171 research outputs found
Hegemoni Rezim Intelijen : Sisi Gelap Peradilan Kasus Komando Jihad
Busyro Muqoddas, melalui Hegemoni Rezim Intelijen; Sisi Gelap Peradilan Kasus Komando Jihad membawa bacaan yang menarik. Ada satu sejarah pemerintahan di Indonesia yang selalu jadi buah bibir hingga sekarang, yakni Orde Baru (1966-1998). Keistimewaan Orba dapat ditinjau dari Tiga kekuatan “pengamanâ€; Militer, Golongan Karya/Birokrat, dan Konglomerat. Ketiga kekuatan ini juga yang turut membentuk corak otoriter Orba.Kebutuhan “pengamanan†Orba melahirkan pembenaran-pembenaran tindakan yang jauh dari keadilan. Sistem Orba menolak segala macam perusak dominasi kekuasaan yang sedang dan akan dimainkannya. maka Orba menjaga kestabilan kekuasaan dengan memanfaatkan tiga kekuatan tadi, dan dengan segala variasinya membentuk lingkaran kokoh yang menahan agar Orba tidak sampai anjlok wibawanya dalam perpolitikan Nasional. Dari sinilah disinyalir; Peradilan Sesat, Komando Jihad, dan Intelijen berada.Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) yang memang diduga telah melakukan penyiksaan dan pembunuhan tahun 1965 adalah alat yang ampuh dari pemerintah Orde Baru. Busyro menuliskan bahwa Kopkamtib dan BAKIN menjadi penyebab munculnya Komando Jihad. Persekongkolan di antara Kopkamtib dan BAKIN terjadi melalui dua fungsi. Kopkamtib menjalankan fungsi penegakan hukum, sedangkan BAKIN menyulut teror dan kekerasan. Motif klasik dari manipulasi ini adalah untuk mempersiapkan kemenangan GOLKAR pada pemilu 1977.Kestabilan Orba juga dijaga dengan tindakan pembonsaian “Islam Politik†pada 1973 oleh Suharto. Namun, ternyata tidak mampu meredam keinginan masyarakat untuk mendukung partai selain GOLKAR. Bagaimanapun juga, GOLKAR adalah salah-satu dari tiga kekuatan utama yang mendukung Orba untuk bertahan sedemikian lamanya, yakni 1966 hingga 1998. Dua kekuatan lainnya adalah Militer dan Konglomerat.Buku Hegemoni Rezim Intelijen ini merupakan disertasi Busyro Muqoddas yang membahas bagaimana peradilan sesat berjalan selama ini. “peradilan sesat†mencirikan satu kegiatan yang serba manipulatif. Para terdakwa diperlakukan secara tidak manusiawi didepan hukum. Busyro menampakkan kepada kita satu ulasan tajam dan terbuka mengenai dugaan/rekaan kita tentang praktik peradilan yang selama ini boroknya masih dalam taraf mitos.Sebastian Pompe, peneliti asal belanda sekaligus penulis buku Runtuhnya Institusi Mahkamah Agung, dalam kata pengantar mengatakan jelas adalah salah tafsir jika menganggap karya ini hanya sebuah tinjauan historis yang tidak memiliki keterkaitan apapun dengan masa sekarang, karena ternyata kajian Busyro masih sangat relevan di masa sekarang terlebih pada bagaimana bentuk-bentuk marginalisasi politik islam. Pompe juga menutup pengantarnya dengan memuji busyro, “buku ini adalah suatu mahakaryaâ€
KOMUNIKASI POLITIK KIAI BUSYRO KARIM DALAM PROSES PEMENANGAN PILKADA SUMENEP TAHUN 2015
Pada pelaksanaan Pilkada Serentak tahun 2015 lalu, Kabupaten Sumenep
juga menjadi salah satu daerah/kabupaten penyelenggara. Masa jabatan Bupati
Sumenep periode 2010-2015 yang dijabat oleh Kiai Busyro Karim sudah berakhir.
Namun, pada pilkada Sumenep tahun 2015 tersebut, Kiai Busyro Karim kembali
mencalonkan diri. Dirinya diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan
didukung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) serta Partai
Nasional Demokrasi (Nasdem). Lawan politik Kiai Busyro Karim di Pilkada saat
itu adalah paslon Zainal Abidin-Siti Kholifah.
.
Keterlibatan sosok Kiai dalam politik praktis di Sumenep sudah lama
terjadi, bahkan Kiai Busyro Karim sendiri sudah pernah menjabat sebagai Ketua
DPRD Sumenep selama 10 tahun, hingga akhirnya menjabat sebagai Bupati
Sumenep pada periode 2010-2015. Kemenangan pilkada Sumenep tahun 2015
lalu juga masih diperoleh Kiai Busyro Karim. Dirinya unggul 10.108 suara atas
paslon Zainal Abidin. Artinya, hingga tahun 2021 kelak, Kiai Busyro Karim
sudah menjabat kursi pemerintahan di Sumenep selama 20 tahun.
Suksesi pemenangan Kiai Busyro Karim tentu menarik diteliti, sebab
selain dominan menjadi pemimpin politik, Kiai Busyro Karim juga merupakan
tokoh Kiai di Kabupaten Sumenp. Penelitian ini fokus pada Komunikasi Politik
Kiai Busyro Karim dalam Pemenangan Pilkada Sumenen Tahun 2015. Metode
penelitian ini ialah Kualitatif, sedangkan pengumpulan datanya ialah lewat
wawancara dan dokumentasi.
Hasilnya, selama proses komunikasi politik berlangsung, Kiai Busyro
merupakan komunikator utama, pesan-pesan politiknya banyak terkait dengan
kinerjanya selama menjabat serta visi misinya jika terpilih kembali, media yang
sering mengkampanyekan pesan-pesan politik Kiai Busyro Karim ialah
MataSumenep, sedangkan khalayak yang dipilih oleh Kiai Busyro Karim ialah,
publik yang memiliki perhatian atau pengaruh lebih secara politik di Masyarakat.,
seperti NU, Ansor, Budayawan, Serta Kepala Desa
Penerapan Hukum Tidak Tertulis dalam Putusan Hakim
Bagi seorang hakim, untuk menerapkan hukum tak tertulis dalamputusannya, adalah hal yang dilematis, antara tuntutan untuk menerapkannya dalam kondisi tertentu, serta kesulitan teknis termasuk kapabilitas hakim. H. Busyro Muqoddas, dalam tulisan berikut berusaha menggali, kapan dan dalam situasi bagaimana seorang hakim melakukan penerapan hukum tak tertulis dalam putusannya
PERAN MASJID AL-BUSYRO SEBAGAI PUSAT PEMBINAAN UMAT DI DUSUN JABON DESA TANJUNGKALANG KEC. NGRONGGOT KAB. NGANJUK
Masjid merupakan salah satu tempat ibadah bagi umat muslim. Masjid juga sebagai salah satu sarana yang dapat digunakan dalam proses pembianan umat. Hal ini dikarenakan dalam sejarahnya masjid memiliki arti penting bagi kehidupan umat Islam. Pada masa itu, Rasulullah mendirikan masjid pertama kali di Madinah yang kita kenal dengan nama masjid Nabawi. Dimana masjid Nabawai merupakan salah satu tempat yang dijadikan pusat dalam penyebaran ajaran Islam. Bukan hanya sebagai tempat untuk shalat saja, akan tetapi juga digunakan sebgai tempat dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, tidak heran jika masjid digunakan sebagai pusat dalam pembianan umat. Masjid Al-Busyro merupakan salah satu masjid yang dijadikan sebagai pusat pembianaan umat di Dusun Jabon. Tidak hanya digunakan sebagai tempat shalat, tetapi juga dijadikan sebagai tempat proses pembianaan umat. Dari situlah penulis tertarrik untuk melakukan penelitian mengambil judul Peran Masjid Al-Busyro Sebagai tempat Pembinaan Umat Di Dusun Jabon Desa Tanjungkalang Kec. Ngoronggot Kab. Nganjuk. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah mengenai peran masjid Al-Busyro sebagai pusat pembinaan umat. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang bersifat kualitatif. Metode pengumpulan data melalui dokumentasi, wawancara, dan observasi. Analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu setelah data yang dibutuhkan terkumpul kemudian disusun dan diklarifikasiakan. Selanjutnya dianalisa dan dituangkan dengan kata-kata untuk menggambarkan objek yang diteliti, kemudian dapat ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada proses pembinaan umat yang dilakukan dengan baik di masjid Al-Busyro. Peran masjid Al-Busyro sebagai pusat pembinaan umat yaitu sebagai tempat melaksanakan ibadah, tempat berlangsungya proses pendidikan, dan tempat pembinaan umat muslim.Kata kunci: Masjid, Pembinaan umat, dan Peran
Religious Resilience of Tulungagung Community Through Busyro Salawat at Majelis Assyifa
The increasing social unrest, value uncertainty, and spirituality challenges in today\u27s modern era, encourage the need to understand the practice of sholawat as a living hadith heritage that can provide spiritual direction in the midst of the challenges of the times. The aim of the research was to analyze the religious resilience of Tulungagung community through busyro salawat at Majelis Assyifa. The particular research used a qualitative approach, which produces descriptive data through verbal and written notes, and involves observing the behavior of people who are the object of research. Then, the data was analyzed using Max Weber\u27s social action approach theory. The results showed that the practice of salawat busyro in Majelis Assyifa Tulungagung in understanding through the lens of living hadith, not only provides spiritual wisdom, but also provides a relevant and adaptive value framework that can significantly bring a sense of calmness, wisdom in overcoming complex social, and spiritual issues of the times
Pembiasaan Membaca Sholawat Busyro Setelah Apel Pagi Sebagai Upaya Menumbuhkan Karakter Religius Siswa MII Banyurip Ageng 02 Kota Pekalongan
Instilling religious values ??is a fundamental aspect of character education in elementary schools. This article discusses the implementation of the habit of reading Sholawat Busyro which is carried out after the morning assembly as an effort to foster the religious character of students at MII Banyurip Ageng 02 Pekalongan City. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of interviews, observations, and documentation. The results of the study indicate that the habit of reading Sholawat Busyro is carried out routinely, spontaneously, and through exemplary behavior, and is followed by all students and teachers every morning. The implementation of this activity follows the steps: student training and mentoring, giving appreciation, strengthening morals through the knowing-feeling-doing approach, and avoiding criticism. This activity forms students' religious character such as humility, politeness, discipline in worship, and love for the Prophet. Supporting factors for this habit include teacher assertiveness, involvement of all students, a safe environment, and implementation of the habit as a mandatory madrasah activity. The inhibiting factors include students' inability to memorize, laziness in reciting Sholawat Busyro, limited time, and incorrect pronunciation. The results of this study recommend the habituation of sholawat as an effective strategy to form students' religious character comprehensively and applicatively in elementary education environments
Analisis Qofiyah dalam Qosidah “Busyro Lana” karya Al- Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki
Penelitian ini mengkaji qosidah busyro lana karya Al- Sayyid Muhammad Alwi Al- Maliki dari bidang ilmu qowafi, ilmu qowafi adalah ilmu yang mempelajari tentang rima(qofiyah) pada akhir bait puisi (syi'ir). Syi'ir merupakan karya sastra arab yang mempunyai nilai keestetikan dari imajinasi pengarang dan tidak lepas dari kaidahkaidah arudl dan qowafi dalam penyusunannya. Tujuan288Fakultas Adab dan Humaniora - UIN Sunan Ampel SurabayaSurabaya, 03 November 2025dari penelitian ini adalah untuk mengetahui qofiyah dari qosidah ini yang meliput bentuk qofiyah, harakat qofiyah, huruf qofiyah dan nama qofiyah. penelitian ini bersifat kualitatif menggunakan metode deskriptif di tinjau dari pendekatan ilmu qowafinya. Data penelitian ini yaitu qosidah busyro lana karya Al- Sayyid Muhammad Alwi Al- Maliki. Hasil dari pembahasan menunjukkan bahwa bentuk qofiyah dari qosidah ini menggunakan tiga bentuk qofiyah yaitu satu kata, sebagian kata dan satu kata dan sebagian dari kata lainnya. Huruf qofiyah yang terdapat pada qosidah ini yaitu rawi muthlaq dan muqayyad, washal dan ridf. Dari segi harakat qofiyahnya ada tiga juga yaitu majra fathah dan kasroh, taujih dan hadzwu fathah kasroh dan dhommah. Sementara dari segi nama qofiyahnya ada tiga yaitu mutadaarik, mutawaatir dan mutaraadif. Kata kunci: Qosidah, Syi'ir, Ilmu Qowaf
Kafaah dalam perkawinan keturunan Habib di Majlis Mahmudul Busyro Kecamatan Cilamaya Wetan Kabupaten Karawang
Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita dengan tujuan membentuk keluarga yang sakinah. Salah satu untuk mewujudkan tujuan tersebut yaitu adalah dengan kafaah. Kafaah dalam hadist nabi telah memberkan anjuran dalam memilih pasangan yaitu harta, kekayaan, keturunan, dan agama. Mayoritas ulama sepakat menempatkan agama sebagai kriteria paling pokok dalam agama sebagai kriteria paling pokok dalam kafaah. Hal ini berdasarkan pada surat Al Hujaratayat 13 yang menerangkan kadar kemulian seseorang hanya dilihat dari sisi ketakwaanya. Namun dari hasil penelitian dilapangan. Pernyataan yang terjadi pada pemahaman keluarga habib di Majlis Mahmudul Busyro yang meletakan unsur nasab adalah yang paling pokok.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengatahui tentang sistem perkawinan keturunan habib, konsep kafaah habib, dampak pelanggaran penerapan kafaah pada keturunan habib di Majlis Mahmudul Busyro, Cilamaya Wetan Kabupaten Karawang.
Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian studi kasus. Dengan teknik studi literatur, observasi dan wawancara langsung dengan responden.
Hasil dari penelitian ini didapat bahwa sistem perkawinan keturunan Habib tidak jauh berbeda dengan masyarakat pada umumnya hanya saja yang berbeda ialah wanita dari keturunan Habib hanya boleh menikah dengan keturunan Habib lagi. Pemahaman keturunan habib di Majlis Mahmudul Busyro adalah bahwa perkawinan sekufu dikalangan para habib adalah lebih ditekankan pada faktor keturunan dan juga faktor agama. Adapun dampak pelanggaran akibat dari ketidaksekufuan apabila syarifah menikah dengan non habib maka akan menimbulkan perselisihan seperti terputusnya tali kekeluargaan (nasab) rasulnya, akan tetapi itu semua baik konsep nasab maupun akibat dari dampak ketidak sekufuan itu adalah merupakan suatu pencegahan dari timbulnya mafsadat atau kerusakan. Sesuai dengan kaidah fiqh yang berbunyi “ menolak segala bentuk kemafsadatan lebih didahulukan dari pada mengambil kemaslahatan. Karena pada dasarnya konsep nasab yang dilakukan oleh keturunan habib adalah untuk menjaga keturunan rosul serta mencegah terjadinya kerusakan yang terjadi apabila adanya perbedaan yang terdapat pada pasangan.
Tolak ukur kafaah nasab pada keturunan habib adalah berbanding lurus dengan faktor agama sehingga antara faktor agama dan faktor nasab ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sedangkan dampak pelanggaran ketidaksekufuan itu adalah bentuk sanksi bagi syarifah yang melanggar aturan kafaah yang bertujuan untuk mencegah terjadinya ketidak harmonisan yang terjadi apabila ada perbedaan pada pasangan serta menjaga keturunan rosul
Hubungan makhluq dengan Khaliq dalam surat al Fatihah: studi komparatif “tafsir al-Qur’an al Karim karya M Quraish Shiha dan tafsir al-Asas karya Abuya Busyro Karim”
Tuhan dan manusia banyak dibicarakan dalam kitab suci al-Qur’an, tuhan sebagai sang pecipta (khaliq) dan manusia sebagi ciptaanNya (makhluk). Keduanya mempunyai hubungan yang unik. Khususnya didalam rangkaian surat al-fatihah. Surat yang menjadi pembuka surat-surat didalam al-Qur’an yang diyakini olehsebagian ulama tafsir mempunyai rahasia, dan kandungan yang istimewa. Dan karena alasan itu banyak sekali ulama-ulama tafsir yang mencoba untuk mengungkapkan rahasia dan keistimewaan apa yang terkandung dalam surat al-Fatihah. Tidak terkecuali dua tokoh tafsir Indonesia M.Quraish shihab dalam tafsirnya “Tafsir al-Qur’an karim” dan Abuya Busyro Karim dalam tafsirnya “al-Asas”. Untuk pengkajian terfokus , peneliti membahas dua permasalahan pokok pertama Bagaimanakah metode hubungan Makhluq dengan Khaliq dalam Surat Al Fatihah dalam Tafsir al-Asas : Kandungan dan Rahasia dibalik Firman-Nya karya Abuya Busyro Karim dan Tafsir Al-qur’an Al karim karya M Quraish Shihab? Kedua: Bagiamanakah hubungan Makhluq dengan Khaliq dalam Surat Al Fatihah dalam Tafsir al-Asas : Kandungan dan Rahasia dibalik Firman-Nya karya Abuya Busyro Karim dan Tafsir Al-qur’an Al karim karya M Quraish Shihab? Persoalan diatas dianalisis dengan menggunakan metode deskriptis-analisisis dengan menggunakan pendekatan tafsir muqorin, yakni suatu pendekatan dengan membandingkan dua penafsiran. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam surat al-Fatihah terdapat beberapa hubungan atara Tuhan (khaliq) dan Manusia (mahkluq) yakni pertama, 1) hubungan makhluq dan khaliq yang berupa keimanan yang dikelaskan pada ayat pertama dari surat al-Fatihah . kedua, 2) hubungan makhluq dan khaliq yang berupa ibadah yang dikelaskan pada ayat kelima dari surat al-Fatihah, ketiga, 3) hubungan makhluq dan khaliq yang berupa hidayath yang dikelaskan pada ayat ke enam dari surat al-Fatihah. Secara garis besar kandungan surat al-Fatihah dibagi oleh Allah menjadi dua bagaian , setengah untukNya dan setengah yang lain untuk hambaNya
Penggunaan Bahasa Madura Sebagai Alat Kampanye Pada Pilkada Di Kabupaten Sumenep Pada Tahun 2015 (Studi Kasus: Pasangan Calon Busyro Karim – Ahmad Fauzi).
Keberadaan dan eksistensi bahasa daerah di Indonesia sangatlah penting sebagai identitas suatu daerah dan juga sebagai media komunikasi. Kabupaten Sumenep memiliki bahasa daerah yaitu bahasa Madura yang memiliki kedudukan sangat kuat di masyarakat kabupaten Sumenep. Bahasa Madura mengandung nilai kearifan lokal yang terkandung nilai – nilai yang menyatu dalam kehidupan masyarakat setempat dan hingga saat ini masih bertahan. Pasangan Busyro karim dan Ahmad Fauzi sebagai calon bupati dan calon wakil bupati memanfaatkan bahasa madura sebagai salah satu strategi dalam kampanye untuk membuat ikatan emosional dengan masyarakat agar masyarakat mengenal baik pasangan Busyro Karim dan Ahmad Fauzi.
Metode dalam penelitian ini pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan terdapat beberapa komponen: Reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah strategi penggunaan bahasa daerah saat kampanye pada Pilkada sumenep mempengaruhi pemilih, Masyarakat lebih menyukai kampanye dengan bahasa Madura karena lebih mudah dimengerti oleh Masyarakat. Dari kampanye yang telah dilakukan ternyata masyarakat lebih menghormati pemimpin yang tutur katanya yang santun dan tata krama yang baik
- …
