dan tidak lima jenis tetapi ada pecahan-nya lagi saperti yang dianjoukan oleh Tuan Zaaba itu. Pengelaskan jeniskata yang merupakan: (1) katanama (2) gantinama (3) kata perbuatan (4) rupakata (5) rupakata (6) sendinama, (7) sendikata,(8) kata seruan. Penulis menyenaraikan contoh-contoh jeniskata. This paper is about the basics of Malay grammar - level of representation and is part of the Perwanit course held in November 1965. The main objective of using language is to speak and present something which is imagined in the mind and the reaction of the listener is gauged whether the words used are true descriptions of the speaker's thoughts. This is called grammar or structure and system of the language. Vocal language requires us to talk to someone directly thus a reaction will arise spontaneously. With this, the voice and style of utterance that can be heard and seen helps to avoid confusion. But, in the written language one can only see the writings that are written for him. The comprehension tool used to understand the mind is a mere reflection of the mind and this may not match between the writer and the reader. To avoid confusion then both writers and readers should use the same measure of understanding of the language that they use. The author gives examples of discourse to explain. According to Prof. Dr. Prijani, the Malay and Indonesian grammar was formulated by foreigners from the UK and the Netherlands; and all the Malay and Indonesian grammar made by the Malay / Indonesian were only translation, excerpts or quotes from the work of the English / Dutch people. Before this, grammar was learned using the Arabic methods, ie memorising. The author shares how he went on to study by memorising the expanding of words through the book 'Julong Pustaka' in the year 1932. The writer gave examples of discourse to explain. A sentence is a series of words that can give at least one thought and what the thought says is something which is to be told and something which is to be explained. The thing which is to be told is called 'bendayat', and the thing which is to be explained is called 'cheritayat'. The author also gave examples of types of sentence. The basic knowledge of the division of word types presented in this paper is only about the theory of classification and classification of word types. The theory of teaching of linguistics according to the classification of these words originally comes from the opinion of the Greek philosopher, Aristotle. In Indonesia, the language is made 'Malay' from the Aristotlic terms through the eyes of the Dutch, whereas in Malaya, we follow according to the English. Based on the English language, Tuan Haji Zaaba conveys the knowledge that there are five types of words, namely: (1) name (2) action (3) adjective (4) preposition (5) interjection. It would be more practical if classification is done directly according to its classes which is eight classes as determined by the Singapore Education Syllabus, and not five types but with more divisions such as recommended by Zaaba. The classification of the types of words are: (1) nouns (2) pronouns (3) verbs (4) descriptive words (5) dascriptive words (6) prepositions (7) prepositions,(8) interjections. The writer lists examples of word types
Makna kata Nafs dalam Al-Qur'an : Studi analisis semantik tentang makna kata Nafs dan implementasi pedagogisnya dalam Al-Qur'an
INDONESIA :
Al-Qur`an sebagai kitab samawi terakhir yang diberikan kepada Muhammad sebagai penuntun dalam rangka pembinaan umatnya sangatlah fenomenal. Lantaran di dalamnya sarat nilai-nilai yang unik, pelik dan rumit sekaligus luar biasa. Hal ini lebih disebabkan karena eksistensinya yang tidak hanya sebagai ajaran keagamaan saja, melainkan ajaran kehidupan yang mencakup total tata nilai semenjak hulu peradaban umat manusia hingga hilirnya.
Al-Qur’an dengan segala isinya yang komprehensif merupakan penawar atas setiap permasalahan manusia permasalahan manusia dalam berbagai aspek kehidupan, baik yang berkaitan dengan ruhani, akal, jasmani, sosial, hukum, ekonomi dan politik. Sebab al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang berlaku secara universal sepanjang zaman dan setiap kondisi. Atas dasar itu Islam dipandang sebagai agama yang kekal. Hingga Imam Ash-Shahid ( Mannaul Qattan : 19 ) mengatakan : “Islam mengandung aturan yang bherlaku secara universal, menyentuh semua sndi-sendi kehidupan; Islam pun mengatur negara dan bangsa, pemerintah dan rakyat; Islam juga merupakan moral dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan”.
Mayoritas kata nafs dalam al-Qur’an menunjukan kepada makna totalitas manusia dan sesuatu yang terdapat pada diri manusia yang menghasilkan tingkah laku (M. Quraish Shihab : 1996 : 285 ). Dalam pandangan al-Qur’an, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna untuk berpungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan, dan karena itu sisi dalam manusia inilah yang oleh al-Qur’an dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar. Allah berfirman :
ونفس وما سوّاها . فألهمها فجورها وتقواها ( الشمس : 7- 8 )
Artinya :
“Demi nafs serta penyempurnaan ciptaan, Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketaqwaan” ( Q. S. As-Syams : 7-8 )
Dalam kaitannya dengan pendidikan, al-Qur’an sangat memberi perhatian terhadap pentingnya masalah pendidikan, karena pendidikan merupakan alat atau sarana untuk memberdayakan manusia agar mereka dapat menunjukan eksistensinya secara fungsional di muka bumi dengan fungsi kehalifahannya ( Abudinata : 1993 : 150 ).
Melihat penomena diatas, penulis merasa tertarik untuk meneliti hal tersebut yang disajikan dalam sebuah penelitian yang berjudul : “Makna Nafs dalam al-Qur’an (Studi Analisis Semantik tentang Makna Nafs dan Implikasi Pedagogisnya dalam al-Qur’an)”.
ENGLISH :
Al-Qur'an as the last celestial book given to Muhammad as a guide in the context of fostering his people is phenomenal. Because in it is full of unique values, complicated and complicated as well as extraordinary. This is more due to its existence which is not only a religious teaching, but also a teaching of life that includes a total value system from the upstream of human civilization to its downstream.
Al-Qur'an with its comprehensive contents is an antidote to every human problem of human problems in various aspects of life, both relating to the spiritual, intellect, physical, social, legal, economic and political. Because al-Qur'an is a revelation of God that applies universally throughout the ages and every condition. On that basis Islam is seen as an eternal religion. Until Imam Ash-Shahid (Mannaul Qattan: 19) said: "Islam contains universally applicable rules, touching all aspects of life; Islam also governs the state and nation, the government and the people; Islam is also moral and strength, compassion and justice ".
When we look at the miracles of the Qur'an in terms of lafadz we will find a word that has many meanings. In science, Fahrurrozi said: "A word that has many meanings is called musytarok (Ahmad Mukhtar Umar: 215).
The majority of the words of the nafs in the Qur'an refer to the meaning of totality of human beings and something found in human beings which results in behavior (M. Quraish Shihab: 1996: 285). In the view of the Koran, the nafs created by Allah in a perfect state to function to accommodate and encourage people to do good and evil, and because of that the inside of man is what the Koran recommends to give greater attention to. Allah says:
ونفس وما سوّاها. فألهمها فجورها وتقواها (الشمس: 7-8)
Meaning:
"For the sake of the nafs and the perfection of creation, Allah inspires him ungodliness and devotion" (Q. S. As-Shams: 7-8).
In relation to education, al-Qur'an is paying close attention to the importance of the problem of education, because education is a tool or a means to empower people so that they can demonstrate their existence functionally on earth with their caliphate functions (Abudinata: 1993: 150.)
The human expression in the Qur'an using the term nafs confirms that humans have positive and negative potential, but there is also a sign that in essence the positive potential of humans is stronger than the negative potential, only the attraction of badness is stronger than the appeal of goodness. In this case education has an important role in order to bring up positive potential in humans and minimize the negative potential of humans who can bring people into disrepute.
Seeing the phenomenon above, the author feels interested to examine this matter presented in a study entitled: "The Meaning of the Nafs in the Qur'an (Study of Semantic Analysis of the Meaning of the Nafs and its Pedagogical Implications in the Qur'an")
ARAB :
لا شك فيه أن معرفة اللغة العربية هي أساس لفهم القرآن الكريم لأن ألفاظه مكتوبة بها. وهذا اللغة هي أداة للتعبير عن معاني القرآن الكريم وأهدافه التي تحتوي على معزجات عظيمة في عدة جوانبه المتنوعة. ومنها معزجة في جانب حروفه وألفاظه. ويعرف أن كل الآيات في القرآن الكريم تتضمّن المعاني المفيدة في حياة الإنسان في عدة جوانبها ومنها التربية. بعبارة أخرى بمأن هذا القرآن الكريم هدى للناس، فهي هدى في عملية التربية. وكذلك الآيات التي تشتمل على لفظ النفس في القرآن الكريم لها المعاني المفيدة فى عملية التربية.
ويهدف هذا البحث إلى معرفة المعانى المعجمية للفظ النفس ومعرفة المعانى السياقية للفظ النفس فى القرآن الكريم ومعرفة القيم التربوية فى الآيات المشتملة على لفظ النفس فى القرآن الكريم.
وينطلق هذا البحث من أساس التفكير أن الإعجاز القرآني يشتمل على ثلاثة نواح : ناحية الإعجاز اللغوي وناحية الإعجاز العلمي وناحية الإعجاز التشريعي.
وأما الطريقة المستخدمة فى هذه الرسالة فهي الطريقة الوصفية، هي الطريقة التى تحلل المشكلات الواقعية، وهذه الطريقة مناسبة بالموضوع المبحوث.
بعد ما بحث الكاتب الحقائق المبحوثة، يجد الكاتب أن المعنى المعجمى للفظ النفس الروح، والدم، وذات الشيء وعينه، و الريح التى تدخل وتخرج من أنف الحي وفمه حال التنفس، ومعنى الإنسان؛ والمعنى السياقي للفظ النفس في القرآن الكريم فيكون مختلفا على حسب السياقات المتنوعة، منها معنى الروح فى أربعة مواضع، معنى الإنسان عاما أى في سبعة وعشرين موضعا، معنى شخص أو رجل في ستة مواضع ، ومعنى آدم عليه السلام فى خمسة مواضع. وفي الآيات المشتملة على كلمة النفس في القرآن قيم تربوية، منها تنمية المساعى على قدر الطاقة والنجاح بقدر الاكتساب والابتعاد عن التكبر وعدم تعرض النفس إلى الهلاك بل مراعتها واتجاهات المستقبل
