377 research outputs found
Adoption and diffusion of no tillage practices in Southern Spain olive groves
This paper analyses the process of adoption of no tillage in South-eastern Spain’s olive groves. Olive tree groves in South-eastern Spain’s mountainous areas are subject to a high risk of soil erosion, which is the main environmental problem for this crop, and have to incur in high costs of soil conservation. This results in a greater difficulty to comply with the practices required to benefit from both the single payment and agri-environmental schemes. In many high-steeped areas, farmers have opted for non-tillage practices as an alternative to other conservation practices. Using our own data from a survey carried out in 2006 among 215 olive tree farmers from the Granada Province in Southern Spain regarding the adoption of soil conservation and management practices, we model the diffusion process of no tillage practices using several specifications (logistic, Gompertz and exponential). We also estimate an ordered probit model to analyse which socio-economic and institutional factors determine the adoption of no tillage. Our results show that 90% of farmers in the area of study perform no tillage with either localized (21%) or no localized (69%) application of weedicides. The diffusion process of no tillage has been very intense since the middle nineties, and has been based on the interactions among farmers in the area of study rather than in external factors such as EU policies or extension services. Among other relevant factors that positively affect the adoption of no tillage practices in general, such as farm size and irrigation, the probability of a farmer adopting no tillage with non-localized application of weedicides increases when there is a relative that will continue with the farming activity, what causes the farmer to incorporate long term effects in his farming decisions, when the farmer is only a manager or when he bought the farm rather than inherited it (i.e. on more professionalized farms), and with his educational level. These results confirm some findings from previous studies in other nearby areas.Spanish olive groves, soil erosion, no tillage, Crop Production/Industries, Land Economics/Use,
PROSES PEMBELAJARAN TARI TANDA'AN WEDOK DI SANGGAR MADYO LARAS DESA JATIGUWI KECAMATAN SUMBERPUCUNG KABUPATEN MALANG
ABSTRAK Agustin. Devi. 2016. Proses Pembelajaran Tari Tanda’an Wedok di Sanggar Madyo Laras Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dra.Ninik Harini, M.Sn, (II)Tutut Pristiati, S.Sn. Kata kunci : Proses,Pembelajaran, Tari Tanda’an Wedok, Sanggar Pembelajaran tari adalah kegiatan yang unik dan sangat menarik untuk di pelajari oleh semua orang karena dengan mempelajari tari dapat menumbuh kembangkan bakat minat seseorang dan dapat menyalurkan hobi serta kegemarannya. Sanggar Madyo Laras adalah salah satu sanggar seni tradisi yang memberikan pembelajaran seni tari tradisi. Pembelajaran tari Tanda’an Wedok di Sanggar Madyo Laras terlebih dahulu mempelajari gerak dasar tari, kemudian baru materi tari. Di sanggar Madyo Laras memiliki metode yang unik yaitu metode relaxasi (pemejaman mata) dan metode menghadap 4 arah saling membelakangi serta menggunakan media pembelajaran yang berbeda dengan sanggar yang lain yaitu alat musik kendang dan gamelan langsung. Kelebihan pada Sanggar Madyo Laras ini setiap pementasan tari selalu menggunakan iringan musik gamelan secara langsung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang proses Pembelajaran tari Tanda’an Wedok di Sanggar Madyo Laras dari perencanaan yang dibuat, pelaksanaan pembelajaran serta evaluasi dari pembelajaran tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Peneliti sebagai instrumen kunci yaitu pengamat, dan sebagai pengumpul data. Lokasi penelitian berada di Sanggar Madyo Laras Jl. Ir. Soekarno Simpang 4 Rt 18 Rw 04 Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang. Narasumber penelitian ini pemilik dan pelatih sanggar. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi dalam bentuk foto ataupun video. Analisis data dilakukan dengan menggunakan jenis analisis H.B Sutopo. Pada pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan trianggulasi sumber dan metode. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut, perencanaan pembelajaran tidak dibuat secara tertulis melainkan perencanaan dibuat secara lisan berdasarkan hasil diskusi dari pemilik dan pelatih sanggar. Penyampaian materi pembelajaran tari Tanda’an Wedok ini diawal diberikan pengetahuan gerak dasar secara umum, kemudian gerak dasar tari Tanda’an Wedok yaitu gerak Singget Tanjek,baru kemudian pemberian materi gerak tari. Metode yang digunakan adalah metode demonstrasi, metode drill, metode relaxasi, dan metode menghadap 4 arah saling membelakangi. Media yang digunakan adalah pemutaran video dari laptop, speaker active dan juga alat musik gamelan. Penilaian berdasarkan pengamatan dari pelatih dan pemilik sanggar. Hasil pembelajaran yaitu berupa pementasan siswa. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada sanggar agar membuat suatu perencanaan pembelajaran secara tertulis agar pembelajaran berjalan sesuai dengan perencanaan serta dapat dijadikan sebagai arsip sanggar. Kepada mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik untuk banyak mengembangkan penelitian sejenis agar banyak variasi dalam proses pembelajaran tari di sanggar atau penelitian lain mengenai tari Tanda’an Wedok ini, yaitu sejarah tari, struktur gerak tari, bentuk penyajian dan lain sebagainya
STUDI TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI TIM BOLA VOLI PUTRI KOTA CIREBON PADA PORDA TAHUN 2018
Devi Agustin, Rajip M Rusdiyanto dan Ali Priyono Pendidikan Jasmani, Universitas Majalengka [email protected] ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor motivasi instrinsik atau motivasi ekstrinsik yang dominan dalam motivasi berprestasi tim bola voli putri kota cirebon. Dari hasil observasi peneliti ditemukan bahwa motivasi yang terdapat dalam atlet bola voli putri kota cirebon pada porda 2018 memiliki perbedaan yang ditinjau dari indikator motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Metode penelitian adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian ini adalah atlet tim bola voli putri porda kota cirebon, dengan jumlah sampel 12 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner atau angket. Analisis data menggunakan deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukan rata-rata skor motivasi berprestasi tim bola voli putri Kota Cirebon adalah 95,08 dengan tingkat persentase sebesar 84% dikatagorikan dalam klasifikasi sangat tinggi. Adapun motivasi berprestasi ini dipengaruhi beberapa indikator pendukung antara lain: rata-rata motivasi intrinsik adalah sebesar sebesar 46,83 dengan tingkat persentase sebesar 90 %, berdasarkan hasil yang diperoleh dan disimpulkan bahwa indikator motivasi intrinsik dikategorikan dalam klasifikasi “Sangat Tinggiâ€. Adapun rata-rata indikator motivasi ekstrinsik adalah sebesar 48,25 dengan tingkat persentase sebesar 75 %, berdasarkan hasil yang diperoleh dan disimpulkan bahwa indikator motivasi ekstrinsik dikategorikan dalam klasifikasi “Tinggiâ€. Dengan hasil tersebut bahwa motivasi berprestasi atlet tim bola voli kota cirebon yang diperoleh dari 12 responden lebih dominan pada motivasi instrinsik, indikatornya meliputi pencapaian, stimulasi, dan pengetahuan. Kata Kunci : Motivasi berprestasi, Bola voli
Framing gender intersections in the European Union: What implications for the quality of intersectionality in policies?
This article explores the extent to which the emergence of an antidiscrimination policy in the European Union (EU) implies a shift in EU gender equality policies towards an intersectional approach. The frame analysis of EU gender equality policy documents shows that intersectional dimensions are increasingly present but they are treated implicitly and from a separate perspective, and the inclusion of a wide range of inequalities often implies a degendering of the policy content. We assess the implications of the identified intersectionality trends for the quality of intersectionality in gender equality policies, and we suggest the practice of an "intersectionality impact assessment" as a way to improve the quality of EU policy-making. © 2011 The Author
Author Correction: National Identity Predicts Public Health Support During a Global Pandemic (nature Communications, (2022), 13, 1, (517), 10.1038/S41467-021-27668-9)
In this article the author name ‘Agustin Ibanez’ was incorrectly written as ‘Augustin Ibanez’. The original article has been corrected. © The Author(s) 2022
Author Correction: National identity predicts public health support during a global pandemic (Nature Communications, (2022), 13, 1, (517), 10.1038/s41467-021-27668-9)
In this article the author name ‘Agustin Ibanez’ was incorrectly written as ‘Augustin Ibanez’. The original article has been corrected
Author Correction: National identity predicts public health support during a global pandemic (Nature Communications, (2022), 13, 1, (517), 10.1038/s41467-021-27668-9)
In this article the author name ‘Agustin Ibanez’ was incorrectly written as ‘Augustin Ibanez’. The original article has been corrected.</p
Protecting the historic buildings of Mexico: the barrel vault of San Agustin Church in Morelia
Heritage in Mexico is endangered due to exposure to major hazard events and lack of maintenance. The level of knowledge
necessary to evaluate structural behavior of historic buildings is generally low, mainly regarding the parameters such as mechanical properties. San Agustin church is one of the most important historical buildings in Morelia City, Mexico. Thus, a comprehensive analysis of the San
Agustin church was performed, including a damage survey and dynamic identification tests. Based on the diagnosis, a 3D finite element
model with solid elements was developed and calibrated. Then, a seismic assessment was carried out using pushover analysis. The findings
about the damage obtained from the numerical analysis is consistent with the actual condition of the church. Finally, a partial model was
developed to evaluate the performance of the nave barrel vault strengthened with an extrados masonry arch and a layer of carbon fabricreinforced cementitious matrix, an intervention that substantially increased the horizontal load capacity.The authors would like to acknowledge Dr. Carlos Eduardo Mendoza Rosales and Dr. Jose Cabrera Aceves for the architectural data provided for the development of this work, and Eng. Rodolfo Gaytan for support during dynamic identification testing. Finally, the first author would like to thank the CONACyT grant
PELABELAN SUPER (a; d)-H-ANTIMAGIC TOTAL DEKOMPOSISI PADA GRAF WINDMILL
Teori graf merupakan salah satu cabang ilmu matematika yang lahir pada
tahun 1736. Salah satu topik yang dikaji dalam teori graf adalah pelabelan. Ter-
dapat berbagai jenis tipe pelabelan dalam graf, salah satunya adalah pelabelan
pelabelan total (total labeling). Dari waktu kewaktu pelabelan graf mengelami
perkembangan materi, diantaranya pelabelan ajaib, pelabelan anti ajaib, dan
pelabelan super. Pelabelan ajaib (magic) adalah jika semua sisi mempunyai bobot
yang sama sedangkan pelabelan anti ajaib (antimagic) mempunyai bobot sisi yang
berbeda dan membentuk barisan aritmatika. Pelabelan super adalah pelabelan
titik dan sisi dimana label titik kurang dari label sisi. Pelabelan ajaib selanjutnya
dikembangkan menjadi pelabelan covering ajaib yang pertama kali diperkenalkan
oleh Gutierrez dan Llado (2005). selanjutnya Inayah, dkk (2013) mengembangkan
suatu pelabelan selimut H-antimagic, dengan penjelasan bahwa suatu pelabelan
covering H-antimagic pada graf G adalah sebuah fungsi bijektif sehingga terdapat
jumlahan yang merupakan barisan aritmatika a; a + d; a + 2d; :::; a + (t ¡ 1)d.
Pada penelitian ini penulis mengembangkan pelabelan super (a; d)-H-antima
gic total dekomposisi pada graf windmill baik yang konektif maupun diskonek-
tifnya, dimana dalam penelitian tersebut membutuhkan nilai batas atas dan fungsi
bijektifnya. Dekomposisi pada graf windmill tunggal dinotasikan dengan WDn
v .
Sedangkan gabungan saling lepasnya dinotasikan dengan mWDn
v yang dide¯n-
isikan sebagai gabungan dari sebanyak m salinan graf windmill.
Dekomposisi graf windmill adalah graf WDn
5 dengan 4n+1 titik V (WDn
5 ) =
fA; xi; yi; zi; pi; 1 · i · ng dan 10n sisi E(WDn
5 ) = fAxi; Ayi; Azi; Api; xiyi; xizi;
xipi; yizi; yipi; zipi; 1 · i · ng. Adapun gabungan graf windmill mWDn
5 dide¯n-
isikan sebagai gabungan dari sebanyak m graf graf windmill yang mempunyai titik
V (mWDn
5 ) = fAj ; xj
i ; yj
i ; zj
i ; pj
i ; 1 · i · n ; 1 · j · mg dan sisi E(mWDn
v ) =
fAxj
i ; Ayj
i ; Azj
i ; Apj
i ; xj
i yj
i ; xj
i zj
i ; xj
i pj
i ; yj
i zj
i ; yj
i pj
i ; pki
zk
i ; 1 · i · n ; 1 · k · mg.
Metode penelitian yang digunakan adalah Metode deduktif aksiomatik, yaitu
dengan menurunkan beberapa aksioma dan teorema yang sudah ada. langkah awal
vii
yang dilakukan adalah menentukan atau menghitung nilai d (nilai beda) pada
amalgamasi graf kipas. Selanjutnya merumuskan pola pelabelan menggunakan
metode pendeteksian pola (pattern recognition) yaitu menentukan perumusan
pelabelan super (a; d)-H antimagic total dekomposisi. Batas atas pada penelitian
ini adalah d · 120 dengan menggunakan Lemma 4.11 yaitu:
Jika graf G adalah super (a; d)¡H antimagic total covering maka
d ·
(pG ¡ pH)pH + (qG ¡ qH)qH
s ¡ 1
untuk s = jHij, pG = jV j, qG = jEj, pH = jV (H)j, qH = jE(H)j
Sehingga di peroleh teorema-teorema baru sebagai berikut:
1. Teorema 4.1.1 Ada super (98n + 22; 0)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
2. Teorema 4.1.2 Ada super (97n + 23; 2)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
3. Teorema 4.1.3 Ada super (96n + 24; 4)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
4. Teorema 4.1.4 Ada super (95n + 25; 6)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
5. Teorema 4.1.5 Ada super (94n + 26; 8)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
6. Teorema 4.1.6 Ada super (93n+27; 10)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
7. Teorema 4.1.7 Ada super (92n+28; 12)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
8. Teorema 4.1.8 Ada super (91n+29; 14)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
9. Teorema 4.1.9 Ada super (89n+31; 18)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
viii
10. Teorema 4.1.10 Ada super (88n+32; 20)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
11. Teorema 4.1.11 Ada super (86n+34; 24)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
12. Teorema 4.1.12 Ada super (84n+36; 28)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
13. Teorema 4.1.13 Ada super (73n+47; 50)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
14. Teorema 4.1.14 Ada super (72n+48; 52)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
15. Teorema 4.1.15 Ada super (71n+49; 54)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
16. Teorema 4.1.16 Ada super (69n+65; 58)-WD5 antimagic total dekomposisi
pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
17. Teorema 4.1.17 Ada super (48n + 72; 100)-WD5 antimagic total dekom-
posisi pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
18. Teorema 4.1.18 Ada super (47n + 73; 102)-WD5 antimagic total dekom-
posisi pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
19. Teorema 4.1.19 Ada super (46n + 74; 104)-WD5 antimagic total dekom-
posisi pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
20. Teorema 4.1.20 Ada super (44n + 76; 108)-WD5 antimagic total dekom-
posisi pada graf windmill WDn
5 untuk n ¸ 2;
21. Teorema 4.2.1 Ada gabungan saling lepas graf windmill WDn
5 memiliki
super ( 196mn+29m+15
2 ; 0)- WD5 antimagic total dekomposisi untuk n ¸ 2 dan
m ¸ 3 dimana m ganjil ;
22. Teorema 4.2.2 Ada gabungan saling lepas graf windmill WDn
5 memiliki
super ( 186mn+29m+25
2 ; 10) - WD5 antimagic total dekomposisi untuk n ¸ 2
dan m ¸ 3 dimana m ganjil ;
ix
23. Teorema 4.2.3 Ada gabungan saling lepas graf windmill WDn
5 memiliki
super ( 176mn+29m+35
2 ; 20)- WD5 antimagic total dekomposisi untuk n ¸ 2
dan m ¸ 3 dimana m ganjil ;
24. Teorema 4.2.4 Ada gabungan saling lepas graf windmill WDn
5 memiliki
super ( 146mn+29m+65
2 ; 50) - WD5 antimagic total dekomposisi untuk n ¸ 2
dan m ¸ 3 dimana m ganjil ;
25. Teorema 4.2.5 Ada gabungan saling lepas graf windmill WDn
5 memiliki
super ( 96mn+151m+115
2 ; 100) - WD5 antimagic total dekomposisi untuk n ¸ 2
dan m ¸ 3 dimana m ganjil ;
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pelabelan super (a; d)-H-antimagic
total dekomposisi pada graf windmill (WDn
5 ), terdapat beberapa hal dapat diteliti
kembali, yaitu pada pelabelan super (a; d)-H-antimagic total total dekomposisi
pada graf windmill (WDn
5 ), dengan n ¸ 2 kecuali d ² f0; 2; 4; 6; 8; 10; 12; 14; 16; 18;
20; 24; 28; 50; 52; 54; 58; 100; 102; 104g, pelabelan super (a; d)-H antimagic total
covering pada gabungan saling lepas, dengan n ¸ 2 dan m ¸ 3 untuk d < 122 ke-
cuali d ² f0; 10; 20; 50; 100g, serta pelabelan super (a; d)-H-antimagic total dekom-
posisi pada gabungan saling lepas graf windmill (mWDn
5 ) dengan n ¸ 2, m ¸ 2
dan m genap untuk d < 122.
Begins... La administracion de Justicia, que es la base fundamental de la sociedad y el objeto de todo pacto social, no debe ser indiferente á ninguno de los individuos que viven sujetos á unas mismas leyes
Public statement issued by Agustin Yañez on behalf of Manuel Porres Baranda de Estrada, concerning the latter's law-suit with José de Mestas over the rightful ownership of assets. Possible author, Agustin Yañe
- …
