187,505 research outputs found
Kadar Transforming Growth Factor- β1 Serum Berdasarkan Lama Pajanan Debu Silika Pada Pekerja Industri Marmer
Latar belakang : Pekerja industri marmer berisiko terpajan debu silika. Debu
silika yang terhirup menyebabkan cedera, inflamasi, dan masuknya leukosit.
Leukosit yang direkrut mengeluarkan sitokin profibrotik seperti TGF-β. Penelitian
ini mengamati kadar TGF-β1 serum berdasarkan durasi paparan debu silika
untuk mengetahui risiko penyakit terkait silika pada pekerja industri marmer.
Metode: Studi observasional analitik potong lintang dilakukan pada 10 orang
sehat tidak terpajan sebagai kelompok kontrol, sedangkan 40 pekerja terpajan
debu silika industri marmer sebagai kelompok terpajan, kemudian dibagi ke
dalam kategori yang berbeda berdasarkan durasi paparan: 1-5 tahun (12 ), 6-10
tahun (14), dan >10 tahun (14). Kadar TGF-β1 serum pada masing-masing
kelompok ditentukan dengan ELISA. Uji Mann-Whitney dan Kruskal-Wallis
digunakan untuk menyelidiki perbedaan antara kelompok dan kategori yang
berbeda. Uji Spearman untuk mengetahui hubungan antara lama paparan debu
silika dengan kadar TGF-β1 serum.
Hasil: Median kadar TGF-β1 serum pada kelompok terpajan [337,63 pg/ml
(26,48-12.542,16 pg/ml)] secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok kontrol
[104,84 pg/ml (47,84-253,13 pg/ml)] (p=0,029 ). Terdapat perbedaan bermakna
kadar TGF-β1 serum antara kelompok terpajan >10 tahun [6.314,44 pg/ml
(165,58-12.542,16 pg/ml)] dan kelompok kontrol (p=0,000), kelompok terpajan 1-
5 tahun [144,51pg/ ml (26,48-9,163,56 pg/ml)] (p=0,003), kelompok terpajan 6-10
tahun [205,35 pg/ml (27,32-11.707.02 pg/ml)] (p=0,003). Terdapat hubungan
positif yang signifikan antara lama pajanan debu silika dengan kadar TGF-β1
serum (r=0,465 ; p=0,002).
Kesimpulan: Pajanan debu silika dapat menyebabkan peningkatan kadar TGF-
β1 serum pada pekerja industri marmer dan durasi pajanan memegang peranan
yang penting
FAKTOR-FAKTOR PREDIKTOR KETIDAKEFEKTIFAN PEMBERIAN IMUNOTERAPI DEBU RUMAH SELAMA 14 MINGGU PADA PASIEN ASMA ALERGI DEBU RUMAH
Latar Belakang Masalah
Asma alergi merupakan bentuk terbanyak dari asma, ditandai dengan gejala yang
sering disebabkan beberapa alergen lingkungan pada individu yang telah
tersensitisasi. Sebanyak 85% dari asma alergi pada pasien disebabkan karena
alergi tungau debu rumah. Imunoterapi alergen spesifik dapat merubah perjalanan
penyakit asma alergi. Angka drop out cukup tinggi yaitu antara 19,8%-21%
disebabkan karena ketidakefektifan imunoterapi saat awal. Studi tentang faktor
prediktor ketidakefektifan imunoterapi masih sedikit.
Obyektif
Mengetahui faktor prediktor ketidakefektifan imunoterapi debu rumah terhadap
anak asma alergi debu rumah
Metode
Penelitian secara kasus kontrol observasional dengan sampel pasien anak asma
alergi debu rumah yang mendapatkan imunoterapi debu rumah selama antara
kurun waktu Juli 2010 sampai Juni 2015.. Data diambil rekam medis poli anak
alergi dan wawancara. Anak yang gagal menunjukkan respon perbaikan gejala
asma dalam waktu 14 minggu dimasukkan dalam kelompok kasus, dan
dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu anak yang menunjukkan respon
perbaikan gejala asma. Analisa statistik yang digunakan adalah analisis deskriptif,
analisa faktor resiko dengan uji regresi logistik. Dan analisa kekuatan prediktor
dengan uji sensitivitas/spesifitas prediktor setelah diuji dengan Mc Nemar dan
Kappa.
Hasil
Jumlah sampel 151 anak asma alergi, 68 anak memenuhi kriteria inklusi dengan
data lengkap dan dapat diwawancara. Setelah dilakukan pe”matching”an”
didapatkan sampel sebanyak 62 anak asma alergi yang dikelompokkan menjadi
dua yaitu kelompok kasus (n=31) dan kelompok kontrol (n=31). Pada kelompok
kasus dan kontrol didapatkan 64,5% anak laki-laki dan 11 (35,5%) perempuan.
Rerata usia kelompok kasus adalah73,42±38,18 bulan dan kontrol 71,06±41,42
bulan. Didapatkan jenis alergen, durasi alergi sebelum imunoterapi, durasi asma
alergi, kedisiplinan orangtua pada eliminasi alergen, kedisiplinan pada jadwal
imunoterapi, diameter uji tusuk alergen debu rumah, rasio diameter uji tusuk
alergen debu rumah dengan diameter histamin tidak menunjukkan perbedaan
bermakna antara kelompok kasus dan kontrol (p<0,05). Frekuensi sakit infeksi
selama imunoterapi serta persepsi orangtua yang positif tentang imunoterapi
menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok kasus dan kontrol dengan p
0,046 (OR 3,28 CR 1,010-10,574) dan p 0,00 (OR 0,08 CR 0,01-0,071).
Kesimpulan
Frekuensi sakit selama imunoterapi dan persepsi orangtua yang positif tentang
imunoterapi dapat dipergunakan sebagai faktor prediktor ketidakefektifan
pemberian imunoterapi debu rumah selama 14 minggu pada pasien asma alergi
debu rumah
HUBUNGAN KADAR DEBU TERHIRUP DENGAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA MASYARAKAT BERISIKO DI STASIUN TAWANG SEMARANG
Transportasi berperan penting terjadinya pencemaran udara baik dalam bentuk gas atau partikel seperti debu. Stasiun Tawang merupakan stasiun induk yang ramai dikunjungi. Berdasarkan pengukuran kadar debu, didapatkan kadar debu total di kawasan Stasiun Tawang sebesar 441,16 µg/Nm2. Debu dapat mengganggu fungsi paru pada masyarakat yang beraktivitas di area tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar debu terhirup dengan gangguan fungsi paru pada masyarakat di sekitar Stasiun Tawang Semarang. Jenis penelitian menggunakan analitik observasional dengan desain studi cross sectional. Populasi penelitian sejumlah 83 orang yang beraktivitas setiap hari di Stasiun Tawang yaitu pedagang tetap, pedagang kaki lima, petugas rel, petugas kebersihan, satpam, dan petugas parkir dengan sampel sebanyak 45 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dimana pengambilan sampel berdasarkan kriteria inklusi yaitu bersedia menjadi responden, berusia produktif, dan durasi kerja ≥8 jam/hari. Kadar debu terhirup diukur menggunakan alat Personal Dust Sampler selama 1 jam, gangguan fungsi paru diukur menggunakan alat spirometer. Variabel dependen adalah gangguan fungsi paru pada masyarakat di Stasiun Tawang dan variabel independen adalah paparan debu terhirup, umur, jenis kelamin, status gizi, masa kerja, durasi paparan, dan penggunaan alat pelindung diri dengan variabel pengganggu adalah kebiasaan merokok. Analisis statistik penelitian ini menggunakan uji Chi square α=0,05. Hasil penelitian menunjukan 18 orang (40%) terpapar kadar debu terhirup di atas NAB. Pemeriksaan fungsi paru menunjukan 44,4% mengalami gangguan. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara kadar debu terhirup (p-value = 0.001), jenis kelamin (p-value = 0.049), umur (p-value= 0.013), masa kerja (p-value = 0.027), penggunaan alat pelindung diri (p-value = 0.029) dengan gangguan fungsi paru pada masyarakat di sekitar Stasiun Tawang Semarang. Kadar debu terhirup merupakan faktor risiko terjadinya gangguan fungsi paru pada masyarakat di sekitar Stasiun Tawang Semarang
Kata Kunci: transportasi, debu, paru, masyarakat, stasiu
Analisis Kadar Debu Respirabel Terhadap Keluhan Kesehatan Pada Pekerja
Penyakit akibat kerja merupakan penyakit yang dapat disebabkan oleh tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman. Kondisi tidak aman yang ada di lingkungan salah satunya yaitu dengan adanya debu di tempat kerja. Debu tersebut dapat menimbulkan keluhan penyakit hingga penyakit yang berhubungan dengan saluran pernafasan seperti Penyakit Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Masalah kesehatan yang berhungungan dengan saluran pernafasan di Indonesia sebanyak 25,5% dengan 16 provinsi di antaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional dan pneumonia sebanyak 2,1%. Pada Industri mebel kayu, para pekerja akan selalu terpapar debu-debu terutama debu dari serbuk kayu. Penelitian ini ingin mengetahui analisis debu respirabel terhadap terjadinya keluhan kesehatan Pada Pekerja. Penelitian ini dilakukan pada industri mebel di wilayah jalan semarang, surabaya. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pekerja yang bekerja di bagian produksi, dengan Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi atau seluruh dari populasi yang berjumlah 37 orang. Hasil yang di peroleh yaitu sebagian kadar debu yang diukur melebihi nilai ambang batas yaitu 3 mg/m3. Pada keluhan kesehatan bagian pernafasan, 65% responden memiliki keluhan kesehatan. Debu respirabel juga memiliki pengaruh terhadap keluhan kesehatan pada pekerja. Hasil tersebut dapat diketahui dari nilai signifikansi atau P value < dari nilai alfa (α) (0,05), yaitu 0,018. Pada permasalahan tersebut di perlukan pencegahan terjadinya penyakit akibat kerja, seperti higiene perseorangan yang baik maupun pada lingkungan
PENERAPAN METODE FUZZY PADA ROBOT PENYEDOT DEBU
PENERAPAN METODE FUZZY PADA ROBOT PENYEDOT DEBU
Andi Yulio P.
Teknik Informatika S1- ITN Malang
[email protected]
ABSTRAK
Mayoritas masyarakat pada umumnya membersihkan rumah menggunakan alat sapu dan vacuum cleaner secara manual dalam membersihkan debu atau sampah pada ruangan. Adapun robot vacuum cleaner yang dijual bebas, namun Sebagian besar harga robot vacuum cleaner relatif mahal dan tidak menggunakan algoritma dalam navigasinya. Dari permasalahan tersebut peneliti ingin membuat sebuah mobil robot vacuum cleaner yang dapat dikontrol oleh manusia..
Penelitian ini merupakan rancangan mobil robot vacuum cleaner yang berguna untuk meringankan pekerjaan manusia dengan menggunakan Arduino Uno sebagai otak robot vacuum cleaner dan dapat dikontrol oleh manusia dengan ponsel berbasis Android. Kebutuhan pada alat yang dikembangkan ini mencakup dari Arduino Uno sebagai otak pemroses gerak mobil, sensor ultrasonik untuk mendeteksi jalur mana yang bebas halangan, motor dc sebagai penggerak mobil robot, dan bluetooth sebagai penghubung aplikasi Android dengan mobil robot vacuum cleaner.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, alat mobil robot vacuum cleaner dapat membersihkan area ruangan dan pergerakan mobil robot secara otomatis bergerak menggunakan metode fuzzy untuk mendeteksi jalur yang bebas halangan. Mobil robot bisa diberhentikan dengan aplikasi Android apabila kegiatan pembesrihan rumah sudah selesai.
Kata Kunci : robot, vacuum cleaner, sensor ultrasonik, metode fuzz
PERBEDAAN KADAR DEBU KAPAS TERHADAP KAPASITAS VITAL PARU PADA PEKERJA LOKASI LOOM DAN INSPECT DI PT.X
Debu kapas adalah jenis debu organik yang berasal dari mahluk hidup seperti debu daun-daunan, tembakau dan sebagainya. Debu yang tergolongan sebagai suspended particulate matter ini dapat menyebabkan penyakit bissinosis sebagai penyakit paru akibat kerja. Jika debu kapas dihisap oleh tenaga kerja dapat menimbulkan gangguan fungsi paru yang ditandai dengan terjadinya penurunan fungsi paru (restriktif dan obstruktif). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan kadar debu kapas terhadap kapasitas vital paru pada pekerja lokasi loom dan inspect di PT. X. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Variabel bebas yaitu kadar debu dan karakteristik pekerja (umur, masa kerja, status gizi, penggunaan masker, kebiasaan berolahraga dan riwayat penyakit paru) sedangkan variabel terikat adalah kapasitas vital paru yang diukur dengan spirometer. Populasi penelitian sebanyak 127 orang dengan jumlah sampel yang digunakan adalah 30 pekerja lokasi loom dan 30 pekerja lokasi inspect yang dihitung menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Analisis data menggunakan T test 2-sampel independent dan uji Chi Square. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak ada perbedaan antara kadar debu kapas terhadap kapasitas vital paru pada pekerja loom dan inspect (p=0,777) dikarenakan hasil dari lokasi loom dan inspect sama-sama memperoleh hasil paru restriktif yang tinggi, tidak ada hubungan antara umur dengan kapasitas vital paru (p=0,434), tidak ada hubungan antara masa kerja dengan kapasitas vital paru (p=1,000), tidak ada hubungan antara status gizi dengan kapasitas vital paru (p=0,078), tidak ada hubungan antara penggunaan masker dengan kapasitas vital paru (p=1,000), tidak ada hubungan kebiasaan olahraga dengan kapasitas vital paru (p=0,789), dan tidak ada hubungan antara riwayat penyakit paru dengan kapasitas vital paru (p=1,000). Peneliti menyarankan agar pekerja selalu menggunakan masker pada saat bekerja, dan dilakukannya rotasi kerja pada pekerja yang mengalami penurunan fungsi paru.
Kata Kunci: Debu Kapas dan Kapasitas Vital Par
HUBUNGAN PAPARAN DEBU TERHIRUP DENGAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEDAGANG TETAP DI TERMINAL KOTA TEGAL
Sektor transportasi merupakan kontributor utama penyebab pencemaran udara. Terminal bus merupakan salah satu penyumbang pencemaran udara dalam bentuk partikulat debu. Pedagang tetap di Terminal merupakan populasi yang berisiko mengalami gangguan fungsi paru akibat paparan debu. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara paparan debu terhirup dengan gangguan fungsi paru pada pedagang tetap di Terminal Kota Tegal. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain studi cross sectional. Subjek penelitian adalah pedagang tetap yang masih aktif berjualan di Terminal Kota Tegal sebanyak 35 sampel. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Paparan debu terhirup diukur menggunakan Personal Dust Sampler selama 1 jam, gangguan fungsi paru diukur menggunakan spirometer. Analisis statistik dalam penelitian ini menggunakan uji Chi square dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 12 responden (34,3%) memiliki paparan debu terhirup di atas NAB (≥3 mg/m3) dengan rata-rata paparan debu terhirup 2 mg/m3. Sebanyak 22 responden (62,8%) memiliki gangguan fungsi paru restriksi. Terdapat hubungan antara paparan debu terhirup dengan gangguan fungsi paru (p=0,027). Masa kerja dan lama paparan tidak ada hubungan dengan gangguan fungsi paru (p=0,555) dan (p=0,594). Paparan debu terhirup merupakan faktor risiko terjadinya gangguan fungsi paru pada pedagang tetap di Terminal Kota Tegal
Kata Kunci: Paparan debu terhirup, Lama paparan, Masa kerja, Gangguan fungsi paru, Terminal Kota Tega
HUBUNGAN KADAR DEBU KAYU DAN LINGKUNGAN KERJA FISIK DENGAN KELUHAN PERNAPASAN PADA TENAGA KERJA DI BAGIAN PRODUKSI PT. X
PT. X merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan pintu
kayu. Tenaga kerja selalu terpapar debu kayu sehingga debu yang terhirup dapat
menimbulkan keluhan pernapasan. Tujuan penelitian yaitu menganalisis
hubungan kadar debu kayu dan lingkungan kerja fisik dengan keluhan pernapasan
pada tenaga kerja di bagian produksi PT. X.
Penelitian ini termasuk penelitian cross sectional yang bersifat analitik.
Populasi penelitian sebanyak 120 pekerja dan sampel sebanyak 93 yang dihitung
menggunakan proporsional random sampling. Pengumpulan data didapatkan
melalui pengukuran kadar debu dengan Low Volume Dust Sampler (LVDS),
pengukuran lingkungan kerja fisik dengan Quest Time 36 dan anemometer,
observasi serta kuesioner dari American Thoracic Society (ATS-DLD-78-A).
Hasil Pengukuran kadar debu tertinggi yaitu 1,71 mg/m3. Pengukuran
suhu, kelembapan dan kecepatan aliran udara tidak memenuhi standar. Hasil
pengujian menunjukkan terdapat hubungan antara usia (p=0,000), masa kerja
(p=0,000), kebiasaan merokok (p=0,02), penggunaan APD (masker) (p=0,01),
kadar debu kayu (p=0,000) dengan keluhan pernapasan. Ada hubungan antara
suhu (p=0,000), kelembapan (p=0,000), kecepatan aliran udara (p=0,001) dengan
kadar debu kayu. Tenaga kerja yang bekerja pada suhu, kelembapan, kecepatan
aliran udara yang tidak memenuhi standar sebagian besar mengalami keluhan
pernapasan sebanyak (60,2%).
Kesimpulan yang dapat ditarik yaitu usia, masa kerja, kebiasaan merokok,
penggunaan APD (masker), kadar debu kayu berhubungan dengan keluhan
pernapasan. Suhu, kelembapan, kecepatan aliran udara berhubungan dengan kadar
debu kayu. Perusahaan disarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan pada
tenaga kerja yang mempunyai kecenderungan penyakit paru kerja, memberikan
penyuluhan tentang pentingnya menggunakan APD
HUBUNGAN LAMA PAPARAN DEBU KAYU TERHADAP JUMLAH MONOSIT PADA PEKERJA MEBEL KAYU
INTISARILatar Belakang:Paparan debu kayu pada industri mebel dapat menimbulkan berbagai penyakit akibat kerja seperti gangguan fungsi paru atau penyakit paru lingkungan, asthma occupational dan penyakit lain seperti iritasi mata, dermatitis serta kanker hidung. Debu kayu memungkinkan mengandung mikroorganisme seperti parasit, jamur, bakteri dan substansi bahan kimia. Debu kayu dapat masuk ke dalam saluran pernapasan dengan berbagai macam ukuran. Debu kayu menjadi kompleks antigen yang berikatan dengan sel protein pembawa. Paparan debu kayu yang lama dapat menyebabkan inflamasi kronis pada paru. Inflamasi kronis di cirikan dengan adanya sel limfosit, monosit dan plasmasit. Sel monosit akan merespon inflamasi yang terjadi dengan melakukan diapedesis ke jaringan paru menjadi makrofag aveolar untuk memfagositosis debu kayu.Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan lama paparan debu kayu terhadap jumlah monosit pada pekerja mebel kayu.Metode Penelitian: Metode penelitian menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan jumlah monosit dan melalui kuesioner. Pengolahan data dengan SPSS 16.0.Hasil Penelitian: Hasil jumlah monosit tertinggi adalah 21% dengan lama paparan 25.360 jam (36 bulan). Uji statistik p 0,306 (p>0,05). Ho di terimaKesimpulan: Tidak ada hubungan lama paparan debu kayu terhadap jumlah monosit pada pekerja mebel kayu.Kata Kunci: Lama paparan, jumlah monosit, debu kayu
PENGARUH KADAR DEBU TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIS (PPOK) PADA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI PT. SEMEN PADANG
Latar Belakang : Industri semen menghasilkan bahan buangan berupa debu, gas dan bahan partikulat dalam jumlah yang banyak. Bagian produksi merupakan daerah dengan tingkat paparan debu tinggi yang dapat menimbulkan penyakit paru dan gejala respirasi. Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) salah satu penyakit paru yang muncul akibat paparan debu semen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pegaruh kadar debu tehadap kejadian PPOK pada pekerja bagian produksi PT.Semen Padang.
Metode : Suatu penelitian cross sectional; untuk mencari hubungan kadar debu pada daerah produksi dengan insiden PPOK dan gejala respirasi. Semua pekerja melakukan pemeriksaan spirometri dan uji bronkodilator untuk mendiagnosis PPOK sesuai GOLD. Data dianalisis dengan uji statistik chi square dan t test, dengan derajat kepercayaan 95% nilai p < 0.05, dianggap bermakna.
Hasil : Total 144 subjek dari dua daerah dengan kadar debu yang berbeda tetapi tetap di bawah ambang batas aman sesuai ketetapan pemerintah, 72 subjek dari daerah pengepakan sebagai tempat paparan debu tinggi dan 72 dari daerah raw mill sebagai tempat paparan debu rendah. Insiden PPOK pada area paparan debu tinggi lebih tinggi dibandingkan pada daerah paparan debu rendah tetapi secara statistik, tidak berbeda bermakna (13.9% vs 4.2%; derajat kepercayaan 95% p= 0,078 ). Insiden gejala respirasi mencakup batuk kronik, , batuk berdahak dan sesak napas tidak berbeda secara bermakna ( 30,6% vs 22,2%, derajat kepercayaan 95% p= 0,345; 18,1% vs 18,1%, derajat kepercayaan 95% CI p= 1,000; 40,3% vs 27,8%, derajat kepercayaan 95% p= 0,159).
Kesimpulan : Insiden PPOK dan gejala respirasi lebih tinggi pada daerah paparan debu tinggi tetapi secara statistik tidak berbeda bermakna
Kata kunci : pabrik semen, PPOK, Paparan deb
- …
