140 research outputs found

    Gamelan Gambang Dalam Ritual Mapurwadaksina Pada Upacara Maligia Lajur Di Puri Bukit Bangli Bali

    Full text link
    AbstrakPenelitian ini membahas mengenai penyajian dan makna musikal gamelan gambang serta keterlibatannya dalam ritual mapurwadaksina pada upacara maligia lajur di Puri Bukit Bangli, Bali. Teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teori semiotika pertunjukan dari Marco De Marinis untuk membedah tekstual dan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce untuk membedah makna musikal gamelan gambang. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang didasari dari pengalaman individual. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, studi lapangan (observasi dan dokumentasi), dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penyajian gamelan gambang mencangkup aspek-aspek yang terdiri dari pelaku, busana, tata panggung, sarana upacara dan musik. Dalam pembahasan kontekstual, Makna musikal gamelan gambang ketika mengiringi ritual mapurwadaksina pada upacara maligia lajur di Puri Bukit Bangli diantaranya gamelan gambang sebagai tanda representament dan ritual mapurwadaksina dalam upacara maligia lajur adalah sebagai objek, sedangkan masyarakat Puri Bukit sebagai interpretan.Kata Kunci: Gamelan Gambang, Maligia Lajur, Puri Bukit BangliAbstractThis research discusses the presentation and musical meaning of gamelan gambang and involvement in the mapurwadaksina ritual at the maligia lajur ceremony at Puri Bukit Bangli, Bali. The theories used in this research include the semiotic of performance theory by Marco De Marinis for textual analysis, and the semiotic theory proposed by Charles Sanders Peirce to dissect the musical meaning of gamelan gambang. The method used is qualitative research with a phenomenological approach, based on individual experience. Data collection techniques include interviews, field studies (observation and documentation), and literature studies. This research shows that the presentation of gamelan gambang encompasses aspects such as performers, clothing, stage settings, ceremonial equipment, and music. In the contextual discussion, the musical meaning of the gamelan gambang when accompanying the mapurwadaksina ritual in the maligia lajur ceremony at Puri Bukit Bangli, is that the gamelan gambang serves as a representation, the mapurwadaksina ritual in the maligia lajur ceremony serves as an object, and the Puri Bukit Bangli community serves are the interpretants. Keywords: Gamelan Gambang, Maligia Lajur, Puri Bukit Bangli

    MAKNA TEKS PADA LAGU OUD BATAVIA OLEH GRUP MUSIK KRONTJONG TOEGOE

    Full text link
    This study examines the song Oud Batavia by the music group Krontjong Toegoe, focusing on its creation process, musical characteristics, and its social, cultural, emotional, and educational functions. The method used is the diachronic historical method, and data collection obtained from literature sources and other sources in physical and digital form as well as direct interviews with Kerontjong Toegoe actors to trace the meaning of the song text which has undergone changes and developments along with the underlying social, cultural and historical dynamics.The analysis is based on Jean-Jacques Nattiez’s theory of musical semiotics, where the textual aspect is analyzed using semiotics to reveal the meaning of the song's lyrics. The findings show that, first, the creation of Oud Batavia was influenced by the social and cultural life of Batavia in the early to mid-20th century. Second, the musical form of this song combines elements of traditional keroncong music with European cultural influences, featuring a musical structure that blends the keroncong style with the European Waltz style. Third, the functions of Oud Batavia include cultural preservation, a medium of communication, a tool for learning history, music and arts education, and the instillation of cultural values

    Transformasi Penyajian Kesenian Bantengan Di Kabupaten Malang, Jawa Timur

    Full text link
    Pertunjukan kesenian Bantengan di wilayah Kabupaten Malang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat setempat. Kostum yang menyerupai banteng dan iringan musik tradisional gamelan yang sudah dikreasikan membuat pertunjukan ini selalu menarik perhatian masyarakat Malang. Perkembangan yang dialami kesenian Bantengan bukan sebuah kemunduran, melainkan merupakan proses kreatif yang bertujuan untuk menjaga keberlanjutan dan eksistensi warisan kesenian leluhur. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan secara etnomusikologi.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa bantengan merupakan seni pertunjukan yang  memadukan unsur tari, musik, beladiri, dan ritual dalam satu kesatuan pertunjukan yang kaya akan nilai-nilai budaya dan spiritual. Bentuk sajian bantengan terbagi menjadi bantengan tradisional dan bantengan kreasi. Bantengan khusunya di kabupaten Malang mengalami transformasi. Wujud dari adanya transformasi pada kesenian ini dilihat dari musik pengiring digantikan oleh musik elektronik. Kemunculan Sound Horeg mempengaruhi aspek sajian kesenian Bantengan. Hubungan dan keterkaitan Sound Horeg dengan Kesenian Bantengan menimbulkan pro dan kontra. Banteng yang digunakan pada kesenian itu sendiri kini telah berubah dengan inovasi dan kreativitas masyarakat.  Erat kaitanya Kesenian Bantengan dengan sumber daya manusia, khususnya masyarakat sekitar kelompok Kesenian banyak merasakan manfaat dari adanya kelompok Kesenian Bantengan ini, dikarenakan bisa menjadi lapangan pekerjaan

    KERONCONG KIAI KANJENG SEBAGAI MEDIA DAKWAH DI PLATFORM YOUTUBE

    Full text link
    Keroncong Kiai Kanjeng merupakan cabang dari grup Kiai Kanjeng yang identik dengan gamelannya yang diprakasai oleh Emha Ainun Najib. Keroncong Kiai Kanjeng digagas oleh beberapa personil Kiai Kanjeng yang berinisiatif untuk keluar dari keadaan pandemi Covid-19 yang sedang terjadi. Dari keadaan tersebut semua aktivitas kesenian tidak diperbolehkan. Hal tersebut membuat keroncong Kiai Kanjeng akhirnya memutuskan merambah ke media virtual, yaitu Platform Youtube yang dalam pementasannya dilakukan secara live streaming.Tulisan ini bertujuan untuk memahami dan mengetahui bentuk aktivitas dakwah yang dilakukan oleh Keroncong Kiai Kanjeng dan kajian kontekstual tentang alasan mengapa dalam penyampaian dakwahnya menggunakan genre musik keroncong. Untuk memahami lebih dalam, maka digunakan sebuah metode kualitatif netnografi dengan pendekatan Etnomusikologis. Hasil dari analisis data dalam penelitian ini menunjukan bahwa Keroncong Kiai Kanjeng merupakan sebuah format musik alternatif di masa pandemi Covid-19 dengan tetap menggunakan spirit syiar agama Islam dalam berdakwah yang diketahui melalui lagu-lagu yang dibawakan dan terdapat dua faktor yang melatarbelakangi pemilihan genre musik keroncong, yaitu faktor internal dan faktor eksternal

    Nyanyian Para Penyintas: Paduan Suara Dialita dan Politik Ingatan Genosida 1965 di Indonesia

    Full text link
    Penelitian ini mengkaji peran Paduan Suara Dialita, sebuah kelompok paduan suara yang terdiri dari para perempuan penyintas Genosida 1965 di Indonesia, sebagai subjek subaltern yang menyuarakan pengalaman dan trauma mereka melalui musik. Dengan menggunakan teori subaltern Gayatri Chakravorty Spivak, tulisan ini menganalisis bagaimana Dialita memproduksi wacana tandingan terhadap narasi sejarah dominan yang direpresi oleh negara.  Terbentuk dari komunitas para eks-tahanan politik (tapol) yang mengalami diskriminasi, Dialita bertransformasi menjadi sebuah gerakan budaya yang menyuarakan tuntutan keadilan dan pengusutan tuntas pelanggaran HAM berat 1965.  Melalui album seperti Dunia Milik Kita (2016) dan Salam Harapan (2019), serta kolaborasi dengan musisi muda, mereka berhasil menjangkau generasi muda dan menyebarkan kesadaran akan tragedi kemanusiaan tersebut.  Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun Dialita sebagai kelompok subaltern mampu "berbicara" dan menghasilkan karya yang signifikan , suara mereka belum sepenuhnya "didengar" oleh negara, yang hingga kini belum menunjukkan keseriusan dalam menyelesaikan kasus Genosida 1965.  Dengan demikian, karya Dialita menjadi sebuah pengingat akan pentingnya mendengarkan suara korban untuk mencapai rekonsiliasi dan keadilan sejarah

    BIDUK SAYAK DALAM ACARA LEK PENGANTEN KECIK DI DESA JERNIH KABUPATEN SAROLANGUN PROVINSI JAMBI

    Full text link
    Biduk sayak adalah tradisi lisan berbalas pantun yang dimainkan oleh muda-mudi di Desa Jernih. Biduk adalah perahu atau sampan untuk orang menyusuri sungai dan juga ini diibaratkan sebagai laki-laki dan Sayak adalah tempurung kelapa diibaratakan sebagai perempuan. Biduk sayak dimainkan dalam acara lek penganten kecik, lek penganteng kecik adalah istilah pernikahan terendah dalam masyarakat Desa Jernih. Lagu yang dijadikan sebagai analisis penelitian dalam biduk sayak adalah lagu Becerai Kasih. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Etnomusikologis, teori yang dipakai adalah teori ilmu bentuk musik dari Karl-Edmund Prier SJ dan model tiga tingkatan analisis musik dari Alan P. Merriam. Berdasarkan observasi lapangan bahwa biduk sayak memiliki bentuk lagu satu bagian berulang-ulang, serta biduk sayak sebagai representasif dari acara lek penganten kecik karena biduk sayak adalah representasi dari masyarakat Desa Jernih terlihat pada konsep, kebiasaan, dan musiknya

    GONDANG UNING-UNINGAN GRUP RAP OLO DALAM UPACARA PERKAWINAN ADAT BATAK TOBA DI YOGYAKARTA

    Full text link
    Gondang Uning-uningan merupakan ansambel yang digunakan pada upacara perkawinan adat Batak Toba termasuk di Yogyakarta. Sampai saat ini Gondang Uning-Uningan masih menjadi bentuk solusi dalam mengiringi musik disetiap prosesi upacara perkawinan berlangsung. Ansambel Gondang tidak lepas dari siapa yang memainkannya. Salah satu grup musik Gondang Uning-uningan yang ada di Yogyakarta adalah Grup Musik Rap Olo.Grup Musik Rap Olo merupakan salah satu Grup musik etnis Batak Toba yang sampai saat ini masih eksis khususnya di Yogyakarta. Grup musik Rap Olo sering terlibat mengiringi musik Gondang Uning-uningan pada upacara perkawinan adat Batak Toba di Yogyakarta. Dalam Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana betuk penyajian Grup Musik Rap Olo dan fungsi Gondang Uning-uningan dalam upacara Perkawinan Batak Toba. Metode yang dingunakan yaitu penelitian kualitatif dan pendekatan etnomusikologis yang dibagi menjadi tekstual dan kotekstual. Berdasarkan hasil pengamatan tekstual dari lagu Sitappar Api merupakan lagu satu bagian yang terdiri dari frase tanya jawab dan motif tanya jawab, sementara itu kajuan kontekstual fungsi Gondang Uning-uningan dalam upacara perkawinan adat Batak Toba di Yogyakarta yaitu sebagai, fungsi hiburan, komunikasi, pengungkapan emosional, norma soial, kesinambungan budaya, dan pengintergrasian masyaraka

    Estetika Vokal Marhaban di Sumatera Utara

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek-aspek estetika vokal marhaban yang ada di Sumatera Utara. Teori yang dipakai untuk mendeskripsikan estetika menggunakan Djelatik yaitu wujud atau rupa, bobot atau isi, dan penampilan atau penyajian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menghasilkan data-data deskriptif, menggunakan pendekatan etnomusikologis dan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa elemen estetis dari vokal mahaban memberikan sebuah deskripsi mengenai kesimbangan dalam tataran sosiologi masyarakat melayu Deli.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek-aspek estetika vokal marhaban yang ada di Sumatera Utara. Teori yang dipakai untuk mendeskripsikan estetika menggunakan Djelatik yaitu wujud atau rupa, bobot atau isi, dan penampilan atau penyajian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menghasilkan data-data deskriptif, menggunakan pendekatan etnomusikologis dan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa elemen estetis dari vokal mahaban memberikan sebuah deskripsi mengenai kesimbangan dalam tataran sosiologi masyarakat melayu Deli

    Peran dan Fungsi Aksentuasi Pada Musik Tari Kontemporer: Studi Kasus Karya Dongak

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi peran dan fungsi aksentuasi musik tari kontemporer serta urgensi kehadirannya dalam penciptaan musik tari kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus tunggal kualitatif (qualitative-single case study) yang meliputi proses tinjauan literatur dan wawancara sebagai teknik pengumpulan data, serta menganalisis, menafsirkan (interpretasi), dan melaporkan hasil sebagai teknik analisis data, dalam karya Dongak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aksentuasi musik dalam tari kontemporer memiliki dua peran dengan fungsinya masing-masing, yaitu peran penanda dan peran petanda. Peran aksentuasi musik sebagai penanda dalam tari kontemporer berfungsi sebagai penebalan gerakan, sedangkan peran aksentuasi musik sebagai petanda berfungsi sebagai sinyal, kode, atau isyarat terhadap sesuatu yang penting. Selain itu, aksentuasi musik dalam tari kontemporer mempunyai kemampuan untuk menciptakan dinamika pertunjukan dan menarik perhatian penonton. Dengan demikian, peran dan fungsi tersebut menunjukkan betapa pentingnya kehadiran aksentuasi secara musikal pada sebuah pengkaryaan musik tari kontemporer. Penelitian di masa depan diharapkan untuk mengeksplorasi lebih rinci peran dan fungsi aksentuasi dalam mempengaruhi emosional penari dan penonton serta dampaknya pada pertunjukan. Selain itu, penelitian ini mungkin relevan dengan latar budaya dan genre musik lain yang mempengaruhi interpretasi dan aksentuasi musik tari kontemporer.

    Ensembel Tiup Royal Orkestra Dalam Iringan Gending Gati Langen Brangta Pada Acara Uyon Uyon Hadiluhung Di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

    Full text link
    Uyon-uyon Hadiluhung merupakan acara bulanan yang biasanya diselenggarakan pada malam selasa wage. Dari beberapa gending Gati, gending Gati Langen Brangta merupakan salah satu yang dimainkan untuk mengiringi kapang-kapang majeng tari Srimpi Dhendhang Sumbawa pada Uyon-uyon Hadiluhung. Penelitian ini berfokus pada analisis musik serta fungsi Ensembel Tiup Royal Orkestra dalam iringan gending Gati Langen Brangta pada acara Uyon-uyon Hadiluhung di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Adapun teori yang digunakan untuk menganalisis musik yakni menggunakan teori dari William P. Malm yang membahas tentang analisis musik yang dibagi menjadi dua aspek yaitu aspek melodi dan aspek waktu, kemudian menggunakan teori 10 fungsi musik menurut Alan P. Merriam, dari sepuluh teori, penulis hanya menggunakan lima fungsi. Selain itu, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan etnomusikologis yaitu deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data meliputi studi Pustaka, observasi, dokumentasi, wawancara, dan analisis data. Berdasarkan analisis, Ensembel Tiup Royal Orkestra dalam iringan gending Gati Langen Brangta disajikan untuk mengiringi tari Srimpi Dhendhang Sumbawa. Bentuk analisis yang terdapat pada Ensembel Tiup Royal Orkestra meliputi tekstual dan kontekstual. Tekstual meliputi analisis tangga nada, nada dasar, wilayah nada, jumlah nada, jumlah interval, kontur, tempo, pola ritme, durasi. Kontekstual meliputi fungsi hiburan, ekspresi emosional, perlambangan, pengintegrasian dan presentasi estetis

    129

    full texts

    140

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SELONDING
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇