75 research outputs found
ANALISIS MODAL, NILAI DAN SIKAP KEWIRAUSAHAAN TERHADAP PENDAPATAN NASABAH DI BMT PAHLAWAN POKUSMA NOTOREJO TULUNGAGUNG
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “Analisis Modal, Nilai, dan Sikap Kewirausahaan terhadap Pendapatan Nasabah di BMT Pahlawan Pokusma Notorejo Tulungagung “ ditulis oleh Listya Surya Dewi, Jurusan Perbankan Syariah, NIM 2823123080 dengan Dosen Pembimbing Sri Eka Astutiningsih, SE., MM.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) apakah modal mempengaruhi pendapatan nasabah. 2) apakah nilai mempengaruhi pendapatan nasabah.3) apakah sikap kewirausahaan berpengaruh terhadap pendapatan nasabah BMT Pahlawan Pokusma Notorejo Tulungagung. Yang dimana untuk mengukur keberhasilan suatu perekonomian salah satunya dapat dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pertumbuhan ekonomi merupakan besaran yang diukur dari kenaikan besarnya pendapatan nasional dan para usaha skala kecil mempunyai peranan yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional. Karena berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Para pengusaha skala kecil banyak menghadapi kendala yang mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik. Karena itu peneliti iin meneliti apakah modal, nilai, dan sikap kwirausahaan mempengaruhi pendapatan nasabah di BMT Pahlawan Pokusma Notorejo Tulungagung.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Peneliti terjun langsung ke lapangan untuk memperoleh informasi dari nasabah dengan melakukan wawancara secara mendalam. Data yang diperoleh dapat diartikan sebagai fakta atau informasi yang diperoleh dari aktor (subjek penelitian, informasi, pelaku), aktivitas,dan tempat yang menjadi subjek penelitiannya.
Hasil penelitian tersebut adalah 1) pengaruh modal mempengaruhi pendapatan nasabah BMT Pahlawan Pokusma Notorejo Tulungagung. Walaupun salah satu pendapat mengatakan bahwa modal yang didapatkan dari pembiayaan BBA (Bai Bitsaman Ajil) belum mampu meningkatkan pendapatan nasabah dikarenakan jumlah modal yang diajukan hanya untuk keberlangsungan proses produksi genteng. 2) Ada pengaruh bahwa nilai mempengaruhi pendapatan nasabah. Dilihat dari pembiayaan tersebut mampu mempengaruhi kualitas barang yang diproduksi anggota BMT Pahlawan Pokusma Notorejo Tulungagung. 3) Terdapat pengaruh sikap kewirausahaan mempengaruhi pendapatan nasabah. Namun ada nasabah yang berpendapat bahwa sikap kewirausahaan tidak mampu mempengaruhi peningkatan pendapatan karena sikap kewirausahaan yang dimikinya tidak mampu mempengaruhi peningkatan pendapatan.
Kata kunci: Modal, nilai, sikap wirausaha, pendapata
SISTEM TATA NASKAH DINAS ELEKTRONIK DI BADAN PERENCANAAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH KABUPATEN KLATEN
ABSTRAK Rizka Listya Ratna Dewi, D1514093, Sistem Informasi Tata Naskah Dinas Elektronik Di Badan Perencanaan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Kabupaten Klaten, Tugas Akhir, Program Studi Manajemen Administrasi, Program Diploma III, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2017, 76 halaman. Arsip memiliki nilai guna administrasi sebagai pedoman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Salah satu aktivitas sehari-hari Bappeda Kabupaten Klaten antara lain administrasi surat menyurat. Surat menyurat bertujuan untuk menciptakan kelancaran komunikasi tertulis. Bentuk komunikasi tertulis berupa naskah dinas yang berisi surat-surat. Volume surat masuk dan surat keluar di Bappeda Kabupaten Klaten yang cukup banyak, sehingga perlu adanya sistem otomatisasi kearsipan yaitu Sistem Informasi Tata Naskah Dinas Elektronik. Sistem Tata Naskah Dinas Elektronik berguna untuk memudahkan pengelolaan naskah dinas di Bappeda Kabupaten Klaten. Dalam penulisan tugas akhir ini mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan Sistem Informasi Tata Naskah Dinas Elektronik di Bappeda Kabupaten Klaten. Jenis pengamatan yang dilakukan penulis yaitu observasi berperan. Teknik pengumpulan data yaitu dengan observasi berperan aktif, wawancara terstruktur, dan mengkaji dokumen dan arsip. Hasil pengamatan berkaitan dengan Sistem Informasi Tata Naskah Dinas Elektronik di Bappeda Kabupaten Klaten dapat dideskripsikan bahwa model sistem informasi Tata Naskah Dinas Elektronik yang digunakan oleh Bappeda Kabupaten Klaten menggunakan model sistem sederhana yaitu input, proses, dan output. Terdapat empat kegiatan pokok sistem otomatisasi perkantoran yaitu pengumpulan data, pengolahan data, penyimpanan data, dan pendistribusian data. Selain itu, terdapat bentuk aplikasi yang digunakan antara lain pengolah kata/angka/data, surat elektronik, faksimile, sistem arsip elektronik, pembuatan image dengan Adobe photoshop, dan penyebaran informasi menggunakan telepon dan grup WhatsApp. Kata kunci: arsip, disposisi, sistem informasi, surat keluar, surat masuk, dan tata naskah dinas elektronik. ABSTRACT Rizka Listya Ratna Dewi, D1514093, Archiving Information System in Electronic Division of Local Research and Development Planning Agency of Klaten Regency, Final Project, Undergraduate Administration Program, Social and Political Sciences Faculty, Surakarta Sebelas Maret University, 2017, 76 pages. Archive has administrative use as the guidelines in doing daily activities. One of daily activities in Bappeda of Klaten Regency is correspondence. Correspondence aims to create the smooth written communication. The form of written communication is in the form of service text containing mails. The volume of incoming and exiting mail in Bappeda of Klaten Regency is large enough, so that there should be archiving automating system, Archiving Information System of Electronic Service. The Archiving Information System of Electronic Service is useful to facilitate the management of service archive (text) in Bappeda of Klaten Regency. This research aimed to describe the Archiving Information System of Electronic Service in Bappeda of Klaten Regency. The type of observation conducted by the author was participatory observation. Techniques of collecting data used were active participatory observation, structured interview, and document and archive study. The result of study related to Archiving Information System of Electronic Service in Bappeda of Klaten Regency could describe that the Archiving Information System of Electronic Service model used by Bappeda of Klaten Regency employed a simple system model including input, process, and output. There were four main activities in office automating system: data collection, data processing, data storage, and data distribution. In addition, there was a form of application used including word/numerical/data processor, electronic mail, facsimile, electronic archive system, image creation using Adobe photoshop, and information dissemination using phone and WhatsApp group. Keywords: Archive, disposition, information system, exiting mail, incoming mail, and electronic service archiving
Sifat Anatomi dan Kualitas Serat Kayu Sangat Kurang Dikenal Suku Icacinaceae: Apodytes, Citronella, Gomphandra, Gonocaryum, Medusanthera, dan Uranda
Penelitian sifat dasar kayu, yang meliputi berbagai macam aspek
pengujian seperti anatomi, fisik, mekanik, kimia dan keawetan, dilakukan untuk
mengetahui kemungkinan penggunaan kayu. Jenis kayu sangat kurang dikenal
merupakan jenis kayu yang sangat jarang digunakan dan tidak termasuk ke dalam
kategori kelas perdagangan komersial. Dalam koleksi Xylarium Bogoriense 1915
masih banyak terdapat kayu sangat kurang dikenal, salah satunya adalah dari suku
Icacinaceae. Suku Icacinaceae banyak menghasilkan serat kayu dan tersebar di
wilayah Indonesia, tetapi informasi tentang struktur anatomi tumbuhan ini masih
sedikit, sehingga perlu studi lebih lanjut untuk mendukung kesesuaian
penggunaan dengan sifat masing-masing kayu. Pada penelitian ini akan diamati
sifat anatomi dan kualitas serat kayu sampel Xylarium Bogoriense dari Suku
Icacinaceae, yaitu Apodytes sp. No. 29704, Citronella sp. (No 5463, 1755, 27394,
20799,12535, dan 27249), Gonocaryum sp. (No. 6342, 24072, 29646, dan 29834),
Gomphandra sp. No. 29676), Medusanthera papuana No. 19054, dan Uranda sp.
No. 8563. Ciri mikroskopis diamati berdasarkan daftar pengamatan ciri anatomi
International Association of Wood Anatomists (IAWA) No. 1–163. Empat belas
sampel kayu dari suku Icacinaceae dalam penelitian ini memiliki ciri batas lingkar
tumbuh yang tidak jelas, porositas baur dengan sebaran pola diagonal atau radial,
pembuluh berganda radial empat atau lebih dapat dijumpai, bidang perforasi
sederhana, susunan ceruk antar pembuluh selang-seling dan berhadapan; ceruk
pembuluh-jejari dengan halaman yang jelas, serupa dengan ukuran dan bentuk
dengan ceruk antar pembuluh, dan memiliki serat bersekat dengan ceruk
sederhana sampai berhalaman sangat kecil yang umum ditemukan pada bidang
radial dan tangensial, juga di temukan inklusi mineral berupa kristal prismatik.
Kualitas serat semua sampel yang diamati tergolong ke dalam kelas III yang tidak
direkomendasikan sebagai bahan bahan baku pulp dan kertas
Hands on : virtual art installation : interactive shadow puppetry
The author of this report, Ms. Listya Utami Harjadi, implemented a different way of story-telling by creating a highly interactive digital shadow theatre for her Final Year Project (FYP), which uses Wii Remotes as the mode of interaction. The Interactive Shadow Puppetry project aims to allow a puppeteer control digital shadow puppets using the Wii Remotes. Furthermore, the interaction is further pushed to another level by involving the audience active participation during the digital shadow theatre performance, by also manipulating the digital content.
The project started off with the conceptualization stage before the author decided on the implementation of the Interactive Shadow Puppetry art installation based on the specified basic requirements. Then all of the components to be involved were carefully designed, followed by their respective development and testing. Finally, the prototype was set-up to demonstrate the possibilities of controlling digital content using Wii Remotes by processing the functions via Virtual Reality Modeling Language (VRML) and Java programming language.
Despite some of the complexities and limitations faced in the course of developing the project, the author was still inspired to do an even deeper study and explore more possibilities that have yet to be implemented in this project.Bachelor of Engineering (Computer Engineering
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS DARI CoCl2 DAN MnCl2 DENGAN CAMPURAN LIGAN ANION DISIANAMIDA DAN 8-HIDROKSIKUINOLINA
ABSTRAK Dewi, A. L. 2013. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari CoCl2 dan MnCl2 dengan Campuran Ligan Anion Disianamida dan 8-Hidroksikuinolina. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed, Ph.D, (2) Neena Zakia S.Si, M.Si. Kata kunci: CoCl2, MnCl2, anion disianamida, 8-hidroksikuinolina, senyawa kompleks. Ion Co2+ dan Mn2+ dari garam klorida dapat membentuk senyawa kompleks dengan dua ligan berbeda. Ion-ion tersebut dapat menerima pasangan elektron bebas dari ligan anion disianamida (dca-) dan 8-hidroksikuinolina (oksina). Tujuan penelitian adalah untuk mensintesis senyawa kompleks I dari CoCl2 dan kompleks II dari MnCl¬2 berturut-turut dengan campuran ligan dca- dan oksina pada perbandingan mol sebesar 1 : 2 : 2, serta memprediksi struktur senyawa kompleks hasil sintesis berdasarkan data karakterisasi. Penelitian eksperimental dilakukan di Laboratorium Jurusan Kimia FMIPA UM yang terdiri dari dua tahap yaitu (1) sintesis senyawa kompleks I dan II yang dilakukan dalam pelarut metanol; (2) karakterisasi senyawa kompleks I dan II. Karakterisasi meliputi uji titik lebur, daya hantar listrik (DHL), kandungan unsur dengan EDX (Energy Dispersive X-Ray), dan analisis ligan pada senyawa kompleks dengan FT-IR (Fourier Transformation InfraRed). Hasil penelitian adalah (1) senyawa kompleks I dapat disintesis dari CoCl2 dengan campuran ligan dca- dan oksina dalam pelarut metanol menghasilkan kristal berbentuk balok berwarna coklat kehitaman, sedangkan kompleks II dari MnCl2 dengan campuran ligan dan kondisi reaksi yang sama menghasilkan kristal berbentuk balok berwarna hitam. Kompleks I dan II memiliki titik lebur lebih besar dari 300°C, hasil DHL menunjukkan keduanya sebagai kompleks netral, pada analisis EDX perbandingan atom Co : N dan Mn : N masing-masing sebesar 1 : 8, analisis dengan FT-IR menunjukkan kedua kompleks mengandung ligan dca- (gugus C N) dan ligan oksina ditandai dengan gugus O-H; (2) Kompleks I diprediksi mempunyai rumus molekul [Co(N(CN)2)2(C9H7NO)2] dan kompleks II yaitu [Mn(N(CN)2)2(C9H7NO)2] dengan prediksi struktur kedua kompleks memiliki geometri oktahedral
Hubungan Antara Persepsi karyawan Terhadap Budaya Organisasi Dengan Tingkat Stres Kerja Karyawan
Stres kerja merupakan masalah yang banyak dihadapi oleh para karyawan
yang bekerja di suatu lapangan pekerjaan. Hal ini tidak hanya menjadi masalah
yang sangat mengganggu bagi para karyawan itu sendiri tetapi juga menjadi
masalah bagi para pimpinan. Stres kerja dapat mengganggu aktifitas para
karyawan, karena karyawan merasa resah sepanjang hari-harinya, hal ini tentunya
akan berpengaruh pada hasil kerjanya. Salah satu penyebab stres di kalangan para
pekerja adalah karyawan tidak dapat mempersepsikan budaya yang ada di tempat
dirinya bekerja dengan baik, sehingga karyawan tersebut menganggap bahwa
pimpinannya tidak peduli dengan hasil kerjanya, sehingga karyawan tersebut
merasa sia-sia saat bekerja. Hal ini pastinya akan berpengaruh pada hasil kerjanya,
kesehariannya, dan pergaulan dirinya dengan rekan-rekan skerjanya, hal ini
pastinya akan sangat merugikan bagi pihak perusahaan maupun bagi karyawan itu
sendiri.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi
karyawan terhadap budaya organisasi dengan tingkat stres kerja karyawan.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah Ada hubungan negatif antara persepsi
karyawan terhadap budaya organisasi dengan tingkat stres kerja karyawan.
Subyek dalam penelitian ini adalah karyawan PT.Kereta Api (Persero)
DAOP VI Yogyakarta khususnya pada petugas PLKA, PPKA (Pemimpin
Perjalanan Kereta Api), Masinis, Asisten Masinis, kondektur, PJL sebanyak 50
orang. Alat ukur yang digunakan sebagai instrument utama pengumpulan data
adalah skala persepsi terhadap budaya organisasi dan skala stres kerja.
Perhitungan untuk menguji hipotesis dilakukan dengan teknik analisis
product moment dari Pearson dengan bantuan komputer seri program statistik
(SPS-2000). Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar -
0,281 dengan p<0,05 hal ini berarti ada hubungan negatif yang signifikan antara
persepsi karyawan terhadap budaya organisasi dengan tingkat stres kerja
karyawan. Persepsi karyawan terhadap budaya organisasi pada subyek penelitian
menunjukkan 26% sangat tinggi, 50% tinggi, 24% sedang, sangat rendah dan
rendah 0%. Sedangkan tingkat stres kerja karyawan pada subyek penelitian
menunjukkan 42% sangat rendah, 46% rendah, 8% sedang, 4% tinggi dan 0%
sangat tinggi.
Sumbangan efektif persepsi karyawan terhadap budaya organisasi sebesar
7,9% terhadap tingkat stres kerja karyawan sehingga masih terdapat 92,1% faktorfaktor
lain yang mempengaruhi tingkat stres kerja karyawan seperti tuntutan
kebutuhan hidup, suasana lingkungan kerja, jenis pekerjaan, waktu atau lamanya
jam kerja, tuntutan teknologi, ciri kepribadian individu, tekanan-tekanan yang
lainnya
KEBIJAKAN UNTUK DAERAH DENGAN JUMLAH TENAGA KESEHATAN RENDAH
Ketidakmerataan distribusi tenaga kesehatan(khususnya, namun tidak terbatas pada dokter dandokter spesialis) di Indonesia merupakan salah satuhambatan dalam upaya peningkatan akses terhadaplayanan kesehatan. Tenaga kesehatan menumpukdi daerah urban sementara Daerah Terpencil, Perbatasandan Kepulauan (DTPK) mengalami resesi tenaga.Pemerintah Indonesia telah mencoba mengatasihal ini dengan berbagai kebijakan. Situasi ini sebenarnyatidak hanya terjadi di Indonesia. Di Negaramaju seperti Prancis pun, fenomena ini terjadi.Menteri Kesehatan Perancis menyebut beberapadaerah di region-region pedalaman Perancismengalami “les déserts médicaux” (gurun pasir tenagakesehatan). Secara keseluruhan jumlah dokterdi Perancis memang bertambah 30% dalam 20 tahunterakhir, ratio saat ini adalah 337 dokter per 100,000penduduk. Perancis memiliki sistem gatekeepingyang ketat dan sistem kesehatan difokuskan padaakses terhadap dokter umum. Rata-rata jarak yangditempuh untuk menemukan dokter umum adalah 5km (8 menit dengan kendaraan). Hanya di regionpedalaman tertentu saja (biasanya di daerah pegunungan)dibutuhkan waktu tempuh 15 menit berkendarauntuk menemukan dokter umum, misalnya diregion Alps atau Pyrenees.Namun tidak berarti Perancis bebas dari isudistribusi tenaga medis. Densitas tertinggi ada diregion urban Île-de-France (367 dokter per 100,000penduduk), sementara terendah ada di pedalaman,misalnya di region Eure (118 dokter per 100,000 penduduk).Perbandingannya rata-rata adalah 1:2 untukdokter umum (1 dokter di daerah pedalaman, 2dokter di daerah urban), dan 1:8 untuk dokterspesialis (1 dokter spesialis di daerah pedalaman,8 dokter spesialis di daerah urban). Akibatnya adalahtingginya antrian untuk konsultasi di daerah yangtermasuk dalam les déserts médicaux, dibutuhkanwaktu tunggu 18 hari untuk konsultasi dengan dokteranak, 40 hari untuk konsultasi dengan dokter obsgyn,dan 133 hari untuk dokter mata.Hal ini diperparah dengan dua fakta, bahwa: 1)25% dari jumlah dokter saat ini akan pensiun dalam5 tahun ke depan, dan 2) hasil riset di kalangan mahasiswakedokteran menunjukkan 63% mahasiswakedokteran tidak berniat untuk bekerja di daerahpedalaman. Pada bulan Desember 2012 lalu, MenteriKesehatan Perancis mengumumkan bahwa pemerintahsedang membuat beberapa kebijakan baru untukmengatasi hal ini. Pengumuman ini disampaikan dihadapanasosiasi walikota Perancis (AMF). Beberapakebijakan lama yang bersifat binding dikoreksidan akan diganti oleh kebijakan baru yang bersifatmemberi insentif. Misalnya: 1) Tersedia alokasi untuk200 dokter pemula yang akan ditempatkan didaerah pedalaman dengan gaji bersih €55,000/tahununtuk kontrak dua tahun (bandingkan dengan gajibersih dokter pemula di rumah sakit yang adalah€40,645/tahun), 2) Pengunaan véhicules santé pluriprofessionnelsyaitu tim multiprofesi (dokter umum,ophthalmologists, cardiologists, perawat, physiotherapists)yang akan melayani daerah-daerah denganakses terbatas, 3) Menciptakan profesi baru: AgentManagement And Interface (AGI) sebagai tenagaadministrative/kesekretariatan yang mengambil alihbeban administrasi dari dokter di pedalaman. TenagaAGI ini akan dibiayai sebagian oleh sécurité socialedan sebagian oleh dokter, dan 4) Pembentukan komitenasional telemedicine untuk mendukung pelayanandi daerah pedalaman.Pengumuman ini mendapat sambutan baik dariAMF. Sambutan baik juga datang dari berbagai asosiasiprofesi dan asosiasi mahasiswa kedokteran,yang disampaikan melalui media social termasukakun twitter milik Menteri Kesehatan. Beberapaminggu setelah itu, Menteri Kesehatan mengundangberbagai asosiasi profesi dan asosiasi mahasiswakedokteran untuk melakukan dialog dan brainstormingmengenai rumusan kebijakan tersebut. Dialogtersebut, telah terkumpul beberapa usulan, antaralain: 1) Usulan untuk disediakannya insentif bagi doktersenior yang tertarik untuk pensiun di daerah pedalaman.Beberapa dokter senior telah mengemukakankeinginan mereka untuk memiliki kualitas hidup lebihbaik di pedalaman, karena mereka ingin mengurangibeban kerja dan sudah tidak ingin lagi melayani 60-70 pasien per hari, 2) Usulan untuk mendelegasikanwewenang tindakan ke profesi tenaga kesehatan lain;hal ini mengantisipasi kesulitan menempatkan 1dokter di setiap desa, dan 3) Usulan perbaikan kondisi perumahan untuk dokter di daerah pedalaman,dan fasilitas di rumah sakit daerah yang perluditingkatkan (diusulkan untuk setara dengan rumahsakit pendidikan).AMF juga menekankan keinginan mereka untukdilibatkan dalam rencana implementasinya untuklebih me’lokal’kan beberapa pendekatan yang terdapatdalam kebijakan nasional. AMF mengakui perlunyaperan mereka dalam meningkatkan perekonomianlokal untuk lebih meluaskan lapangan kerja sehinggasuami/istri dokter bisa memperoleh pekerjaandi daerah. Di sisi lain, AMF juga mengusulkan untuklebih membatasi kebebasan dokter di daerah perkotaanuntuk memilih skema dua (tariff di luar ambangreimbursement oleh sécurité sociale) untuk mengurangikesenjangan pendapatan dokter di perkotaandan dokter di pedalaman.Sebagai catatan, tarif yang dikenakan dokterdan rumah sakit di Perancis untuk pelayanan apapun terdiri dari tiga pilihan: 1) skema 1, yaitu tarifyang ditetapkan oleh sécurité sociale, artinya, pasienakan menerima full reimbursement dari biaya yangdikeluarkannya, 2) skema 2, yaitu tarif di atas ambangyang ditetapkan oleh sécurité sociale, artinya,pasien harus ditanggung sebagian oleh sécuritésociale dan sebagian lagi oleh asuransi pribadi, dan3) skema 3, yaitu tarif private, artinya, pasien tidakmenerima reimbursement apa pun dari sécuritésociale. Kebebasan dokter untuk memilih skema 2dibatasi oleh beberapa persyaratan yang telah ditetapkanpada tahun 1998, tidak semua dokter diperbolehkanmengenakan skema 2. Sebagai gambaran,92.3% dari dokter umum berada di skema 1, 6,8%berada di skema 2, dan hanya kurang dari 1% yangberada di skema 3 (di luar sistem sécurité sociale).Pada sisi lain, pemerintah juga akan mengambilbeberapa kebijakan pada tingkat Nasional untukmemperbaiki sistem sécurité sociale di tahun 2013ini. Sebagai contoh, harga obat dan pemeriksaanlab akan turun sekitar 7%. Sécurité sociale juga mendorongdokter dan rumah sakit untuk lebih banyakmenggunakan obat generik, dan one-day surgery.Peningkatan anggaran untuk Sécurité Sociale akandiambil dari kenaikan pajak tembakau dan pajakmiras. Pada awal bulan Februari 2013, muncul rekomendasipokja yang dibentuk di Senat untuk membahaskebijakan mengatasi les déserts médicaux.Rekomendasi tersebut bertolakbelakang denganusulan yang disampaikan oleh Menteri Kesehatanpada bulan Desember 2012 lalu. Rekomendasi pokjalebih mengambil pendekatan ‘coercive’, yaitu: 1)Membatasi praktek pribadi dokter yang telah melebihijumlah tertentu di suatu daerah. Hal ini telahditerapkan untuk profesi medis lain (perawat, farmasi,fisioterapis, bidan, dll) dan telah terbukti meningkatkanpenempatan perawat di daerah sebanyak 30%dalam 3 tahun terakhir, 2) Menetapkan wajib kerjadi daerah selama minimal 2 tahun untuk dokter spesialisyang baru lulus, dan 3) Mulai mensosialisasikepada mahasiswa kedokteran bahwa mereka akanmenjalani wajib kerja di daerah apabila masalah lesdéserts médicaux tidak teratasi.Pada Minggu lalu, Perdana Menteri Perancistelah menegaskan kembali komitmennya untukmengambil kebijakan mengatasi masalah les désertsmédicaux ini. Dari sudut pandang analisis kebijakan,dinamika dan dialog kebijakan yang terjadi di Perancisdalam hal ini cukup menarik untuk diikuti. Kitamelihat berbagai aktor yang terlibat dalam mencobamengatasi masalah les déserts médicaux di daerahpedalaman. Menarik pula untuk melihat spectrumkebijakan yang diambil dan saran yang diberikanoleh para aktor kebijakan ini.Pada edisi Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia(JKKI) kali ini, beberapa artikel membahaskebijakan untuk penempatan tenaga kesehatan didaerah terpencil. Topik ini pula menjadi salah satutopik yang diangkat dalam Annual Scientific Meeting(ASM) di Fakultas Kedokteran Universitas GadjahMada. Jelaslah bahwa kita semua menyadari pentingnyamengambil langkah strategis untuk mengatasimasalah ini.*) Semua data diolah dari situs Kementrian Sosialdan Kesehatan Perancis, dan dari Direction de larecherche, des études, de l’évaluation et desstatistiques (DREES)
SINERGI KEBIJAKAN UPAYA PENGHEMATAN ANGGARAN BELANJA JAMINAN KESEHATAN DI PERANCIS
Menjelang diberlakukannya Jaminan KesehatanSemesta 2014, Indonesia menghadapi berbagai tantanganterkait kesiapannya. Walaupun prioritas pemerintahsaat ini adalah pada perluasan cakupan/kepesertaan, berbagai isu terkait selayaknya tetapmenjadi perhatian kita. Isu seperti 1) seberapa dalammanfaat pelayanan kesehatan yang akan dijamin,2) seberapa besar proporsi urun biaya yang masihharus dikeluarkan oleh peserta jaminan kesehatanketika mendapatkan manfaat, 3) bagaimana kesiapankuantitas dan kualitas sistem pelayanan kesehatan,fasilitas dan SDM kesehatan serta pemerataandistribusinya di berbagai daerah, 4) bagaimanakebijakan dan regulasi diperkuat untuk mendukungsistem jaminan kesehatan semesta, 5) bagaimanaevaluasi dan monitoring dilakukan, 6) bagaimanamengajak sektor swasta untuk berperan serta, danbanyak hal lain masih tetap perlu dikaji dan dicermati.Bahkan di negara lain dimana sistem jaminankesehatan semesta telah dijalankan, isu-isu sepertidi atas tetap menjadi perhatian dan terus menerusdiawasi. Pada beberapa editorial yang lalu telah dibahasbagaimana sistem jaminan kesehatan semestadijalankan di Perancis. Menjelang akhir tahun, pemerintahmengevaluasi berbagai dimensi pelaksanaanjaminan kesehatan semestanya misalnya kualitaspelayanan, distribusi SDM, besarnya anggaran, dllserta proposal yang diajukan untuk upaya perbaikannya.Bulan September lalu, pengelola jaminan kesehatansemesta di Perancis mengajukan laporan tahunantermasuk proposal upaya penghematan senilai2,48 milyar euro untuk menekan pertumbuhan anggaranbelanja jaminan kesehatan dikisaran 2,4%(pertumbuhan anggaran pada tahun 2012 adalah2,5% sementara pada tahun 2013 adalah 2,7%). Situasiperekonomian Eropa telah menekan berbagainegara termasuk Perancis untuk melakukan penghematananggaran belanja, sehingga wacana penghematananggaran belanja kesehatan merupakan isuyang cukup disorot.Anggaran belanja kesehatan di Perancis adalahsekitar 12% dari GDP, dan beberapa tahun terakhirmengalami defisit lebih besar dari yang diproyeksikan.Pada awal tahun 2013, misalnya, defisit diperkirakansebesar 11,4 juta euro, tetapi laporan tahunan2013 menyatakan bahwa riil defisitnya adalah 14,7juta euro. Hal ini juga disebabkan oleh tekanan situasiekonomi yang membuat sekelompok peserta jaminanyang tadinya termasuk di dalam peserta denganurun biaya berubah menjadi peserta tanpa urun biaya(ditanggung penuh pemerintah) karena kehilanganpekerjaan. Diperkirakan jumlah peserta tanpa urunbiaya ini akan lebih besar pada tahun-tahun mendatangselama krisis ekonomi di Eropa belum berakhir.Oleh karena itu, pemerintah sangat berkepentinganuntuk memastikan kecukupan anggaran untuk menyediakanpelayanan bagi mereka.Proposal penghematan yang diajukan mencakupkebijakan harga untuk berbagai obat (diharapkanakan menghasilkan penghematan senilai 750jutaeuro), serta kebijakan yang membatasi dokter dalammeresepkan obat mahal/branded dan menggantinyadengan obat generik (diharapkan akan menghasilkanpenghematan senilai 600juta euro), dan kebijakanyang membatasi transportasi untuk rujukan yangtidak perlu, dan kebijakan yang mendorong perluasanone-day surgery untuk menghindari biaya rawatinap. Salah satu target dari kebijakan one-day surgeryini adalah operasi katarak yang merupakan salahsatu operasi yang paling sering dilakukan diPerancis (sekitar 700,000 di tahun 2012) yang sebelumnyatidak dilakukan sebagai one-day surgery.Penghematan juga akan dilakukan dalam bentukstrategic purchasing untuk peralatan kesehatanmisalnya insulin pumps, prostheses, respirators, dll.Diharapkan dengan kebijakan strategic purchasingini penghematan yang dihasilkan adalah senilai 220juta euro (untuk level rumah sakit) dan 150juta euro(untuk level klinik/fasilitas kesehatan primer). Yangmenarik adalah bagaimana proposal ini didukungoleh berbagai kebijakan yang mengikutinya. Dokter,misalnya, diharuskan untuk menulis setidaknya 25%bagian dari resepnya berupa formula kimia dari molekulaktif obat, dan bukan brand name-nya. Hal inidilakukan untuk mendongkrak penjualan obat generikdi Perancis yang saat ini masih berkisar 14%(dalam nilai uang) atau 26% (dalam kuantitas) padatahun 2012 lalu. Sebagai perbandingan, share penjualanobat generik di Jerman atau Inggris adalahsekitar 50%.Kebijakan lain yang juga terkait adalahkebijakan redistribusi ketersediaan tenaga medis,seperti yang telah dibahas pula pada editorial lalu.Hasilnya ternyata cukup menggembirakan. Secarakeseluruhan, jumlah dokter bertambah 0.9 % namunsecara riil jumlah dokter di beberapa tempat yangtelah padat berkurang (misalnya di region Centerberkurang 2.3 %, dan di region Ile- de- France berkurang4.2%) dan sebaliknya meningkat di daerah yangsebelumnya kekurangan (misalnya di region Paysde-Loire meningkat 4.7% dan di region Rhône –Alpes meningkat 4.5%). Ketersediaan tenaga medisdi daerah-daerah yang kekurangan diharapkan dapatmengurangi unnecessary referral antar-region danmengurangi biaya transpor rujukan.Selain kebijakan yang mendukung, prosesevaluasi yang dilakukan terhadap fasilitas kesehatan(klinik dan rumah sakit) di Perancis baik fasilitaspemerintah maupun swasta juga mencerminkandukungan terhadap upaya penghematan anggarankesehatan seperti yang diusulkan. Dari beragamkomponen penilaian dan evaluasi tersebut misalnyajuga dimasukkan variabel rendahnya LOS di rumahsakit dan seberapa banyak ambulatory care dilakukan.Hasil dan ranking penilaian untuk seluruh rumahsakit ini, baik rumah sakit pemerintah maupun swasta,diumumkan setiap tahun sehingga masyarakatdapat secara terbuka melihat ranking dari rumahsakit di daerahnya. Dengan demikian rumah sakitdan klinik dipacu untuk mengembangkan layananone-day surgery yang lebih cost-effective danmengurangi LOS.Dari cerita singkat di atas dapat ditarik pelajaranbahwa pemerintah Indonesia pun perlu melihatsistem kesehatannya secara utuh dan mencarisinergi antar kebijakan agar saling mendukung. Halini khususnya menjadi semakin penting di erajaminan kesehatan semesta. Apabila sinergi antarkebijakan ini belum terjadi maka perlu dicari solusiatau alternatif kebijakannya. Apabila telah adakebijakan yang digulirkan, maka perlu pula dikajisejauh mana efektifitas pelaksanaannya di lapangan.Di sinilah letak pentingnya kajian kebijakan danevaluasi kebijakan dalam memainkan peran sebagai‘feeder’ terhadap komunitas kebijakan khususnyapengambil kebijakan. Selaras dengan itu, berbagaiartikel dalam JKKI kali ini akan berupaya menyorotiberbagai implementasi kebijakan dan memberikanrekomendasi perbaikan. Selamat membaca
DAPATKAH KITA BERPERAN SERTA MENJAWAB TANTANGAN KEBUTUHAN KEBIJAKAN BERBASIS BUKTI?
Para pembuat kebijakan perlu mempertimbangkanbanyak faktor untuk membuat kebijakan sistemkesehatan (misalnya, hambatan kelembagaan, konflikkepentintangn para pemangku kepentingankepentinganyang dipengaruhi oleh suatu kebijakan,dan nilai-nilai serta preferensi publik), namun hasilpenelitian empiris juga dapat membantu. Hasil penelitianempiris dapat menyediakan dukungan buktiatas apa yang efisien dan efektif dan apa yang tidakefisien dan tidak efektif serta strategi apa yang direkomendasikanuntuk mengatasinya. Dengan katalain, hasil penelitian empiris akan memberitahu merekauntuk memperkuat atau memperbaiki secaraterus menerus upaya reformasi sistem kesehatanagar mencapati efektivitas dan efisiensi program,layanan, dan obat-obatan secara optimal untuk masyarakattarget yang membutuhkan. Harapannya,kebijakan yang dihasilkan dengan mendapatmasukan dari penelitian empiris akan merupakankebijakan berbasis bukti.Oleh karena itu, para pembuat kebijakan danpara stakeholder memerlukan akses langsung keberbagai jenis penelitian empiris untuk mengambilkeputusan berdasarkan informasi yang lengkap tentangberbagai pertanyaan dan masalah yang merekamiliki mengenai sistem kesehatan, tata kelola danstrategi implementasi. Di lain pihak, para penelitikebijakan dan lembaga penelitian perlu mendukungdan mengupayakan penggunaan hasil penelitianempiris pada tingkat masyarakat, penyedia, organisasi,dan pembuat kebijakan. Namun, adanya hasilpenelitian empiris dan adanya akses terhadap hasilpenelitian empiris tidak serta merta menjawab kebutuhanpara pengambil kebijakan. Ketepatan waktudari hasil penelitian adalah salah satu dari dua faktoryang penting. Para peneliti dan lembaga penelitianperlu secara sistematis mengidentifikasi gap didalam pengetahuan dan literature tentang sistemkesehatan kemudian melakukan serta menghasilkanmasukan penelitian baru sesuai dengan konteksnyadan tepat waktu.Faktor kedua yang juga penting adalah: parapembuat kebijakan akan menilai seberapa banyakkepercayaan dapat mereka tempatkan terhadapkualitas dari penelitian tersebut, local applicabilitynya,serta nilai tambah (value added) dari hasil penelitiantersebut dibanding penelitian-penelitian sejenislain atau sebelumnya.Dengan demikian, upaya lebih besar harus diarahkanpada beberapa prioritas untuk meningkatkankegunaan dari penelitian tentang sistem kesehatandan dukungan yang diperlukan oleh para pembuatkebijakan dan para pemangku kepentingan. Pertama,ada kebutuhan untuk mendukung upaya-upayasistematis untuk melakukan penelitian kontekstualyang tepat waktu secara teratur. Kedua, perlunyaupaya advokasi hasil penelitian empiris untukmemastikan bahwa para pembuat kebijakan dan parastakeholder memiliki akses ke terbaru terhadap hasilpenelitian empiris. Ketiga, ada kebutuhan untuk meningkatkankualitas dari penelitian itu sendiri. Terakhir,ada kebutuhan untuk ketersediaan serangkaianberbagai topik-topik yang berhubungan dengantata kelola, keuangan dan pelayanan di dalam sistemkesehatan termasuk topik-topik yang selama ini masihkurang ‘disentuh’ misalnya pelayanan long termcare, geriatric, dsb, serta strategi implementasi yangdapat mendukung perubahan dalam sistemkesehatan.Sepanjang tahun 2012-2013 ini, Pusat Kebijakandan Manajemen Kesehatan telah melangsungkanpelatihan berbasis web bagi para peneliti kebijakankesehatan. Penelitian telah berlangsung untuk beberapaangkatan. Pelatihan mencakup pengenalanterhadap konsep penelitian kebijakan, perspektif penelitiankebijakan, serta advokasi hasil penelitiankebijakan. Dari setiap angkatan yang mengikuti pelatihanini, telah dipilih lima peserta yang mendapatkandukungan dana untuk melakukan penelitiankebijakan sesuai proposal yang disusunnya. Parapemenang kemudian disaring lagi untuk menentukansiapa yang memperoleh beasiswa untuk mempresentasikanhasil penelitiannya di Forum NasionalIV Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia di Kupangpada bulan September 2013. Namun, bagi yangbelum terpilih untuk melakukan presentasi, tetap diberisarana untuk mendiseminasikan hasil penelitianmereka yaitu melalui edisi JKKI kali ini dan edisiberikutnya.Walau pun masih jauh dari sempurna, namunini merupakan sebagian kecil dari sumbangsih untukmenjawab empat tantangan yang telah diuraikan sebelumnya, dengan cara (1) mendukung dilakukannyapenelitian kontekstual yang tepat waktu, (2) menyediakansarana untuk diseminasi dan advokasihasil penelitian kebijakan, (3) berupaya meningkatkankualitas penelitian kebijakan, dan (4) memastikantersedianya berbagai ragam topik penelitiankebijakan. Semoga terselenggaranya kegiatan inimendorong dan memotivasi para peneliti kebijakandan lembaga penelitian kesehatan untuk terus memperjuangkanupaya perbaikan sistem kesehatan.Selamat membaca
- …
