8 research outputs found

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING DALAM MATA PELAJARAN PKN

    No full text
    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING DALAM MATA PELAJARAN PKN Eric Abdurrohman (150711603284) Pendidikan Pancasila dan  Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. [email protected]   ABSTRAK Penulisan artikel dengan judul model pembelajaran cooperative learning ini merupakan suatu model pembelajaran yang saling membantu, saling bekerja satu sama yang lain. Yang dibagi dalam suatu kelompok kecil dengan tingkat kemampuan yang berbeda beda. Cooperative learning merupakan teknik pembelajaran yang sangat efisisen dikarenakan dibentuknya kelompok kelompok kecil yang berbeda kemampuan yang nantinya bisa mampu saling membantu satu sama lain. Dalam mata pelajaran PKn dibutuhkan juga teknik ini karena sangat membantu siswa untuk memahami teknik yang disampaikan karena dengan kelompok kelompok kecil ini membuat beban guru untuk mejelaskan ke siswa sedikit berkurang karena apabila dalam suatu kelompok ada yang kurang atau belum paham akan dibantu atau diberi pemahaman dari anggota kelompok lainnya yang sudah paham dengan materi tersebut, lebih khususnya dalam mata pelajaran PKn. Oleh karena itu satu kelompok kecil tersebut saling bergotong royong untuk saling memahamkan dan memberi pemahaman kepada anggota kelompok. Dari cooperative learning tersebut dapat membuat kemampuan dan hasil belajar siswa meningkat karena adanya saling membantu atau saling bekerja sama untuk memahami suatu materi khususnya PKn.   Kata Kunci : model pembelajaran, cooperative learning, kelompok, saling membantu, hasil   PENDAHULUAN Dalam proses pembelajaran kita sebagai pendidik dituntuk untuk selalu kreatif dan selalu meningkatkan proses pembelajaran. Selain itu juga diperlukan faktor keaktifan dari peserta didik yang sering kita ajar tersebut dalam proses pembelajaran. Kita sebagai pendidik harus bisa merencanakan dan harus bisa mengatur suasana atau kondisi diajar dalam kelas. Sehingga, pendidik dan peserta didik dapat berinteraksi dengan baik. Dan peserta didik dengan peserta didik dapat berkomunikasi dengan baik. Dengan begini dapat membuat kondisi belajar lebih kondusif, karena bukan tidak mungkin terjadi persaingan dalam kelas yang lebih mengedepankan ego membuat sebagian siswa dengan kemampuan yang belum bisa akan tersisih di dalam kelas. Oleh karena itu diperlukannya model pembelajaran cooperative learning yang dimana peserta didik didalam satu kelas dibagi dalam kelompok kelompok kecil yang diisi dengan peserta didik dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Dengan begitu suasana belajar lebih baik karena akan timbul kerja sama antar peserta didik dan juga gotong royong. Pendidik juga perlu mengembangkan potensi dan kemampuan siswa yang bisa terlihat pada saat pembentukan kelompok kecil, yang diisi berbagai tingkat kemampuan yang secara tidak langsung akan membuat yang belum bisa akan bertanya ke anggota kelompok yang sudah bisa. Dan pendidik juga harus menekankan bahwa proses pembelajaran yang dilalukan ini bukan semata mata kepada hasil tetapi lebih ke proses atau kerja dama dan saling membantunya. Karena sejatinya tujuan pendidikan adalah meningkatkan kemampuan peserta didik sampai ketahap tertinggi dari peserta didik tersebut, dan tiap peserta didik mempunyai tahap tertinggi yang berbeda beda dan kita tidak boleh memukul rata. PKn merupakan mata pelajaran atau bidang studi yang mempelajari atau menelaah kejadian, gejala, dan masalah sosisal didalam masyarakat sebagai warga negara, dari berbagai aspek kehidupan secara terpadu (Ishack, 2005:17). Melalui pembelajaran ini diharapkan peserta didik mendapat pelajaran bagaimana menjadi warga negara yang baik, demokratis, bertanggung jawab dan menjadi warga dunia yang cinta damai. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran PKn ini sangat diperlukan penerapan cooperative learning dikarenakan dalam cooperative learning dapat lebih memahami apa yang diajarkan karena bukan hanya dari guru nanti akan juga dibantu oleh teman temannya dalam satu kelompok untuk memahami suatu materi dalam mata pelajaran PKn. Cara penerapan yang dilakukan pendidik dalam proses belajar juga akan berpengaruh pada proses pembelajaran yang memiliki makna dan pengalaman siswa satu sama lain untuk saling membantu dan saling bekerja sama. Dari pengalaman disini bisa menunjukkan kaitan unsur unsur konseptual yang lebih efektif, relevan yang membentuk skema atau konsep. Yang berguna untuk memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan (Williams, 2006:116).   PEMBAHASAN Metode Cooperative Learning adalah metode yang membagi murid kedalam kelompok kelompok kecil yang terdiri dari 3-5 orang, yang diisi oleh murid murid dengan tingkat kemampuan berbeda atau tingkat akademis yang berbeda. Menurut Slavin (1995:5) ada tiga konsep utama dalam pembelajaran cooperative yaitu penghargaan kelompok (team award), pertanggungjawaban individu (individual accountability) dan kesempatan yang sama untuk berhasil (equal opportunity for success). Sehingga didalam kelompok menjadi lebih seimbang karena di isi anak yang berkemampuan akademis tinggi, sedang, biasa,  asal suku agama ras yang berbeda. Sehingga, terjadi nya saling bantu satu sama lain dan bekerja sama untuk menjadikan kelompok yang kompak dan terbaik karena pada umumnya jika salah menggunakan metode pelajaran PKn akan terasa sangan membosankan bagi peserta didik. Seorang pendidik memberikan sebuah materi yang nantinya akan diberikan ke masing masing kelompok. Dan akhirnya para peserta didikpun bisa bekerja dalam tim dan bahu membahu membantu memahamkan semua anggota kelompok untuk dapat meguasai materi yang diberikan. Selanjutnya, kelompok kelompok tersebut akan memberikan presentasi untuk sebuah materi dan akan diberikan kuis dari pendidik. Tentunya dalam kuis tersebut ada yang berhasil menjawab ada juga yang belum berhasil menjawab, bukan berarti yang belum bisa dalam metode Cooperative Learning itu disebut gagal  karena hakikatnya belajar itu mengetahui lebih banyak daripada yang sebelumnya. Jadi apabila didalam proses tersebut sudah ada progres walaupun sedikit sudah bisa disebut berhasil. Mata pelajaran PKn ini membentuk karakter diri dari beragam suku, agama, ras, dan antar golongan, sosial kultural, bahasa dan usia untuk menjadi warga negara yang baik dan cerdas yang terampil dan berkarakter yang dilandasi oleh UUD 1945. Yang sejalan dengan hasil belajar yang diterima sesuai dengan pengalaman belajarnya. Inipun sejalan dengan pernyataan Depdiknas (2005: 34) bahwa mata pelajaran PKn atau kewarganegaraan yang merupakan mata pelajaran yang secara umum bertujuan mengembangkan potensi individu yang memungkinkan berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam berbagai kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Kelebihan dari Cooperative learning adalah interaksi yang berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan berfikir antar anggota kelompok. Karena  jika kebutuhan tidak terpenuhi maka selamanya induvidu berada dalam situasi tegang. Akhir dari ini adalah setiap induvidu membutuhkan interaksi dengan individu lain yang akan membentuk anggota kelompok. Anggota kelompok inilah yang akan membantu. Wina Sanjaya (2006 : 241). Hal ini berguna untuk pendidikan jangka panjang yang nantinya bisa untuk bersosialisasi dan peka terhadap lingkungan sekitar. Dapat meningkatkan kemampuan peserta didik mengelola informasi dan kemampuan belajar acak (abstrak) menjadi nyata. Mampu mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menguji ide dan pemahaman sendiri, serta menerima umpan balik. Sehingga interaksi atau komunikasi bisa berjalan dengan lancar peserta didik dapat memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat bisa memberdayakan tanggung jawab dalam belajar dan juga dan juga dalam kelompok , strategi yang cukup bisa diandalkan untuk meningkatkan prestasi akademik serta kemampuan dalam bersosialisasi sosial, hubungan interpersonal yang positif dengan orang lain serta harga diri dalam mengembangkan keterampilan dengan sikap positif yang bisa menghargai satu sama lain dan belajar berlapang dada menerima pendapat dari anggota kelompok dan orang lain yang nantinya dapat membandingkan pendapat dari orang lain. Dapat mengungkapkan ide ide atau gagasan dengan lisan secara gamblang, dari Cooperative Learning ini membuat peserta didik tidak bergantung pada guru dan terlebih mampu mengungkapkan pendapat ide saran dan bisa mendapatkan informasi dari media apa saja seperti buku atau teman dalam kelompok yang bertukar pikiran. Kelemahan dari Coperative Learning ini adalah pendidik dituntuk mempersiapkan secara matang dan lebih siap untu ditanyai oleh peserta didik yang bisa menguras tenaga, waktu dan pikiran. Dibutuhkan juga kesabaran dalam memantau setiap kelompok kelompok yang terbentuk karena dikhawatirkan kalau tidak ada pantauan dari pendidik materi yang dibahas akan melebar dan ujung ujungnya berbuah ngobrol tidak jelas atau ramai sendiri. Perlunya pantauan karena jangan sampai ada yang mendominasi dalam grub supaya tidak timbul ke pasif an dari anggota kelompok yang lain Permasalahan dalam mata pelajaran PKn adalah terlalu banyak materi serta cara guru yang menerangkan materi terkadang makin menambah kejenuhan dan kebosanan. Dengan metode ini sebenarnya siswa bisa belajar dengan aktif tapi tidak menutup kemungkikan kelemahan juga akan ada seperti yang bekerja dalam kelompok adalah itu itu saja. Dan bisa menjadi ajang gosip yang bisa menimbulkan gosip kedepannya. Cooperative Learning ini sendiri sebenarnya bisa mengatasi permasalahan dengan cara yaitu memilih ketua kelompok yang benar benar mengarahkan, mengayomi dan tetapi juga bisa membawa suasana sehingga nantinya kelompok bisa lebih kondusif dan pendidik hanya memantau siapa yang bekerja siapa yang kurang bekerja. Dan orientasi keberhasilan jangan semata mata ditekankan kepada nilai atau hasil tetapi lebih kepada proses itu. Dalam Cooperative Learning ini mempunyai banyak metode seperti: • Tipe Jigsaw yang pada intinya terdiri dari  4-6 anggota kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan materi dalam kelompok dan bisa mengajarkan ke anggota lain dalam satu kelompok. • Tipe Think Pair Share Yang memberikan respon pada suatu materi yang diberikan untuk berpikir dan merespon dan saling bantu satu sama lain. • Tipe STAD (state team achieve division) Merupakan tipe paling sederhana dengan tahapan presentasi dalam kelas, kerja kelompok, tes, penilaian progres dan penghargaan bagi yang memiliki progres yang bagus. • Tipe Group Investigation Yang memiliki tahapan seperti pengelompokan, perencanaan,penyelidikan, pengorganisasian, presentasi, dan evaluasi. • Tipe Match a Match Disini peserta didik mencari pasangan dan sambil belajar mengenai suatu konsep dengan suasana yang kondusif. Dan masih banyak lagi tipe tipe dalam metode belajar dan pembelajaran  dalam Cooperative Learning sehingga kita sebagi pendidik dituntut untuk mengetahui metode mana yang cocok diterapkan dalam kelas yang terdiri dari berbagai level tingkat prestasi akademik, suku, ras dan agama yang berbeda. Sehingga dengan Coperative Learning lebih memudahkan pendidik sekaligus mengajarkan dalam bersosial yang tidak mengukur keberhasilan dengan sebuah nilai melainkan  progres.   KESIMPULAN Jadi Cooperative learning merupakan salah satu strategi belajar dan pembelajaran yang menekankan pada sikap dalam bekerja sama atau membantu satu sama lain dalam struktur kerjasama yang teratur dalam suatu kelompok kecil, yang terdiri dari minimal dua orang atau lebih. Pembelajaran cooperative learning dibagi dalam beberapa langkah yaitu: menyampaikan tujuan  dari materi, menyajikan informasi, mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok-kelompok belajar, sebagai pendidik membimbing kelompok belajar,  melakukan evaluasi, dan memberikan penghargaan bagi peserta didik yang meningkat signifikan. Pembelajaran menggunakan metode ini  merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan cara membentuk kelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi atau berkomunikasi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran menggunakan metode ini, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam anggota kelompok belum paham akan materi yang diberikan. Sehinngga dalam PKn sangat membantu sekali menggunakan metode ini untuk membuatkan kelas lebih hidup untuk bertanya dan keaktifan peserta didik. Dan hasil dari metode ini pun bukan semata mata karena nilai tetapi karena adanya progres belajar tersebut dapat dikatan berhasi. Dalam metode cooperativae learning dalam mata pelajaran pkn ini peserta didik menjadi tidak tergantung pada guru, dapat menuangkan pikiran dan gagasan yang bisa untuk saling mau menerima pendapat orang lain, meningkatkan keaktifan anggota kelompok yang minimal menguasai atau bisa menerangkan dalam kelompok dan meningkatkan semangat belajar. Sehingga dalam belajar pkn lebih interaktif dan tidak akan merasa bosan. Tipe tipe dalam Cooperative Learning terdiri dari jigsaw, Think-Pair-Repair, STAD,Group Investigatin dan match a macth yang tentunya akan bisa diterapkan di berbagai macam tingkat pendidikan yang bisa dapat disesuaikan sesuai jenjang kehidupan. Tetapi bukan tidak mungkin terjadi permusuhan karena adanya percekcokan kecil karena perbedaan pendapat. Dan bisa berpotensi menyebabkan kegaduhan karena ada yang memdominasi sehingga yang agak pasif akhirnya ngobrol sendiri, bergosib dan menyebabkan keramaian. Jadi pendidik harus berperan sebagai fasilitator, mediator, motivator dan juga sebagai evaluator. Dengan begitu, cooperative learning ini dapat meningkatkan hasil belajar. Menerima terhadap perbedaan individu, dan mempunyai keterampilan dalam bersosialisasi di dalam lingkungan dengan baik.   SARAN Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam mata kuliah PKn diperlukan seorang ketua grup yang bisa mengayomi, mengajak dan membantu anggota dalam kelompok. Yang nantinya bisa bisa menghargai ide pikiran atau gagasan dari anggota yang lain. Keaktifan dari peserta didik akan sangat diperlukan tapi agak disayangkan apabila disalahgunakan untuk ngobrol bahkan gosip karena kurangnya kontrol atau pantauan dari pendidik. agar tujuan dari cooperative learning ini tercapai.   DAFTAR RUJUKAN. Slavin.2008. Cooperativ Learning. Bandung : NUSA MEDIA Crain Willian, 2006. Teori perkembangan konsep dan teori. Yogyakarta Ishack. 2005. Buku sumber tentang metode mertode baru (terjemahan tjetjep rohindi rohidi) beverly ca: sage publications. Sanjaya wina. 2008. Kurikulum dan pembelajaran. Bandung : Alphabeta Wikipedia.2017. pembelajaran cooperative. (online)(www.id.wikipedia.org/ wiki/Pembelajaran_kooperatif.html) diakses 28 april 2017 Zaini hisyam.2004. strategi pembelajaran aktif. Yogyakarta : CTS

    Upaya Restorasi Lahan Melalui Pembagian Bibit Tanam di Dusun Tambes Desa Lerpak Geger Bangkalan

    Get PDF
    Tambes Hamlet is known for its fertile soil and rich natural potential. This land supports the growth of various crops and provides opportunities for farmers. With a good climate and abundant resources, Tambes Hamlet can produce a lot of agricultural products, supporting food needs and the local economy. However, these resources have not been utilized to their full potential, with a lot of empty land and a lack of fruit commodities. Lack of agricultural management knowledge is the main reason for the difficulties faced by farmers. The author conducts land restoration to improve soil quality and farmer knowledge, and works with the government to provide education and distribute planting seeds. These efforts benefit both the environment and the community. In general, in implementing this program, the author divides it into three methods; preparation, implementation, and evaluation. Land restoration is an important process to repair damaged land. The goal is to return the land to a better condition so that it can be used for agriculture or other ecosystems. Restoration methods include reforestation, which is the replanting of trees. Soil conservation is also important to maintain fertile soil quality. Restoration benefits the environment and the community, increasing biodiversity and supporting plant and animal species. Tambes Hamlet faces soil productivity issues that affect agriculture. Soil restoration is needed so that the community can benefit from it

    KERJASAMA KEMITRAAN ANTARA PERHUTANI, LMDH DAN SWASTA DALAM MENGEMBANGKAN OBYEK WISATA MOJOSEMI FOREST PARK DI DESA SARANGAN KECAMATAN PLAOSAN KABUPATEN MAGETAN

    No full text
    Kerjasama Kemitraan antara Perhutani, LMDH, dan Swasta dalam mengembangkan obyek wisata Mojosemi Forest Park di Desa Sarangan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan, tujuan penelitian ini untuk mengetahui : (1) Latar belakang kerjasama antara Perhutani, LMDH, dan Swasta dalam mengembangkan obyek wisata Mojosemi Forest Park (2) Proses Kerjasama antara Perhutani, LMDH, dan Swasta dalam mengembangkan obyek wisata Mojosemi Forest Park (3) Isi kerjasama antara Perhutani, LMDH, dan Swasta dalam mengembangkan obyek wisata Mojosemi Forest Park (4) Pelaksanaan Kerjasama antara Perhutani, LMDH, dan Swasta dalam mengembangkan obyek wisata Mojosemi Forest Park. Hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan kemudian dijabarkan sebagai berikut. Pertama, Latar belakang kerjasama Kemitraan antara Perhutani, LMDH, dan Swasta dalam mengembangkan obyek wisata Mojosemi Forest Park dalam mengembangkan obyek wisata Mojosemi Forest Park adalah Pihak swasta yang melihat potensi wisata di Kabupaten Magetan banyak sekali tetapi vakum tidak ada pergerakan ataupun pengembangan wisata kemudian pihak swasta PT. Bumilawu Amarta Sentosa melihat di Hutan Mojosemi memiliki keunggulan yaitu mempunyai Landscape yang berbeda, Flora atau tumbuhan endemik yaitu pohon eucalyptus yang dilain tempat bahkan di pulau jawa sudah sangat jarang sekali ditemui, oleh karena itu PT. Bumilawu Amarta Sentosa tertarik untuk mengembangkan Obyek Wisata Alam di Hutan Mojosemi. Kedua, Proses kerjasama Kemitraan antara Perhutani, LMDH, dan Swasta dalam mengembangkan obyek wisata Mojosemi Forest Park dalam mengembangkan obyek wisata Mojosemi Forest Park adalah pihak swasta PT. Bumilawu Amarta Sentosa membuat setplan-setplan, rencana, konsep, dan anggaran yang kemudian diajukan ke Dirut Perhutani di Jakarta dengan hasil bahwa kerjasama cukup setingkat KPH di wilayah hutan Mojosemi tersebut dan tidak lupa menggandeng masyarakat sekitar, Kemudian pihak swasta mendatangi masyarakat sekitar yaitu LMDH Lawu Permai dan KPH Lawu Ds, dengan hasil disepakatilah untuk dilakukan kerjasama di Hutan Mojosemi. Ketiga, isi kerjasama Kemitraan antara Perhutani, LMDH, dan Swasta dalam mengembangkan obyek wisata Mojosemi Forest Park dalam mengembangkan obyek wisata Mojosemi Forest Park adalah bentuk kerjasama yaitu PKS Tripartit, Pembagian Tugasnya Pihak pertama Perhutani sebagai penyedia lahan, pihak kedua LMDH Lawu Permai sebagai penyedia sumber daya manusia (pekerja) dan pihak ketiga PT. Bumilawu Amarta Sentosa sebagai Pengelola Mojosemi Forest Park. Keempat, Pelaksanaan kerjasama Kemitraan antara Perhutani, LMDH, dan Swasta dalam mengembangkan obyek wisata Mojosemi Forest Park dalam mengembangkan obyek wisata Mojosemi Forest Park adalah sudah sesuai dengan isi surat perjanjian kerjasama adapun pelaksanaan-pelaksanaan yang tidak sesuai masih bias dibicarakan sesuai pasal 15 tentang aturan tambahan/addendum maupun melalui musyawarah. Berdasarkan Hasil Penelitian maka diperoleh saran sebagai berikut :Bagi Perhutani KPH Lawu Ds, LMDH Lawu Permai dan PT. Bumilawu Amarta Sentosa hendaknya melibatkan desa untuk pemberdayaan masyarakat desa dan sebagai media promosi yang di tampilkan di profil desa agar lebih dikenal lagi. Bagi Perhutani KPH Lawu Ds dan LMDH Lawu Permai hendaknya menjadikan penelitian ini sebagai bahan masukan untuk memperbaiki komunikasi antar pihak dalam pelaksanaan kerjasama di Mojosemi Forest Park. Bagi pengelola PT. Bumilawu Amarta Sentosa diharapkan adanya penelitian ini sebagai bahan evaluasi agar lebih baik lagi dalam pembenahan manajemen pengelolaan obyek wisata Mojosemi Forest Park yang dirasa masih kurang oleh pihak yang terlibat kerjasama. Bagi dosen dan mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang hendaknya menjadikan hasil penelitian ini sebagai salah satu bahan literatur untuk mata kuliah hokum perdat

    Model MODEL MODERASI BERAGAMA PADA BUKU TEKS

    No full text
    This study aims to find out and analyze the extent to which the religious moderation model was developed by the author of TK B textbooks. Researchers used library research with qualitative research as a type of research. Sources of data studied, namely; Kindergarten B textbooks totaled seven books. To examine the text and images contained in TK B textbooks, researchers used Content Analysis. Content Analysis is a scientific analysis of the contents of a communication message. Technically, the scope of content analysis substance includes; classification of signs used in communication, using criteria as a basis for classification, and using certain analytical techniques as predictors. The results showed that the religious moderation model in TK B textbooks was introduced through local wisdom and national commitment. Local wisdom is represented by; relics of the past, such as; temples, statues, chariot wheels, jugs, pinisi boats, swords, temple gates, temple banners, traditional houses, traditional dances, traditional clothes, and names based on local traditions. While the national commitment is represented by the red and white flag and its pole, flag ceremonial activities, and the Garuda bird in the palace. But on the other hand, accommodating music playing as a symbol of a unifying tool for the nation and prevention of national disintegration. traditional dances, traditional clothing, and local tradition-based names. While the national commitment is represented by the red and white flag and its pole, flag ceremonial activities, and the Garuda bird in the palace. But on the other hand, accommodating music playing as a symbol of a unifying tool for the nation and prevention of national disintegration. traditional dances, traditional clothing, and local tradition-based names. While the national commitment is represented by the red and white flag and its pole, flag ceremonial activities, and the Garuda bird in the palace. But on the other hand, accommodating music playing as a symbol of a unifying tool for the nation and prevention of national disintegration

    MADRASAH ERA DIGITAL,: ANALISIS WACANA KEBIJAKAN PENDIDIKAN MADRASAH ERA DIGITAL

    Get PDF
    This research uses literature study with various data obtained by the author. Both primary data related to policies and secondary data. The results show that digital era madrasas need attention from policy makers, in this case the Ministry of Religion. The Ministry of Religion has a big responsibility in rearranging Madrasa policies in the digital era. Among the discourses and issues of madrasa policy include: mapping the opportunities and challenges of madrasas, reorienting the vision and mission of teachers, competent teachers, facilities and infrastructure,Management of Educational Components with a systems approach, and dual skill programs. &nbsp

    The Contributions of the MawÄlÄ« to Hadith Scholarship

    No full text
    Islamic scholarship is built by various communities. As a religion that carries the spirit of liberation, Islam provides opportunities for anyone to self-actualize. MawÄlÄ« was an element of the early Muslim community that contributed positively to hadith scholarship. During the Umayyah Dynasty, the mawÄlÄ« became a second-class community, but it had a positive impact on the mawÄlÄ« to take another path to be considered the main community. This research uses a qualitative method with an analytical-descriptive approach. The author used a biographical dictionary of hadith narrators to find the research data. For the data found to be informative, the author uses a historical perspective to find out the traces of his scholarship. In addition, the author confirms the hadith books. Based on the elaboration, it can be concluded that the mawÄlÄ«, with its various types, contributed greatly to Islamic scholarship, especially in the field of hadith studies, from the time of the Companions to the later generations

    CERAI GUGAT (KHULU’) KARENA SUAMI HILANG (MAFQUD) PERSPEKTIF FIKIH HAMBALI (Analisis Putusan Pengadilan Agama Sorong Nomor 57/Pdt.G/2018/PA.Srog)

    No full text
    Abstract Mafqud, according to the Hambali madzhab, is someone who has disappeared from his place of residence and his whereabouts and news are unknown, whether he is alive or dead. Mafqud is one of the reasons for the permissibility of divorce (khulu') or faskh. The purpose of this study is to provide an understanding of the Hambali fiqh perspective on this issue and slightly analyze whether the court's decision is in accordance with the Hambali fiqh perspective. This research uses literature review. The method used is qualitative analysis. The results of this study are: In the case of mafqud who is dhamically safe, the wife must wait up to 90 years from the birth of the person. Meanwhile, if the mafqud who is not physically safe, then after the lapse of 4 years from the disappearance of the husband is considered dead. After that, the wife can have an iddah period of four months and ten days. The decision of the Sorong Religious Court Number 57/Pdt.G/2018/PA.Srog in this discussion according to the author is in accordance with the perspective of Hambali fiqh. Keywords: Divorce, Mafqud, Hambali Fiqh.   Abstrak Tujuan dari studi ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang perspektif fikih Hambali dalam masalah ini dan sedikit menganalisis apakah putusan pengadilan tersebut sudah sesuai dengan perspektif fikih Hambali. Mafqud, menurut madzhab Hambali adalah seseorang yang hilang dari tempat tinggalnya dan tidak diketahui keberadaan serta kabarnya apakah masih hidup atau sudah mati. Mafqud merupakan salah satu alasan diperbolehkannya cerai gugat (khulu’) ataupun faskh. Penelitian ini menggunakan kajian studi pustaka. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah: Apabila mafqud yang secara dzahirnya selamat, maka istri harus menunggu hingga 90 tahun sejak kelahiran orang tersebut. Sedangkan jika mafqud yang secara dzahirnya tidak selamat, maka setelah lewat 4 tahun dari hilangnya suami dianggap sudah mati. Setelah itu, istri bisa bermasa iddah selama empat bulan sepuluh hari. Adapun putusan Pengadilan Agama Sorong Nomor 57/Pdt.G/2018/PA.Srog dalam pembahasan ini menurut penulis sudah sesuai dengan perspektif fikih Hambali. Kata Kunci: Cerai Gugat, Mafqud, Fikih Hambali

    PENDEKATAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI SEBAGAI SOLUSI ALTERNATIF MODERASI BERAGAMA DI INDONESIA

    Get PDF
    This article discusses the role of sociological and anthropological approaches in solving the problem of religious moderation as a study of Islamic studies in Indonesia. The author explains how social, cultural, and religious factors influence religious views and practices in Indonesia and how sociological and anthropological approaches can help us understand and manage differences in religion and achieve harmony among religious communities. The sociological approach to the study of religious moderation can help us understand how social and cultural factors influence people's views of religion. In addition, this approach can also help us understand how religion is practiced in society and how social, economic, and political factors influence religious practice. An anthropological approach can help us understand how cultural values and traditions influence religious views and practices. By understanding the social, cultural, and religious factors that influence religious moderation, we can develop appropriate approaches and strategies to increase tolerance and harmony among religious communities in Indonesia. Therefore, sociological and anthropological approaches can make an important contribution to solving the problem of religious moderation in Indonesia
    corecore