SELONDING
Not a member yet
140 research outputs found
Sort by
Musik Cakepung dalam Konteks Sosio-kultural Masyarakat Desa Budakeling Bali
Penelitian ini memiliki tujuan untuk menginvestigasi peran dan fungsi musik cakepung dalam konteks sosio-kultural di Desa Budakeling, khususnya dalam acara seorti balih-balihan (hiburan rakyat) dan sangkep (forum diskusi desa). Teori yang dipakai untuk mengungkap hal tersebut adalah teori yang dikemukakan oleh Alan. P Merriam yang membedakan antara “fungsi” dan “guna” musik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnomusikologis dan strategi etnografi, disertai dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi dokumen, dan perekaman audio-visual. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa musik cakepung memiliki peran dan fungsi yang signifikan dalam konteks sosio-kultural masyarakat
Komodifikasi Kreatif: "Tukang Tabuh" dalam Gambang Kromong Kontemporer
Penelitian ini menginvestigasi fenomena komodifikasi dalam konteks musik tradisional Betawi, yaitu Gambang Kromong. Gambang Kromong sebagai salah satu warisan budaya telah mengalami transformasi yang signifikan akibat pengaruh global dan selera pasar yang modern. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana proses komodifikasi dapat berpengaruh pada identitas budaya gambang kromong, termasuk dalam konten musik dan strategi pemasarannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografis, dan menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara, studi pustaka, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini akan menujukkan bahwa sistem komodifikasi ternyata mampu membawa dampak yang positif dan negatif terhadap Gambang Kromong. Satu sisi, popularitas yang meningkat dan pembaharuan dapat memperluas jangkauan penonton dan peningkatan apresiasi terhadap musik tradisional, namun di satu sisi perubahan tersebut juga dapat beresiko terhadap esensi budaya asli Gambang Kromong yang dapat tergerus oleh tuntutan pasar dan penekanan unsur-unsur komersial
MUSIK DALAM PERTUNJUKAN WAYANG PULAU DI RUMAH GARUDA YOGYAKARTA
Wayang pulau adalah salah satu bentuk wayang pembaharuan yang muncul dan merupakan bentuk pemikiran serta gagasan dari Nanang Rakhmat Hidayat yang juga merupakan salah satu dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Inovasi wayang yang diciptakan berdasar pada bentuk pulau-pulau yang ada di Indonesia.Teori yang digunakan untuk mengetahui bentuk musik wayang pulau dalam lagu “Wayang Pulau Indonesia” serta fungsi kesenian wayang pulau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif dengan fokus pada pengamatan mendalam mengenai kesenian wayang pulau melalui pendekatan secara Etnomusikologis yang membahas mengenai teks dan konteks musik. Kajian bentuk musik dalam lagu “Wayang Pulau Indonesia” tampak dari aspek: bentuk penyajian, instrumentasi, dan vokal. Kajian kontekstual dalam kesenian wayang pulau terdapat unsur nasionalisme yang melatar belakangi kesenian musik tradisional sebagai pengiring wayang.Kesenian wayang pulau memeiliki fungsi yang sangat kompleks dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Fungsi yang dianggap menonjol dalam kesenian wayang pulau diantaranya: ekspresi emosional, sarana hiburan, keberlangsungan dan kestabilan budaya, presentasi estetis dan sarana komunikasi
BAND ETNIS DALAM IBADAH MINGGU DI GEREJA HKBP YOGYAKARTA
Masuknya para Missionaris Kristen ke Tanah Batak, jemaat diwajibkan untuk dapat bernyayi yang diiringi alat musik gereja atau organ dan melarang seluruh aktivitas masyarakat yang bersifat animism, termasuk penggunaan Gondang. Setelah para Misionaris pulang ke negaranya masing-masing, ibadah kebaktian yang hanya menggunakan organ gereja, telah digabungkan dengan alat musik tradisional Batak seperti sulim, taganing, hasapi, garantung dan sebagainya, karena jemaat menganggap akan merasakan kedekatannya dengan Tuhan jika alat musik gereja dipadukan dengan alat musik tradisonal dalam Ibadah Kebaktian. Hal ini dapat ditemukan pada Gereja HKBP Yogyakarta, menggunakan permainan Band Etnis yang merupakan penggabungan instrument etnis batak seperti sulim dan taganing dan instrument non batak yaitu lokal brass band seperti seperti keyboard, drum, bass, dan lain-lain. Penggabungan band etnis (instrument etnis batak dan lokal brass band) ini memainkan lagu-lagu kebaktian yang bertangga-nada diatonis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penyajian ansambel Band Etnis, menganalisis dan mengetahui fungsi Band Etnis dalam tata kebaktian minggu gereja HKBP Yogyakarta. Penelitian ini mengkaji pementasan Band Etnis yang dilakukan dalam ibadah kebaktian HKBP Yogyakarta 31 Oktober 2021 dan juga secara live streaming di Platform Youtube HKBP JOGJA MULTIMEDIA dengan tahapan secara terstuktur, sehingga pengklarifikasian dari data yang didapatkan mempermudah peneliti dalam menganalisis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnomusikologis. Tehnik pengumpulan data melalui observasi secara langsung, berpartisipasi secara langsung, wawancara, dan dokumentasi
BREGADA REKSO WINONGO KAMPUNG NGAMPILAN DALAM ACARA BREGADA RAKYAT MALIOBORO
Bregada merupakan nama lain dari brigade yang berarti kelompok prajurit. Bregada merujuk kepada kelompok prajurit yang terdapat pada Keraton Yogyakarta, dalam sejarah perkembangannya bregada menjadi sebuah pertunjukan atraksi budaya yang diminati oleh masyarakat biasa. Oleh sebab itu masyarakat biasa berinisiatif untuk membuat sebuat kelompok atau grup baris berbaris dengan konsep meniru kepada kelompok prajurit Keraton yaitu bregada, sehingga muncul kelompok baris-berbaris dimasyarakat yang dinamakan Bregada Rakyat. Bregada rakyat terdiri dari berbagai unsur dalam masyarakat sehingga banyak hal yang menarik dalam sebuah kelompok atraksi budaya ini. Pada tahun 2021 tepatnya bulan November Dinas Pariwisata bersama dengan Dinas Kebudayaan membuat suatu kegiatan dimana Bregada Rakyat menjadi peran penting didalamnya yaitu Bregada Rakyat Malioboro. Salah satu kelompok atraksi budaya Bregada Rakyat yang terpilih adalah Bregada Rekso Winongo. Bregada Rekso Winongo merupakan kelompok atraksi budaya dengan konsep peniruan prajurit Keraton yang berada di bantaran sungai Winongo oleh sebab itulah di namakan Rekso Winongo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnomusikologis dimana pola garap menjadi teks dan fungsi Bregada Rekso Winongo sebagai konteks. Pada pola penyajian dari Bregada Rekso Winongo ini terdapat beberapa unsur didalamnya yaitu penggarap, sarana garap, perabot garap. Dalam fungsinya Bregada Rekso Winongo ini juga berfungsi untuk menghibur,membantu, serta memberikan informasi seputar kawasan wisata Malioboro
GAMELAN KUTAI DALAM PROSESI DEWA MEMANAH PADA RITUAL BEPELAS DI KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR
Gamelan Kutai memiliki fungsi penting dalam keberlangsungan upacara adat erau, seperti halnya pada ritual malam bepelas Sultan hampir semua prosesi menggunakan gamelan. Akan tetapi setiap prosesi yang menggunakan gamelan memiliki ketentuan gending atau lagu, gending merupakan penyebutan istilah komposisi di Jawa, masyarakat Kutai menyebut dengan lagu. Setiap prosesi pada malam ritual bepelas Sultan memiliki lagu yang telah ditetapkan pada masing-masing prosesi, maka dari itu tidak akan terjadi kesalahan penggunaan. Seperti halnya pada salah satu prosesi pada ritual bepelas yaitu prosesi dewa memanah
Beyond the Triad: Eksplorasi Harmoni Kwartal Dalam Komposisi musik, Studi Kasus Komposisi Musik Blizz (From The Theme of Suite Modale) dan Children Song. No.1
Tulisan ini menganalisis penggunaan harmoni kwartal pada dua komposisi musik, yaitu Blizz (From The Theme of Suite Modale) dan Children Song No. 1. Melalui analisis mendalam, tulisan ini mengungkap bagaimana harmoni kwartal dibentuk dan diterapkan dalam konteks komposisi musik. Selain itu, studi ini juga mengeksplorasi penggunaan harmoni kwartal pada berbagai sistem tangga nada, seperti diatonik mayor, minor, dan modus. Analisis mencakup penggunaan berbagai teknik harmonik, seperti three note chord by fourth, four note chord by fourth, dan multi note chord by fourth. Selain itu hasil dari tulisan ini diharapkan mampu menunjukkan bahwa harmoni kwartal dapat menciptakan warna dan tekstur yang unik dalam komposisi musik, memberikan fleksibilitas dalam eksplorasi harmoni serta dapat menjadi sumber inspirasi bagi komposer dalam menciptakan karya-karya musik yang inovatif
Genikng Niti dalam Upacara Adat Kematian Suku Dayak Tunjung Rentenukng Desa Linggang Muara Batuq Kabupaten Kutai Barat
Genikng menurut masyarakat suku Dayak Tunjung Rentenukng berarti Instrumen Gong dan Niti berarti sebutan bunyi dari pada Genikng ketika terdapat adanya kabar duka. Genikng Niti merupakan tindakan yang wajib dalam upacara adat kematian suku Dayak Tunjung Rentenukng. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penyajian Genikng Niti dalam upacara adat kematian serta mengetahui wujud komunikasi Genikng Niti dalam upacara adat kematian. Untuk menganalisis objek material tersebut, menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Etnomusikologis. Genikng Niti dalam upacara adat kematian suku Dayak Tunjung Rentenukng, memiliki ciri-ciri yang dapat dilihat dari aspek tekstual dalam penyajiannya yaitu, pelaku, instrumen, pola Genikng, tempat, dan waktu. Wujud komunikasi pada Genikng dapat dilihat dari komunikasi vertikal dan horizontal. Komunikasi horizontal yaitu, komunikasi Genikng Niti sebagai aktivitas simbolis, komunikasi Genikng Niti sebagai proses upacara adat kematian, komunikaasi Genikng Niti sebagai makna.Kata kunci: Genikng Niti, Upacara adat kematian, Suku Dayak Tunjung Rentenukng, Komunikasi
PENGARUH LATIHAN PADUAN SUARA TERHADAP LEVEL EMPATI DI MASA DEWASA AWAL
ABSTRAKPentingnya empati sebagai sebuah keterampilan sosial meningkatkan fokus penelitian terkait hal ini. Salah satu penelitian yang banyak dilakukan adalah mengeksplorasi peran aktivitas bermusik secara kelompok terhadap peningkatan empati individu yang terlibat di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan paduan suara selama tiga bulan dengan menitikberatkan pada aspek-aspek yang dianggap mempromosikan empati terhadap level empati mahasiswa. Penelitian dilakukan pada kelompok mahasiswa di Yogyakarta (N=60) dengan desain pretest-posttest antara kelompok kontrol dan kelompok treatment. Pengukuran empati menggunakan terjemahan kuesioner Interpersonal Reactivity Index (IRI) menunjukkan tidak terdapat pengaruh latihan paduan suara terhadap level empati pada partisipan yang terlibat dalam penelitian.ABSTRACTThe Effect of Choir Practice to Empathy Level in College Students The importance of empathy as a social skills increases the research interest in this area. Among many researches in this topic, music and its potential to promote empathy is one of the most explored. This research aim to find the effect of intensive choir training to the improvement of empathic level in college students. The research is conducted through a quantitative research in a pretest-posttest design between experiment and control group (N=60). The empathic level is measured by Interpersonal Reactivity Index (IRI) and the result shows there is no effect of choir practice to the empathic level in college students
Kabata Tanrasula “Seeking Tuan Guru”: Konstelasi Artistik Indonesia (Pertunjukan Musik) terhadap Diseminasi Geopolitik dan Geokultural
Kabata Tanrasula merupakan karya pertunjukan lintas media dan lintas unsur seni, ada unsur tari, teater dan juga seni rupa dengan melekat audio visual yang dikolaborasikan sedemikan rupa. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah Study Literatur Review (SLR) dan juga Studi kasus, hal ini dilakukan perihal data yang dikumpulkan melalui berbagai penelitian dalam dan luar negeri, dalam misinya Tuan Guru menyiarkan islam sampai ke Cape Town Afrika Selatan. Adorno mengatakan dalam teori sosial yaitu memberikan analisis konseptual tentang bagaimana pencerahan, yang pada mulanya ditujukan untuk mengamankan kebebasan dari ketakutan dan otoritas manusia, berubah menjadi beberapa bentuk dominasi politik, sosial dan budaya dimana manusia kehilangan individualitas dan masyarakat kehilangan makna kemanusiaan. Hasil dari penelitian ini adalah bentuk dari resistensi Tuan Guru yaitu Syech Yusuf Al-Makassari dan Syech Imam Abdullah Tidore dalam perlawan belanda hingga diasingkan dan meninggal di Cape Town. Residensi ini disampaikan kemasyarakat dalam bentuk pertunjukan musik Kabata Tanrasula memberikan konteks pada musik, menginvestasikannya dan signifikansinya, namun musik itu sendiri mengartikulasikan bentuk-bentuk sosial solidaritas yang berfungsi sebagai aksi sosial teladan, musik menyediakan cara memberikan kesaksian dan mengatakan kebenaran menceritakan kisah itu yang mendasari dampak geopolitik dan geokultural