1,721,052 research outputs found
POLIGAMI PERSPEKTIF AGH. DAUD ISMAIL DALAM TAFSIR AL-MUNIR (QS Al-NISA<’/4:3)
ABSTRAK
Mitha, 2024. “Poligami Perspektif AGH. Daud Ismail dalam Tafsir al-Munir (Qs
al-Nisa>’/4:3).” Skripsi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas
Ushuluddin, Adab, Dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Palopo.
Dibimbing oleh M. Zuhri Abu Nawas dan Abdul Mutakabbir.
Skripsi ini membahas tentang poligami dalam Tafsir al-Munir karya AGH. Daud
Ismail yang terdapat dalam QS al-Nisa<’/4:3. Penelitian ini meliputi: Bagaimana
argumen AGH. Daud Ismail dalam mengartikan poligami pada QS al-Nisa>’ /4:3
serta bagaimana analisis AGH. Daud Ismail pada QS al-Nisa<’/4:3 dalam Tafsir al
Munir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui argumen AGH. Daud Ismail
dalam mengartikan poligami pada QS al-Nisa<’/4:3 serta untuk menganalisis
penafsiran AGH. Daud Ismail pada QS al-Nisa<’/4:3 dalam Tafsir al-Munir.
Penelitian ini menggunakan metode tahlili. Selanjutnya peneliti memusatkan pada
QS al-Nisa<’/4:3 terkait poligami, karena ayat ini berkaitan dengan objek
pembahasannya, mengenai pengumpulan data peneliti menggunakan penelitian
pustaka (library research). Hasil penelitian menunjukkan pertama, Argumen AGH.
Daud Ismail dalam tafsirnya al-Munir, bahwa secara hukum, poligami diizinkan
dalam Islam selaras dengan firman Allah dalam QS al-Nisa<’/4:3, dengan
memberikan batasan hingga 4 orang istri, kedua, dalam analisisnya syarat utama
poligami yang diperbolehkan menurut AGH. Daud Ismail sejalan dengan para
mufasir yang menjadi rujukannya dalam kitab Tafsir al-Munir seperti al-Maraghi,
al-Jalalain, al-Kasysyaf, dan Fathul Qadir menyepakati kebolehan poligami
dengan syarat, yaitu suami mampu berlaku adil terhadap para istrinya, seperti
pemenuhan hak materi seperti nafkah dan tempat tinggal. Apabila suami takut atas
ketidakmampuannya akan hal tersebut, maka AGH Daud Ismail menganjurkan
untuk beristri satu.
Kata kunci: Poligami dalam Tafsir, Tafsir al-Munir Daud Ismail, Tafsir Bugi
Peranan Anreguru’ta KH. Daud Ismail dalam Pengembangan Islam di Kabupaten Soppeng
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Anreguru’ta KH. Daud Ismail mengembangkan Islam di bidang pendidikan dan bidang Dakwah, Anre guru’ta KH. Daud Ismail mendirikan Madrsah dan Yayasan untuk mendukung pengembangan pendidikan di Kabupaten Soppeng, dan memimpin Madrasah dan Yayasan tersebut sampai akhir hayatnya. KH. Daud ismail juga sangat senang masjid
Pendidikan Islam di Kabupaten Soppeng (Analisis tentang Gagasan dan Pemikiran A.G.H. Daud Ismail dan Implementasinya)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang realitas Pendidikan Islam di Kabupaten Soppeng sebelum A.G.H. Daud Ismail menggulirkan gagasan dan pemikiran pendidikannya, mengungkap gagasan dan pemikiran Daud Ismail tentang pendidikan Islam di Kabupaten Soppeng, menganalisis bentuk implementasi gagasan dan pemikiran pendidikan Islam Daud Ismail yang dikembangkan di Kabupaten Soppeng dan mengungkap tantangan dan hambatan yang dihadapi Daud Ismail dalam mengembangkan pendidikan Islam di Kabupaten Soppeng.
Jenis penelitian ini tergolong deskriptif kualitatif dengan menggunakan beberapa pendekatan keilmuan sebagai berikut: Teologis normatif, historis dan pedagogik. Pengumpulan data menggunakan metode, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sumber data terdiri atas: ulama, pimpinan unit kerja Yasrib, keluarga A.G.H. Daud Ismail, guru-guru Yasrib, dan dari literatur yang terkait dengan pembahasan ini, dengan berlandaskan al-Quran dan hadis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pendidikan Islam sebelum Daud Ismail masih bersifat jumud, tradisional dan taklid, sedangkan cara beragama umat Islam sebelum Daud Ismail masih mencampurbaurkan Islam dengan khurafat dan tradisi agama nenek moyangnya, 2) Gagasan A.G.H. Daud Ismail: pembukaan, lembaga-lembaga pendidikan, dan pemikirannya: penerapan akidah dan syariat Islam 3) Bentuk implementasi gagasan dan pemikiran Daud Ismail tentang pendidikan Islam di Kabupaten Soppeng dapat terealisasi sebagai berikut: Pembukaan lembaga/yayasan Yasrib yang menaungi beberapa madrasah atau unit kerja lainnya, pengembangan kurikulum yang relevan dengan kondisi perkembangan zaman dan Sistem Pendidikan Nasional melalui kurikulum Kementerian Agama, dan pengamalan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari yang meliputi pemantapan akidah Islam, penerapan akhlak mulia dan upaya mewujudkan tujuan hidup selamat dunia dan akhirat dan, 4) Tantangan dan hambatan yang dihadapi Daud Ismail dalam mengembangkan misinya di bidang pendidikan Islam adalah pengaruh arus perkembangan zaman dan teknologi, terbatasnya tenaga pendidik dan sarana prasarana. Namun, A.G.H. Daud Ismail dengan penuh kesungguhan setiap saat berupaya terus mengembangkan syiar agama untuk mengagungkan kalimat/agama Allah yang Maha Tinggi.
Implikasi penelitian ini, bahwa keberhasilan A.G.H. Daud Ismail di bidang pendidikan Islam, menjadikan masyarakat cerdas dan sadar dalam pengamalan syariat Islam. Maka perlu dilakukan beberapa langkah sebagai berikut: 1) Memelihara dan melestarikan lembaga pendidikan yang telah dirintis oleh Anregurutta, 2) Metode kegiatan pembelajaran perlu selalu ditingkatkan agar mampu bersaing dan menjawab tantangan perkembangan zaman, 3) Mengikuti petunjuk kebijakan pemerintah tentang SISDIKNAS melalui sistem kurikulum Kementerian Agama, 4) Meningkatkan kerjasama baik internal lembaga maupun masyarakat agar tercipta kebersamaan dalam mencapai tujuan pendidikan, 5) Meningkatkan keteladanan dan pengawasan dalam lembaga dan kepada para pelaku pendidikan agar terwujud keselarasan peningkatan SDM dan akhlakul karimah
Tafsīr al-Munīr: Studi atas Pemikiran Akhlak A.G.H. Daud Ismail
Disertasi ini adalah studi tentang Tafsīr al-Munīr, yang ditulis oleh A.G.H. Daud Ismail. Pokok Permasalahannya adalah bagaimana pemikiran A.G.H Daud Ismail di bidang akhlak, yang mencakup hakekat akhlak, wujud serta manfaat al-akhlāq almaḥmūdah. Permasalahan ini dibahas dengan metode penelitian deskriptif-analitik. Data diperoleh dari berbagai literatur yang terdiri dari dua jenis sumber yaitu sumber primer yang bersumber dari Tafsīr al-Munīr, yang sebelumnya bernama Tarjumah wa Tafsīr (terjemah dan tafsir). Sedangkan sumber kedua yang digunakan untuk mendukung dan memperkaya kajian ini adalah berbagai macam literatur tafsir, kitab dan buku akhlak yang memiliki hubungan dengan permasalahan yang dibahas. Di samping data yang bersifat tertulis, digunakan juga wawancara sebagai pendukung, utamnya menyangkut biografi A.G.H. Daud Ismail. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan pendekatan multidisipliner. A.G.H. Daud Ismail menyusun tafsirnya dalam bentuk tafsir bi-al-ra’yi, dengan menggunakan metode yang lazim digunakan oleh ulama-ulama terdahulu yaitu tahlīlī, yang dipadukan dengan corak tafsir al-adab al-Ijtimāʻi. Hakikat akhlak adalah perpaduan antara ẓāhiriyah dan bātiniyah, yang dimulai dari ẓāhiriyah kemudian meresap pada bātiniyah, keterpaduan ini sangat penting karena kalau zahiriyah saja, maka hanya sekedar simbol, begitu juga sebaliknya kalau hanya batiniyah tidak bisa dinilai baik dan buruk. Al-Akhlāq al-mahmūdah terwujud dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungannya dengan Allah swt. sebagai pencipta maupun dalam hubungannya dengan sesama manusia sebagai makhluk. Adapun manfaat Al-Akhlāq
al-mahmūdah adalah tercapainya kebahagiaan hidup di dunia serta kenikmatan dan kesenangan di dalam syurga. Implikasi penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan kajian
penafsiran Al-Qur’an secara konseptual serta merumuskan pemikiran akhlaq, sehingga dapat menjadi kontribusi ilmiah dalam bidang penelitian tafsir yang lebih intensif
METHODOLOGY OF TAFSIR AL-MUNIR WRITTEN BY AG. H. DAUD ISMAIL
This article elaborates the tafsir methodology used by local scholars, namely AG. Daud Ismail. This research is descriptive-analytic, which describes comprehensively the methodology of Tafsir al-Munir written by AG. H. Daud Ismail, which includes manhaj, sources, and ṭariqah (method). This research's primary and secondary sources are literature, which dominantly focuses on textbook research, especially Tafsir al-Munir in Buginese language written by AG. H. Daud Ismail. The results showed that Tafsir al-Munir used the tahlili methodology by explaining the relationship (munasabah) between verses or between one chapter and another. Explaining the causes of the descent (asbab al-nuzul), Analyzing vocabulary (mufradat) and the point of view of Arabic pronunciation from, Describing the general content of the verse, Explaining the fasahah elements, bayan and i'jaz, Explaining the laws that can be drawn from the discussed verse, Explaining the meaning and purpose contained on the verse which interpreted in fiqh style
TAFSIR BUGIS: PANDANGAN A.G. H. DAUD ISMAIL ATAS AYAT-AYAT AKIDAH
The development of Qur\u27anic exegesis is an ongoing process. This serves as proof that the Qur\u27an remains a valid argument in every time and place. Scholars, in the process of developing their writings and interpretations, always adapt to the conditions of the local community. One of the prominent scholars in the Bugis region is AG. H. Daud Ismail. He was the first person in Bugis land to interpret the Qur\u27an in its entirety. This study employs a qualitative method, with the primary data source being the Tafsir Bahasa Bugis, a work by AG. H. Daud Ismail. The data is then analyzed descriptively and analytically to explain AG. H. Daud Ismail\u27s perspective on creedal verses, particularly in response to the Bugis community, where many still adhere to ancestral beliefs such as Tau Lotang. The findings of this study reveal that AG. H. Daud Ismail not only developed Qur\u27anic exegesis but also engaged in da\u27wah by adapting to the local societal context, It also helps to understand the extent of his views when interpreting verses related to cree
RESPON KH. DAUD ISMAIL TERHADAP ISU-ISU LOKAL BUGIS DALAM TAFSIR AL-MUNIR
Salah satu keungggulan tafsir lokal dibanding tafsir Arab ialah kehadirannya tidak sebatas menjawab problem bahasa bagi mereka yang tidak paham akan bahasa Arab, tetapi juga menjadi respon terhadap budaya lokal masyarakat setempat. Di antara berbagai tafsir lokal yang ada, salah satunya yaitu tafsir Bugis yang ditulis oleh KH. Daud Ismail dengan judul Tafsir al-Munir. Pada historiografi tafsir Bugis, KH. Daud Ismail dikenal sebagai penafsir pertama yang menghadirkan tafsir lengkap 30 juz dalam bahasa Bugis. Selain penggunaan aksara lontara dan bahasa Bugis-Soppeng sebagai media komunikasinya, dalam Tafsir al-Munir ternyata juga ditemukan adanya respon KH. Daud Ismail terhadap isu-isu lokal Bugis, sehingga dialektika antara agama dan budaya dapat dilihat melalui tersebut. Dengan kehadiran Tafsir al-Munir, dialektika tersebut menarik untuk dilihat melalui respon yang dilakukannya terhadap budaya lokal masyarakat Bugis. Sebab, semakin mempertegas kehadiran produk tafsir sebagai bentuk relasi antara teks dengan realitas.
Ada beberapa alasan dipilihnya Tafsīr al-Munīr sebagai objek kajian. Pertama, bahwasanya ia merupakan tafsir Bugis pertama yang lengkap 30 juz, sehingga akan lebih memudahkan dalam melakukan kajian dibanding dengan tafsir Bugis yang masih parsial. Kedua, kitab Tafsir al-Munir memiliki nuansa kultural yang lebih kental dibanding tafsir Bugis yang lain. Ketiga, posisi KH. Daud Ismail sebagai ulama yang sedikit-banyaknya berinteraksi dengan masyarakat Bugis. Oleh karenanya, mengetahui isu-isu lokal Bugis apa saja yang direspon oleh KH. Daud Ismail yang terdapat dalam Tafsīr al-Munīr, serta melihat bagaimana KH. Daud Ismail merespon isu-isu lokal tersebut, khususnya yang bersinggungan dengan agama dan budaya lokal Bugis menjadi poin penting dilakukannya penelitian ini.
Untuk menjawab problematika di atas, maka penulis menggunakan kerangka teori (1) dialektika agama dan budaya; dan (2) vernakularisasi Al-Qur‟an dengan metode penelitian deskriptif-analitik yang bersifat kepustakaan (Library research) dengan menjadikan Tafsir al-Munir sebagai sumber primer dan penelitian terkait sebagai sumber sekundernya. Adapun langkah metodis yang diterapkan, yaitu: (1) mencari penafsiran KH. Daud Ismail yang bersinggungan dengan budaya lokal Bugis (2) menghimpun segala penafsiran tersebut lalu menganalisisnya. (3) menyimpulkan hasil temuan.
Berdasarkan hasil temuan yang ada, riset ini menyimpulkan bahwa: (1) KH. Daud Ismail melakukan respon terhadap budaya lokal Bugis yang dapat dibagi ke dalam tiga macam dimensi. Pertama, dimensi aqidah/kepercayaan dengan merespon segala macam bentuk kepercayaan masyarakat Bugis. Kedua, dimensi syari‟at/hukum dengan merespon tradisi yang berkaitan dengan hukum Islam. Ketiga, dimensi sosial-kemasyarakatan dengan merespon adat-istiadat dalam ruang lingkup sosial. (2) Respon yang diberikan oleh KH. Daud Ismail terhadap budaya lokal Bugis tersebut terbagi atas tiga macam pola. Pertama, pola resistensi dengan menolak segala macam bentuk tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam. Kedua, pola afirmasi dengan menerima tradisi tersebut karena tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Ketiga, pola modifikasi dengan mempertahankan aspek yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, dan mengubah aspek yang dianggap bertentangan agar tradisi tersebut dapat diterima pemberlakuannya
MAHAR DALAM PERNIKAHAN SUKU BUGIS (Telaah atas Penafsiran A.G K.H Daud Ismail dalam Kitab Tafsir Al-Munir)
Kitab tafsir al-Munir adalah kitab tafsir yang berasal dari Sulawesi Selatan,
ditulis dengan menggunakan aksara lontara’ Bugis dan menggunakan bahasa
Bugis. Kitab tafsir tersebut merupakan kitab tafsir pertama di Sulawesi Selatan
yang lengkap 30 juz al-Qur’an. Disusun oleh salah seorang ulama yang sangat
fenomenal di Sulawesi Selatan yaitu A.G K.H Daud Ismail. Penelitian ini berfokus
pada penyajian ayat-ayat mahar dalam penafsiran A.G K.H Daud Ismail dalam
kitab tafsirnya, dengan menganalisis dari segi metodologi, karaktersitik
kedaerahan, dan keterpengaruhan pemikirannya pada saat menafsirkan ayat-ayat
mahar tersebut, dengan menggunakan teoris pendamping milik Hans Georg
Gadamer. Maka dari itu, objek formal dari penelitian ini adalah penafsiran A.G K.H
Daud Ismail dalam kitab tafsirnya, sedangkan objek materialnya adalah Mahar.
Skripsi ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif yang bersifat
kepustakaan (library research) dengan menggunakan deskriptif-analitik untuk
sistem pengolahan datanya. Penelitian ini masuk ke dalam kategori kajian kitab
dengan menganalisis bentuk penafsirannya, dan juga termasuk ke dalam kategori
kajian tokoh dengan menganalisis pemikirannya.
Adapun sub-sub masalah yang dijadikan pertanyaan pada penelitian ini
adalah; bagaimana karakteristik, dan metodologi dari kitab tafsir al-Munir, serta
bagaimana penafsiran A.G K.H Daud Ismail terkait mahar. Dari masalah tersebut,
penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui karaktersitik dan metodologi
dari kitab tafsir al-Munir.
Hasil dari penelitian ini adalah; dalam ayat-ayat mahar ini yang menjadi
pengaruh besar bagi penafsirannya adalah tafsir al-Maraghi. Pada ayat-ayat ini
hampir semua penafsiran AGH Daud Ismail dengan Al-Maraghi mirip dari segi isi
penafsirannya. Namun tetap saja, pada penafsirannya AGH Daud Ismail juga
menambahkan hasil analisisnya, dan pemahamannya disertai dengan riwayatriwayat
yang tidak terdapat di dalam tafsir al-Maraghi
Untitled (Figura) / Yusof Daud @ Ismail
Karya Ini di hasilkan pada November 2020. Dengan mengunakan subjek utama figura wanita dalam karya, pelukis menggunakan media campuran yang antaranya adalah poster color, artline marker, pensil warna serta pen dan di hasilkan di atas kertas lukisan. Dalam karya tersebut pelukis mengaplikasikan gaya semi realistik serta pop art, tetapi turut menonjolkan ciri -ciri doodle flora sebagai latar belakang nya. Gaya pada karya tersebut jelas dapat dilihat pelukis menggunakan warna- warna alam yang terang sinonim dengan ciri ciri hutan tropika yang kaya dengan pelbagai kehidupan dan warna. Figura wanita merupakan ciri utama dalam penghasilan karyanya, ini kerana figura wanita seakan identiti kepada karya pelukis. Manakala perinciaan bunga-bungaan adalah sebagai pelengkap kepada lukisan ini. Jika di lihat figura wanita yang dihasilkan kelihatan lebih realistik berbanding lukisan tumbuh- tumbuhan latarnya, yang mana bertujuan untuk menimbulkan penegasan kepada karya tersebut serta sudah tentulah dapat menimbulkan keindahan karya ini apabila di pandang secara tidak langsung. Unsur ruang, jalinan dan warna amat dititik beratkan dalam penghasilan karya ini, yang mana ianya bagi menunjukan keharmonian. Warna latar belakang yang gelap bertujuan menimbulkan ruang diantara depan dan belakang
JIHAD IN THE BOOK OF TAFSIR AL-MUNIR WORK AG. H. DAUD ISMAIL
Jihad is mentioned in the al-Qur'an which is found in several surahs. Term jihad was repeated 41 times in various derivatives. Issue of jihad is one of the most sensitive issues and an interesting debate among scholars, Islamic intellectuals and Western intellectuals, both in the context of the doctrine of fiqh and social politics. Discussion of jihad raises the dynamics of pros and cons in understanding it, there are those who understand strictly so that jihad is understood as mere physical war. There are also those who understand it so loosely that it is understood that jihad is not necessary with physical war. This review discusses how to understand jihad according to AG.H. Daud Ismail is a Bugis charismatic scholar in his work Tafsir Al-Munir. This paper is a study of Tafsir al-Munir by K.H. Daud Ismail is the primary source. The meaning of jihad revealed by AG.H. Daud Ismail is a war and helps believers, be serious, defend the Qur'an and doing good. Jihad is divided into three, jihad against lust, jihad against Satan, and jihad against fellow human enemies
- …
