1,721,505 research outputs found
Chairil Anwar : aku ini binatang jalang
Aku ini binatang jalang adalah kumpulan puisi terlengkap karya penyair terbesar Indonesia Chairil Anwar. Selama ini puisi-puisinya tersebar dalam beberapa buku seperti, Deru Campur Debu, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus
Chairil Anwar: hasil karya dan pengabdiannya
Tujuan utama dari penulisan biografi pahlawan nasional ini ialah membina persatuan dan kesatuan bangsa, membangkitkan kebanggaan nasional, mengungkapkan nilai-nilai budaya bangsa dan melestarikan jiwa dan semangat kepahlawanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Disamping itu penulisan biografi pahlawan nasional bertujuan untuk mengungkapkan kisah kehidupan para pahlawan nasional agar menjadi suri tauladan bagi generasi penerus dan masyarakat pada umumnya.
Adapun pengertian Tokoh dalam naskah ini ialah seseorang yang telah berjasa atau berprestasi di dalam meningkatkan dan mengembangkan pendidikan, pengabdian, ilmu pengetahuan,
keolahragaan dan seni budaya nasional di Indonesia, salah satunya Chairil Anwar
NASIONALISME CHAIRIL ANWAR
Chairil Anwar adalah sastrawan besar yang hidup pada masa perjuangan bangsaIndonesia. Hal ini memungkinkan baginya untuk menulis pesan-pesan nasionalis dalam puisi- puisinya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk membongkar nasionalisme Chairil Anwar yang tertuang dalam puisi-puisinya. Penelitian ini menggunakan paradigma kritis dengan metode Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer yang didukung dengan Analisis Wacana Kritis Teeun A. Van Dijk untuk menyingkap bagaimana Chairil Anwar memahami praktik ideologi nasionalisme pada masa tersebut dan kemudian menuangkannya dalam puisi-puisinya. Unit data yang dianalisis adalah puisi-puisinya yang bertema nasionalis yang ditulis dalam rentang waktu 1942-1949 sebanyak 13 puisi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa puisi-puisi tersebut merepresentasikan pemikiran nasionalisme Chairil Anwar. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari kognisi individu dan konteks sosial terhadap proses penciptaan puisi
Nasionalisme Chairil Anwar (Studi Hermeneutika Filosofis dalam Puisi-puisi Chairil Anwar)
Chairil Anwar adalah sastrawan besar yang hidup pada masa perjuangan
bangsa Indonesia. Hal ini memungkinkan baginya untuk menulis pesan-pesan
nasionalis dalam puisi-puisinya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang
bertujuan untuk membongkar nasionalisme Chairil Anwar yang tertuang dalam
puisi-puisinya. Penelitian ini menggunakan paradigma kritis dengan metode
Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer yang didukung dengan Analisis
Wacana Kritis Teeun A. Van Dijk untuk menyingkap bagaimana Chairil Anwar
memahami praktik ideologi nasionalisme pada masa tersebut dan kemudian
menuangkannya dalam puisi-puisinya. Unit data yang dianalisis adalah puisipuisinya
yang bertema nasionalis yang ditulis dalam rentang waktu 1942-1949
sebanyak 13 puisi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa puisi-puisi tersebut
merepresentasikan pemikiran nasionalisme Chairil Anwar. Hal ini disebabkan
adanya pengaruh dari kognisi individu dan konteks sosial terhadap proses
penciptaan puisi
ANALISIS SEMIOTIK PUISI CHAIRIL ANWAR
Tujuan yang ingin dicapai dari tulisan ini adalah mengetahui makna dari teks-teks puisi Chairil Anwar. Beberapa puisi Chairil Anwar sarat dengan bahasa kiasan yang berupa ungkapan khas milik Chairil yang selalu didengungdengungkan oleh generasi muda. Selain itu, puisi-puisi Chairil juga memiliki unsur-unsur kepuitisan yang menimbulkan bunyi yang indah apabila dibacakan. Puisi tersebut, antara lain, ”Derai-Derai Cemara”, ”Pada Sebuah Kamar”, dan ”Yang Terampas dan Yang Putus”. Ketiga puisi itu dianalisis secara semiotik untuk dapat diungkapkan isi dan makna dari puisi tersebut. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah deskriptif kualitatif yang memaparkan tulisan berdasarkan isi karya sastra, sedang teknik penulisannya adalah studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar mempunyai makna yang dapat dijadikan bahan bacaan dan pesan-pesan untuk diketahui oleh pembaca
Kontribusi puisi-puisi Chairil Anwar dalam memotivasi kemerdekaan Indonesia 1945
Chairil Anwar merupakan sastrawan angkatan 45 yang lahir di Medan pada 26 Juli 1922. Ia adalah seorang sastrawan yang menulis sajak-sajaknya dengan tema-tema kematian, pemberontakan atau perjuangan, dan individualistis. Sebagai seseorang yang lahir pada zaman penjajahan, sajak-sajak Chairil masuk dalam kategori sajak ekspresionisme. Ia mengungkapkan keadaan zaman dalam puisi-puisinya. Ia adalah pendobrak kesusastraan Indonesia. Mengembangkan bahasa Indonesia yang baru tumbuh dan belum utuh. Dan tentu Chairil adalah seorang revolusioner. Ia adalah pejuang yang ikut berperang melalui puisi-puisinya.
Chairil Anwar adalah salah satu sosok penting dibalik peristiwa kemerdekaan Indonesia 1945. Melalui puisi-puisi yang ditulisnya, Chairil mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peristiwa bersejarah. Sehingga membicarakan jati diri puisi Indonesia tanpa menyebut namanya adalah sebuah hal yang mustahil. Hal itu pula yang kemudian membuat nama Chairil Anwar dirumuskan untuk menjadi seorang pahlawan nasional oleh sejumlah budayawan dan sastrawan dari Sumatera Barat.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui riwayat hidup dan pendidikan Chairil Anwar dan karya-karya Chairil selama hidupnya yang singkat serta mengetahui usaha Chairil Anwar dalam memotivasi kemerdekaan Indonesia 1945. Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi, yaitu berupa penulisan sejarah. Selain daripada itu, penulis menggunakan metode library research atau penelitian kepustakaan. Tentu kemudian tahap library research itu melalui tahapan kritik sebelum pada akhirnya dijadikan sebuah sumber sejarah.
Berdasarkan analisa data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa Chairil Anwar adalah seorang sastrawan angkatan 45 yang puisi-puisinya sangat erat dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia 1945. Chairil Anwar telah menjadikan kata-katanya sebagai sebuah senjata sekaligus pemantik untuk mengobarkan semangat perjuangan. Ia memiliki daya ledak (Explosive Power) terkuat dalam puisi-puisinya. Pantas jika dikatakan bahwa Chairil Anwar layak menjadi seorang pahlawan bagi banga Indonesia. Ia telah meninggalkan banyak puisi-puisinya yang sampai saat ini terus bergema di pelbagai tempat di daerah-daerah di Indonesia. Jika WR. Supratman menjadi pahlawan karena lagu Indonesia Raya, maka Chairil Anwar layak menjadi pahlawan karena puisi-puisinya telah menjadi alat perjuangan bagi bangsa
Les derniers moments de Chairil Anwar
2. Dalam sebuah artikel jang terbit tahun 1960, Nasjah Djamin telah menulis tentang hubungan2nja dengan penjair besar Chairil Anwar, sedjak pertemuan mereka jang pertama tahun 1947 di Djogja sampai meninggalnja penjair tersebut tahun 1949. M. Lajoubert menterdjemahkan teks jang menarik itu, dimana tidak hanja diberi gambaran tentang tokoh agung "Generasi 45" itu, tetapi djuga diperkenalkan pada kita lingkungan kaum intelek dan seniman pada kala itu. Penterdjemah memuat djuga dua buah surat pendek, jang satunja belum pernah diterbitkan, dari Chairil Anwar kepada Jassin, jang sekarang disimpan di dokumentasi Jassin pada Lembaga Bahasa Nasional.2. In an article published in 1960, Nasjah Djamin describes his relationship with the great poet Chairil Anwar, from their first meeting in 1947 in Djogja, until Chairil's death in April of 1949 in Djakarta. M. Lajoubert has translated this very interesting text which not only draws an original portrait of the Hero of the "generation of 45" but also introduces us to the intellectual and artistic milieu of the time. Two short letters of Chairil Anwar to Jassin preserved in archives of the Lembaga Bahasa Nasional have been added.Djamin Nasjah. Les derniers moments de Chairil Anwar. In: Archipel, volume 4, 1972. pp. 49-73
STRATEGI PENERJEMAHAN PUISI-PUISI CHAIRIL ANWAR OLEH RAFFEL DALAM BUKU THE COMPLETE PROSE AND POETRY OF CHAIRIL ANWAR
This article discusses Indonesian—Poetry translation. The purpose of this article is to describe the strategies of translating poetry of Chairil Anwar by Raffel Raffel in “The Complete Prose and Poetry of Chairil Anwarâ€, a book written and edited by Raffel Raffel. In order to reach the purpose, the poetries of the source language are compared with the poetries of the target language in order to find out the strategy used in the translation. The method applied in this study is a qualitative descriptive analysis of the meaning. The data were analyzed by using some strategies of translation theory in general given by Newmark, Vinay and Dalberhet, Baker, and Hoed and the strategy of translating poetry by Lavefere. The result of the analysis shows that the general translation strategy used in the translation of Chairil Anwar Poetries are modulation translation, calque or literal translation, descriptive equivalence translation, generic words translation, additional translation and interpretation translation. Meanwhile the strategies of translating poetry used by Raffel are metrical translation, rhymed translation, blank verse translation, and interpretation translation. Penelitian ini membahas penerjemahan puisi bahasa Indonesia kedalam bahasa Inggris. Tujuannya adalah mendeskripsikan strategi penejemahan puisi-puisi Chairil Anwar oleh Raffel Raffel dalam bukunya yang berjudul The Complete Prose and Poetry of Chairil Anwar. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, puisi-puisi Chairil Anwar dalam bahasa Indonesia dibandingkan dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data dianalisis dengan menggunakan strategi penerjemahan secara umum yang dikemukakan oleh Newmark, Vinay dan Dalberhet, Baker, and Hoed dan strategi penerjemahan puisi oleh Andre Lavefere. Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi penejemahan umum yang digunakan dalam menerjemahkan puisi Chairil Anwar adalah strategi penerjemahan modulasi, calque atau penerjemahan literal, kesepadanan deskriptif, penerjemahan dengan kata generik atau kata yang lebih umum, penerjemahan dengan tambahan dan penerjemahan dengan pengurangan. Sedangkan strategi penerjemahan puisi yang digunakan oleh Raffel adalah penerjemahan metris, penerjemahan rima atau sajak, penerjemahan bait secara bebas, dan penerjemahan interpretasi
Pemahaman semiotika sajak Doa karya Chairil Anwar
Sehingga ke hari ini, sajak-sajak karya penyair terkenal Indonesia, Chairil Anwar, yang digelar sebagai pelopor angkatan 45 oleh tokoh sastera H. B. Jassin, masih hangat diperbincangkan orang. Lebih-lebih lagi pada setiap tanggal 28 April, yang merupakan tarikh hari kematiannya yang senantiasa diisi dengan pelbagai kegiatan kesusasteraan, misalnya diskusi, seminar, bacaan puisi, pertandingan penulisan kreatif, dan lain-lain lagi. Chairil Anwar yang meninggal dunia pada 28 April 1949 dalam usia 27 tahun telah menjadi fenomena tersendiri, bahkan menjadi mitos dalam bidang kesusasteraan Indonesia moden. (disalin dari artikel
AKU: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar
Didalam buku ini dituliskan bahwa panorama dunia sastra Indonesia segera berubah setelah Chairil Anwar hadir dengan karya-karyanya. Chairil Anwar telah membuka kesadaran pada seniman sezamannya dan sesudah zamannya. Mereka mulai melihat kemungkinan yang lebih luas untuk perkembangan kepribadian dan gaya kesenian yang baru. Orang boleh suka atau tidak suka kepadanya, tetapi telah terbukti harus diakui bahwa Chairil Anwar adalah salah satu dinamisator bagi kehidupan kebudayaan bangsanya. Setiap kenangan akan kehadiran sang penyair dan setiap pembacaan kembali sajak-sajaknya akan selalu menggugah dinamika di dalam kehidupan
- …
