Berkala Arkeologi (E-Journal)
Not a member yet
    819 research outputs found

    The Pesanggrahan Krapyak Giriwoyo: Identifikasi Kerusakan dan Strategi Penanganannya

    No full text
    Pesanggrahan Krapyak Giriwaya is one of the buildings inherited from Kasunanan Surakarta Hadiningrat built by Sri Susuhunan Pakubuwono X. This building is generally in a well-maintained condition. However, many damages require immediate treatment. This research was carried out to identify damage and recommend appropriate treatment. This research uses a qualitative rationalistic method with a focus on observing physical damage in the buildings. Identification of damage becomes the basis for recommendations and handling strategies for conservation activities. The results of the research show that the Pesanggrahan Krapyak Giriwaya building has important historical, scientific, and cultural value, so it needs to be preserved. The building leaks the roof which causes damage to the wood, walls, and floor. Handling of building damage is done by replacement or repair using materials that are suitable or close to the original materials. Apart from that, damage management is carried out through a combination of the use of natural ingredients and chemicals.Pesanggrahan Giriwaya merupakan salah satu pesanggrahan peninggalan Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dibangun oleh Sri Susuhunan Pakubuwono X. Kondisi pesanggrahan saat ini dalam kondisi terawat, namun terdapat beberapa kerusakan yang harus segera ditangani agar supaya mempercepat kerusakan bangunan. Penelitian ini menggunakan metoda rasionalistik kualitatif, yang dititik beratkan pada pengamatan kerusakan fisik bangunan, analisis dan kesimpulan rekomendasi dan arahan untuk kegiatan pelestarian. Langkah-langkah kegiatan meliputi inventarisasi kerusakan dan diagnosis kerusakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan pesanggrahan Giriwaya memiliki nilai penting sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan sehingga perlu untuk dilestarikan. Pesanggrahan Krapyak Giriwaya mengalami kebocoran bagian atapnya yang menyebabkan kerusakan pada bagian kayu, dinding, dan lantai bangunan. Penanganan kerusakan bangunan dilakukan dengan mengganti atau menambal dengan menggunakan material yang sesuai atau mendekati material aslinya. Strategi penanganan kerusakan menggunakan perpaduan antara penanganan dengan menggunakan bahan alami dan bahan kimia. Kata kunci: Pesanggrahan Giriwaya, analisis kerusakan, konservasi kayu, dinding bat

    COVER VOLUME 17 NO. 2 NOVEMBER 1997

    No full text

    RECOMMENDATIONS ON CULTURAL HERITAGE SITE MANAGEMENT PLAN FOR THE PUNJULHARJO BOAT IN REMBANG, CENTRAL JAVA: REKOMENDASI RANCANGAN PENGELOLAAN SITUS CAGAR BUDAYA PERAHU PUNJULHARJO DI REMBANG, JAWA TENGAH

    No full text
    Abstract The Punjulharjo boat is a wooden watercraft, built in the traditional Southeast Asian boat building technique called lashed-lug tradition. It was found in 2008, excavated, and later was dismantled for a lengthy conservation process. In early 2018, the hull was reassembled to be displayed for public. The site where the boat was found, and now displayed, has been listed as a heritage site under the Regulation of The Minister of Culture and Tourism No. 57 of 2010, but a management plan of it is still non-existent. Recommendations in this proposed management plan was amassed in accordance to international standards on site management plan. Data was collected from direct site observation, with the assistance of consultations to related references. This plan outlines objectives and strategy in managing the Punjulharjo site, and hopefully can serve as guidelines for the Regional Government of the District of Rembang as the manager of the site. Abstrak Perahu kayu Punjulharjo adalah salah satu alat transportasi air tradisional yang dibuat dengan teknik tambuku-terikat khas Asia Tenggara. Perahu ini ditemukan pada tahun 2008, kemudian dieksvasi dan setelahnya dibongkar untuk dikonservasi dalam proses yang cukup panjang. Pada awal tahun 2018, kayu-kayu lambung kapal direkonstruksi dan dipamerkan kepada masyarakat. Perahu ini telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No.57 tahun 2010. Akan tetapi, belum ada perencanaan pengelolaan yang dapat menjamin kelestarian situs Perahu Punjulharjo ini.  Rekomendasi dalam rancangan pengelolaan ini disusun dengan mengacu pada standar international rencana pengelolaan situs cagar budaya. Data untuk penyusunan rencana pengelolaan ini diperoleh dari pengamatan langsung di situs dan dilengkapi dengan penelusuran referensi terkait. Rencana pengelolaan ini menjabarkan strategi dan langkah-langkah pengelolaan yang perlu diterapkan untuk perlindungan dan pelestarian situs, yang diharapkan dapat digunakan sebagai acuan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Rembang sebagai pengelola situs perahu Punjulharjo

    MAJAPAHIT DALAM LINTAS PELAYARAN DAN PERDAGANGAN NUSANTARA

    No full text
    Majapahit has been known as agrarian and maritime kingdom as well, with a territory covered almost as wide as the nowadays Republic of Indonesia region, excluding part of Papua and West Java (the Sundanese Kingdom). This was the condition after Gajah Mada well-known vow, the Palapa. Long before MahÄpatih Gajah Mada spoke his vow, from the year 1292 CE inscription of Camundi one’s learned that the consecration of the statue of Bhattari Camundi during the time of ÅšrÄ« MahÄrÄja KÄ›rtanÄgara from SiÅ‹hasÄri was a token of his success in bringing all the areas and many islands around under his power. And that means that the idea of expanding the Java mandala had been managed by ÅšrÄ« MahÄrÄja KÄ›rtanÄgara since the 1270-s before the inscription of Camundi was established. Based on available written sources (scripts and inscriptions) and being compared to SiÅ‹hasÄri maṇá¸ala expansion, regions that were under Majapahit’s authority covered only parts of Central Java, East Java, Madura, Bali and Sumbawa. Majapahit’s power was very depended on the services of the coastal ports such as Kambangputih, Siddhayu, Gresik, Surabhaya, and Canggu. And as to it Majapahit established powerful navy arms to secure the Majapahit waters in the Java Sea. The Babad Lasam mentioned Lasam to be the port where RÄjasawarddhana (Bhre Matahun) warships anchored. RÄjasawarddhana was the ruler of Lasam who happened to be Hayam Wuruk's relatives. All these warships were assumed to protect Majapahit's waters in the Java Sea

    PEMILIHAN LOKASI SITUS DI PALEMBANG: TINJAUAN EKOLOGI

    No full text
    Culture is a human effort to adapt to its environment, including in terms of constructing a building or religious site. In constructing a building it is influenced by several factors, for example due to ecological, economic, political and religious factors. Site placement in the Palembang area can be approached from an ecological approach. Based on available data, the archaeological sites in Palembang are all located on the right side of the Musi River. It turns out that based on the altitude of the place, the right side of the river is higher than the left side. &nbsp

    POLA-POLA HIAS TOPENG (KEDOK), SUATU KAJIAN FUNGSIONAL

    No full text
    Pola hias kedok (topeng) di Indonesia muncul sejak masa berburu dan mengumpul makanan tingkat lanjut (epipaleolitik) (Van Heekeren, 1972). Munculnya pahatan kedok pada masa tersebut ditandai dengan bentuk-bentuk muka manusia yang digambarkan pada ceruk-ceruk gua karang

    SUMBER DAYA FAUNA, AKTIVITAS PERBURUAN, DAN PEMANFAATAN BINATANG PADA KALA PASCA PLESTOSEN DI JAWA TIMUR

    No full text
    Kala Pasca Plestosen dimulai kira-kira 10.000 tahun yang lalu, setelah berakhirnya masa glasial terakhir. Berakhirnya masa glasial tersebut menyebabkan beberapa perubahan yang cukup penting. lklim menjadi lebih panas, terjadi pengurangan biomassa hutan, pengeringan danau-danau, dan meluasnya padang pasir di Australia, Afrika, Timur Tengah, India, dan Amerika Selatan (Bellwood, 1985: 33). Zona vegetasi dan hutan-hutan di belahan bumi utara bergeser ke arah utara dan terjadi kenaikan permukaan garis pepohonan di gunung-gunung di seluruh dunia (Lamb, 1928: 27). Berbagai jenis fauna, terutama yang berukuran raksasa, mengalami kepunahan atau proses pengkerdilan (Jazanul Anwar dkk, 1984: 44-45; Bellwood, 1985: 36-37). Sementara itu, semua daratan yang semula terbentuk karena turunnya permukaan air laut kemudian tergenang kembali oleh laut, termasuk di antaranya paparan Sunda dan Sahul (Soejono, 1984: 126)

    PANDANGAN LAIN TENTANG KEPURBAKALAAN DI PULAU SELAYAR: TINJAUAN TENTANG MASA KLASIK DAN PROSES ISLAMISASI

    No full text
    Dewasa ini Pulau Salayar menjadi Daerah Tingkat II di Propinsi Sulawesi Selatan. Sejak abad XIV pulau itu sudah dikenal dalam percaturan perekonomian. Dalam naskah Lontara, pulau itu juga disebut Gantaran yang menurut pelafalan setempat menjadi Gantarang. Nama Gantaran adalah nama tempat di pulau itu yakni Gantarankeke dan Gantaranlalangbata. Pusat pemerintahannya terdapat di ibu kota yang bernama Benteng. Nama kota tersebut amat menarik untuk di teliti sebab termasuk kota tua. Dalam Laporan VOC, nama Benteng sering disebut bahkan pernah menjadi tempat kedudukan cabang VOC

    GUA SONG AGUNG DI PACITAN: STUDI PENDAHULUAN TENTANG TEMUAN DAN MASA HUNIANNYA

    No full text
    Sebagian besar situs arkeologi di daerah Pacitan, Jawa Timur terletak di Kecamatan Punung. Di daerah ini ditemukan artefak-artefak yang hampir mewakili seluruh periodisasi prasejarah di Indonesia. Temuan alat-alat batu paleolitik ditemukan di Kali Baksoka, dan beberapa sungai di daerah Tabuhan. Temuan-temuan dari masa yang lebih muda di temukan pula di lembah Kali Baksoka, Ngrijangan, Teleng dan Gua Songterus di Tabuhan

    0

    full texts

    819

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berkala Arkeologi (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇