Berkala Arkeologi (E-Journal)
Not a member yet
819 research outputs found
Sort by
Komparasi Motif Lukisan Kulit Kayu Asei Dari Masa Lalu Hingga Masa Kini: Perkembangan Lukisan Kulit Kayu Sejak Abad ke-20 Hingga Masa Kini di Kampung Asei, Sentani, Papua
In human life, the development of ideas through painting has been done since ancient times. Symbols and strokes are believed to be a means of conveying messages. The expression of the painting is applied to natural canvases such as cave walls, large rocks, and even bark. In the community of Asei village, Sentani, a painting in the past was applied to the clothes of a Ondoafi made of bark. The painting reflects their lives and their beauty. This paper aims to explain the research results on the shift in nature, meaning, and function of Asei bark paintings in the 20th Century to the present. The research method is descriptive qualitative with an ethnoarchaeological approach. The result indicates that bark paintings are no longer only considered as works of art, but also as a supporter of the family economy, as well as being a distinctive product of Asei, Sentani, commercial in nature.Sebelum manusia mengenal tulisan, lukisan merupakan simbol bermakna yang digunakan untuk menyampaikan pesan pada orang lain. Kebiasaan itu menunjukan adanya tingkat peradaban bagi masyarakat pendukung budaya tersebut dalam bidang seni terutama seni lukis. Perkembangan seni lukis menjadi bagian dalam perjalanan kehidupan etnis Sentani khususnya masyarakat kampung Asei. Seni lukis kulit kayu menjadi suatu pengetahuan lokal yang saat ini sangat bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat Asei. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika perjalanan budaya lukisan kulit kayu Aseietode yang digunakan adalah analisis komparatif dengan model penelitian deskriptif. Motif lukisan Asei masa lalu lebih menggambarkan kehidupan mereka secara adat yang sederhana, terampil dan taat aturan juga rasa cinta pada alam, sedangkan pada masa kini keberlanjutan nilai sebuah tradisi seni sudah meningkat tidak lagi hanya menampilkan suatu estetika tetapi juga menunjukan nilai jual
Tinjauan kembali temuan butir pati Triticeae pada kalkulus gigi rangka manusia Situs Plawangan, Rembang: Tinjauan Kembali Temuan Butir Pati Triticeae pada Kalkulus Gigi Rangka Manusia Situs Plawangan, Rembang
The extraction of plant micro remains from the dental calculus of human remains at the Plawangan site yielded a starch grain. Preliminary analysis with a limited reference sample suggested that the starch indicated the consumption of cereal from the Triticeae plants, specifically wheat or barley, in the early AD. This article aims to reassess the starch previously identified as belonging to the Triticeae. The starch was re-examined using descriptive-qualitative and multivariate comparative analyses, including LDA and cluster analysis. The data used were wheat and barley starch reference samples extracted from fresh plants. The result demonstrated that the starch from the dental calculus was not origin from Triticeae, particularly wheat and barley. This was due to the primer difference in surface area. The result also invalidated the initial interpretation suggesting the consumption of wheat or barley at the Plawangan site in the early AD.Ekstraksi sisa tumbuhan mikro yang dilakukan pada kalkulus gigi temuan rangka manusia Situs Plawangan mendapatkan sebuah butir pati. Analisis awal yang minim sampel referensi telah menduga bahwa butir pati tersebut sebagai bukti konsumsi tumbuhan sereal Triticeae berupa gandum atau barli pada awal Masehi. Artikel ini bertujuan untuk meninjau kembali butir pati yang diidentifikasi sebagai Triticeae tersebut. Butir pati Triticeae diidentifikasi kembali dengan analisis perbandingan secara deskriptif-kualitatif dan multivariat berupa LDA dan analisis kluster. Data yang digunakan yaitu sampel referensi butir pati gandum dan barli yang diekstraksi dari tumbuhan segar. Hasil analisis menunjukkan bahwa butir pati dari kalkulus gigi bukan berasal dari tumbuhan Triticeae, khususnya gandum dan barli. Hal ini disebabkan perbedaan utama pada luas permukaannya. Hasil tersebut juga menggugurkan interpretasi awal yang menduga adanya aktivitas konsumsi gandum atau barli di Situs Plawangan pada awal Masehi
Mr: Preservasi Naskah Kuno : Studi Kasus Perpustakaan Pribadi Kemas Andi Syarifuddin di Kota Palembang
This paper explores the preservation of ancient manuscripts in the private library of Kemas Andi Syarifuddin in Palembang. The study focuses on three key aspects: 1) the factors contributing to manuscript deterioration, 2) the owner's knowledge of ancient manuscript preservation, and 3) the preservation efforts undertaken. The research employs methods such as data collection, observation, interviews, documentation, and document analysis to gain a comprehensive understanding. Findings indicate that manuscript damage results from chemical factors like oxidation and humidity, biological factors such as mold and insects, and human-related factors like improper handling. The owner possesses substantial knowledge of preservation and has taken measures including proper storage, digitization, transliteration, and the use of traditional materials like tobacco and camphor to prevent damage. However, preservation efforts face challenges such as limited resources, inadequate understanding of modern conservation techniques, and potential natural disasters. This study offers valuable insights into manuscript preservation and serves as a reference for private and public libraries in safeguarding cultural heritage.This paper discusses the preservation of ancient manuscripts in the private library of Kemas Andi Syarifudin in Palembang. The focus of the study includes: 1) the factors causing damage to the manuscript collection, 2) the owner's knowledge of ancient manuscript preservation, and 3) the preservation efforts that have been undertaken. The methods used include data collection, observation, interviews, documentation, and document analysis. The research reveals that manuscript damage is caused by chemical, biological, physical, and human factors. The owner is knowledgeable about damage prevention and has implemented measures such as proper storage, digitization, transliteration, and traditional methods using cloves and camphor. Challenges include limited resources, a lack of understanding of proper preservation techniques, and the risk of natural disasters. This study provides valuable insights into ancient manuscript preservation and can serve as a reference for both private and public libraries in maintaining cultural heritage
Morfotipologi Butir Pati dari Tumbuhan Pangan Papua dan Aplikasinya untuk Arkeobotani: Morfologi butir pati dari tumbuhan pangan lokal Papua sebagai Referensi Studi Arkeobotani pada konteks Arkeologi
Starch grains in archaeological sites are essential to reveal the use of plants and human subsistence. This paper aims to provide reference to starch grain from local food plants originating from Papua Island. We use two methods for extracting samples: starch grains from raw and processed plant samples. We examine the starch grains using a 400x magnification polarisation microscope and ICSN 2011 to identify them. The morphological and morphotypological characteristics of starch grain from each plant are determined by applying univariate and multivariate statistical analysis. The results showed changes in the structure of the starch grain from the processed plant samples. The starch grains from the raw plant samples had different morphological and morphotypical characteristics. Variations in the shape and morphometry of starch grains are associated with typical starch from certain plants. This study provides a practical reference for identifying starch grains from archaeological sites, such as the Atiat and Karas sites.Temuan butir pati dalam situs arkeologi menjadi indikasi penting untuk memahami bagaimana pemanfaaatan tumbuhan dan teknologi subsistensi manusia pada masa lalu. Namun sayang, tidak semuan temuan butir pati dapat dianalisis dengan jelas karena minimnya referensi. Tulisan ini bertujuan untuk menyajikan referensi butir pati dari tanaman pangan lokasl yang berasal dari Pulau papua, khususnya dari wilayah Sentani dan Wamena. Pengumpulan tanaman dilakukan secara langsung pada masyarakat adat serta pengumpulan di pasar tradisional. Ekstraksi sampel dilakukan dengan dua metode yaitu butir pati mentah dan butir pati yang telah diolah. Identifikasi butif pati menggunakan mikrokup polarisasi pembesaran 400x. Identifikasi bentuk butif pati bentuk menggunakan acuan ICSN 2011. Analisis statistik dengan univariat dan multivariat digunakan untuk mengetahui kecenderungan morfologi dan morfotipologi dari masing-masing butir pati tanaman. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan struktur pada butir pati yang telah diolah, sementara untuk bentuk butir pati mentah terdapat beberapa kemiripan morfometri dan morfotipologi. temuan ini dapat digunakan sebagai referensi identifikasi temuan strach dari situs arkeologi terutama di Papua, terutama dari situs Atiat dan Karas dan berpotensi untuk situs lainnya.
 
Memetakan Sebaran Lanskap Budaya pada Situs Kesultanan Serdang dan Situs Kerajaan Bedagai di Kabupaten Serdang Bedagai: Memetaan Perubahan Lanskap dan Sebaran Objek Lanskap Budaya pada Situs Kesultanan Serdang dan Situs Kerajaan Bedagai di Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara
Serdang Bedagai Regency was formerly the territory of the Serdang Sultanate, the Bedagai Kingdom, Padang, and Bajalinggei. Numerous historical landscape remains dating back more than 50 years have been identified in the form of objects, buildings, structures, and sites. Several challenges remain, including limited identication, dokumentation, and maintenance effort, as well as issues related to population growth, land conversion, land conflicts, and zoning regulations. The main objective of this study is to map landscape changes and the distribution of cultural landscape objects inherited by the Serdang Sultanate Site and the Bedagai Kingdom Site. The method used is qualitative and spatial descriptive analysis with a Landscape Character Assessment approach. As a result, The findings reveal that Sergai Regency prossesses two Regency-level Cultural Heritage Sites. A total of 50 registered objects and 29 New Discoveries. The results of the map delineation indicate that significant landscape changes have occurred. Factors influencing landscape changes are the social revolution of 1946, the absence of zoning and a preservation agenda, minimal budget, land conversion, land conflicts, and the rate of population growth. The Serdang Palace Complex has been converted into housing and there are 16 new object discoveries, while at the Bedagai Kingdom Site there are two Kingdom site locations with 6 newly discovered object.Kabupaten Serdang Bedagai (Kab Sergai) merupakan wilayah administrasi yang dahulu menjadi wilayah kekuasaan dari 4 kerajaan yakni Kesultanan Serdang, Kerajaan Bedagai, Padang dan Bajalinggai. Banyak di temukan peninggalan lanskap budaya berumur lebih dari 100 tahun berupa Benda, Bangunan, Struktur, Situs dan Kawasan yang berstatus Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) dan cagar Budaya (CB). Problematika yang terjadi seperti minimnya identifikasi, pendataan dan pemeliharaan, anggaran, Pertumbuhan penduduk, alih fungsi lahan dan konflik lahan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan dan sebaran lanskap budaya peninggalan Situs Kesultanan Serdang (Situs-KS) dan Situs Kerajaan Bedagai (Situs-KB). Metode yang digunakan secara umum adalah analisis deskriptif kualitatif dan spasial dengan pendekatan Landscape Character Assesment (LCA). Hasilnya, Kab-Sergai memiliki 2 Cagar Budaya tingkat Kabupaten. Total ODCB yang terdaftar sebanyak 50 objek dan 26 objek temuan baru yang berstatus OPS. Deliniasi peta dari tahun 1872 hingga 2023 pada dua lokasi penelititan telah terjadi perubahan lanskap yang signifikan. Komplek Istana Serdang sudah berubah menjadi perumahan dan terdapat 15 temuan objek baru. Sedangkan pada Situs Kerajaan Bedagai terdapat dua lokasi situs Kerajaan dengan 6 temuan objek baru