77 research outputs found
KAJIAN KRITIS TERHADAP ROMAN LARASATI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
ABSTRACT This study examines the Larasati romance by Pramoedya Ananta Toer based on critical studies or Critical Discourse Analysis (AWK). The objectives of the study are to describe (a) macro structure (theme), (b) author’s cognition in creating romance, (c) ideology contained in the Larasati romance by Pramoedya Ananta Toer, and (d) plans for its implementation in Indonesian Language learning in High School. The form of this research is qualitative research with descriptive method. The data used in this research are the quotations of sentences and paragraphs taken from romance. The source of data is Larasati romance by Pramoedya Ananta Toer, the 5th print in 2010. The technique for data obtaining is documentary study and the tool is a note card. Techniques to test the data validity is triangulation and discussion with colleagues. Data analysis is done by analyzing the contents of the text. Based on data analysis, it can be concluded that: (1) Macro structure (theme) is revolution after independence; (2) Author cognition reflected in the Larasati novel by Pramoedya Ananta Toer are: a) artist, b) imprisoned, and c) the names of several characters in a romance such as (a) Chaidir who is meant as Chairil Anwar, (b) Prime Minister who is meant as Soetan Sjahrir or Amir Sjarifuddin Harahap (c) Jassir who is meant as HB Jassin. (3) Political ideology found in the novel Larasati by Pramoedya Ananta Toer are a) racist ideology and b) class conflict ideology. There are three things that present the existence of racist ideology, that are: a) Japan as an invader and Indonesia as colonized; (b) The Dutch as invaders and Indonesia as colonized; and (c) Nica versus Republikein. (4) Considering the curriculum, the purpose of literary learning, how to choose materials, and aspects of readability, the Larasati romance by Pramoedya Ananta Toer can be implemented in Indonesian Language learning in high school especially in XII grade. Recommendation: Larasati romance can be used as material for Indonesian Language learning in high school. Keywords: Critical Analysis, romance, macro structure, author cognition, political ideolog
Manajemen Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Bantar Gebang dengan Konsep Collaborative Governance
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerjasama yang dilakukan antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Pemerintah Kota Bekasi dalam mengelola sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang serta menganalisis implementasi pelestarian lingkungan dan pencegahan bencana dengan menggunakan konsep collaborative governance yang berpedoman pada Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara kedua belah pihak. Penulis menggunakan metode kualitatif studi literatur dan memperoleh data berdasarkan penelitian terdahulu. Edward III merupakan teori yang dipilih oleh penulis, berdasarkan teori kebijakan Edward III penulis mendapatkan hasil kerjasama antar daerah yang tertuang dalam Perjanjian Perubahan (addendum) perjanjian kerjasama antara Pemprov DKI Jakarta dengan Pemkot Bekasi No. 25 Tahun 2016 dan No.444 Tahun 2016. Tujuan dilakukannya kerjasama ini adalah untuk meningkatkan fungsi TPST Bantar Gebang Kota Bekasi sebagai tempat pemrprosesan akhir yang akan dilakukan dengan penerapan teknologi pengolahan sampah modern serta ramah lingkungan. Namun, kerjasama antar daerah ini belum melibatkan pihak swasta, padahal pihak swasta mempunyai peran sangat penting dalam pelestarian lingkungan dan pencegahan bencana alam yang disebabkan oleh sampah. Penulis merekomendasikan pemerintah perlu melakukan kerjasama dengan pihak swasta dalam pengelolaan sampah yang ada di TPST Bantar Gebang serta menjaga hubungan yang baik antara kedua belah pihak, sehingga koordinasi yang dilakukan berjalan dengan mudah.AbstractThe purpose of this research is to know the collaboration between carried out between the DKI Jakarta Provincial Government and The Bekasi Government in managing garbage in Bantargebang (TPST) and also to analyse the implementation of environmental preservation and disaster prevention using the concept of Collaborative governance carried out by the DKI Jakarta Provincial Government and Bekasi  Government written in the Coorperation Agreement (PKS) between them. The metode author use qualitative method of literature study, the author obtain data based on previous research. The autors choose Edward III Theory. Based on the implementation policy of Edward III autors getting a result interzonal collaboration in the treaty of change (addendum) treaty collaboration between the DKI Jakarta Provincial Government and The Bekasi Government number 25 of 2016 and Number 44 of 2014. The purpose of this collaboration to increase function Bantar Gebang TPST Bekasi City as a place final processing that will do with the application of modern garbage processing is eco-friendly technology. But, this interzonal collaboration hasn’t involve the private yet, while the private has a very important to environmental preservation and disaster prevention caused by garbage. The autors have a recommendation to the government, the government needs to do collaboration with private to garbage management in Bantar Gebang TPST and maintain good relationships between them, in which coordination done with ease.Key Words           : Collaboration, Management, Local Government, Local Government in province, TPST.      This is an open access article under the CC–BY-SA license. Â
KURAKURANGNYA KESADARAN GENERASI MUDA DALAM BELA NEGARA UNTUK MENINGKATKAN WAWASAN KEBANGSAANNGNYA KESADARAN GENERASI MUDA DALAM BELA NEGARA UNTUK MENINGKATKAN WAWASAN KEBANGSAAN
KURANGNYA KESADARAN GENERASI MUDA DALAM BELA NEGARA UNTUK MENINGKATKAN WAWASAN KEBANGSAANEen Larasati Universitas Negeri Malang Jalan Semarang Nomor 5Email : [email protected] negara merupakan sebuah semangat berani berkorban demi tanah air, dan demi keutuhan suatu negara. Bela negara adalah wujud kepedulian terhadap negara.Masa depan suatu negara sangatlah ditentukan oleh para pemuda suatu negara,baik yang masih berstatus pelajar,mahasiswa ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya. Pemuda merupakan suatu faktor penting yang sangat di andalkan dalam mewujudkan cita-cita bangsa.Penurunan kesadaran akan pentingnya bela negara hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya persoalan yang terjadi saat ini, banyaknya pemuda yang lebih bangga dengan kebudayaan negara lain.Kata kunci : Bela negara, pemuda,kurangnya kesadaran Bela negara merupakan sebuah semangat berani berkorban demi tanah air, baik harga bahkan nyawa sekalipun berani di korbankan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bela negara adalah tekad,sikap dan tindakan warga negara yang teratur,menyeluruh,terpadu dan berkelanjutan yang di landasi oleh kecintaan terhadap tanah air serta kesadaran hidup berbangsa dan bernegara ( Zubaidi,2007:17). Di Indonesia pada saat itu partai nasional terpecah, lembaga pendidikan nasional Indonesia yang dipimpin oleh Hatta dan Syahrir bertentangan dengan hawan politik dengan partai Indonesia (parindo) yang dipimpin Sukarno, teman seperjuangan tempo hari. Walaupun dalam masa yang demikian penting, Hatta dapat meninggalkan tanah airnya atas pengertian teman seperjuangan lainnya untuk mengunjungi Jepang. Hal ini telah menunjukkan bahwa eksistensi Jepang tidak dapat diabaikan oleh para nasionalis pada saat itu (Surajaya, 1998:426). Bentuk usaha pembelaan negara di dalam Undang-Undang nomer 3 tahun 2002 tentang pertahanan negara pasal 9 ayat 1 adalah tentang pertahanan negara upaya bela negara merupakan sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Dari penjelasan dan menurut para ahli didalam negara harus memiliki kesadaran atas pentingnya bela negara setiap manusia harus memiliki kesadaran dan negara ataupun pemerintah mempunyai peran untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara seperti yang termuat dalam Undang-undang. Para pemuda indonesia mempunyai kewajiban untuk memajukan negara indonesia dengan menunjukkan semangat dan sikap bela negara yang tidak hanya dilakukan melalui peperangan yang dapat menghasilkan kemerdekaan saja, akan tetapi dapat ditunjukkan dengan menampilkan perilaku-perilaku yang sesuai dengan ideologis bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan Indonesia.Meningkatkan kesadaran bela negara di Indonesia tentu ada penyebab kurangnya kesadaran para pemuda dalam bela negara yaitu : (1) tidak ada mata pelajaran bela negara disekolah,(2) tidak ada wajib militer di Indonesia. Menurut Timbul, kementriannya sudah merumuskan mata pelajaran itu dan akan memberikan berkas-berkasnya pada lembaga terkait di hari bela negara pada 19 Desember. Timbul akan memberikan peran moral untuk mengisi kemerdekaan pada peserta didik di Indonesia, bentuk pelajarannya akan disesuaikan dengan perubahan zaman agar peserta didik tidak jenuh dalam belajar.Kurangnya kesadaran para pemuda terhadap bela negara memberikan dampak terhadap negara Indonesia. Dampak tersebut meliputi negara Indonesia akan mudah dihancurkan oleh negara lain, jiwa nasionalisme generasi muda akan luntur, jika da masalah dalam negara Indonesia generasi muda tidak bisa mengatasi masalah tersebut, dan lunturnya pancasila sebagai pedoman hidup bernegara.Kesadaran para generasi muda perlu ditingkatkan agar negara Indonesia dapat mengatasi berbagai persoalan yang akan datang menimpa negara Indonesia. Para generasi muda juga harus mencintai kebudayaan serta produk dalam negeri agar jiwa nasionalisme para generasi muda tetap kuat. Generasi bangsa Indonesia tidak mudah terpengaruh oleh kebudayaan luar dan lebih mencintai kebudayaab negara Indonesia serta memperkuat jiwa nasionalisme. Generasi Indonesia harus mempunyai sikap yang berpedoman pada pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan memahami makna dan setiap sila agar generasi muda penerus bangsa Indonesia mampu menjunjung tinggi dasar negara sebagai cara untuk berpedoman hidup bernegara dan berbangsa.Berdasarkan latar belakang pembahasan, terdapat beberapa solusi alternatif yang dapat ditetapkan untuk meningkatkan kesadaran generasi muda di Indonesia agar dapat mewujudkan cita-cita negara Indonesia melalui bela negara, beberapa solusi tersebut meliputi :(1) menambahkan mata pelajaran bela negara di sekolah-sekolah secara menyeluruh, (2) memberikan wawasan kebangsaan dari usia dini, (3) diadakannya wajib militer bagi remaja yang berusia 18-28 tahun.Upaya menambahkan mata pelajaran bela negara disekolah bertujuan agar peserta didik mengenal dan mengetahui pentingnya bela negara untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Memberikan wawasan kebangasaan mulai dari usia dini adalah langkah terbaik untuk memulai mengenal bela negara kepada penerus bangsa, setelah semua dikenalkan kepada pemuda maka bisa diadakan wajib militer bagi remaja agar mampu menyelesaikan problema yang ada pada bangsa sehingga generasi penerus bangsa mampu mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dan juga mampu mempertahankan kedaulatan bangsa. Oleh karena itu, dalam masalah ini dibahas mengenai kurangnya kesadaran generasi muda dalam bela negara sebagai satu paket solusi untuk mengatasi masalah kesadaran generasi muda. BAHASANPada bagian ini dijelaskan secara spesifik mengenai (1) konsep dasar, (2) langkah realisasi ,serta (3) kelebihan dan kelemahan diadakan wajib militer usia 18-27 tahun.A.Konsep Dasar Wajib Militer Wajib militer adalah kewajiban bagi seorang warga negara berusia muda terutama pria,biasanya antara 18-27 tahun untuk menyandang senjata dan menjadi anggota tentara dan mengikuti pendidikan militer guna meningkatkan ketangguhan dan kedispinan (Salim 2006:13-15). Wajib militer merupakan salah satu sikap bela negara,sikap yang bertujuan membentuk sikap pemuda Indonesia agar mampu mengatasi bahaya dan ancaman dari negara lain. Setiap negara pasti mempunyai aturan tentang wajib militer bagi pemuda bangsanya, di Indonesia para pemuda yang ingin menjadi ABRI adalah pemuda yang dapat bertanggung jawab dan mengemban tugasnya dengan baik.Salah satu ciri utama wajib militer dan pemuda bangsa yang ingin masuk wajib militer adalah pemuda berusia 18-27 tahun merupakan ciri wajib yang harus dipenuhi oleh pemuda yang ingin menjadi wajib militer. Pembatasan usia dilakukan berdasarkan aturan dan pemerintah yang meminta supaya pemuda yang berusia 18 sampai 27 tahun dapat mengikuti wajib militer dan berpartisipasi aktif dalam pembelan negara. Wajib militer yang dilakukan pemuda berusia sesuai dengan ciri-ciri wajib militer dapat membuat kekuatan pertahanan negara semakin kuat karena, pemuda yang berusia 18-27 tahun masih mempunyai kekuatan fisik yang kuat sehingga pemuda dapat membuat sistem pertahanan yang baik untuk negara.Ciri yang kedua adalah pemuda yang sehat fisik,jiwa,dan batin merupakan hal yang paling bpenting dan faktor utama bagi pemuda wajib militer selain berpacu pada usia, kesehatan fisik,jiwa,serta batin adalah faktor yang haru dipenuhi. Pemuda yang masuk kriteria wajib militer adalah benar-benar pemuda yang kesehatan jiwa sehat dan tidak mengalami gangguan jiwa dan penyakit yang serius. Kesehatan perlu dibutuhkan untuk meningkatkan ketangguhan serta kedisplinan pemuda wajib militer.Menurut Shavira, baru-baru ini muncul wacana tentang wamil (wajib militer) atau yang disebut program bela negara dalam rancangan undang-undang atau RUU komponen cadangan yang dicetuskan oleh kementrian pertahanan dan disetujui oleh presiden. Wajib militer adalah kewajiban bagi seorang warga negara yang berusia antara 18-27 tahun untuk menyandang senjata, menjadi anggota tentara, dan mengikuti pendidikan militer yang berguna untuk meningkatkan ketangguhan dan kedisplinan warga negara. Wajib militer berguna untuk meningkatkan kedisiplinan, ketangguhan pemuda, dan keberanian pemuda dan biasanya diadakan wajib militer untuk warga negara laki-laki. Dan penjelasan ciri-ciri suatu negara bisa mempersiapkan pemuda negara untuk wajib militer sesuai dengan ciri-ciri yang ada sebelum mengikuti pelatihan. Pemuda juga harus bisa menjadi pemuda negara yang bertanggung jawab saat menjadi wamil, pemuda yang mempunyai ketangguhan dan memiliki jiwa displin yang baik sehingga bisa menjadi wamil yang menguntungkan serta memajukan wamil negara karena, sikap dan hal-hal positif yang diberikannya untuk negara.Bentuk wamil di Indonesia meliputi kegiatan sejumlah anggota kopasus TNI AD bersiap mengikuti latihan gabungan Gultor Tri Martra IX TA.2014 DI Halim Perdana Kusuma, latihan penanggulangan teror untuk memlihara kedaulatan NKRI (Fithiansyah 2015). Bentuk wamil yang ada di Indonesia seperti kegiatan latihan yang sudah dilaakukan membuat pemuda Indonesia semakin tangguh menghadapi konflik di dunia luar, kasus baru tentang penyandraan WNI dapat dijadikan contoh karena dengan adanya wamil di Indonesia, negara dapat menyelamatkan dan membebaskan serta menyelesaikan masalah dengan baik dan sukses.B.Langkah-Langkah Wajib Militer Pemuda Bangsa Pemuda bangsa berutama laki-laki dapat berpartisipasi mengikuti wajib militer yang dapat membentuk kepribadian yang baik. Banyak pemuda yang ragu dengan wajib militer dan kurang mengetahui pentingnya wajib militer bagi negara. Langkah-langkah dalam wajib militer pemuda bangsa dijelaskan secara rinci sebagai berikut.1.Langkah bekerja sama dengan pemerintah untuk membuat peraturan tentang wajib militer Pemuda negara banyak yang kurang mengetahui pentingnya wajib militer, hal ini perlu disosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya wajib militer untuk sistem pertahanan negara, pemuda negara yang berusia 18-27 tahun mampu menempatkan diri pada posisi pemuda yang berani bertanggung jawab. Pemeri ntah dapat membuat peraturan tentang wajib militer untuk pemuda negara dengan cara mewajibkan pemuda negara terutama laki-laki untuk mengikuti wajib militer dengan ketetuan pembatasan umur dari 18-27 tahun karena, diusia produktif banyak pemuda yang masih aktif dan sehat raga dan jiwanya. Peraturan yang dibuat pemerintah dapat berguna untuk menyadarkan pemuda negara tentang pentingnya wajib militer serta dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab yang tinggi,kewajiban pemuda negara yang disiplin serta keberanian dalam mengikuti wamil di negara.2.Langkah pelatihan wajib militer Pelatihan wajib militer dapat dilakukan dengan cara melihat pemuda yang disiplin dalam setiap pemberian latihan dalam kegiatan wajib militer. Pelatihan wajib militer bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa serta untuk membentuk kepribadian dan kedisplinan pemuda yang saat ini sangat kurang kepeduliannya terhadap negaranya. Kepribadian dan kedisplinan pemuda dapat dinilai saat pelatihan wajib militer,pembimbing pelatihan akan mengetahui pemuda yang benar-benar membuktikan rasa cinta tanah air dengan wajib militer serta dapat membedakan pemuda pemalas yang kurang mengetahui program wajib militer. Diharapkan dengan adanya pelatihan wajib militer yang pada dasarnya akan membentuk kepribadian yang baik akan merubah pola pikir pemuda untuk lebih sadar dan mampu melaksanakan kewajiban sebagai generasi penerus bangsa.3.Langkah mensosialisasikan cinta tanah air kepada masyarakat Mensosialisasikan wujud dari sebuah rasa nasionalisme kepada masyarakat khususnya kepada pemuda yang dapat mewujudkannya melalui sebuah bela negara. Dengan adanya sosialisasi ini bertujuan agar pemuda lebih mengetahui pentingnya sebuah bela negara untuk kemajuan negara.4.Langkah partisipasi dalam pengamanan lingkungan Partisipasi pengamanan lingkungan merupakan tugas pertama sebagai pemuda wamil karena, pengamanan lingkungan dapat menjadi penilaian cara pengamanan yang baik dan perlindungan saat mengemban tugas. Partisipasi pengamanan lingkungan bertujuan untuk melatih pemuda wamil dalam upaya melindungi masyarakat sekitar. Cara ini juga bertujuan untuk melihat pemuda serta pengabdiannya terhadap negara yang ditunjukkan dengan cara partisipasi pengamanan lingkungan.5.Langkah paartisipasi untuk korban bencana alam Kegiatan melakukan bantuan untuk korban bencan alam adalah suatu kepedulian serta tuga sebagai seorang wamil untuk membantu sesamaa dan melaksanakan tugas dengan baik. Bantuan untuk korban bencana alam bukan hanya sandang pangan melainkan juga bantuan berupa pertolongan seperti pencarian korban yang hilang, korban yang masih terjebak dengan bencana. Sebagai pemuda wajib militer saat ada bencana alam yang menyebabkan banyak korban disuatu daerah,pemuda wamil harus mampu menyelesaikan masalah dan membantu korban dan segera mengevakuai korban yang telah meninggal. Wujud kepedulian wamil akan di tunjukkan dengan bantuan yang di lakukan saat ada bencana alam hal tersebut dapat membentuk kepribadian yang baik. 6.Langkah pemantauan progres pemuda terhadap jiwa nasionalisme Generasi muda bangsa terletak pada pemuda bangsa, pemuda bangsa saat ini mengalami sebuah penurunan kesadaran akan pentingnya bela negara. Penurunan kesadaran di picu dari lemahnya jiwa nasionalisme pemuda bangsa yang pada saat ini acuh terhadap keselamatan bangsa. Cara peningkatan kesadaran pemuda dapat dilakukan dengan cara sosialisasi kepada masyarakat luas tentang arti bela negara kepada pemuda bangsa agar dapat menumbuhkan kemauan serta keikutsertaan pemuda bangsa dalam berpartisipasi mengenai bela negara. Generasi muda bangsa akan sadar dan faham tanpa pemuda sebuah negara tidak berarti apa-apa.Menurut Timbul, program bela negara di bagi menjadi dua yakni teori dan praktek lapangan, porsinya akan lebih banyak berupa teori (70%-80%) dan pada praktek lapangan (20%-30%). Materi teori akan diisi dengan pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, sementara materi praktek lapangan adalah kegiatan ruang terbuka seperti outbot. Selain itu, infrastruktur dan tenaga pengajar dari tenaga pengajar dari pelatihan bela negara ini juga tidak melibatkan TNI tetapi justru didominasi oleh kalangan warga sipil profesional (80%). Sementara itu keterlibatan TNI sebagai instruktur (20%), hanya dilakukan jika materi yang di bawakan adalah wawasan pertahanan.Dasar hukum program bela negara ini adalah UUD 1945 pasal 27 dan UU pertahanan No 3 tahun 2002.yaitu : (1) setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara , yang diwujudkan dalam penyelanggaraan pertahanan negara, (2) keikutsertaan warga negara dalam upaya bela negara,sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan melalui : a. Pendidikan kewarganegaraan; b. Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib; c. Pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara sukarela atau secara wajib; dan d. Pengabdian sesuai dengan profesi. (3) ketentuan mengenai pendidikan kewarganegaraan, pelatihan dasar kemiliteran secara wajib,dan pengabdian sesuai dengan profesi diatur dengan undang-undang.Berdasarkan langkah-langkah yang sudah di jelaskan, pemuda bangsa dapat memahami dan mengetahui prosedur menjadi pemuda wajib militer adanya langkah dan tahapan tersebut bertujuan untuk membantu pemuda menjadi pemuda wajib militer yang mempunyai kepribadian yang baik displin dan cinta tanah air, pemuda wajib militer adalah generasi bangsa yang dapat menyelamatkan bangsa dan mempersiapkan negaranya dalam menyelesaikan problematika.C.Kelebihan dan Kelemahan Program wajib militer untuk pemuda bangsa tentu memiliki kelemahan dalam pelaksanaannya antara lain yaitu: (1) masih banyak pemuda yang acuh dan tidak mau tahu tentang bangsanya. Kelemahan ini membuat pemuda bangsa malas,merasa bergantung pada ABRI yang sudah profesional. Sikap yang acuh akan menghancurkan sebuah cita-cita negara. Pada dasarnya kemajuan negara terletak pada generasi muda yang berbakat, mempunyai tekad dan niat untuk mengharumkan nama negara masing-masing. Kelemahan yang dialami pada program wajib militer bukan hanya kesalahan pemerintah tetapi juga pemuda yang tidak mau bertanggung jawab akan kemajuan negara. Rasa cinta tanah air yang kurang ditanamkan pada generasi muda tentang pentingnya wajib militer membuat pemuda bangsa hanya berdiam dan tidak mengetahui problematika yang sedang terjadi.Meskipun mempunyai kelemahan program wajib militer juga mempunyai kelebihan dalam pelaksanaanya antara lain yaitu: (1) dapat membangun jiwa nasionalismme. Kelebihan ini dapat membangun jiwa nasionalisme karena, dengan ikut berpartisipasi menjadi pemuda wamil merupakan bentuk rasa tanggung jawab yang besar kepada negara yang ditunjukkkan dengan mengikuti kegiatan pelatihan wamil. Pelatihan wamil dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air dan jiwa patriotisme, pelatihan wamil bertujuan agar pemuda mampu menghargai jasa para pahlawan yang telah gugur dalam medan peperangan. Peran pemuda dalam memajukan negara tidak hanya dilakukan dengan prestasi dan akademik, melainkan dengan mengikuti wajib militer itu merupakan rasa cinta tanah air yang benar ditunjukkkan dengan cara berjuang demi membela tanah air.Menurut Moradi, ketua pusat politik dan keamanan (PSPK) universitas pajajaran, Bandung, dengan penekanan akan menegakkan 100 juta komponen bela negara dalam waktu 10 tahun membuat publik merasa bahwa pemerintah nampak tidak faham subtansi penuntutan dari bela negara. Adanya kelemahan dan kelebihan dalam program wamil ini karena tidak semua langkah dan prosedur yang di jelaskan mampu berjalan dengan baik dan lancar pasti banyak kendalanya. SIMPULAN DAN SARANProgram wajib iliter yang ada di negara-negara di laksanakan untuk membentuk kepribadian yang baik dan merubah pola pikir pemuda negara untuk memajukan negara sehingga kesadaran pemuda perlu ditingkatkan untuk menjadi agen of change yang mampu menghadapi permasalahan yang dihadapi oleh negara. Dari pembahasan mengenai program wajib militer dapat ditarik kesimpulan dan saran yang bermanfaat bagi semua pihak.Simpulan Wajib militer bertujuan untuk membentuk pemuda yang berani, tangguh dan bertanggung jawab. Pemuda yang mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi negaranya. Pemuda negara yang diharapkan dapat menjadi agen of change yang dapat ditunjukkan melalui hal-hal positif yang di lakukan oleh pemuda negara.Dalam pelaksanaan program wajib militer perlu membuat peraturan tentang program wajib militer. Pelaksanaan wajib militer juga perlu mendapatkan dukungan dari pemerintah agar pemuda negara lebih bersemangat saat mengikuti dan ikut berpartisipasi dalam program wajib militer. Program wajib militer akan berjalan dengan lancar dengan dukungan pemerintah dan kesediaan tenaga pelatih yang memadai sehingga pemuda akan bersemangat mengikuti program wajib militer.Kelebihan dari program wajib militer adalah dapat membangun jiwa nasionalisme, kelebihan dari program wajib militer mampu membuat pemuda memahami gdan mengetahui wawasan kebangsaan dan arti pentingdari sebuah bela negara bagi neraga. Namun disinilah program wajib militer mempunyai kelemahan, masih banyak pemuda yang acuh dan tidak mau tahu tentang negaranya. Sikap pemuda yang acuh membuat pemuda malas dan tidak ingin memajukan negaranya. Saran Masih banyak pemuda yang tidak mengetahui serta memahami arti penting dari sebuah bela negara. Hal ini terjadi karena pemuda kurang mendapatkan sosialisasi dan wawasan kebangsaan saat berada disekolah dan saat ada di forum-forum yang di adakan. Permasalahan seperti ini dapat diselesaikan dengan cara pemerintah mengadakan sosialisasi kepada masyarakat terutama pemuda untuk lebih memahami arti penting dari sebuah bela negara.Wawasan kebangsaan perlu ditingkatkan untuk merubah para generasi penerus bangsa menjadi generasi yang benar-benar memahami arti penting sebuah bela negara dan untuk mewujudkan cita-cita negara. Masalah peningkatan mengenai wawasan kebangsaan dapat di selesaikan dengan cara menanamkan wawasan kebangsaan disekolah melalui mengenalkan lagu-lagu nasional dan juga daerah, mengingat hari penting perjuangan para pahlawan, dan memberikan pengetahuan mengenai wawasan kebangsaan secara lebih rinci dan mudah dipahami. DAFTAR RUJUKANFithiansyah 2015 Herman.2015.Kelemahan dan kelebihan bela negara.(online).http//www.beritasatu.com/nasional/314073-ini-lima-kelemahan-kebijakan-bela-negara-kemhan.html di akses pada 29 November 2016Shavira, alifa.2014.ciri-ciri bela negara (online),(http://www.pidas81.org/perlukahwamil/) di akses pada 29 November 2016 Salim,2006,bela negara.Jakarta:GramediaTimbu
IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH (Studi Pada Pajak Hiburan Penyelenggaraan Konser Musik Di Hotel Kota Surakarta Tahun 2015-2016)
ABSTRACT Dian Anggun Larasati, E0013131, Implementation Entertainment Tax Organizing Music Concert In Surakarta City Hotel 2015-2016 This study aims to find out how the implementation of the collection of Entertainment Tax on the implementation of Music Concert in the Hotel Year 2015-2016 which has not been in accordance with the budget target of Surakarta City and Surakarta City Local Regulation No. 4 of 2011 on Local Taxes in the City of Surakarta and how the obstacles faced in the application of the Regulation The area of the entertainment tax evaporation is happening. The type of research used in the writing of this law is empirical legal research or non-doctrinal research (social legal research). The nature of research used The author in preparing the writing of this law is descriptive. The approach to be used by the author is a qualitative approach. In this study the authors take the location of research in BPPKAD Solo. Sources of legal materials used in the form of primary and secondary legal materials. Based on the results of this study and discussion resulted in the conclusion Implementation of Regional Regulation No. 4 of 2011 on Local Taxes in Surakarta City has not been implemented based on 3 aspects of the aspects of justice, legal certainty aspects, and aspects of expediency. Implementation of tax in Surakarta City still experience some obstacles. These barriers or constraints come from the taxpayer, the tax officer, and the regulation. Keywords: Taxes, Implementation, Perd
Kurangnya Kesadaran Generasi Muda Dalam Bela Negara Untuk Meningkatkan Wawasan Kebangsaan
Bela negara merupakan sebuah semangat berani berkorban demi tanah air, dan demi keutuhan suatu negara. Bela negara adalah wujud kepedulian terhadap negara.Masa depan suatu negara sangatlah ditentukan oleh para pemuda suatu negara,baik yang masih berstatus pelajar,mahasiswa ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya. Pemuda merupakan suatu faktor penting yang sangat di andalkan dalam mewujudkan cita-cita bangsa.Penurunan kesadaran akan pentingnya bela negara hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya persoalan yang terjadi saat ini, banyaknya pemuda yang lebih bangga dengan kebudayaan negara lain
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KASUS PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA KOTA MOJOKERTO
AbstrakPermasalahan pada pernikahan sering terjadi di kehidupan masyarakat, terutama pernikahan di Kota Mojokerto yang mana pada setiap tahunnya terdapat berbagai permasalahan. Permasalahan perkawinan yang terjadi di Kota Mojokerto banyaknya kasus perceraian dengan beberapa faktor yang dapat menyebabkan perceraian. Tujuan penelitian ini untuk memaparkan jumlah tingkat perceraian di Kota Mojokerto dan untuk memaparkan faktor-faktor yang menyebabkan perceraian di Kota Mojokerto. Penelitian ini dengan metode deskriptif. Populasi berdasarkan pasangan yang bercerai dari tahun 2016 s/d 2018. Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis potret data. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, tingkat perceraian yang ada di Kota mojokerto dari tiga tahun terakhir 2016 s/d 2018 terus meningkat. Kedua, faktor-faktor penyebab perceraian di Pengadilan Agama Kota Mojokerto dari tiga tahun terakhir 2016 s/d 2018 yang dominan terdapat pada faktor ekonomi, faktor meninggalkan salah satu pihak, serta faktor perselisihan dan pertengkaran terus menerus. Peneliti memberikan saran diharapkan untuk lebih meningkatkan sosialisasi terkait dampak negatife dari proses perceraian.Kata Kunci: Permasalahan Pernikahan, Perceraian, Faktor-Faktor Penyebab Perceraia
Towards an integral approach of sustainable housing in Indonesia: With an analysis of current practices in Java
How can the concept of sustainable housing be implemented in Indonesia? Prompted by various housing problems, especially in dense urban areas, this research proposes an integrated approach towards the sustainability of housing projects, which emphasizes the importance of community participation and the use of local solutions and resources. In general, existing guidelines and requirements for sustainable housing refer to efficient use of energy and material resources, while minimizing waste. This research analyzes existing examples of sustainable housing implementation in Indonesia (particularly on Java). On the basis of the results a set of requirements and guidelines for sustainable housing were developed, specifically for conditions in Indonesia. Furthermore, bamboo as a sustainable building material is evaluated, being a natural resource which is indigenous to Indonesia. And finally, as a supplement with this dissertation, a prototype of a communication tool is provided, which can be used by those involved in a housing project: an illustrated booklet which proposes four ambition levels of sustainability for all aspects of a housing project.Architectur
Implementasi Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) Pada Pembelajaran Fisika Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik: Anggi Larasati, Titin Sunarti, Budiwati
This research is motivated by the low motivation of students to learn physics at SMA Negeri 1 Wonoayu. Based on the preliminary study conducted by the author in Class XI-3, it shows that 51.2% of students have low motivation to learn physics. Learning that is solely based on textbooks and not connected to the students' conditions, including their past experiences and their social and cultural backgrounds, can lead to low student participation and motivation. Therefore, efforts are needed from teachers to make physics learning more engaging, one of which is by implementing the Culturally Responsive Teaching (CRT) approach. CRT is a teaching approach that utilizes students' cultural references as a means to learn a subject matter. This research is a collaborative classroom action research conducted in two cycles. Data related to student motivation was obtained through a motivation questionnaire, while student learning outcomes in the knowledge domain were obtained through written tests. The research results show a significant improvement in physics learning motivation, starting from the initial observation, Cycle 1, and ending in Cycle 2, which are 48.8%, 70.5%, and 82.9%, respectively. Additionally, student learning outcomes also improved from Cycle 1 to Cycle 2, increasing from 61.1% to 94.4%. This indicates that the implementation of the CRT approach in physics learning is effective in enhancing student motivation and learning outcomes.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar fisika peserta didik di SMA Negeri 1 Wonoayu. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan penulis di Kelas XI-3, menunjukkan bahwa 51,2% peserta didik memiliki motivasi yang rendah untuk belajar fisika. Pembelajaran yang hanya berpacu pada buku teks dan tidak dikaitkan dengan kondisi peserta didik, baik dikaitkan dengan pengalaman yang pernah dilalui maupun keadaan lingkungan, sosial, dan budayanya dapat menyebabkan tingkat partisipasi dan motivasi peserta didik menjadi rendah. Untuk itu, diperlukan suatu upaya dari guru agar dapat mengemas pembelajaran fisika menjadi lebih menarik, salah satunya dengan menerapkan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT). CRT ini merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang mengangkat referensi budaya peserta didik untuk dijadikan sebagai media dalam mempelajari suatu materi pelajaran. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas kolaboratif yang dilaksanakan dalam dua siklus. Data terkait motivasi belajar peserta didik didapatkan melalui angket motivasi belajar, sedangkan hasil belajar peserta didik pada ranah pengetahuan didapatkan melalui tes tertulis. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan motivasi belajar fisika yang cukup signifikan, mulai dari observasi awal, siklus 1 hingga akhir siklus 2, yakni masing-masing sebesar 48,8%, 70,5% dan 82,9%. Selain itu, hasil belajar peserta didik juga mengalami peningkatan ketuntasan dari siklus 1 dan siklus 2, yakni dari 61,1% menjadi 94,4%. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi pendekatan CRT pada pembelajaran fisika efektif dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik. Pembelajaran fisika dengan pendekatan Culturally Responsive Teaching merupakan pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan guru guna meningkatkan motivasi belajar peserta didik
Fotografi Dokumenter Pesona Perempuan Tenganan Dalam Balutan Tenun Gringsing Sebagai Media Pengenalan Warisan Budaya Indonesia
Jumlah warisan budaya Indonesia sangat berlimpah terutama pada desa wisata
seperti Desa Tenganan yang memiliki Tenun Gringsing dengan teknik langka di dunia
tetapi banyak masyarakat yang tidak mengetahuinya. Eksistensi Tenun Gringsing
begitu penting dalam rangkaian upacara Tenganan sehingga setiap perempuan dalam
sebuah keluarga wajib melestarikannya.
Pada perancangan ini, penulis akan mengangkat perempuan Tenganan dengan
busana tradisionalnya yaitu Tenun Gringsing sebagai subyek utama pada
perancangan ini. Perancangan dilakukan dengan melakukan etnografi dan
mengumpulkan data primer untuk dapat memahami subyek kajian lebih dalam.
Adapula studi perbandingan terhadap proyek yang sudah ada sebelumnya dari segi
kompetitor dan komparator.
Fotografi dokumenter merupakan fotografi yang dapat menangkap karakter
budaya dan sosial seperti Desa Tenganan sebagai Desa Wisata Tenun Gringsing, baik
potret lingkungan desa maupun kondisi sosial. Penulis berharap perancangan ini dapat
menyampaikan pesan dan aspirasi yang kuat kepada audiens, terutama untuk
mengenalkan Gringsing sebagai busana tradisional Tenganan.
=======================================================================================
The amount of Indonesia heritage is very abundant, especially in tourist villages
such as Tenganan Village which has Gringsing Woven using a rare technique in the
world but most people do not know. Gringsing weaving existence is very important
in a series of Tenganan ceremonies so that every women within a family shall
preserve it.
In this project, the author will bring up Tenganan women in traditional clothing
that is Gringsing woven as the main focus in this project. The design is done by
conducting ethnographic and collecting primary data in order to understand more
about the subject matter. There is also a comparative study of existing projects in
terms of competitors and comparator.
Documentary photography is a kind of photography which captures culture and
social such as Tenganan Village as Gringsing Woven Tourism Village, either village
surrounding or social condition. Author hopes this project may deliver message and
aspiration to the audiences, especially to introduce Grinsing as Tenganan traditional
clothing
The application of interactive worksheet to improve vocational students’ ability to write financial statements
- …
