89 research outputs found
Rasionalitas Masyarakat Desa Lalangon Memilih Kepala Desa Perempuan
Masyarakat Sumenep memegang teguh nilai patriraki dalam kehidupannya. Salah satu nilai patriarki yang diterapkan oleh masyarakat Sumenep adalah seorang pemimpin harus seorang laki-laki. Namun, pada kenyataannya kepala desa di Desa Lalangon saat ini dpimpin oleh perempuan. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat rasionalitas masyarakat desa Lalangon memilih kepala desa perempuan. Metode yang digunakan berupa kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penggunaan prespektif fenomenologi diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas dalam diri individu mengenai motif sosialnya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan juga menggunakan sumber sekunder dari jurnal dan buku. Penggunaan teori dalam penelitian ini menggunakan konsep teori rasionalitas dar Max Weber. Weber melihat jika individu memiliki tahapan ideal dalam melakukan tindakan sosialnya. Oleh sebab itu, dengan menggunakan teori rasionalitas dari Max Weber, dapat membantu untuk melihat tindakan sosial dalam pemilihan kepala desa perempuan di desa Lalangon Hasil penelitian memperlihatkan ada 4 rasionalitas, yakni rasionalitas afeksi, rasionalitas instrumental, dan rasionalitas nilai
FAKTOR-FAKTOR KEMENANGAN DAN KEKALAHAN PETAHANA Studi Tentang Pilkada Empat Provinsi di Indonesia 2012-2013
Penelitian ini pada dasarnya ingin mengungkap masalah tentang
bagaimana seorang petahana mempertahankan kepemimpinannya dalam
merespon pelaksanaan Pilkada di Indonesia pada tahun 2012 dan 2013.
Pelaksanaan Pilkada menghasilkan dua hal yaitu sebagian mendapatkan
kemenangan dan sebagian lagi mendapatkan kekalahan. Begitu juga sebaliknya
mengapa seorang petahana bisa memperoleh kekalahan padahal lima tahun
sebelumnya dia bisa memperoleh kemenangan Pilkada.
Petahana mempunyai kelebihan dibanding dengan calon penantang, sebab
selama lima tahun dia memimpin sebagai gubernur. Petahana sudah melakukan
kampanye tidak resmi selama itu, sebab setiap hari sang petahana bertemu dengan
rakyatnya baik secara langsung atau tidak langsung dengan tampilnya di berbagai
media cetak dan elektronik.
Penelitian ini menjelaskan bagaimana seorang petahana mampu
mempertahankan kemenangannya. Dia mampu mengalahkan para penantang yang
sudah membidik kursi kekuasaan seiring jalannya kepemimpinan pemerintahan
petahana. Petahana bisa mengklarifikasi berbagai isu negatif yang diarahkan
kepada dirinya, bahkan petahana bisa merubah hambatan menjadi peluang untuk
diraihnya kembali.
Petahana yang memperoleh kekalahan pada pertarungan Pilkada periode
kedua, tergambarkan bahwa sang petahana tidak bisa menghadirkan keberhasilan
program kerjanya, petahana tidak mempunyai program jangka panjang, petahana
tidak merealisasikan janji kampanyenya, petahana tidak mampu berkomunikasi
dengan para partai politik dan rakyatnya, dan selanjutnya
Perilaku Pemilih Menjelang Pemilu 2019
Perilaku pemilih menjadi daya tarik tersendiri dalam proses kontestasi perpolitikan nasional 2019. Pada awal perjalanan perpolitikan di Indonesia ia menjadi rebutan berbagai Ideologi yang diperbolehkan menjadi peserta Pemilu pada tahun 1955. Tarik menarik antara partai politik membuat pemilih merespon dan menyikapi tersebut. pada Orde Lama pemilih bebas menentukan pilihan sesuai dengan orientasi politik yang didianut. Bergeser ke Orde Baru pemillih terbatasi pilihannya karena yang diperbolehkan hidup hanya dua partai politik dan golongan karya. Hadirnya Orde Reformasi membuka kembali pilihan warga yang membuat perilaku pemilih mengikuti perubahan zaman. Menyongsong Pemilu 2019 perilaku pemilih lebih menarik lagi diperbincangkan sebab dinamika menyertai.
Rasionalitas Masyarakat Muslim Menerapkan 5M Saat Beribadah di Era Pandemi Covid-19 Pada Desa Jati Sidoarjo
The Covid-19 virus is one of the deadliest viruses and kills almost every country. As a precautionary measure, the government provides policies that must be obeyed by all levels of society. According to WHO (World Health Organization) standards, the policy is known as the 5M, namely, wearing masks, washing hands, maintaining distance, reducing and reducing mobility. The policy must be applied to the daily activities of the community. Sidoarjo is one of the cities in the red zone recently. Data shows that there are more than 24.000 cases of COVID-19. For this reason, the Sidoarjo government applies 5M very strictly when people are carrying out worship. When the community does not implement it, the administrators of the place of worship will reprimand and give directions to the community. The result is that people in Jati Village apply 5M, including when carrying out worship such as congregational prayers, Friday prayers, and so on. The mosque management always provides masks for worshipers, as an anticipation for people who lose or forget not to bring masks. The purpose of this research is to analyze the rationality of people who apply 5M when worshiping in Jati Sidoarjo Village. Qualitative method using primary and secondary data sources. The theory used is the theory of Max Weber regarding the action of rationality.
(Virus Covid-19 merupakan salah satu virus yang mematikan dan memakan korban hampir di setiap negara. Sebagai langkah antisipasi pemerintah memberikan kebijakan yang harus dipatuhi oleh seluruh lapisan masyarakat. Sesuai standart WHO (World Health Organization) kebijakan tersebut dikenal dengan istilah 5M yaitu, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas. Kebijakan tersebut diterapkan pada aktivitas masyarakat sehari-hari. Sidoarjo merupakan salah satu kota yang berada di zona merah beberapa waktu terakhir. Data menunjukkan bahwa terdapat jumlah lebih dari 24.000 kasus covid-19. Untuk itu pemerintah Sidoarjo menerapkan 5M dengan sangat ketat tidak terkecuali saat masyarakat melaksanakan ibadah. Ketika masyarakat tidak menerapkan, maka pengurus tempat ibadah akan menegur dan memberikan arahan pada masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat di Desa Jati menerapkan 5M, termasuk saat menjalankan ibadah seperti, sholat jamaah, sholat jumat, dan sebagainya. Adapun pengurus masjid selalu menyediakan masker untuk jamaah, sebagai antisipasi bagi masyarakat yang kehilangan atau lupa tidak membawa masker. Tujuan dari penelitian yaitu, menganalisis mengenai rasionalitas masyarakat menerapkan 5M saat beribadah di Desa Jati Sidoarjo. Metode kualitatif dengan menggunakan sumber data primer dan sekunder. Teori yang digunakan adalah teori dari Max Weber mengenai tindakan rasionalitas.
Hegemoni Kiai di Desa Payaman Solokuro Lamongan pada Pemilu 2019
A Kiai has a high position both socially and spiritually that affects the power of influence over society's choices. The writing was intended to analyze the travel process of hegemoni by Kiai as a sales figure for the golongan karya political party. The research approach used is descriptive qualitative through interviews and observations at the Darul Ma 'arif village Payaman Solokuro Lamongan. The hegemonic theory of Antonio gramsci was used as a basis for analysis. The final result is that the hegemoni sequence of Kiai is absorbed in two parts. This division is based on the difference in age and background. The first group is a society that is over 60 years old and hegemoni is taking a spiritual approach. Its real form, the practice of hegemony was melted down during recruitment. Intellectual ramming is directed as a measure of obedience to the strings to receive a blessing. The second group is scolars and educators. Hegemoni in this group uses discussion forums or coordination meetings by all members of the foundation. The hegemonic column for the educated and more rational group of educators. The real inversion, ramming was done by showing a good track record by the golongan karya party
Pergeseran Motivasi Haji pada Masyarakat Di Kelurahan Lontar Surabaya
Abstract: In the modern era like today, the values that exist in society have shifted, including the value of Hajj. In the past, the motivation for carrying out the pilgrimage was to get closer to Allah while carrying out the fifth pillar of Islam. However, currently the motivation for the pilgrimage is more directed at the value of symbols that serve to raise one's social status in society. This study aims to explore how the shift in motivation for Hajj in the community in Lontar Surabaya Village. Therefore, the theory used in this study is the social construction of Peter L Berger's perspective. This research uses qualitative research with descriptive qualitative approach. The results of this study indicate that; First, the motivation for Hajj in the modern era has shifted, because the social structure of the Lontar community creates a social order that a community group wants to achieve. As a result, the social structure has implications for the shift in Hajj motivation. Second, the shift in motivation for Hajj in the Lontar community is driven by internal and external factors. The internal motivation of the Lontar community to carry out the pilgrimage is to show their high social status in the community. Meanwhile, the external motivation of the Lontar community to carry out Hajj is to increase prestige and get awards in the community
- …
