1,720,986 research outputs found
Upaya Meningkatkan Sosial Emosional Melalui Kegiatan Bermain Kooperatif Pada Anak mKelompok B Di RA Rahmatullah Tanjung Morawa Pembimbing
Tujuan utama dilakukannya penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui
perkembangan sosial emosional anak kelompok B di RA Rahmatullah Tanjung Morawa
sebelum dilakukannya tindakan kelas, untuk mengetahui penerapan kegiatan bermaian
kooperatif pada anak kelompok B di RA Rahmatullah Tanjung Morawa ketika
dilakukannya tindakan kelas, dan untuk mengetahui pengaruh positif dari penerapan
kegiatan bermain kooperatif terhadap peningkatan sosial emosional pada anak kelompok
B di RA Rahmatullah Tanjung Morawa setelah dilakukannya tindakan kelas. Metode
penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK) dengan subjek
penelitian anak kelompok B di RA Rahmatullah Tanjung Morawa dengan jumlah 15
orang anak. Alat pengumpulan data berupa lembar observasi kegiatan guru dan kegiatan
anak, yang dilaksanakan dalam 2 siklus dengan tahapan pada tiap siklusnya adalah
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Dari hasil penelitian yang dilakukan
maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan sosial emosional anak kelompok B di RA
Rahmatullah Tanjung Morawa sebelum dilakukannya tindakan kelas masih belum
maksimal sebab pada sebagian besar anak masih sulit untuk siap membantu teman, anak
masih enggan bekerjasama terlebih dengan teman yang tidak dekat dengannya, serta
masih munculnya egosentris anak ketika guru melakukan kegiatan bermain dengan alat.
Penerapan kegiatan bermaian kooperatif pada anak kelompok B di RA Rahmatullah
Tanjung Morawa dilakukan sebanyak dua siklus dimana kegiatan bermain kooperatif
yang dilakukan ada dua bentuk yaitu permainan ular naga dan permainan boin-boinan
yang dimainkan secara berkelompok dan kompetisi. Penerapan kegiatan bermain
kooperatif berpengaruh positif terhadap peningkatan sosial emosional pada anak
kelompok B di RA Rahmatullah Tanjung Morawa. Hal tersebut dibuktikan dengan
keberhasilan tindakan yang mengalami peningkatan sejak prasiklus hingga siklus II
dimana pada tahap prasiklus atau sebelum dilakukan kegiatan bermain kooperatif, sosial
emosional anak hanya mencapai 24,44 %. Kemudian terjadi peningkatan pada siklus I
menjadi 55,56 % namun masih belum maksimal karena belum mencapai indikator
keberhasilan sebesar 80 %, dan puncaknya terjadi peningkatan pada siklus II sebesar
86,67 % dengan kriteria baik sekali serta telah mencapai indikator keberhasilan yang
diinginkan
Hubungan Kecemasan Sosial dan Kematangan Emosi dengan Kematangan Seksual Remaja SMP di Kabupaten Bantul Yogyakarta
This research aims to find out some factors related to the sexual maturity, such as the social anxiety and emotional maturity on the adolescents of the SMP in Kabupaten Bantul, Yogyakarta. The hypotheses which are presented in this research are: First; there is a relation between the social anxiety and emotional maturity towards the sexual maturity; Second, there is a negative relation between the social anxiety and sexual maturity; Third, there is a positive relation between the emotional maturity and sexual maturity.The research participants were 70 male and female adolescents in SMP N 2 Banguntapan, Kabupaten Bantul. The data gathering was carried out in two phases, First, by applying the sampling area technique in order to determine the research location and Second, by applying the cluster random sampling technique to determine the research sample subject. Meanwhile, the research instrument which was employed was the scale of social anxiety, emotional maturity and sexual adolescents maturity. The double-regression technique was applied to analyze the data in this research.The result of this research showed that: First, there was a relation between social anxiety and emotional maturity towards the sexual maturity in adolescentsof the SMP in Kabupaten Bantul, Yogyakarta (R=0,667, R2=0,445, F-regression= 26,911 and the significant level for about p< 0,01). Second, there was a negative relation between the social anxiety and sexual maturity in adolescentof the SMP in Kabupaten Bantul, Yogyakarta (R partial=0,632, p=0,01). Third, there was a positive relation between the emotional maturity and sexual maturity in adolescebtsof the SMP in Kabupaten Bantul, Yogyakarta (R partial=0,358, level p<0,01).Key words: Sexual Maturity, Social Anxiety, Emotional Maturity
ANALISIS TERHADAP PANDANGAN HAKIM TENTANG CERAI GUGAT DAN KHULU’ (Studi di Pengadilan Agama Metro Kelas A)
ABSTRAK
Cerai gugat adalah putusnya perkawinan atas dasar
permintaan dari pihak isti, sedangkan Khulu' adalah perceraian .yang
terjadi atas permintaan istri dengan memberikan tebusan atau 'iwadh
kepada suami untuk dirinya dan perceraian disetujui oleh suami.
Angka perceraian di Provinsi Lampung didominasi atas permintaan
istri, atau biasa disebut khulu‟ akan tetapi di Pengadilan Agama
penyelesaian khulu‟ banyak yang tidak menggunakan istilah tersebut,
melainkan menggunakan istilah dan penyelesaian cerai gugat.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pandangan
hakim tentang cerai gugat dan khulu‟ di Pengadilan Agama Metro
kelas A?, dan apa alasan dan dasar hukum hakim terhadap perkara
cerai gugat dan khulu‟ di Pengadilan Agama Metro kelas
A?.Adapun tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana pandangan
hakim tentang cerai gugat dan khulu‟, serta untuk mengetahui alasan
dan dasar hukum hakim terhadap putusan cerai gugat dan khulu‟ di
Pengadilan Agama Metro Kelas A. Penelitian ini merupakan
penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang dilakukan
secara sistematis sesuai dengan data yang diperoleh dari lapangan, dan
penelitian ini menggunakan metode kualitatif.Metode pengumpulan
data dalam penelitian ini adalah wawancara dan dokumentasi.Metode
analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan dengan
metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini dapat
dikemukakan bahwa Cerai gugat biasanya didasari dengan
perselisihan atau percekcokan serta adanya pelanggaran kewajiban�kewajiban oleh suami terhadap istri. Maka dari itu, Majelis Hakim
memutuskan cerai gugat tidak membayar iwadh melainkan
memberikan putusan talak satu bain sughra. Bain sughra sendiri
berarti tidak dapat rujuk kembali, tetapi dapat menikah kembali
dengan mantan suami setelah nikah baru. Sedangkan khulu‟ terjadi
tanpa adanya perselisihan melainkan akibat adanya pelanggaran taklik
talak atau perjanjian yang diucapkan calon mempelai pria setelah akad
nikah yang dicantumkan dalam akta nikah. Apabila adanya
pelanggaran tersebut, istri dapat menebus diri di pengadilan agama.
Dalam perkara ini Majelis Hakim akan memberikan putusan talak satu
khul‟i yang artinya sama dengan putusan cerai gugat (bain sugrha)
namun harus disertai dengan membayar „iwadh (tebusan)
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
HUBUNGAN ANTARA KETEBALAN ENAMEL PROKSIMAL DENGAN LEBAR GIGI PADA USIA 7-12 TAHUN (PENGAMATAN RADIOGRAFIK)
Dari hasil penelitian tentang hubungan antara lebar gigi dengan ketebalan enamel di klinik Roentgenologi mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lebar gigi dengan ketebalan enamel. Adanya perbedaan antara lebar gigi dan ketebalan enamel pada tiap kelompok umur kemungkinan disebabkan oleh sampel yang berbeda sehingga lebar giginya bervariasi
EVALUASI EFEKTIVITAS PELAYANAN KESEHATAN LINGKUNGAN DI PUSKESMAS PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI KABUPATEN BANYUWANGI
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular kronis dan 10 besar
penyebab kematian di Indonesia. Kabupaten Banyuwangi termasuk 3 besar kasus
TB di Jawa Timur dan meningkat 6,84% dari tahun 2016-2017. Pelayanan
kesehatan lingkungan di Puskesmas pada pasien TB paru merupakan upaya
promotif dan preventif melalui konseling, inspeksi dan intervensi kesehatan
lingkungan dalam penanggulangan Tuberkulosis.
Tujuan: mengevaluasi efektivitas pelayanan kesehatan lingkungan pada
pasien TB paru di Puskesmas Klatak, Mojopanggung, Sobo, Kabat, Gitik dan
Songgon di Kabupaten Banyuwangi. Metode penelitian adalah observasional
deskriptif, desain cross-ssectional. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai
Juni 2019.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa input berupa kebijakan, sumber daya
manusia, sarana prasarana dan pedoman pada 5 Puskesmas termasuk kategori
“baik”. Input Puskesmas Songgon termasuk kategori kurang, karena kurangya
kualifikasi pelaksana, sanitarian kit dan dana. Proses konseling, inspeksi dan
intervensi kesehatan lingkungan termasuk kategori baik. Output konseling,
inspeksi dan intervensi kesehatan lingkungan termasuk kategori kurang karena
kurangya komitmen pelaksana, koordinasi lintas program, dan beban kegiatan luar
gedung kesehatan lingkungan. Efektivitas dan aggegrat efektivitas program
pelayanan kesehatan lingkungan di Puskesmas Klatak 77% dan 30,8%. Puskesmas
Mojopanggung, Puskesmas Sobo dan Puskesmas Kabat masing-masing 78,8%
dan 31,5%. Puskesmas Gitik 64,2% dan 25,7%. Puskesmas Songgon 49,5% dan
19,8%. Pengetahuan responden meningkat 29,5 poin dan perilaku hidup sehat
meningkat 42,16%.
Kesimpulan: program pelayanan kesehatan lingkungan di Puskesmas Klatak,
Mojopanggung, Sobo, Kabat dan Gitik pada pasien TB paru di Kabupaten
Banyuwangi efektif dalam penanggulangan TB, sedangkan di Puskesmas
Songgon tidak efektif. Kebijakan, sumber daya manusia, sarana prasarana,
perencanaan, komitmen pelaksana dan koordinasi lintas program mempengaruhi
efektivitas program pelayanan kesehatan lingkungan di Puskesmas pada pasien
TB paru
Peningkatan Kreativitas Gerak tari Melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe Student Teams Acheivement Division (STAD) pada kelas VII-6 di SMP Negeri 1 Tanjunganom.
ABSTRAK Lestari, Endang Sri.2016. Peningkatan Kreativitas Gerak tari Melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe Student Teams Acheivement Division (STAD) pada kelas VII-6 di SMP Negeri 1 Tanjunganom. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni, Tari dan Musik, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dra. NINIK HARINI, M.Sn Kata Kunci:Peningkatan Kreativitas Gerak Tari, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Acheivement Division (STAD) Berdasarkan hasil observasi pada pembelajran seni Budaya sub bidang seni tari kelas VII-6 SMP Negeri 1 Tanjunganom, diketahui bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran seni tari berada di bawah KKM. Siswa terlihat kurang antusias, kurang aktif dan kurang bersungguh-sungguh dalam pembelajaran seni budaya sub bidang seni tari, karena guru hanya menerapkan metode ceramah, dan demontrasi. Dari 32 siswa,hanya 8 siswadenganprosentase 25% yang hasilbelajarnyadiatas KKM, sedangkan sebanyak 24 siswa dengan prosentase 75% siswa masih belum mencapai KKM (75). Tujuan penelitian untuk meningkatkan hasil belajar kreativitas gerak tari pada siswa kelas VII-6 SMP Negeri 1 Tanjunganom melalui penerapan metode pembelajaran Kooperatif tipe Student Teams Acheivement Division (STAD). Penelitian ini adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dengan menggunakan pendekatan kualitatif diskriptif, subjek penelitian berjumlah 32 siswa. Pelaksanannya dilakukan dalam 2 siklus yaitu Siklus I dan Siklus II . prosedur penelitian meliputi 4 tahap yaitu 1) Perencanaan 2) Pelaksanaan tindakan 3) Pengamatan 4) Refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan tes unjuk kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I nilai keaktivan siswa yang berada di atas KKM (75) pada pertemuan ke satu sejumlah 19 siswa dengan prosentase 59,38%, pertemuan kedua sejumlah 21 siswa dengan prosentase 65,63%, sedangkan nilai unjuk kerja sejumlah 25 siswa dengan prosentase 78,13%. Oleh karena itu dilakukan siklus II. Pada siklus II nilai keaktifan siswa pada pertemuan ke satu sejumlah 24 siswa dengan prosentase 75%, pertemuan kedua sejumlah 26 siswa dengan prosentase 81,25%. Sedangkan nilai unjuk kerja secara individu sejumlah 27 siswa dengan prosentase 84,38%. Sedangkan secara kelompok sejumlah 5 kelompok dengan prosentase 83,33%. Berdasarkan hasil penelitian, dapatdisimpulkanbahwa model pembelajarankooperatiftipe Student Teams Acheivement Division (STAD) dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitas siswa padapembelajaran SeniBudaya sub prakteksenitari. Disarankan guru dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Acheivement Division (STAD) sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan pada setiap pembelajaran seni budaya sub bidang seni tari di kelas VII.
PELAKSANAAN EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 12 PEKANBARU
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pelaksanaan evaluasi
program bimbingan dan konseling. (2) faktor pendukung dan menghambat
pelaksanaan evaluasi program bimbingan dan konseling di SMA Negeri 12
Pekanbaru. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini
adalah guru bimbingan konseling di SMA Negeri 12 Pekanbaru. Sedangkan yang
menjadi objek penelitian ini adalah Pelaksanaan Evaluasi Program Bimbingan dan
Konseling. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian adalah Guru BK
yang berjumlah 6 orang. Karena jumlah informan hanya 6 maka seluruh Guru BK
dijadikan sumber informasi.Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan
dalam penelitian ini adalah menggunakan wawancara dan dokumentasi. Data
wawancara dianalisa dengan tekhnik deskriptif kualitatif yaitu tekhnik
menggambarkan fenomena yang diperoleh dengan apa adanya, kemudian
diklasifikasikan dan digambarkan dengan kalimat. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa guru bimbingan konseling sudah melaksanakan evaluasi
program bimbingan dan konseling. Faktor yang mendukung pelaksanaan evaluasi
program bimbingan dan konseling adalah latar belakang pendidikan guru dan
Pihak-pihak yang terlibat seperi kepala sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran,
wali murid, dan bagian kesiswaan yang mendukung kegiatan BK. Sedangkan
faktor yang menghambat pelaksanaan evaluasi program bimbingan dan konseling
adalah sarana dan prasarana yang ada di sekolah belum memadai dan waktu yang
disediakan masih belum mencukupi.
Kata kunci: Evaluasi, program bimbingan dan konselin
- …
