Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra
Not a member yet
    311 research outputs found

    Eksplorasi Eksistensialisme dalam Cerita Pendek “Al-Jahim Laisa Fihi Mir’ah” dan Teks Drama “No Exit”

    Full text link
    This research aims to explain and compare the form of existentialism contained in the short story “Al-Jahim Laisa Fihi Mir'ah” by Ihsan Abdul Quddus and the drama text No Exit by Jean Paul Sartre. This type of research is descriptive qualitative research using the reading and note-taking method. The data collection technique is carried out using the comparative literature approach which assumes that the similarity of the two works above is due to influence factors. This research found some similarities and differences between the two works. Forms of existentialism that are similar in both include: alienation, existence precedes essence, the impact of one's existence on others, and freedom and responsibility. The similarities prove that there is an influence of the short story “Al-Jahim Laisa Fihi Mir'ah” from the drama text No Exit.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan membandingkan bentuk eksistensialisme yang terdapat di dalam cerpen  “Al-Jahim Laisa Fihi Mir’ah”  karya Ihsan Abdul Quddus dan teks drama “No Exit” karya Jean Paul Sartre. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode  baca dan catat. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pendekatan sastra banding yang mengasumsikan bahwa kemiripan kedua karya di atas akibat faktor pengaruh. Penelitian ini menemukan beberapa  persamaan dan perbedaan antara kedua karya. Bentuk-bentuk eksistensialisme yang mirip pada keduanya antara lain: keterasingan, eksistensi mendahului esensi, dampak keberadaan seseorang bagi orang lain,    dan kebebasan dan tanggung jawab. Kemiripan tersebut terbukti bahwa ada keterpengaruhan cerpen “Al-Jahim Laisa Fihi Mir’ah” dari teks drama “No Exit”

    Abstract Views

    No full text

    Identitas Gender dan Kebebasan: Kajian Feminisme Eksistensialis dalam Novel Pasung Jiwa Karya Okky Madasari

    Full text link
    Abstract This study examined the concept of gender identity through the perspective of existentialist feminism in Okky Madasari's novel entitled Pasung Jiwa. The novel depicts the struggles of the main character, a man who feels more comfortable living as a woman, against the pressures and conflicts arising from traditional societal constraints. Using a sociological approach to literature and Simone de Beauvoir's existentialist feminism theory, this research explores how individual identity and freedom are shaped and constrained by social expectations and norms. The study found that the individual's struggle to identify and express their gender identity is often commodified by social norms and reflect the tension between individual freedom and social expectations. The method used in this research is text analysis with a focus on gender dynamics and individual freedom.Abstrak Penelitian ini mengkaji konsep identitas gender melalui perspektif feminisme eksistensialis dalam novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari. Novel tersebut menggambarkan perjuangan karakter utama, seorang laki-laki yang lebih nyaman menjalani hidup sebagai perempuan, melawan tekanan dan konflik yang timbul akibat batasan-batasan tradisional masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra dan teori feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana identitas dan kebebasan individu dibentuk dan dibatasi oleh harapan dan norma sosial. Penelitian ini menemukan bahwa perjuangan individu untuk mengidentifikasi dan mengekspresikan identitas gender mereka sering kali dikomodifikasi oleh norma sosial, mencerminkan ketegangan antara kebebasan individu dan ekspektasi sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis teks dengan fokus pada dinamika gender dan kebebasan individu

    Peristiwa Kriminalitas dalam Produksi Sastra Peranakan Tionghoa Masa Kolonial Tahun 1924 dan 1929

    Full text link
    The social concept constructed by Alan Swingewood includes literature as a reflection of society, historical relationship between social phenomena and substance of literary works, and indicator of authorship productivity. Mostly the Peranakan Chinese people’s crime themed novels published in 1924 and 1929 contain social elements formed between the position of Chinese characters in the midst of the native figures. This research is descriptive-qualitative in order to collect data and present the results of the analysis based on narrative content. The results of this study show that the literary works of the Peranakan Chinese people’s criminal narratives were written based on the real situation at that time. Meanwhile, the trigger for the productivity of criminal narratives by Peranakan Chinese writers is due to the high interest of readers to Peranakan Chinese magazines. The contribution of this research is to harmonize the narrative with the real history of the era while presenting the expertise of Chinese peranakan writers in the past.Konsep sosial yang dikonstruksi oleh Alan Swingewood melibatkan sastra sebagai cerminan masyarakat, relasi historis fenomena sosial dengan substansi karya sastra sekaligus indikator produktivitas kepengarangan. Utamanya dalam novel peranakan Tionghoa yang terbit tahun 1924 dan 1929 bertema kriminal mengemukakan unsur sosial yang terbentuk antara kedudukan para tokoh Tionghoa di tengah-tengah tokoh bumiputera. Penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif guna mengumpulkan data sekaligus memaparkan hasil analisis berdasarkan konten narasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa karya sastra narasi kriminal peranakan Tionghoa ditulis berdasarkan situasi nyata pada masa tersebut. Sementara itu, pemicu produktivitas narasi kriminal oleh penulis peranakan Tionghoa disebabkan tingginya minat pembaca pada majalah peranakan Tionghoa. Sumbangsih dari penelitian ini untuk menyelaraskan narasi dengan histori nyata di zaman tersebut sekaligus mengemukakan kepiawaian penulis peranakan Tionghoa di masa lalu.

    Konseptualisasi Manusia dan Pemimpin dalam Pemilihan Gubernur Jakarta Tahun 2017: : Sebuah Kajian linguistik Kognitif

    No full text
    Abstract Humans and leaders are crucial topics in the 2017 Jakarta Governor Election. Both gubernatorial candidates and their running mates employed distinct metaphors to elucidate these two subjects.  This research aims to explore how humans and leaders were conceptualized in the 2017 Jakarta Governor Election and to evaluate the consistency of these metaphors. This research employs a descriptive qualitative methodology utilizing a cognitive linguistics perspective. Data of this research were collected through reading and note-taking techniques. The data were then analyzed using referential and abductive inferential methods.  The findings of this research revealed that Ahok-Djarot conceptualized humans as buildings, containers, computers, inanimate objects, and broken entities, whereas Anies-Sandi conceptualized humans solely as buildings. In leadership discourse, Ahok-Djarot conceptualized leaders as servants, parental figures, and administrators of justice, whereas Anies-Sandi characterized leaders as role models, brothers to the people, and  courier. The Ahok-Djarot candidate pair demonstrated inconsistencies in employing their metaphor regarding these two topics.Abstrak Manusia dan pemimpin adalah topik yang krusial dalam debat Gubernur Jakarta tahun 2017. Kedua kandidat gubernur dan wakilnya menggunakan metafora yang berbeda dalam mengkonseptualisasikan kedua topik tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana manusia dan pemimpin dikonseptualisasikan dalam debat Pemilihan Gubernur Jakarta tahun 2017 serta menguji koherensi dari kedua metafora itu. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan linguistik kognitif. Data dikumpulkan melalui teknik baca dan catat. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode referensial dan inferensial abduktif. Penelitian ini menemukan bahwa Ahok-Djarot mengonseptualisasikan manusia sebagai bangunan, kontainer, komputer, benda mati, dan entitas yang rusak, sedangkan Anies-Sandi mengonseptualisasikan manusia sebagai bangunan. Dalam wacana kepemimpinan, Ahok-Djarot mengonseptualisasikan pemimpin sebagai pelayan, orang tua, dan administrator keadilan, sedangkan Anies-Sandi  mengonseptualisasikan pemimpin sebagai panutan, saudara bagi rakyat, dan kurir. Pasangan calon Ahok-Djarot menunjukkan ketidakkonsistenan dalam penggunaan metafora untuk kedua topik tersebut

    Hasrat dan Aksioma dalam Cerpen-Cerpen Budi Darma: : Analisis Deleuzian tentang Subjektivitas

    Full text link
    Budi Darma is a well-known Indonesian writer whose characters in his works frequently think, speak, make decisions, and act in an “unnatural” way or contrary to general norms. This research aims to understand and introspect the discussion on the “strangeness” of the characters in Budi Darma's short stories. Deleuze assumes that reality is generated through two production machines, namely 1) “desire” which is immanent and comes from within the subject; and 2) “axioms” or basic propositions without justification generated through the subject's hegemonic external influence. The method used is text interpretation. The study found that the “unnatural” actions of the characters were caused by the negotiation and dialectics between the characters' desires and axioms. Although the characters never actually carry out deterritorialization, the negotiations and dialectics were represented through narratives that are sceptical, cynical, and tend to be individualistic. Based on these findings, the “unnaturalness” in Budi Darma's short stories cannot simply be understood as “characters' actions that are outside the norm”, but rather as a paradox generated through the clash between desire and axiom.Budi Darma merupakan seorang sastrawan Indonesia yang dikenal kerap menghadirkan tokoh-tokoh yang berpikir, berbicara, mengambil keputusan, dan bertindak secara “tidak wajar” atau berkebalikan dengan norma pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami sekaligus mengintrospeksi kembali diskusi mengenai “keanehan” tokoh dalam cerpen-cerpen Budi Darma. Deleuze beranggapan bahwa realitas terbentuk dari dua mesin produksi, yaitu 1) “hasrat” yang bersifat imanen dan berasal dari dalam diri subjek; dan 2) “aksioma” atau proposisi dasar tanpa justifikasi yang diproduksi oleh oleh pengaruh eksternal subjek yang hegemonik. Metode yang digunakan adalah interpretasi teks. Adapun penelitian ini menemukan bahwa tindak-tanduk tokoh-tokoh yang “tidak wajar” disebabkan karena negosiasi dan dialektika antara hasrat dan aksioma tokoh. Meskipun tokoh-tokoh tersebut tidak pernah benar-benar melakukan deteritorialiasi, negosiasi dan dialektika tersebut direpresentasikan lewat narasi yang skeptis, sinis, dan cenderung individualistis. Berdasarkan temuan tersebut, maka “ketidakwajaran” dalam cerpen-cerpen karya Budi Darma tidak semata bisa dipahami sebagai “tindakan-tindakan tokoh yang berada di luar norma”, tetapi paradoks yang dihasilkan oleh benturan antara hasrat dan aksioma

    Stilistika Feminisme “Perjamuan Sunyi” dalam Sehimpun Cerita Ludah Nabi di Lidah Syekh Raba

    Full text link
    The language styles in this article study were analyzed in the realm of feminism to represent gender issues in some short stories. This study aims to describe pattern of feminism stylistics through the characterization of characters in the story of Perjamuan Sunyi. This type of research is descriptive qualitative. The research data are in the form of words, phrases, clauses, and sentences in the language styles containing feminism. The data were taken from Royyan Julian’s short story “Ludah Nabi di Lidah Syekh Raba” (2019). The data were analyzed by means of Sara Mills’ feminism stylistics. The study found that the use of personification, rhetoric, paradox, hyperbole, simile, and metaphor show the author's efforts to describe women's helplessness and resistance. In addition, the language styles in the story do not only describe women's experiences in facing injustice, but also voice the expression of women who try to maintain their dignity and freedom in the inequality of social structures. This research has implications for the systematics creativity of the arrangement of literary works' stylistics in addressing the increasingly complex and challenging issue of feminism.Gaya bahasa yang dikaji dalam artikel ini dianalisis dalam ranah feminisme untuk merepresentasikan isu gender dalam cerita pendek. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola gaya bahasa feminisme melalui perwatakan tokoh pada cerita “Perjamuan Sunyi”. Jenis penelitian ini ialah kualitatif deskriptif. Data penelitian berwujud kata, frasa, klausa, dan kalimat yang mengandung gaya bahasa bermuatan feminisme. Data bersumber dari cerpen Ludah Nabi di Lidah Syekh Raba karya Royyan Julian (2019). Data dianalisis menggunakan stilistika feminisme Sara Mills. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan majas personifikasi, retorika, paradoks, hiperbola, simile, dan metafora menunjukan upaya pengarang dalam menggambarkan ketidakberdayaan dan perlawanan perempuan. Selain itu, gaya bahasa dalam cerita tersebut tidak hanya menyoroti pengalaman perempuan dalam menghadapi ketidakadilan, melainkan turut menyuarakan ekspresi perempuan yang berusaha mempertahankan martabat dan kebebasannya dalam ketimpangan struktur sosial. Penelitian ini berimplikasi terhadap kreativitas sistematika penyusunan gaya bahasa karya sastra dalam menyinggung isu feminisme yang semakin kompleks dan menantang

    Metode, Tantangan, dan Strategi Pembelajaran Keterampilan Membaca Bahasa Arab: : Tinjauan Literatur Sistematis

    Full text link
    Reading proficiency in Arabic is a fundamental and crucial skill for accessing religious texts such as the Qur'an, Hadith, and academic texts in the field of Islamic studies. This study examines strategies for teaching Arabic reading skills through a Systematic Literature Review (SLR) focusing on instructional techniques, challenges faced by non-native Arabic learners, and strategies for reading religious and academic texts. The researcher had taken 14 selected articles out of 750 identified articles by means of Publish or Perish, Semantic Scholar, Google Scholar, and other additional tools such as Mendeley and PRISMA for descriptive analysis purpose. Based on the SLR of the 14 journal articles, it was found that problem-based methods are effective in developing students’ analytical skills, while context-based approaches support deeper understanding of verses or texts. The study also highlights the importance of utilizing modern technologies such as interactive learning applications to boost student motivation and engagement. In addition, student collaboration through group discussions has been identified as a strategy that strengthens comprehension of both academic and religious texts. However, the study also identifies shortcomings in traditional approaches that overly emphasize grammar without practical context, as well as challenges in designing adaptive learning materials. This study offers practical guidance for educators in designing teaching strategies that align with learners’ needs in the digital era, thereby addressing the challenges of Arabic language learning more effectively.Kemampuan membaca Bahasa Arab adalah keterampilan fundamental yang penting dalam mengakses teks keagamaan seperti Al-Qur'an dan hadits serta teks akademik di bidang keislaman. Penelitian ini mengkaji strategi pembelajaran keterampilan membaca Bahasa Arab melalui tinjauan sistematis literatur dengan fokus pada teknik pembelajaran, tantangan yang dihadapi pembelajar non-Arab, dan strategi pembelajaran untuk teks keagamaan dan akademik. Penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review (SLR). Peneliti menemukan 750 artikel dalam pencarian menggunakan publish or perish, semantic schoolar dan google schoolar dan bantuan aplikasi lain seperti mendeley, prisma yang kemudian disaring menjadi 14 artikel terpilih untuk dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan Systematic Literatur Review (SLR) terhadap artikel jurnal, hasil kajian terhadap 14 artikel menunjukkan bahwa metode berbasis masalah terbukti efektif dalam mengembangkan keterampilan analitis siswa, sementara pendekatan berbasis konteks membantu dalam memahami makna ayat atau teks secara mendalam. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi modern seperti aplikasi pembelajaran interaktif yang meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa. Selain itu, kolaborasi antar siswa melalui diskusi kelompok menjadi salah satu strategi yang memperkuat pemahaman mereka terhadap teks akademik dan keagamaan. Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi kekurangan dalam pendekatan tradisional yang terlalu berfokus pada tata bahasa tanpa konteks praktis, serta tantangan dalam desain materi pembelajaran yang adaptif. Kajian ini menawarkan panduan praktis bagi pengajar untuk merancang strategi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pembelajar di era digital, sehingga mampu mengatasi tantangan pembelajaran Bahasa Arab secara lebih efektif

    Preface

    No full text

    Front Cover

    No full text

    227

    full texts

    311

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇