62 research outputs found
SOCIAL THEOLOGY: RE-ACTUALIZING CULTURAL VALUES INTO SOCIETY TRANSFORMATION
This paper discusses the issue of theology that is indebted to sciences and technology. Technology, even though imposes a negative impact on theology particulary to those whose faith is still unstable, has strengthened Moslem’s belief and does not become a threat. How technology reinforces the faith of Moslem is strongly related to the agenda of reactualization through the praxis activities. The mode of social life should be put on the basis of social transformation in accordance with needs and challenges. The tranformation is closely tied to the development with race structure or human consciousness with the environment. The modification of human life in order to achieve such transformation can be actualized through four basic cultural structures: ethical constitution, esthetic, work orientation and the knowledge of technology. The writer concludes that four elements mentioned above determines the success of Islamic civilization for the future life
Menelusuri Dimensi Pengetahuan: Perspektif Filsafat dari Al-Kindi hingga Burhanuddin Salam
Pengetahuan merupakan hasil dari proses berpikir yang melibatkan pengamatan, pengalaman, dan refleksi, yang menjadi landasan utama dalam memahami dunia dan eksistensi manusia. Artikel ini bertujuan untuk menelusuri berbagai dimensi pengetahuan dari perspektif filsafat, mulai dari pemikiran Al-Kindi, Soejono Soemargono, hingga Burhanuddin Salam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, dengan sumber utama berupa buku dan artikel yang membahas epistemologi dan filsafat ilmu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, yaitu pengetahuan ilahi, manusia, ilmiah, filsafat, dan agama. Selain itu, pengetahuan juga dibagi berdasarkan tingkatan, mulai dari eikasia (pengetahuan khayalan) hingga neosis (pengetahuan tertinggi), serta objek pengetahuan yang meliputi alam, kemanusiaan, dan ketuhanan. Pengetahuan ini memiliki kedalaman yang melibatkan rasionalitas, pengalaman, dan aspek spiritual
Akar dan Motif Fundamentalisme Islam:Reformulasi Tipologi Fundamentalisme dan Prospeknya di Indonesia
Political movements and Islamic fundamentalism emerges to respond to internal and external challenges of modernity. Islamic world is also involved in this social upheaval to establish regional strategic meaning in economy and military toward the emerging European countries. In this context, Islamic fundamentalism is understood as the answer of certain social groups and political elites in the Islamic community in term of institutions, concepts and ideals that emerged in modern era. This paper aims to understand the meaning of Islamic fundamentalism in modern context together with its social confrontations, motives, goals and development. This paper shows that there are typology of Islamic fundamentalism in Indonesia, namely: First, fundamentalist group that emerged as a result of the struggles and conflicts of power in Indonesia as well as in The Middle Eastern countriest; second, fundamentalist group with a closed characteristics, who claimed that their group is right and others are wrong and even blasphemous. In addition, this group denied diversity and aimed of unification. Third, fundamentalist group that gain its influenced in particular Indonesian society like Hizb al-Tahrir of Indonesia
Membincang Persepsi Keterpinggiran Perempuan
In social context, the common reality indicates that women becoming victim of men’s suppression. In modern terminology, the suppression is called “misogyny” meaning direct or indirect suppression on women whether in a rude or soft manner. The suppression itself occurs since men (including Moslems) do not have gender awareness and sensitivity. The awareness on women inequality has been detected since the presence of gender analysis in sociology. This paper focuses on the perception of women marginality in terms of the anatomy, theological vision, and historical experience. The perception of marginality does not immediately judge on the superiority of men towards women and the marginality of women. This perception appears since the different divison of role between men and women has become an important part of human civilization dynamics. The perception on women marginality is then irrelevant correlated to the guidance applied by the Prophet Muhammad saw that gave the same chance among men and women. For this reason, the concept of equality between men and women has a significant root and foundation in religious texts.[Realitas yang berlangsung di masyarakat pada umumnya menyebutkan kaum perempuan sebagai korban penindasan oleh kaum laki-laki. Praktik penindasan dalam istilah modern disebut misogyny, yang berarti tindakan penindasan terhadap kaum perempuan, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan kasar maupun halus. Terjadinya penindasan tersebut disebabkan mereka (termasuk di dalamnya umat Islam) belum memiliki kesadaran dan sensitivitas jender yang utuh. Kesadaran tentang adanya ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan baru dirasakan setelah alat analisis jender dalam ilmu-ilmu sosial ditemukan. Tulisan ini mencoba membincang persepsi keterpinggiran perempuan dilihat dari sisi anatomi, visi teologis, hingga pengalaman kesejarahan. Dari hasil kajian ditemukan bahwa persepsi keterpinggiran perempuan tidak menjustifikasi superioritas laki-laki terhadap perempuan, dan apalagi memarginalkannya. Ini lantaran pembagian peran yang berbeda antara keduanya menjadi bagian penting dalam dinamika peradaban manusia. Persepsi keterpinggiran perempuan kemudian menjadi terbantahkan manakala dihadapkan kepada regulasi yang diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw yang memberi ruang yang sama antara kaum laki-laki dan perempuan. Pada aras inilah konsep kesetaraan kaum perempuan memiliki akar dan landasannya yang signifikan dalam teks- teks keagamaan.
Transmisi Etika Ke Tatanan Politik Perspektif Muhammad Abid Al-jabiri
Several political issues are presumed having a relationship with the ethical values such as the problems of authority and its distribution, the application of laws, human rights, women emancipation, social justice, the distribution of national wealth, economics justice, and etc. These problems show us the importance of ethical reference to polish the political countenance as well as to straighten up the political manoeuvres that are often full of intrigues, arrogance, and tyranny. The transmission concept from ethics to the political order that has ever been stated by Aristotle (384-322 B.C.) in his book “Politea” on political matters, and his “Nicomachean” on moral issues is presumed inspiring the philosophers both in the West and in the East. This article elaborates Muhammad 'Abid Al Jabiri's thought (1936-…), a Muslim thinker from Morocco who classifies ethical values that are transmitted into political order in the Muslim World consisting of four main variants; (1) subservience ethics, an ethical system that is inherited by Persian sultanate; (2) happiness ethics, an ethical system of Greece; (3) transitory ethics, an ethical system developed by Sufi order; and (4) Muru'ah ethics, an ethical system developed in the Arabian World. According to al-Jabiri, these all four systems still left the important matters dealing with the claim of progressive and futuristic -oriented human dynamics. Therefore, al-Jabiri proposed a recommendation for Arabian and Islamic world in order to exceed such ethical systems and to side with the pious deed ethics and profit that became their tendency
Konstruksi Nasionalisme Religius: Relasi Cinta Dan Harga Diri Dalam Karya Sastra Hamka
Seiring dengan menguatnya ideologi nasionalis-sekuler pascakemerdekaan, muncullah konsep nasionalisme berdasarkan sejumlah sumber yang bertolak belakang satu sama lain. Itulah nasionalisme eklektik ala Soekarno yang menerapkan analisis Marxis tentang penindasan imperialisme dan pada saat yang sama, menggunakan sikap permusuhan kaum Muslimin terhadap penjajah kafir. Ia menggelindingkan konsep Nasakom untuk menyimbolkan kesatuan nasionalisme, agama dan komunisme. Dalam konteks ini, penulis melihat permasalahan kompleks ideologi Nasakom sehingga banyak tokoh, ulama dan ilmuwan Muslim yang mengambil jarak dengan tokoh nomor wahid di Indonesia saat itu, seperti Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, Muhammad Hatta dan Hamka. Tokoh yang disebut belakangan, yakni Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka) inilah yang menjadi perhatian penulis terkait konsep nasionalisme yang diusungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konstruksi pemikiran nasionalisme-religius Hamka dalam karya-karya sastranya, seperti Si Sabariah, Di Bawah Lindungan Ka'bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Merantau ke Deli. Data-data yang diperoleh dari novel-novel di atas dianalisis melalui teori hermeneutika, suatu pendekatan ilmiah yang menghubungkan antara pembaca (qari) dengan teks (al-Maqru'). Along with the strengthening of secular-nationalist ideology post-independence, there arose the concept of nationalism based on a number of sources are opposite to each other. That nationalism eclectic style Soekarno applying Marxist analysis of the oppression of imperialism and at the same time, using the hostility of the Muslims against the infidel invaders. He rolled Nasakom concept to symbolize the unity of nationalism, religion and communism. In this context, the authors look at the complex issue of ideology Nasakom so many leaders, scholars and Moslem scientists who take distance with the figure number one in Indonesia at the time, like Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, Mohammad Hatta and Hamka. The latter figure, namely Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka) which is the author's attention related to the concept of nationalism carried. This study aims to determine the construction of nationalism-religious thought Hamka in literary works, such as Si Sabariah, Under the Protection Ka'bah, Sinking Ship Van Der Wijck, and Going away to Deli. The data obtained from the novels above were analyzed through the theory of hermeneutics, a scientific approach that connects the reader (reciter) with texts (al-Maqru‘)
Filsafat Ilmu
Filsafat yang semula merupakan induk semua ilmu perlahan berkembang menjadi bagian dari ilmu itu sendiri. Buku ini mencoba mendekatkan pemahaman tentang pengalaman keilmuan, mulai era Babilonia-Mesir, Yunani, Abad Pertengahan, era kegemilangan dunia Islam hingga pengalaman keilmuan modern dan kontemporer
Harmoni Kosmos, Relasi Wahyu dan Akal Tentang Alam
Inti dari paradigma sains Islam ini dapat digambar dengan konsep tauhid, khilafah, dan ibadah. Konsep tauhid menggariskan adanya peranan Tuhan sebagai wujud transeden di balik fenomena alamiah. Praktis kegiatan ilmiahpun diarahkan untuk meneguhkan keberadaan Tuhan dan mengakui-Nya sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta. sementara itu konsep khilafah menunjuk kemampuan manusia sebagai makhluk paling sempurna sekaligus menegaskan bahwa manusia sebagai bagian integral dari alam semesta.
manusia disebutkan dalam al-Qur'an sebagai memiliki kemampuan dan kekuatan observasi, eksplorasi alam dan mengolah kekayaan alam untuk kepentingan hajat hidup kemanusiaan.
Buku ini mencoba memberi pijakan rasional tentang kosmos sebagai sebuah harmoni yang indah
Filsafat Takwil Kajian Teks Al-Qur'an
Puji dan syukur dipersembahkan ke hadirat Allah Azza wa Jalla. Selawat dan salam disampaikan kepada baginda Rasulullah saw. Alhamdulillah, melalui perenungan yang cukup panjang, buku berjudul Filsafat Takwil: Kajian Teks Al-Qur’an telah selesai disusun. Latar belakang penulisan buku diilhami dari pandangan tentang Al-Qur’an seibarat mutiara, dari sisi mana pun dipandang maka ia menampilkan kemilau dan keindahannya. Siapa pun bisa mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an, mulai kalangan awam
hingga kaum terpelajar. Semua dapat menikmati hidangan yang istimewa dari Al-Qur’an. Bagi para pembaca biasa, Al-Qur’an dalam menyusup ke ruang batin melapisi jiwa dengan limpahan motivasi, spiritual dan pahala yang berlipat ganda. Bagi para pembaca dengan teknik langgam yang merdu dan para kaligrafer, Al-Qur’an dapat memunculkan ekspresi estetik untuk mengantarkan ayatayat Al-Qur’an ke ruang-ruang hampa. Bagi para hâfiz (penghafal Al-Qur’an), ia dapat memberikan kekuatan rohani dari hafalannya, sekaligus memberi peluang kedekatan dengan makna-makna dari lafal teks. Bagi
penafsir dan penakwil, penyingkapan maknamakna tersurat dan tersirat dapat memberikan kedalaman ilmu
pengetahuan tentang spektrum makna yang dapat menjangkau berbagai sudut dan dinamika kehidupan di setiap zaman yang mempertegas keabadian teks Al-Qur’an
- …
