30 research outputs found
PENGARUH INFLASI, TINGKAT SUKU BUNGA SBI, DAN VOLUME EKSPOR IMPOR TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH
Perdagangan terjadi selama ribuan tahun yang melibatkan suatu negara
dengan negara lain menggunakan sistem penukaran uang sehingga setiap barang
dinilai dengan sejumlah uang. Posisi mata uang yang berbeda di setiap negara
terhadap negara lain sering menjadi hambatan seperti Tiongkok dengan Amerika
Serikat (AS) yang terlibat perang dagang. Oleh karena itu, mata uang Yuan dinilai
akan menggeser posisi Dollar AS sebagai acuan nilai mata uang dunia. Demikian
dengan Negara Indonesia yang saat ini masih bergantung kepada Tiongkok karena
Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar bagi Indonesia. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI, dan
Volume Ekspor Impor terhadap Nilai Tukar Rupiah.
Penelitian ini menggunakan data kuantitatif time-series dari bulan Januari
2018 hingga bulan Agustus 2019 dengan metode analisis regresi linier berganda
menggunakan progam olah data kuantitatif SPSS 13.0.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Inflasi dan Tingkat Suku Bunga
SBI berpengaruh negatif signifikan terhadap Nilai Tukar Rupiah ke Yuan, dan
Volume Ekspor Impor tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Nilai Tukar
Rupiah ke Yuan, sedangkan Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI, dan Volume
Ekspor Impor secara bersama-sama berpengaruh secara positif signifikan terhadap
Nilai Tukar Rupiah ke Yuan.
Kata kunci : Volume Ekspor, Volume Impor, Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI,
Nilai Tukar Rupia
PENGARUH INFLASI, TINGKAT SUKU BUNGA SBI, DAN VOLUME EKSPOR IMPOR TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH
Perdagangan terjadi selama ribuan tahun yang melibatkan suatu negara dengan negara lain menggunakan sistem penukaran uang sehingga setiap barang dinilai dengan sejumlah uang. Posisi mata uang yang berbeda di setiap negara terhadap negara lain sering menjadi hambatan seperti Tiongkok dengan Amerika Serikat (AS) yang terlibat perang dagang. Oleh karena itu, mata uang Yuan dinilai akan menggeser posisi Dollar AS sebagai acuan nilai mata uang dunia. Demikian dengan Negara Indonesia yang saat ini masih bergantung kepada Tiongkok karena Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar bagi Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI, dan Volume Ekspor Impor terhadap Nilai Tukar Rupiah. Penelitian ini menggunakan data kuantitatif time-series dari bulan Januari 2018 hingga bulan Agustus 2019 dengan metode analisis regresi linier berganda menggunakan progam olah data kuantitatif SPSS 13.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Inflasi dan Tingkat Suku Bunga SBI berpengaruh negatif signifikan terhadap Nilai Tukar Rupiah ke Yuan, dan Volume Ekspor Impor tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Nilai Tukar Rupiah ke Yuan, sedangkan Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI, dan Volume Ekspor Impor secara bersama-sama berpengaruh secara positif signifikan terhadap Nilai Tukar Rupiah ke Yuan.
Kata kunci : Volume Ekspor, Volume Impor, Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupia
ANALISIS PENGARUH PEMAHAMAN AKUNTANSI, MASA MEMIMPIN USAHA DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI DALAM PEMBUATAN KEPUTUSAN BISNIS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pemahaman akuntansi, masa memimpin usaha dan budaya organisasi terhadap penggunaan informasi akuntansi dalam pembuatan keputusan bisnis. Penelitian ini dilakukan di 43 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang tergabung dalam Inkubator Bisnis (Inbis) Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Jember namun hanya 31 UMKM yang dapat diolah. Data penelitian diperoleh dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Jember.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan metode uji statistik deskriptif, uji validitas dan reliabilitas data, uji asumsi klasik, teknik regresi linear berganda, uji F, uji T dan Uji R2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pemahaman akuntansi berpengaruh positif signifikan terhadap penggunaan informasi akuntansi dalam pembuatan keputusan bisnis. Sedangkan untuk variabel masa memimpin usaha memiliki pengaruh negatif terhadap penggunaan informasi akuntansi dalam pembuatan keputusan bisnis dan budaya organisasi tidak memiliki pengaruh terhadap penggunaan informasi akuntansi dalam pembuatan keputusan bisnis
Uji Antidiabetes Bunga Telang (Clitoria ternatea) pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Cempaka Putih Jakarta Pusat
Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Aktivitas sebagai antidiabetes dimiliki oleh bunga telang yang bekerja dengan berbagai mekanisme untuk menurunkan kadar glukosa darah, salah satunya dengan merangsang sekresi insulin pada sel b-pankreas, memaksimalkan penyerapan glukosa, dan mencegah pembentukan Advanced Glycation End Products (AGEs). Rancangan penelitian bersifat tru-experimental dengan jenis rancangan berupa pretest-posttest control group design. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data primer berupa hasl pengukuran kadar Glukosa Darah Puasa (GDP) responden sebelum dan sesudah dilakukan intervensi rebusan bunga telang (Clitoria ternatea). Penelitian ini dilakukan pada 5 kelompok, yaitu kelompok 1 dengan pemberian dosis 1 gram bunga telang/250 mL air, kelompok 2 dengan pemberian dosis 3 gram bunga telang/250 mL air, kelompok 3 dengan pemberian 5 gram bunga telang/250 mL air, kelompok 4 dengan pemberian metformin, dan kelompok 5 sebagai kelompok kontrol. Data diolah dengan menggunakan metode analisis One-way ANOVA dan diikuti oleh uji Post Hoc Tukey HSD. Berdasarkan uji Post Hoc Tukey HSD dari penelitian ini didapatkan bahwa pemberian dosis 5 gram bunga telang dalam 250 mL air merupakan dosis yang memberikan penurunan rata-rata kadar GDP yang signifikan (p=0,000; p<0,05) dibanding kelompok lain
ANALISIS JUMLAH ERITROSIT DAN KADAR HEMOGLOBIN MENCIT ANEMIA PASCA PAPARAN RADIASI SINAR - X YANG DIBERI EKSTRAK METANOL BUNGA WARU (HIBISCUS TILIACEUS L.)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui potensi antianemia ekstrak metanol bunga waru Hibiscus tiliaceus L. terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan berat badan mencit yang dipaparkan dengan sinar-X. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 perlakuan dengan 4 ulangan. Pemaparan sinar-X terhadap mencit dilakukan dengan pemberian sinar x sebanyak (65,45 mGy) 79,8kVp/15 mAs di seluruh tubuh hewan coba kecuali perlakuan kontrol normal (K0). Pemaparan sinar-X dilakukan sebanyak 6 kali. Mencit anemia diberikan akuades 1 mL (K-), suplemen zat besi 0,8125 mg/25g/bb (K+), ekstrak metanol bunga waru H. tiliaceus 0,79 mg/kg/bb (P1), 1,58 mg/kg/bb (P2) dan 3,15 mg/kg/bb (P3) secara oral. Pemberian ekstrak dilakukan selama 14 hari. Parameter yang diukur adalah jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan berat badan. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA). Hasil uji Tukey pada ? 0,05 terhadap rata-rata awal dan akhir mencit menunjukkan adanya pengaruh nyata antar perlakuan (
PERAN SERTA IBU-IBU PKK DALAM PENGELOLAAN SAMPAH ANORGANIK DI KELURAHAN KEBUN BUNGA KOTA PALEMBANG
Permasalahan sampah merupakan masalah besar yang dihadapi oleh masyarakat permukiman perkotaan, pertambahan jumlah penduduk membawa implikasi terhadap volume sampah yang diproduksi oleh masyarakat. PKK adalah gerakan pembangunan nasional dalam pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah yang pengelolaannya dari, oleh dan untuk masyarakat, PKK juga merupakan sebagai organisasi diharapkan yang bisa menjadi wadah potensial motor penggerak pembangunan khususnya dalam dalam hal pemberdayaan keluarga. Salah satu program kerja PKK adalah kesehatan dan kelestarian lingkungan hidup, untuk mewujudkan program kerja tersebut tentu ibu-ibu PKK harus berperan aktif dalam pengelolaan sampah yang baik. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana peran serta ibu-ibu PKK dalam pengelolaan sampah anorganik di Kelurahan Kebun Bunga Kota Palembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran serta ibu-ibu PKK dalam pengelolaan sampah anorganik di Kelurahan Kebun Bunga Kota Palembang. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu-ibu PKK di Kelurahan Kebun Bunga Kota Palembang yaitu sebanyak 5.947 kepala keluarga (KK), sedangkan sampel penelitian sebanyak 375 responden. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket kuesioner (angket) dan wawancara, sedangkan teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa peran serta ibu-ibu PKK dalam pengelolaan sampah anorganik di Kelurahan Kebun Bunga Kota Palembang dapat dilihat dari hasil rata-rata persentase angket responden yang menjawab Sangat Setuju (SS) sebesar 11,92%, Setuju (S) sebesar 59,68%, Tidak Setuju (TS) sebesar 25,13%, Sangat Tidak Setuju (STS) sebesar 3,3
Eutetrapha weni
<i>Eutetrapha weni</i> n. sp <p>(Figs. 1–23)</p> <p> <b>Description:</b> Male: length: 20.6–23.0 mm, humeral width: 6.1–6.9 mm. Female: length: 25.0– 27.5 mm, humeral width: 7.5–8.5 mm. Body black. Head black, with two golden yellow to brick red brown pubescent stripes on occiput, which extend around antennal tubercles and inferior eye lobes to clypeus, sometimes meeting at base of frons (especially in males, Fig. 2); labrum and a small vitta behind superior eye lobe (usually under scape) and lateral side of inferior eye lobe (Fig. 4) covered with same golden yellow to brick red brown pubescence; base of clypeus, upper and outer sides of basal half of mandibles with whitish pubescence (Fig. 2). Antennae black, apices of antennomeres II and III ringed with white pubescence (usually more developed on ventral and inner sides), sparsely fringed with short hairs on ventral sides of basal six or seven antennomeres. Prothorax dark black with five golden yellow to brick red brown pubescent stripes, one median and two on each side (first stripe not attaining basal margin (Figs. 1 a, 3, 8a), the second stripe extending to coxa (Figs. 1 b, 8b)). Basal margin of pronotum and scutellum with grayish white pubescence (Fig. 3). Elytron dark black, with a large brick red brown pubescent marking along suture, and with three expanded patches (Figs. 1 a, 8a): the first one at basal third, looking somewhat like a stylized monkey face (having two black eyes and two expanded ears, the ear attach to first lateral carina); the second one at middle, not reaching lateral carina; the third one at apex, with two black eyes, basal half not reaching lateral carina and apical half extending to lateral margin. Ventral surface mostly covered with golden yellow to brick red brown pubescence (Figs. 1 b, 8b), except the middle line (larger in female than in male) and metepisternum which is black and sparsely covered with grayish short pubescence; males with a golden yellow sexual patch on middle of metasternum, and sternite VI without a middle black line (Fig. 1 b). Femora and tibiae black with grayish pubescence, more developed on some parts of tibiae (such as outer side of protibial apex, inner side of apical half of mesotibiae, dorsal side of middle of metatibiae); pro- and mesotarsi with dorsal side black with grayish pubescence, ventral side yellow brown; metatarsi golden brown with long golden brown hairs on dorsal and lateral sides (Figs. 6, 12).</p> <p>Head slightly narrower than prothorax (Fig. 3). Eyes medially emarginate, inferior eye lobes ca. 1.5 times as high as (male, Fig. 2) or subequal to (female) genae. Antennae relative slender, longer than body (10th (male) or 11th (female) antennomere reaching elytral apex); antennomeres ratio: male: 23:5:36:27:28:27:27:25:24:23:28; female: 26:6:37:27:28:26:25:24:23:21:23. Prothorax densely punctured, with one glabrous callus near middle of each black pronotal stripe (Fig. 3), before apex with a carina on each side (Figs. 4, 9), narrower from carina to apex (Fig. 3). Elytron densely and coarsely punctured, gradually narrower apically, with 2 lateral carinae, neither from base nor reaching apex; apex rounded, without tooth or spine at inner and outer angle. Sternite VII of male (Fig. 5) without a middle groove, with dense golden yellow apical hairs; sternite VII of female (Fig. 10) with a middle groove, with longer apical hairs. Legs slender, mesotibiae slightly grooved, metafemora reaching fourth or fifth abdominal segment, first metatarsal segment longer than following two segments combined (Figs. 6, 12). Anterior claw of pro- and mesotarsal claws of male with a small tooth (Fig. 7), female tarsal claws and metatarsal claws of male simple.</p> <p>Male genitalia (Figs. 15–22): Tergite VIII (Figs. 15 a, 15c) much broader than long, apex almost rounded with a small nick in middle, with moderate long setae at sides, setae in the middle shorter and sparser. Spiculum gastrale subequal to ringed part of tegmen in length, spiculum relictum about one fourth of spiculum gastrale in length. Tegmen (Figs. 16 a–c) length about 4.5 mm; lateral lobes stout, each about 1.0 mm long and 0.4 mm wide, with a finely setose ridge at ventral base (Fig. 17); apex with fine setae longer than half of lateral lobes; basal piece welldeveloped and bifurcated (Fig. 16 c); median lobe plus median struts slightly curved (Fig. 18 b), distinctly longer than tegmen (19:15); median struts about half of whole median lobe in length (Fig. 20); dorsal plate shorter than ventral plate; apex of ventral plate (Fig. 19) pointed (apex slightly blunt); median foramen slightly elongated; internal sac about three times as long as median lobe plus median struts, with four or five pieces of basal armature (located behind apex of median struts), two bands of supporting armature (Fig. 21), and three rods of endophallus (Fig. 22), two longer rods each about 4.0 mm, slightly shorter than tegmen, the short rod about 3.6 mm. Female genitalia: spermathecal capsule (Fig. 23) composed of an apical orb and a curved stalk, stalk only a little longer than apical orb. Spiculum ventrale longer than abdomen. (spiculum ventrale measured 13.5 and 14.2 mm for two adults, compared with abdomens which measured 11.0 and 12.5 mm in ventral view, respectively).</p> <p> <b>Diagnosis.</b> This species can be separated from congeners by the unique brick red brown pubescence and unique elytral markings, larger body size, and unique golden brown metatarsi.</p> <p> <b>Etymology.</b> The species is named after Mr. Dong Wen (Shandong, China), who brought the first specimen to the second author. Wen is his family name.</p> <p> <b>Remarks.</b> The species is identified in the genus <i>Eutetrapha</i> for the following two key characters, which were emphasized recently (Chou, Chung & Lin, 2010; Lin, Li & Yang, 2006): 1) male claws with anterior claw of pro- and mesotarsi appendiculate with small teeth, female claws simple; 2) elytra with two distinct lateral carinae, rounded apically.</p> <p> The Chinese name of this species is "s3⋏+ (= Hou Zhi Ji Tian Niu), which means “monkey <i>Eutetrapha</i>.” This name was chosen because the elytral markings form what appear to be stylized monkey faces; also, the year of publication (2016) is the year of the monkey in China.</p> <p> <b>Biological and ecological notes.</b> The specimens studied were collected from Guizhou, China during June to August. In June, the beetles were observed on plants near a road at midday (Figs. 13–14, personal communication with collector Yang Li), which may indicate that this is a diurnal species. In August, a dead specimen was found on the road (personal communication with collectors Jian-Yue Qiu and Hao Xu). One female (Fig. 14) was observed on a leaf of <i>Pilea pumila</i> (L.) A. Gray [Urticaceae, plant identified by Yang Li and confirmed by a botanist (Ying Liu) based on the picture]. However, the specimen was not observed feeding and the host plant remains unconfirmed.</p> <p> <b>Distribution.</b> China: Guizhou.</p> <p> <b>Material examined.</b> Holotype, male (Figs. 1 a, 1b), China, Guizhou, Leishan, Mt. Leigongshan, Lianhuaping, N26°22', E108°12', alt. 1631m, 2014. VI.18, leg. Jing Yang (IZAS, IOZ (E) 1905306, ex KLUC). Paratypes: 1 female, same data to holotype but deposited in (KLUC); 1 female, same data to holotype but 2014. VI.16 and deposited in (KLUC); 1 male (Fig. 13) 1 female (Figs. 8 a, 8b, 14), same data to holotype but 2014. VI.21, leg. Yang Li (IZAS, IOZ (E) 1905304-05); 1 female, same data to holotype but, 2011. VIII.11, leg. Jian-Yue Qiu & Hao Xu (CWD); 1 female, same data to holotype, but 2015. VII.12, leg. Bo-Yan Li (CGQH); 1 male, S. China, SE. Guizhou, Dushan County, Gengdingshan env., N25°52.5', E107°38', alt. 1445 m, 2009.VI, leg. Sehnal et Hackel (CPV).</p>Published as part of <i>Huang, Gui-Qiang & Lin, Mei-Ying, 2016, Description of Eutetrapha weni n. sp. from Guizhou, China (Coleoptera: Cerambycidae: Lamiinae: Saperdini), pp. 590-594 in Zootaxa 4109 (5)</i> on pages 590-593, DOI: 10.11646/zootaxa.4109.5.7, <a href="http://zenodo.org/record/271450">http://zenodo.org/record/271450</a>
SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU DENGAN TALAS KUKUS PADA PEMBUATAN KUE BINGKE
SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU DENGAN TALAS KUKUS PADA PEMBUATAN KUE BINGKE Marselina Weni Sari*), Tri Rahayuni 2), Suko Priyono 2)1)Program Studi S-1 Agroteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian,Universitas Tanjungpura2)Dosen Program Studi S-1 Ilmu Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian,Universitas Tanjungpura*Email Korespondensi : [email protected] bingke merupakan makanan tradisional khas Pontianak yang terbuat dari tepung terigu, telur, gula pasir, santan, garam dan susu kental manis yang menyerupai kue lumpur. Kue bingke ini khas menyerupai bentuk bunga segi enam, bertekstur lembut dan rasa manis serta tanpa bahan pengawet sintesis. Talas merupakan tanaman umbi-umbian yang dapat mengeluarkan getah berwarna putih seperti susu. Tanaman ini memiliki daun berbentuk perisai dan warna daun yang sangat bervariasi tergantung varietasnya. Umbi talas berpotensi sebagai sumber karbohidrat dan protein yang cukup tinggi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui substitusi terbaik tepung terigu dan talas berdasarkan sifat kimia dan sensori kue bingke. penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 1 faktor perlakuan terdiri dari 6 taraf, yaitu substitusi tepung terigu : talas terdiri dari 100:0 %, 90:10 %, 80:20 %, 70:30 %, 60:40 %, 50:50 %. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 24 sampel kombinasi. Parameter pengamatan meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat dan sensori. Hasil Uji Indeks Efektifitas menunjukkan bahwa substitusi terbaik terdapat pada 50% tepung terigu dan 50% talas, dimana kadar air (46,72), kadar abu (1,90), kadar lemak (22,95), kadar protein (6,42) dan kadar karbohidrat (22,00). Hasil uji sensori terbaik yaitu warna 4,16 (menarik), aroma 3,96 (beraroma talas), tekstur 4,28 (sangat tidak keras) dan rasa 4,12 (manis). Kata Kunci : bingke, talas, terigu, substitus
AKUNTANSI PIUTANG PADA PT. BANK RIAU CABANG TELUK KUANTAN
Penelitian dilakukan pada PT Bank Riau Cabang Teluk Kuantan Desa Teluk
Kuantan Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui apakah akuntansi piutang pada PT Bank Riau Cabang Teluk
Kuantan telah sesuai dengan Standar Akuntansi keuangan. \ud
Kredit yang diberikan oleh PT Bank Riau Cabang Teluk Kuantan adalah Berupa
Kredit Yang Diberikan. Yang mana kredit ini terdiri dari Kredit Aneka Guna, Kredit
Pengusaha Mikro, Kredit Pengusaha Kecil, Kredit Pengusaha Mikro dan Kecil, Kredit Kreta
Bank Riau dan Kredit Berbasis Kerakyatan.
PT Bank Riau Cabang Teluk Kuantan telah memisahkan pencatatan antara
angsuran pokok dan angsuran bunga. Dalam hal ini PT Bank Riau Cabang Teluk Kuantan
telah melaksanakan akuntansi piutang yang sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan.
PT Bank Riau Cabang Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi pada kredit
yang diberikan telah melaksanakan akuntansi piutang telah sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan, karena sudah terdapat penyisihan piutang tak tertagih.
Kata Kunci : Akuntansi Piutan
Jenis-jenis Serangga Pengunjung Bunga Nerium oleander Linn: (Apocynaceae) Di Kecamatan Pauh, Padang.
xiv, 70 Hal
