1,721,154 research outputs found
Musik Dewa-Dewa Dalam Upacara Erau Pelas Benua Di Guntung Kota Bontang Kalimantan Timur
Erau Pelas Benua Guntung adalah sebuah upacara ritual yang pelaksanaannya dilaksanakan oleh masyarakat Kutai Guntung Bontang Kalimantan Timur. Erau berlangsung selama tujuh hari. Dalam upacara ini ritual Erau tidak bisa dilaksanakan apabila belum diadakannya ritual Pelas Benua. Pelas Benua adalah sebuah ritual mengelilingi empat penjuru mata angin di daerah Guntung sebagai wujud untuk membersihkan dari hal-hal negatif. Ritual ini menggunakan musik dewa-dewa sebagai pengiring belian berkomunikasi dengan dewa semega yaitu dewa yang menguasai alam semesta. Penelitian ini menggunkan metode kualitatif dengan prespektif Etnomusikologi. Musik dewa-dewa adalah musik ritual yang khusus digunakan dalam prosesi Pelas Benua. Musik dewa-dewa adalah sebuah ansambel yang terdiri dari intrumen Klentangan, Gong, Gendang dan Gimar. Fungsi musik dewa-dewa dalam upacara ini ada tiga yaitu adalah sebagai sarana komunikasi, sebagai fungsi ritual, dan sebagai respon fisik. Bentuk penyajian musik dewa-dewa selalu tidak terlapas dari konteks upacara Pelas Benua dan disajikan secara Ansambel
Musik Dewa-Dewa Dalam Upacara Erau Pelas Benua di Guntung Kota Bontang Kalimantan Timur
Erau Pelas Benua Guntung is the ritual ceremony that held by Kutai Guntung society Bontang, East Borneo. Erau will be held for seven days. In this ceremony, the erau ritual can’t be held if they are not doing the Pelas Benua. Pelas Benua is a ritual that sorrounds the four direction of the wind in Guntung as the form to clean up from the negative things. This ritual using Dewa-Dewa music as accompanist, the belian communicate to Dewa Semega, He is The God who control the universe. This research using qualitative method with ethnomusicology perspective. Music Dewa-Dewa is ritual music which is specially used in Pelas Benua procession. Music Dewa-Dewa is an ansamble which consist Klentangan, Gong, Gendang and Gimar instrument. There are three function of Dewa-Dewa music in this ceremony, as communication, ritual function, and physical response. The form of presentation music Dewa-Dewa always can not be separated with form the context of Pelas Benua ceremony and presenting as the ansamble
ANALISIS PENGARUH DEWA-DEWA BUDDHA DI CINA DAN HINDU DI INDIA TERHADAP SHICHIFUKUJIN DALAM KEPERCAYAAN SHINTO
ANALISIS PENGARUH DEWA-DEWA BUDDHA DI CINA DAN HINDU DI INDIA TERHADAP SHICHIFUKUJIN DALAM KEPERCAYAAN SHINTO - Hindu, Buddha, Shinto, Shichifukuji
Dewa-Dewa Jahat: Kisah-kisah Legendaris tentang Para Dewa Kuno Pembawa Malapetaka bagi Umat Manusia
Buku Dewa-Dewa Jahat karya Walid Fikri menyuguhkan kisah-kisah legendaris dari berbagai peradaban kuno tentang dewa-dewa yang tidak membawa keselamatan, melainkan malapetaka bagi umat manusia. Dengan pendekatan naratif yang menggugah dan riset yang mendalam, penulis mengupas tokoh-tokoh mitologis yang dikenal karena kekejaman, dendam, hingga kehancuran yang mereka sebabkan, mulai dari mitologi Mesir, Yunani, hingga budaya Timur kuno. Buku ini mengajak pembaca untuk menelusuri sisi gelap mitologi yang jarang diangkat, serta menyoroti bagaimana kisah-kisah ini mencerminkan ketakutan, harapan, dan nilai-nilai masyarakat pada zamannya. Sebagai karya yang menggabungkan sejarah, antropologi, dan narasi populer, buku ini cocok bagi siapa saja yang tertarik pada mitologi dunia dan sisi kelam dari cerita-cerita para dewa.vi, 272 hlm, 13 x 20 c
“AFIKSASI DALAM NASKAH ASAL SEGALA JIN DAN DEWA-DEWA”
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang penggunaan Afiksasi dalam
Naskah Asal Segala Jin dan Dewa-dewa berdasarkan proses, peristiwa morfofonemik,
klasifikasi kata, dan makna gramatikal. Penelitian ini tidak terikat tempat. Penelitian ini
berlangsung antara Februari 2017 sampai dengan Juli 2017. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dengan telaah analisis isi. Fokus
penelitian ini pada penggunaan Afiksasi dalam naskah Asal Segala Jin dan Dewa-dewa.
Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dibantu oleh tabel analisis. Objek
pada penelitian ini adalah naskah Asal Segala Jin dan Dewa-dewa. Berdasarkan analisis
data diperoleh informasi: Dari 387 kata berafiks diteliti, terdapat 186 data (48,1%) yang
melalui proses prefiksasi pembentuk verba, 10 data (2,6%) yang melalui proses prefiksasi
pembentuk nomina, 3 data (0,8%) yang melalui proses prefiksasi pembentuk adjektiva, 7
data (1,8%) yang melalui proses infiksasi pembentuk nomina, 17 data (4,4%) yang
melalui proses sufiksasi pembentuk verba, 24 data (6,2%) yang melalui proses sufiksasi
pembentuk nomina, 0 data (0%) yang melalui proses sufiksasi pembentuk adjektiva, 9
data (2,3%) yang melalui proses konfiksasi pembentuk verba, 28 data (7,3%) yang
melalui proses konfiksasi pembentuk nomina, 1 data (0,3%) yang melalui proses
konfiksasi pembentuk adjektiva, 102 data (26,4%) yang melalui proses klofiksasi
pembentuk verba, dan 0 data (0%) yang melalui proses klofiksasi pembentuk adjektiva
yang ditemukan dalam naskah Asal Segala Jin Dan Dewa-Dewa. Dari 387 kata berafiks
ditemukan 301 data yang memiliki makna gramatikal verba yang berkomponen makna
utama tindakan : 158 data (41%), sasaran : 123 data (32%), dan lainnya : 20 data (5,2%),
Terdapat 75 data yang memiliki makna gramatikal nomina yang berkomponen makna
utama hasil : 39 data (10%), pelaku : 15 data (3,88%), dan lainnya : 21 data (5,4%).
Terdapat 11 data yang memiliki makna gramatikal adjektiva yang berkomponen makna
utama sikap batin dan kesan indera masing-masing : 3 data (0,8%) dan lainnya 5 data
(1,3%). Dari hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa prefiksasi pembentuk verba
sangat mendominasi. Makna gramatikal verba tindakan dominan digunakan karena kata
berafiks inilah yang dapat memenuhi ‘konsep’ dalam penggambaran peristiwa alur dan
plot melalui tindakan atau perbuatan tokoh dalam naskah Asal Segala Jin dan Dewadewa. Dominasi prefiksasi pembentuk verba tindakan dalam naskah Asal Segala Jin dan
Dewa-dewa dapat terjadi karena menunjukkan bagaimana cara tokoh dalam melakukan
tindakan/perbuatan yang menghubungkan rangkaian peristiwa alur/plot. Di dalam
pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA, penggunaan afiksasi dapat dijadikan
sebuah pengembangan materi bagi guru agar dapat meningkatkan kemampuan berbahasa,
terutama kompetensi menulis.
This research aims to gain information about the use of Afiksasi in the paper the origin
of All Jin and gods based on the process, events morfofonemik, classification, and
grammatical meaning. These studies uncommitted spot. This research took place
between February 2017 until July 2017. The methods used in this research is descriptive
qualitative method, with deep analysis of the contents. The focus of this research on the
use of Afiksasi in the paper the origin of all the Jin and the gods. The research
instruments were the researchers themselves who are assisted by the table analysis. The
object of this research is the origin of all the Jin and the gods. Based on the analysis of
data obtained information: From 387 words berafiks researched, there are 186 data
(48.1%) through the process of prefiksasi-forming verbs, 10 (2.6%) through the process
of noun-forming prefiksasi, 3 data (0.8%) through the process of prefiksasi-forming
adjectives, 7 data (1.8%) through the process of noun-forming infiksasi, 17 data (4.4%)
through the process of sufiksasi- forming verbs, 24 data (6.2%) through the process of
noun-forming sufiksasi data,
0 (0%) through the process of sufiksasi-forming adjectives, 9 data (2.3%) through the
process of konfiksasi-forming verbs, 28 data (7.3%) through the process of nounforming konfiksasi, 1 data (0.3%) through the process of konfiksasi-forming adjectives,
102 data (26.4%) through the process of klofiksasi-forming verbs, and
0 (0%) data through the process of klofiksasi-forming adjectives found in the
Original manuscripts of all the Jin and the gods. Of the 387 words berafiks found
301 data that have grammatical meaning of verb berkomponen meaning the main
actions: 158 data (41%), goals: 123 data (32%), and more: 20 data (5.2%), there are
75 data has meaning grammatical noun berkomponen meaning the main results:
39 data (10%), actors: 15 data (3.88%), and others: 21 data (5.4%). There are 11 data
which has the meaning of the adjective berkomponen grammatical meaning of the main
inner attitude and sensory impression each: 3 data (0.8%) and
5 other data (1.3%). From the results of the analysis, it can be concluded that the
prefiksasi verb-forming very dominate. Grammatical meaning of verb dominant action
is used because the word berafiks this is can meet the ' concept ' in the depiction of the
events of the plot and the plot through the actions or conduct of the characters in the
Original script All the Jinn and the gods. Action verbs-forming prefiksasi dominance in
the paper the origin of all the Jin and the gods can happen because it shows how the
characters in performing actions/deeds that chain of events linking plot/plot. In the
Indonesia language and literature study in high school, the use of afiksasi can be used
as a development of material for teachers in order to improve the language proficiency,
especially writing competence
ARCA VISNU CIBUAYA II DALAM PERBANDINGAN
Untuk mempelajari bentuk-bentuk-arca, dalam hal ini arca-arca dewa, harus diperhatikan apa yang mendasari pembuatan arca tersebut. Perwujudan dewa ke dalam bentuk arca disebabkan oleh adanya dorongan untuk mengkonkritkan bentuk-dewa-dewa tersebut yang semula merupakan suatu gambaran yang abstrak. Dengan tujuan itu kemudian dewa-dewa diwujudkan dalam bentuk yang dapat dilihat dan diraba, yaitu dalam bentuk arca.
 
Mitos Asal Usul Manusia Jawa: Paramayogo Ronggowarsito
Paramayoga merupakan karangan pendahulu dari Pustakaraja Purwa, sebuah karya prosa terbesar dari Ronggowarsito. Paramayoga adalah dongeng tentang asal usul manusia Jawa dan sejumlah fakta geografis di Nusantara. Sebagai sebuah dongeng tentu Paramayoga ini bersifat irasional dan mitis. Sinkretismenya yang sangat kuat secara paksa menyusun suatu garis silsilah dari Nabi Adam, dewa-dewa Hindu hingga dewa-dewa Nusantara -- tentulah memperkuat irasionalitas itu. Akan tetapi, sebuah mitos memiliki nalarnya sendiri; bagaimanapun kisah ini merupakan salah satu cara orang Jawa dalam menjelaskan dunia
PEMUJAAN HARITI DI TROWULAN
Dalam kesempatan ini akan dibicarakan mengenai pemujaan Hariti di kawasan Trowulan. Pendekatan masalah ini tentu saja didukung dengan data arkeologis berupa arca Hariti koleksi museum Trowulan dan koleksi museum Mojokerto dalam perbandingan. Hal ini menarik untuk dikemukakan karena selama ini karya-karya ilmiah arkeologis tentang pemujaan pantheon dewa masih terbatas pada dewa-dewa yang mempunyai kedudukan tinggi (mayor deities), sedangkan untuk dewa-dewa rendah (minor deities) masih sedikit dibicarakan
MAKNA AGAMA
religion atau agama merupakan suatu istilah yang lahir dalam konteks budaya yang dimaknai sebagai suatu bentuk penyembahan kepada Dewa-dewa
- …
